Showing posts with label feminism. Show all posts
Showing posts with label feminism. Show all posts

30.7.16

Tulisan Tentang Perempuan Sekali Lagi


diambil dari pameran foto MRT Station Taipei


Akan menuliskan tentang perempuan dan akan sedemikian menyebalkannya karena banyak kealpaan di sana sini. Namun Dallas Clayton pernah menulis: Don't let the details be your undoing. Akhirnya memutuskan untuk menuliskannya karena merasa perlu. Sekali lagi.

Berita yang berkoar di media seminggu ini cukup menyita perhatian saya di tengah sibuknya pekerjaan dan urusan printilan ini itu. Atau mungkin mendengarkan berita jadi semacam hiburan sok sokkan ngerti padahal hanya berpartisipasi telinga dan mata namun absen otak. Berita dalam negeri yang menyita perhatian saya adalah reshuffle kabinet kerja dan diikuti kopi Mirna yang tidak kunjung selesai itu. 

Masih segar diingatan akan berita tentang Ibu Sri Mulyani beberapa tahun lalu dan kini beliau kembali menjadi Menteri Keuangan. Saat itu saya sedang di kantor dan mendapatkan pesan dari teman baik saya, Thesa. Saya membaca pesan viral berbahasa Inggris ini dengan isi bahwa beliau telah bersedia untuk menjadi menteri keuangan. Oh saya terhenti sebentar dan merinding sekali di tengah kesibukan kantor yang bising itu. Sedikit terharu karena seseorang yang sedemikian berdedikasinya pada negaranya meski pernah dikecewakan dulu. Namun ketika tanah airnya memanggil kembali dan membutuhkan bantuannya, beliau berani berkata: Ya, saya sanggup. 

Berapa banyak orang yang berani pulang ke tanah air untuk Indonesia? Tanpa seegois itu akan kenyamanannya.  namanya yang telah besar di dunia, dan kembali dengan dengan komitmen untuk membangun tanah airnya sendiri? Saya sedikit sentimentil  dengan orang-orang yang kembali ke tanah air for good. Betapa ada perasaan tidak yakin, tidak tahu hari depan, ketakutan sedikit akan tanah air, perlunya beradaptasi lagi, meninggalkan kenyamanan induk semang negara sebelumnya, dst, dll, dsb. Namun diluar perasaan itu semua ada rindu tanah air.

Beberapa hari lalu saya sempat kesal sendiri karena membaca artikel menjelang hari kemerdekaan. Pendek kata artikel ini adalah artikel dengan topik tahunan yang bikin tepok jidat berkali-kali. Isinya adalah di umur Indonesia yang sudah sekian tua merdekanya namun baginya belum merdeka sama sekali karena masih banyak kemiskinan, ekonomi yang tidak stabil, lalalala. Yak, kalian pasti sudah bisa membayangkan isi artikel ini yang membosankan ini, tapi saya kok baca juga. Saya jadi ngomel-ngomel sendiri karena sedemikian miskin research hingga penulis lupa mencari definisi merdeka itu sendiri dan tentu tidak bisa disandingkan dengan Amerika dan Eropa. Dan saat saya baca artikel ini eh ternyata yang nulis saya sendiri saat masih kuliah semester 2 (hehehe). Kan saya jadi tambah sebel dan semakin tepok jidat berkali-kali ya kan? 

Dengan membandingkan tulisan saya ribuan waktu silam itu saya jadi sedikit tersentil jangan-jangan pikiran itulah yang dimiliki sebagian besar orang Indonesia ya? Semoga tidak. Semoga kita bukan orang yang mudah menyimpulkan tanpa research, tanpa kembali ke akar. Semoga jika tanah air membutuhkan kita berani menjawab: Ya, saya sanggup. 

