Showing posts with label salam dangdut. Show all posts
Showing posts with label salam dangdut. Show all posts

4.10.15

Naik level seekor kutu busuk

Pagi hari yang dikejutkan dengan sakit perut karena ingin buang air besar itu sebenarnya bukan sebuah cara untuk membangunkan seseorang dengan cara yang ideal. Ya kan? Namun siapa sih yang punya kehidupan yang ideal kecuali Chelsea dan Glenn. Melihat pernikahan mereka yang bak fairy tale saya pandangi dengan alis naik satu. Okelah. Ya setiap orang punya hak mereka masing-masing menggunakan uangnya dan bagaimana mendesign weddingnya, bukan? Mungkin kalau saya bukan tipe yang seperti itu. Mungkin saya tipe kolot yang hanya ingin pesta kebun dengan keluarga dan teman dekat saja. Ya itulah konsep ideal orang berbeda-beda sehingga menjalani hidup juga berbeda-beda. 

Kali ini saya sedang agak nyinyir dan suka ngomong sembarangan. Kayak kurang pelampiasan untuk sesuatu yang saya suka. Idealnya saya harusnya mengejar apa yang saya suka dong. Tapi saya kok kebalikannya ya? Sinting. Bisa diambil contoh ringan saja begini saya mau menjadi penulis namun untuk menjadi penulis saya tidak menulis-menulis atau setidaknya kerja di suatu media. Logikanya begitu dong. Namun saya tahu menjadi penulis bukan profesi yang bikin hidup mapan kecuali kamu adalah Paulo Coelho yang punya buku best seller sepanjang tahun di seluruh dunia lalu bukunya diterjemahkan ke banyak bahasa. Oke itu baru bisa duduk santai di pegunungan sambil makan ciki. Tapi kan saya nggak gitu, bray. 

Lalu saya mulai mengerti sebuah pola bahwa manusia terkadang takut sendiri untuk mencapai sesuatu yang membuat dia bahagia, bahwa upaya untuk mencapai bahagia itu begitu berliku dan terkadang terhenti di tengah jalan karena takut. Semacam masochist juga yang suka menyakiti diri sendiri karena mendapatkan pleasure dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin itu yang didapatkan orang saat membuat tato. Rasa sakit yang enak. Menurut kamu itu sakit jiwa gak? Menurut saya enggak. Siapa sih yang gak sakit jiwa di dunia ini btw?

Balik lagi ke pembicaraan awal kalau saya sebagai seseorang yang sering kali salah kaprah dengan tidak jelas mengejar apa yang saya suka namun malah berlarian ke arah sebaliknya, itu kenapa bisa terjadi ya? Kalau kata guru writing saya di uni dulu itu ada sesuatu hal yang dibuat untuk jalan memutar untuk bisa balik lagi. Mungkin kita sedang di situ.

Saya suka sebal dengan diri saya apabila mendapati diri saya tidak produktif. Ada beberapa hari saya sudah kayak ayam tiren. Saya ogah deh jadi ayam tiren lagi, itu pasti karena saya kurang hobby dan melakukannya. Sedih sih itu, apalagi saya punya adik yang sangat tahu hobby dia apa dan melakukannya dengan segenap hatinya, seserius-seriusnya. Eh saya malah mengglepar-glepar jadi kutu busuk di tempat tidur. Kalau diingat-ingat bego yaa...tapi setiap orang memang harus punya fase itu untuk pada akhirnya memutuskan apa yang harus diputuskan. 

Dilihat-lihat memang hidup gak seideal Chelsea dan Glenn tapi saya sih sebenernya mau yang biasa-biasa saja, naik pangkat tidak lagi jadi kutu busuk setidaknya sudah membuat saya happy keujung tulang. Lalu menyibukan diri dengan melakukan hal yang saya suka. Ayo men... lakukan yang kamu suka, buat dirimu terinspirasi dan bisa menginspirasi orang lain untuk bergerak. Itu sih kekuatan energinya keren banget. Menggerakan orang lain. 

Tiba-tiba kemarin saya teringatkan kembali pada sebuah quote lama yang sudah pernah saya tuliskan di blog rasanya, bagi saya menulis itu adalah kelenjar. Artinya tanpa kelenjar kita tidak bisa hidup dan untuk saya tanpa menulis saya tidak bisa hidup. Kalau kelenjar kamu apa? 

