Showing posts with label explode. Show all posts
Showing posts with label explode. Show all posts

27.10.14

Tol Serang-Serpong Kilometer 35


Tol Serang-Serpong Kilometer 35
pic: fotosendiridongehbuset

Memandang pemandangan jendela di luar, seraya sayup terdengar band indie Alvin and I yang lyric nya penuh sirat makna. ' Ada hal yang tidak akan terdengar, kemampuan dalam berbicara. Terpadu dalam cairan, cair dan emosi. Kita pasti pernah bersuara, kita pasti pernah bersandiwara, pasti pernah bersuara... dalam emosi.'

Ada sebuah janji dalam hati bahwa saya akan mengikuti hati saya sendiri. Saya berjanji kalau ternyata ada suatu panggilan yang menggugah dan tidak bisa saya abaikan begitu saja. Panggilan itu di mana-mana, berbisik-bisik, menggelitik hati dan mencair dalam waktu. 

Ada yang tertinggal untuk dibicarakan, ada yang tertinggal untuk didengar. Kata hati. Dia sifatnya cair dan mengalir sesuai wadah. Menyesuaikan tempat. Namun sesuai dengan sifat air yang bisa bergejolak, ternyata ada gelombang pasang yang bisa sewaktu-waktu datang. Dan giliran saya sekarang. Gelombang saya sedang besar. Ternyata menutupi kata hati itu tidak mudah. Ada banyak pertahanan yang harus tinggal. Ada sebuah bendungan yang sewaktu-waktu akan meledak. Entah kapan.

Ada sandiwara yang harus dilakoni terlebih dahulu sebelum pada akhirnya bisa menjadi diri sendiri dan terbang dengan sayap sendiri. Ada yang harus dilakukan sampai tuntas terlebih dahulu, demi bisa mendapatkan tujuan di seberang pulau. Ada jalan memutar untuk sampai pada tempat yang sebenarnya. Bukan salah jalan, hanya memang untuk menemukan jalan kita harus tersesat. 

Saya sedang tersesat sekarang. Ada kabut tipis di depan mata saya yang kadang menebal, kadang menipis. Adalah tugas saya meraba-raba dalam gelap dan mencoba-coba. Ada pedoman pasti, mercusuar saya yakni kata hati. Harus diikuti setiap langkahnya. Saya harus bersabar dalam kehilangan arah ini. 

Ada scene hidup yang tidak bisa di-skip atau dipercepat pergerakannya. Ada proses di sana. Ada pertumbuhan di sana. Ada kebijaksanaan di sana. Ada kedewasaan di sana. Dan ternyata menjadi dewasa itu tidak mudah. Ada cerita dibalik seseorang dalam mencari jati diri dan cita-citanya. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi. Entah saya akan sampai ke sana atau tidak. Atau mungkin bisa saja mati muda. Tidak pernah ada yang tahu umur seseorang kan?

Tidak harus ada yang harus ditakutkan. Mungkin begini penziarahan hidup manusia di dunia ini. Bukankah seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad di buku favorite saya Tuhan & Hal-Hal yang Tidak Selesai: Artinya Ia tidak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.”

***

Saya harus tidur.
Besok saya harus bangun pagi dan bersandiwara lagi.
Sampai akhirnya saya jadi diri sendiri.
Selamat malam, damai sejahtera untuk kalian, pengejar mimpi.
Kurangkul dan kukecup kalian dengan sepenuh hati.
Teman seperjalanan, ikuti kata hati. 






14.8.14

Sebuah tulisan di awal umur 20 tahun(an)

Ada suatu desakan dari kepala saya untuk menuliskan sebuah uneg-uneg di kepala saya. Dan saya yakin desakan tersebut adalah sebuah energi baik untuk menulis. Yeah! Selamat datang kembali, untuk saya setelah beberapa waktu ini bertapa dengan pemikiran sendiri. Sudah waktunya, sudah tiba waktunya kegelisahan saya ini dibagikan. 

Akhir-akhir ini saya gelisah. Saya berpikir (lagi) tentang hidup, tetang passion, tentang arti diri sendiri, tentang jati diri. Apakah saya ini terlalu melankolis? Saya rasa tidak. Kebetulan banyak hal yang membuat saya tergelitik akhir-akhir ini. 

Passion

Ada sebuah tanda tanya besar di depan mata saya dan saya yakin ini pertanyaan besar di usia awal umur 20 tahun(an). Dalam pencarian jalan masing-masing individu, pernah tidak sedikit pun dari kalian berpikir, selama ini sudahkah saya berjalan di jalan yang benar? Sudahkah saya mengetahui apa yang saya mau? Sudahkah saya memakai seluruh talenta yang sudah Tuhan berikan pada saya? Sudahkan saya menjadi berkat untuk sekitar saya? JEDAR!

