17.4.14

Akhir pekan dan PR yang belum selesai


Kadang saya bergidik sendiri melihat waktu yang berjalan seolah pencuri ulung. Bisa menyusup dan mengelabuhi kamu. Hingga tanpa kamu sadari waktu berjalan lambat sekaligus cepat. Setiap kali sampai pada hari Jumat sore dan duduk sendiri memandang jendela bis sepulang kerja, saya hanya mampu merenungkan: Apakah kiranya yang sudah saya lakukan seminggu ini? Terkadang saya takut sendiri, takut apabila sebenarnya saya tidak memberikan yang terbaik dari apa yang saya punya.







16.3.14

Caleg nemu di cafe dan saya yang sok tahu



Saya sedang sok tahu. Tidak mengerti apa-apa tapi sok ikut-ikutan, padahal ilmu sih gak ada. Hanya meraba-raba dalam gelap. Lalu dengan sedikit membaca comot sana sini. Ada yang menarik sekali, sungguh menarik. Ini adalah fenomena terdekat yang bisa kita temui di jalan dan di dekat rumah kita. Apa itu? Kampanye partai. 

Sebenarnya kejadian ini sudah lama namun baru saat-saat ini tergelitik untuk membahas dan menuliskannya. Kebetulan suasana hati sudah netral dan tidak menye-menye soal cinta lagi. Puji Tuhan. Sehingga setidaknya blog ini tulisannya agak berisi dikit, tidak melulu tentang cinta. Ngono loh. 

Beberapa waktu lalu sekitar awal bulan September 2013 lalu, saya sedang bertemu dengan Karyn, teman saya. Saat itu kami sedang asyik ngegosip tentang berbagai banyak hal. Tidak banyak hal, deng. Sebenarnya urusan kami adalah tentang laki-laki.  Sore-sore minum kopi dan berbicara tentang cinta dan laki-laki. Obrolan perempuan biasa. Ketika kita berdua sedang mengobrol tiba-tiba datanglah seorang Ibu dengan wajah make up tebal dan terlihat oplas. Gayanya seperti nyonya-nyonya tajir terkini dengan baju ketat. Ibu ini sibuk sekali menelpon temannya yang sepertinya telat datang. Lalu tiba-tiba datanglah temanya, seorang Ibu juga dengan pakaian rapih kantoran, dandanan apik, dan cantik. Mereka asyik mengobrol. Saya tidak memperhatikan apa isi obrolannya, wong saya dan Karyn sedang asik gosip sampai cekikikan bak anak labil. Hadeh. 

Waktu berlalu, nampaknya mereka pun sudah hampir selesai. Lalu mereka berdua pun berfoto. Lalu Ibu dengan dandan menor dan berpakaian ketat itu memanggil saya.

"Say, say, boleh minta tolong foto?" 
"Hmmm... iya boleh."

Jepret... jepret...jepret. Selesai. Ganti angle. Jepret...jepret...jepret.

"Makasih yah, say. Eh... kalian sekolah di mana?" Aaaaciye, saya dikira masih sekolah.
"Udah kerja, Tante."
"Oh yaaaa... temennya juga udah kerja ya?" 
" Iya Tante."
....
.... (basa basi)

"Eh, say, ini saya mau memperkenalkan Tante ini (lupa namanya siapa) dia itu mau ikutan jadi caleg, nih. Kamu pilih dia ya. Saya juga sekarang udah jadi anggota legislatif nih. Saya kerjanya di daerah Banten." Ujar Tante menor.

Jedar! Jedar! Ohhh... menarik. Menarik sekali. Andaikan saya bisa lari, saya lari dari pembicaraan ini.

"Oh... gitu yah Tante. Hebat." Ujar saya sambil menerima kartu nama dan sticker. 
" Tolong ditempel yah stickernya di mobil dan ini kartu nama saya." Kata Tante Caleg baju rapih.