PS. Ini tulisannya kadar sarkasmenya agak jenuh ya.  Hallo bagi pembaca baru kalau begitu. 

20.8.15

2 tahun yang lalu


Lucu ketika mendapatkan diri sendiri pernah patah hati sebegitunya hingga akhirnya bisa sok-sokan rekam lagu. Lalu sekarang didengarkan kembali sambil tertawa lucu sendiri. Heran. Betapa ternyata cinta bisa membuat orang jadi nelangsa kreatif gitu. Tapi enggak ah... saya gak mau sedih-sedih patah hati lagi. Sudah cukup. 

Eh tapi ya, betul deh kalau waktu itu memang menyembuhkan. Saat kamu yakin tidak bisa melewatinya. Namun ternyata hati punya mekanismenya sendiri untuk sembuh. Percayalah. 

Ya... meski belum menemukan yang baru dan masih takut-takut memulai yang baru, yakinlah suatu hari ketika semuanya tepat akan kembali lagi cinta yang baru. Entah kapan, ya kan?





4.8.15

Yang terpikir-pikir malam ini


Sudah bulan Agustus, pemirsa! Dan rasanya saya sudah tidak sabar menunggu Natal. Lima bulan lagi menuju Natal horeeee. Siapa yang tidak senang? Berbicara tentang menunggu suatu event besar. Kadang saya suka tersenyum sendiri ketika memikirkan beberapa kekhawatiran saya dan rasa gelisah saya. Bukankah itu aneh ketika kita begitu takut dengan masa depan yang tidak kita ketahui. Saya sering sekali mengalaminya, setiap hari saya berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi di akhir tahun ini apakah saya masih di Indonesia atau apakah saya masih melakukan apa yang saya lakukan sekarang?Atau mungkin bisa saja Tuhan sudah memanggil saya. Tidak ada yang tahu bukan?

Beberapa hari lalu sudah keluar jawaban besar yakni saya tidak diterima di universitas yang saya inginkan untuk melanjutka master. Saya mungkin sedikit kecewa namun pada dasarnya saya lega sekali karena saya tidak usah merasa khawatir lagi dan menunggu harap-harap cemas. Lucu sih ketika ternyata jalan masing-masing orang itu berbeda-beda tidak sama. Mungkin jalan kamu ke sana, namun belum tentu dengan saya. Begitu pula dengan saya, mungkin sukses saya di sini, dan tidak bisa diikuti oleh orang lain. Bukan rezeki katanya. 


Beda jalan


Kemarin ini saya bertemu dengan teman lama reunian dengan teman SMA. Tentunya di saat-saat ini temu kangen dengan teman SMA dan heboh asyik ngobrol ini itu lagi dan bertemu dengan guru-guru pokoknya mah seru. Lalu terlibatlah sebuah pembicaraan "Eh lo di mana sekarang? Sibuk apa?" Dan lucunya apa yang dijalani sekarang, jauuuuuuh sekali dari apa yang kita bayangkan saat SMA. Aduh tahu apa sih anak SMA kalau dipikir-pikir? 

Namun kembali lagi, seberapa pun jauhnya kamu melangkah sampai hari ini semata-mata karena rencana dan rancangan Tuhan dan jalannya pun berbeda, porsinya pun berbeda. Sehingga mengapa juga kita harus takut dan tidar berserah pada Nya?

Ada teman yang ketika saya ajak reunian berkata "Gue belom jadi apa-apa Met, apa yang mau dibanggain?" Lalu saya jadi berpikir apakah kita harus jadi apa-apa dulu baru bangga dengan diri sendiri? Memang kita harus jadi seperti apa dulu baru akhirnya bisa menerima diri sendiri? Saya tidak tahu sih. Memang harus ya kita jadi super, sukses dan jago ini itu? Bolehkah kalau kita bercita-cita menjadi jadi biasa-biasa saja yang luar biasa? Kenapa kita harus selalu dikhawatirkan dengan ke-apa-an kita bukan tentang siapa diri kita sendiri. Jikalau misalnya seorang 'saya' tidak punya ini itu, bukan siapa-siapa, tidak sekolah di tempat mentereng, biasa saja, lalu saya jadi bukan orang bahagia dan sukses?

