Showing posts with label konspirasitaikucing. Show all posts
Showing posts with label konspirasitaikucing. Show all posts

16.9.17

Konspirasi Tai Kucing #14: Sehelai Rambut yang Juga Dihitung





Konon dalam menulis harus dilakukan terus menerus agar otot-otot menulis semakin terlatih dan juga agar pembaca budiman tidak pergi melupakan penulis. Tapi ah, sudahlah membuat segala sesuatu sesuai dengan tempatnya amatlah membosankan. Dan mungkin pekerjaan yang menyenangkan adalah segala hal yang spontan-spontan saja. Meski katanya jikalau sungguh-sungguh ingin menjadi profesional harus mengerjakannya terus menerus. Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa menulis bukan lagi perkara profesional atau tidak tapi ya semacam kelenjar yang selalu ada. Menuliskannya dan dishare atau tidak hanyalah perkara pilihan si penulis. 

Daripada akhirnya saya menuliskan panjang lebar pembenaran mengapa sudah lama tidak menulis di sini (hehe!), untuk kesempatan ini saya baru mempunyai sedikit waktu lagi untuk berbagi ini itu. Gila berbagi waktu pun adalah hal-hal yang tidak mudah karena tiba-tiba saya jadi pelit berbagi waktu cuma-cuma dengan segala hal yang menurut saya tidak penting-penting amat. Sudahlah, akui saja semakin saya menginjak umur 20an ke atas, saya semakin selektif merelakan waktu istirahat saya. Hingga sebuah kegiatan makhluk sosial seperti bertemu teman, bermain, memperluas pergaulan saya pangkas dengan keji untuk sekedar leha-leha berguling-guling di tempat tidur setelah Senin-Sabtu bekerja rauwis-uwis. Begitulah.

Kemarin ini saya tiba-tiba terkena panas tinggi, demam, pusing yang tidak sembuh-sembuh sudah tiga hari, lalu akhirnya memutuskan tes darah, hasilnya kena demam berdarah. Gila, seumur hidup baru sekali ini rawat inap, diinfus dan makan makanan rumah sakit yang rasanya gak karuan itu. Lalu rasanya lemas, pusing setengah mati dan keluar bintik-bintik merah di permukaan kulit persis seperti yang ada di buku pelajaran PPKN SD dulu. Saya juga agak bingung kenapa harus kena demam berdarah, sejenis penyakit negara tropikal yang gak elit. Trombosit saya jatuh sampai 34,000 dari 200,000-400,000 trombosit orang normal. Bisa jadi ternyata saya ini juga adalah manusia yang sudah sampai pada batas-batas kekuatan tubuh. Bahwa saya ini manusia bukan mesin. Bukan melulu harus menghasilkan, cuan sana cuan sini.

Kemarin ini saya jadi berpikir, mungkin sudah waktunya istirahat dulu dan tidur yang benar-benar tidur. Lalu saya jadi berpikir sendirian di kamar rawat inap itu, betapa hidup itu berharga. Saya jadi ingat bahwa saya sering berbisik sendirian saat rasanya hidup sungguh menyebalkan dan menguji kesabaran setiap harinya, saya sering kali berpikir: Apakah mati saja akan lebih enak? 

Lalu kemarin di tempat tidur rumah sakit, dengan infus yang bikin tangan ngilu nyut-nyutan hingga telapak tangan saya sedikit membengkak, saya jadi berpikir betapa hidup ini sangatlah berharga. Betapa untuk survive sampai pada hari ini pun ada banyak sel-sel dan organ tubuh saya yang berkerja keras untuk tetap hidup. Betapa mati juga bukan state yang dapat menyelesaikan masalah dan segala persoalan hidup. Saya jadi merenungi bahwa bisa saja kemarin itu saya tiba-tiba lewat dengan trombosit yang hanya 34,000 itu namun ternyata Tuhan tetap menjagai jiwa dan tubuh saya. Bukankah terkadang kita menganggap enteng akan hidup dan nafas itu sendiri? Seperti semua itu cuma-cuma milik manusia. Padahal jiwa jelas bukan milik manusia.

Sempat saat saya sedang lemasnya di rumah sakit dan betapa inginnya saya ke toilet hingga akhirnya saya harus menggeret-geret tiang infus ke kamar kecil, lalu tiba-tiba darah di infus saya malah naik hingga saya panik sendiri dan terburu-buru memencet tombol darurat. Saat itu adalah hari-hari di mana saya berusaha sekuat tenaga hanya untuk bertahan hidup. Dan saya pun jadi merefleksikan bahwa mungkin benar kita dapat melihat ketulusan sebuah hubungan sahabat dan keluarga saat kita sedang terbaring sakit bukan pada saat badan masih sehat dan bersenang-senang. 

Barangkali demam berdarah ini memang adalah sebuah kesempatan untuk saya merefleksikan banyak hal dan melihat lebih dalam lagi akan banyak hal. Mengevaluasi hidup dan memutuskan beberapa hal yang krusial dan baik untuk hidup ke depannya. Kemudian di pagi hari saat saya beranjak ingin duduk mengambil minum, rambut saya terurai panjang. Hendak saya ikat, namun untuk mengikat rambut sendiri pun saya tidak bisa. Tangan kanan saya diinfus dan ketika bergerak sedikit rasanya ngilu sekali lalu darah mulai naik ke selang. Pada momen itu saya sungguh merasa, ketidakmampuan untuk melakukan hal remeh temeh. Mengikat rambut saja saya tidak bisa. Kemudian saya jadi teringat akan sebuah perikop Matius 10:30-31 yang berbunyi, Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, sebab kamu lebih berharga dari banyak burung pipit. Seketika saya menjadi tenang mengetahui ada yang Lebih Berkuasa di luar saya.

Dan tahun yang tidak mudah dan berganti untuk menyita kewarasan seseorang untuk sekedar berdiri tetap di garisnya masing-masing. Tanpa perlu mencong-mencong ke kanan kiri. Tanpa perlu membanding-bandingkan kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang lain. Kalau ternyata banyaknya kita selalu mencatat ketidakbahagiaan. Kalau sebenarnya tidak apa-apa berusaha melangkah meski berat, meski akhirnya kamu harus menyeret langkah kaki satu dan lainnya. Hei, setidaknya kamu berpindah dan tidak statis. Seperti komedi putar yang bergerak naik turun saja, berputar tapi di situ-situ saja. Awas, nanti kamu muntah! Kamu butuh perpindahan yang nyata. Meski hanya selangkah.



5.2.17

Konspirasi Tai Kucing #13: Terus Bergerak Hingga Menjadi Buih



Desa Panawangan, Ciamis Jawa Barat

Hal yang paling menarik dari sebuah persimpangan jalan adalah kebingungan untuk transisi itu sendiri. Kenyamanan yang lama berganti, kekhawatiran yang lama hilang, bertukar dengan kekhawatiran lainnya. Berarti memang benar selama hidup manusia ditakdirkan 'dikit-dikit' khawatir. Lalu ternyata untuk sampai pada titik normal pun, akhirnya diperlukan waktu yang lama untuk beradaptasi. Sempat terjadi dari pada pusing-pusing memikirkan hal yang di luar dari kemampuan diri, akhirnya saya rehat dengan melakukan kegiatan yang lain seperti: nonton drama korea. Itu bagaikan sebuah permen mint yang melegakan tenggorokan saat batuk, namun dengan kondisi harus terus menerus dimakan. Lama-lama ketagihan. Lama-lama candu. Menyenangkan sih. 

Dari sekian banyak pelarian dan eskapisme akhirnya saya menemukan titik di mana ternyata ada beberapa yang tidak bisa dihindari terus menerus. Seperti misalnya: melihat ulang tentang rencana hidup dan tujuan, yang kalau dipikir-pikir lebih baik berakhir dengan perkataan Ah, sudahlah ga usah dipikirin sih. Tapi ujung-ujungnya pun kepikiran juga. Hingga mau tidak mau harus dihadapi dan diterima saja. Betapa depresinya, bagaimana pusingnya, bagaimana hilang arahnya, bagaimana caranya mencari jalan keluar yang benar-benar adalah solusi; bukan hanya fatamorgana pelarian. Asli ya itu suliiiit sekali. Ternyata semua perencanaan harus dikalkulasi ulang agar semakin mengerti keinginan dan kian realistis. Melewati berbagai panjang curhatan berbusa ke sana sini, lalu kelelahan sendiri. Berganti stage jadi menyimpan komplain dalam diri dan dijalani saja. Mungkin hal itu jauh lebih mudah dibanding melakukan obrolan sono sini yang isinya komplain semua. Sampai pada titik jenuh menemukan: yang paling penting dilakukan adalah mengambil keputusan untuk menghadapi dan memulai apa yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Itu sih kuncinya. 

Kemudian saya jadi semacam kepo juga dengan membaca, mendengarkan orang lain, mendengarkan podcast dan sebagainya.  Saya bisa bernafas lega bahwa stage yang sedang saya lalui ini normal kok. Manusiawi sekali memiliki perasaan rungsing seperti ini dan semua orang juga pernah merasa yang serupa. Sambil menyetrika hari ini, lalu saya tiba-tiba mendengar bunyi pukulan yang keras sekali. Dhuarrr! Lalu terdengar orang berteriak: Baskom-baskom-anti-pecah-baskom-baskom! Men, bahkan baskom saja untuk laku dijual harus diuji terlebih dahulu. Ibarat baskom yang harus dipukul kencang-kencang untuk memastikan pembeli bahwa baskomnya anti pecah, dia harus diadu dan dipukul keras. 

Saya jadi tersadar dan senyum-senyum sendiri kalau sekitar kita memang menuntut manusia dan segalanya melakukan pembuktian untuk eksistensi. Proses melakukan pembuktian ini pula bukan perkara mudah karena kredibilitas seseorang jadi dipertaruhkan. Keinginan kita untuk melakukan uji coba yang sekali jadi langsung berhasil. Ini membuat saya gemas setengah mati pada diri sendiri karena pola pikir instan yang berkerak lama.  Sekali rebus, langsung jadi mie rebus. Sekali masak, langsung jadi mie goreng. Mungkin karena banyak kemudahan di abad modern ini jadi 'kecepatan' akhirnya ibarat komoditi yang laku dijual. Siapa juga yang hari gini mau menunggu dan menanti lama untuk mendapatkan hal yang dia mau?  

Setelah saya (akhirnya) lelah dengan diri sendiri,  saya kembali lagi mencari hal-hal yang menantang yakni kembali riset dan membaca buku. Salah satu hobi saya membaca buku namun kini menjadi lebih berat rasanya karena bermain social media lebih menyenangkan dari pada baca buku. Nonton drama korea lebih lagi, itu adalah kebahagiaan hakiki. Sayang serial drama korea sudah habis saya tonton, jadi saya sudah bosan tidak ada serial bagus lagi. Ya, akhirnya kembalilah saya membaca buku. Kemarin ini saya sedang tertarik dan iseng penasaran kenapa Soe Hok Gie meninggal, akhirnya saya baca Soe Hok-Gie ... sekali lagi. Lalu saya jadi berpikir memang ada beberapa orang yang dilahirkan untuk menjadi orang-orang yang sedemikian hebat dan concern untuk negaranya, kemanusiaan, sastra, alam seperti Soe Hok-Gie. Ya saya sebenarnya jadi agak malu karena dalam usianya saat itu Soe Hok-Gie sudah melakukan ini dan itu. Lha saya? Belum begini dan begitu. Tidak harus menjadi seperti Soe Hok Gie namun setidaknya menjadi seseorang yang bergerak dan berkarya di kolam masing-masing itu penting. Dan terkadang ya, terjun ke dalam dan bergerak adalah pembuktian diri. Pengakuan akan eksistensinya kalau dia benar ada. 






