Showing posts with label dare to be different. Show all posts
Showing posts with label dare to be different. Show all posts

23.7.16

Daisy


Saya merasa beruntung sekali karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengetahui passion dan mimpinya. Mungkin memang belum gamblang bagaimana untuk bisa meraihnya, namun merekalah orang-orang gelisah yang memenuhi aplikasi komunikasi saya setiap hari. Merekalah orang-orang terkasih yang ingin mewujudkan impian mereka dan mengikuti kata hati. Saya sangat bersyukur sekali. Dengan begitu maka saya memiliki reminder hidup yang akan mengingatkan saya untuk terus berada di track saya. Tidak mencong sana sini. 

Orang-orang terdekat dan juga saya sendiri nampaknya seperti orang bingung yang mencari-cari celah untuk bisa mewujudkan mimpi masing-masing. Dan lalu gemetar sendiri dengan mimpinya. Terkadang sesekali rembeslah air matanya karena ada rasa ketidakberdayaan untuk sampai ke sana. Segar betul di ingatan, Thesa sahabat saya pernah mengutip opini pacarnya begini: Kamu berada di jalan yang benar: meraih mimpimu, ketika begitu banyak halangan dan masalah menghadang, namun tetap kamu lakukan dengan sukacita. Iya.

Akan banyak hambatan dan halangan namun kamu akan berkata pada diri sendiri: Tenang, yang ini pasti berhasil, yang ini pasti bisa. Dan kamu akan memberikan diri sendiri satu kesempatan lagi dan tidak putus-putus berdoa. Saya tidak pernah mempunyai keinginan untuk seserius itu dalam menulis. Sedari dulu saya merasa menulis adalah hobi asyik yang saya tekuni lama. Namun pandangan berubah dan pengalaman bertambah, saya menjadikan hobi ini menjadi alter ego saya. Saya sibuk bekerja di siang hari dan saya sibuk menulis dan membaca di malam hari. Itu yang membuat saya hidup. 

Kembali lagi, menjalaninya bukan tanpa hambatan dan tantangan. Dari jam tubuh saya yang membutuhkan tidur tujuh-delapan jam hingga terkadang jam sembilan malam saya sudah seperti mumi. Memandangi layar laptop atau menekuni buku namun sumpah setengah mati saya ngantuk. Akhirnya lebih memilih waktu lain entah di jalan menuju kantor atau di pagi hari. Demikian juga dengan membaca, apabila tidak diselipkan, tidak akan ada waktu. Jadi membawa buku bacaan ke mana-mana dan duduk membaca seperti kutu buku adalah nama tengah saya. Itu tidak bisa ditawar lagi. 

Tiba-tiba akibat saya super kepo dan kejemawaan diri, sempat kemarin saya sedikit google diri saya sendiri dan menemukan ada karya saya di blog yang dicontek orang entah satu paragraf entah seluruh tulisan. Ini bukan yang pertama kalinya memang karena saya pernah merasakan tulisan liputan saya naik cetak namun yang ditulis bukan atas nama saya. Di tulisan itu saya seolah menjadi narasumber. Semua kata 'saya' diganti menjadi nama saya, seolah beliau yang menuliskan. Lalu beliau memberikan honor naik cetak pada saya. Dan beliau adalah wartawan suatu majalah besar, guru menulis saya. Sempat saya tidak mau menulis lama, tidak ingin menjadi penulis, tidak ingin menerbitkan karya sama sekali dan benar-benar berhenti menulis. Namun, suatu hari yang biasa tahun 2009 saya dikenalkan dunia blog dan saya kembali menulis. Inilah blog gadis payung kuning saya, yang dibuat dengan drama dan tangis haha. Mungkin kini saya ingin berterima kasih kepada beliau karena berkat beliau saya bisa memurnikan ketertarikan saya akan menulis. Kalau ini bukan sekedar menulis namun menelanjangi diri sendiri, membagikan perasaan, pengalaman, pemikiran pada pembaca tulisan.

Menemukan tulisan yang dicontek orang lain membuat saya berpikir, benar tidak ya menulis di blog ini sebagai medium menulis saya? Karena saya sebal sekali dicontek sana sini. Seolah mereka tidak mempunyai pabrik ide dalam otaknya. Seminggu ini saya berpikir banyak hal, hingga lelah sendiri dan tergerak untuk bertanya penulis lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Namun saya kelewat malu dan tidak enak hati. Saya tidak punya kenalan baik penulis untuk dimintai pendapat dan diskusi. Sedih.

Hal yang saya pelajari beberapa hari ini adalah pentingnya menyelami segala hal hingga tuntas. Tidak bisa kita menemukan sesuatu tanpa terjun lebih dalam mencari ke akarnya yang terujung. Mencari permulaan untuk bisa mengenali hasil. Bergerak masuk ke dalam dan mengenali semua sisi. Menurut saya ketika kita merasa penasaran akan satu hal upaya mengenal tidak hanya melulu mencari hal tersebut. Kita juga perlu melihat dari seberang pandang dan arah sebaliknya. Jadi tidak hanya satu sisi saja yang menjadi perhatian namun sisi sebaliknya pun bisa kita lihat dengan objektif.

Seminggu ini saya sedang merenung kalau manusia adalah pencipta. Dia pasti akan menciptakan hal-hal baru dan karya baru. Saya kembali meluncur ke akar untuk apa saya menulis? Saya ingin berbagi pada orang lain. Lalu saya tersadar bukankah ini yang sudah saya lakukan, berbagi? Meski misalnya tulisan dicontek. Bukankah itu sebuh resiko ketika karya diberikan ke publik maka dia akan menjadi milik publik. Mungkin ini salah satu wajah dari berbagi. Semoga saja tulisan saya tetap berjiwa yang sama sebagaimana saya hembuskan di setiap katanya, semoga saja tulisan itu berguna bagi orang lain. Semoga saja tulisan saya tumbuh subur meski di ladang yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto bunga di instagram milik teman SMA saya yang lembut, Vina namanya. Gambarnya adalah bunga daisy. Menurutnya bunga daisy adalah bunga yang tumbuh di tengah-tengah rumput dan sebagai penanda musim semi akan tiba. Saya suka bunga daisy dan arti dibaliknya. Mungkin dia tergolong bunga liar yang tumbuh dengan cerianya ditengah-tengah rumput hijau. Berkarya dalam dirinya semaksimal mungkin dengan segala keapaan dia yang bermakna. 

