Showing posts with label menulis fiksi. Show all posts
Showing posts with label menulis fiksi. Show all posts

16.7.16

Yang Terdekat dan Diakrabi

Dalam draft ketikan yang tak kunjung selesai ditulis, lalu cangkir kopi kedua yang telah diseduh dan dingin diam-diam tanpa izin. Berubah masam dengan sisa ampas di sekeliling cangkirnya. Selapis lipstik merah muda kemerahan mengecupi bibir cangkir yang disesapi perlahan. Terlihat tumpukkan buku di kiri kanan tergeletak setelah beberapa kali dibaca dan diusap-usap dengan belaian yang berbeda. Sesekali menciumi baunya, membenamkan hidung ke dalam dan menghirupnya dalam satu hisap nafas. Setiap orang memiliki fetish-nya masing-masing dan bagi perempuan ini fetish-nya adalah mencium buku, terutama buku yang baru dibeli.

Tujuh ratus tiga puluh hari telah dilewati sedari keterpisahan dengan lelaki sudah lampau. Sudah lampau. Sudah berdebu di ingatan. Lalu sangat mengerti bahwa perempuan suatu hari akan mencintai seorang laki-laki harum laut yang sebebas-bebasnya demi apa pun dan tidak akan bisa dimiliki. Cocoklah untuk si perempuan yang terus berlari dan tertarik akan bahaya-bahaya yang merangsang otak korteksnya. Sebegitu membutuhkan aliran adrenalin yang berdesir di sum-sum tulang belakang lalu kegelian sampai batang otak. Si perempuan bukan definisi cantik milik society dan bukan kebutuhannya untuk menjadi pemanis atau pelengkap kecantikan yang bergelayut manja di lengan prianya. Rasanya dia tidak seperti itu, jikalau menggambarkannya si perempuan adalah humor sarkasme gelap di labirin otak. Dia tidak akan menyuguhkan romantisme legit kemanisan karena dia khawatir lelakinya akan sakit gula karenanya.

Si perempuan dan lelakinya yang harum laut itu sedang duduk bersamping-sampingan di kereta menuju kota yang memiliki banyak pantai dan mereka akan menziarahinya satu-persatu. Ngobrol santai tidak penting dan lalu memandangi wajahnya lekat-lekat dengan kumis tipis yang alurnya sudah dihafal mati si perempuan lewat ujung jari dan bibirnya, kemudian sesekali bergidik kegelian setiap kali bertukar kecupan yang harus dicukupkan.

Pantai yang ditunggu-tunggu hadir di depan hidung dan langit sore sudah turun mengisi ruang-ruang dekap mereka berdua. Duduk- duduk dengan pantat lembab karena duduk di pasir pantai dan membenamkan kaki mereka di pasir yang basah dan dingin namun rasa nyaman tetap hadir lugu.

“Saya di kehidupan selanjutnya rasanya akan menjadi semut hitam pekerja, yang bekerja sedemikian rajinnya untuk koloni dan Ratu. Terkadang saya merasa sedikit ada perasaan bersalah jikalau tidak sibuk, tidak hectic, tidak produktif atau hanya santai-santai saja. Rasanya tubuh saya ketagihan untuk kerja. Bagaimana ya?”tanya si perempuan sambil menggulung rambutnya menjadi konde kasual.

“Memangnya kamu menghindari diri dari apa? Ada yang kamu takutkan?”tanya laki-laki itu.

“Ketakutan? Oh tentu banyak! Rasanya dia mengintai dan selalu ada di samping saya seperti bayangan lekat-lekat lalu akan merasuki dan menyatu dengan tubuh saya, kamu tahu kan rasanya?”ujar si perempuan sambil menatap mata laki-laki itu. Tidak. Rasanya laki-laki ini tidak pernah takut apapun.

“ Oh tentu, saya tahu, rasa seperti takut menyerah pada ketakutan itu sendiri. Seperti tersedot masuk ke ruang tertutup sempit tanpa jendela dan pintu lalu waktu rasanya tidak bisa diukur. Ya kan?  Jadi kamu sebenarnya menghindari apa?”

“Bukan menghindari hanya saja rasanya, diri sendiri adalah seorang sahabat sekaligus musuh yang erat di kulit saya. Saya tidak suka membiarkan diri saya sekosong itu tanpa melakukan apa-apa rasanya saya sudah terbentuk demikian. Seperti work ethic saya mengharuskan fokus, detail, dan kerja keras. Saya terdengar seperti perfectionist bitch ya?”

“Iya sih haha. Tapi jikalau kamu nyaman demikian kenapa tidak?”tanya laki-laki itu diplomatis.

“Atau jangan-jangan saya bukan seseorang yang mencari aman. Saya kadang sebal dengan diri saya sendiri yang selalu mencari tantangan, rasa penasaran dan rasa takut itu sendiri. Saya mencari rasa takut dan ingin dekat-dekat dengannya. Kamu percaya ?”

“Ya, bisa saya lihat dari matamu. Kamu bukan pemain di garis aman mungkin kau ingin menjadi tuan atas rasa takutmu dan menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Tidak tanpa rasa takut, namun melakukannya dengan rasa takut dan memerdekakannya. Dengan cara itu kamu merasa hidup” kata laki-laki itu lagi.