6.8.16

Konspirasi Tai Kucing #12: Makhluk Bingung



Bandung, Aug 2016
Memutuskan untuk menyudahi suatu hal karena ternyata melepaskan itu diperlukan demi kenyamanan diri sendiri. Mungkin awalnya akan sangat sulit tapi dengan bersiteguh ternyata bisa. Ternyata memang kebiasaan itu dibentuk. Ternyata segalanya itu dilakukan dengan pola. Dan ketika kamu stop lakukan, kamu akan membuat pola baru. Lalu hidup bergulir seperti biasanya. Seolah tidak ada apa-apa dan semuanya tergantikan lagi.

26.6.16

Konspirasi Tai Kucing #11: Unlearning


Hai, sahabat! Apa kabar ya? Apakah masih ada sukacita di antara kalian semua? Ya, semoga apa pun yang sedang dihadapi dapat segera menemukan pencerahan, apabila belum menemukan saya sarankan banyak-banyaklah mandi air dingin agar otak segar kembali. Jangan malas mandi. Ini saya serius.

Lama juga ya saya tidak menulis di sini. Ya begitulah terkadang pasang surut itu ada. Namun yang terpenting adalah jangan lupa kembali. Jangan lupa pulang. Ke mana pun itu. Beberapa lama ini saya sedang refreshing dengan diri saya sendiri karena merasa keseharian benar-benar membosankan hingga akhirnya yang menarik diri sejenak dan berpikir.

Pernah tidak merasa kalau di luar diri kita banyak sekali yang bertubrukan dengan system dalam diri kita? Lalu akhirnya membutuhkan sedikit waktu untuk mengosongkan diri dan mereview ulang semua. Mengkaji ulang lagi dan menyelaraskan dengan system dalam diri masing-masing. Saya mengakui kalau saya memang agak menyebalkan karena untuk beberapa hal saya sangat saklek dan perfeksionis. Hingga jika beberapa hal tidak selaras dengan system saya, harus diperbaiki dan ditelusuri dulu hingga akhirnya bisa masuk ke logika dan pemahaman saya. Iya, saya sedemikian ribet dan rewelnya. Saya akan butuh waktu untuk berpikir dan riset sana sini. 

Hal yang menggelisahkan akhir-akhir ini adalah saat saya merasa betapa membosankannya rutinitas. Ketika tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dan menarik untuk dipelajari dan membuat penasaran. Dan saya cukup sering merasa bosan, jenuh dan selalu butuh hal-hal segar. Semacam keserakahan dan tidak pernah cepat puas. Yak, dengan sedemikian sadarnya saya mengaku. Setiap orang mempunyai parameternya masing-masing akan kepuasannya akan suatu hal. Barangkali inilah penyakit orang macam saya, lupa bersyukur. 

Menariknya dari kebosanan ini saya semakin mengenal diri saya, kalau saya ini 'mengalir'. Perasaan saya mengalir. Hidup itu mengalir. Tidak tetap. Mengingat betapa frustasinya saya ketika menyadari ada banyak hal di luar diri ini yang sudah ada sejak lama namun tidak saya ketahui. Namun untuk memulai keluar dari dalam diri sedemikian sulitnya, biasanya mungkin takut atau merasa sudah nyaman. Padahal menjadi nyaman, tidaklah nyaman sama sekali. Lalu tiba-tiba perasaan kembali menuntut untuk liburan, padahal mungkin sebenarnya yang dibutuhkan adalah liburan dari perasaan ingin liburan. 

Mungkin ya, saya ini harus belajar hal yang baru dan kembali mengosongkan gelas saya sendiri untuk siap-siap dipenuhi lagi. Banyak hal yang tidak kita ketahui dan itu menggelisahkan sekali. Saya jadi tersadar bahwa saya akan terus menerus belajar dan menjadi murid karena sungguh sedikit yang diketahui dan sebenarnya seperti yang Socrates pernah bilang: Hal yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa. Menyadari hal itu sebagai titik awal agar tidak menjadi lembam.

Proses yang sedari kemarin cocok untuk saya adalah unlearning, yakni proses menghapus, mereview, mengkaji ulang dan mempertanyakan lagi. Ini sungguh-sungguh proses yang penting dalam belajar. Kenapa? Karena tidak semua hal bisa selaras dan diperlukan kita lagi. Jikalau sudah kadaluarsa baiknya dihapus dan diganti yang baru. Seiring dengan bertumbuhnya kita, akan banyak hal yang harus ditinggalkan atau mungkin didalami lagi. Sehingga yang namanya pribahasa menjilat ludah sendiri, mungkin sudah tidak relevan. Saya rasa akan banyak pemahaman saya yang berganti dan berkembang. Ingat, kita ini mengalir dalam proses belajar. 

Dalam belajar baiknya kita banyak bertanya dan bisa menerima pandangan orang lain karena tidak ada salahnya mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan lain. Jangan takut untuk berdiskusi dan menjadi sedikit bego karena tersesat di pertanyaan. Itu akan menjadi salah apabila kita tidak cukup banyak mempertanyakan? Coba sesekali tanyakan pada diri sendiri: Am I enough questioning something? Dan pentingnya belajar bertanya dengan pertanyaan yang tepat. Itu sih. Sebab pemahaman yang sejati harus timbul dalam diri sendiri, ia tidak bisa ditanamkan oleh orang lain dan hanya wawasan yang timbul dalam diri sendirilah yang menghasilkan wawasan yang tepat. Itu kata Socrates. 

Lalu dengan sangat random kemarin saya membeli buku soal matematika SMP kelas VII karena saya bosan dan saya menyadari keterbelakangan saya akan matematika. Saya tidak suka matematika sebegitunya, namun kemarin pasti saya agak sengklek otaknya hingga dengan impulsive saya membeli buku bank soal itu. Dan kemarin teringat ada foto instagram kakak kelas saya yang keren, Syafitudina. Beliau foto sebuah quote mahakeren, begini bunyinya:

Unlearning is not forgetting. It is neither deletion, cancellation nor burning off. It is writing bolder and writing anew. It is commenting ans questioning. It is giving new footnotes to old and other narratives. It is wiping off the dust, clearing the grass and cracking off the plaster that lays above the erased. Unlearning is flipping the coin and awakening the ghost. Unlearning is looking in the mirror and seeing the world. 


Atau saya sudah sedemikian perlunya dengan bulat hati dan berani ikut program master. Ya ampun tapi universitas ini isinya orang pinter semua, heran saya orang-orang pinter ini kira-kira mereka belajarnya gimana sih? *garuk-garuk kepala*


4.6.16

Konspirasi Tai Kucing #10: Idealisme kita adalah sisa dari yang tersisa


Hai. Apa kabar? Semoga damai sejahtera selalu ada di hati dan kebaikan selalu ada padamu. Tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dari tahun 2016 ini. Gimana resolusi atau cita-cita sudah terwujud? Jikalau sudah selamat ya dan jikalau belum mari kita tos bareng dulu. Saya juga. Heu.
 
Pasti ada stage dalam hidup kita yang sebegini dan sebegitu perlunya untuk memperjuangkan sesuatu yang menurut kita berharga. Tantangannya banyak namun yang paling berat adalah diri sendiri. Meyakinkan bahwa kamu mampu, kamu sekuat itu dan kamu deserve to get what you want. Itu semacam PR saya yang seringnya failed berkali-kali. Sepertinya ya, saya ini rada-rada penakut dan omong doang deh, tapi apa sih yang kita harapkan kalau seandainya kita takut melulu dalam segala hal dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri? Lalu ada lagi, saya banyak komplain inilah itulah hingga akhirnya saya merasa sudahlah mungkin memang seharusnya saya mencukupkan diri dengan ini saja. Jangan diikuti ya tidak baik untuk kesehatan! 

Setiap dari kita pasti menginginkan suatu hal dan sebenarnya kita tahu seharusnya berjalan ke arah sana dan memperjuangkannya sekuat tenaga. Namun, memang perjalanan pasti berliku dan berputar ke sana ke mari rempong muter-muter belum lagi kalau gagal. Kegagalan dan penolakkan itu biasa. Kita harus membiasakan diri dengan hal itu karena akan banyak  penolakkan dan kegagalan akan terjadi selama kita masih hidup. Kemarin ini saya baru ditolak oleh suatu hal yang saya inginkan. Padahal saya sudah yakin 100% saya pasti bisa dan inilah suatu kesempatan untuk memulai hal yang baru dan pasti lebih mudah. Namun ternyata rencana saya dan rencana Tuhan tidak sejalan. Untuk keinginan ini bisa jadi menurut Tuhan akan membuat saya manja karena bermain-main di comfort zone. Saya kecewa sih sesungguhnya. 

Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita mau. Itu satu. Yang kedua ingatlah, jikalau kamu ditolak bukan berarti kamu tidak mampu dan tidak berkualitas namun tempat kamu bukan di sana. Dan penolakkan ini biasanya akan mengantar kamu ke jalan yang seharusnya ditempuh. Coba digali lagi sebenarnya keinginan kamu apa? Keinginan yang murni dari dalam bukan karena pertimbangan keinginan tersebut sesuai dengan comfort zone kamu. Sayang, comfort zone adalah tempat yang buruk untuk bertumbuh dan berkembang. Percaya deh!

Saya merenungi kegagalan dan penolakkan ini bagaikan godam besar tapi inilah...inilah sebuah alarm untuk saya kalau jalan saya bukan ke sana. Selesai. Lalu saya tersadar kalau ada satu hal yang terselip dan sudah lama tidak saya otak-atik karena merasa saya tidak akan mampu melakukannya karena ini sungguh-sungguh diluar batas nalar dan kemampuan saya. Pernah dengar kan sebuah quotes : If it's still in your mind, it is worth taking the risk . Jika kamu ingin sesuatu sebegitunya hingga setiap hari terus kepikiran setiap saat, seharusnya kamu berjuang untuk mendapatkannya.

Jangan takut berjuang. Jangan takut untuk kerja keras sekuat tenaga. Jangan takut menjadi ambisius. Lakukanlah bagianmu dan serahkan sisanya pada Tuhan. Dan jikalau masih gagal, lakukan terus menerus hingga Tuhan akhirnya berubah pikiran. Kadang kamu harus bergulat dengan Tuhan untuk mendapatkan apa yang kamu mau, yang kamu punya adalah upaya dan doa. Satu lagi, kita tidak bisa terus menerus lembek pada diri sendiri dan mengikuti semua keinginan hati cengeng kita. Menjadi kuat adalah pilihan terakhir yang harus diambil untuk pertanggung jawaban kita pada diri sendiri karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa menolong kita. Terdengar arogan? Ya memang, tapi di sisi lain kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Mengasihani diri sendiri sebagai korban dari hidup adalah kegagalan awal kita. Ini saya serius. Dan hal yang paling menakutkan menurut saya adalah merasa bersalah pada diri sendiri. Menyesali mengapa tidak mengupayakan sesuatu hingga akhir rasanya tidak enak.

