Showing posts with label yes we can. Show all posts
Showing posts with label yes we can. Show all posts

23.7.16

Daisy


Saya merasa beruntung sekali karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengetahui passion dan mimpinya. Mungkin memang belum gamblang bagaimana untuk bisa meraihnya, namun merekalah orang-orang gelisah yang memenuhi aplikasi komunikasi saya setiap hari. Merekalah orang-orang terkasih yang ingin mewujudkan impian mereka dan mengikuti kata hati. Saya sangat bersyukur sekali. Dengan begitu maka saya memiliki reminder hidup yang akan mengingatkan saya untuk terus berada di track saya. Tidak mencong sana sini. 

Orang-orang terdekat dan juga saya sendiri nampaknya seperti orang bingung yang mencari-cari celah untuk bisa mewujudkan mimpi masing-masing. Dan lalu gemetar sendiri dengan mimpinya. Terkadang sesekali rembeslah air matanya karena ada rasa ketidakberdayaan untuk sampai ke sana. Segar betul di ingatan, Thesa sahabat saya pernah mengutip opini pacarnya begini: Kamu berada di jalan yang benar: meraih mimpimu, ketika begitu banyak halangan dan masalah menghadang, namun tetap kamu lakukan dengan sukacita. Iya.

Akan banyak hambatan dan halangan namun kamu akan berkata pada diri sendiri: Tenang, yang ini pasti berhasil, yang ini pasti bisa. Dan kamu akan memberikan diri sendiri satu kesempatan lagi dan tidak putus-putus berdoa. Saya tidak pernah mempunyai keinginan untuk seserius itu dalam menulis. Sedari dulu saya merasa menulis adalah hobi asyik yang saya tekuni lama. Namun pandangan berubah dan pengalaman bertambah, saya menjadikan hobi ini menjadi alter ego saya. Saya sibuk bekerja di siang hari dan saya sibuk menulis dan membaca di malam hari. Itu yang membuat saya hidup. 

Kembali lagi, menjalaninya bukan tanpa hambatan dan tantangan. Dari jam tubuh saya yang membutuhkan tidur tujuh-delapan jam hingga terkadang jam sembilan malam saya sudah seperti mumi. Memandangi layar laptop atau menekuni buku namun sumpah setengah mati saya ngantuk. Akhirnya lebih memilih waktu lain entah di jalan menuju kantor atau di pagi hari. Demikian juga dengan membaca, apabila tidak diselipkan, tidak akan ada waktu. Jadi membawa buku bacaan ke mana-mana dan duduk membaca seperti kutu buku adalah nama tengah saya. Itu tidak bisa ditawar lagi. 

Tiba-tiba akibat saya super kepo dan kejemawaan diri, sempat kemarin saya sedikit google diri saya sendiri dan menemukan ada karya saya di blog yang dicontek orang entah satu paragraf entah seluruh tulisan. Ini bukan yang pertama kalinya memang karena saya pernah merasakan tulisan liputan saya naik cetak namun yang ditulis bukan atas nama saya. Di tulisan itu saya seolah menjadi narasumber. Semua kata 'saya' diganti menjadi nama saya, seolah beliau yang menuliskan. Lalu beliau memberikan honor naik cetak pada saya. Dan beliau adalah wartawan suatu majalah besar, guru menulis saya. Sempat saya tidak mau menulis lama, tidak ingin menjadi penulis, tidak ingin menerbitkan karya sama sekali dan benar-benar berhenti menulis. Namun, suatu hari yang biasa tahun 2009 saya dikenalkan dunia blog dan saya kembali menulis. Inilah blog gadis payung kuning saya, yang dibuat dengan drama dan tangis haha. Mungkin kini saya ingin berterima kasih kepada beliau karena berkat beliau saya bisa memurnikan ketertarikan saya akan menulis. Kalau ini bukan sekedar menulis namun menelanjangi diri sendiri, membagikan perasaan, pengalaman, pemikiran pada pembaca tulisan.