Nah mulai berat

Jadi definisi sukses dan bahagia itu apa ya kalau begitu? Apakah dengan kita punya posisi tinggi di tempat kerja, dihormati (katanya), kaya sampai tujuh turunan, dan terkenal lalu kita akan bahagia? Saya rasa tidak ya. Lalu kita menjadi sukses? Sukses dalam apa dulu nih tolak ukurnya. Jadi  dua hal itu tidak bisa kita satukan. 

Sampai kemarin ada teman saya masuk profile di koran nasional karena karyanya dalam suatu bidang. Saya kaget sih lalu dengan nyinyirnya saya pun whatsapp teman saya " Lo coba baca deh, ini temen kita nih. Widihhh... keren amat yaa udah ke mana-mana, keren, sukses, terkenal, lha gue? Masih aja begini." Lalu teman saya ini dengan santainya berkata "Gue harap sih definisi sukses bukan cuman terkenal dan masuk koran nasional aja sih Met." Deg! Oh iya juga ya. Saya jadi ikutan berpikir akan hal tersebut. Definisi sukses salah satunya memang terkenal dan bisa masuk koran nasional tapi itu hanya salah satu saja, karena tolak ukur yang dipakai bisa berbeda-beda. 

Saya juga tidak paham betul apa yang saya inginkan dan definisi sukses saya sendiri apa, karena rasanya saya juga bingung dan masih mencari. Namun biarkanlah itu demikian adanya. Musti melewati proses toh menara Eiffel tidak dibangun dalam sehari seperti candi Prambanan kan ya? Jadi semua butuh proses untuk menjadi clear dan jelas arah tujuannya. Lalu seiring waktu saya harap saya bisa lebih hmmm.... bijak?


Bebas


Hari ini saat saya berangkat kerja, saya melihat  seorang ibu tukang sapu dan anaknya yang mau sekolah sedang berjalan bergandengan tangan. Si ibu dengan membawa sapu lidinya berjalan sambil mengobrol santai dengan anaknya. Lalu si anak pun berbicara sambil tersenyum pada si ibu. Figur sederhana yang juga seorang pekerja rendahan sama seperti saya, pergi bekerja untuk mencari sesuap nasi sama seperti saya, bekerja untuk diri sendiri dan demi orang yang dia sayang, sama seperti saya. 

Lalu saya berpikir, apabila benar definisi sukses dan bahagia sebegitu sempitnya pada menjadi terkenal, uang banyak, masuk koran nasional, kedudukan yang tinggi, lalu bagaimana dengan ibu tukang sapu ini? Apakah dia menjadi tidak sukses dan tidak bahagia? Saya rasa tidak. 

Mungkin saja dia lebih bahagia dan lebih sukses dari pada ukuran manusia. Karena sebenarnya harus kita tahu bahwa senang dan bahagia itu hal yang berbeda. Bisa saja seseorang itu senang namun belum tentu bahagia. Sejak kapan ya bahagia itu jadi susah sekali? Mungkin semenjak banyak ukuran yang dilekatkan padanya.

Lalu jikalau gelisah dan khawatir itu selalu ada, maka menjadi bahagia adalah suatu barang langka yang mahal harganya karena tidak terbeli dengan uang. Jadi masih berani mendefinisikan arti bahagia dan sukses? 


28.2.15

Syukur syukurin


Setelah sekian lama tidak ngeblog akhirnya ada waktu juga untuk duduk diam sejenak dan menguras otak, apa ya kiranya yang bisa saya tulis lagi? Terkadang kegiatan menulis itu tidak datang begitu saja namun  harus ada kajian lebih lanjut dan mood. Nah... terkadang mood inilah yang swing banget. Saya tahu sih, kalau penulis yang sebenar-benarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Namun saya kan amateur writer jadi cincai lah ya. Okesip.

Puas?