Di sebuah teguk kopi di hari Sabtu ini, saya sedang menjaga api dalam diri saya. Jangan sampai padam. Jadilah radikal, jadilah liar, jadilah nyala itu. Suatu hari nanti kamu akan tua lalu mati. Dan adalah kesalahan terbesar jikalau kamu mengetahui suatu hari kamu akan mati tapi tidak bisa benar-benar hidup. Aroma kerja keras, tangis dan keringat sudah kita hafal, kenapa harus ditiadakan? Idealisme kita ini adalah sisa dari yang tersisa. Kadang terasa perih dan sewaktu-waktu menyakitkan. Tapi kadang alasan manusia mencintai karena ada rasa sakit itu sendiri kan? Pesan saya hanya satu: Kejar dan jangan menyerah kalah, masih ada sisa darah di nadi yang belum mengering.    



Clean Bandit- Stronger

And I think I don't really get it
I think it's all just a peculiar game
And soon I'll wake up and I'll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger!

1.6.16

Konspirasi Tai Kucing #9: Marriage 101


Hari Senin kemarin saat perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan lagunya Chrisye berjudul Cintaku dan dengan impulsive saya berjanji, lagu ini adalah lagu wajib yang harus diputar saat  saya menikah. Tsah. Lalu saya jadi menoyor kepala saya sendiri menduga otak ini agak bergeser atau sedikit kejedot kemarin. Atau mungkin ini karena hari Senin pagi yang sedemikian boring dan tidak menggairahkannya dan lalu munculah lagu kasmaran seperti ini. Atau barangkali saya sedang ovulasi. Pasti gitu deh.

Jadi begini, saya ingin menikah suatu hari nanti namun tidak seburu-buru itu sih. Saya menghormati pernikahan karena menikah itu artinya berjanji pada Tuhan, pasangan, keluarga dan jemaat yang menyaksikan saat kata janji itu terucap. Menurut saya mengucap janji di altar itu sebegitu sakral dan romantisnya. Melihatnya, berbahagia sekali kedua mempelai dan lalu mereka terharu. Pernikahan yang amat sempurna, bahagia dengan teman-teman dan keluarga. Berhubung akhir-akhir ini saya menghadiri banyak pernikahan teman-teman saya, saya jadi memperhatikan bahwa arti ucapan itu bukan sekedar kata-kata belaka namun maknanya lebih dari itu. Lalu saya berpikir lagi, janji itu diucapkan saat sedang happy, keduanya gagah dan cantik, sehat dan subur, dalam keadaan bahagia, siapa yang akan  mengira apabila kenyataannya pernikahan akan tidak semudah itu dan janji itu mungkin saja bisa longsor oleh waktu? Saat segala rintangan, masalah datang, dan pasangan kita menjadi sesulit itu untuk dicintai, apa kita akan tetap mengingat janji itu beserta maknanya? Jawabannya: Mau gak mau harus iya! 

Kadang saya berpikir apakah pernikahan semacam sebuah goal dalam hidup manusia? Karena rasanya banyak orang yang mengukur kebahagiaan dari apakah sudah berpasangan, menikah dan punya anak atau belum. Rasanya itu adalah sebuah ketentuan yang ada di masyarakat. Saya kemarin sempat mengingat semua situasi kondangan dan lalu rentetan pertanyaan pada saya: Mana nih calonnya?  Kapan nyusul? Ayo jangan lama-lama lho! Ini calonnya mana nih kok gak diajak? Yang lalu saya jawab seenak udel sambil ketawa-ketawa cekikikan.

Apa mungkin karena saya sedang tidak ngedate dengan siapa-siapa, lalu saya jadi berpikir sejujurnya menikah bukan suatu keharusan. Seseorang seharusnya boleh memilih mau menikah atau tidak. Dan jikalah seseorang memilih tidak menikah dengan pasangannya saya pun merasa itu sah-sah saja. Menikah adalah panggilan hidup menurut saya dan buat saya menikah haruslah seserius itu, jika tidak yakin ya jangan. Bukan karena diburu-buru tante-tante cerewet, orang tua, teman atau usia. Ayolah, masa kamu menikah hanya karena alasan sudah diburu-buru bukan karena itu adalah kehendak bebasmu secara sadar dan waras. Dan apabila menikah hanya untuk melegalkan sex, saya kok tidak setuju ya. Sepertinya menikah lebih dari sekedar prokreasi dan kenikmatan saja. 

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol singkat dengan seorang perempuan berusia 30 tahun, dia sudah seperti kakak sendiri. Lalu bertukar cerita tentang banyak hal hingga akhirnya sampailah pada sebuah topik, pasangan. Dia berkata bahwa  hanya ada perbedaan tipis antara loving dan using. Terkadang itu nyaru menjadi satu tanpa kita sadari. Ternyata dalam cinta, bisa saja kita digunakan oleh orang lain. Seolah pernikahan hanyalah sebuah cara untuk lepas dari semua masalah dan belenggu seseorang misalnya belenggu ekonomi. Apabila salah satu pihak merasa 'digunakan' dan tidak lagi saling bahu membahu atas nama cinta, mungkin itu sudah menjadi egois dan timpang, baiknya putus saja. Atau misalnya si pria sedemikian mengatur urusan kehidupan perempuannya tanpa memberikan sedikit ruang, tipe-tipe pria yang harus diakui bahwa dia paling benar. Atau mungkin perempuan yang sedemikian bossy ngatur ini itu pasangannya, sedemikian cerewetnya dan kalau saya bayangkan malah saya jadi merinding sendiri. 

Sebenarnya saya merasa ada sedikit rasa khawatir jikalau pernikahan bisa sedemikian mengikatnya. Lalu sedemikian singupnya namun karena sudah terlanjur menikah jadi tidak ada pilihan lain selain  menjalani komitmen. Atau mungkin saya sedemikian egoisnya untuk menyerahkan kebebasan saya pada seseorang? Seharusnya pernikahan itu bukan suatu sangkar kan? Seharusnya dua orang bisa bertumbuh berdua dan berjuang bersama, meski dunia luar kadang tidak berpihak pada kita. Hingga saya terkadang bingung sendiri bagaimana caranya kedua orang tua saya sedemikian hebatnya bisa tetap bersama dan akur meski kadang suka ngomel-ngomel padahal mereka berasal dari keluarga yang berbeda, Ibu saya Sunda dan Ayah saya Jawa. Tapi mereka bisa tetap bersama meski dengan bahasa campur aduk. 

Mungkin benar, carilah orang yang tepat. Even somehow the right person, won't make it easier. Apalagi kalau tidak tepat udah ambyar semua. Lalu orang yang tepat seperti apa? Hmmm... saya juga tidak tahu sih. Tapi mungkin saya membayangkannya begini, seseorang yang bisa diajak argumentasi, debat heboh mempertahankan pendapatnya namun tetap bisa compromise. Seseorang yang kekurangannya bisa kamu tolerir dan bisa kamu lengkapi dengan kelebihan kamu. Seseorang yang menurutmu sexy sehingga sex life pun menyenangkan. Seseorang yang bisa mengingatkan dan menegur apabila kamu salah. Seseorang yang humoris karena menertawakan hidup adalah salah satu cara mudah menjadi bahagia. Seseorang yang membuat nyaman dan ketika bersamanya bisa menjadi diri sendiri. Dan adalah seseorang yang saat kamu pandangi dari jauh lalu dalam hati kamu berkata: Anjrit, this amazing guy kok mau ya sama gue? 


28.5.16

Konspirasi Tai Kucing #8: Pilek di akhir pekan dan selipan pikiran


Saya pikir saya akan menyimpan sedikit rasa kecewa karena belum bisa kunjung menetap di Bandung, kota kelahiran saya yang romantis itu. Mimpi untuk bisa tinggal di sana, bekerja, punya rumah, menikah, kawin, beranak dan duduk-duduk di terasnya yang adem saat sudah lansia rasanya harus dikunci dalam-dalam karena ketidakberjodohan saya dengan kota Bandung. Mungkin Aga, adik saya lebih berjodoh dengan Bandung. Saya pikir saya akan kecewa, ternyata tidak. Mungkin pada akhirnya BSD sudah menjadi saksi mata sedari kecil saya bertumbuh dan sudahlah, biarkan kota Bandung menjadi tempat yang romantis dan sendu-sendu hujan enak berpelukan di sepanjang ingatan saya dan sebagai kota di mana ari-ari saya ditanam. Saya harus mencari pengembaraan makna sendiri di sini. Sayang, kita tidak akan pernah tahu untuk apa kita di sini kan? Namun ternyata dengan menjalani hari ke hari pun rasanya saya sudah senang sendiri dan lalu menjumpai akhir pekan lagi meski pada akhirnya saya menjadi manusia penunggu hari Sabtu-Minggu. Kita semua ini sedang menunggu, meski menunggu hal yang berbeda-beda. Lalu kita semua harus bersabar dan bersabar. 

Semenjak kemarin saya rasanya nge-fly terus-terusan karena minum obat pilek dan radang tenggorokan namun malah membuat saya jadi manusia beler seharian. Hidung mampet, meriang dan panas tubuh yang semelenget. Akhirnya sepulang kantor saya ketiduran hingga pagi menjadi suatu harga yang tidak bisa saya tawar-tawar karena tubuh saya sedemikian remuk redamnya, barangkali. Ada masanya memang sebuah siklus pilek berulang agar mengingatkan saya jangan kebanyakan minum es atau kecapekkan sana sini. Etos kerja yang harus dimiliki setiap harinya agar setidaknya dianggap orang genah sedikit saja lalu menyembunyikan serangkaian alter ego. Saya rasa tidak apa-apa demikian karena realitasnya terkadang kita harus sedikit berpikir menjadi mereka si penanam modal dan lalu berjuang sendiri untuk hidup yang menghidupi. Maafkanlah saya, yang kian realistis setiap harinya dan mungkin bisa menyakiti hati kalian karena saya jadi menyadari untuk membangun rumah di dunia harus menggunakan batu, fondasi yang kuat. Dan untuk menuju ke sana saya harus jadi serombongan kelas pekerja nguli terlebih dahulu. Bekerja adalah ibadah, kamu ingat kan? Sampai di sini saya jadi semakin mengenal diri saya, kalau ternyata endurance saya terhadap rasa sakit, ketidaknyamanan dan kecewa bisa setinggi itu. Lalu saya jadi merasa itu adalah kekuatan saya. Kelemahan-kelemahan picisan yang kelewat sensitif hingga banyak perasaan atau saya yang memperhatikan kelewat detail hingga sampai detik ini menyadari itu tidak bisa di-uninstall atau merestorasinya kembali. Manusia terdiri dari serangkaian pengalaman, kemampuan dari otak reptilnya untuk terus bisa survive dan lalu menariknya ya, output pada setiap manusia bisa berbeda-beda. Mungkin ini yang membuat Tuhan asyik melihat dari atas. 