Menemukan tulisan yang dicontek orang lain membuat saya berpikir, benar tidak ya menulis di blog ini sebagai medium menulis saya? Karena saya sebal sekali dicontek sana sini. Seolah mereka tidak mempunyai pabrik ide dalam otaknya. Seminggu ini saya berpikir banyak hal, hingga lelah sendiri dan tergerak untuk bertanya penulis lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Namun saya kelewat malu dan tidak enak hati. Saya tidak punya kenalan baik penulis untuk dimintai pendapat dan diskusi. Sedih.

Hal yang saya pelajari beberapa hari ini adalah pentingnya menyelami segala hal hingga tuntas. Tidak bisa kita menemukan sesuatu tanpa terjun lebih dalam mencari ke akarnya yang terujung. Mencari permulaan untuk bisa mengenali hasil. Bergerak masuk ke dalam dan mengenali semua sisi. Menurut saya ketika kita merasa penasaran akan satu hal upaya mengenal tidak hanya melulu mencari hal tersebut. Kita juga perlu melihat dari seberang pandang dan arah sebaliknya. Jadi tidak hanya satu sisi saja yang menjadi perhatian namun sisi sebaliknya pun bisa kita lihat dengan objektif.

Seminggu ini saya sedang merenung kalau manusia adalah pencipta. Dia pasti akan menciptakan hal-hal baru dan karya baru. Saya kembali meluncur ke akar untuk apa saya menulis? Saya ingin berbagi pada orang lain. Lalu saya tersadar bukankah ini yang sudah saya lakukan, berbagi? Meski misalnya tulisan dicontek. Bukankah itu sebuh resiko ketika karya diberikan ke publik maka dia akan menjadi milik publik. Mungkin ini salah satu wajah dari berbagi. Semoga saja tulisan saya tetap berjiwa yang sama sebagaimana saya hembuskan di setiap katanya, semoga saja tulisan itu berguna bagi orang lain. Semoga saja tulisan saya tumbuh subur meski di ladang yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto bunga di instagram milik teman SMA saya yang lembut, Vina namanya. Gambarnya adalah bunga daisy. Menurutnya bunga daisy adalah bunga yang tumbuh di tengah-tengah rumput dan sebagai penanda musim semi akan tiba. Saya suka bunga daisy dan arti dibaliknya. Mungkin dia tergolong bunga liar yang tumbuh dengan cerianya ditengah-tengah rumput hijau. Berkarya dalam dirinya semaksimal mungkin dengan segala keapaan dia yang bermakna. 

Bukankah kita juga adalah bunga-bunga liar dengan keinginan untuk bertumbuh? Yang mungkin mati diinjak atau dipetik, namun keesokan harinya akan keluar tunas muda sebagai harapan hidup? Bunga liar yang tidak takut tumbuh meski sekelilingnya adalah rerumputan,  meski banyak tangan jahil yang gemas, ingin petik lalu akhirnya dibuang. Namun dia tetap tumbuh secantik-cantiknya, memberikan semua yang dia punya, memaknai hidupnya dengan seluruh daya menjadi: bunga liar.

Saya dan kamu pasti memiliki mimpi dan passion masing-masing. Memiliki hal-hal yang disukai dan ingin digeluti. Lakukanlah. Apapun yang membuatmu sedih dan putus asa akan kamu lupa di beberapa tahun mendatang. Percayalah. Kamu hanya ingat pernah melewatinya dan mengingat rasanya, namun hatimu sudah bertumbuh lebih kuat lagi. Keputusasaan yang dirasakan di setiap jalannya atau mungkin orang-orang sekitar yang tidak mendukung pasti akan selalu ada. Itu tidak bisa dicegah. Semua kembali lagi pada diri sendiri yang menentukan. Kamu tidak akan pernah terlepas dari usaha dan perjuangan apapun itu.

