Showing posts with label menulis puisi. Show all posts
Showing posts with label menulis puisi. Show all posts

22.5.16

Tidak Ada Judul karena Ketidakbernamaanku yang Kau Ingat


Ada selongsong rindu di dadaku yang tidak kunjung rampung menggantung
Kukira itu akan habis dalam semalam dan selesai

Ada selongsong rindu di jantungku yang mengkhawatirkan degupku
Seharusnya tidak semudah ini jatuh

Ada selongsong rindu di mataku yang menginginkan pertemuan kedua
Mencuri-curi kebetulan yang tidak ada

Ada selongsong rindu di kepalaku yang mengintai penasaran
Meregang di antara singkat percakapan

Ada selongsong rindu yang terbawa pulang olehku
Ini sepertinya milik kamu

Namun kau tak ingat namaku
Tak ingat namaku



Serpong,2016

15.5.16

Seandainya nih ya,







Seandainya saja tidak ada sejarah kau dan dia
Apakah kita akan tetap punya rasa?

Seandainya jarak itu hanyalah fatamorgana
Dan waktu bukanlah soal penyekat
Akankah hati kita tetap mencinta?

Jikalau memang kamu bajingan
dan seandainya saya ini jalang
Yakinkah kamu kita seimbang?

Seandainya misi kita sama
Apakah kita sejalan?

Sandainya kamu tidak mengecup sepi
Dan saya terbiasa sendiri
Apakah kita akan saling mengusik
dan bermain api?

 Kaohsiung, 2012

21.3.16

Obat pemati rasa



Kau butuh obat pemati rasa
Agar tahan berpura-pura
Redam tangis di ujung mata
Dalam peran dimainkan sementara

Bungkam mimpi hingga pusara
Seolah manusia tidak memiliki suara
Karena bekerja di ladang bayaran sehasta

Jangan karena dalih realita
Seolah hidup punya sembilan nyawa
Besok mati siapa sangka?



Serpong, 2016
Karena hari ini Hari Puisi Sedunia

26.5.15



Dalam seribu sabda semesta di pelukan Tuhan
Bolehkah aku meminta satu 
Satu saja permintaan

Kucoba semua cara
Namun tidak kutemukan juga
Milikku satu 
Aku hanya ingin satu, tidak dua atau tiga

Yang seperti hujan
Jatuh setitik lalu deras

Yang seperti lautan
Selalu kembali menghampiri pantai

Yang seperti angin
Menyusup perlahan namun hadir

Yang seperti langit senja
Merona merah tanpa abu

Dan pasti dia adalah pulang dan tujuan
Ribuan peluk di hari-hari mendatang



17.11.14

Dansa dansi


Hai, kamu!
Lelaki yang meminjam wangi hujan
Jikalau tidak ada waktu untuk berbicara
Kamu bisa menatap hitam mataku
Dan aku menangkap cahaya di matamu
Lalu kita berdansa

Meski kita mengetahui nama namun tidak mengenal satu sama lain
Ngomong-ngomong kamu tidak takut petir kan?


***




VANCE JOY-  Riptide


''Lady, running down to the riptide

Taken away to the dark side
I wanna be your left hand man
I love you when you're singing that song and
I got a lump in my throat because
You're gonna sing the words wrong''

22.6.14

Mungkin saja kamu itu bebas

Mungkin saja kamu itu bebas
Jiwamu bukan milik siapa-siapa
Hanya milikmu dan Penciptamu

Mungkin saja kamu itu bebas
Darahmu deras merah mengalir
Nadimu hijau dibalik balutan kulitmu

Mungkin saja kamu itu bebas
Kau tak peduli akan tulangmu yang patah
Meremukan rusukmu
Namun kau tidak takut rasa sakit

Mungkin saja kamu itu bebas
Mencintai tanah-tanah asing di luar sana
Dengan senyuman orang asing

Mungkin saja kamu itu bebas
Jikalau paru-parumu memerlukan udara musim lain
Yang ada di lintang seberang

Mungkin saja kamu itu bebas
Jikalau hatimu berdahaga
Atas petualang-petualang dan perjalanan lain
Di ranah-ranah asing dengan bahasa yang tidak kita mengerti

Saya rindu menjadi bebas lagi.
Kamu?


