5.4.26

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan merenung. Tidak bisa memalingkan wajah sedikit pun untuk sedikit berlari-lari tidak aware seperti biasanya. Di bulan ini mengajarkan aku untuk kembali ke akar, mencari semua yang utama, fokus pada semua yang dibutuhkan. Aku memotong semua yang sudah tidak cocok lagi dengan diriku untuk kembali lagi ke diriku sendiri. 

Di bulan Maret ini buku yang aku baca dan menurutku paling berkesan adalah The Healing Hippo of Hinode Park. Aku pinjam buku ini dari teman book club Berkutubuku, namanya Umar. Pertama kali aku mendengar buku ini aku merasa: Oh ada buku Jepang lainnya yang lucu nih. Aku selalu suka cerita Jepang karena unik, simple tapi selalu heartfelt. Selalu ada makna dibalik tulisan-tulisannya. Di kesempatan kali ini aku membaca buku ini.



Dalam buku ini ada lima cerita dari masing-masing tokoh yang berbeda-beda. Ceritanya bisa dibaca secara terpisah dan di cerita terakhir pembaca diberikan gambaran dari manakah asal usul legenda hippo ini. Hippo ini dianggap sebagai sebuah Hippo penyembuh, caranya mudah dengan menyentuh bagian badan yang ingin disembuhkan lalu menyentuh badan Hippo itu, makan si sakit akan sembuh. Ajaib bukan? Hal yang menurutku menarik adalah betapa solusi yang diberikan dalam setiap peristiwa dan kesembuhan-kesembuhan yang terjadi dilakukan dengan bersama perilaku yang reflektif dari setiap tokoh-tokohnya. Solusi di akhir juga dilakukan dengan hati terbuka, perilaku mau dikoreksi, dan kerendah hatian untuk mengerti situasi dan orang lain serta keinginan untuk berubah. Menurutku ketika kita memiliki perasaan keterbukaan dan optimisme untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pastinya bisa dilakukan. 

Buku ini bagus, bacalah :) 



23.3.26

Berlayar

Beberapa perubahan dalam hidup membawamu menjadi seseorang yang baru. Bertambah kuat dan berserah adalah salah satunya. Dari banyak yang terjadi kita akan tiba pada sebuah masa di mana kita tidak mengetahui arah masa depan. Namun kita perlu tetap berlayar pada suatu arah dan perjalanan. Nampaknya arah perjalanan kali ini akan nampak berbeda sedikit arah angin yang perlu diubah untuk dapat berlayar. 

Sepertinya perjalanan kapal ini akan berbeda dari yang biasanya dan perlu lebih bold menuju ke jalan masing-masing dan memasang sesuai dengan harapan dan cita-cita di ke depannya. Salah satu kuncinya memang jalanin aja, ikhlas aja, dan berserah aja. Paling banyak itu sih. 


23.11.25

Angin Perubahan

 

Aneh juga ya ketika merasakan ada sebuah angin perubahan yang sedang berhembus menelusup di kehidupan kita saat ini. Rasanya seperti dibangunkan dari sebuah tidur yang panjang dan semuanya serba mendadak. Aku juga rasanya tidak menyangka ini akan terjadi dalam hidupku. Sepeti mendadak dihembuskan dan dibisikan arah mata angin yang perlu aku tuju untuk kehidupan selanjutnya. Hidup ini sungguh begitu mendadak dan tidak disangka-sangka. 

Ketika angin menentukan arahnya, beberapa musim akan bergeser dan berubah. Seperti keadaan kita yang hanya perlu berganti situasi dan alurnya. Terkadang hal ini tidak serta merta membuat kamu segera menjadi pelaut yang ulung dengan begitu peka melihat arah mata angin dan menyesuaikan layar. Akhir-akhir ini rasanya aku dipaksa untuk kembali melihat arah mata angin lagi dan menyesuaikan layar. Mengingat kembali tujuan dan panggilan-panggilanku dalam hidup ini. Dan di akhir tahun banget yaa.





Belajar membaca angin artinya perlu membaca situasi dan keadaan. Ternyata ini ya yang dinamakan dengan memutuskan sesuatu dengan menggunakan intuisi. Insting. Hitung-hitung sambil latihan intuisi lah ya. 