Mimpi dan berkarya berjalan berdampingan. Membuat sesuatu artinya kamu telah melewati proses yang banyak untuk sampai pada penemuan. Salah satunya adalah pengalaman pribadi dan pemahamanmu akan suatu hal. Pengalaman yang mendewasakan. Semua bisa dicuri, namun segala kedalaman dan pemahaman tidak. Karya yang dibuat adalah kekasih hati, mungkin bukan yang terbagus dan terhebat. Tapi kamu sudah mengirim pesan kasih untuk hati lainnya yang membutuhkan. Karena kita semua terhubung.


pic: Vina. IG: jsvnw



10.9.15

Labil gak stabil

Mungkin inilah yang dinamakan dengan quarter life crisis. Apakah pemirsa budiman pernah merasakan kegelisahan terus menerus lalu nanti galau nanti jadi bingung dan lalu ditutup dengan ketiduran, saking capeknya mikirin negara. Situasi saya adalah akhir-akhir ini menjadi seorang remaja tanggung galau ( dibaca: galauwati). Eh tapi seharusnya blog ini kan membawa penyegaran ilmu pengetahuan yang ciamik dan ilmiah terpercaya biar disangka pinter gitu ya, tapi ah sudahlah. Sudah banyak blog pintar berbobot, Tidak usah deh saya ikutan pinter, toh pembaca blog saya sudah pintar-pintar semua, jadi saya menulis versi isi otak pas-pasan saja ya. Oke?

Saya ini antara bingung dan yakin. Saya yakin saya bisa melewati kebingungan ini sekaligus saya juga bingung bagaimana cara saya keluar dari kebingungan ini. Bingung kuadrat. Mungkin karena saya diberkahi menjadi orang yang luar biasa optimis melihat semua, jadi saya punya keyakinan, oh pasti ini bisa diatasi, tapi sebenarnya saya juga gak tahu sih bagaimana caranya. Aih. Cerdas memang.

Sebenarnya permasalahan saya cuman satu. Saya bingung saya sebenarnya mau jadi apa ya? Lalu bagaimana cara saya bisa mandiri sepenuhnya? Bagaimana cara saya bisa menjalani kehidupan saya sekaligus passion saya? Bagaimana cara saya tahu jodoh saya siapa, di mana? Bagaimana caranya saya bisa bermanfaat untuk orang lain lalu menjadi berkat? Lha...kok masalah saya jadi banyak ya? Saya jadi bingung lagi kan nih. 

Sebenarnya ini gak sih saat-saat di mana lo jelimet sendiri sama hidup lo lalu akan ada satu masa, dalam hati lo bilang: Anjrit, gue ngapain sih ya? Kok orang-orang terlihat sangat yakin dengan dirinya sendiri. Padahal kalau selidik punya selidik dalam hati mereka juga menjeritkan hal yang serupa. 

Kalau saya rasa sih, saat-saat ini  masa-masa di mana kita pengen nyobain ini itu, pengen tahu ini itu, penasaran sama ini itu, dan rada ceroboh lalu salah dalam mengambil keputusan. Lalu menyesal dan bangkit lagi karena penasaran lagi dan terus berulang. Ini saatnya di mana di umur lo yang masih 20an ini untuk trial and error. Begituuu sepanjang waktu. Mungkin ini kenikmatan masa muda. Berpetualang dalam ketidakpastian. Dalam umur kita ini, kita ingin sesuatu yang pasti, stabil namun ternyata hidup menyuguhkan hal yang berbeda. Ya sudah telan saja dulu bulat-bulat. 

Ya kuncinya satu, kalau jatuh, nangis sebentar dan jangan takut lari lagi. Setuju? 


23.4.13

Sudah Congkak, Gengsian Pula

pic: google


Saya punya teman laki-laki, anak Taiwan yang menurut perkiraan saya, untuk 10 tahun ke depan pasti dia jadi executive muda yang sukses dan kaya raya. Bagaimana tidak? Dia ikut bejibun acara sekolah dengan pengalaman internship yang segudang hingga sampai internship ke Jerman! Intinya dia sudah mencuri seribu langkah maju di depan saya, dan meninggalkan  saya yang cuman bisa melihat dia dengan tatapan kagum sekaligus iri. Sambil berkata: Gila itu orang! 

Orang yang seperti DIA ini nih yang ....