“Eh kamu suka serial BBC Sherlock Holmes gak, yang episode istrinya John Watson bohong habis-habisan ke dia? Lalu menariknya ya ada satu dialog Sherlock ke John begini : John, you are addicted to a certain lifestyle. You’re abnormally attracted to dangerous situations and people…so is it truly such a surprise that the woman you’ve fallen in love with conforms to that pattern. Gila, saat mendengarnya rasanya saya mau jedotin kepala sambil teriak: Yo mamen itu gue banget!”ujar si perempuan sambil tertawa.

“Ya, mungkin ada benarnya kamu demikian” kata laki-laki itu lagi sambil ikut tertawa.

***

Gurat wajah dan tubuh laki-laki yang dikenal perempuan itu setiap inchinya; gelung rambutnya yang terurai sesekali; nafasnya yang harum cengkeh dan tembakau, punggungnya yang melekuk ke dalam dan pinggangnya tempat si perempuan menyelipkan tangannya sesekali.  Mereka berdua selalu berlekatan tak terpisahkan dan saling mengisi. Bertukar pagut dan berpegangan tangan. Berbagi cerita dan senyum. Laki-laki ini selalu hadir di mana pun perempuan itu berada tanpa kecuali. Kehadirannya adalah puncak tersepi di selat mata si perempuan. Kenyamanan yang dibagikan sebagai bentuk pertahanan diri, semata-mata hanya untuk menjadi waras. Memelihara apapun itu yang menghidupi hangat tubuhnya dan kerling matanya.

Di satu senja itu, di ceruk sebuah pantai terujung, si laki-laki meretas kancing kemeja perempuan satu persatu, mengeja jemari di kedua payudaranya, menggenggam jantungnya dan mendikte ritme di setiap degupnya. Bersisi-sisian dan menyatu. Dan laki-laki itu bernama : Fear.



1.5.16

Melongok Pulang dari Jendela Pesawat


Memasang sabuk pengaman dengan pandangan kabur karena air mata, lalu sesekali memalingkan muka untuk mengusapnya agar tidak terlihat oleh penumpang yang lain sebenarnya sungguh menyebalkan. Kesedihan yang tumpah ruah begitu saja lalu hatimu berantakan sedemikian rupa. Sedu sedan yang kau tahan ketika pesawat akhirnya lepas landas. Meninggalkan apa pun, apa pun yang ada di tempat itu. Teman-teman, kampus, guru-guru, asrama, gedung kuliah, perpustakaan tempat kamu menyendiri dan membaca, kamar asrama, kantin dengan makanan ajaibnya, rumah makan kesayangan, pasar malam, kapel kecil yang sejuk, taman depan kampus, kedai kopi yang hangat dan tentu saja kamu.

Dada sesak dan lalu meminta segelas air putih pada pramugari yang memandangi penuh iba karena mata saya sembab dan hidung merah. Ia pun menawarkan handuk hangat basah dan saya pun mengangguk. Bapak-bapak yang duduk di samping pun melemparkan pandangan kasihan berkali-kali dari sudut matanya. Saya sudah tidak peduli dan mulai mengusap muka saya yang lengket oleh air mata. Rasa kesal dan sedih masih menggelayut di sudut kening, saya memutuskan meminum segelas air putih itu hingga tandas namun tetap tidak ada rasa lega di sana. Seketika pesawat rasanya sungguh sempit dan singup, lalu saya hanya ingin menangis lagi. 

Tidak ada seorang pun yang menjadi ahli dalam menghadapi perpisahan. Ketika selamat tinggal mampu mencabut akar sebegitu dalam namun sayangngnya tidak bisa memilih. Atau mungkin memilih namun tetap saja menyakitkan rasanya. Mengharapkan dia hadir sesaat di cafe kecil airport  untuk berpisah secara baik-baik dan lalu berpelukan erat, rasanya menjadi suatu harapan yang sangat muluk. Duduk sendirian di cafe itu dan menghirup kopi panas yang terlalu encer namun untunglah rasanya pahit. Untunglah sehingga setidaknya kegetiran ditemani kopi pahit itu. Mungkin sejak itulah saya memiliki apresiasi berlebih pada kopi pahit. 

Namun kamu tak kunjung datang hingga akhirnya nama saya dipanggil untuk boarding. Kau tetap tidak datang. 

***

Sudah saya katakan berkali-kali hal yang saya suka darimu, salah satunya adalah kumis. Jatuh cinta pada seseorang karena kumisnya tidak salah kan? Seperti misalnya seseorang suka makan donat coklat kacang karena alasan ya.. suka saja. Lalu apakah menyukai sesuatu dengan alasan 'suka saja' sebenarnya bukan jawaban yang cukup memuaskan untuk dikatakan pada orang lain terlebih kekasih? Padahal sebenarnya banyak hal yang kita sukai tanpa kita ketahui mengapa, seperti sudah demikian dari sananya. 

Memandangimu dengan rambutmu yang panjang digelung, lalu kaos oblong warna biru tua yang kau pakai ke mana-mana serta asap rokok yang mengepul sesekali dari mulutmu hingga membuat rambut saya jadi ikut bau asap rokok. 

