Showing posts with label fiksimini. Show all posts
Showing posts with label fiksimini. Show all posts

21.5.16

Sebuah Aphrodisiac


Terbangun di satu sisi tempat tidur. Serta merta membutuhkan kehangatan hingga mencari selimut yang terjatuh di mana entah, kedua pucuk payudara yang mengeras kedinginan, kaca mata yang masih bersandar di hidung dan buku yang tergeletak di samping badan. Semalam tertidur dengan lampu menyala dan kembali bermimpi meniduri laut, menciumi tengkuknya dengan bibir berpasir, membelai lekuk punggung ombaknya dan mengecup sepi di matanya. Tiada lagi yang dibutuhkan, ketika sejumlah puisi wangi runtuh dingin di sudut kamar dan aksara sia-sia tentang cinta yang tidak lagi dipertanyakan. Mengawini laut tanpa ketakutan dan mencintai menjadi sebebas-bebasnya. Bukankah itu yang kita butuhkan?

Hiruk pikuk di sebuah kota yang bising, menyusuri jalan dengan lampu yang kekuningan dan bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga. Pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung usai dan kecemasan di setiap kening orang yang dijumpai. Mungkin kita manusia hanya bisa sedikit-sedikit cemas lalu menelusup di malam hari mencari tuhan, entah dengan wujud t kecil atau T besar. Kesendirian yang tidak sebegitu menakutkan karena masih mengalun lagu Tiny Dancer-nya Elton John dari kejauhan "Hold me closer tiny dancer, counts the headlights on the highway, lay me down in the sheets of linen, you had a busy day today." 

Perempuan yang menulis pukul setengah empat pagi tidak akan mampu lagi menyangkal ritualnya yang diam-diam dicintai dan dinikmati. Pagi yang awal tanpa riuh: ayam berkokok, bayi yang menangis minta susu, bunyi air yang gemericik, wangi masakan di dapur, cengkrama singkat dan ketergesaan yang lompat meminta perhatian. Semuanya dijalani pelan-pelan-lalu-detik---mengalir---lambat----lambat---sekali.

Menyibukkan diri dengan tuts-tuts keyboard yang berbunyi tik-tik-tik-tik dan suara diri sendiri yang menggaung di kepala. Meyakini akan tiba saatnya seseorang yang sungguh mengerti ritual singkatnya tanpa banyak bicara dan si perempuan akan memandanginya sesekali ketika ia sedang tertidur lalu akhirnya mengecup keningnya, meski si laki-laki tidak terbangun dan menyadarinya. Ketika menelusup jemari di tubuh laki-laki itu adalah kenyamanan itu sendiri dan memeluknya menjadi energi ratusan watt untuk menjalani hari. Dan laki-laki itu kini belum datang, belum datang. 

Apakah akan ada seseorang yang sedemikian lelahnya mencari dan lalu berhenti mencari hingga akhirnya duduk di sisi perempuan karena sudah merasa cukup? Karena si perempuan sudah lelah mencari dan tidak membutuhkan pertemuan mubazir yang hanya mengunci ketertarikan dari pandangan mata dan tubuh saja, ia sudah selesai membicarakan tubuh. Ketika ciuman-ciuman sudah selesai di malam yang lampau dan tidak lagi menjadi hangat lalu. Pengalaman seketika menjadi guru killer yang mencoret seluruh kertas ulangan matematikanya dengan tinta merah dan melingkari semua jawabannya yang salah. Perhitunganmu salah, Perempuan! Logikamu amburadul, Perempuan! Dan si perempuan tahu dia bukan seseorang yang dianugerahi otak secemerlang itu hingga terus menerus penasaran dan bertanya menjadi keahliannya.

Apakah masih ada seseorang yang sudah usai dengan kesombongan alpha male-nya yang harus memenangkan segala hal dari si perempuan termasuk sedikit nalar dan otaknya? Lalu akhirnya mencintai bukan alasan sebuah karena namun diri itu sendiri. Lalu ketika ciuman-ciuman gairah selesai, kecupan di tengkuk sudah luruh, pelukan tidak lagi diketatkan dan persenggamaan sudah membosankan. Apalagi yang tersisa? Percakapan-percakapan yang lahir dari cerebrum, otak besar kita. 