Bukankah kita juga adalah bunga-bunga liar dengan keinginan untuk bertumbuh? Yang mungkin mati diinjak atau dipetik, namun keesokan harinya akan keluar tunas muda sebagai harapan hidup? Bunga liar yang tidak takut tumbuh meski sekelilingnya adalah rerumputan,  meski banyak tangan jahil yang gemas, ingin petik lalu akhirnya dibuang. Namun dia tetap tumbuh secantik-cantiknya, memberikan semua yang dia punya, memaknai hidupnya dengan seluruh daya menjadi: bunga liar.

Saya dan kamu pasti memiliki mimpi dan passion masing-masing. Memiliki hal-hal yang disukai dan ingin digeluti. Lakukanlah. Apapun yang membuatmu sedih dan putus asa akan kamu lupa di beberapa tahun mendatang. Percayalah. Kamu hanya ingat pernah melewatinya dan mengingat rasanya, namun hatimu sudah bertumbuh lebih kuat lagi. Keputusasaan yang dirasakan di setiap jalannya atau mungkin orang-orang sekitar yang tidak mendukung pasti akan selalu ada. Itu tidak bisa dicegah. Semua kembali lagi pada diri sendiri yang menentukan. Kamu tidak akan pernah terlepas dari usaha dan perjuangan apapun itu.

Mimpi dan berkarya berjalan berdampingan. Membuat sesuatu artinya kamu telah melewati proses yang banyak untuk sampai pada penemuan. Salah satunya adalah pengalaman pribadi dan pemahamanmu akan suatu hal. Pengalaman yang mendewasakan. Semua bisa dicuri, namun segala kedalaman dan pemahaman tidak. Karya yang dibuat adalah kekasih hati, mungkin bukan yang terbagus dan terhebat. Tapi kamu sudah mengirim pesan kasih untuk hati lainnya yang membutuhkan. Karena kita semua terhubung.


pic: Vina. IG: jsvnw



23.2.13

Karena Lensa Mata Hati Kita Semua Berbeda




Rasanya saya sudah butuh beli kacamata atau contact lens. Penglihatan saya udah mulai siwer-siwer dari jauh, jadi kalau liat objek dari jarak jauh matanya harus minceng-minceng dan mengeluarkan mimik nyengir-nyengir aneh. Jelek? Oh... sudah biasa itu. 

Mengapa saya mulai menyerah dan butuh kacamata? Karena tulisan mandarin itu menyiksa mata dan batin saya. Sudah tulisannya kecil-kecil, jelimet lagi. Pokoknya saya mau menjadikan tulisan mandarin sebagai kambing hitam atas bertambahnya minus mata saya. Titik. Kini saya sudah mulai susah lihat orang dari jarak jauh dan baru sadar kalau ternyata ini orang sudah senyam-senyum dari jauh ke saya, namun saya cuekin. Kalau begini terus bisa membuat pergaulan saya jadi terhambat dan disangka sombong. Padahal saya mah ramah orangnya, suer deh! Belum lagi sering kali saya salah liat. Saya kira saya kenal eh taunya...enggak. Sebel kan? Terperdaya penglihatan sendiri? 

Halusinasi

Pada suatu malam saat sedang winter break, sesudah saya mandi dan bermain-main tak sengaja melihat jendela kamar. Lalu dari kejauhan saya melihat menara Eiffel. Cantik, anggun dengan lampu kemerlip kekuningan. Hati saya pun langsung nyess seketika, padahal jelas-jelas otak saya yang seuprit ini tahu bahwa keberadaan saya ini di Taiwan bukan di Paris. Dan di Taiwan sini tidak ada Eiffel, adanya Taipei 101 itu pun di Taipei bukan di Kaohsiung. Tapi entah mengapa saya suka sekali melihat ke luar jendela dan memandang 'lampu menara Eiffel' yang sebenarnya berwujud plang toko sepatu berwarna kuning.

Nyaris setiap malam setelah saya mandi saya berdiri sejenak untuk menikmati menara Eiffel jadi-jadian saya. Lalu suatu hari saya memberitahu roommate saya akan pemandangan menakjubkan itu. Namun jelas mereka tidak bisa melihatnya, jelas yang mereka lihat adalah plang toko sepatu berwarna kuning bukan menara Eiffel. Alhasil roommate saya bingung setengah mati dan berusaha mengerti dari mana letak sisi ke-menara-Eiffel-an-nya? Saya jelaskan berkali-kali dari setiap sisi sudut pandang tentang apa yang saya lihat. Tapi rasanya apa yang saya lihat jelas bukanlah apa yang dia lihat dari matanya. 

Jangan salahkan jikalau...

Lalu saya berpikir bahwa sebenarnya bukan salah saya atau salah roommate saya kalau ternyata sudut pandang kita berbeda. Apa yang dia lihat berupa wujud lain dan apa yang saya lihat adalah menara Eiffel. Tidak ada yang salah atau kurang kreatif, itu hanyalah sebuah 'penglihatan' masing-masing yang ternyata berbeda, bahwa mata saya minus sehingga penglihatan saya kurang awas sehingga saya bisa melihat 'yang lain'. 

Saya yakin sebenarnya itu juga sebuah awal di mana setiap orang punya sudut pandang dan pemikiran yang berbeda akan suatu hal. Jangan salahkan apabila seringkali kita berserbangan pendapat dengan orang lain di sekitar kita karena barang kali lensa mata yang mereka pakai berbeda. Jangan salahkan apabila lensa orang tersebut adalah lensa cembung sehingga apa yang dia lihat extra besar sehingga dia bisa melihat dengan detail dan rinci, jangan salahkan juga apabila lensa orang tersebut adalah lensa cekung jadi dia hanya lihat selewat saja, asal gembira, asal senang. 