13.11.25

Bergulir





Kehidupan ini bergulir sebagaimana mestinya. Sudah November di tahun 2025 ini. Semoga di tahun ini kita pun kian mampu menghargai diri sendiri dan menyayangi diri sendiri lebih baik lagi dari tahun yang sudah-sudah. Tahun ini rasanya kita sudah dengan gigih berjuang; baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Perjuangan yang berbuah manis, perjuangan yang menimbulkan luka. Tubuh yang semakin menua satu tahun setiap tahunnya, mengajarkan kita untuk lebih menghormati tubuh, menghargai rasa sakit sebagai bentuk alarm pertama untuk kita mengetahui waktu beristirahat. Belajar beristirahat, ternyata bentuk kerendahan hati kita;  untuk berhenti dan bersyukur atas semua yang kita miliki hari ini dan yang tidak kita miliki hari ini. Ternyata itu juga bentuk kerendahan hati untuk menerima realitas yang brutal, banal, dan telanjang. Hingga di satu titik kamu menemukan bahwa beberapa hal hanya harus dilewati dengan bergulir saja. Tidak perlu ditahan-tahan atau dipaksa-paksa. Semua akan kembali pada tempatnya. Masing-masing. Sediakala.

12.11.25

HALOOOOO

Haloooo selamat datang dunia persilatan blogspot apakah blogspot aku sudah kembali dengan baik? Ya ampun halo halo semuaaaa <3

6.11.20

ganti blogspot

 YAK 

pemirsah, maapin banget nihh udah ga punya blog.com karena......hhh yaudahlah kayaknya gapapa hehe. tadinya aku mau melatih pemikiran overthinking yang over banget tuh ya tapi setelah kupikir-pikir ah sudahlah aku ga sanggup 100 hari overthinking, jadi kan dalam hidup jilat ludah sendiri gapapa ya, jadi aku ga jadi aja deh bikinnya. udah gak overthinking lagi (dih bisa gitu hehe)

kemarin ini aku sempat merefleksikan apa ya kira-kira cara untuk bisa lebih mengenal diri sendiri? ternyata bisa banget sih, ternyata selama ini aku belum fully mengenal diri sendiri luar dalam, ternyata aku masih belum berjalan-jalan ke relung-relung hatiku yang lain dan menyapanya: "hai metta, gi apa nih diem-diem bae?"

ternyata rasanya aku jadi MLENYEK apatuh mlenyek semacam blenyek tapi 7x jadi mlenyek. kayak pudding gitu kira-kira. ternyata perjalanan ngecekin realitas dalam diri dan apa-apa yang terjadi selama aku hidup 29 tahun ini membuatku bisa sampai pada momen yang sekarang ini. aku berterima kasih sekali sih untuk hal-hal yang sudah dilewati, digeluti, dirasakan, dan aku perjuangkan dari hari ke harinya. 

ketika aku rasa-rasakan sepertinya memang benar kalau apa-apa yang sudah kita terima sudah selayaknya kita kembalikan lagi pada dunia dan sesama, semata-mata karena berterima kasih bahwa aku sudah bertumbuh berkat banyak pelajaran yang sudah aku lewati sampai akhirnya menjadi diriku yang sekarang. 

kurasa memang sih, pada akhirnya yang kita miliki pada akhirnya adalah diri kita sendiri, jadi kalau tidak merasa sayang dan cinta pada diri sendiri pasti rasanya tidak enak banget. coba sekali-kali pundaknya di-puk-puk sendiri sambil berkata: "makasih ya, kamu udah bertahan sampai sekarang, maaf yaa kalau pernah menyakiti diri sendiri dan sering gak engeh. kamu aman dan pasti baik-baik aja, kok."

coba deh :)




25.10.20

teko teh

hari ini aku minum teh cukup banyak deh, kayanya aku harus batasi konsumsi kaffeinku yang kurasa kayaknya kebanyakan deh lol. bisa gak ya aku sekarang swift kopi jadi minum teh di pagi hari aja (2x seduh) dan boleh deh minum kopi di hari sabtu aja. oke semoga aku sakses ya, ges!