Seharusnya, pembicaraan itu stop sampai sini. Gak ada apa-apa lagi, dong. Namun terdorong oleh rasa penasaran yang membuncah-buncah. Saya pun bertanya,

"Tante, emang program kerja Tante apa, untuk membuat Banten ini jadi lebih baik? Apa yang membuat Tante jadi beda dari caleg lain? Jadi kita bisa pilih Tante gitu."

Eh,Si Tante Caleg gelagapan ditanya begitu. Panik dia. Saya juga bingung kenapa panik. Itu pertanyaan mudah kan? Kalau memang sudah ada jawabannya. Hmmm... berarti si Tante ini.... Ah sudahlah.

Lalu Tante Menor mengambil alih dengan jawaban sebagai berikut
" Ah... ini kan baru pemilihan awal. Untuk program kerja mah nanti dibicarakan lagi kalau sudah jadi legislatif, gitu. Itu nanti barengan dengan yang lain."

Lalu saya jadi bingung dengan Si Tante Menor. Ini saya yang bego apa emang cara kerjanya begini sih ya? Perasaan saat saya jadi calon OSIS saya harus pidato ke depan apa visi misi dan apa yang mau saya ubah dari sistem. Ya ga sih? Ah sudahlah itu kan lingkup bocah SMA ini kan caleg. Calon legislatif. Ya...beda lah, gak usah pake program kerja, kayak bocah aja. Ngapain kali? Ya ngga? Yak lanjut. 

Kemudian saya berkata, "Oh gitu, ya Tante. Saya baru tahu. Terus, Tante emang kenapa mau jadi caleg, melihat kita masyarakat yang udah pesimis dengan politik karena melihat Atut dan dinastinya?"

Lalu Tante Caleg pun agak sedikit berapi-api menjawab begini. 

"Banyak sekali orang yang bertanya mengapa saya ingin menjadi caleg, padahal pekerjaan saya sudah enak, saya jadi direktur di perusahaan Jerman. Saya punya keluarga, suami dan anak. Tapi saya mau memperjuangkan suara perempuan agar kita bisa lebih tinggi dari laki-laki. Kita harus bisa lebih tinggi dari laki-laki agar kita tidak terinjak-injak, agar kita cerdas. Adek-adek kan juga perempuan Insya Allah saya bisa melanjutkan aspirasi kalian."

Uwidihhhh... Si Tante Caleg feminist ternyata. Tapi rasanya ada yang agak menggelitik saya tentang posisi perempuan dan laki-laki. Lalu saya pun menyanggah.

"Tapi, ya Tante, kalau menurut saya, seharusnya laki-laki dan perempuan itu sejajar. Bukan siapa lebih tinggi dari siapa. Harus sejajar, karena perempuan dan laki-laki itu partner."

Lalu Si Tante Menor mengambil alih melihat Tante Caleg agak siyok disanggah.

"Iya, selain itu kita juga mau menambah wadah untuk anak-anak muda kritis seperti kalian ini. Agar aspirasi kalian sampai ke atas. Kalian tuh beruntung sekali kalau bertemu dan kita-kita sekarang ini. Dijamin kalau kenal kita, urusan lancar. Kalau mau buat apa, buat apa Insya Allah dipermudah. Beruntung loh kalian."

HAAAH?! Loh kok? Gak salah denger ini? Halo? Sekarang gantian saya yang kaget dengan jawaban dia.
Malas berbicara lebih panjang akhirnya saya iya-in saja, lalu pamit pergi. Melihat tong sampah si Karyn bisik-bisik ke saya,

"Met, ini sticker dan kartu nama enaknya dibuang nih Met."

***

Saya tidak tahu bagaimana, kok rasanya geli-geli sih ya? Rasanya pengen ketawa kenceng-kenceng di depan tante dua ini. Kenapa oh kenapa? Saya rasa otak saya yang agak miring. Saya rasa saya yang terlalu menghakimi. Saya rasa saya yang sok tahu. Mungkin begitu.

Tapi...halo?! Ini ada yang salah gak sih? Ada yang gak bener gak sih? Atau memang saya saja yang terlalu antipati dengan politik, dengan wajah-wajah yang ditempel berserakkan di pohon-pohon jalan raya. Dengan tulisan COBLOS SAYA! PILIH SAYA! Ditambah dengan gelar panjang di depan dan di belakang namanya. 