Tidak tahu, saya rasanya tidak bisa berpikir melampaui apabila bicara  Tuhan karena pada akhirnya saya hanya mampu menulis Tuhan, itu pun sifatnya fluktuatif, tidak mantap. Mungkin Tuhan itu seistimewa itu ya hingga saya tidak habis-habis menuliskannya dan menyangsikannya. Saya kadang merasa konyol sendiri karena saya sedemikian penasarannya dengan Sang Pencipta dan ini mungkin karena manusia juga adalah maha pencipta sehingga ada kebutuhan dalam diri saya untuk menyelami Dia yang terlalu dalam lalu akhirnya saya berakhir dengan mentok dan berpikir sendiri siapalah saya. Akhir-akhir ini saya sedang sok-sok serius mencari-cari jawaban yang tidak saya membuat saya menyimpulkan ini dan itu, begini ada beberapa orang yang meniadakan Tuhan dan ada yang percaya Tuhan itu ada. Dengan berbagai teori di antara keduanya dan berbagai pertanyaan dan fakta yang dijabarkan, namun tetap Tuhan tidak terdefinisi. Tidak ada yang bisa menjelaskan kalau Tuhan itu tidak ada dan tidak ada juga yang bisa menjelaskan dengan fakta keberadaan Tuhan. Seberapa istimewanya Dia hingga keberadaan-Nya pun tidak diketahui namun tidak membuat Dia menjadi ada dan tidak membuat Dia menjadi tidak ada. Ini konspirasi macam apa pula?

Saya akhirnya tidak tahu lagi mau cari ke mana dan menyudahi sejenak kalau keberadaan Dia tidak karena ada yang percaya dan tidak. Keberadannya tidak melalui batas-batasan jikalau seseorang tidak percaya, lalu Tuhan menjadi tidak ada dan sebaliknya jikalau seseorang percaya maka Dia jadi nyata. Dia sesungguhnya mungkin sedemikian rumitnya. Lalu kenapa saya percaya Tuhan ya? Mungkin karena saya merasa pada dasarnya manusia mendambakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri tempat dia bergantung, mungkin sebagian orang menyebutnya Semesta. Tapi kalau saya, mengimaninya Tuhan. Saya jadi gemas sendiri. Kebenaran-kebenaran yang kita anut juga tidak valid 100% benar karena kebenaran itu ideal dan sesuatu yang ideal belum tentu nyata. Kebenaran kita ini  sesungguhnya hanya didefinisikan dari ciri-ciri abstrak bukan quintessentially truth. Hingga tidak bisa dikatakan valid.

Seperti misalnya kita mengajarkan seorang anak menggambar lingkaran, kita akan memberikan banyak cara misal pakai jangka, meniru benda bulat, menggambar lewat kertas yang sudah ada titik-titiknya dan lalu memberikan ciri-ciri lingkaran seperti apa, hitungannya bagaimana dan sebagainya. Lalu anak ini buatlah lingkaran, sama-sama lingkaran bulat, sesuai dengan ciri-ciri lingkaran dan hitungan juga sama namun perbedaannya adalah itu belum  quintessentially truth karena hanya sesuai ciri-ciri abstrak lingkaran. Demikian juga dengan kebenaran dan keyakinan.

Sebenar-benarnya hingga saya sampai pada pemikiran, ada baiknya kita tidak terlalu sehitam-putih itu karena kita jadi abai dengan segala hal. Dan lalu meneriak-neriakkan kebenaran yang diyakininya sebagai ungkapan meyakinkan diri sendiri versi berisik. Mungkin kupingnya sudah terlampau budeg sehingga harus meneriakkan ke sana ke mari agar kuping dia juga ikut mendengar. Dan memang baiknya kebenaran dan keyakinan dimulai dari penghayatan spiritual masing-masing individu bukan koar-koar yang tak perlu.

Kira-kira sampai di sini dulu meski banyak kealpaan logika di sana sini. Dan kayaknya pilek ini sungguh butuh istirahat di sebuah akhir pekan. Selamat berakhir pekan, jaga kesehatan ya!


25.5.16

Konspirasi Tai Kucing #7: Karena saya perempuan dan tubuh sering diperbincangkan


Pagi ini saya tergesa-gesa berangkat ke kantor hingga tidak menyadari ternyata kuku jempol kaki saya berdarah-darah. Sepertinya saya tidak sengaja menendang kursi meja makan, saya terkaget-kaget dan ngeri sendiri melihat darahnya. Awalnya tidak sakit, namun setelah melihat darah mengalir segar saya baru berasa pedih. Sambil mengobati jempol kaki saya dan membersihkan darahnya, saya jadi berpikir apa jangan-jangan sebenarnya ada banyak pedih yang sebenarnya kita rasa namun tidak kita rasa-rasa karena itu tersembunyi, kasat mata? Lalu setelah menyadari ada luka di sana, sensor rasa panik dan sakit baru menyeruak keluar hingga berjengit sesaat dan buru-buru mengobati. Pentingnya kesadaran dan membuka indera lebar-lebar pada setiap peristiwa, agar bisa diperbaiki dan diobati.

Mengingat kemarin malam saya marah-marah dan panas sendiri karena membaca tweet seorang Bapak yang sedang kultwit penyebab pemerkosaan adalah berpakaian sexy serta berbagai rentetan argumen sexist yang dia punya. Ih sebal sekali rasanya hingga yang tadinya Twitter saya gembok untuk privasi, pada akhirnya saya buka lagi karena saya mau komen ke Bapak-bapak itu, tapi rasanya sih tidak dibaca. Ya sudahlah, belum saatnya saya dan Bapak itu berkenalan. Eh tapi saya akhirnya unfollow Bapak itu demi tidur-tidur nyenyak saya di hari depan. 

Kemarin saya jadi berpikir sebegitu istimewakah tubuh perempuan hingga akhirnya kepemilikan tubuh pun akhirnya harus diambil alih? Hak atas memiliki tubuh yang didogma serentetan hukum dan norma. Seolah tubuh perempuan ini salah dan menyebabkan hilangnya akal sehat laki-laki. Saya sebenarnya gemas sekali dengan pemikiran 'perempuan harus menjaga' apapun yang ada di dirinya. Aduh, bahkan bagaimana isi otak laki-laki pun harus kita jaga? Oke saya paham jikalau laki-laki itu visual dan memiliki alat kelamin yang mudah terangsang, lalu apakah kiranya itu juga harus dijaga oleh perempuan? Saya sendiri percaya bahwa laki-laki memiliki pertahanan sendiri untuk bisa tetap mengutamakan akal budinya dari pada penisnya. Tidakkah ingat bahwa manusia diciptakan dengan akal budi dan perasaan. Lalu ini menjadi timpang ketika laki-laki merasa memiliki kuasa atas perempuan, bahwa itu sah-sah saja. Dan yang paling mengagetkan adalah ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran seperti Bapak di Twitter itu. Duh semakinlah saya tepok jidat berkali-kali.

Mengapa saya sebegitu responsif dengan issue perempuan ini? Karena saya perempuan dan itu adalah tubuh saya. Itu adalah bibir saya, itu adalah rambut saya, itu adalah leher saya, itu adalah tangan saya, itu adalah payudara saya, itu adalah perut saya, itu adalah pinggang saya, itu adalah pinggul saya, itu adalah paha saya, itu adalah kaki saya dan itu adalah vagina saya. Mengapa saya tidak punya hak atas itu semua yang ada di diri saya? Saya tidak paham. Saat saya remaja, saya diberi tahu bahwa tubuh saya ini harus dijaga karena bisa saja 'mengundang', saat itu saya tidak tahu artinya. Sampai akhirnya saya berjalan sendirian dan sekelompok anak laki-laki tidak dikenal berseloroh nakal tentang tubuh saya. Hingga ada satu masa saya sebal setengah mati menjadi perempuan, terlebih karena payudara saya yang bertumbuh, dengan pantat saya yang semakin berbentuk, dengan rambut saya yang ikal dan tubuh saya yang semakin feminin. Saya dulu merasa ini salah tubuh saya yang menggoda mereka, pasti demikian. Sejak itu saya menjadi paham akan keberadaan tubuh perempuan di society. Sedari kecil anak perempuan diajarkan untuk menjaga, duduk rapat-rapat, baju tidak menggoda, perilaku santun dan satu lagi jangan jadi manusia seksual. Perempuan tidak diajarkan untuk menjadi penasaran atas tubuhnya hingga sedari kecil ketika tiba-tiba tanpa sadar bermain dengan alat kelamin sendiri, diberi tahu eits.... jangan! Ya kita tahu kenapa banyak perempuan tidak tahu tubuhnya sendiri dan akhirnya sulit orgasme ya kan? Setiap inchi tubuh kita ini seksual dan bisa juga tidak, itu tergantung dari perspektif kita. 

Lalu kemarin mendengarkan kembali lagunya Anggun yang In Your Mind begini lyricnya: I don't want to believe and I don't want to live by the excuses of your weakness. 'Cause a women should do what she wants to do, there is no reason for your shallow aggravation. Seharusnya perempuan bisa melakukan apapun sesuai keingiannya tentu dengan tanggung jawab dan sudahlah berilah ruang untuk perempuan memilih dan memiliki. 

Susah-susah gampang menjadi perempuan, terkadang saya pun harus banyak belajar menjadi perempuan yang sebegitu banyak label dan tuntutan ini itu. Bahkan tuntutan tersebut lebih kejam dilayangkan dari perempuan ke perempuan lainnya. Gila itu kejam sekali, seolah menjadi tuhan atas perempuan lainnya. Terlebih jikalau kamu gadis. Lalu berusaha untuk mengerti nilai-nilai masyarakat ini yang sepertinya tidak adil sedari lahir. Gadis-gadis yang berusaha hidup di dunia yang lebih condong ke laki-laki ini dan semuanya berpihak pada mereka. Gadis-gadis yang sebenarnya merasa pedih sendiri dengan siulan nakal, dengan pandangan yang menelanjangi, dengan celotehan melecehkan, dengan tangan yang usil. Ketika kegadisan seharusnya dirayakan dengan penuh sebagai lambang kesuburan hidup namun akhirnya mereka salah kaprah dengan tubuhnya sendiri. Mencari makna lain dari tubuhnya agar diterima oleh laki-laki, agar dicintai, dikasihi bukannya dilecehkan. Meski dengan cara yang berbeda-beda. Hingga seorang gadis sedemikian butuhnya diakui keberadaannya oleh laki-laki dan akan menjadi keprihatinan apabila mental itu terbawa sampai dia menjadi dewasa. 

Satu titik awal mengapa saya berubah pikiran tentang keberadaan saya sebagai perempuan adalah saat Oma saya meninggal di masa awal remaja saya. Melihat saat beliau tersengal memanggil 'Mama' dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, lalu saya menangis keras sekali hingga sesegukkan. Betapa tubuh sebegitu rentannya, sebegitu fananya ketika ruh tidak ada. Itu hanya kendaraan yang digunakan roh untuk berkarya di dunia ini. Pada prosesi memandikan saya pun mengintip, tubuh telanjang kaku perempuan. Air terus mengalir-mengalir membersihan tubuh. Mungkin kita manusia sebegitu terobsesinya dengan tubuh tanpa menyadari bahwa ada jiwa di dalamnya. Jiwa itu sama-sama yang memiliki ketakutan, cita-cita, trauma, sakit hati, kekhawatiran, kesenangan, kesedihan, cinta yang juga sama dengan kita. Lalu masihkah kita manusia tidak bisa saling menghargai karena pada dasarnya kita ini hanya manusia dengan berburuan makna hidup masing-masing yang tidak kita tahu artinya?

***

Dan ya, inilah saya
Saya gadis, saya perempuan 
Dan ini adalah keapaan, keberadaan dan tubuh saya
Dan saya pun menghormati dan menghargai kamu, Laki-laki
Dengan keapaan, keberadaan dan tubuhmu. 