Begitu juga dengan warna-warna lensa, ada orang yang punya lensa pelangi di matanya sehingga apa yang dia lihat warna warni, ada yang lensa matanya warna hitam sehingga apa yang dia lihat ya... berwarna hitam. Dan lucunya, kalau dua orang itu bertemu dan berdiskusi tentang suatu objek, misalnya bunga mawar lalu mereka mendeskripsikan bunga mawar itu. Si Lensa Pelangi pasti akan berkata: Mawar itu cantik sekali berwarna-warni seperti pelangi. Lalu Si Lensa Hitam berkata: Ah.... itu mawar sudah layu, warnanya hitam. Lalu gawatnya mereka bertengkar dan sibuk meyakinkan satu sama lain bahwa warna mawar itu berdasarkan apa yang dia lihat. Kan bego itu namanya! Wong Si Lensa Pelangi melihat mawar itu warna-warni dan Si Lensa Hitam melihat mawar itu hitam! Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar, hanya berbeda saja.

Beda Itu Tidak Jelek 

Sedari kita kecil, kita selalu takut untuk menjadi yang beda. Kita takut dengan menjadi beda maka kita tidak normal. Padahal sebenarnya sedari lahir saja kita sudah 'beda' tidak ada yang sama satu sama lain. Kita selalu ingin sama dengan orang lain agar kita terlihat normal. Begitu juga dengan pikiran dan perasaan. Kita ingin mempunyai pemikiran yang sama agar bisa diterima di masyarakat karena kebetulan masyarakat mempunyai pemikiran yang seragam sehingga jadi harmonis. Tapi kita kan tidak tinggal di negara komunis,  kita bebas, bebas bicara, bebas berpendapat, bebas berekspresi. Kenapa harus sama? Kenapa kita sangat takut dengan pluralitas? Karena takut terpecah-pecah? Eh.... belum tentu. Pluralisme itu indah, beragam, berbeda. Dan hal yang harus kita miliki adalah toleransi bahwa saya berbeda, kamu berbeda, kita berbeda dan kita semua menghargai perbedaan tersebut. Kebayang dong, kalau kita semua sama pasti dunia ini membosankan sekali!

Ketika kita berbeda-beda kita jadi bisa melihat banyak sudut pandang dari orang lain dan itu jelas bisa memperkaya kita menjadi manusia yang lebih baik lagi kan? Kita jadi mengetahui bahwa ada pemikiran gila dan rumit yang dimiliki oleh orang lain dan kita akan terkagum-kagun dengan pemikirn orang yang super simple sehingga hidup dia happy-go-lucky. Bawa perbedaan itu pembelajaran untuk kita menjadi terbuka dan maklum dengan sekitar. 

Kini saya mulai bersyukur dengan pengliatan saya yang rada siwer-siwer ini. Saya bisa melihat sesuatu yang indah yang belum tentu orang bisa lihat, saya bisa membodohi diri sendiri dengan melihat sesuai kemampuan mata saya, meski terkadang saya jadi nubruk-nubruk kalau jalan. Saya rasa saya butuh kacamata secepatnya. Tetep. 





21.8.12

Lip Service


Menurut thefreedictionary.com, lip service itu termasuk noun (kata benda) dengan arti: verbal expression of agreement or allegiance, unsupported by real conviction or action, atau kalau ditranslate bebas ke Bahasa Indonesia menjadi: keramahan di mulut saja alias NATO; No Action Talk Only. 

Awalnya, saya diperkenalkan dengan istilah lip service ini oleh bapak saya ketika memberikan wejangan bahwa menurutnya saya ini masih terlalu naif dan dungu dengan keadaan dunia luar yang katanya kejam. Bisa dibilang saya itu orang yang mudah percaya dengan bibir orang lain tanpa menyaring, apakah orang ini bisa dipercaya atau tidak. Padahal jika saya cukup pintar harusnya omongan orang itu dikaji terlebih dahulu baru diterima. Nyatanya saya ini kok ya... bebal otak ber-IQ jongkok sehingga apa yang saya lihat dan dengar, ya saya terima apa adanya tanpa pertahanan.

Baca Hati

Beberapa waktu lalu saya membuat janji dengan teman lama untuk bertemu dan melepas kangen, setelah satu tahun tidak bersua. Waktu sudah ditentukan dan cocok, tempat sudah dipesan. Harusnya beres dong, tidak ada halangan, tinggal bertemu, duduk santai dan ngegosip. Simple dan mudah. Namun sayang, saya ini tidak terlalu memperhatikan apakah teman lama saya ini mempunyai hati yang tulus dan niat yang sama dengan saya untuk saling temu kangen. Kenyataannya didalam hatinya, keinginan kami untuk bertemu itu timpang sebelah.

Di hari H kita bertemu, tiba-tiba saja dia pergi ada janji lain dan mengundur jam pertemuan jadi agak malam, lalu ternyata dia pun memberikan alasan lain bahwa pagi harinya dia sudah ada janji dengan orang lain. Intinya pertemuan kami gagal dan saya jadi sadar mungkin sebenarnya dari jauh hari kita sudah tidak 'klik' lagi. 

Kenapa juga yah saya sebagai teman lama kurang peka dengan perubahan dan gerak gerik teman lama ini? Toh satu tahun kami nyaris bisa dihitung jari saat-saat kami chatting dan ngobrol. Pada akhirnya saya baru tersadar bahwa terkadang ada beberapa hal yang orang lain tidak bisa ungkapkan dengan verbal. Ternyata tak peduli seberapa pun kita mengenal orang tersebut, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan rasakan.

Seperti sebuah pepatah: Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu. Ternyata banyak orang, termasuk saya, melakukan sikap ini, perbuatan dan kata hati yang beda jauh. Bisa jadi wajah tersenyum namun hati menaruh yang tidak-tidak.