Mungkinkah ada seseorang yang sederhana saja, biasa saja, dengan segala penziarahan hidupnya, duduk di sini sejajar. Di samping. Tidak duduk di depan dan tidak di belakang. Berbagi sedih dan tawa di ujung hari, membicarakan hal-hal yang sederhana namun tidak sesederhana itu, bergandengan tangan lalu sesekali berpandangan tersenyum, mengetatkan peluk dari jarak dan mengakhiri segala tanya yang tidak perlu. Dan memulai. Karena rasanya si perempuan tidak seromantis itu untuk segala banyak tetek bengek sia-sia candle light dinner yang canggung, hadiah-hadiah berkilau dan bouquet mawar. 

Hadirilah dengan realitas dan mimpi yang getir karena cuka asam sudah biasa di mulutnya, pemandangan kota yang biasa saja, tukang soto ceker di pinggiran jalan, temaram lampu kota, kedai kopi kecil, pasar, atau perpustakaan yang penuh buku lalu pemikiran-pemikiran yang menjadi keingintauan untuk dijelajahi dan dipertanyakan. 

Adakah seseorang yang sedemikian bisa diajak bercakap-cakap tanpa ada prasangka dan meyakinkan diri bahwa dia paling benar dan pintar? Dan adakah seseorang yang mampu menawarkan si perempuan aphrodisiac yang memberikan getaran pertama pada sanggurdinya akan pembicaraan panjang tentang: Tuhan, manusia, mimpi. manifestasi cinta, berita-berita yang berkoar-koar di tivi lalu menertawakannya, artikel panjang tentang nalar ketuhanan dan keyakinan yang banal, kapitalisme yang tentu akan berbicara tentang Karl Marx dengan: 'Derita termasuk kenikmatan manusia', berbicara tentang humanisme, berbicara tentang idealisme, berbicara tentang filsafat yang tidak kunjung dimengerti namun dinikmati dengan sisa-sisa otak si perempuan. Dan jikalau sudah selesai marilah kita berbicara tentang hidup. 

Hingga akhirnya mengerti, bahwa si perempuan membutuhkan laki-laki yang bisa bersenggama dengan pikirannya. Sebuah aphrodisiac


Serpong, 2016

gadispayungkuning



19.8.14

Kumis


Tidak menahu apakah aku akan melanjutkan pertemuan kita setiap dua minggu sekali di gereja atau tidak. Pertemuan sakral menyita perhatian besar dan waktu yang mahal harganya untuk bisa dibeli kembali. Memilih baju manis, bangun tidur lebih pagi dari biasanya, acara mandi besar, mematut diri di cermin ribuan kali untuk meyakinkan diri rambut tertata sempurna, memoles lip balm berkali-kali, bukannya karena alpa tapi sekedar menebalkan niat demi hati yang bergemuruh gugup. Pertemuan ini sederhana tidak berlebihan, dengan frekuensi sebulan dua kali di minggu genap, ke dua dan ke empat. Mengapa harus genap? Kebetulan indah yang tak disengaja kurasa.

Semua yang berhubungan dengan dia harus dilakukan ekstra hati-hati. Sesuatu yang harus disempatkan dan diberikan ruang khusus bagi pengunjungnya. Sesuatu yang menggunakan hati dan menggunakan bahasa perasaan. Entah mengapa aku terjerumus ke dalamnya, tertular ritmenya dan tidak bisa menolak. Seberapa pun keras aku berusaha berontak, semakin erat ia menjerat. Barangkali cinta mereka menyebutnya.

Pertemuan pertama kami sekedar sebuah tatap mata dari kejauhan. Sebuah pesan maha cepat dari mata ke otak akan sebuah ketertarikan, sebuah pesan singkat yang bekerja kilat tanpa ruang dan waktu. Entah alasan khusus apa yang membuat aku menetap. Mungkin kumisnya. Kumis lebat yang membingkai wajahnya yang sempurna. Atau mungkin memang aku saja yang memiliki apresiasi lebih pada kumis.

Aku baru ingat waktu kecil pernah kudengar cerita dari ibuku saat pertama kali berjumpa dengan ayahku di bis. Aku bertanya saat itu; mengapa Ibu tertarik dengan Bapak yang biasa saja, lalu Ibu menjawab, “Karena bapakmu itu berkumis, macho sekali kelihatannya,” lalu Ibu tersipu malu. Saat itu sebagai gadis kecil yang buta akan cinta dan selalu kegelian saat dicium Bapak, jelas tak mengerti akan arti kumis Bapak bagi Ibu. Kini aku baru sadar bahwa apresiasi berlebihan pada kumis adalah bawaan genetik dari Ibu.