18.5.16

Konspirasi Tai Kucing #6: Hidup Seperti Minggu Sore


Saya sedang sedikit canggung untuk menulis karena rasanya hari ini bukan hari yang tepat untuk menulis karena mood saya sedang tidak untuk itu. Namun saya ingat kalau saya janji mau sok-sok serius menulis rutin yang tadinya mau hari Selasa, Jumat dan Minggu saya sunat seenak hati menjadi Rabu dan Jumat karena saya merasa berat. Gila. Lalu sekarang saya menemukan diri saya tidak dalam kondisi sebegitu bergairahnya untuk menulis karena banyak rasa-rasa yang seharusnya tidak dirasa-rasa, semelankolis itu. Kan saya jadi malu kalau saya menulis layaknya orang curhat. Tapi sudahlah, saya sudah rela ditelanjangi dan berbagi perasaan, mengingat pasti yang membaca blog saya adalah kalian yang 'dekat' di hati baik sahabat atau orang tidak saya kenal namun memiliki kembaran rasa. Hai!

Saya sangat ingin memulai tulisan ini dengan keceriaan yang sama seperti tulisan sebelumnya namun nyatanya saya sedang tidak seceria biasanya hari ini. Manusiawi sekali saya rasa ketika seseorang bersedih akan sesuatu dan bersuka ria akan sesuatu. Mungkin porsinya saja harus seimbang dan bersedia untuk bisa kembali ke titik nol. Zero, seperti di zen. 

Pagi ini saya mendapat kabar bahwa Om saya, kakaknya ayah saya, sebut saja Pak Harto, ternyata menderita sakit kanker paru-paru stadium empat, setelah selama ini didiagnosa sakit jantung. Lalu saya jadi kepikiran seharian. Kami tidak sedekat itu memang, namun mengingat dia adalah sosok yang lucu, jenaka, ceria dan rupawan lalu harus terbaring sakit cukup berat, rasanya kok tidak cocok ya? Meski saya tahu sakit kanker paru-paru itu bukan masalah cocok atau tidak cocok. Mungkin karena beliau adalah perokok yang cukup aktif, namun setelah saya pikir-pikir lagi rasanya banyak perokok aktif yang tidak sakit juga, ya rokok salah satu faktor pemicu juga tapi bukan inti. Duh pokoknya saya tidak tahu. Saya hanya berdoa semoga semua baik-baik saja sesuai dengan rencana Allah. Sudah. 

Kalian tahu kan, apabila memulai hari dengan suatu perasaan negatif maka rasanya semua energi negatif jadi ikutan merasa diundang, nah itu yang terjadi hari ini. Rasanya saya seperti membawa satu kaca pembesar dan men-zoom-in semua pandangan saya, sehingga melihat semua serba detail. Ada baiknya hingga akhirnya saya aware dengan keadaan sekitar, namun akhirnya saya jadi kewalahan karena capek semua terlihat buruk. Kembali lagi ini masalah jarak pandang dan cara memandang sih, ya ya saya tahu. Saya serta merta menyadari beberapa hal yang sengaja tidak saya kulik lebih dalam karena takut. Padahal bukankah ketakutan itu seharusnya semakin didekati hingga semua jelas sebenarnya apa yang membuat takut? Saya sedikit tersentak kaget dengan keadaan kalau saya sudah tidak lagi bertumbuh karena merasa inilah comfort zone saya. Padahal setelah saya telaah, comfort zone ini bukanlah kenyamanan yang sedemikian nyamannya bagai rahim Ibu namun segala hal yang sudah saya kenal dan familiar saja. Ketakutan-ketakutan saya akan perubahan karena harus beradaptasi lagi dan pasti harus belajar dari awal lagi. Kenyamanan yang kita kira nyaman namun sebenarnya ini hanyalah persoalan terbiasa dan kebiasaan. Saya tidak tahu sih dengan pemikiran ini apakah saya menjadi tidak bersyukur?

Hal kedua adalah saya sedang dalam stage berusaha melihat segalanya realistis namun pandangan saya malah bias, kabur dan tidak lagi menemukan garis pemisah tipis antara realita dan mimpi. Seperti berlari-lari menuju mimpi namun realitanya harus sedemikian adanya, hingga agar tetap waras saya harus menjaga diri agar tetap realistis. Duh saya tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya dengan mudah. Mungkin begini momennya ketika saya berkata pada diri saya: “Anjing, mamam deh tuh mimpi!” 

Kata orang, kenikmatan terakhir yang dimiliki oleh anak muda adalah idealisme, lalu serta merta saya merasa pahit sendiri karena idealisme itu hanya akan menjadi 'ideal' saja tanpa bisa kita raih, mungkin hanya mendekati. Kemarin tiba-tiba saya tersadar dari seorang teman yang sedang bekerja di Taiwan bahwa dia pun memiliki pergulatan sendiri yang kurang lebih tidak jauh beda. Mungkinkah usia-usia saya ini adalah usia berdarah-darah menyelaraskan idealisme dan realitas? Karena itu sungguh bertolak belakang dan saya tidak tahu bagaimana mendamaikan keduanya dalam diri saya. Pergolakan yang pasti dimiliki karena ada masanya menjadi sedemikian riuhnya pertanyaan kita dan harus disederhanakan dengan berpikir setuntas-tuntasnya. Lalu datanglah sebuah pencerahan di suatu garis waktu tertentu, entah datangnya terlambat, lebih awal atau malah tidak sama sekali dan memulai suatu perubahan adalah kesulitan yang nyata. Di setiap mimpi pasti ada rasa-rasa tolol karena merasakan aliran penggerak yang tak disangka-sangka hingga akhirnya yang terbaik adalah mengikuti arusnya dan menjalani jalan-jalan yang sudah ditetapkan.

Hari ini saya menemukan sebuah ayat kecil Yakobus 4:14b-15, begini bunyinya: Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Sedikit bengong karena menemukan ayat ajaib ini, kok bisa sekebetulan itu. Mungkin ini bukan kebetulan tapi wahyu. Tsah. Uap itu sesuatu yang bisa dilihat namun cepat menghilang juga. Lalu hidup disamakan dengan uap yang bisa hilang cepat hingga semua kembali lagi pada Tuhan. Aduh kepala saya pening sekali. Dalam hidup ini banyak sekali yang tidak bertahan lama, kita tahu itu. Lalu bisa saja seseorang merasa bahagia dengan hanya mendapatkan sedikit dari hidup karena sudah merasa terbiasa dan takut keluar dari zona nyaman. Entah itu bersyukur dengan keadaan atau semata-mata bodoh saja. Bukankah Tuhan juga menginginkan kita bahagia dan menjadi penuh dalam hidup? Entahlah. Saya tidak bisa membedakannya.

Lalu kata penulis favorite saya Paulo Coelho, melepaskan mimpi adalah kedamaian. Hidup seperti Minggu sore, ketika kita tidak menginginkan sesuatu yang luar biasa. Saat itu kita merasa inilah menjadi dewasa meninggalkan impian masa muda dan mengejar pencapaian pribadi dan profesional. Kita sudah merasa cukup meski di nurani kita telah menyerah pada impian kita. Lalu impian malah mati dan merusak jiwa dan hanya kematian yang dapat membebaskan kita dari segalanya, mendamaikan segalanya. Hingga sebenarnya yang membunuh mimpi kita adalah diri kita sendiri yang takut berjuang sekuat tenaga. Seperti Minggu sore, suasana tenang nyaman namun besok pada akhirnya harus terus berjuang. Keindahan yang terselubung dan jangan kira perjuangan bukanlah sebuah keindahan. 

Baiknya saya catat dan saya ingat baik-baik bahwa: Janganlah berhenti bermimpi. Dan berjuanglah untuk mendapatkannya karena itu adalah upaya mengasihi diri sendiri. Dan baiknya juga besok saya ke kantor pakai sedikit make up dan eyeliner karena mata saya sudah sembab luar biasa.

15.5.16

Konspirasi Tai Kucing #6: Mesin Memandikan Anak


Sabtu dan Minggu ini Ibu sedang ada dinas luar sehingga akhirnya sayalah yang bertanggung jawab atas Abhimanyu adik saya yang paling kecil berumur lima tahun. Abhi atau Manyu, demikian kita memanggilnya. Biasanya saya sih memanggil dia Abhimanyu selengkap-lengkapnya, secara nama Abhimanyu adalah saya yang memberikannya. Tadinya saya ingin punya anak bernama Abhimanyu, namun berhubung itu masih membutuhkan waktu, akhirnya sudahlah saya relakan. Jadi nama anak saya kelak anonim gitu. Enggak deng haha. 

Abhimanyu bukan anak yang rewel atau bandel, masih dalam taraf wajar, makan juga mudah tidak sulit, pada intinya masih tergolong mudah diatur. Namun Abhimanyu ini cukup sensitif dan perasa, jadi kadang kalau ditegur alhasil doi mutung. Dia tipe-tipe anak bungsu yang semua harus dipenuhi sesuai keinginannya, mungkin karena masih kecil juga kali ya. Ngobrol seharian dengan Abhimanyu hari ini sangat menyenangkan karena pada umur-umur segini mereka sedang eksplor tanya ini itu hingga kadang saya bingung mau jawab apa. Pernah suatu hari saat sedang saya mandikan Abhimanyu, dia bertanya: 'Kapankah the end of the world itu, Kak? Apakah nanti yang akan datang adalah Tuhan Yesus palsu atau asli? Apakah iblis akan datang dan bunuh orang jahat? Nanti the end of the world-nya akan tiba di rumah kita atau di rumah Apin (tetangga)?' Ya, itulah Abhimanyu dengan begitu banyak pertanyaan. Saya mau menjelaskan dari awal pun bingung sendiri akhirnya saya jawab: Kamu tanya Ibu aja deh ya, Bhi. 

Untuk seusia Abhimanyu ini, sedang masa-masa aktifnya loncat ke sana ke mari sehingga dia pasti gembrobyos keringetan. Alhasil tentu saya harus saya mandikan berulang-ulang kali. Sampai saya berpikir, harusnya peneliti-peneliti itu buat mesin memandikan anak, karena itu juga penting, Toh mesin cuci sudah ada, mesin cuci piring ada, mesin cuci mobil juga ada, masa mesin cuci anak tidak ada? Itu pasti akan dibeli ramai-ramai oleh ibu-ibu praktis.

Saya jadi sedikit berefleksi, ternyata menjadi ibu bukan pekerjaan praktis. Itu akan menjadi pekerjaan rempong hingga akhir hayat bahkan ketika anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tetap hubungan orang tua dan anak adalah hubungan sampai akhir hayat dan sudah dijodohkan oleh Tuhan. Anak adalah titipan, begitu pula orang tua adalah titipan pada anak. Hingga terkadang sebagai anak, saya pun jadi tersadar kalau saya semakin dewasa dan orang tua kita pun semakin tua. Lalu nanti giliran kita yang menjadi orang tua, jika memang terpanggil dan mampu. 