Kemudian saya perhatikan kini perempuan cukup menjadi media darling entah karena kekuatannya, entah karena tubuhnya, entah karena karyanya dan banyak hal. Namun banyak hal juga yang timpang seperti misalnya saat ada celebrity sex tape yang mencuat di media terutama di Indonesia, si perempuan ini pamornya menurun dan si laki-laki malah jadi bintang iklan shampoo. Lalu saya jadi teringat akan pandangan Aristoteles tentang perempuan. Setelah membaca lebih jauh, saya jadi ilfil pada beliau. Beliau berpandangan bahwa perempuan adalah "pria yang belum lengkap". Dalam hal reproduksi, perempuan bersikap pasif dan reseptif, sementara pria aktif dan produktif. Beliau percaya bahwa anak hanya mewarisi sifat bawaan laki-laki. Aristoteles menyimpulkan bahwa perempuan adalah ladang yang siap menerima dan ditanam benih, dalam bahasanya  pria menyediakan "bentuk" sedangkan perempuan menyediakan "substansi". Dan gawatnya pandangan Aristoteles ini justru yang berpengaruh dan diadaptasi hingga kini. 

Kira-kira ada berapa banyak laki-laki di dunia ini yang sedemikian yakin akan dirinya sendiri hingga mereka tidak takut akan gerakkan feminism atau riot grrrl? Lalu mereka mendukung karena melihat ada ketimpangan nilai di sana sini? Atau contoh kecilnya ada berapa banyak laki-laki yang bersedia melakukan pekerjaan domestik dan tidak melulu harus merasa itu adalah pekerjaan perempuan?  Menurut Simone de Beauvoir, upaya penyetaraan perempuan dan laki-laki tidak akan berhasil apabila tidak ada dukungan dari masyarakat. Karena menurutnya manusia tidak dilahirkan sebagai perempuan, namun menjadi perempuan. Mendefinisikan perempuan sebagai manusia utuh bukan hanya karena kepemilikan ovarium dan uterus saja. Dan sudah seharusnya perempuan sendiri tidak bergantung dan mandiri karena eksistensinya sebagai manusia utuh yang memiliki kebebasan. 

Pentingnya mengkaji ulang bahwa tubuh adalah bagian dari manusia namun manusia tidak hanya sekedar tubuh saja, begitu pun perempuan dan laki-laki. Sempat melihat perdebatan akan peranan perempuan yang dikatakan bahwa kesetaraan gender adalah ketika perempuan bisa bekerja di luar tidak melakukan pekerjaan domestik saja dan menyalahkan perempuan yang misalnya ingin menjadi ibu rumah tangga. Menurut saya bukan kesetaraan gender yang demikian, melainkan kemampuan perempuan untuk memilih hidupnya sendiri tanpa harus ada paksaan dari pihak luar. Entah mau menjadi wanita karir, pilot, tentara, atau ibu rumah tangga, itu merupakan pilihan perempuan sebebas-bebasnya sebagai individu. 

Perlunya menanggalkan berbagai macam label untuk perempuan karena sebenarnya definisi itu hanya melimitkan perempuan sendiri. Mengapa tidak perempuan dibiarkan menjadi perempuan? Tanpa embel apa-apa terutama lepas dari tubuh itu sendiri. Bahwa perempuan cantik, dandan apik, sexy, make up genah bukan berarti mereka hanya mengurus dandanan saja dan bukan berarti mereka tidak punya otak. Dan begitu pula sebaliknya. 

Perempuan berhak memilih hidupnya. Ingin atau tidak menikah, ingin atau tidak punya anak, ingin atau tidak berpasangan, ingin atau tidak menjadi ibu rumah tangga, ingin atau tidak menjadi wanita karir, ingin atau tidak berdandan, ingin atau tidak menjadi seorang ibu, ingin atau tidak menjadi istri, ingin atau tidak bekerja domestik, ingin atau tidak berhubungan seks, ingin atau tidak memeluk agamanya, ingin atau tidak memilih ideologinya. 

Dan mengutip Simone de Beauvoir, "Bahwa hal pertama yang harus aku katakan adalah: Aku seorang perempuan."