"Aduh, asapnya kena ke rambut saya nih, bau,"ujar saya sambil mengibas-ngibaskaan asap rokok dengar muka masam. 

"Iya, nanggung satu lagi, asam nih mulut saya. Udah nanti keramas lagi. Eh mau minum apa?"tanyamu sambil melambaikan tangan ke pelayan. Dan kamu pasti memesan kopi plus gula dan saya memesan kopi hitam tanpa gula. Tidak ingat semenjak kapan kita sering menghabiskan waktu berdua sekedar untuk duduk dan lalu ngobrol atau hanya diam saja sibuk dengan pikiran masing-masin

"Memang harus ya minum kopi pakai gula? Itu tuh merusak rasa kopi, jadinya kayak kolak tau, tinggal dicemplungin kolang-kaling aja," kata saya sambil menggeleng-geleng tertawa. Saya heran setengah mati dengan orang yang minum kopi pakai gula, untuk apa mencari pahit kopi tapi inginnya pakai gula. Rasa kopi kabur, rasa gula tidak tercampur jadi satu. Tidak habis pikir. 

"Eh... udah deh gak usah mulai lagi, haha. Inilah cara saya menikmati kopi dengan gula. Saya males kalau pahit sekali, getir banget rasanya. Lagian ya harusnya kita tuh impas dan gak usah saling ledek, coba kalau kamu minum bir maunya Radler, itu mah sirop," tungkasnya sambil menepuk-nepuk kepala saya. 

"Tapi Radler tuh enak, rasanya cukup  untuk saya. Tidak usah bir yang sungguh-sungguh bir. Kalau saya sudah bisa dicukupkan dengan Radler. Oke, kalau gitu kita impas ya?" sahut saya sambil meninju bahunya perlahan.

"Nah, ya benar itu. Toh setiap orang punya selera masing-masing dengan keperluan masing-masing, jadi nikmatin saja apa yang menurut kita nikmat ini, tidak usah ngajak-ngajak orang lain."

"Oh maksud kamu semacam keblinger dengan cara masing-masing, gitu kan ya?"canda saya lagi. "Eh tapi menurutmu kenapa bisa ada orang yang ingin membuat orang lain ikut percaya dengan keyakinan yang dia miliki? Seperti mereka fanatik lalu merasa apa yang mereka yakini paling benar dan orang lain harus ikut?"tanya saya sambil memandang matanya. 

"Akan selalu ada orang seperti itu, mungkin di hati kecilnya membutuhkan pengakuan lebih akan keyakinannya itu dan melihat keyakinan itu menjadi benar apabila dilihat dari kuantitas yang mempercayai entah apa pun itu, tidak hanya agama loh ya," katamu sambil membalas tatapan saya. Berbagi tatapan sepersekian detik dan mempelajari gurat wajahnya dan lipatan kulit di ujung matanya saat tersenyum lebar. 

"Hei, tahu tidak kemarin saat pelajaran Human Development, kita ada diskusi singkat kelompok mengenai asal usul kita dan bagaimana kita menghargai hidup. Lalu saya menemukan yang menarik. Seperti yang kita tahu, Taiwan adalah negara maju yang beberapa orang tidak memeluk agama, seperti agama bukan sebuah kebutuhan mereka. Mereka percaya ada Yang Besar namun hanya percaya dalam waktu tertentu seperti  saat mau test masuk univ atau minta ini itu," cerita saya sambil menyeruput kopi perlahan.

"Ya, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali dan tidak merasa Yang Besar itu ada,"ujarmu menimpali.

"Lalu, saat ada pertanyaan mengenai asal usul kita dari mana, tentu kamu tahu saya akan menjawab bahwa manusia berasal dari ciptaan Tuhan. Lalu ada beberapa anak Taiwan yang merasa bukan demikian, bahwa kita berasal dari orang tua kita, dari  merekalah kita berasal, kalau tidak ada orang tua ya kita tidak ada. Lalu saya berpikir, ya benar juga sih. Itu tidak salah. Akhirnya diskusi tersebut berakhir dengan dua jawaban; berasal dari orang tua dan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Laoshi bilang dari mana pun kita berasal entah apa pendapat kita, sudah selayaknya kita menghargai hidup," kata saya sambil mengangguk-angguk. "Padahal ya saya kira diskusi ini akan sangat sengit dan tarik urat leher dengan ayat-ayat kitab suci bertebaran di mana-mana, namun mereka santai saja dan tidak ada ketakutan akan perbedaan itu" lanjut saya takjub.

"Ya menarik ya, ketika kita masuk ke negara yang tidak menjadikan agama sebagai sebuah kewajiban dan memberikan kebebasan untuk memilih percaya dan tidak karena itu privasi. Mungkin mereka memasukan agama sebagai kebutuhan sekunder sih dan tidak menjadikan itu sebagai sebagai identitas. Bahkan pernah saya berdiskusi singkat dengan teman lalu ia berkata yang terpenting adalah perbuatan baik pada sesama, makhluk hidup lain dan alam dengan tidak merusak keseimbangan itu. Namun tidak enaknya dari negara ini adalah libur sedikit karena tidak ada hari besar agama, ya kan? Lalu kita tidak bisa ikut merayakan hari besar agama lain dengan libur," candanya sambil tertawa.