Bagaimana yah, caranya agar saya sedikit saja punya rasa percaya dengan mereka yang mencalonkan diri di tempel di pohon-pohon itu? Bagaimana yah agar saya sedikit saja punya perasaan untuk bisa tahu apa yang mau saya pilih? Bagaimana yah agar saya bisa mencintai politik dengan ke-tai-kucing-annya itu? Bagaimana yah caranya agar saya bisa sedikit lebih netral dan gak antipati lalu menghakimi? Bagaimana ya?

Semoga apa yang saya temui ini hanya seglintir saja calon-calon pemimpin negeri ini, semoga saja harapan itu ada di mana-mana, semoga saja mereka yang mencalonkan diri sungguh dapat memisahkan kepentingan pribadi dan bersama, semoga saja Tuhan selalu melindungi negeri ini. Semoga seseorang yang terpilih untuk jadi pemimpin negeri ini sungguh-sungguh bisa membawa perubahan dan tidak membuat kita berbondong-bondong meninggalkan negeri ini.

Indonesia, rasanya semakin sulit mencintaimu. Kalau kata Ayu Utami: Indonesia dengan sedih aku cinta padamu. 



8.12.13

Bahwa untuk menjadi sesuatu yang baru kita harus remuk dan melebur


pic: weheartit.com

Hai. Akhir-akhir ini saya sedang berpikir apakah saya ini sudah mempunyai hidup yang bermakna. Apakah ini hanya saya saja ataukah memang di umur saya yang 22 ini, saya sedang mencari. Karena saya merasa saya kehilangan diri saya. Ada beberapa hal yang krusial yang hilang. 

Apakah semakin kamu dewasa, idealisme itu akan semakin terkikis begitu saja dengan realitas? Apakah segala nilai prinsipil yang kamu anut pelan-pelan bukan sebuah prioritas? Saya rindu dengan saya yang tidak gentar dengan masa depan, saya kangen dengan idealisme polos saya yang berkobar-kobar bahwa saya memiliki suatu api yang masih terjaga. Saya rindu dengan saya yang bermimpi suatu yang besar bahwa suatu hari nanti saya bisa meraihnya. 

Ketika kamu dalam perjalanan meraih apa yang kamu inginkan, rasanya kamu itu sendirian, rasanya perjalanan mengikuti mimpi itu terjal berbatu dan kamu tak jarang menangis sampai tertidur lalu kamu bangun pagi dengan keadaan was-was. Apakah suatu hari kamu akan sampai di sana?

Saya takut jikalau suatu hari nanti saya tidak menjadi seperti apa yang saya impikan sekarang. Saya takut kalau ternyata saya ini tidak akan memiliki hidup yang bermakna yang saya inginkan. Saya rasa apa yang saya alami ini MUNGKIN biasa, mungkin memang harus ini yang saya lewati. Sampailah saya di sebuah fase kebingungan. Saya bingung dengan hidup saya. Rasanya saya berjalan di sebuah lorong gelap dan saya tidak tahu apa yang ada di depan saya. Semua indera saya mati rasa. Pertanyaan besarnya adalah: saya diciptakan untuk apa? Untuk menjadi apa? Karena rasanya mimpi saya semua patah di dahan dan menjadi serpihan.

Kembali saya mengingat akan kisah Alkitab. Nabi Musa harus hidup di padang gurun selama 40 tahun lamanya untuk bisa memimpin umat Israel. Daud harus tinggal 17 tahun di padang gurun sebelum menjadi raja dan Yesus pun dibawa ke padang gurun untuk dicobai iblis saat berpuasa. Mungkin saya sedang dalam fase padang gurun. Padang gurun menjadi sebuah tempat di mana seseorang digodok untuk mengerti apa tujuan hidup dia. Padang gurun menjadi sebuah tempat ujian sebelum kemenangan. 