Minggu ini adalah pertemuanku yang kelima. Masih lama tiga jam lagi namun jantungku sudah tak karuan sedari kemarin. Seperti kata Pat Kay si siluman babi di film Kera Sakti, ‘Cinta, deritanya tiada akhir.’ Hanya itu kutipan cinta yang kuhafal dari jutaan kutipan cinta, pilihan ingatanku jatuh pada falsafah si babi mesum ini. Memang benar bahwa derita yang kurasa ini adalah percampuran khusus antara cinta dan sesak. Semakin kritis kurasa hatiku ini. Hatiku ini repot sekali karena dia gengsi dan takut dengan cinta. Dia sebenarnya mau dan penasaran tapi takut untuk hanyut di dalamnya karena sudah berkali-kali salah jalan, salah arah. Trauma, kalau kata orang. Mungkin sebenarnya ini yang salah, bagaimana mungkin bisa mencinta tapi terlalu penakut dan terlalu perasa. Terlalu banyak berpikir kalau kata temanku.

Pertemuanku kali ini singkat, setelah gereja usai lalu kami pun ngobrol sejenak. Hatiku rasanya malu sekali, aku yakin pasti senyumku sudah terpahat di sana, melengkung lebar dan tidak bisa luntur.  Aku merasa bodoh sekali dan jantungku sudah mau lompat rasanya terlampau senang. Bagaimana mungkin ada suatu situasi di mana kita setengah mati ingin bersama, sekaligus ingin melarikan diri sejauh-jauhnya karena takut terbakar sendiri dengan gejolak energi yang terlalu kuat. Benar kata orang kalau kebahagiaan yang berlebihan itu melelahkan.

“Mau makan siang apa?” tanyaku, berusaha santai dan kasual. Dia lebih muda satu setengah tahun dariku dan aku berharap itu tidak masalah. Toh, aku masih sering disangka anak sekolah dari pada anak kuliah tingkat akhir.

“ Belum tahu. Kalau kamu?”  Ia bertanya balik, menatapku dan tersenyum.

Aku seratus persen yakin kalau dia tahu aku hanya mencari-cari alasan basa-basi. Dia pasti tahu motivasi dibalik ini semua. Aku merasa seluruh darahku mengalir lebih deras ke wajahku, ingin rasanya aku melarikan diri saat itu juga dan menyembunyikan diri di tempat lain. Tapi tidak, aku masih ingin melihat binar matanya, sebentar saja.

“ Saya mau makan mie bebek saja. Kamu mau ikut?” Semua alasan, semua kesempatan aku raup menjadi satu. Terlanjur basah sekalian saja lompat dan berenang. Bukan begitu?

“ Rasanya saya tidak bisa, ada acara ulang tahun teman, kayaknya harus pulang,” jawabnya dengan ekspresi lucu. “Kita jalan pulang bareng saja, kebetulan searah,” ujarnya kemudian seakan bisa membaca mataku yang redup, kecewa seketika.

Pasti. Mukaku pasti sumringah dengan mata berbinar-binar. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa menutupi hal tersebut agar tidak terlalu ketara. Aduh, itu tidak terlalu penting, kini permasalahannya apa yang harus dibicarakan agar tidak gagu dan mati gaya.

Tenang, tenang kamu pasti bisa! Anggap dia adalah teman biasa. Ujarku dalam hati guna menenangkan jantungku yang tengah berkerja keras. Dia nampak tenang, tinggi dan anggun. Sementara aku yang setengah mati berusaha mencari-cari pegangan agar tidak terjatuh agar lututku tidak lemah dan sanggup berpijak.

Aku tahu ini tidak baik, sudah terjatuh sedari awal. Tapi entah mengapa aku merasa tersedot ke gelombang energinya yang kuat dan aku tidak tahu apa itu. Seolah energi yang dia punya menarik energiku sendiri untuk lebih dekat dan aku pasrah. Aku tahu seharusnya aku tidak semudah ini menyerah dan menggunakan logikaku agar aku terlindungi dari rasa sakit yang bisa datang kapan saja. Siap atau tidak siap.

***

Ada sesuatu yang berbeda dari dia. Dia itu sederhana dan simpel, itu yang aku lihat. Aku suka melihat dia memakai baju oranyenya yang lusuh, belel dan kebesaran itu ke gereja, dengan kumis yang belum dicukur dan rambut tanpa gel. Pas. Nyaman dengan diri sendiri sepertinya itu poin paling penting buatku, rasanya itu daya tarik yang paling berkilau bagiku.  Dia seolah begitu yakin dan paham betul dengan keberadaan dirinya dan prinsip apa yang dia punya. Kalau kata temanku dia itu tipe lelaki di iklan-iklan rokok, jantan dan tahu apa yang dia mau.