3.2.13

Day #30: Kata Akhir


manusia mencari dan tak akan berhenti
ruang di hati mereka bocor tak berisi

mungkin ruang itu kedap suara
sehingga tidak terdengar

mungkin ruang itu nihil oksigen
maka kita tidak mampu bernafas di dalamnya

mungkin ruang itu tidak berjendela
hanya satu prespektif di mata, membosankan

mungkin saja ruang itu hanya konsep
eksistensinya dipertanyakan

maka itu saya menulis puisi,
ada ruang yang tak beresensi
kadang lupa dinikmati
dan saya selalu tergoda
mencari-cari
lalu kutitipi rasa disetiap puisi

30 hari bersama puisi,
tiba-tiba aku ingin duduk berdua
lalu mengirim rindu setiap potongan
dan belajar menerima yang tak pasti.


Kaohsiung, 2013








Day #29: Perihal Api yang Harus Terus Terjaga


puisi untuk diri

bukan waktunya untuk terus-terusan menulis sajak wangi
di belakang halaman menikmati semburat jingga senja di kornea mata,
cantiknya memabukkan dan mematikan
jangan terkecoh dengan cangkir romantisme manis
karena kita tahu itu ilusi hati cengeng

barangkali memang benar bahwa kita jangan naif
pada sebuah paranoid laten atas realitas
ada baiknya memang kita hanya tersenyum
pada sebuah pembicaraan basa basi tidak berkualitas

bahwa ada benarnya bahwa belajar itu dari sesuatu yang sakit
agar sedikit jadi sakit jiwa dan psikopat
agar darah mengalir segar dan kau tertawa-tawa
agar kau terpuaskan bahwa sakit itu nikmat
dan kau mulai tergoda nagih
di sekujur tubuhmu berteriakan meminta

kau sudah lelah dengan doa-doamu yang panjang
berusaha membius tuhanmu dengan satu permintaan yang kamu damba
semakin kau tersadar bahwa selama ini permintaanmu sudah ditolak mentah-mentah
bahkan sebelum terpikir di otakmu, sebelum kehendakmu meruap

bahkan kau makin tersadar bahwa ada beberapa saat
kamu ambigu
kamu tidak beridentitas
kamu hilang sendiri di dalam otakmu yang penuh tahi
berbau, mengendap sekaligus bonus lalat berterbangan

rupanya kau mengada-ada dengan imajinasimu
lalu kau menangis diam-diam pada sebuah sepi yang menjengkelkan
lalu kau bosan dan jijik
karena lemah dan kacangan

belakangan, kau tersadar bahwa kau sedungu itu
lalu kau sadar bahwa ada yang alpa, hatimu
hingga kau haru sendirian
bahwa api mesti terjaga dalam hati
biar dia terus terbakar
dan kau hidup punya arti
hingga raga kau mati.


Kaohsiung, 2013







2.2.13

Day #28: Jika Kau Dara, Jika Kau Bujang


1.
Jika kau dara
dan masih perawan
bangun tidur tidak boleh siang
celotehan nyinyir: " Anak perawan kok tidur sampai siang!"

Jika kau dara
dan masih perawan
kau pulang malam sendirian
celoteh nyinyir: "Anak perawan pulang malam-malam, ganjen, lonte!"

Jika kau dara
dan masih perawan
buah dadamu besar merekah
pantatmu bulat tinggi
celotehan nyinyir: "Anak perawan aurat ke mana-mana, bispak!"

Jika kau dara
dan masih perawan
gagap masak gagap jahit
celotehan nyinyir: " Anak perawan harus bisa masak jahit, mau kasih makan apa suamimu?"