Saat itu matahari jam empat sore sehingga agak terik dan silau. Kedai kopi itu berasa di sisi Ai He, terjemahannya Love River. Banyak orang yang jogging, bermain sepeda, bersepatu roda, skate board dan lalu kami pun memilih untuk berjalan-jalan di seputar sungai itu. 

"Kemarin saya ada tawaran freelance menjadi translator dari mantan rektor kita yang sudah sakit itu. Dia ada pembantu baru dari Indonesia yang baru datang dan diantar ke rumahnya namanya Rini. Jadi Rini seumuran saya dan sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Mungkin hanya sedikit-sedikit dan kita tahu kan bahasa Mandarin bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari semalam kecuali kalau kamu kerasukan setan cina tiba-tiba. Hingga akhirnya saya dipanggil untuk membantu translate,"cerita saya sambil berjalan santai.

"Lalu kamu pasti terbawa perasaan sendiri seolah Rini ini adalah sebagian dari dirimu sendiri yang merantau entah di mana dengan bahasa asing yang tidak kamu suka-suka amat. Lalu kamu teringat perjuanganmu belajar Mandarin siang malam hingga stress dan menangis di malam hari setiap hari itu?" tanyamu setengah menggoda.

"Ih kok tau? Gila,  saya tahu sekali rasanya ketika semua suara tidak saya mengerti, saya mendengar namun tidak paham. Lalu tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang lain, helpless sekali rasanya. Hingga berjuang itu sampai mati-matian dan benci pada diri saya sediri karena banyak waktu saya habis untuk belajar, stress, menangis, tuntutan nilai tinggi, persaingan, sikap perfeksionis saya, dan akhirnya pelarian-pelarian di perpustakaan kampus tujuh lantai yang bagai surga itu. Kadang saya menyesal kenapa saya bukan anak gaul clubbing namun malah sibuk berkencan malam minggu dengan Haruki Murakami, Tagore, Rumi, Ernest Hemingway, Paulo Coelho dan lain-lainnya itu," cerita saya sambil tertawa perlahan.

"Mungkin karena setiap orang punya cara untuk lepas dari belenggu apa pun itu dan kebetulan caramu untuk survive adalah dengan sepi meski sebenarnya ada pesta kembang api yang ramai di otakmu. Lalu anak clubbing, mereka tidak suka sepi hingga mencari keramaian sehingga menyepikan otak sesaat agar bebas dan high. Sebenarnya sama-sama mencari kedamaian dengan arti sepi dan ramai masing-masing sih,"tuturnya sambil memandang saya. 

"Ya mungkin demikian, lalu kembali lagi ke Rini lagi ya, saya terkadang bingung dengan posisi saya sebagai seorang translator. Karena baiknya translator menjadi penghubung dua belah pihak. Dan kamu tahu saya ini adalah translator yang buruk karena saya tidak sampai hati menerjemahkan semua tuntutan dan peraturan rumah pada Rini. Bagaimana dia ada kamar tidur namun harus tidur si sofa menjaga pasien, bagaimana dia terkadang tidak boleh sholat lima waktu, dan bagaimana passport dan uang yang ditahan. Dan lagi, apabila belum sampai suatu masa yang ditentukan Sabtu Minggu harus tetap kerja, ya mungkin sebulan sekali dan hanya sekali-kali boleh libur. Coba kamu bayangkan bagaimana kamu menjelaskan hal itu pada Rini? Akhirnya saya menjelaskan dengan memberi solusi sendiri. Tapi hati saya saat itu hancur sekali ya walaupun banyak juga sih TKI yang bandel sekali dan jadi sumber onar, saya tahu. Namun ketika saya membantu menerjemahkan hati saya amburadul. Lalu saya pulang menangis," ujar saya sambil sibuk memandang ke arah lain.

"Tidak mudah ya, ingin menolong lebih namun kesempatan untuk menolong hanya secukupnya dan hati kecilmu berontak karena kamu sama-sama orang Indonesia kan?" tebakmu sudah mengetahui arah bicara saya yang akhirnya ke sana juga.

"Tepat, seperti pertanyaan apa ya yang bisa dilakukan untuk menolong, saya sih inginnya bilang: Ayo Rini kita pulang saja yuk, tidak usah di sini. Namun, itu juga tidak menyelesaikan, saya hanya bisa berdoa semoga Rini baik-baik saja dan bisa cepat ngerti bahasa Mandarin," kata saya menerawang.

"Ya semoga ya. Kita jauh dari Indonesia dan merasa seperti mencintai Indonesia dari kejauhan. Mendengar kabar dari media massa yang terkadang mungkin bisa saja bias. Lalu kekecewaan kita pada Indonesia mengapa belum membaik, kerinduan dengan Indonesia sebagai tempat tanah air kita. Lalu ada kalanya mendengar lagu Indonesia Pusaka saja, kita bisa secengeng itu,"sahutmu ikut menerawang. Kamu pun berjalan menuju pagar pembatas sungai dan bersandar di sana. "Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata,"dan kau pun bernyanyi.

"Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata. Itu sih sebenarnya. Kita bisa mencintai Indonesia dari jauh dan  mencintai dengan jarak rasanya saya jadi memahami kalau saya cinta Indonesia, bagaimana pun itu. Sekian. Lalu saya jadi teringat puisinya Remy Sylado berjudul Nasionalisme begini bunyinya: Bahwa hatiku boleh saja keluar dari tanah airku tapi jangan pernah tanah airku keluar dari hatiku." lanjut saya lagi ikut bersandar di pagar.

"Kania, makan mie bebek yang dekat Katedral yuk."

"Kamu traktir ya."


***


"Oh iya, setengah semester lagi saya harus pulang ke Indonesia. Saya mau tinggal di Indonesia saja, saya tidak bisa membayangkan tinggal di Taiwan, bekerja, berkarya, kawin, berkeluarga, melahirkan, saya ingin pulang ke Indonesia," kata saya lagi sambil memegang lengannya.

"Kenapa harus pulang? Taiwan akan berkembang pesat seperti Jepang dalam beberapa tahun lagi. Dan pergerakkan politik di Taiwan lambat laun kian berani melawan China, coba saja lihat calon presiden Tsai Ying Wen, pasti dia bisa maju jadi presiden Taiwan. Kamu bisa mencari apa pun di Taiwan, kecuali cobek ulekkan sambel haha," candamu sambil tersenyum. 

"Saya tahu, semua kemudahan ada di Taiwan, saya tahu. Namun rasanya hati saya sudah cukup menetap empat tahun di Taiwan. Meski saya tahu ada berbagai macam cara menunjukkan rasa cinta pada tanah air selain tinggal di sana. Saya tahu dan sejujurnya saya takut sekali untuk kembali ke Indonesia for good. Saya khawatir setengah mati karena pasti tidak akan senyaman sekarang dan saya harus kembali beradaptasi setelah lama tidak pulang. Namun hati saya berkata saya harus pulang ke Indonesia,"lanjut saya menjelaskan. 

"Lalu kita?" tanyamu memandang lekat-lekat.

"Kita? Ayo kita pulang ke Indonesia."

"Saya di sini, saya tidak pulang."


***


Pesawat ini terbang tenang tanpa ada turbulensi, tempat duduk kelas ekonomi yang tidak empuk-empuk amat dan lagu Norah Jones yang mengalun perlahan. Catatan jurnal harian yang terbuka di halaman kosong belum ditulis. Pertanyaan besar akan ketakutan dan kesedihan. Mengapa mau pulang saja harus sedemikian beratnya? Berbicara tentang masa depan yang sedemikian abunya dan hati yang patah lalu entah bagaimana cara memperbaikinya. Ternyata cinta saja tidak cukup dalam sebuah hubungan, kesamaan visi, tujuan dan cita-cita adalah sekelumit di antara hambatan lainnya. Bukan melulu tentang cinta saja namun pencarian-pencarian mimpi dan aktualisasi diri. Pertanggung jawaban atas diri sendiri dan belajar untuk tidak lari. Bahwa menerima apa yang ditawarkan hidup bisa sepekat ini rasanya. Tidak ada kemudahan di sana. 

Melihat sesuatu sebagaimana adanya dan menjadi bijak dalam melihat, bahwa tidak semua harus dirasa dan dilihat dengan dekat, bijaksana dalam melihat suatu hal dan ada kalanya melihat sesuatu dari gambaran yang besar sangat membantu ketimbang melihat dari potong-potongan.

Dan kini baiknya memandangi senja di ketinggian sekian kaki dari jendela pesawat. Cantik, sungguh cantik. Ingin rasanya saya kantongi dan bawa pulang. Namun tidak, keindahan hanya dapat dinikmati bukan untuk dimiliki. Dinikmati penuh-penuh lalu simpan dalam hati.



Menuju Jakarta





Serpong, 2016

Terbangun jam 2 pagi dan menulis fiksi mini. Lalu bingung mau diapain. 
Diapain ya enaknya?






23.4.16

Hal-Hal Sederhana yang Luput dari Indera Kita



"Udah tahun baru aja ya? Lemesin aja lemesin."

Kata mas-mas berambut tidak santai dengan tato di sekujur lengannya, namanya Djito mungkin panjangan dari Warjito atau Djitodiningrat tapi kayaknya yang terakhir kebagusan. Kami berkenalan di Stasiun Gambir menunggu kereta terakhir ke Cirebon. Kata Djito cita-citanya mau jadi anak punk yang kritis dengan issue hak asasi manusia. Ah sedap! Itu dia suka ikut aksi Kamisan yang mulai dilarang itu, aksi permintaan pertanggung jawaban atas issue HAM.

"Di tahun yang baru ini saya mau ngelemesin semua yang tidak santai. Lagian ye, coba deh baca bukunya Paulo Coelho yang judulnya Aleph. Katanya ya kalo hidup ini udah kayak naek kereta api, orang-orang yg ada di hidup kita ada di gerbong yang sama kalau mereka belum berpindah cerita ya kita ga bisa ganti gerbong, harus bergulat gitu. Ya intinya saya mau menghadapi apa yang harus dihadapi gitu lah, kalo kamu Maemunah ngapain?"