25.5.16

Konspirasi Tai Kucing #7: Karena saya perempuan dan tubuh sering diperbincangkan


Pagi ini saya tergesa-gesa berangkat ke kantor hingga tidak menyadari ternyata kuku jempol kaki saya berdarah-darah. Sepertinya saya tidak sengaja menendang kursi meja makan, saya terkaget-kaget dan ngeri sendiri melihat darahnya. Awalnya tidak sakit, namun setelah melihat darah mengalir segar saya baru berasa pedih. Sambil mengobati jempol kaki saya dan membersihkan darahnya, saya jadi berpikir apa jangan-jangan sebenarnya ada banyak pedih yang sebenarnya kita rasa namun tidak kita rasa-rasa karena itu tersembunyi, kasat mata? Lalu setelah menyadari ada luka di sana, sensor rasa panik dan sakit baru menyeruak keluar hingga berjengit sesaat dan buru-buru mengobati. Pentingnya kesadaran dan membuka indera lebar-lebar pada setiap peristiwa, agar bisa diperbaiki dan diobati.

Mengingat kemarin malam saya marah-marah dan panas sendiri karena membaca tweet seorang Bapak yang sedang kultwit penyebab pemerkosaan adalah berpakaian sexy serta berbagai rentetan argumen sexist yang dia punya. Ih sebal sekali rasanya hingga yang tadinya Twitter saya gembok untuk privasi, pada akhirnya saya buka lagi karena saya mau komen ke Bapak-bapak itu, tapi rasanya sih tidak dibaca. Ya sudahlah, belum saatnya saya dan Bapak itu berkenalan. Eh tapi saya akhirnya unfollow Bapak itu demi tidur-tidur nyenyak saya di hari depan. 

Kemarin saya jadi berpikir sebegitu istimewakah tubuh perempuan hingga akhirnya kepemilikan tubuh pun akhirnya harus diambil alih? Hak atas memiliki tubuh yang didogma serentetan hukum dan norma. Seolah tubuh perempuan ini salah dan menyebabkan hilangnya akal sehat laki-laki. Saya sebenarnya gemas sekali dengan pemikiran 'perempuan harus menjaga' apapun yang ada di dirinya. Aduh, bahkan bagaimana isi otak laki-laki pun harus kita jaga? Oke saya paham jikalau laki-laki itu visual dan memiliki alat kelamin yang mudah terangsang, lalu apakah kiranya itu juga harus dijaga oleh perempuan? Saya sendiri percaya bahwa laki-laki memiliki pertahanan sendiri untuk bisa tetap mengutamakan akal budinya dari pada penisnya. Tidakkah ingat bahwa manusia diciptakan dengan akal budi dan perasaan. Lalu ini menjadi timpang ketika laki-laki merasa memiliki kuasa atas perempuan, bahwa itu sah-sah saja. Dan yang paling mengagetkan adalah ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran seperti Bapak di Twitter itu. Duh semakinlah saya tepok jidat berkali-kali.

Mengapa saya sebegitu responsif dengan issue perempuan ini? Karena saya perempuan dan itu adalah tubuh saya. Itu adalah bibir saya, itu adalah rambut saya, itu adalah leher saya, itu adalah tangan saya, itu adalah payudara saya, itu adalah perut saya, itu adalah pinggang saya, itu adalah pinggul saya, itu adalah paha saya, itu adalah kaki saya dan itu adalah vagina saya. Mengapa saya tidak punya hak atas itu semua yang ada di diri saya? Saya tidak paham. Saat saya remaja, saya diberi tahu bahwa tubuh saya ini harus dijaga karena bisa saja 'mengundang', saat itu saya tidak tahu artinya. Sampai akhirnya saya berjalan sendirian dan sekelompok anak laki-laki tidak dikenal berseloroh nakal tentang tubuh saya. Hingga ada satu masa saya sebal setengah mati menjadi perempuan, terlebih karena payudara saya yang bertumbuh, dengan pantat saya yang semakin berbentuk, dengan rambut saya yang ikal dan tubuh saya yang semakin feminin. Saya dulu merasa ini salah tubuh saya yang menggoda mereka, pasti demikian. Sejak itu saya menjadi paham akan keberadaan tubuh perempuan di society. Sedari kecil anak perempuan diajarkan untuk menjaga, duduk rapat-rapat, baju tidak menggoda, perilaku santun dan satu lagi jangan jadi manusia seksual. Perempuan tidak diajarkan untuk menjadi penasaran atas tubuhnya hingga sedari kecil ketika tiba-tiba tanpa sadar bermain dengan alat kelamin sendiri, diberi tahu eits.... jangan! Ya kita tahu kenapa banyak perempuan tidak tahu tubuhnya sendiri dan akhirnya sulit orgasme ya kan? Setiap inchi tubuh kita ini seksual dan bisa juga tidak, itu tergantung dari perspektif kita. 