Mari menolak

Manusia mana sih yang sanggup menerima penolakan dengan lapang dada dan langsung ikhlas? Pasti saja kita harus dihadapkan dengan perasaan sedih, tidak siap dan mungkin kalau lebay gaungnya bisa berhari-hari. Maka itu, ada beberapa orang yang tidak tega untuk menolak orang lain dan akhirnya lip service alias manis dimulut  pun dilancarkan. 

Kenapa juga yah kita harus tidak enakkan menolak sesuatu yang tidak kita suka atau tidak sanggup untuk kita lakukan? Untuk apa membebani hati yang sudah enggan? Hingga akhirnya kita terpaksa tidak jujur pada diri sendiri, mending  kalau kita melakukannya, lha kalau malah hanya lip service, bermanis-manis di mulut namun ngomong ora tekan ati, tidak tulus. Apa berkatnya, apa untungnya?

Apa susahnya menolak sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak sanggup untuk dikerjakan? Toh kita punya mulut untuk berbicara tentang hati dan pikiran kita, mengapa tidak digunakan sesuai fungsinya? Apabila takut dicap orang lain sebagai orang yang tidak sopan dan frontal, toh pada akhirnya orang lain akan melabeli diri kita ini dengan penilaian mereka sendiri. Hari gini masih dengerin kata orang, apa gak capek tuh? 

Padahal mungkin orang yang menjadi target penolakan kita itu tidak keberatan apabila kita beri tahu dari awal akan pemikiran dan alasan kita sendiri. Sehingga dua belah pihak sama-sama enak, komunikasi lancar tanpa ada modus ini itu. 

Apabila kita terus menerus melakukan praktik lip service ini, tidak ada bedanya dong kita dengan koruptor penebar janji manis palsu. Mungkin kalau  sinetron Hidayah masih ada, niscaya pasti kalau mati mayatnya nanti digerogoti belatung, bibirnya dower lalu arwahnya dimasukan ke neraka yang penuh kretak gigi. Amit-amit yee bo! 

Maka itu pada malam harinya saya jadi mikir, jangan-jangan sebenarnya saya ini juga sering melakukan praktik lip service itu, berkoar sana sini sampai mulut berbusa, meracau tak jelas persis wong edan. Masalah klasik yah? 

23.7.12

Pribadi Kondang

Seorang teman menulis di twitter: " Suatu hari nanti aku pasti akan menjadi seperti si X (temannya juga) dengan berbagai achievements yang dia gapai!" Aku yang sedang asik leha-leha di kursiku sampai terjungkal cekikian sendiri di kursi, untungnya aku bisa duduk kembali .  Aku mengerti sekali kegalauan dan ambisinya. Namun jauh sekali di hatiku berkata, kenapa juga kali musti menyamakan diri dengan orang lain untuk menjamin kesuksesan  masa depan? Jenis kulit aja beda-beda, ada yang mulus, ada yang bopeng-bopeng, ada yang jerawatan, bagaimana dengan nasib?

Memang susah jadi diri sendiri 

Dunia ini terlalu kejam untuk kita berdiri tegak jadi diri sendiri. Untuk kita jadi apa yang adalah pribadi kita. Sepertinya lingkungan sekitar kita terlalu banyak berharap ini itu pada kita, berharap agar kadar sukses kita seperti cara padang mereka. Berharap agar penampilan kita bisa sekece yang mereka lihat di media, padahal mereka juga kena photoshop sono sini.

Lingkungan kita tidak mau menerima diri kita apa adanya karena mereka juga diperlakukan hal yang sama seperti itu. Jadi bisa kita lihat dong betapa susahnya seorang pribadi untuk jadi dirinya sendiri seutuhnya. Memang terkadang kita harus menulikan telinga kita, pura-pura budeg.

Memang seberapa jeleknya  kita untuk bisa menjadi diri sendiri? Apakah se-out of date itu yah untuk jadi diri sendiri, dengan gaya, mode, pemikiran sendiri? Kenapa juga sih harus malu untuk menunjukan jati diri kita yang sejati. Apakah kita tidak capek untuk berpura-pura menjadi diri orang lain? Kenapa sih kita musti ikut pemikiran orang lain dan menjadi ideal untuk orang lain? Kenapa kita tidak bisa dengan bangganya mempersembahkan apa yang kita punya, apa yang Tuhan kasih tanpa mesti rubah sana sini?

Pentingkah jadi kondang? 

Ya...ya aku juga tahu kalo yang satu ini pasti banyak yang mau. Ya nggak, ya nggak? Manjadi seseorang yang dikenal atau pribadi kondang, yang terkenal di kanan kiri, punya teman segudang, punya teman facebook ratusan atau ribuan, yang tersohor akan keahlian atau kemampuannya, yang status facebooknya dilike ratusan ribu orang (lebay haha) atau mungkin yang mendapatkan penghargaan ini itu. Siapa yang tidak ingin, coba?  Pasti ada deh orang diluar sana atau mungkin kamu sendiri yang sedang membaca tulisanku ingin atau sudah seperti itu. Hey, tidak usah tersindir lagi, tidak dosa kok dan tidak salah juga :) Itu adalah sebuah achievement hebat, yang terkadang memang harus kita dapatkan sebagai sebuah penghargaan untuk diri kita sendiri dan merasakan bahwa hidup ini benar-benar hidup. Seperti yang kubaca di majalah-majalah kalau ambisi dan rasa percaya diri itu suatu sex appeal, sesuatu yang seksi. Misalnya kita melihat orang yang benar-benar punya passion untuk suatu hal pasti kita akan melihat energi positif dari diri dia dan matanya pasti berkilat-kilat penuh semangat. Ketika ambisi dan passion itu berasal dari diri sendiri tanpa ada embel apa-apa itu yang jadi murni dan sejati. 