"Di tahun yang baru ini sih saya mau realistis aja deh. Abis kalo misalnya saya bilang mau jadi 'manusia baru' belom bisa. Kan kalo jadi manusia baru berarti meninggalkan yang lama yang artinya mampu meninggalkan kekecewaan yang lama tapi kayaknya saya masih stuck nih. Maju kena, mundur kena. Ya udah...saya stagnan aja. Kan gak salah dong kalo  memilih stagnan. Itu juga melatih endurance ya gak sih?"tanya saya lagi.

"Kebiasaan deh kalo ditanya eh nanya balik, si kampret emang haha," kata Djito sambil meneguk botol air mineralnya. "Udah ah yuk, udah waktunya harus naek kereta!" ajak saya sambil mengambil tas.

“Kamu ke Cirebon mau ngapain Mae? Cari jati diri ya, buat anak-anak gadis macam kamu yang mau aja diperbudak kapitalis?” tanya Dhjito sambil duduk di kursi kereta. Tidak terlalu banyak penumpang pada hari itu maklum belum waktu liburan.

“Enak aja! Anak gadis macam apa nih maksudnya? Saya mau nengok nenek beliau lagi sakit. Kamu sendiri kenapa ke Cirebon? Patah hati ya ditolak cewek?”kekeh saya sambil memukul lengannya perlahan. Menurut saya pasti Dhjito ini anak punk cengeng mungkin ke arah emo. Eh tapi itu beda aliran ya. Pokoknya begitulah.

“Widih...saya mau mencari inspirasi sambil nyobain empal gentong mamang-mamang di Cirebon. Pasti enak. Lagian patah hati mah udah satu paket datangnya sama jatuh cinta. Gak usah kaget gitu, cuman masalah waktu itu," kata Dhjito kemudian.

“Tapi makin ke sini saya semakin skeptis sama urusan hati. Kayaknya chemicalnya gak nyampe ke otak saya yang seuprit ini. Sebingung kenapa manusia sekarang tidak bisa lepas dari layar smart phone mereka. Mungkin cinta sama smart phone sama-sama adiktif kali ya,”ujar saya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.

“Ah ya, ketergantungan smart phone udah mulai macam berhala kali ya buat zaman sekarang. Saya juga berasa gitu dan merasa khawatir berlebihan kalau gak bawa hp, itu udah termasuk sakit jiwa. Pernah suatu kali saya perhatiin kalo beberapa orang bertemu tidak untuk ngobrol namun nunduk sibuk sendiri dengan hp mereka. Mungkin kita sampai di masa fakir sosialisasi dan ketakutan untuk ngobrol santai dengan siapapun. Curigaan aja bawaannya,”ujar Djito dengan raut sebal.

“Hahaha apalagi kalo mau ngobrol ama kamu ya Djit udah tatoan, rambut heboh lagi yaa kan? Ya gitulah ketika pembicaraan dicukupkan dengan sekedar menatap layar tanpa melihat mata, udah tidak perlu lagi membaca raut muka, ekspresi, nada suara dan bahasa tubuh. Akhirnya pembicaraan jadi minimalis, betapa mahalnya harga sebuah percakapan kalau bukan perlu-perlu banget,”timpal saya sambil memandang jendela kereta sesaat.

"Dhjit, kamu pernah gak sih ngerasa gak diterima sekitar kamu?  Berasa kayak alien turun ke bumi lalu kamu mati-matian buat adaptasi tapi tetep gak pas?"tanya Maemunah. Pemandangan di luar jendela semakin gelap dengan semburat cahaya matahari tenggelam.

"Seringlah Mae haha.. ya kamu tau kan dari penampilan saya aja udah ga normal. Tapi inilah saya dengan gaya urakan, yang kata orang amburadul, sok revolusioner atau sok golongan kiri yang anti kemapanan. Tapi saya ga peduli kata orang," kata Dhjito dengan muka mantap, saya tahu dia pasti melewati berbagai hal untuk sampai menjadi dirinya yang sekarang. Kita juga demikian kan? Ditempa oleh waktu.

"Idealisme apa yang membawa kamu pada tahap ini? Maksud saya kamu tau kan perut  gak bakal kenyang dari idealisme?"tanya saya bertubi-tubi. Mencari jawaban di kerutan dahinya. Saya berharap menemukan jawaban yang memuaskan.

"Kamu tau kan yang namanya panggilan hidup. Saya cuman menjawab semua panggilan yang saya percayai karena itulah saya ada. Saya percaya panggilan itu mengalir di jantung , darah , nadi , mengalir di tulang dan saya hirup sebagai nafas. Itu yang menggerakan untuk hidup," ujar Djito sambil memandang saya.

"Kamu pernah putus asa dengan panggilan kamu?"saya bertanya kembali.

"Sering menyerah, sangat sering. Tapi hal yang saya percaya adalah ketika panggilan itu berulang-ulang datang, harus dijawab dan semesta pasti ikut mendukung untuk sampai ke sana. Mestakung, semesta mendukung. Emang panggilan kamu apa Ma'e?"

“Saya mau jadi penari. Menari menurut saya membebaskan. Kamu pernah nggak ngerasain ketika melakukan hal yang kamu suka, lalu berasa trans, seolah eksistensi melebur dengan entah energi apa dan saat itulah kamu ngerasa high. Lalu muncul sebuah aliran kencang dari tulang punggung terus masuk ke otak dan tiba-tiba penglihatan  hanya bidang putih yang bercahaya. Pernah? Nah esensi itu yang saya kejar,”kata saya menggebu-gebu.