“Hai, kamu mau makan apa? Mie bebek lagi?” tanyamu basa-basi seraya berdiri ketika aku menghampirimu selesai misa.

“Sepertinya begitu. Kamu apa?” tanyaku berbalik padamu. Berusaha tampil santai.

“Kamu tidak bosan yah setiap minggu makan mie bebek terus?” tanyamu dengan wajah lugu.

Sejenak aku bingung hendak menjawab apa. Mengapa otak dan mulut tidak pernah sinkron seolah jadi disfungsi setiap kali berbicara dengan orang yang kamu damba dengan segenap hatimu? Seolah otakmu tidak mengirimkan pesan-pesan pintar yang biasa kamu ucapkan dan mulutmu seolah kelu dan hanya sanggup tersenyum malu saja. “Aku tidak bosan, toh hanya satu kali dalam seminggu. Kurasa aku menyukai kebiasaan, sesuatu yang berulang dan sudah kukenal.” Hanya itu jawaban terbaik yang bisa aku keluarkan dari otakku yang lamban.

“ Apakah kamu orang yang suka tantangan atau sesuatu yang tidak bisa kamu control, sehingga mau tak mau kamu harus mencobanya?” tanyamu dengan menempelkan pandangan statis tak lepas.

Aku kelu seketika. Sepertinya dia tahu apa yang ada di dalam diriku. Bahwa aku si pencinta ‘zona nyaman’ yang takut dengan semua hal asing yang belum aku ketahui. Si penakut ini juga tidak suka dengan sebuah keadaan yang tidak bisa dia control. “Kamu kok tahu?”

“Mungkin ada baiknya kalau kamu memasukkan dirimu sendiri ke sebuah situasi yang membuat darah kamu berdesir dan takut. Kamu baru bisa jadi hidup. Hidup itu bukan sesuatu yang bisa kamu control terus menerus. Kamu tahu?” sahutnya dengan tersenyum jenaka. “Cobalah sekali waktu.” ujarnya lagi seraya memandangku. Apa yang dia katakan seolah sebuah pesan untuk jiwaku. Dia seperti sudah mengenalku sejak lama dan bisa membaca apa yang aku pikirkan. Aku tiba-tiba merasa ngeri dan senang.

“Apakah kamu punya pengalaman serupa? Nampaknya kamu berpengalaman sekali dalam hal ini.” tanyaku padanya seraya mencari matanya. Badannya tinggi kokoh mungkin tinggiku hanya selengannya saja. Apabila dia melihatku, dia harus menundukkan kepalanya dan mencondongkan badannya ke arahku. Kedekatan ini membuatku gerogi namun senang. Kadang aku mengutuki diriku sendiri, kenapa aku tidak bisa bersikap lebih tenang, mengapa aku seperti anak anjing yang hiperaktif kesenangan bertemu dengan majikannya setelah seharian tidak bertemu, dengan mata berbinar-binar dan ekor mengibas ke sana ke mari.

“Ya, ketika itu saya harus magang di sebuah hotel karena kebetulan ada mata kuliah yang mengharuskan saya untuk praktek. Saat itu saya khawatir sekali karena saya takut kalau saya tidak bisa tembus ke salah satu hotel internasional yang saya inginkan. Saya ingin menjadi salah satu staff di bagian front desk. Ada ketakutan tidak bisa melayani tamu dengan baik karena kendala bahasa. Namun pada akhirnya, saya lakukan saja dan saya belajar banyak. Tidak semua yang kamu takutkan itu terwujud, itu sebagian besar hanya ilusi dari otak kita saja yang terlalu pengecut untuk melakukan ini itu.” ujarnya panjang dengan mantab dan tenang. “Ketika kamu tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu sampai di manakah kemampuan kamu. Dan setidaknya jikalau kamu gagal dalam hal tersebut, kamu sudah membuat suatu kemajuan dari diri kamu. Kamu berani sehingga kamu bisa mencari kesempatan yang lain. Daripada kamu bertanya-tanya pada diri sendiri, sampai di manakah kemampuan saya sebenarnya, lebih baik kamu coba.”