Di kelas tadi, dia bercerita tentang salah satu internship dia di kapal pesiar Jerman yang sedang mampir ke Kaohsiung (kota saya). Dia bercerita tentang bagaimana dia menjadi penerjemah, jadi juru bicara Jerman-Mandarin. Kesulitan-kesulitan yang dia hadapi dan pengalaman-pengalaman menarik yang bisa dipelajari dari internship itu. Menurut saya menarik sekali mendengar pengalaman orang lain dan mengetahui sudut pandang seseorang tentang suatu hal karena pasti berbeda. 

Ada satu cerita yang menarik yang agak menggelitik saya. Di kapal cruise ini dia bertemu dengan pasangan oma opa orang Jerman. Lalu teman saya ini menjadi penerjemah pasangan oma opa bule Jerman ini, namun dia menemukan kendala, yakni kenyataan bahwa pasangan oma opa bule Jerman ini tidak mengerti apa yang  sedang teman saya bicarakan. Pasangan oma opa bule Jerman ini mengkritik teman saya bahwa bahasa Jermannya kurang jelas dan tidak ada 'melodi' nya sehingga sulit untuk dimengerti. Kemudian pasangan oma opa bule Jerman ini pun malah sibuk mengajari teman saya cara berbicara yang benar dengan 'melodi' yang tepat dan cantik. 

Apakah kalian melihat apa yang menarik? Teman saya ini orangnya terbuka sekali dengan kritik dan tidak gampang sakit hati seperti saya. Dia malah melihat itu sebagai suatu pendapat yang paling jujur tentang skill dia dalam bahasa Jerman dan cepat tanggap dengan menyadari: "Oh, skill bahasa Jerman saya sampai sini toh, oh kekurangan saya di sini toh. Oke saya terima kritik anda, terima kasih. Bisa tolong ajarkan bagaimana cara bicara yang benar?" Astaganaga! Saya salut dengan orang yang seperti ini. Karena saya sendiri belum sampai ke pemahaman belajar yang seperti ini, saya ini terlalu congkak dan gengsian orangnya. 

Orang seperti SAYA ini yang .... 

Saya rasa mental seperti saya ini yang membutuhkan perbaikan mental. Dalam artian saya ini sudah congkak, gengsian pula , sudah begitu punya nyali kecil lagi. Saya takut untuk mencoba hal-hal baru yang pasti diluar kontrol saya. Saya tidak tahu medan, lalu saya ciut di belakang dan berakhir jadi jago kandang doang! Harusnya saya ini sering-sering ditantang dengan sesuatu yang menantang biar tidak sombong.

Pemahaman pembelajaran saya ini sebatas saya menyadari saya ini pintar di kelas dan membantu teman saya yang memerlukan. Bukannya pergi ke luar dan memasukkan diri saya ke 'kandang macan bule Jerman lalu bergelut di sana'. Saya masih saja duduk-duduk manis di kelas, berbosan-bosan menunggu jam kelas selesai sambil senyum-senyum. Sudah. 

Lain halnya dengan teman saya, bahwa dia berani untuk membawa semua kemampuan yang dia punya dengan segala kerendahan hatinya untuk belajar sesuatu yang baru. Saya ini takut dikritik dan tidak suka dikritik. Kalau kata orang kritik itu adalah komentar yang membangun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menunding bahwa saya ini tidak sampai level standard. "Idih... Si Metta lemah sekali yee,  gitu aja sakit hati, dasar mental tempe!" Iya memang. 

Saya rasa mental-mental tempe seperti saya ini sebenarnya banyak dan kalau terlalu lama seperti ini dengan berat hati saya tegaskan: Anda tidak akan bisa ke mana-mana, saudara-saudara. Serius.

Jangan lebay

Kalau kata Bapak saya, saya ini sudah congkak, gengsian pula! Saya gengsi untuk menjadi pihak yang salah dan bodoh. Padahal untuk mencapai sesuatu yang baik dan bagus pastilah dimulai dari pemula, yang pastinya masih naif, digoblok-goblokin, bodoh, diketawain, dikritik dan seterusnya dan seterusnya. Saya ini terlalu congkak untuk belajar dari orang lain yang lebih mengerti karena menganggap saya ini sudah cukup dan bisa sendiri. Padahal skill saya ini masih level ya gitu deh.