berpikir soal ganti kebiasaan minuman sebenarnya membuatku sedikit berpikir jangan-jangan sebenarnya sama aja dengan kamu berpikir tentang "pandangan diri", mungkin gak selama ini pandanganmu atas dirimu sendiri itu salah, kamu gak broken cuman belom diolah aja dalemannya. bukannya gak bisa, tapi belum mencoba untuk masuk ke pintu yang serem-serem masa lalu tempatmu pernah takut, kamu trauma, kamu pernah sedih, marah, sakit hati, tapi emosi itu kamu tinggalkan aja gitu. nyaris 2 bulan ini rasanya aku ngubek-ngubek diri dan berusaha untuk bisa mengenal diri sendiri dari ulang.

terasa sangat terlambat sih, karena aku sesungguhnya berharap bisa mengenal versi diriku ini lebih awal. tapi, mungkin saat itu "metta" belum siap untuk mengerti dan menjadi matang. aku rasa sih, (semoga) semua orang bisa merasakan pembelajaran mengenal diri sendiri dari ulang dan bisa melihat gambaran diri sejelas-jelasnya. aku bersyukur banget sih bisa merasakannya, meski awalnya aku serasa kayak capek dan sedih sekali. tapi yang pasti, aku berterima kasih pada guru spiritualku yang mungkin dia ga sadar dan ga aware, tapi aku jadi seperti dikasi kunci dan keberanian untuk menjelajah dan bergonjang-ganjing sendirian dalam gelombang emosi, yang ternyata emang hanya di permukaan aja, kalau kita nyelem lebih dalam rasanya lebih tenang. 

iya, aku bersyukur dan berterima kasih banget sih untuk pelajaran dan penemuan-penemuan diri yang ternyata membuatku aware dan sadar dengan diriku sendiri. 

terima kasih dan hidup yang bahagia, ya! 


sebenarnya

sebenarnya yang dicari tidak di luar, tapi di dalam

begitu pun dengan segala macam kekosongan 


23.10.20

wew

setelah posting yang cukup emosyenel kek "napa sik u met?" aku jadi mencermati diri sendiri juga bahwa kayaknya aku selalu penasaran deh akan beberapa hal yang kayaknya perlu aku teliti lebih jauh lagi. sepertinya memiliki dunia yang luas untuk dijelajahi dan dieksplor terus menerus membuatku gemes dan ingin tahu. kurasa aku senang sekali biasa duduk-duduk manis dan ngulik sesuatu dengan muka acak adut, baju longgar, dan bisa menemukan sesuatu yang baru dengan excitment yang menggairahkan.

kayaknya praktik meneliti, belajar, dan ngulik suatu hal bisa bikin aku anteng seharian dan konsentrasi. akhir-akhir ini aku sedang membongkar pasang pengertian: bagaimana untuk bisa punya hidup yang bener-bener hidup (?)

aku penasaran sih, banyak yang akhirnya jatuh ke keinginan yang sifatnya materialistik, tapi ternyata setiap manusia punya lobang yang bolongnya cukup dalam menganga ga pernah kenyang. ada semacam lubang yang kayaknya memang tercipta untuk bolong aja terus. bisa diisi macem-macem, mau pleasure, mau dimanjakan dengan harta, mau diisi ego, mau diisi pride, semua bisa. tapi tetep aja, bolong. puas sesaat, terus bolong lagi. kadang-kadang bolongnya kegedean jadi kayak unbearable dan panik musti disumpelin apanih, bos bagusnya?

sebenernya kalo bolongannya gak bisa disumpel apapun dan akhirnya cuman kesementaraan aja, harusnya ga usah dikejar-kejar amat rasa penuhnya, gak sih? karena rasa kepenuhnnya fana, gitu?

tapi kalo bolong juga kayaknya berasa 'kurang' dan gak komplit. 

jadi sedikit penasaran, kegunaan bolongan ini buat apa ya? kalo puasnya juga sementara aja kayak cari euforia. kalo ga dipuaskan jadinya histeria dan panik dan cemas dan khawatir. 

ini sih judulnya menyambut akhir tahun dengan pertanyaan krisis eksistensial dan retret pribadi akhir tahun yang dikuras, dicek, ikut deep cleaning, dilaundry se-jero-jero-an-ku. 

biar apa?

biar yang kosong terisi.

tapi apa yang kosong? 

apa yang musti diisi?

kenapa kosong?

emang HARUS diisi?

kalau kosong dan udah diisi, perasaannya apa?

puas?

kenapa rasa puas yang dikejar?

apa fungsi rasa puas?