Aku mendengarkan ucapannya seraya berpikir betapa beruntungnya aku bisa bertemu dan berbicara banyak hal dengan orang ini. Entah mengapa berbicara dengannya selalu menarik dan menyenangkan, seolah dua otak kami mengeluarkan cairan ide yang serupa tanpa harus dijabarkan dengan kata-kata. Pembicaraan kami mulai berpedar ke keinginan kami masing-masing di suatu hari nanti, rencana-rencana ke depan, keinginannya untuk membeli motor bekas karena dia mulai malas naik bus ke mana-mana, keinginannya unuk pindah rumah dan sebagainya. Aku sudah tahu semenjak pertama kali aku berjumpa, aku akan jatuh hati. Namun aku tidak pernah tahu seberapa dalam jatuhnya. Aku harap hatiku bisa sedikit waspada dan memiliki sayap cadangan untuk berjaga-jaga, jikalau …

***

Sudah hampir sebulan dia tidak ke gereja lagi. Ada apa gerangan? Apakah dia sudah pindah rumah? Atau sedang sibuk? Tidak ada yang tahu. Aku mulai rindu dengan percakapan kami sehabis pulang gereja, rindu setengah mati dengan kumis yang membingkai wajahnya dan binar matanya saat menatapku dalam. Hatiku serasa payah dan dingin setiap kali kulihat dia tidak ada di mana-mana. Kamu ke mana saja? Pertanyaan singkat yang ingin aku ucapkan padanya jikalau bertemu kembali. Aku merindunya dengan segenap hatiku, seolah tubuhku pun merasakan sinyal otakku yang nelangsa. Bahwa sesungguhnya tubuhku ini menjadi begitu sensitif dan mengetahui apa yang hatiku rasakan hingga seluruh sel dalam tubuhku pun merindukannya. Seolah energi maha magis itu lenyap dan tubuh ini layaknya sebuah sterofoam yang mengapung di air, pasrah mengikuti arus ke mana saja.

Bagaimana cara menggambarkannya dengan lebih jelas? Ketika kita rindu dengan seseorang betapa rasanya satu alam semesta seolah bersengkongkol dengan melakukan segala hal yang membuatmu mengingat tentang dia, betapa terkadang banyak kebetulan-kebetulan kecil yang muncul lalu menguatkan rasa rindumu itu, lalu kamu mulai berbisik pada diri sendiri; aku kangen, kamu di mana?
***

Setelah sekian lama, kau datang kembali. Aku setengah mati ingin berbicara denganmu. Namun kulihat rasanya kau berbeda, bukan sosok itu yang aku kenal. Kau nampak dingin dan menyendiri, entah mengapa. Kau bahkan tidak berani memandang mataku, kau sibuk dengan duniamu sendiri. Kau nampak seolah kehilangan sesuatu yang penting darimu, kau seolah menghindar untuk berbicara padaku tanpa alasan yang jelas. Mungkin aku salah, tapi apa? Aku tidak tahu. Kuurungkan niatku untuk berbicara denganmu, mungkin kamu butuh jarak. Mungkin. 

***

Waktu bagaikan pencuri ulung yang datang tanpa permisi kapan saja. Seolah kita manusia dikhianati mentah-mentah oleh waktu. Kita mengira masih banyak waktu yang kita punya, kesempatan itu ada di mana-mana, dan momen itu sesuatu yang harus ditunggu sampai sempurna. Kenyataannya tidaklah begitu, kita salah jikalau selalu menunggu sampai momen yang pas untuk melakukan sesuatu karena nyatanya momen yang sempurna dan pas itu tidak ada. Kitalah yang membuat momen itu sendiri.

Aku harus segera menyampaikan pesan singkatku padanya kalau aku sebentar lagi harus pulang, untuk melanjutkan mimpi-mimpiku lagi. Betapa perkataan itu sulit sekali keluar dari bibirku, pesan singkat sederhana untuk berpisah. Bagaimana caranya untuk menyampaikan ini padanya karena sudah pasti hatiku meronta dan mengigil. Bahasa perasaan tidak pernah bisa disampaikan dengan sederhana, betapa sulit untuk mengucapkannya dengan jujur bahwa hati yang aku punya ini lebih dari ini, hatiku ini sudah menahu semenjak pertama bertemu bahwa dia sudah punya hatiku sedari awal. Sedari awal.

“Hallo.” Kuberanikan diriku untuk menyapamu. Kau menatapku.

“Kamu kapan pulang?” tanyamu langsung. Mungkin dia sudah tahu semua isi otakku.