Lalu saya melihat sekitar saya, pada akhirnya berhenti dan akhirnya menerima apa yang hidup berikan pada kita. Sebenarnya saya belum sampai pada pemahaman menerima. Bagaimana mungkin kita disuruh mengejar passion kita, namun di lain pihak kita harus menerima apa yang kita punya sekarang? Ketika kita mengejar passion artinya sesuatu itu harus kita raih, kita berjuang gigih untuk mencapainya, sedangkan menerima maksudnya ya...menerima keadaan ini. Saya tidak melihat sinkronisasi pada dua hal tersebut. 

Di tengah pembicaraan ngalor ngidul dengan seorang teman lalu tersesat bersama di pemikiran awal dua puluh(an) ini, kami berdua pada akhirnya mengambil sebuah pemikiran bahwa untuk saat ini mengejar passion dan menjadi egois karenanya kita belum bisa. Lalu terlontar sebuah statement: "Met, lo mau idup, Met? Menurut gue screw your passion! Passion gak bisa kasih makan elo!" Lalu saya mengangguk-ngangguk dan tertawa terbahak-bahak. Namun tetap ada sebuah celah barang secuil di hati yang menyangkal hal tersebut, di hati kita berdua tetap pada akhirnya berbisik begini, mengutip quote Oprah Winfrey " You should do what you must do, until that you can do what you wanna do." 

Mungkin beginilah jalannya bahwa saya dan kamu (yang juga di awal umur 20(an)) harus berdarah-darah dulu baru dengan sesuatu yang mungkin jauuuh dari passion kita, namun pada akhirnya kita akan memenuhi panggilan hidup kita masing-masing untuk mewujudkan passion kita itu. Entah pada akhirnya kita akan sampai ke sana atau tidak, kita tidak pernah tahu kan? Istilahnya kita melakukan de tour dulu, berjalan memutar untuk pada akhirnya sampai ke jalan sebenarnya. Mungkin begitu.

Selain itu menurut Soe Hok Gie (saya juga nge-fans sekali dengan Soe Hok Gie, seorang penulis dan aktivis cerdas kritis), dia berkata begini: " Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah."  Memang ada harga yang harus dibayar untuk kita bisa menuju sesuatu yang berharga dan sesuatu yang berharga itu tidak ada short cutnya, tidak ada jalan mudahnya. 

Cinta

Saya akhir-akhir ini bukan simpatisan cinta. Kembali lagi bahwa semua kesimpulan seseorang berasal dari pengalaman. Dan saya adalah orang yang mudah membuat kesimpulan. Hati saya sudah bosan dan pengap sekali dengan ini. Saya mau jadi apatis. 

Lalu kemudian beberapa hari ini saya menemukan sebuah artikel menarik tentang ini, dalam artikel tersebut ditulis bahwa ada saatnya orang datang dan pergi dalam hidup kamu dan mereka sebenarnya membawa pesan. Namun dalam proses tersebut kamu jadi tidak mengerti cinta itu apa, lalu kamu tidak percaya cinta. Mungkin proses itu membingungkan. Dan lebih membingungkan jikalau kamu ada di dalamnya.

Saya rasa saya sedang capek saja dengan yang satu ini. Bahwa bukan perkara mudah menitipkan hati pada orang lain. Bukan perkara mudah memulai dari awal berkenalan dan merasa nyaman lagi dengan seseorang. Bukan perkara mudah menemukan seseorang yang satu frekuensi dengan kamu. Auk ah. Bodo amat. 

Bahagia

Dan kamu semakin sadar bahwa semakin dewasa, definisi bahagia semakin pelik.


Tapi di atas semua itu, saya suka bahwa saya semakin dewasa, saya suka menjadi dewasa. Karena dewasa itu sexy. Dan saya tidak sabar melihat keindahan lainnya dan mengamati diam-diam. Lalu menulis. 



Pic: Google
Ini Banda Neira. Saya mau ke sana. Suatu hari.







*P.S. Kali ini saya tidak mau membuat kesimpulan dan menjawab pertanyaan dari isi kepala saya. Selain karena jawabannya masih ambigu dan amburadul namun juga saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan jawaban, namun melahirkan pertanyaan baru juga adalah jawaban. 






17.1.12

Pesta Demokrasi di Taiwan



Selamat datang liburan winter :)) Semester 5 sudah lewat dengan berbagai kesan dan pelajaran baru. Jatuh bangun sudah biasa dan tak perlu dikatakan lagi. Sudah menjadi bagian dalam hidup. Di liburan winter ini adalah waktu untuk 'memberuangkan diri sendiri' hibernasi hingga siang dan melakukan kegiatan menyenangkan yang tidak bisa dilakukan saat hari-hari produktif sekolah.