22.10.20

Retret

 

Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan pada satu kenyataan: "Toh nanti aku akan siap dengan apa pun yang terjadi di depan." Aku mempercayai Tuhan akan melindungiku dan memeliharaku. Ia akan memberikanku hikmat dan kebijaksanaan sesuai dengan waktu yang Ia miliki. Ia tidak akan terlalu cepat dan tidak pula berlama-lama, Ia akan tepat pada waktunya. Ia akan menjadikanku siap untuk memenuhi tugas-Nya. Ia mengetahuiku dan mencintaiku. Ia mengasihiku lebih dulu. Ia adalah Kekasihku yang pertama. Adalah Bapa. Lalu aku diajarkan cara berbagi Kasih. Bersabar dalam putaran waktunya, maka segalanya akan dimungkinkan dengan pertemuan. Dia mencintaiku lebih dulu, meski aku pemarah, sulit diatur, dan sering meragukan bertanya. Aku berserah pada-Nya dan mengikuti-Nya sampai nanti tiba waktuku. Aku ditumbuknya menjadi 'bijih polos telanjang'. Ia mempersiapkanku. Aku bersedia. Aku berkata: Ya. Aku membuka diri. Aku menerima Kasih-Nya yang besar. Aku legowo menerima. Aku memeluk semuanya. Bahwa inilah aku. Aku yakin Dia tetap, Dia akan memenuhi janji-Nya, rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan tapi damai sejahtera. Di dalam Dia aku merasa aman. Dialah gunung batuku. Perisaiku. Api Cintaku. Tidak akan aku merasa gentar. 


"Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,

Ditumbuknya kau sampai polos telanjang

Diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu

Digosoknya, sehingga menjadi putih bersih,

Diremas-remasnya menjadi bahan yang lemas dibentuk

Dan akhirnya diantarkan kepada Api Suci,

Laksana Roti Suci yang dipersembahkan pada Pesta Kudus Tuhan."

          (Cinta-Khalil Gibran) 

 

 

 

pagi

pagi yang diusung dari doadoa

adalah pintalan mimpiburuksemalam 

yang ditenun dengan kehati-hatian

menggabungkan kataku dan rencana-Nya

tapi tetap pedih juga


21.10.20

solitude

ketika mulai linglung dan bingung sepertinya tidak apa-apa kalau mau mulai minggir sebentar dan memandang dari jauh. hidup itu susah-susah-gampang. tidak apa-apa juga untuk memisahkan diri dan kembali ke diri sendiri untuk bisa belajar. 

solitude: (n) the quality or state of being alone or remote from society. 

untuk berpikir, untuk bernafas, untuk mencari, untuk melihat pemandangan, untuk mencerna ke dalam, untuk merenungkan, untuk meragukan, untuk menentukan, untuk meragukan lagi, untuk merenungkan lagi, untuk berproses, untuk mencipta,

untuk mengerti

inilah hidup.




19.10.20

pelan-pelan

berapa kali coba aku ganti themes blog agar terus baru. kayaknya jiwaku merindukan kebaruan yang bisa aku kontrol dan pegang. bukan yang mendadak baru, tiba-tiba terjadi tanpa bisa aku antisipasi. kayaknya makin banyak hal yang tidak bisa aku antisipasi dan did not see it coming bikin mentalku semacam capek. aku capek musti berada di masa-masa yang uncertain begini (meski aku terus-terus berkata pada diriku sendiri untuk bisa terbiasa dengan ketidakpastian) tapi aku butuh yang pasti, ternyata. 

kayaknya ngunyahnya musti pelan-pelan deh, gak usah buru-buru harus diperbaiki. diam dulu, lihat lebih dekat, amati pelan-pelan. lucuti satu-satu. terima satu-satu, gak usah khawatir yang ada di depan. 

ya, baiknya jalani hari per hari aja, kalau serasa ketakutan. 

13.10.20

latihan

pagi ini harus ikut rapid test dan jujur panik sekali sih. seperti pertanyaan gimana kalau ternyata aku positif kena covid? mengingat aku selalu ketemu customer dan kadang gak tertib pakai faceshield. ternyata aku masih khawatir kalau mati, gimana? padahal aku kira, aku bukan tipe orang takut mati karena memang spoiler kita hidup ya akan mati, kan?

ternyata aku masih takut akan kematian ya...