Ada baiknya sih, agar kita ini tidak terlalu lebay dalam menghadapi kritik dan kegagalan yang pasti akan kita banyak jumpai  di kehidupan ke depannya. Bahwa kita ini ya sama-sama belajar karena hidup ini adalah panggung sandiwara, bedanya hidup kita ini tidak ada gladi resiknya semua langsung perform. Dan sayangnya, tidak ada stuntman  atau pemeran pengganti yang bisa jadi back up kita jikalau ada adegan-adegan yang berbahaya dan meregut nyawa.  Semua itu ya kita yang hadapi sebagai lakon utamanya. 

Jadi, sudahkah kita cukup berani untuk menjadi rendah hati dalam belajar dan mengambil resiko? 

23.10.12

Rasa-rasa yang Dirasa

Semakin gencar saya menulis menandakan saya berada pada taraf stress yang makin intens. Saya baru menyadari pola tersebut. Ketika saya mulai merasa semerawut, menulis bisa meredakan segalanya sampai tuntas, layaknya iklan obat pencahar agar buang air besar lebih lancar. Mungkin ini yang orang bilang: selalu ada hikmah dibalik bencana. Yaaaa.... barangkali hikmah dari ini semua adalah blog saya penuh lagi dengan curhatan saya. Yaaaayyy! 

Di tengah aktivitas padat hingga terkadang menarik nafas pun terlupa, saya makin merasa sense saya untuk memperhatikan sesuatu yang sensitif dan detail semakin menumpul. Serasa saya mulai melihat bahwa hidup kita itu yaaa... begini-begini saja, tiga dimensi, tanpa menahu bahwa ada banyak dimensi lain di luar akal sehat kita. Terkadang sesuatu yang terus menerus itu bisa membuat kita terbiasa padahal itu jelas tidak biasa, saudara-saudara!

Jadi ceritanya begini, hari ini hari yang biasa, pagi yang biasa, sarapan yang biasa, dengan perasaan tumpang tindih yang tidak biasa. Membuat saya yang biasanya bangun segar dengan kilauan sinar mata penuh cinta *aseeek*, kini saya letoy tak berjiwa. Sepertinya rutinitas sudah menghianati saya mentah-mentah, memakan jiwa muda saya hidup-hidup tanpa ampun dan kini saya hanya ditinggalkan tulang dan kentut. Bagaikan  dementor yang menghirup kebahagiaan saya, hingga saya bisa merasa lack of love

Efeknya, saya menjalani hari ini sebagai suatu hari biasa bukan sebuah anugerah kalau saya masih diberikan nafas gratis oleh Tuhan. Dan saya kian merasa bahwa saya bangun pagi hari karena sudah layak dan sepantasnya. Saya lupa kalau saya ini manusia biasa yang jiwa dan raganya milik Tuhan hingga saya bisa 'lewat' kapan saja semau Dia.

Lalu yang menarik adalah di hari yang luar biasa 'biasa' ini ada pelajaran sejarah yang super boring malesin. Tapi entah dengan apa dan bagaimana, hari ini topik pembicaraannya sangat menarik yakni: Sebutkan tiga tempat yang kalau kamu ke sana, kamu akan merasa senang bak di surga. Lama saya berpikir dan mengingat-ingat tempat yang mampu memberikan rasa. Akhirnya saya menjawab: rumah, gereja dan perpustakaan. Dalam otak saya mulai mencari-cari apa yang paling menarik dari tempat ini, ternyata jawabannya yang muncul dari pemikiran saya adalah ada sebuah 'rasa'. Tempat-tempat ini selalu muncul di fase kehidupan saya dan mengambil andil yang cukup besar dalam pertumbuhan pribadi seorang Metta. 

Rumah 

Di mana tinggal orang-orang tercinta; keluarga saya. Di mana saya dibesarkan dengan penuh cinta. Di mana saya selalu bisa pulang kembali dan pintu rumah selalu terbuka lebar menerima saya. Rasanya ada perasaan aman, ketika kita tahu bahwa ada suatu tempat yang selalu menerima kita untuk kita pulang dari pergi jauh.