“Haha Mae-mae menarik ya, cara kamu menggambarkan rasa. Tapi bisa saya ketahui korelasinya ketika gue lagi dengerin musik yang saya suka. Rasanya seperti tubuh saya ‘kepenuhan’ oleh musik itu sendiri. Saya merasa ‘penuh’ dan utuh. Dan itu nagih banget,” cerita Dhjito sambil tertawa dan mengangguk-angguk.

“Kamu tau Jalaluddin Rumi gak? Seorang penyair sufi yang lahir di Afganistan. Saya inget banget dia pernah berkata begini : Ketika kamu melakukan sesuatu dari jiwa, kamu akan merasakan aliran sungai dari dalam  dirimu, kebahagiaan. Mungkin itu jawabannya. Saya merasa dengan menari, jiwa saya ikut memuliakan Tuhan,”ujar saya sambil mengangguk-angguk. Lalu kami berdua sibuk dengan pemikiran sendiri. Kita juga sering kali sedemikian asyik berdialog dengan diri sendiri. Bukan gila, hanya saja tidak semua hal bisa dibicarakan hanya bisa dirasakan. Dan dengan jeda sesaat itu sudah menjawab. Terkadang hening pun adalah percakapan penuh makna namun tidak dirayakan meriah.

“Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk sampai ke sana, untuk menjadi penari?” tanya Dhjito memecah keheningan.

“Hmm latihan nari. Gimana dengan kamu Dhjit? Sudah selesai dengan diri sendiri?”

“Selesai dengan diri sendiri? Rasanya itu gak mungkin deh Mae. Saya gak akan selesai dengan diri sendiri. Saya masih mencoba segala hal yang saya punya untuk menjadi diri  sendiri dan saya menemukan semakin dicari, saya semakin kehilangan,” kata Djito sambil memandang mata saya. Lalu dia pun berkata lagi “Mimpi saya adalah menjadi aktivis dan sampai sekarang saya sedang menuju ke sana, ah udah ah kita dari tadi serius terus ya ngobrolnya,” gelak Djito menggelegar.

“Haha ya habis kepancing sih gimana dong? Eh Djit kamu percaya gak dengan sebuah kebetulan. Kayak misalnya kenapa kita bisa bertemu dengan seseorang  entah dia menetap lama atau tidak?” tanya saya penasaran.

“Kebetulan ya? Saya gak percaya sama kebetulan. Semuanya sudah ada yang atur, dengan siapa pun saya bertemu, berkenalan pasti ada sebuah konspirasi tingkat tinggi dari semesta untuk bisa saling bertemu. Dan menyebalkan sekali kita manusia tidak punya pengetahuan untuk itu. Kenapa sih nanya-nanya?”tanya Djito kemudian sambi berganti posisi duduk.

“Ya... kadang saya kesal saja dengan sebuah kata kebetulan. Karena rasanya manusia tidak mempunyai kontrol atas apapun yang ada di sekelilingnya kecuali kontrol atas diri sendiri, bagaimana bersikap. Bukankah itu tidak adil sekali?”

“Haha aduh Mae, lagi pula ya untuk apa sih ingin mengontrol ini dan itu. Dulu saya juga selalu marah dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan tempatnya. Hingga suatu waktu saya capek karena terus marah dan mau berdamai saja dengan apapun itu. Lalu menikmati apapun yang saya punya penuh-penuh. Aih anjeeeeng serius amat!” kelak Djito sambil menoyor kepalanya sendiri.

“Djit...udah masuk kota Cirebon Djit, kamu mau temani saya makan empal gentong gak?”

“Siap!  Jadi ini namanya kita berdua ‘kebetulan’ bertemu atau ada konspirasi alam semesta untuk bertemu?”

“Kalo yang ini mungkin rezeki mamang-mamang tukang empal gentong, karena saya laper ngomong terus sama kamu. Yuk ah!”

“Baik Nona, Tuan temani.”

Ini bukan cerita cinta.



Sebuah fiksi mini cerita bersambung saya di Instagram lalu saya putuskan untuk ditaruh juga di blog agar tidak tercecer. Ini sudah sedikit diedit. 


6.12.15

Dalam kopi hitammu terdapat semesta


'Saya mau banting setir jadi seniman,' ujar saya kepadamu dengan menatap bola matamu yang kehitaman.
'Kenapa?' tanyamu dengan alis mata terangkat.
'Just because.'  kata saya dengan mengedikan bahu memandang ke arah lain.
'Seniman yang seperti apa?' kamu bertanya lagi.
'Yang bekerja dengan hati dan bisa menggerakkan. Bukankah menjadi penggerak itu sebenarnya lebih berbahaya. Saya mau jadi berbahaya, kamu tahu saya tidak suka di garis aman kan?'
'Hmm... ya saya tahu kamu sekeras kepala itu. Tidakkah kamu sadar kalau pikiranmu rumit sekali?' tanyamu sambil tertawa.
'Saya tahu. Tapi saya tidak bisa membayangkan saja jikalau misalnya umur saya ternyata pendek lalu saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Saya khawatir jika saatnya tiba lalu saya belum ngapa-ngapain.' Kata saya sambil tertawa perlahan.
'Ada waktunya, kamu tenang saja.' Ujarmu bijak dan menyeruput kopi hitammu. Saya pun memandangnya dan meminum kopi saya perlahan. Entah mengapa saya menyukai keheningan di pembicaraan, terkadang itu diperlukan untuk menjadi nyaman dalam keheningan dengan seseorang yang membuatmu nyaman. 