Kadang saya terpikir juga, ada beberapa teman saya yang seumuran saya sudah punya anak. Lalu saya melihat diri saya sendiri lagi, asli saya saja masih pecicilan belum siap punya anak. Memang itu urusan siap atau tidak siap dan mau atau tidak sih. Mungkin untuk saat ini saya belum sanggup untuk punya anak, bahkan minggu kemarin saya beberapa kali mimpi hamil dan melahirkan, saya degdegan setengah mati. Jelas saya belum siap. Mempunyai anak di zaman ini, pelik, harga kebutuhan pokok makin tinggi, gaji naik hanya sesekali kalau dipikir akal sehat sukar dipahami. Tapi mungkin ya, perpanjangan tangan Tuhan pasti menyertai. Mungkin demikian, tidak tahu deh saya. 

Saya ingin menjadi seorang ibu suatu hari nanti, apabila memang sudah siap mental dan mapan materi. Tapi kayaknya sekarang mending cari cumbuan hatinya dulu aja gimana?


***

Menyadari bahwa menggodok jamu itu perlu ramuan yang tepat, mungkin begitu juga dengan menulis. Konspirasi Tai Kucing yang awalnya tidak seserius itu harus diseriusin karena menyadari saya macam karet kolor yang mudah kendor. Sudah begitu saya bosenan kalau tidak ada yang buat penasaran dan menantang. Hingga saya tadi sambil mandi ngomong sendiri dan memutuskan untuk menulis Konspirasi Tai Kucing ini setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu. Eh Rabu dan Jumat saja deh ya. Saya butuh proyek pribadi ini sebagai bentuk penyaringan agar mendapat santan eh maksud saya ide yang segar. Lebih memperhatikan hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana itu. Gila lah, sudah pasti saya harus muter otak sampai beleleran otaknya. Tapi ya gimana dong harus dimulai dari kecil-kecil dulu untuk mempersiapkan yang besar bukan? Doakan saya ya! 



11.5.16

Konspirasi Tai Kucing #5: Apakah Cinta Bisa Habis?


Tulisan yang ditulis bukan karena sudah nonton AADC2 karena saya belum ingin nonton,  sepertinya masih ramai sekali jadi memilih nanti saja. Mungkin sudah masuk geng oma-oma yang tidak suka keramaian.  Jadi saya mau menikmatinya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Beberapa waktu lalu saya melihat ada satu pasangan unyu sweet memasang video. Lalu saya merasa sepertinya saya beneran sudah oma-oma karena merasa video itu harusnya tidak untuk dipublikasi. Atau saya jadi curiga saya kelamaan sendiri jadi rewel. Tapi sebenarnya menurut saya tetap video itu sebenarnya adalah koleksi pribadi karena dengan melihatnya saya jadi mules. Lalu saya berpikir mungkinkah karena mereka sedang kasmaran hingga mabuk kepayang hingga akhirnya demikian? Hingga akhirnya lupa ada beberapa yang sebenarnya adalah sesuatu yang intimate untuk dinikmati berdua saja karena pasti lebih enak. Ataukah kita sudah masuk zaman semua orang harus tahu hingga urusan daleman sekalipun? Ataukah sepenting itukah harga aktualisasi seseorang dan kebutuhan seseorang untuk diakui? Ya, itu juga benar. Saya dan kamu pasti membutuhkaan rasa diakui oleh orang lain kan?

Namun keresahan saya bukan itu, melihat pasangan itu sedemikian sweet dan manisnya saya jadi gelisah sendiri bagaimana jikalau cinta itu sudah habis? Berakhir sudahkah video dan foto itu jadi artefak di internet? Ataukah saya yang sedang terlalu sinis dengan cinta? Mungkin iya. Sesungguhnya saya sedang berpikir realistis kalau saya merasa cinta akan habis. Selesai. Demikian. Bye. Karena saya merasa kerap kali cinta saya habis karena bosan, karena tidak tahu harus bagaimana memeliharanya dengan baik dan saya pun khawatir dia pun pasti bosan setengah mati dengan saya. Hingga akhirnya kita menyerah dan selesai. Cinta sudah selesai mari kita bebenah dan berakhir dengan hati yang kosong tak berisi. Jikalau misalnya definisi kebahagiaan berakhir dengan jatuh cinta dan menemukan pasangan yang pas, rasanya kita menyempitkan definisi bahagia itu sendiri. Jikalau misalnya dengan menemukan laki-laki yang pas sebagai tujuan akhir, saya rasa pasti saya akan nelangsa. Saya yakin sebenarnya hidup kita ini tidak hanya untuk menikah dan berkeluarga saja kan? Lebih dari itu. Itu hanya diantaranya.

Kembali lagi ke pertanyaan saya, apakah itu hanya menjadi ketakutan saya saja jikalau cinta itu akan habis dan pudar pada akhirnya dan berakhir dengan komitmen saja. Menjalani sesuatu karena saya sudah komit untuk menjalani ini. Saya rasa jikalau dijalani tidak dengan cinta dan hanya komit saja, yang ada saya pasti koit. Coba deh bayangkan, ketika kecantikan, ketampanan,kemudaan, kegairahan, keseksian, kecerdasan, kepintaran, keperkasaan itu sudah lenyap begitu saja dan lalu apabila seandainya dua pasangan ini saling jatuh cinta karena alasan di atas, akan habiskah cinta? Apakah cinta masih akan ada di sana? Namun bagaimana mekanismenya bisa tetap ada? Pernah saya membaca tentang tingkatan cinta yakni eros, philia dan yang tertinggi agape. Cinta eros adalah cinta yang menginginkan, philia adalah cinta pada teman, saudara, sahabat dan cinta agape adalah cinta tak bersyarat. Cinta pada kekasih dimulai dari cinta eros yang saling menginginkan dan cinta itu seharusnya makin bertumbuh menjadi cinta agape, tak bersyarat.

Gila, saya tahu saya teoritis sekali dan sudah mulai nyebelin. Namun jika benar tidak ada mekanismenya dengan dalih  cinta itu ‘mengalami’, berarti sekarang salah sayalah yang belum genap mencintai. Saya masih mencintai dengan karena. Karena dia pintar, karena dia seniman, karena dia kumisan, karena dia menawan, karena dia seksi, karena, karena, karena. Saya kini merasa tiba-tiba kata-kata saya menguap di udara apabila mendefinisikan cinta itu sendiri. Seperti tukang jualan obat di pasar yang teriak-teriak obat ini paling manjur bla bla bla. Apakah selama ini tolak ukur saya mencintai seseorang bukan karena dia namun karena embel-embel dia di belakangnya. Bahwa yang saya cintai adalah pelengkapnya bukan jiwanya hingga saya seringkali bosan lalu habis cinta saya.

Rasanya saya tolol sekali ya dan mencintai dengan tulus-tulus saja adalah kesulitan kedua setelah tantangan menjilat sikut sendiri. Bukan berarti tidak bisa, itu bisa dengan catatan diperlukan hati yang tiada duanya untuk menerima. Menerima dan berpasrah mengikuti. Semoga kelak jikalau memutuskan untuk menikah dengan seseorang bukan karena embel-embel tetek bengek namun karena jiwanya dan semoga menjalani pernikahan bukan karena komitmen saja namun ada cinta kasih di dalamnya.

Duh setelah saya pikir-pikir betapa  saya ini cupu karena tidak berenang ke tempat dalam namun hanya main di pinggiran takut tenggelam. Sebegitu egoisnya saya di cinta-cinta lama namun ternyata menyadarkan kesalahan. Lalu tersadar dan merasa tolol sendiri. Baiknya sih sadar, daripada tidak. Karena akan ada cinta baru entah kapan. Ya kan?

18.4.16

Konspirasi Tai Kucing #4: Sifat Dominan



Mungkin tulisan ini akan saya baca sambil ketawa-ketawa sepuluh tahun dari sekarang. Itu pasti. Jadi ya sudahlah agar ada bahan yang bisa diketawain sepuluh tahun mendatang, lebih baik saya tulis ya kan? Menghibur diri sendiri di masa depan itu baik adanya, bukankah kita harus bisa menertawakan diri sendiri agar tidak stress dan memiliki humor yang bagus. Ya hitung-hitung agar tidak mudah jantungan deh.

Sampai mana ya tadi? Oh ya, akhir-akhir ini saya sedang menunggu-nunggu twit war dengan topik perempuan. Karena apa? Karena sebentar lagi hari Kartini saudara-saudara. Saya sudah tidak sabar membaca artikel-artikel tentang perempuan. Oh please please feed my ego and my curiosity well, dearest you who might concern. Saya lagi kosong tidak ada amunisi apa-apa nih, sedih deh. Kayaknya lagi buntu, ada saatnya saya duduk manis di kursi penonton. Mengamati. 

Menjadi perempuan. Saya rasa definisi menjadi perempuan kian berkembang di masa ini dan salah satu yang tidak berbeda mungkin adalah alat reproduksi. Penjelasan akan perempuan yang harus begini dan harus begitu pun rasanya sudah mulai terkikis perlahan. Baik laki-laki dan perempuan semakin terbuka dengan pemahaman kesetaraan gender, namun tetap juga ada yang tak bergeming. Mungkin sedikit kejedot pas masih kecil kali ya. 

Ada satu hal yang menarik untuk dibicarakan: Apakah semenyeramkan itu perempuan yang bisa mendominasi laki-laki? Saya muncul pertanyaan tersebut pada saat diskusi kelompok. Ada sebuah pertanyaan begini: tipe pasangan seperti apakah yang kamu inginkan? Pertanyaannya mudah dong dan pasti dijawab dengan nilai-nilai ideal pasanan yang diingini seperti apa, dan kebetulan perempuan menjawab mereka ingin laki-laki yang lebih superior dari mereka dan laki-laki ingin perempuan yang inferior tidak dominan. Saya lupa saya menjawab apa ya, karena saya terlalu asyik mendengarkan opini orang lain. Lalu  muncul sebuah pertanyaan, hubungan yang seperti apa yang kamu inginkan dengan pasanganmu? Rata-rata menjawab: laki-laki sebagai pemimpin yang bisa mengayomi. Lalu saya menjawab kalau saya ingin hubungan yang sejalan, saling berdampingan, hubungan yang equal dan kalau ada masalah baiknya diambil cara win-win solution bukan melulu persoalan siapa mengalah siapa. Eh tiba-tiba saya ditanya apakah saya perempuan dominan atau tidak?

Menurut saya, saya adalah perempuan dominan karena saya tidak suka diatur, itu satu. Lalu yang kedua saya tidak suka saja gitu kalau misalnya harus jadi inferior di bawah siapa pun. Maka saya lebih memilih hubungan yang equal jadi berdua memang sepadan untuk hidup bersama. Ya gak sih? Pernah suatu ketika, menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang sebegitu tinggi egonya hingga akhirnya harus sok-sok lemah atau sok-sok bego karena dia tidak suka perempuan yang lebih pintar atau lebih tahu dari dia dan begonya saya, saya iya-iya aja, lalu jadilah Metta yang bego. Hingga akhirnya saya tidak tahan karena memberi makan ego orang lain terus menerus rasanya menyakiti diri sendiri sebenarnya. 