Gereja

Di mana tanpa Dia tentu tidak akan ada saya yang sekarang. Bahwa saya ini hanya kecil di tengah keluasan Dia, bahwa saya ini terbatas tapi Dia tetap ada di manapun saya berada. Dia yang selalu bisa dicari dan ditemui di kedalaman hati dan selalu setia setiap saat seperti di iklan Rexona

Perpustakaan

Di mana saya duduk ansos dari dunia luar dan asyik tenggelam dengan buku-buku. Berkomunikasi searah antara hati dan otak, yang kerap kali bertengkar. Di mana saya mampu berjam-jam duduk membaca sambil berpikir ini dan itu, menerawang jauh ke depan.

Lalu si Bapak Guru menjelaskan, suatu tepat yang memberikan 'rasa' pada kita akan selalu kita ingat dan tersimpan sadar atau tidak. Seberapa pun lamanya itu. Karena bagi manusia bahasa perasaan itu bahasa yang paling mudah disampaikan dan dicerna. Hingga terkadang saat kita pergi ke suatu tempat baru dan ternyata kita menemukan kembaran rasa dengan tempat familiar yang kita sukai, sudah pasti kita akan jatuh cinta dengan tempat itu. Apalagi apabila tempat itu memiliki bau yang sama. Lima indera kita mempunyai andil yang besar untuk perasaan kita. Itulah gunanya dan pentingnya indera.

Ternyata selama ini saya tersedot oleh lingkaran rutinitas yang menumpulkan rasa-rasa. Saya pikir ada bagusnya bagi kita untuk bisa lebih perasa dalam rasa-rasa. Karena sekalinya kita membuka hati pada berbagai rasa dalam hidup, dijamin tiap hari akan berbeda dan jauh dari kata 'biasa'. Lalu sampai titik tertentu, kita bisa mundur kembali dari kesibukan kita dan bersyukur karena hati kita tidak disfungsi dengan keindahan di sekitar kita. Boleh nih dicoba!  :))

9.12.10

Duc in Altum




Kamu mau menganan atau mengiri? Satu jalan namun beda belokan. Tidak selamanya si kanan itu baik dan tidak selamanya kiri itu buruk. Kamu mau pilih yang mana? Dalam hidup kita ini pasti kita pernah merasakan termometer semangat yang drop. Kita bingung dan ingin menangis namun terkadang menangis tidak menyelesaikan masalah apabila apa yang mau ditangiskan pun tak tahu. Mungkin kita hanya sedang capek. Capek dengan rutinitas yang mengejar. Sesak.

Ditengah menumpuknya pekerjaan , permasalahan , jiwa kita tersungkur. Di saat inilah manusia membutukan presensi sebuah keluarga. Ketika aku sedang miskin semangat, ketidakberadaan keluarga secara fisik kadang membuat semangat gagah beraniku turun. Dan aku sebagai seorang anak akan merindukan orangtuaku dari waktu ke waktu. Namun aku tahu pasti bahwa seberapa jauh aku melangkah, aku masih punya tempat untuk kembali. Keluarga. Masih ada rumah hijauku dengan Ayah Ibuku serta kedua adikku di rumah.

Kucoba untuk terbangun dan terjaga. Mungkin fase kehidupanku saat ini amat cocok dengan sebuah kalimat berikut ini: Duc in Altum.

Duc in Altum berasal dari bahasa latin yang artinya: Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Injil Lukas 5: 2-6. Yesus menyuruh Simon untuk berlayar sedikit jauh dari pantai.

Lalu Yesus pun berkata kepada Simon: " Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."


Yesus sendiri berpesan bahwa kita harus melangkah jauh ke tempat yang lebih dalam. Maksudnya , agar kita bisa lebih menyelami lebih dalam, lebih luas, dan lebih jauh lagi. Kita diajak untuk menjadi orang yang tidak statis di zona nyaman kita. Untuk bisa mengambil tantangan baru mendapatkan hal-hal baru demi menjadi sebuah pribadi yang matang. Ketika kita berusaha untuk melangkah lebih jauh lagi dan meninggalkan zona nyaman kita, pasti pada awalnya kita akan ketakutan dan kehilangan arah. Kita merasa salah disebuah tempat yang sebenarnya paling tempat bagi kita. Bukankan biasanya sesuatu yang benar biasanya terasa salah?