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir sendiri mengenai fenomena rasa syukur. Uooh... hell yea so deep. Iya. Saya sedang berpikir dengan keras, keras sekali menggunakan otak saya yang hanya seuprit ini. Kok susah ya untuk bersyukur atas segala apa yang kita miliki dan alami? Oh men, bunuh gue aja sob.  Seperti misalnya masih diberikan nafas setiap harinya, masih diberikan pekerjaan, berterima kasih atas orang-orang yang kita sayangi, makanan yang kita makan, rekan kerja, sahabat kita, atau rezeki kita. Rasanya susah sekali menghitung kebaikan-kebaikan yang ada dan yang terlihat hanya kekurangan-kekurangannya saja, kurang puas, kehidupan yang gini-gini aja, kisah cinta yang amit-amit dan sebagainya. Sehingga kesempatan untuk berdiam diri, tersenyum dan bersyukur itu jarang. Ih... capek tau bernegatif ria dengan pikiran-pikiran itu karena hanya menimbulkan masalah baru dan ujung-ujungnya sakit. 

Kebetulan saya ini tipe manusia yang nyebelin, saya ini manusia yang tidak pernah puas. Selalu harus ada goal yang harus saya kejar dan saya dapatkan, kalau saya gagal saya bisa penasaran setengah mati dan harus sampai ke sana. Terkadang capek juga ya seperti itu, apalagi kalau saya sudah mulai tidak sabaran dengan apa yang sedang saya jalani. Ih... rasanya ingin saya tinggalin. Bye. Namun ternyata hidup ini bukan perihal tinggal meninggalkan lalu melarikan diri namun seberapa kuatnya kamu bertahan sampai kamu dapat goal yang kamu mau. Ya gak sih? Sehingga dalam proses itu kamu harus memiliki rasa syukur. Karena rasa syukur ini adalah rasa positif untuk bisa bertahan. Percayalah. 

Bukan lihat ke bawah

Suatu hari saya ada training singkat melihat-lihat produksi di suatu pabrik, memperhatikan kondisi mesin seperti apa, pembuatan produksi seperti apa. Dan  ternyata pabrik itu seberisik, sepanas dan segerah itu. Seharusnya saya melihat-lihat bentuk dan cara produksi sebaik-baiknya namun ada satu hal yang mencuri perhatian saya. Saya merasa tergelitik dengan sebuah quote yang ditempel di dekat mesin produksi. Kira-kira bunyinya begini: Kalau tidak kerja, mau makan apa? Dan banyak sekali quote-quote serupa yang ditulis besar-besar beserta doa keselamatan kerja. Banyak loh orang di luar sana yang memang literally jika  tidak kerja bisa gak makan. Menurut saya makan itu kan salah satu kebutuhan pokok manusia dan ketika itu tidak terpenuhi manusia bisa mati. Lalu saya berpikir lagi, banyak manusia yang bekerja sebegitunya untuk menyambung hidupnya, kerja hingga larut malam dan bekerja penuh resiko keselamatan. Lalu tiba-tiba teman saya ada yang bisik-bisik ke saya "Gila, kita harusnya bersyukur sekali ya bisa kerja di gedung AC, dingin, duduk, selamat tidak perlu panas-panas di sini meski hati dan kuping panas banget diomelin melulu... haha". Deg. Lalu saya merasa kok ada yang aneh ya dengan pernyataan ini.

Harus ya kita bersyukur atas kehidupan kita yang lebih 'beruntung' dari mereka? Maksudnya mengapa dengan melihat ke bawah terlebih dahulu baru kita bisa sadar dengan apa yang sudah kita punya? Lalu kita baru bisa menikmati apa yang ada yang kita punya? Kenapa sih harus lihat ke bawah dulu dan seolah bersyukur kalo nasib kita tidak seperti mereka? Saya kok tidak setuju ya? 

Lalu kemarin saya iseng kepo melihat instagram orang lain. Orang ini posting foto dia dengan petani di daerah Tasikmalaya lalu captionnya seperti ini: "Kita harus bersyukur sekali karena gak bisa terbayang kalau kita harus kerja seperti mereka." Men....oh men. Lo ga salah, cuman dapet ginian doang jauh-jauh sebulan KKN ke Tasikmalaya lalu pulang mikirnya gini doang? Di situ saya merasa sedih. 

Bukan perbandingan

Saya tahu sih kalau saya bukan orang alim lurus ke depan, saya juga sering belok-belok, tapi menurut saya bersyukur itu maknanya jauuuuh lebih dari itu, lebih dalam lagi. Kita kerap kali bersyukur karena kita merasa lebih mujur dari mereka.Sampai kita lupa caranya bersyukur dan menerima apa yang saya punya yang sudah Tuhan berikan pada saya. 