2.
Jika kau bujang
dan masih perjaka
eh tunggu...
siapa peduli perjaka atau tidak?
selama kau sunat
beres sudah


Kaohsiung, 2013

Day #27: Pada Waktunya



ada waktunya tertawa
ada waktunya menangis
ada waktunya mengejar
ada waktunya menunggu
ada waktunya lahir
ada waktunya mati
ada waktunya halo
ada waktunya sampai jumpa

untuk segala sesuatu ada masanya
kira-kira begitu yang ditulis di Alkitab



Kaohsiung, 2013



31.1.13

Day #26: Waktu,Rungsing, Saya



Djenar pernah menulis: " Waktu semakin terasa seperti ejakulasi dini, berlalu cepat sekali."


Tiktoktiktoktiktok
Detik pongah berdetakkan
Masih angkuh dan sombong
Terburu-buru
Seperti ibu-ibu yang sedang mengambil jemuran saat rintik hujan
Meninggalkan saya yang rungsing
Mempertanyakan: ke-apa-an saya di masa depan

Saya ngeri
Pada dunia sebebas-bebasnya di luar sana.


Kaohsiung, 2013
-saya lagi bingung dinner nanti pakai baju apa ya? 

29.1.13

Day #25: Salah Strategi


Harusnya:
'Jangan pake hati,
pakai otak,
lalu hati ditambah sedikit-sedikit.'

Kalau saya:
'Sudah memakai hati dari awal.'

Ah...strategi saya salah,
mungkin?

27.1.13

Day #24: Ngantuk


pic: tumblr



aku mengantuk,
berton-ton malam di kelopak mataku,
tapi insomnia
karena :
selimut gerimisku teralu basah dan dingin,
bantalku tersesat susah pulang,
gulingku berteleport pulang ke Indonesia,
kasurku dijemur dan berdansa dibawa lari matahari,
aku takut, 
di gorden ada mendung bergelayut hampir menangis,
di kolong tempat tidurku ada monster hijau dan tuyul tanpa kepala. 

aku mengantuk tapi tidak bisa tidur,
aku ingin tidur di selimutmu, bantalmu, gulingmu,kasurmu 
dan di samping kamu saja boleh tidak? 


Kaohsiung, 2013


26.1.13

Day #23: Liar Berterbangan


langit menyala pada sebuah mendung
lembayung memagut bibirnya
lalu ia tersenyum-senyum pada angin
yang membawaku terbang
bersama ilalang ke sana
titip salam,
rindukan aku.


Kaohsiung, 2013



* saya terinspirasi oleh sebait puisi Chairil Anwar- Tak Sepadan


Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros



25.1.13

Day #22: Takut


jembatan
petir
gelap
badut
matematika
menyebrang jalan
petasan
sesuatu yang tinggi
bau rumah sakit
airport
ucapan selamat tinggal


Kaohsiung, 2013

23.1.13

Day #21: Episode Gerimis di Kotamu


biar kutebak,
mungkin kini kotamu
sedang gerimis kecil
ada sedikit langit mendung di alismu
dan angin dingin menghembusi lututmu yang bercelana pendek
lalu sedikit rindu ganjil di hatimu
dan bau semerbak gerimis bercampur tanah
lalu sore menjadi cantik dan baunya manis.


Metta
Kaohsiung, (mulai lupa hari, tanggal) 2013


21.1.13

Day #20: Untuk Puisi


saya menulis puisi untuk puisi
yang selama ini menemani saya
dalam kata longgar
tak teraba dan terkias.
dibaca dengan hati
dengan arti yang kembar.
yang lancip dengan ketumpulannya
yang bias namun jelas
yang polos namun berpola.
mendefinisikan otak saya
yang bagai pesta petasan
di bulan ramadhan dan chinese new year.


metta
Kaohsiung, 21 Januari 2013
17:56, lama-lama otak saya butuh reparasi




"Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit. (Kommer, 199)- Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer. 


19.1.13

Day #19: Mati Telanjang



Kapankah waktu itu?
Kupastikan ku tak meratap, tak menangis, tak menyanyi
Tak perlu meraut kata-kata indah
Mencoba membuat memoar
Menempel di kalbu

Biar tubuh-tubuh bisu yang bicara
Bicara tentang nafas, aliran darah, denyut nadi, geliat tubuh…
Menggosipkan mentari yang jatuh hati pada segulung malam
Menari-nari di atas biasan warna pelangi
Membicarakan segenggam harapan

Semua mengendap
Aku dijemput
Jam menggenang, waktu pun kehilangan alur
Ini waktuku.
Aku berlepasan.
Tercerabut.