***

sambil memikirkan akan kematian saat menunggu hasil rapid keluar, aku berpikir sambil minum kopi pagiku. aku jadi tersadar akan beberapa penderitaan yang aku alami tapi seringnya gak sadar.

(ini akan jadi tulisan depresif, sepertinya, jadi kalau seandainya energinya lagi gak kuat lebih baik ga usah. red)

aku sedang berpikir tentang penderitaan....
(kenapa kata penderitaan di bahasa indonesia terasa lebih ngenes daripada suffering ya? gimana kalau aku ganti bahasa aja jadi suffering, agar beban hati kita sedikit uplifted, gitu padahal mah LOL)

okeh, aku sering sekali denial suffering dan perasaan karena aku merasa harus functional dalam keseharian dan dunia profesyenel, gak ada waktu untuk merasa kurasa. aku seringnya merasa jikalau aku jadi orang yang perasa/merasa banget maka aku tidak akan bisa fungsional di keseharian dan akan terbawa arus kesedihan aja melelelelele. gak produktif, menurutku. jadi, seringnya aku akan lebih memilih blok aja dulu perasaannya karena kita harus berfungsi dengan baik (operate well kalo maksud anak mesin). 

aku merasa ketika sudah merasa produktif dan fungsional yang jalan, maka artinya aku sudah menunaikan tugasku dengan baik. tapi ternyata, aku salah sih. ternyata, manusia tidak bekerja demikian, kalau aku perhatikan pada diriku sendiri aku tetap merasa membutuhkan kanal-kanal perasaan juga, sehingga aku bisa considerate pada orang lain dan gak pakem banget, jadi orang. kayaknya value untuk menjadi depandable dan responsible itu terlalu mengambil porsi dalam hidupku, menurutku saat menjadi responsible dan dapat diandalkan artinya ya bisa bekerja dan berfungsi dengan baik, perfect tanpa noda membandel. 

ternyata aku salah.

ternyata, dapat diandalkan bukan perkara urusan pekerjaan dan sokongan materi saja, tapi juga bisa menggunakan hati dan perasaannya. ternyata manusia ini bukan batu yang keras, tapi manusia itu kayak sungai mengalir dan akan berubah. perubahan itu akan selalu terjadi, kita akan selalu transform dan belajar menjadi sesuatu bentuk yang lebih baik lagi untuk bisa beradaptasi dengan zaman. 

ternyata perasaan itu butuh divalidasi dan semua itu sama tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. ternyata perasaan itu tidak bisa diperbaiki cepet-cepet selesai dan asal pangkas/potong aja, ternyata perasaan itu perlu diterima saat takut, sedih, gembira, kecewa, ditinggalkan, dll dll

ketika perasaan diterima, kita akui, bisa masuk nalar, maka kebenaran terungkap. susah ya. padahal lebih mudah semua dilakukan dengan otak dan analisis yang tepat dan praktis. 

aku selama ini salah.

aku mau belajar. 



11.10.20

seharian

seharian ini aku lagi mikir keras sambil nonton korea. ini baru namanya multitasking, yagaksiii? pernah gak sih rasanya berasa tolol dan merasa gak mutu ke diri sendiri? kenapa banyak banget gitu loh yang salah react atau salah prediksi? rasanya hari ini sebenernya aku semi menghukum diriku sendiri dengan berpikir yang udah-udah. capek gak? wow cape banget, sih. 

lalu solusinya apa seharian aku mikir?

ya gak ada solusinya lah.......... ya sekarang nonton drakornya udah sampai episode 11 aja gitu.  pinter banget warbiasak.

kayaknya banyak deh hal-hal yang emang aku ga berani selesaikan dan hadapi tapi malah mundur cabut. kayak rasanya kemampuan menghindar dan cepet-cepet cabut adalah gayaku banget. rasanya kayak aku gak merasa diriku mampu untuk menghadapinya dengan terbuka dan dar-der-dor karena takut sakit hati atau rejection kali ya (?) tapi sakjane dengan aku menghindar juga ga menyelesaikan masalah dan aku juga tetep aja juga sakit hati, menurutku. 