Apakah benar kalau kita baru bisa bersyukur apabila melihat situasi orang lain lebih buruk dari kita dan kita berkata: "Aduh bersyukur sekali ya kita ga harus seperti mereka..." Saya rasa bukan bersyukur  model begini yang sesungguhnya. 

Hingga beberapa minggu yang lalu ada kotbah pastor yang menurt saya mengena di hati. Begini bunyinya, "Sudahkah saudara bersyukur dan menerima segala kesulitan dan tantangan yang Tuhan berikan pada anda dan bukan hanya bersyukur pada hari baik saja?"

Lalu dalam hati saya menjawab  "Eh.... please ya Romo kalau yang itu levelnya masih ketinggian. Belom nyampe saya. Tapi masih otw ke sana sih."  Malunya saya ini. Oh manusia. 


18.10.14

Konklusi Akhir Pekan

Saya sedang membaca sebuah buku judulnya The Happines Project. Saya mengambil buku itu untuk dibaca karena akhir-akhir ini saya bertekad untuk mengubah hidup saya. Sering kali saya merasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, tanpa akhirnya bisa belajar sesuatu dari situ. Lalu pada akhirnya saya berandai-andai, seandainya saya bisa berada di pantai, menikmati sunset, mendengarkan lagu yang saya suka, membaca buku dan menulis, hidup saya pasti akan lebih baik. Itu yang setiap kali saya pikirkan setiap kali saya duduk di bus menuju kantor. Jelas dengan pikiran ini saya sedang 'tidak bahagia'. Saya tidak menemukan hal yang menarik di hidup saya akhir-akhir ini. Semuanya mundane. 

Ketika saya masih kuliah, saya punya anggapan bahwa happines is a state of mind. Itu sesuatu yang ada di pikiran kita bukan apa yang kita punya. Semudah bahwa sebenarnya pikiran itu bisa diperdaya untuk merubah hidup. Jikalau saya terus menerus berpikir bahwa saya tidak suka dengan hidup sekarang yang saya jalani ini, maka saya akan terus terusan merasa bahwa saya tidak bahagia.

Lalu akhirnya, saya memilih untuk membaca buku The Happines Project ini. Saya meneropong bahwa kerap kali saya melewatkan 'syukur' untuk apa yang saya punya. Saya melewatkan bahwa saya memiliki hal lain yang sebenarnya bisa dikembangkan. Menyadari bahwa kita memiliki sesuatu yang bisa kita 'berdayakan' hingga akhirnya membuat kita jadi semangat.

Saya mempunyai project baru untuk hidup saya karena saya tidak ingin menjadi orang yang lesu dalam hidupnya lalu nanti dengan menghela nafas akan berkata 'Saya belum melakukan apa-apa untuk mimpi saya.' Ouch, tragedi.

Langkah awal untuk menciptakan sesuatu yang baru selalu tidak mudah. Dan saya lakukan mulai dari diri sendiri dan bisa kelihatan yakni memotong rambut. Oke, simple tapi saya sudah senang dipijat-pijat kepalanya dan mendapat potongan rambut yang lebih fresh. Semenyenangkan bau rambut yang wangi sehabis keramas. Saya sudah senang. Ternyata bahagia itu sederhana.

Melihat gambaran saya yang memang pada dasarnya cepat bosan, membuat saya harus extra keras mencari sesuatu yang baru agar saya lebih tertarik dengan hidup. Sebenarnya dengan demikian saya belajar untuk lebih mengenal diri sendiri dan menerima kalau saya mudah bosan. Jadi, saya harus lebih aktif dari orang lain. Eh, gitu gak sih?




24.8.14

Beda Frekuensi


Berkenalan dengan laki-laki yang membuat alis matamu mengangkat tinggi-tinggi itu benar-benar suatu pengalaman. Ternyata di luar sana masih ada saja laki-laki yang harus menjadi nomor satu dalam segala hal, bahwa dia keren ini itu,  dia pintar ini itu, gaji besar ini itu, dia pergi ke sana sini, dia adalah Don Juan dengan gadis-gadis yang mengandrunginya ini itu. Ouch. Saya sarankan lebih baik kamu ( maksud 'kamu' di sini adalah kamu sebagai perempuan yang malas berpura-pura menjadi bego untuk mengelus ego mereka) minggir. Aduh itu rasanya 'nggak banget'. Kamu berbicara dan mengobrol tapi pembicaraannya melulu tentang dia. Dia begini begitu. Seolah membuat monolog pribadi. Seolah kamu dan dia hanya bertukar omongan saja bukan bercakap-cakap. Astaga membosankan sekali.