Aku lahir tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Aku pun ingin mati tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Telanjang.
Cukup menggotong perburuan makna hidupku
Cukup memboyong ziarah batinku
Cukup berbekal cintaku

Aku ingin mati telanjang.
Tanpa baju penutup aurat
Tanpa nafsu
Tanpa dosa
Tanpa keduniawian
Meninggalkan sengkarut tubuh usang nan laknat ini

Layakkah aku Tuhan?


BSD, 2007 

17.1.13

Day #18: Pelabuhan


pic: tumblr



Kamu nampak jauh terselubung dalam jalan pikiranmu sendiri. 
Kamu tersesat dalam otakmu dan berlari memutar dalam labirinnya.
 Aku tidak mengenali kamu lagi.

Kamu berusaha menjelaskan dan menguraikan alasanmu, seraya tanganmu memainkan jemarimu 
pertanda kamu kebingungan dan kehabisan kata-kata yang paling kamu butuhkan. 
Hingga akhirnya kamu pun terpaku dalam satu titik dalam satuan waktu yang panjang.

Andai kini peluk dapat menyatukan hati kita tentu sudah kulakukan sejak tadi. 
Andai peluk sesuai dengan kenyataannya, meninggalkan setiap centimeter fisik menjadi satu rengkuhan, menghangatkan dan meninggalkan jeda, 
tentu kita tidak perlu sejauh ini.

‘Aku harus pergi. Mencari.’ Ucapmu tidak memandang mataku.
‘Mencari apa?’
‘Mencari sesuatu yang hilang dan kini serasa kosong.’

Kamu gelisah di tempat dudukmu hingga lipatan bajumu agak kusut. 
Aku pun mulai kedinginan serasa ditinggal panas tubuh. 
Berdua kita terdiam dan hanya terdengar tarikan nafas kita yang semakin cepat 
seolah saling berebut oksigen dalam ruangan.

Ketegangan yang melelahkan, gelombang yang tidak serasi membuat kita ingin saling berjauhan.
Jarak yang menganga kita tinggalkan begitu saja. 
Kita serasa berbeda waktu, entah kamu yang terlalu cepat 
atau hanya aku yang berputar dalam porosku sendiri.

Lalu kamu pun bersuara:
‘Lepaskan aku,..’

Entah dari mana asalnya emosiku berontak, ketenanganku pecah dan aku pun merangsak masuk ke zonamu. Aku berusaha sekuat tenaga mengambil apa yang aku punya, apa yang aku miliki dari dirimu. 
Namun kamu terdiam tak bergeming. 
Aku mulai memukulmu dan berteriak meronta.
Air mataku mulai meleleh dan panas membasahi pipiku. 

Proses pelepasan jiwa yang berdiam terlalu lama. 
Sandingan hati yang berlepasan bagai ombak luluh lantak menembus dinding dan penjara, 
bergerak kembali padamu.

Kamu kokoh dan tegak di tempatmu, memandangku dengan iba. 
Aku menangis hingga gemetar dan kamu pun terisak pedih. 
Kamu dan aku terluka. 
Tembok kita runtuh sudah, belahan jiwa kembali ke masing-masing.

Kamu dan aku terlepas, 
 meninggalkan perasaan pada pelabuhan yang berbeda. 





Metta
Kaohsiung, Februari 2011 



16.1.13

Day #17: Waktu



Detik meleleh disetiap detaknya
Kita berkejaran dengan waktu
Entah aku yang berlari
Entah engkau yang berdiam
Tanpa tahu kapan kita bisa sejajar
Duduk dan berbagi oksigen yang sama
Menatap mata
Dan sekedar bicara
Tentang makan siang
Lalu
Senyuman manis sampai jumpa


Metta
Kaohsiung, 16 Januari 2013
15:45, lantai 1 

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...