Pagi ini aku bangun siang lalu mulai melanjutkan kegiatan 'aktif' dengan laptop. Lagu untuk pagi mendung ini adalah Frank Sinatra- I've got you under my skin. Di kota tempat tinggalku di Taiwan, Kaohsiung, musim winter tidak terlalu dingin hanya sekitar 22 derajat-13 derajat itupun kalau malam. Masih bisa pakai tank top dan celana pendek dengan lutut kedinginan.

Mungkin kalian juga tahu selentingan berita pemilihan presiden di Taiwan. Jadi di Taiwan itu mengadakan pemilihan presiden setiap 4 tahun sekali. Kali ini kandidatnya adalah presiden lama, Ma Ying Jiu, (馬英九) berasal dari Partai Kuomintang atau Chinese Nasionalist Party (biru) , Tsai Ying Wen ( 蔡英文) berasal dari Democratic Progressive Party (hijau) dan terakhir adalah James Soong Chu Yu berasal dari partai biru juga. Dari ketiga kandidat ini keluarlah Ma Ying Jiu (presiden lama) dan Tsai Ying Wen yang menjadi jagoan. 

Ma Ying Jiu yang berasal dari partai biru, beliau menggunakan kebijakan bersahabat 'jalinan kasih' dengan China dan menggunkan jalur rundingan untuk bidang ekonomi, perdagangan dan bisnis dengan China. Sedangkan Tsai Ying Wen, apabila beliau naik jadi presiden makan beliau adalah presiden perempuan pertama di Taiwan. Bisa dibilang beliau mempunyai pandangan yang berbeda dengan Ma Ying Jiu. Tsai Ying Wen membuka prespektif baru mengenai hubungan Taiwan dan China. Beliau melihat bahwa Taiwan harus mandiri dari berbagai segi dengan China sehingga Taiwan bisa lepas dari China dan mendapatkan kedaulatan negaranya sendiri tidak hanya menjadi parasit dari China.

Bisa dibayangkan kalau ini merupakan pemilihan presiden yang benar-benar menentukan sebuah nasib bangsa. Dilihat dar visi misi mereka saja sudah berbeda bahkan bertolak belakang. Benar-benar masa depan Taiwan dipertaruhkan dengan pemilihan presiden ini. 

Rakyat jelata

Teman Taiwan saya adalah pendukung Tsai Ying Wen karena menurutnya Ma Ying Jiu terlalu memanjakan China dengan birokrasi bersahabat yang berbelit-belit dan sering kali menyudutkan Taiwan. Bahkan menurutnya Taiwan sudah bagaikan dijajah China karena begitu banyak warga China yang datang ke Taiwan untuk bekerja dan sekolah.

Dia merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Ma di tahun-tahun belakangan ini karena menjalin hubungan kerja sama baik ekonomi, politik dan pendidikan dengan China. Banyak sekali pelajar dari China yang datang ke Taiwan untuk belajar, menurut Presiden Ma ini dilakukan mengingat pelajar China terkenal dengan sikap rajin dan pintar dalam pelajaran, jadi Presiden Ma berharap agar pelajar Taiwan bisa bersaing ketat dengan Pelajar China sehingga dalam bidang pendidikan pun mendapatkan stimulasi yang menguntungkan untuk Taiwan.

Terdapat perbedaan yang signfikan di masyarakat Taiwan saat mereka memilih presiden untuk negara mereka. Mereka begitu bersemangat untuk memilih presiden. Itulah satu kesan yang bisa kubaca. Sampai-sampai menjadi sebuah pembicaraan hot di kelas siapa menjagokan siapa. Kebetulan di kotaku, Kaohsiung, mereka memilih Tsai Ying Wen, kebetulan pendukung Tsai Ying Wen berada di bagian selatan dan pendukung Ma Ying Jiu berada di daerah utara. Sempat terdengar kabar burung bahwa saat-saat pemilihan ini akan menjadi hari-hari yang agak menakutkan di Taiwan. 

Pandangan Anak Imigran 

Sebagai anak imigran di Taiwan, aku cukup terkejut dengan fakta pemilihan presiden di Taiwan ini. Aku merasa terdapat perbedaan yang cukup jelas terpampang pemilihan presiden di Taiwan dan di Indonesia. Di Indonesia jujur aku tidaklah terlalu antusias untuk memilih presiden. Memilih yaaa...memang karena sudah dapat kartu coblos, kalau tidak dapat ya sudah ya tidak ada ruginya juga. Sedangkan di sini 200.000 orang Taiwan yang berada di luar negeri bela-belain pulang ke Taiwan, ke kampung halaman mereka untuk memilih presiden mereka. Dan aku mendengar kabar ini di berita hanya bisa 'nganga sampe bego'. Ada lagi berita di teve, ada seorang kakek berumur 80 tahun, berjalan menuju ke tempat pemilihan presiden dan karena badannya sudah tua renta, beliau tidak sengaja terjatuh dan terluka. Aduuuhh... please deh! Melihat berita seperti ini terkadang membuat aku tertampar pipi kiri dan kanan. Si kakek tua ini yang bisa dibilang sudah 'bau tanah' beliau masih peduli dengan kelangsungan negarnya, dengan masa depan negaranya! Gilaaaa bener hah! 