Tapi perlulah juga kamu berkenalan dengan banyak laki-laki seperti ini sehingga kamu menjadi tahu pasti bahwa ada loh 'makhluk beginian'. Laki-laki ini melihat segala hal bisa dibeli dengan uang, termasuk cinta. Mungkin saja dengan pengalaman yang dia anut dari perempuan yang dia hadapi hampir semuanya begitu. Dan saya bosan sekali dengan laki-laki ini, jikalau merasa dengan begitu cinta perempuan bisa dibeli.  

Saya pikir mungkin laki-laki seperti ini seharusnya memang bersatu dengan perempuan yang juga menyukai jenis seperti ini, yang harus menjadi nomor satu dan maskulin di berbagai kesempatan. Dengan pandangan penuh kekaguman menatap dia. Lalu berpura-pura bego sehingga dia bisa memamerkan kepandaiannya. Hingga kebutuhannya adalah diakui saja keberadaannya. Bukannya sebenarnya dia pamer itu sebagai pertanda dia insecure? Seperti anak baru pubertas yang butuh pengakuan dari orang tuanya, bahwa saya sudah dewasa.

Akh. Bosan sekali. Mungkin setelah saya pikir, kita hanya beda frekuensi. Frekuensi kita terpisah mungkin saya AM dia FM, tidak ketemu ujungnya. Ganjil. Kalau kebutuhan saya sebagai perempuan tidak bisa tercukupi dengan gaya sok maskulin dan maunya jadi nomor satu di segala bidang itu. Saya tidak bisa. Saya tidak suka jikalau saya harus membodohi diri saya dan menyadari bahwa ketertarikan kita berbeda. Dia menyukai sesuatu yang glamorous, sesuatu yang bisa dibeli, sesuatu yang mudah dilihat, dan pembicaraan kita seputar cewek cowok saja. Aih... gue berasa arisan sama ibu-ibu jadinya.

Ketika yang dia bicarakan adalah barang branded sedangkan saya lebih tertarik pada issue petani kopi yang tidak mendapat penghidupan yang layak padahal orang Indonesia suka kopi. Lha... gak nyambung kan ya? 

Sampai suatu kali saya spontan berteriak
" Ah, ini kan lagunya Queen yang Bohemian Rhapsody!"
" ..." 
" Gila gue suka banget sama Queen, Beatles..." ujarku lagi.
" Oh... Beatles. Gue gak suka Beatles, lagunya kenceng banget buat gue." 
...
...
"Pulang yuk." ujarku kemudian.

Apakah saya gak salah dengar? Katanya Beatles lagunya kenceng?! Gimana kalau dia dengerin Lamb of God? Meledoos kali kupingnya. 





15.1.13

Evaluasi 2012 di Tepi Jendela

Hari libur pertama winter ini saya habisakan dengan berleha-leha, hibernasi, makan dan melakukan hobi-hobi saya yang tertinggal. Ibu saya sedari kemarin sudah cerewet bertanya: liburan winter ini mau ke mana? Mau travel ke mana? Dan jawaban saya adalah jeng jeng jeng : saya sedang tidak ingin ke mana-mana. Mungkin karena saya capek dan sudah hutang tidur sedari awal semester ini, sedari september 2012 sampai akhir final exams kemarin. Saya mau tidur santai, bernafas dan ansos dengan dunia sekitar. Saya mau membaca buku sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, nonton film sebanyak-banyaknya dan belajar ukulele. Sehingga munculah moto liburan winter kali ini yakni: Make it simple! 