Kau pun berkata lagi untuk yang kesekian kalinya 'Terkadang saya kesulitan mencari jalan ke pemikiranmu. Sepertinya kita berbeda dalam segala. Saya bukan otak kanan sepertimu, karena semua hidup saya terinci, terjabar dengan detail, semua terpampang fakta dan angka. Saya terbiasa dengan hal itu. Lalu saya bertemu denganmu, yang liar bebas, dengan segala pemikiranmu yang tidak bisa saya tebak. Seolah saya ini monokrom, hanya bisa membaca hitam putih sedangkan kamu bisa melihat segala warna dan terkadang saya tersendat-sendat mengartikan semua bahasamu. Namun, ternyata hal yang tidak bisa ditebak itu yang saya suka. Dan setiap diri kita memiliki misteri dan sekarang sedang kita kupas bersama.' katamu perlahan.
'Ya, terkadang saya bingung bagaimana cara saya membagikan cara pandang saya, karena semua meledak seperti kembang api di kepala saya. Lalu akan muncul ledakan-ledakan lainnya. Tapi saya setuju, kita berbeda dalam segala. Namun terima kasih karena kamu bisa mengerti dunia saya, jikalau saya punya kuncinya sudah pasti saya akan berbagi denganmu.' kataku sambil terkekeh. 
'Tapi menurut saya jikalau kamu mau menjadi seniman atau badut ancol sekali pun, seharusnya kamu tidak perlu ragu-ragu. Kamu selalu akan memiliki kawananmu sendiri dan frekuensimu sendiri, dan banyak yang demikian. Lebih baik kamu mulai dari sekarang kan? Pasti jalanmu panjang, namun hey... Yesus saja berkarya diumurnya yang ke 30. Dan kamu sekarang 24 tahun. Ya... masih ada waktu enam tahun.' katamu seraya mengelus rambutku. Saya tercenung sendiri.

'Iya... ya bahkan Karl May saja harus masuk penjara dulu untuk menghasilkan buku Winnetou karyanya yang legendaris. Lalu Mahatma Gandhi harus ke Inggris dan Afrika Selatan dulu baru akhirnya mengerti bahwa perjuangan kasihnya di India. Ada pula Paulo Coelho yang harus dikira gila dan masuk rumah sakit jiwa terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menulis karyanya yang fantastis. Lainnya, ada pula Aung San Suu Kyi yang harus rela menjadi tahanan rumah di negaranya sendiri, dipenjara di bawah tirani dan tetap menyala-nyala dengan idealismenya. Hingga akhirnya sekarang dia bisa bebas. Betapa semua ada masanya.'
'Ya... saya setuju. Semua ada masanya. Saya ada masanya, kamu pun ada masanya dan kita juga pasti ada masanya. Tidak perlu takut untuk mempunyai nyala api sendiri. Meski kecil namun dia menerangkan mungkin itu yang menyelamatkan. Saya tahu kamu tidak pernah bermain-main dengan hidupmu sendiri.' katamu lagi sambil memandang jauh.

'Ah saya lupa... kemarin saya lihat-lihat tattoo, kemudian rasanya pasti sakit-sakit nagih gitu. Kalau saya sudah tidak kerja kantoran saya pasti mau buat satu di pinggang.'
'Aduh... terserah kamu deh. Tapi tattoo sakit loh, tapi kenapa kamu tattoo di tempat yang tersembunyi. Buat apa? Sekalian saja di jidat gitu biar semua orang lihat kamu bertato.' ujarmu dengan mimik lucu. 
'Hahaha... ya juga sih. Tapi kalo di jidat nanti saya kayak Avatar the air bender dong haha...' 

***

Kita ini bukan aliran serupa. Kita meluncur dan melekuk sesuai ceruk-ceruk dinding sungai. Sesuai deras dan kembali lagi ke samudera lalu menguap membentuk lautan awan. Lalu turun menjadi hujan dan melakukan siklus monoton itu lagi berulang-ulang. Pembicaraan yang tumpah ruah melebur di cangkir kopi hitam kita. Kafein yang tidak pernah membuat kita terjaga semalaman, namun mengantuk pada detik berikutnya. Hingga saya tahu kita memiliki kesamaan yakni kita sama-sama pemberontak yang menyukai bahaya. Kamu selalu menjawab segala hal yang membuat kita berdesir dan jantung kita memompa aliran darah yang lebih cepat. Mungkin saya adalah bahaya dan kamu adalah sabuk pengaman saya. Mungkin demikian. Atau memang semesta saya ada padamu yang luas. Luas sekali. Hingga saya tidak pernah bosan-bosan menyelam ke dalam. Ya, pasti demikian.




BSD, 6 Desember 2015
menulis fiksi di tepi jendela kamar


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...