sepertinya aku memang punya keahlian untuk bisa ignore, cuek, dan dingin-dingin aja. tapi coba deh, kalau aku pikir-pikir tidakkah aku cuman menghindari masalah aja dan gak menyelesaikannya dengan baik, gitu?

ngerti, secara analisis pasti aku sudah punya list pro-con kanan kiri atas bawah, tapi bisa jadi sampai akhir hayat aku bakalan gini-gini, aja nih boss gak maju-maju. coba, misalnya aku masih culun-culun gini aja dan ga bisa kelarin dengan baik, artinya ya bakal di sini-sini aja dong pribadiku, wah ga berkembang. 

(aku takut sih)

tapi coba deh, kalau dipikir-pikir jikalau aku beneran berani menghadapi dan menyelesaikan masalah bukannya menghindar, bukankah aku bisa mempersiapkan diri jadi ibu mentri pendidikan (!) wkwk. jadi, coba deh jadi orang tuh gak usah perfeksionis banget coba-coba, realistis kalau yaaa semua harus cupu-cupu bego dulu untuk bisa sampai ke goal yang kita mau, kan?

***

kadang (eh bukan kadang deng, SERING) aku suka menyalahkan diri sendiri dan marah-marah sama diri sendiri untuk banyak hal yang menurutku: goblogg bener. tapi, kalau dipikirkan baik-baik, aku ga bakalan jadi diriku yang sekarang; bisa menarik pelajaran, dan mengerti-- kalau aku gak melewati masa-masa culun dan salah-salah, kan? :( toh, aku pun baru sekali mengehadapinya, aku musti memaklumi diriku sendiri kalo aku juga bisa salah, ini kali pertamaku, aku saat itu belum tahu, kalau gak kejadian abcdef ini tentu aku ga akan tahu. aku masih belajar, belum skillfull. 

yaaa namanya juga idup, musti eksplor!

(and celeng myself)



10.10.20

Anget-anget Kuku

"Kuncinya adalah konsistensi", katanya. 

Menurutmu bener gak? Agar beneran bisa berjalan dengan lurus dan gak belok-belok kita harus bisa memiliki niat dan hati yang nempel di sana. Terkadang memang harus dilakukan dengan terburu-buru dan mendadak agar beneran jadi, katanya sih gitu. Mungkin yang benar adalah jalan dulu aja pelan-pelan, toh jalan kan? Bukan lari-lari ke mana-mana. Seharusnya dengan jalan yang pelan-pelan ini bisa membuat kamu jadi gak kecapean di tengah jalan, jadi pastikan gak terlalu overwork kalau kamu mau melakukan sesuatu. Kalem, pelan-pelan, santai, menyukai dalam prosesnya,  ga usah dar-der-dor, yang penting sustain, dan gak ngos-ngosan kerjainnya. Gitu yaaa, moms sekalian 😎

***

(ngantuk banget ya hari ini 20:31 aku udah semacam klenyer badannya pengen tidor)

Tadi di twitter aku melihat twit menggelitik dari Mark Manson yang bikin buku The Sublte Art of Not Giving a F*ck itu loh, menurutku menarik karena dia menyarankan bahwa: janganlah jadi pribadi yang merasa diri spesial, menarik, talented, dan lebih daripada yang lain. Selain karena ternyata kita bukan the special snowflake (wkwk) dan monmaap kita juga bukan sultan, jadi hadapilah hidup dan situasi dengan realistis, gitu. Tidak ada yang spesial artinya: kita bukan number one di seluruh dunia ini, jadi tidak harus memperlakukan diri dengan standard ketinggian yang harus abcdef karena: "ih gengsi dong kalo seandainya ternyata aku diperlakukan gini...." , dengan tidak memberikan persepsi diri yang bak ratu sejagad, artinya kalo seandainya banyak hal gak sesuai dengan ekspektasi kamu gak kecewa-kecewa banget. Yuk coba manage ekspektasi dengan gak bego-bego banget taro standard ketinggian.

(oOOOOooooOOOo tentu saja ini juga ngomongin aku banget wkwkw karena aku perfeksionis standard tinggi, iyuhhhh jijix he he he, coba deh ya Met kurang-kurangin deh)

yaudah gitu aja, aku dah ngantuk bgt deh. 