Rasanya selama semester kemarin ini saya udah kayak budak ilmu yang kerja rodi terus-terusan. Semester kemarin udah kayak masuk ke medan perang yang sadis kejam dan saya sebagai prajurit mengemban tugas maha berat : skripsi dan sidang. Oh man! Untungnya sampai sekarang ini saya masih bisa hidup yah, masih bisa survive meski di akhir peperangan ini saya jadi agak kucel-kucel dan pilek. Di luar perjuangan itu saya berjuta-juta terima kasih kepada Tuhan karena tanpa Dia pasti saya tidak bisa menjadi saya yang sekarang. Bahwa kini saya semakin sadar betul bahwa manusia itu butuh sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat dari dirinya sendiri.


Tadinya saya mau menuliskan sejembreng ( bahasa indonesia macam apa ini haha) list resolusi. Semakin saya pikir, saya kaji kayaknya tahun 2013 ini saya mandeg di tengah penulisan resolusi. Pada akhirnya saya tidak jadi membuat resolusi karena pada akhirnya itu hanya menjadi slogan di tembok-tembok saja. Ya memang tidak ada salahnya juga sih punya suatu resolusi yang bisa digenggam terus menerus sampai akhir tahun 2013. Namun sepertinya saya cukup malas untuk terus menerus hidup dengan resolusi, akhinya saya menutuskan untuk menjalani tahun 2013 ini dengan polos-polos saja dan menyerahkan semua usaha dan perjuangan saya pada Tuhan. Bukan menyerah tapi berpasrah dengan segenap usaha yang maksimal. Berpasrah bahwa rencana Tuhan pasti lebih baik dan tepat waktunya. Saya pun belajar bahwa saya hidup di dunia ini karen Tuhan punya suatu misi dan itu tugas saya untuk mencari dan melakukan misi itu.

22 tahun
Berganti umur menjadi 22 tahun itu rasanya biasa saja. Hanya saja saya semakin merasa bahwa 6 bulan ke depan saya sudah lulus kuliah dan harus mulai mencari kerjaan. Ternyata kini tibalah saatnya saya harus mencari pekerjaan. Ternyata tibalah giliran saya memilih dan 'nyemplung' ke dunia kerja. Sejujurnya itu menakutkan dan membuat ngeri masuk ke dunia orang dewasa di mana saya harus menjual skill dan otak selama hampir setengah umur saya dihabiskan untuk belajar. Celaka 12 ini rasanya! Tapi cepat atau lambat semua orang pun akan berjalan ke arah sana dan melanjutkan hidupnya. Usia 22 tahun ini berarti saya tetap menjadi Metta dalam versi yang lebih dewasa. Namun tetap saya menjadi  Metta yang pecicilan dan suara ketawa yang seharusnya saya rem sedikit agar agak lady-like. 


Kebahagiaan
Saya belajar banyak tentang rasa bahagia di 2012 ini, Kebahagiaan itu datangnya dari diri sendiri bukan dari orang lain. Bahagia karena apa yang kita punya, bukan pada apa yang tidak kita punya. Tidak seharusnya kita menitipkan rasa bahagia kita pada orang lain. Tidak ada yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita kecuali diri kita sendiri. Kadang kita menganggap bahwa kita perlu seseorang di samping kita agar kita menjadi bahagia, padahal dengan menjadi pribadi yang bebas, utuh tidak kekurangan, bersyukur dengan apa yang kita punya, puas dengan relasi diri kita dan Tuhan, dan berada di tengah orang-orang yang tetap setia di sekitar kita, itulah bahagia. Kebahagiaan itu relatif, dari sudut pandang mana kita mau melihat.

Jangan berharap lebih
When you least expect it, something great will come along, something better then you ever expect it.
Menurutku untuk menjaga hati dari rasa kecewa, kita jangan berharap terlalu banyak karena apa yang kita harapkan malah menjadi standard tinggi di benak kita padhal realita yang ada belum tentu sesuai prediksi kita. Hidup kita itu tidak selamanya bisa sesuai dengan plan kita, dia berjalan sesuai dengan porosnya dan bukan kita yang mengendalikan namun tetap kita punya andil yang besar atas hidup kita. Jangan berharap lebih, tetaplah berdiri di realitas dan tidak perlu over-thinking. Kalau kata orang sunda: sekasampeurna. Kalo ada ya...hayuuk, kalo nggak ada yaa...gak papa.