Lain halnya kalau ingin jadi kondang dan dia berusaha untuk menjadi orang lain agar orang lain 'suka' dan merasa dia asik. Nah.. Ini dia masalahnya! Kita menukar diri kita sendiri untuk menjadi seseorang yang bukan kita. Sekarang pertanyaan besarnya adalah mau sampai kapan kita mengikuti orang lain terus dan berusaha untuk bisa sama menjadi mereka-mereka yang kondang? Buat apa, mamen? 'Ah, elu Met pasti iri kan sama mereka yang kegiatannya bejibun sono-sini, kenal sana-sini, penghargaan sana-sini?' celetuk seorang teman baik. Mendengarnya kupingku gatel banget kayak dikilik-kilik. Ya mungkin saja ada sebagian dari hatiku yang iri dengan orang-orang kondang tersebut dan ingin menjadi seperti mereka. Namun untuk menukar jati diri saya dan berubah jadi sama 'plek' seperti mereka? Doh!

Di dunia yang lebih mengutamakan dan menghargai 'kegunaan', kegunaan diri kita bagi masyarakat, apakah kita dipandang lebih dibandingkan dengan orang lain, keinginan untuk berhasil dan berbuat lebih agar kita layak untuk mendapatkan pujian. Sehingga akhirnya kita lupa sebenarnya apa sih tujuan itu semua, siapakah diri kita sebenarnya dan apa sih sebenarnya rencana Tuhan atas diri kita?

Beda kulit, beda treatment 

Beberapa hari lalu aku pergi ke sebuah rumah kecantikan yang cukup terkenal di BSD. Menurut ibuku rumah kecantikan ini sangat ahli dalam menangani masalah kulit. Akibat hormon masa muda yang masih bergejolak, stress mahasiswi imigran, penyakit galau anak muda Indonesia dan asupan makanan yang ngawur, ya sudah akhirnya aku jerawatan. Prihatin melihat perkembang biakan jerawatku, akhirnya ibuku pun membawaku ke rumah kecantikan yang manjur dan murah meriah.

Menurut teman ibuku yang juga menderita jerawatan di muka, menurutnya perawatan di sana ampuh, tidak ribet dan murah meriah. Alhasil jerawatnya pun hilang tak berbekas, akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke sana. Ternyata peristiwa ini  ingin mengajarkan padaku bahwa setiap orang itu beda-beda, tidak sama. Perawatanku muahaaaall harganya, udah bukan mahal lagi tapi muahaaaall dan aku harus ikut ini itu, tidak seperti teman ibuku yang cukup sekali oles, jerawat pun hilang copot semua. Pelajaran yang bisa diambil adalah: kamu dan orang lain itu beda. Syukuri itu. 

Sabar 

Ada baiknya kalau kita itu sabar pada diri kita sendiri. Bahwa kita punya waktunya sendiri dengan cara yang berbeda-beda. Kita tidak mungkin sama plek dengan idola-idola kita dengan orang-orang kondang yang berseliweran depan mata kita. Sabar dalam arti kita tetap mensyukuri apa yang kita punya dan miliki, mungkin orang kondang itu kenal sana-sini, penghargaan gono-gini tapi mungkin dia tidak punya bakat bermain musik misalnya. 

Tidak usah minder dan malu untuk tetap berdiri tegak menjadi dirimu sendiri dan berteguh pada pemikiran kamu. Itu justru hal yang unik dan jarang di zaman kini. Ketika orang lain belum merasakan 'kehadiran' kamu, jangan berkecil hati. Seperti kata ibuku: 'Kamu belum berkibar karena benderamu sedang dijahit, direnda dan dipersiapkan.' Seperti kata orang Taiwan: 沒發現又不代表沒有, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Mereka mungkin belum menyadari sinar kamu, cahaya yang kamu punya. 

Dari pada kita sibuk meniru ini dan itu yang ternyata mereka juga manusia biasa yang bisa saja salah, lebih baik kita mempersiapkan diri kita sendiri, dengan jalan kita, dengan talenta yang sudah ada, sesuai dengan rencanaNya. 

Be yourself 

'Mbak saya mau potong rambut yang model Dian Sastro ini ya, mbak.' Kataku pada mbak-mbak salon. Sejam kemudian setelah selesai diblow, dikeramas, dipotong, dll. 
'Mbak kok jadinya gak mirip gini mbak?' 
' Iya kan rambut situ ikal keriting gitu. Kecuali kalo situ mau direbonding kayak Sancai di F4 itu.'
'Ogah deh mbak makasih, ntar rambut saya kayak kucai lagi.'

Nah... liat kan? Kamu tidak akan bisa sama dengan orang lain mana pun, rambut boleh sama hitam tapi jenis rambut kan bermacam-macam. Sudah ditata cantik model rambut Dian Sastro, tapi tetap saja rambutku kurang 'nendang'. 

17.1.12

Pesta Demokrasi di Taiwan



Selamat datang liburan winter :)) Semester 5 sudah lewat dengan berbagai kesan dan pelajaran baru. Jatuh bangun sudah biasa dan tak perlu dikatakan lagi. Sudah menjadi bagian dalam hidup. Di liburan winter ini adalah waktu untuk 'memberuangkan diri sendiri' hibernasi hingga siang dan melakukan kegiatan menyenangkan yang tidak bisa dilakukan saat hari-hari produktif sekolah.

Pagi ini aku bangun siang lalu mulai melanjutkan kegiatan 'aktif' dengan laptop. Lagu untuk pagi mendung ini adalah Frank Sinatra- I've got you under my skin. Di kota tempat tinggalku di Taiwan, Kaohsiung, musim winter tidak terlalu dingin hanya sekitar 22 derajat-13 derajat itupun kalau malam. Masih bisa pakai tank top dan celana pendek dengan lutut kedinginan.