Lalu kemarin mendengarkan kembali lagunya Anggun yang In Your Mind begini lyricnya: I don't want to believe and I don't want to live by the excuses of your weakness. 'Cause a women should do what she wants to do, there is no reason for your shallow aggravation. Seharusnya perempuan bisa melakukan apapun sesuai keingiannya tentu dengan tanggung jawab dan sudahlah berilah ruang untuk perempuan memilih dan memiliki. 

Susah-susah gampang menjadi perempuan, terkadang saya pun harus banyak belajar menjadi perempuan yang sebegitu banyak label dan tuntutan ini itu. Bahkan tuntutan tersebut lebih kejam dilayangkan dari perempuan ke perempuan lainnya. Gila itu kejam sekali, seolah menjadi tuhan atas perempuan lainnya. Terlebih jikalau kamu gadis. Lalu berusaha untuk mengerti nilai-nilai masyarakat ini yang sepertinya tidak adil sedari lahir. Gadis-gadis yang berusaha hidup di dunia yang lebih condong ke laki-laki ini dan semuanya berpihak pada mereka. Gadis-gadis yang sebenarnya merasa pedih sendiri dengan siulan nakal, dengan pandangan yang menelanjangi, dengan celotehan melecehkan, dengan tangan yang usil. Ketika kegadisan seharusnya dirayakan dengan penuh sebagai lambang kesuburan hidup namun akhirnya mereka salah kaprah dengan tubuhnya sendiri. Mencari makna lain dari tubuhnya agar diterima oleh laki-laki, agar dicintai, dikasihi bukannya dilecehkan. Meski dengan cara yang berbeda-beda. Hingga seorang gadis sedemikian butuhnya diakui keberadaannya oleh laki-laki dan akan menjadi keprihatinan apabila mental itu terbawa sampai dia menjadi dewasa. 

Satu titik awal mengapa saya berubah pikiran tentang keberadaan saya sebagai perempuan adalah saat Oma saya meninggal di masa awal remaja saya. Melihat saat beliau tersengal memanggil 'Mama' dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, lalu saya menangis keras sekali hingga sesegukkan. Betapa tubuh sebegitu rentannya, sebegitu fananya ketika ruh tidak ada. Itu hanya kendaraan yang digunakan roh untuk berkarya di dunia ini. Pada prosesi memandikan saya pun mengintip, tubuh telanjang kaku perempuan. Air terus mengalir-mengalir membersihan tubuh. Mungkin kita manusia sebegitu terobsesinya dengan tubuh tanpa menyadari bahwa ada jiwa di dalamnya. Jiwa itu sama-sama yang memiliki ketakutan, cita-cita, trauma, sakit hati, kekhawatiran, kesenangan, kesedihan, cinta yang juga sama dengan kita. Lalu masihkah kita manusia tidak bisa saling menghargai karena pada dasarnya kita ini hanya manusia dengan berburuan makna hidup masing-masing yang tidak kita tahu artinya?

***

Dan ya, inilah saya
Saya gadis, saya perempuan 
Dan ini adalah keapaan, keberadaan dan tubuh saya
Dan saya pun menghormati dan menghargai kamu, Laki-laki
Dengan keapaan, keberadaan dan tubuhmu. 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...