Dia hanya sejauh doa
Terkadang saya suka menyepelekan kekuatan doa, bahwa sebenarnya doa itu penting dalam hidup kita, itu bagaikan sebuah energi positif yang sebenarnya kita bangun di dalam hati kita lalu menyambung relasi dengan Tuhan. Saya setuju sekali dengan kotbah pastur filipin di katedral, beliau berkata: "Apa yang saya rasakan dan saya alami dalam kehidupan sehari-hari itu sebagai tolak ukur relasi saya dengan Tuhan, sudahkah saya berdoa dan berbicara dengan-Nya?" Jikalau saya terus menerus merasa gelisah, kesal dan emosional, mungkin itu tandanya relasi saya dengan Tuhan sedang kendor. Gilak! Saya standing applause buat si romo filipin ini! Seperti sebuah quote yang kini saya tempel di diary: Prayer is the cure for a lost soul, confused mind and a broken heart. 


Cinta
Untuk yang satu ini saya juga belajar buanyaaaaaaakkkk sekali. Seperti di lagu Ost. Arisan: "Cinta bisa datang kapan saja, biasanya dia hadir tiba-tiba lalu semua berubah, hati ini menjadi resah." Intinya cinta itu datang dalam situasi yang tak terduga. Mau kamu punya segudang tipe-tipe pilihan pasangan yang kamu mau tapi selalu ada exception buat cinta. Dan list tipe-tipe pasangan itu sekedar hanya kertas belaka layaknya daftar belanjaan bulanan karena hati yang dipilih bukan memilih.

Menurut saya cinta itu bikin semua hati jadi rapuh, galau, cengeng, gelisah terus jadi lembut. Mau badan model Ade Ray juga sama aja, kalau jatuh cinta, hati doi juga pasti berubah selembut hati Hello Kitty. Yakin saya! Karena hati yang berubah menjadi fragile dan cengeng itu menjadi sebuah tantangan berat buat kita. Beranikah kita mengambil segala resiko untuk memberikannya pada orang lain yang kita cinta. Ya...memang susah karena artinya kita harus  meruntuhkan tembok dan segala pengaman hati kita itu lalu mempercayakan pada orang lain yang mungkin belum tentu juga punya perasaan yang kembar dengan kita.

Seperti penyanyi dangdut Meggi Z. di lagunya yang berjudul Jatuh Bangun: "Percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang, percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara." Jadi pendek katanya dalam urusan cinta percintaan ini kita dituntut untuk mengambil resiko sebesar mungkin, apakah kita berani-seberani-beraninya orang berani atau tidak? Apakah cinta ini layak untuk diperjuangkan atau tidak? Coba kita lihat diri kita 20 tahun lagi apakah kita akan menyesal dengan apa yang kita putuskan sekarang? Coba pikir baik-baik.

Ketika misalnya kita sudah berusaha dan mengambil resiko dan ternyata gagal maning, gagal maning. Jangan panik dulu karena setiap usaha yang sudah kita lakukan ini suatu hari pasti akan berbalik ke kita. If something bound to happen, it will happen. Right time, right person and for the best reason!










Semangat yah untuk 2013!!




30.12.12

Fotonya Dijual Terpisah

Hari ini aku ulang tahun ke 19 ahahahah boong deng. Aku ulang tahun ke-22 astaganaga angka kembar hehe moga-moga aku makin dewasa gak pecicilan loncat ke sana ke sini lagi yah :D :D

Hari ini aku dapet email dari Aga judunya: Fotonya Dijual Terpisah , dia kasih aku foto-foto unyu sekali haha ga nyangka mukaku bego bikin jijik gitu yah gemes dah. Kenapa bisa sih kelakuan kayak gitu *facepalm*  

Aga makasih banget yah fotonya i love it so much! AAAAAAAAAAAAAA cium-cium-cium sini Aga agaaaaaaa!! Pesan buat aga: moga-moga lu gak nyesel yah punya kakak kece-cantik-mempesona kayak gua :D

Sebenernya ini tuh foto model 9gag tau gak sih? Tapi gara2 gak bisa di upload di FB jadinya bentuknya mini-mini. Jadi aku taro terpisah di blogku yah. Moga-moga orang yang liat gak ayan apa kejang-kejang terus ilfil sama aku hihihi :D :D
























***

Aga dan Metta 

 Cita-cita  aga dulu jadi tukang ojek


Kaohsiung-Jatinangor 



Aga dan Abhimanyu



new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...