Mungkin kalian juga tahu selentingan berita pemilihan presiden di Taiwan. Jadi di Taiwan itu mengadakan pemilihan presiden setiap 4 tahun sekali. Kali ini kandidatnya adalah presiden lama, Ma Ying Jiu, (馬英九) berasal dari Partai Kuomintang atau Chinese Nasionalist Party (biru) , Tsai Ying Wen ( 蔡英文) berasal dari Democratic Progressive Party (hijau) dan terakhir adalah James Soong Chu Yu berasal dari partai biru juga. Dari ketiga kandidat ini keluarlah Ma Ying Jiu (presiden lama) dan Tsai Ying Wen yang menjadi jagoan. 

Ma Ying Jiu yang berasal dari partai biru, beliau menggunakan kebijakan bersahabat 'jalinan kasih' dengan China dan menggunkan jalur rundingan untuk bidang ekonomi, perdagangan dan bisnis dengan China. Sedangkan Tsai Ying Wen, apabila beliau naik jadi presiden makan beliau adalah presiden perempuan pertama di Taiwan. Bisa dibilang beliau mempunyai pandangan yang berbeda dengan Ma Ying Jiu. Tsai Ying Wen membuka prespektif baru mengenai hubungan Taiwan dan China. Beliau melihat bahwa Taiwan harus mandiri dari berbagai segi dengan China sehingga Taiwan bisa lepas dari China dan mendapatkan kedaulatan negaranya sendiri tidak hanya menjadi parasit dari China.

Bisa dibayangkan kalau ini merupakan pemilihan presiden yang benar-benar menentukan sebuah nasib bangsa. Dilihat dar visi misi mereka saja sudah berbeda bahkan bertolak belakang. Benar-benar masa depan Taiwan dipertaruhkan dengan pemilihan presiden ini. 

Rakyat jelata

Teman Taiwan saya adalah pendukung Tsai Ying Wen karena menurutnya Ma Ying Jiu terlalu memanjakan China dengan birokrasi bersahabat yang berbelit-belit dan sering kali menyudutkan Taiwan. Bahkan menurutnya Taiwan sudah bagaikan dijajah China karena begitu banyak warga China yang datang ke Taiwan untuk bekerja dan sekolah.

Dia merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Ma di tahun-tahun belakangan ini karena menjalin hubungan kerja sama baik ekonomi, politik dan pendidikan dengan China. Banyak sekali pelajar dari China yang datang ke Taiwan untuk belajar, menurut Presiden Ma ini dilakukan mengingat pelajar China terkenal dengan sikap rajin dan pintar dalam pelajaran, jadi Presiden Ma berharap agar pelajar Taiwan bisa bersaing ketat dengan Pelajar China sehingga dalam bidang pendidikan pun mendapatkan stimulasi yang menguntungkan untuk Taiwan.

Terdapat perbedaan yang signfikan di masyarakat Taiwan saat mereka memilih presiden untuk negara mereka. Mereka begitu bersemangat untuk memilih presiden. Itulah satu kesan yang bisa kubaca. Sampai-sampai menjadi sebuah pembicaraan hot di kelas siapa menjagokan siapa. Kebetulan di kotaku, Kaohsiung, mereka memilih Tsai Ying Wen, kebetulan pendukung Tsai Ying Wen berada di bagian selatan dan pendukung Ma Ying Jiu berada di daerah utara. Sempat terdengar kabar burung bahwa saat-saat pemilihan ini akan menjadi hari-hari yang agak menakutkan di Taiwan. 

Pandangan Anak Imigran 

Sebagai anak imigran di Taiwan, aku cukup terkejut dengan fakta pemilihan presiden di Taiwan ini. Aku merasa terdapat perbedaan yang cukup jelas terpampang pemilihan presiden di Taiwan dan di Indonesia. Di Indonesia jujur aku tidaklah terlalu antusias untuk memilih presiden. Memilih yaaa...memang karena sudah dapat kartu coblos, kalau tidak dapat ya sudah ya tidak ada ruginya juga. Sedangkan di sini 200.000 orang Taiwan yang berada di luar negeri bela-belain pulang ke Taiwan, ke kampung halaman mereka untuk memilih presiden mereka. Dan aku mendengar kabar ini di berita hanya bisa 'nganga sampe bego'. Ada lagi berita di teve, ada seorang kakek berumur 80 tahun, berjalan menuju ke tempat pemilihan presiden dan karena badannya sudah tua renta, beliau tidak sengaja terjatuh dan terluka. Aduuuhh... please deh! Melihat berita seperti ini terkadang membuat aku tertampar pipi kiri dan kanan. Si kakek tua ini yang bisa dibilang sudah 'bau tanah' beliau masih peduli dengan kelangsungan negarnya, dengan masa depan negaranya! Gilaaaa bener hah! 

Betapa mereka begitu antusias dengan pemilihan presiden ini. Mereka seolah benar-benar mempunyai harapan yang nyata pada masa depan negaranya. Mereka berharap presiden baru mereka bisa membawa Taiwan ke 4 tahun ke depan yang lebih baik lagi, mereka berpartisipasi secara nyata dengan tujuan mulia. Generasi tua dan muda bersama-sama terlibat aktif dalam pemilihan. 

Aku terkadang jadi sedikit merasa malu dengan diriku sendiri yang sering merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Aku malu pada orang Taiwan, suatu bangsa yang meski kecil namun mereka berjuang dan peduli dengan kemajuan bangsanya. Aku malu karena aku muda dan belum bisa berbuat apa-apa untuk negaraku. Bahkan terkadang  sempat aku merasa rendah diri karena aku adalah orang Indonesia, karena negaraku Indonesia, negara yang kaya raya namun dikelola oleh orang-orang yang salah. Terkadang aku malu, menjelaskan pada mereka bahwa di Indonesia korupsi bukanlah hal yang aneh di badan pemerintahan, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya pada pemerintahnya sendiri. Bahwa kita kehilangan harapan dan kepedulian pada Indonesia. 