9.10.20

kecepetan gak ya?

aku tuh terlalu sibuk gak ya? karena aku berasa seminggu ini cepet banget kayak slipped away from my hands gitu loh perasaannya. aku khawatir gimana kalau ternyata sehari-hari ini berjalan 2x lebih cepat dari biasanya karena aku sibuk banget ya? 

udah mulai musim hujan yang artinya sudah mulai masuk bulan-bulan akhir. aku rindu bandung dan ingin ke sana. oh enggak sih, aku cuman rindu suasana normal di mana ga perlu khawatir ada covid. bisa jadi jangan-jangan suasana normal tidak bisa kembali seperti semula karena kita semua udah terbiasa dan menjaga diri dari kerumunan. 

coba aku ingin membuat waktuku gak kecepetan gimana ya? dengan menyediakan waktu buat melamun kali ya?

kemarin saat aku sedang iseng ikut misa online, ada hal yang menarik yang dikatakan. buatku sih pas sekali karena aku sedang mencari dan redefine big-why ku lagi. sesungguhnya aku sudah sumir-sumir menemukannya di ujung otakku dengan sotoy berkata: "wahini dia big-why-ku (untuk saat ini setidaknya). long story short, dalam homili diselipkan sebuah pertanyaan "apa yang kamu cari?" 

iya ya, apa yang aku cari ya?

masa mencari tapi diri sendiri ga tau apa yang sedang dicari?

apa tidak lebih ngenes dari pada nyari jarum di tumpukan jerami?

menelaah diri maunya apa memang susah sih, tapi kalau diri sendiri gak jelas maunya apa dan gimana gimana dong cara praktis untuk bisa jalan sesuai dengan goalnya?

kalau belum tau maunya apa, maunya gimana dong? masa iya, ketika tidak tahu gak dicari tahu. pun jikalau sudah menemukan maunya apa, tapi realita tidak mendukung, setidaknya langkah tiap hari punya mimpi dan harapan (ya paling engga jalan yang dijalani sekarang adalah jalan putar buat dapetin yang aku mau gitu?) 

pun jika ternyata engga bisa sesuai dengan keinginan, seharusnya di tengah jalan memutar itu banyak menemukan pemandangan indah kan?

ya kan? 

8.10.20

screen time

keputusan yang paling salah hari ini adalah memutuskan untuk gak keramas tadi sore, gak keringetan sih, tapi sepertinya aku butuh keramas. aku mau keramas dulu deh sebelum lanjut nulis. oke, bentar ya.....

***

he he he dah keramas hidup serasa lebih indah dan segar, pemirsa. 

***

hari-hari yang biasa aja ini disponsori oleh kesibukan sehari-hari, otakku rasanya ngebul dan full terus. mungkin harus bersyukur kali ya masih bisa sibuk dan memiliki rutinitas asik sendiri sama kehidupan yang real ada di depan mata. kurasa ya dalam usahaku menjadi pribadi yang lebih baik ternyata butuh effort banget deh, kak. kadang susah sih untuk bisa mindful dalam mengerjakan suatu hal karena biasanya aku akan fokus banget dan kesedot banget aja gitu, tanpa ada keinginan untuk ok aku akan dengan sadar menikmati ini dengan kesadaran penuh. sebagai sobat overthinking kayaknya memang musti menata pikiran untuk bisa kasih slot-slot yang rapihan dikit deh. coba satu-satu yang dipikirin ga usah semua dipikirin yakan? 

buatku usaha yang paling mudah melatih fokus pikiran adalah dengan mengurangi screen time handphone sih, jadi aku bisa diajak lebih fokus dalam mengerjakan banyak hal. meski memang sih kalau misalnya mau day time mau gak mau harus standby hp karena kerjaan, tapi selebihnya di luar jam kerja memang mengurangi screen time bisa memaksamu untuk bisa lebih fokus dengan hidup yang sekarang.

lucu juga ya, aku sampai pada sebuah masa yang aku takutkan sendiri ketika harus beli hp android yakni mudah dihubungi ke ranah pribadi dan harus selalu siap sedia. padahal dulu di taiwan hidupku sudah cukup indah dengan sms dan telp aja, kalau mau butuh ngobrol panjang bisa skype haha. eh ternyata, aku harus menghadapi situasi harus mengurani screen time, kocak. 