“Akhir bulan ini.” ujarku padamu sambil mencari matamu. “Tapi saya rasanya tidak ingin pulang, saya masih ingin di sini.” kataku kemudian. Kutatap matamu dalam, yang kudapatkan hanya tatapan sendu nanar dan kau tidak bersuara. Diam.

“Sebelum pulang saya ingin makan bareng denganmu. Kamu ada waktu?” tanyaku berusaha mencuri kesempatan untuk sebuah momen perpisahaan yang bisa aku ingat. Kita kenalan baik-baik, dan berpisah pun harus baik-baik. Tapi aku selalu berbisik dalam hatiku, kita berdua pasti bertemu lagi, pasti ada kesempatan, pasti ada waktu, pasti ada momen, pasti ada.

“Kita lihat nanti yah, saya harus cek jadwal saya dahulu. Nanti saya kabari.” jawabmu dingin.

“ Iya, kabari saya, ya.” sahutku dan berbalik arah lalu pergi.

Sejak itu kita tidak pernah bertemu lagi. Saat itu juga aku merasa itu terakhir kalinya berbicara dengan dia dan menatap matanya. Kupejam mataku erat-erat dan kurekam detik-detik itu. Seandainya masih ada waktu. Seandainya kita bisa memperbaiki apa yang salah dan memulainya dari awal.

***
Tidak ada yang tahu kapan kadaluarsanya waktu kita bersama dengan seseorang. Meski rasanya indah dan hangat, bisa saja momen itu lenyap semudah embun di pagi hari. Tidak ada yang abadi dibawah langit ini. Tidak ada siapapun yang memiliki siapapun, kita ini hanyalah titipan. Tidak ada yang tahu kalau pandangan mata itu adalah pandangan mata terakhir yang aku punya dan tidak ada yang tahu kalau percakapan itu adalah percakapan terakhirku dengannya. Tidak peduli seberapa sakit hatiku, seberapa ingin hatiku untuk mencegah itu terjadi. Itu tetap terjadi dengan jalannya sendiri.

Aku terhenyak pada sebuah kenyataan, bahwa tidak setiap cinta berakhir seperti yang kita duga, ada beberapa hal yang tidak bisa kita dapatkan meski hati dan perasaan ada dan sama. Namun ketika waktu dan takdir tidak mengada, semua jadi tiada.
  
Namun satu yang tidak berubah, aku mencintainya maka aku tidak akan pernah selesai mendoakan keselamatannya*  dan aku yakin Tuhan pun akan selalu melindunginya.


&&&


Nb. Ini sebuah cerpen yang saya buat setahun yang lalu dan menang juara favorit.
Dari pada teronggok lebih baik kita taruh di sini bukan? :) 




*Sapardi Djoko D.

29.4.13

Tidak Ada Eskapisme dalam Hal Menerima


pic: tumblr


"Tau kan apa itu eskapisme?" 
" Kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayal atau situasi rekaan." 
" Kamu udah kayak kamus berjalan saya."
" Emang kenapa kamu tanya-tanya arti?"
" Saya sedang dalam fase itu."
"Oh."
"Oh doang?"
" Oh ...ya?"
"Iya."

***

Ada hari-hari di mana sepi dan sendiri itu lebih baik dari pada bergerombol dan membicarakan hal-hal yang menyebalkan di kuping. Lalu dalam hati berkutat dengan seribu jarum yang nyelekit dan kau tetap tersenyum riang. Namun binar matamu tidak pernah bisa bohong karena ia relevan dengan hatimu. Karena kata orang mata adalah cerminan hati. Kau pun mulai malas bersuara hingga menoleh pun enggan.

Ketika sesuatu yang kau rasakan bukanlah sebuah penjelasan karena kau tahu bahwa perasaanmu tidak seberapa penting dibandingkan dengan perasaan orang lain. Bahwa kau ketakutan sendiri jikalau menyakiti perasaan orang lain dan berkewajiban penuh untuk tetap menjaga perasaan orang lain meski akhirnya ada saatnya kau tidak tahan lagi hingga harus menangis diam-diam sampai ketiduran. Lalu pagi hari kau terbangun dengan mata sembab. Kau berterima kasih dengan sepenuh hati pada kekuatan make up: eyeliner dan eye shadows karena menyamarkan keganjilan. Hingga kau bisa tersenyum lagi meski tanpa binar mata. Binar mata tidak bisa dibeli. Sayang sekali. 