Cinta dan benci 

Seperti kata sebuah pepatah: cinta dan cinta itu beda tipis. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan rasaku untuk Indonesia. Aku cinta Indonesia. Sangat. Tapi di lain sisi aku juga benci. Benci dengan 'orang-orangnya' yang kadang menurutku sudah kehilangan pegangan moral dan berpikiran sempit. Meributkan hal-hal yang tidak penting, itu-itu saja. Haduh...ini malah sibuk meributkan pemugaran gedung yang sama sekali tidak rusak, bocor atau hampir rubuh. Pleaseee...deh bapak-bapak, ibu-ibu itu coba yah dilihat masih banyak orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, rumah reyot di pinggir kereta. Itu coba dananya disalurkan ke pendidikan atau ke mana deh yang bisa menyejahterakan bangsa kita ini. 

Aku iri dengan orang Taiwan yang bisa sebegitu optimis dengan kelanjutan bangsa dan mendukung pemerintahannya. Semua kandidat benar-benar meyakinkan dan dipercaya oleh rakyatnya. Apa lagi sih yang lebih berharga untuk seorang pemimpin selain dipercayai 100% oleh rakyatnya? Betapa kharisma dan karakter mereka 'menyedot' rakyat untuk terus mendukung mereka tanpa ragu. Aku juga ingin rasanya mempunyai pemimpin bangsa yang benar-benar bisa membawa kita, Indonesia ke stage yang lebih baik lagi. 

Aku merasa Indonesia, si bangsa besar, harus belajar banyak dari Taiwan yang bahkan wilayah kekuasaannya pun tidak sebesar Pulau Jawa, mereka yang masih harus berjuang melepaskan diri dari China dan mendapatkan pengakuan atas eksistensinya di depan mata dunia. Keantusiasan kita pada negara kita dan tanggung jawab para 'orang-orang besar di atas' agar bisa membawa Indonesia  ke masa yang stabil dan lebih baik lagi. 

Celetuk teman Indonesiaku yang sepertinya sudah terlanjur pesimis  dengan Indonesia: '' Mending  gue tinggal di luar ajalah. Cari penghidupan yang lebih baik. Kalo gue balik ke Indo dengan niat membangun bangsa...haduh..mereka yang 'di atas' aja geje padahal ada wewenang, gimana gue yang rakyat jelata, mau membangun Indonesia seorang diri. Matik aja gue!'' 


Malam ini aku sedang berpikir, jangan-jangan memang aku saja yah yang 'anget-anget taik ayam' sok nasionalisme, cinta Indonesia, tanpa melakukan tindakan yang sekiranya lebih dinilai aktif. Malu aku pada diriku sendiri. Hey,..aku orang muda Indonesia yang siap sedia berdiri buat Indonesia.  Tapi yang pasti malam ini aku kepanasan, ditengah udara dingin 19 derajat celcius di Taiwan.

Kalau kamu? 

6.1.12

Perempuan dan Pendidikan

            Membangun sebuah negara makmur dan berbudi baik haruslah dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah manifesto yang berkualitas tinggi dan sifatnya kekal. Tidak bisa dicuri dan hilang. Dengan adanya manusia yang berpendidikan maka mampulah sebuah bangsa menjadi bangsa yang beradab. 
             Sejak dini diharapkan manusia sudah dididik dengan nilai-nilai luhur. Pendidikan dini didapatkan anak dari keluarga, terutama ibu. Mengapa ibu? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mengambil peranan penting dalam pengasuhan anak sehingga seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.  Betapa menjadi seorang ibu harus mengemban sebuah misi yang mulia yakni masa depan dirinya dan anaknya dipertaruhkan. Hingga akhirnya kehidupan seorang ibu menjadi sesuatu yang mikro sekaligus makro. Mikro karena keseharian ‘hanya’ berkutat dengan anaknya dengan pekerjaan dan urusan yang itu-itu lagi dan makro karena ada sebuah tujuan mulia dibalik dari urusan kecil yang itu-itu saja yakni mendidik anaknya untuk menjadi manusia yang berbudi baik dan berakhlak.
            Ketika sebuah dunia besar berada di pundak ibu, pentingnya sebuah peranan perempuan dalam mempersiapkan generasi baru bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas. 

Diskriminasi pendidikan

              Dahulu, melalui budaya patriarkal, perempuan menjadi sebuah objek hiburan dan sebuah ‘barang’ kepemilikan.  Seperti misalnya dalam cerita Mahabaratha ketika Yudistira kalah besar-besaran bermain dadu dengan Duryodhana. Segala kerajaan, harta dan abdi sudah hilang termakan taruhan. Hingga akhirnya istrinya,  Drupadi pun ikut dijadikan taruhan, padahal Drupadi adalah perempuan terhormat dan istri teladan yang lahir dari Dewa Api. Yudistira kalah bermain dadu dengan Para Kurawa dan menyerahkan Drupadi sebagai barang taruhan. Dari cerita singkat ini terasa betapa kerasnya pengaruh laki-laki atas hak-hak perempuan. Seolah perempuan tidak mempunyai hak atas hidup dan tubuhnya. 
Namun seiring dengan berkembangnya zaman di kota-kota besar, perempuan mampu mempunyai kesempatan lebar untuk berkembang dan bereksplorasi. Dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang mulai berkarya mengaktualisasi dirinya. Ketika perempuan dapat mencecap pendidikan dengan mudah karena adanya fasilitas, kembali muncul masalah kursial lainnya dalam pendidikan yakni skala prioritas yang diterapkan untuk kaum marginal. Hingga akhirnya menurut nilai budaya patriarkal, prioritas pendidikan  ini akan diberikan lagi untuk anak laki-laki di keluarga tersebut.  
             Betapa ternyata bagi perempuan pendidikan masih merupakan barang mewah dan langka, sesuatu yang ‘mahal’ untuk bisa dinikmati. Masih kuatnya anggapan bahwa perempuan harus beraktivitas sekitar dapur, bermain dengan panci, penggorengan dan sapu; menjadi sebuah alasan utama perempuan tidak diprioritaskan untuk mencecap pendidikan. Kecenderungan ini masih bisa kita lihat dalam masyarakat, ketika anak perempuan mereka sudah akil baliq akan cepat-cepat dijodohkan lalu menikah meskipun usia mereka masih belasan tahun. Padahal menurut ilmu kesehatan, pada umur belasan rahim perempuan belum cukup kuat untuk mengandung hingga akhirnya banyak sekali peningkatan angka keguguran dan kematian saat melahirkan. Di lain kondisi terdapat pula kasus perempuan yang ‘terpaksa’ dijadikan tulang punggung keluarga karena himpitan ekonomi dan biasanya pada kasus ini berkaitan erat dengan trafficking.
              Fenomena pilu ternyata masih ada di zaman kini dan menjadi sesuatu yang ironis ketika banyak perempuan lain yang bisa mendapatkan fasilitas yang memadai plus pendidikan yang layak untuk masa depan.  Namun, di lain sisi masih banyak perempuan yang tidak dapat mencecap pendidikan yang layak.