Entah mengapa kita dipaksa menjadi ketakutan dengan kata: perempuan dominan. Terbayang perempuan yang galak, judes, ngeselin, dan lain-lain. Seolah menjadi dominan bukan nature nya perempuan. Seolah perempuan diciptakan untuk ya submissive yang passive. Tapi apa iya? Saya rasa banyak juga laki-laki yang sebenarnya tidak dominan namun dipaksa untuk menjadi dominan, karena dominan ini sebagai ciri gambar laki-laki sejati. Menurut saya setiap orang berbeda dengan bawaan sifat dan background yang berbeda, sehingga sebenarnya pemilihan sifat dari jenis kelamin rasanya tidak relevan. Saya juga merasa terkadang berat juga ya jadi laki-laki karena harus mengikuti standard maskulin di masyarakat. Ya sebenarnya urusan sexism ini tidak akan habis-habis sih karena praktiknya masih banyak dan saya pun kerap masih sexist. Saya pribadi merasa menjadi perempuan dominan mempunyai kekuatan sendiri untuk bertanggung jawab atas hidupnya dan sebenarnya meringankan tugas laki-laki yang dituntut ini itu. Atau mungkin sebenarnya laki-laki suka dituntut ini-itu dan menunjukan kekuatannya ya? Saya cari tahu dulu ya haha.

Tapi ya mungkin loh ya, pada akhirnya sifat-sifat mendasar perempuan dan laki-laki ini akan disempurnakan ketika mereka saling mencintai karena pasti ada banyak hal yang harus ditolerir untuk bisa bersama, ya bahwasanya menjalani hubungan itu susah-susah gampang dan butuh kerja sama yang baik. Lalu ada juga yang berkata bahwa kita terlalu banyak memilih tipe kualitas seseorang  untuk menjadi pasangan tanpa peduli yang terpenting adalah kualitas hubungan itu sendiri. Bagaimana? Bukankah perjalanan pertemuan dan percintaan pemuda dan gadis itu sebegitu rumitnya? 

Yha~


13.4.16

Konspirasi Tai Kucing #3: Tubuh dan Ketelanjangan Asali


Setelah membaca tulisan Ibu saya tentang Ketelanjangan Asali dan berdiskusi singkat dengan beliau, saya kembali memerlukan medium untuk merangkum agar tidak mudah lupa, maklum di dalam otak saya yang  IQ jongkok ini memerlukan sedikit ruang agar tidak kesempitan lalu bisa diisi lebih banyak lagi nanti. Susah ya punya otak seuprit dengan kecerdasan yang tidak pintar-pintar amat sehingga selalu harus berjalan mencari meraba-raba dan membaca ke sana-ke mari. Satu-satunya yang saya punyai adalah rasa penasaran itu saja. Sudahlah biarkan saya asyik sendiri mencari-cari, berpikir ala kadarnya kemudian bertanya. Mungkin itulah cara saya belajar. 

Saya sedang tertarik dengan sebuah topik mengenai tubuh. Tubuh dengan jiwa dan kedagingannya yang terkadang diartikan terpisah dengan mengatakan bahwa jiwa itu baik dan daging itu jahat. Padahal telah diciptakan keduanya, bukankah seharusnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi? Sebenarnya terbesit pertanyaan ini ketika saya sedang duduk di gereja. Ada salib dari kayu dipajang besar sekali di dinding altar. Salib dengan tubuh Yesus beserta kain penutup aurat. Saat itu pastor sedang kotbah namun ternyata pikiran saya ke mana-mana dan memikirkan kenapa peristiwa penyaliban ini melibatkan tubuh yang berdarah-darah dan tercabik-cabik ya? Tidakkah cukup dengan memperlihatkan ke-Ilahian Allah dari jiwa saja? Mengapa justru tubuh? Bukankah katanya, hidup bukan hanya dari daging saja melainkan juga roh? Kenapa tidak langsung saja pada inti jiwa/roh saja ya? Saya pusing sendiri sesungguhnya dan saya masih berpikir lama tanpa memperdulikan pastor. 

Lepas dari peristiwa itu dengan pertanyaan yang masih menggelayut tertinggal saja demikian dan terlupakan karena saya mentok. Kembali menjalani hari-hari yang biasa saja, lalu asyik bercanda makan siang dengan teman kantor tentang seks dan seputar selangkangan. Honey, ketika laki-laki seumuran saya sudah puas membicarakannya ketika remaja, kami perempuan baru mulai membicarakannya dan mengeksplor. Mungkin memang ada sebuah aturan terselubung bahwa pembicaraan tersebut tidak elok untuk perempuan, walau sebenarnya perempuan pun sama-sama makhluk seksual. Heran kan? Seperti pembicaraan bagaimana prempuan mengeksplor tubuhnya sendiri, pengalamannya mengenal tubuhnya dan kenikmatannya atau pemikirannya tentang tubuhnya. Tidak mudah dibicarakan atau diungkapkan. Seolah hal tersebut bukan milik perempuan dan harus dijaga rapat-rapat dan meyakinkan masyarakat kalau perempuan itu submissive dan aseksual. Kenapa ya? 

Kemudian saya berdiskusi dengan Ibu tentang hal tersebut dan keluarlah sebuah frasa Ketelanjangan Asali, ternyata ini menyambung dari Teologi Tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Dasar pembahasannya dari penciptaan manusia di Genesis / Kejadian 2:25 ..."Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu." Kata kuncinya telanjang dan tidak merasa malu, karena mereka melihat sebagai subjek yang harus dihargai. Ketelanjangan adalah sebuah situasi ketika sesuatu itu suci dan murni, tidak ada yang ditutupi di sana. Itulah perayaan manusia yang pertama, dalam ketelanjangan nilai tubuh dirayakan dengan agung dan ilahiyah. Lalu Paus Yohanes Paulus II merefleksikan bahwa karakter manusia adalah berelasi, kesadaran manusia untuk memberikan dirinya pada manusia lainnya sebagai ungkapan cinta. Ini disebut juga sebagai makna nupsial tubuh, karakter relasional tubuh yang mengarah pada pemberian diri yang berdasarkan pada cinta sejati*. Situasi ketelanjangan asali ini manusia mengungkapkan tubuh sebagai pemberian (diartikan sebagai perkawinan) ungkapan cinta, melihat manusia bukan sebagai objek melainkan subjek. Lalu makna nupsial ini menjadi hilang makna karena manusia dikendalikan nafsu dan memandang manusia lainnya sebagai objek semata.

Pembahasan ketelanjangan asali ini amat menarik karena tubuh merupakan kehadiran yang nyata dan konkret dari penciptaan Tuhan. Kita mengenal seseorang dimulai dari tubuhnya, langkah awal mengenal pribadi dan jiwa. Namun sayangnya manusia mulai tidak menghargai tubuh karena hanya dikaitkan dengan nafsu dan fungsi seksualnya saja. Mereduksi tujuan dan nilai tubuh itu sendiri sehingga membalikkan makna tubuh yang dekat dengan dosa dan objek pemuasaan hasrat saja, karenanya maka harus dikendalikan, dikekang atau dimusnahkan. Kita melupakan bahwa tubuh adalah karya agung Allah, tubuh dan seksualitas adalah baik adanya dan perlunya kita bersyukur karenanya. Seksualitas itu sendiri bukan hanya mencakup kegiatan seksual saja, itu hanya bagian kecil. Seksualitas adalah keinginan kita untuk mengasihi dan dikasihi, dapat berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Hingga menjadi salah apabila diartikan seksualitas adalah kegiatan berhubungan seks saja. Itu lebih dari itu.

Seiringnya dengan berkembangnya pengetahuan dan kemudahan teknologi, berimbas pula pada relasi manusia dan pemahaman manusia mengenai tubuh. Karena tubuh berubah sebagai komoditi untuk dipasarkan. Tubuh diidentikan dengan seks, kenikmatan tubuh saja tanpa cinta. Hingga pandangan ini merubah pola pikir perempuan dan laki-laki  mengenai tubuh mereka dan saling tidak menghargai satu sama lain karena degradasi makna tubuh. Seandainya makna tubuh dipulihkan kembali ke titik nol maka ketimpangan pun akan berkurang dan hilang, hingga perempuan dan laki-laki bisa sejajar dan tidak didefinisikan dari tubuh sebagai fungsi seksualnya namun sebagai manusia. Penghargaan akan manusia seutuhnya.

Hingga lalu saya terbesit jawaban mengapa karya keilahian Allah atas penebusan Yesus Kristus disimbolkan dari tubuh? Untuk memulihkan makna tubuh itu sendiri. Bahwa karya Allah yang Ilahi dilihat konkret dan nyata dari tubuh. Penciptaan tubuh yang fana ini sebagai ungkapan penerimaan kasih Allah untuk dibagikan pada sesama. Hingga akhirnya jiwa pun bisa menemukan keutuhannya lagi dengan Sang Cinta itu sendiri.

Mungkin demikian untuk saat ini. Iya.



* Refrensi: Teologi Tubuh 

2.4.16

Konspirasi Tai Kucing 2#: Idealisme Itu Mematikan?


Hiburan menarik itu bukan hanya dari mall-mall dan membeli suatu barang. Itu sih menurut saya. Ya namun tidak bisa disalahkan apabila pada akhirnya kita terjebak hiburan di gedung-gedung bertingkat karena hanya itu yang tersedia. Sehingga mencari hiburan kecil di sebuah kedai kopi dan berbagi cerita adalah sedikit remah-remah yang bisa dinikmati selagi bisa. Kita semakin melupakan momen untuk menikmati kedalaman pembicaraan. Kalau terkadang pembicaraan dua teman secara langsung dengan tatap mata, berbagi ruang, tertawa bersama dan memperlihatkan gesture serta mimik adalah cara yang paling murah dan efektif untuk mencapai suatu kedekatan. Percaya tidak, kalau menemukan lawan bicara yang sepadan adalah sebuah anugerah. Sepadan dalam arti kesamaan frekuensi atau setidaknya tidak ada judgment. Itu sih. Kenapa sih semakin dewasa kita semakin judgmental? Seperti was-was dan harus waspada setiap saat karena bisa saja tiba-tiba kita 'disenggol' orang lain. Hingga pada akhirnya apabila belum menemukan lawan bicara yang sepadan, lebih baik berpuas diri dengan buku dan riset sendiri. Meski akhirnya jadi melahirkan teori aneh, ya udahlah ya. Harus mencukupkan diri seadanya lalu saat bertemu dengan sahabat-sahabat kembalilah berbagi dan bertukar info. Ada waktunya menyendiri mungkin, agar fermentasinya kuat kayak tape. 

Ada beberapa pertanyaan menarik seminggu ini. Pasti gara-gara kebanyakan makan micin deh jadinya rada-rada bego nanya mulu eh tapi jawabannya susah belum ketemu. Harus buat mind mapping rasanya agar sedikit tahu sebenarnya ke mana alurnya. 

Kemarin ini saya sedang gatal sekali ingin nonton short movie yang sekejap mata tapi membuat otak berasap ke mana-mana. Nah, esensi ini yang dikejar. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan sebuah cerpen Examination Day karya Henry Slesar di tahun 1958. Sebenarnya pertama kali baca  cerpen ini di buku belajar baca bahasa Jerman. Saya baca sampai jereng rasanya. Ceritanya adalah tentang seorang anak pintar cerdas bernama Dickie Jordan. Mereka tinggal di era masa depan distopia, yakni sebuah masyarakat yang tinggal di bawah pemerintah yang totaliter/ otoriter. Ada sebuah peraturan pemerintah bahwa anak berusia 12 tahun wajib mengikuti test IQ. Tepat pada ulang tahunnya yang ke 12, dia ikut test IQ ini. Dia sangat penasaran dan bersemangat ikut test ini, sedangkan orang tuanya terlihat sangat cemas. Hingga pada hari test tiba, Dickey harus meminum cairan agar bisa berbicara jujur saat menjawab test IQ ini dan hasilnya Dickey 'gagal' dalam test tersebut dan dieksekusi mati. Apa alasannya? Kecerdasan Dickey melebihi limit ketentuan pemerintah sehingga harus dimusnahkan. 