Kau lelah harus terus menerus takut berhadapan dengan ketakutan sendiri yang sebenarnya mungkin hanya sebuah pikiran. Kau kecewa dengan tulus, sakit hati yang datang sendiri dan kau tidak memberontak menerimanya  karena kau tahu mungkin saja itu salahmu bukan salah orang lain. Lalu kau menyalahkan dirimu sendiri karena kau tak sanggup. Karena kau tidak cukup kuat, menjadi pengecut dan aroma kerja kerasmu kurang berkarat, lalu darah yang timbul dari lukamu kurang anyir dan berbau. 

Kau tidur sendirian dengan mimpi yang berloncat-loncatan mengejekmu seakan kau tidak akan ada jalan ke sana. Menjalar ke sulur api cita-citamu yang serta-merta padam dihembus angin tanpa memberi kesempatan pada semangat. Rasakan! Baui! Bahwa kau bersedih di momen ini dengan segala rasa pahit di tenggorokanmu lalu kau menyalak dengan sarkasme dan mulai menertawakannya. 

Hingga kau sampai pada sebuah pemikiran sendiri bahwa terkadang menerima kesedihan dan kecewa itu lebih mudah dari pada melawannya. Bahwa kau berlapang dada, seluas-luasnya pada rasa sedih yang tidak bisa kau halangi sendiri. Kau kecewa karena berharap orang lain bisa melakukan sesuatu hal untukmu dan bisa mengerti perasaanmu lalu layak untuk dicintai. Kau ngeri sekali saat tiba harinya, hatimu amburadul di tengah orang banyak dan gelak tawa. 

Kau kecewa sendiri karena orang yang kamu percaya sepenuh hati tidak selamanya bisa kau andalkan karena kembali lagi kalau kita ini hanyalah manusia yang tidak bisa mengontrol semua situasi. Kau makin menyadari bahwa kebahagiaanmu itu memang kamu yang punya dan atur. Bukan siapapun. 

Ada baiknya kalau kau menerima saja semuanya bulat-bulat, sejelas-jelasnya, sepahit-pahitnya lalu telan. Menghadapi dengan tegar bukannya lari dan menghindar. Ada saatnya kau harus berusaha untuk kuat bukan demi siapapun tapi semata-mata demi harga diri dan demi dirimu sendiri. 

Lalu saatnya nanti kau melompat terbang dengan kakimu sendiri. 





9.4.13

Nona Kecil dan Bianglala



photo: claudi


Mari saya kenalkan pada seorang nona. Nona ini bernama Nona Kecil. Dia pemberani dan bukan 'cewek cemen', dia tangguh dan kritis pada keadaan sekitarnya. Terkadang dia ceroboh dan cerewet. Oh iya satu lagi dia agak kelebihan energi, terlalu hiperaktif dan tidak bisa duduk terlalu lama dan berdiri diam tidak berbuat apa-apa.

Akhir-akhir ini Nona Kecil sedang merasa bosan dengan kehidupan yang begini-begini saja. Akhirnya Nona Kecil pun melangkah masuk ke sebuah ruang tertutup di hatinya yakni: Gudang Rasa Takut. Nona Kecil berjalan pelan-pelan masuk dan mulai memperlajari rasa takutnya terhadap sesuatu. Banyak sekali pilihannya : dari takut pelajaran Matematika, takut badut, takut petasan, takut petir, dan takut ketinggian. Akhirnya Nona Kecil memilih salah satu ketakutan itu untuk diuji ulang kembali. Kita tidak pernah tahu kan apakah kita masih takut pada sesuatu hal yang sama seperti kita saat umur 5 tahun? Kita jelas berubah, namun apakah ketakutan itu masih sama? Ya.

Nona Kecil menguji ketakutannya, mencari limit, mencari batas, mencari suatu alasan apakah ketakutan ini cukup masuk nalar kah? Memang rasa takut itu adalah sebuah rasa yang membuat pergerakan jantung kita lebih kencang keras dari biasanya. Membuat kita akhirnya menyerah pada rasa takut karena tidak nyaman itu tadi. Bahwa sebenarnya manusia itu mudah merasa nyaman pada sesuatu, bahwa terkadang manusia itu sulit untuk melepaskan sesuatu yang nyaman. Melekat. Ada baiknya jika kita tidak terlalu 'lekat' pada sesuatu. Karena percayalah dunia ini fana dan kita hanyalah ilusi-ilusi yang tercipta dengan waktu kadaluarsa.