7.10.20

the big Y

(aku mau nulis tapi kok teh angetku ketinggalan di bawah ya, bentar aku ambil dulu ya)

(nah udah)

ini blog akan expired 1 bulan lagi: TARAAA. jadi kayaknya bakal menjadi blogspot aja, aku gak mau perpanjang website, atau mending pindah rumah ya? belum kepikiran sih, apakah pindah ke wordpress lebih enak ya? mana aku jarang banget blogwalking karena ga punya waktu udah full ngerjain kantor sama thesis lalu urusan ini itu. apa ngeluh? ngga sih. 

hari ini pagi-pagi sebelum kantor aku memulainya dengan menjawab semacam lembar kerja untuk upaya mengenal diri sendiri gitu deh mungkin hari-hari ke depan memang akan dipenuhi pertanyaan seputar diri. jadi pertanyaannya hari ini yang tiba-tiba aku gak tahu jawabannya adalah: the big why.

coba, pathetic ga sih kalau tiba-tiba kehilangan the big why. iya juga, kenapa ya? 

jadi pertanyaannya adalah: "apasih yang membuat kamu bersemangat bangun pagi dan menjalani hari?"
lalu aku menjawab dengan membaca buku kesukaan. ternyata jawabanku seharusnya lebih ke arah 'tujuan hidup' gitu loh misalnya 'to help others' atau apakek. aku ga kepikiran ke sana sih, apakah artinya aku jadi egois ya? rasanya aku bangun tiap pagi karena aku ingin lanjutin buku bacaanku lalu jalan pagi sambil dengerin podcast. rasanya itu rutin yang bisa aku peluk erat-erat tiap pagi.

coba deh, apakah big why itu sendiri harus yang bener-bener big? gimana kalau seseorang menjalan hari memang fokus hari per hari saja, menikmati bangun kepagian dan duduk-duduk baca buku. gimana kalau misalnya hidup itu gak melulu soal memiliki tujuan tapi juga lagi rehat sejenak dan ingin sit back, relax, reflect, dan enjoy the day. hello, we are pandemic anyway, boleh gak sih gue lebih menikmati hari aja dari pada stress mikir apa yang akan aku lakukan setahun ke depan, gimana kalau stuck di situ-situ aja?

gimana kalau sebenernya emang masa-masa ini, adalah waktu yang tepat buat hang on aja, mengenal diri sendiri, dan self improvement gitu? mau hidup sehat? boleh banget mulai olahraga dan diet yang bener. kayaknya gapapa banget sih kalau ternyata menyadari diri: "eh gue makin lambat nih pace nya, capek kali ya?" dan gapapa banget kalau tiba-tiba berkata pada diri sendiri: "ah ga tau ah, aku santai-santai kalem di sini aja, baca buku, kalo yang lain mau lari ya gapapa, aku mau menikmati diri sendiri, gitu juga gapapa sih."

sebuah big why, ga usah ngoyo dicari why-nya, showing up for and as yourself aja udah big kok. 

(perkara lupa minum teh, sekarang udah ga panas lagi)









6.10.20

kurang

sambil menulis ini aku suka sekali sambil santai-santai di kamar menikmati ujung-ujung hari ketika badanku udah mulai kretek-kretek rasanya. mengacu bahwa aku sedang mencari yang bener-bener esensial dan tulus-tulus saja dalam hidup, tiba-tiba kenapa rasanya seperti serasa ga penuh-penuh ya? mungkin gak sih kalau aku kelupaan bersyukur dan terlalu melihat apa yang aku gak punya gitu? kayaknya aku selalu panik-panik gak berfaedah setiap kali mau mendekat akhir tahun. aku berasa seperti kecolongan banget di tahun 2020 ini, serasa stuck di tempat tidak bergerak. aku sedang mencari ulang makna, bukankah manusia harus selalu bisa merefleksikan dari mula dan belajar ulang mengenal dirinya sendiri? kita akan selalu menemukan hal-hal baru dari dalam diri ternyata. di bagian mana ya, yang ternyata aku masih merasa suffering di dalam dan belum bisa dicerna, di mana ya bagian aku masih unskillfull, pasti banyak kurangnya kan dari pada benernya? 



new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...