Lalu hari ini sepulang kantor, saya memilih untuk merayakan hari Jumat dengan selimutan membaca buku sampai kelaparan. Hingga akhirnya meyudahi membaca dan beralih liat-liat film dokumenter di youtube. Tadinya saya mau memanjakan diri lihat documenter yang serem-serem agar menyudahi rasa penasaran, eh tapi ternyata otak reptil saya bekerja lebih keras sehingga saya tidak jadi dan penasaran dengan film dokumenternya Aaron Swartz. Siapakah mas Aaron ini? *sok kenal* Dia adalah internet aktivis yang membayar mahal untuk kecerdasan dan idealisme. Dialah penggiat kebebasan informasi yang melawan UU Anti Pembajakan (SOPA). Hingga akhirnya sekarang kita masih bisa mengakses informasi di internet untuk buat thesis . Dia adalah co-designer-of-tools  RSS dan Markdown , yang ikut membuat peradaban internet hingga secanggih sekarang. Dia juga adalah seseorang yang buat kode system copyright agar orang awam bisa melindungi hak cipta mereka ketika orang lain ingin menggunakan karyanya. 

Dalam pertumbuhannya dia semakin tertarik pada politik dan melihat bahwa terdapat praktik ketidakadilan dan ketimpangan yang berbau neoliberal capitalism. Karena diberkahi talenta dalam bidang teknologi sehingga dia dikenal sebagai the most technologically- gifted political activist in history. Singkat cerita, dia terbentur dengan tuduhan dari federal setelah mengunduh banyak makalah akademis yang seharusnya berbayar menjadi bisa didistribusikan secara gratis untuk siapapun yang membutuhkan informasi tersebut. Lalu dia dihukum cukup berat denda maksimal $ 1 Juta dan 35 tahun penjara. Setelah jaksa federal menolak tawaran pengacaranya yang kedua, Aaron Swarz ditemukan tewas menggantung diri di New York (untuk lebih jelasnya bisa dicari di wikipedia atau youtube).

Saya melihat betapa untuk memegang prinsip dan keyakinan itu sulit. Seperti Dickey, dia hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri sejujur-jujurnya namun pada akhirnya ada pihak lain yang ketakutan dengan keberadaannya. Lalu Swartz juga merasakan pengasingan karena untuk fit-in dan berdiri atas prinsip dan keyakinannya ternyata banyak juga yang merasa khawatir posisinya runtuh. Di documentary film Swartz itu disebutkan begini: He feels comfortable with the world, but world feel uncomfortable with his presence. Gila. Bisa bayangkan tidak rasanya bagaimana? Dia pasti merasa sendiri dan tidak cocok di mana-mana. Depresi hingga akhirnya bunuh diri. 

Di dua cerita ini mengacu pada pemerintah yang tidak memberikan kebebasan untuk berpikir dan 'membunuh' mereka. Ketakutan akan isi otak dan idealisme seseorang karena dianggap mampu menggerakan manusia lainnya hingga menjadi 'berbahaya'. Tidak usah dengan pemerintah dulu deh, karena scope nya jadi kebesaran. Coba dengan keinginan dan keyakinan kita, pasti mudah dikebiri ditengah jalan kan? Mungkin sebenarnya masyarakat tidak bisa menerima sesuatu yang diluar dari normanya, yang sebenarnya normanya sendiri belum tentu benar dan sering kali bias. Atau mungkin terjadi juga di antara kita yang tidak bisa mengapresiasi perbedaan itu sendiri. Namun ada sih yang menurut saya lebih fatal yakni pemahaman kalau mereka tidak tahu sesuatu maka sesuatu itu tidak ada. Seolah tidak memberikan kemungkinan kalau ada banyak hal yang tersedia namun mereka tidak tahu. Kan kasian sebenarnya.

Idealisme itu mungkin mahal harganya dan dibayar dengan nyawa. Banyak yang berkata bahwa idealisme dapat mematikan seseorang. Mungkin ya dan tidak. 'Ya' karena banyak nyawa yang bergelimpangan karena idealisme ini dan dianggap beberapa orang mengikuti idealisme adalah sebuah kesia-siaan. Namun menjadi 'tidak' apabila dia menjalani idealisme ini sebagai panggilan hidupnya dan misi yang diemban di dunia. Bahwa pada akhirnya saya dan kamu akan mati lalu kenapa tidak melakukan apa yang membuat kamu benar-benar hidup? Atau mau raga hidup tapi jiwa mati?




13.3.16

Konspirasi Tai Kucing #1: Muda Medioker


Hai. Sebelum membaca tulisan saya ini saya mau mengingatkan bahwa tidak semua yang kamu baca bisa ditelan bulat-bulat dan seutuhnya, harus melalui nalar kritis dengan pertimbangan sana sini. Dan tulisan dengan tag Konspirasi Tai Kucing ini adalah sebuah tulisan sebagai diary belajar saya. Kenapa konspirasi tai kucing? Karena saya rasa dunia ini dipenuhi dengan pembodohan masal. Apa yang diyakini dan cara pandang kita ternyata masih di garis abu-abu dan masih harus dicari jawabannya dengan banyak-banyak belajar dan membaca. Saya rasa harus saya tuliskan agar saya punya  record sendiri. Lalu suatu hari nanti ketika saya sudah tua dan gemetar bisa saya buka lagi dan menertawai diri sendiri betapa bodoh dan naifnya saya di masa lalu haha. 

***

Sepanjang ingatan saya menjadi berbeda dan menonjol selalu digalakkan untuk dimiliki oleh anak-anak muda, kunci sukses katanya. Hingga dalam mengemukakan pendapat pun kita harus berbeda dan tidak sama dengan yang lain. Selalu diupayakan agar mencari alternatif lain dari berbagai studi kasus dan mencari solusi yang paling berbeda dari yang lain. Intinya berbeda itu baik. Ya menurut saya berbeda itu baik dan 'beda'. Intinya perbedaan yang tidak harus dibeda-bedakan. Dengan kita aware bahwa kita berbeda dan tidak usah mencari-cari persamaannya, saya rasa itu langkah awal dari toleransi. Menerima bahwa itu beda. Selesai.

Contoh sederhananya adalah saya suka band indie yang tanpa label musik lalu dibuat dengan dana seadanya namun liriknya cerdas dan ganas. Atau paling tidak bukan tipe musik yang ada di tivi-tivi dan didengarkan di supermarket gitu lah. Selera musik yang cukup nyusahin sih sebenarnya karena dengan begitu saya harus mencari-cari yang sesuai. Hingga sampai suatu masa di mana saya percaya teori melihat pribadi dan tingkat intelegensi seseorang dari jenis musik yang dia suka. Pasti anda sekalian sudah tahu mau dibawa ke mana tulisan ini. Long story short, saya melihat kalau penyuka lagu indie itu cool abis ( pada masa labil itu siapa juga yang tidak berasa keren sih? *tepok jidat*). 

Menurut saya pada masa jahiliyah itu, memiliki selera musik yang beda memiliki kasta tersendiri seolah satu kasta lebih tinggi dari yang menyukai musik di tivi-tivi itu. Seolah dengan mendengarkan itu saya menjadi terlihat pintar atau cerdas dengan kesombongan-yang-apa-deh. Padahal seiring waktu, semua teori kasta selera musik itu runtuh menjadi serpihan karena sebenarnya itu sama sekali tidak valid untuk menjadi ukuran. Demikian pula dengan buku apa yang kamu baca, ideologi apa yang kamu anut dan lalu agama apa yang kamu peluk. Tidak ada yang namanya undakan tangga mana yang lebih tinggi dan mana yang rendah. Itu hanya ilusi belaka, pembeda-beda karena situasi dan latar belakang seseorang saja yang dikotak-kotakkan. Padahal sebenarnya sama. 

Beberapa hari ini saya sedang tertarik dengan essay yang membicarakan generasi Y, generasi yang lahir di awal 1980 sampai awal 2000. Di essay tersebut kerap kali disebut kata medioker yang maksudnya adalah sesuatu yang standard, cukup, dan pas-pasan. Pada intinya anak muda jangan maulah menjadi medioker. Oke. Di satu sisi saya setuju kalau menjadi muda di zaman ini memang tidak bisa menjadi pas-pasan dengan begitu-begitu saja. Namun definisi pas-pasan setiap orang kan berbeda-beda ya... jadi sekarang saya jadi agak bingung parameternya non medioker apa?

Lalu saya berpikir lagi, apakah benar dengan menjadi medioker kita tidak akan bisa survive di dunia ini? Apakah maksud medioker ini adalah bermain aman di zona nyaman dengan ikut arus saja dan tidak menjadi ikan salmon? Bagaimana kalau seandainya saya tidak ingin menjadi ikan salmon yang berenang melawan arus, bagaimana kalau saya malah ingin loncat ke aquarium dan jadi ikan sapu-sapu yang membersihkan aquarium saja dan lalu saya menjadi bahagia karenanya?

Menurut saya kata medioker ini terlalu luas jangkauannya seperti misal analogi saya ketika saya merasa selera musik indie itu keren dan yang lain tidak. Lalu seiring berjalannya waktu saya berubah pikiran. Saya rasa demikian pula dengan definisi medioker seseorang. Kerap banyak yang mencap orang lain dengan gaya hidup yang kekinian, baju yang mengikuti fashion, mereka yang ikut arus zaman dicap sebagai si medioker ini oleh mereka yang merasa 'berbeda'. Saya melihat kenapa jadi seolah ada sebuah kasta lagi di sini. Apakah kita dalam hidup tidak akan lepas dari kasta, label-label dan kotak-kotak ya? Ya mungkin demikian. 

Sampai hari ini saya membaca buku biografi Tan Malaka,buku keluaran Tempo dengan judul kecil Bapak Republik yang Dilupakan. Di situ saya merasa seperti oh dayummm... selama ini waktu SD saya belajar IPS Terpadu macam apa? Kenapa saya menelan bulat-bulat itu buku teks dan menganggap bahwa peran kemerdekaan adalah semata-mata adalah Pak Soekarno dan Pak Hatta saja ya? Memang ini adalah salah saya sebagai pelajar dan pembaca yang sedikit terlambat menyadari bahwa ada Tan Malaka yang keren ini juga adalah pemikir dan pejuang revolusi. Memang penyesalan itu datangnya selalu terlambat dan saya sebal sekali, sebodoh itunya saya. Bahwa pandangan seseorang berubah, prespektif orang berubah, dan sesuatu yang terlalu dipercayai dan diyakini sungguh-sungguh itu seharusnya disaring dengan akal sehat dan banyak riset. Itu yang saya pelajari, semoga jangan berakhir seperti saya, meyakini hal yang tidak dikaji nalar. Jangan, pokoknya jangan. 

Mungkin menjadi medioker ada baiknya juga dan saya rasa menjadi medioker juga adalah pilihan dan itu bebas dilakukan selama tidak menyenggol kepentingan orang lain. Kalau kata Dewi Lestari, "Akan tetapi hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah." Ya, hidup ini cair, Kawan. Semua berubah sesuai wadahnya dan kalau suatu hari kamu mau pindah wadah, ya monggo silahkan. 



new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...