Nona Kecil mencoba semua permainan ketinggian. Takut tapi penasaran, penasaran tapi takut. Permainan itu menguji adrenalin, menguji ketahanan untuk tetap diam dan pasrah namun tetap bebas mengekspresikan dengan teriakan sumpah serapah. Suatu yang bebas, suatu yang meledak-ledak, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang ekstrem dan sesuatu yang menantang. Nona Kecil suka. 

Lalu Nona Kecil memutuskan dengan kebulatan tekadnya bahwa dia akan mencoba sesuatu yang tinggi tapi tenang. Semua orang santai, semua orang senang, semua orang ceria, semua orang berkata itu romantis. Nona Kecil penasaran. Seperti biasa, selalu terbujuk dengan rasa penasaran dan tertantang. 

Nona Kecil mencoba bianglala. 

Suasana malam, kemerlip lampu warna-warni, wangi semprotan parfum, teman-teman dekat, pemandangan indah di luar. Pas. 

Namun entah kenapa Nona Kecil ini khawatir, takut, was-was. Seolah kapan saja dia bisa jatuh ke bawah dan mati kapan saja. Seolah pemandangan dari kaca transparan itu bias dan Nona Kecil mulai membayangkan kaca tersebut pecah dan berhamburan lalu Nona Kecil jatuh seiring gravitasi. Nona Kecil takut, pucat pasi, kaku, ngeri, khawatir dan terdiam. 

Bianglala itu berjalan naik dengan perlahan-lahan, pemandangan semakin indah, lampu kerlap-kerlip berada di belakang jendela, semilir angin menggoda rambut Nona Kecil. Indah, cantik. Nona Kecil terkesima, terkejut sendiri dan ngeri.

Ada apa dengan Nona Kecil? Bukankah semua orang itu suka naik bianglala dan melihat pemandangan kemerlip lampu indah? Namun mengapa Nona Kecil mempunyai gejala-gejala yang berbeda. Di permainan ketinggian lain dia sungguh berani dan lepas, tapi kini ceritanya beda.

Mungkin Nona Kecil memang takut ketinggian, tapi Nona Kecil tahu betul bahwa sesuatu yang tinggi itu mengasyikan, menyenangkan dan menantang. Namun Nona Kecil suka ketika ketinggian itu saking tingginya sampai benar-benar lepas. Dengan energi dan bebas mengekspresikan apa saja. Bahwa tinggi itu menjadi sebuah morfin yang membuat senang dengan pacuan adrenalin karena Nona Kecil suka sesuatu yang menantang dan adu nyali, karena Nona Kecil tidak suka dibilang 'cemen'. 

Hubungan Bianglala dengan Nona Kecil ini rasanya, hubungan yang aneh. Bianglala ini tinggi, anggun, rupawan, bersinar, cantik, indah dengan kemerlipnya. Nona Kecil suka memandangnya dari kejauhan, terpesona sendiri dengan keindahannya dengan cahaya bias di langit malam. Bianglala ini saking anggunnya, dia berjalan pelan-pelan, terkadang tidak terasa bahwa dia berjalan, bahwa dia bergerak. Nona Kecil tidak terbiasa dengan sesuatu yang halus dan lembut menelusup hingga dia tidak tahu apa-apa. Nona Kecil  terbiasa dengan sesuatu yang mudah dilihat, mudah ditebak gerak-geriknya, hingga bisa diekspresikan. Bukan sesuatu yang membuat lumpuh dan hanyut. Nona Kecil adalah manusia dinamis yang penuh energi hingga tersiksa setengah mati dengan sesuatu yang tenang, perlahan, pelan......pelan.... sedikit....sedikit....naik.... pelan...pe----lan...p....e....l....a....n. Membuat gelisah.

Nona Kecil takut dan takjub dengan bianglala ini sendiri, dia ngeri dengan kecantikannya. Mengapa sesuatu yang rupawan itu terkadang mengerikan? Cukup dilihat dari jauh. Namun penawaran bianglala ini memang menguntungkan. Cantik, tinggi, pelan, pasti, tenang, romantis, ngeri, tidak usah banyak bicara, tidak terbaca, cerdas, mendebarkan, dan pas. 

Akhirnya Nona Kecil menemukan limit ketakutannya dan sesuatu yang melumpuhkannya: sesuatu yang pelan, tegas, tenang, ngeri, anggun, mendebarkan, tidak terbaca, dan cerdas. Bianglala. 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...