Kartini masa kini

             Sosok yang paling dikenal berkat festival kostum di setiap tahunnya baik di kalangan orang dewasa maupun  anak-anak adalah Ibu Kartini.  Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita yang suaranya sangat kencang digaungkan hingga sekarang. Ide-ide beliau yang cemerlang untuk  membebaskan belenggu kebodohan perempuan di masa itu dengan tujuan jangka panjang yaitu pembebasan perempuan dari ketidakadilan menjadi sesuatu titik tolak untuk perubahan kaum perempuan. Kartini mampu membuka sebuah pintu pemikiran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
            Akan sangat disayangkan apabila di masa yang modern dan serba ada ini, masih saja ada banyak perempuan yang buta aksara dan minim pengetahuan. Padahal jelas-jelas pendidikan adalah milik semua. Catatan  yang paling penting adalah pendidikan tidak hanya pendidikan formal di bangku sekolah saja, melainkan juga  pendidikan informal yang tak kalah pentingnya. Alasannya karena dalam pendidikan informal ini diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang relevansinya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. 
               Konsep Kartini untuk mencerdaskan perempuan Indonesia merupakan langkah awal untuk mendidik generasi mendatang yang cerdas dan berbudi baik. Pendidikan merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh perempuan sebagai bekal menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, calon penerus bangsa. Oleh karena itu perempuan harus dibekali pendidikan sedini mungkin untuk melaksanakn perannya dalam keluarga dan masyarakat. 

Tahun perempuan

             Banyak orang berpendapat bahwa tahun-tahun belakang ini akan menjadi tahun perempuan. Perempuan mulai bangkit,meneriakan hak-haknya dan mulai berkarya. Hingga sudah seharusnya pemerintah membuat agenda utama sebuah pemberdayaan perempuan dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan yang sifatnya menambah pengetahuan dan keterampilan.
             Hal yang tidak boleh diabaikan adalah perempuan berhak atas tubuhnya dan kesehatannya. Perempuan berhak tahu segala sesuatu berkenaan dengan kesehatan tubuhnya. Pengetahuan dasar tentang kesehatan perempuan adalah mengenai organ reproduksinya. Hak perempuan untuk memeriksakan kesehatannya sendiri tanpa harus ada persetujuan wali atau suami. 
          Dengan perempuan yang berpendidikan, negri ini akan mempunyai perempuan yang cerdas dan sehat, hingga pasti akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan sehat pula. Perempuan berpendidikan akan sadar betul pentingnya imunisasi, vitamin,  dan makanan bergizi untuk anak dan keluarganya.  Dengan begitu generasi mendatang kita bisa menjadi generasi unggulan untuk Indonesia yang lebih baik lagi. 
    Ada sebuah kutipan yang cukup menyentuh dari Queen Renia: “Ketika kamu mendidik perempuan, kamu mendidik keluarga, ketika kamu mendidik gadis kecil, kamu mendidik masa depan.” Sebagaimana kutipan tersebut akan pentingnya pendidikan untuk perempuan demi melahirkan calon-calon penerus bangsa Indonesia yang berbudi dan cerdas. 
    
Peran masyarakat

            Tidak hanya pemerintah yang mempunyai peran untuk memperhatikan nasib perempuan, masyarakat pun sama memiliki kewajiban untuk memperhatikan ini. Kita tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, apa lagi ketika kita tahu seperti apa pemerintah Indonesia sekarang. Kalau kita hanya mengandalkan pemerintah, kita kuatir nasib perempuan dan masa depan bangsa ini akan semakin terpuruk. Oleh karena itu, perlu gerak cepat dari seluruh lapisan dan kalangan masyarakat untuk menyiasati keadaan ini. 
            Seperti kita ketahui Indonesia mempunyai begitu banyak organisasi dan golongan, mulai dari yang bersifat umum sampai yang sifatnya khusus. Karena Indonesia merupakan negara yang agamais, peran para alim-ulama merupakan hal yang diperlukan dalam masalah ini. Sangat diharapkan organisasi keagamaan memberikan pelayanan yang memadai untuk mengedepankan pendidikan kaum perempuan. 
            Kita tahu sekarang ini sudah ada beberapa organisasi yang memperhatikan nasib kaum perempuan. Namun,  itu belumlah cukup untuk mengubah nasib kaum ibu di negri ini. Masih diperlukan sekian banyak tangan terlibat dan hati yang peduli untuk para perempuan ini. 
             Kita yakin kalau semua ikut peduli dan terlibat, maka kaum permepuan akan berubah. Tentunya bangsa ini pun akan terus maju dan bisa berkibar di alam semesta ini dengan penuh kebangaan dan harga diri karena nasib masa depan generasinya ada pada tangan yang tepat. Kita percaya bahwa kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik kita bersama bila kaum hawa menjadi prioritas yang utama. 
  
JAYALAH PEREMPUAN, JAYALAH  IBU PERTIWIKU!!!


ps. Sebenarnya tulisan ini untuk lomba essai, namun belum 'nonjok' di hati para juri. Daripada basi lebih baik kutaruh di blog aja yah :) Silahkan bagi yang mau memberi kritik, saran dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka. 
    






new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...