Betapa mereka begitu antusias dengan pemilihan presiden ini. Mereka seolah benar-benar mempunyai harapan yang nyata pada masa depan negaranya. Mereka berharap presiden baru mereka bisa membawa Taiwan ke 4 tahun ke depan yang lebih baik lagi, mereka berpartisipasi secara nyata dengan tujuan mulia. Generasi tua dan muda bersama-sama terlibat aktif dalam pemilihan. 

Aku terkadang jadi sedikit merasa malu dengan diriku sendiri yang sering merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Aku malu pada orang Taiwan, suatu bangsa yang meski kecil namun mereka berjuang dan peduli dengan kemajuan bangsanya. Aku malu karena aku muda dan belum bisa berbuat apa-apa untuk negaraku. Bahkan terkadang  sempat aku merasa rendah diri karena aku adalah orang Indonesia, karena negaraku Indonesia, negara yang kaya raya namun dikelola oleh orang-orang yang salah. Terkadang aku malu, menjelaskan pada mereka bahwa di Indonesia korupsi bukanlah hal yang aneh di badan pemerintahan, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya pada pemerintahnya sendiri. Bahwa kita kehilangan harapan dan kepedulian pada Indonesia. 

Cinta dan benci 

Seperti kata sebuah pepatah: cinta dan cinta itu beda tipis. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan rasaku untuk Indonesia. Aku cinta Indonesia. Sangat. Tapi di lain sisi aku juga benci. Benci dengan 'orang-orangnya' yang kadang menurutku sudah kehilangan pegangan moral dan berpikiran sempit. Meributkan hal-hal yang tidak penting, itu-itu saja. Haduh...ini malah sibuk meributkan pemugaran gedung yang sama sekali tidak rusak, bocor atau hampir rubuh. Pleaseee...deh bapak-bapak, ibu-ibu itu coba yah dilihat masih banyak orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, rumah reyot di pinggir kereta. Itu coba dananya disalurkan ke pendidikan atau ke mana deh yang bisa menyejahterakan bangsa kita ini. 

Aku iri dengan orang Taiwan yang bisa sebegitu optimis dengan kelanjutan bangsa dan mendukung pemerintahannya. Semua kandidat benar-benar meyakinkan dan dipercaya oleh rakyatnya. Apa lagi sih yang lebih berharga untuk seorang pemimpin selain dipercayai 100% oleh rakyatnya? Betapa kharisma dan karakter mereka 'menyedot' rakyat untuk terus mendukung mereka tanpa ragu. Aku juga ingin rasanya mempunyai pemimpin bangsa yang benar-benar bisa membawa kita, Indonesia ke stage yang lebih baik lagi. 

Aku merasa Indonesia, si bangsa besar, harus belajar banyak dari Taiwan yang bahkan wilayah kekuasaannya pun tidak sebesar Pulau Jawa, mereka yang masih harus berjuang melepaskan diri dari China dan mendapatkan pengakuan atas eksistensinya di depan mata dunia. Keantusiasan kita pada negara kita dan tanggung jawab para 'orang-orang besar di atas' agar bisa membawa Indonesia  ke masa yang stabil dan lebih baik lagi. 

Celetuk teman Indonesiaku yang sepertinya sudah terlanjur pesimis  dengan Indonesia: '' Mending  gue tinggal di luar ajalah. Cari penghidupan yang lebih baik. Kalo gue balik ke Indo dengan niat membangun bangsa...haduh..mereka yang 'di atas' aja geje padahal ada wewenang, gimana gue yang rakyat jelata, mau membangun Indonesia seorang diri. Matik aja gue!'' 


Malam ini aku sedang berpikir, jangan-jangan memang aku saja yah yang 'anget-anget taik ayam' sok nasionalisme, cinta Indonesia, tanpa melakukan tindakan yang sekiranya lebih dinilai aktif. Malu aku pada diriku sendiri. Hey,..aku orang muda Indonesia yang siap sedia berdiri buat Indonesia.  Tapi yang pasti malam ini aku kepanasan, ditengah udara dingin 19 derajat celcius di Taiwan.

Kalau kamu? 

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...