Misalnya saja ketika kita sedang mendayung sebuah perahu, tentu kita harus membawa perahu kita ke tempat yang agak dalam agar dayung kita tidak tebentur daratan/pinggiran. Mendayung perahu ke tempat dalam pun bukanlah hal yang mudah karena begitu banyak gelombang. Kita harus mengendalikan keseimbangan perahu dan juga harus terus mendayung agar perahu kita terus jalan. Arah mengendalikan perahu pun berbeda. Ketika kita ingin belok ke kiri kita harus mendayung di kanan, kalau kita ingin belok ke kanan kita harus mendayung di kiri. Seharusnya ini pun bisa kita praktekkan pada kehidupan kita. Kita harus lebih fleksibel pada sebuah keadaan. Masih banyak peluang dan kesempatan untuk menuju cita-cita dan tujuan kita. Tentu pernah mendengar sebuah pribahasa zaman SD: Banyak jalan menuju Roma. Apabila tidak bisa yang ini yaaa.... jangan dipaksa coba dengan cara lain. Ketika situasi seakan tak ada solusi mungkin kita harus mundur sebentar lalu ambil jalan yang lain.

Kita pun harus ingat, ketika kita mencoba untuk mendapatkan hal yang lebih; ada begitu banyak harga yang harus kita bayar. Ada banyak gelombang dan ombak. Namun kalau kita tidak mencoba gelombang dan ombak itu kapan kita sampai ke tujuan? Siapa bilang hidup ini bisa semena-mena? Ayolah please. Jangan bercanda. Mari kita mengejar mimpi-mimpi kita yang tertunda. Sungguh keterlaluan apabila mimpi kita dikalahkan dunia. Aku selalu percaya bahwa selama kamu bisa memikirkannya pasti bisa mewujudkannya.

Mari saudara-saudara kita mengencangkan sabuk pengaman kita masing-masing untuk mendayung ke tempat yang lebih dalam menikmati gelombang dan semilir angin serta keindahannya. Hidup ini indah kawan :)) Angkat pantatmu, ayo berjuang !!!


Salam,

gadis payung kuning

21.2.10

AMBULAN

AMBULAN : Anak enaM BULAN

Ni hari tepat 6 bulanan atau setengah taonan kita loh teman-teman :)) SELAMAT YAA YOU GUYS!! Yaaaa...walaupun hari ini kita jalan-jalan ke Museum Fine Arts minus Rio dan Femi. Tapi hari ini aku puassssss berjalan-jalan dan bersenang-senang dengan kakak-kakak, berpiknik bersama dan ketawa selebar pantat kuda nil. Makasi loh yaaaaaaaaaa,,, juga foto-foto nungging yang kita lakukan :))

Semoga kita:
Metta Asriniati Martopranoto
Marcia Rosy
Rio Vincentius
Meylisa Ibenk
Anastasi Karyna Pramesthi
Femilia The
Rany
Atriva Brenda Benedicta

Bisa menjalani semester depan dengan semangat membara kayak pria-pria berotot mirip ade rai di iklan-iklan energy drink.

Makin kompak dan saling bersatu melindungi kebajikan.

Semakin kece dan G4WUL

Terhindar dari segala godaan dan kemalasan

Nilai kita makin bagus

Sehat selalu

Lancar MANDARIN, Lancar inggris, Lancar jerman/perancis/jepang, lancar rejeki, lancar buang air besar

Dapet jodoh (Mari yang jomblo teriakkan "AMIN" sekencang-kencangnya. Gue yakin teriakkan ibenk paling kenceng, ya ngga benk?hehehe)

*dan yg bagus-bagus lainnya :)) AMIN!*





Museum Fine Arts


Femi---> pulang ke Indonesia


Rio -----> mencari sesuap nasi, secubit garam


INILAH KAMI SEMUA!!! :))



ibenk oh ibenk,,,,



HAPPY 6 MONTHS,...
LOVE YOU ALL!!





new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...