Masa-masa ini adalah masa sulit yang membutakan seluruh indera saya. Di mana kita akan dimurnikan untuk menjadi 'sesuatu' yang lebih berharga. Pembentukkan karakter yang ternyata memang sakit setengah mati. Untuk menjadi sesuatu yang baru kita ternyata harus remuk dan melebur. Untuk menemukan diri, kita harus mengalami proses kehilangan diri sendiri. 

Manusia tidak pernah mengerti rencana Dia. Otak manusia tidak mampu melampaui pemikiran Nya. Mungkin ada baiknya kita manusia percaya bahwa Tuhan itu baik, kapan pun itu. Bahwa dia adalah Ayah kita di surga yang pasti akan melindungi anaknya. Hingga ketika kamu berjalan di lorong yang gelap dan seluruh inderamu mati rasa, kamu punya koneksi singkat dengan Ayahmu yang Di Atas. Hatimu. Percayalah apapun itu tetap percayalah. Karena Dia mengasihi kita lebih dulu. 

13.9.13

Hari 6: Kabar dari saya

" Hallo apa kabar? Masih suka menikmati sore sambil membaca buku?"

" Saya lagi pilek batuk. Biasa, sakit langganan saya."

"Sudah terbiasa dengan Indonesia. Masih terkadang kangen Taiwan."

" Hei, saya sekarang sudah bisa naek angkot, ojek, bis, kereta api bolak balik kerja loh! Saya bangga sekali dengan pencapaian ini. Sangat bangga. Saya seolah satu step lebih maju untuk jadi perempuan independent seperti yang saya mau."

" Banyak cerita, banyak keputusan yang saya buat 2 bulan ini. Terutama dalam menentukan langkah dan menghargai diri saya sendiri. Bahwa keputusan yang saya ambil adalah pilihan saya dengan matang. Saya senang sekarang saya lebih dewasa."

"Menjadi dewasa itu, sakit. Tapi saya juga sudah muak jadi orang muda yang bego. Saya mau jadi dewasa yang bijaksana dan berjiwa muda."

"Saya masih cupu kalau makan pedas, padahal saya orang Indonesia."

"Masih banyak mimpi yang harus saya kejar. Masih banyak cita-cita yang ingin saya wujudkan. Semoga saya mempunyai hati yang teguh dan semangat yang lebih dari biasanya, ya."

"Hmmmm.... kalau sudah besar saya mau jadi oma-oma yang jago masak untuk cucu-cucunya."

***

30.8.13

Hari 5: Merupa Kangen

pic: pinterest


Jikalau kangen ya sudah. Kangen. Ya sudah. Saya juga tidak pernah tahu kalau akan masih kangen. Mungkin karena belum sibuk jadi ada dua per tiga bagian otak yang masih kangen. Ya sudah. Saya kira saya tidak akan seperti ini. Tapi kangen ini tawar rasanya. Tidak ada gebu ingin bertemu. Sekedar kangen ya sudah. Mungkin karena saya sudah lelah mencari alasan sendiri. Sejuta pertanyaan mengapa? Mengapa tidak bisa? Mengapa tidak cocok? Mengapa tidak bertemu? Ya sudah. Tidak ada jawaban. Auk ah gelap. Mumet. 

Saya kangen. Tapi semoga kita tidak usah bertemu lagi di lain hari. Saya sudah capek dengan perpisahan yang saya lakukan sendirian. Saya sudah capek dengan pertanyaan yang akhirnya saya jawab sendiri. Saya kangen. Ya sudah. Semoga kita tidak bertemu lagi di masa depan. Jikalau ternyata kita harus bertemu di suatu situasi, saya akan mencukupkan diri saya dengan sekedar saling menatap, saling senyum, lalu sibuk dengan diri sendiri. Ya sudah. 


19.8.13

Hari 4: Bahagia itu urusan hati bukan otak

pic: google

Hari ini saat saya sedang menyapu halaman depan, saya setengah berpikir mungkn menjadi bahagia itu adalah sesuatu yang sederhana. Setiap hari kita diberi kesempatan untuk menjadi bahagia. Tapi mengapa kita seolah sulit sekali untuk menjadi bahagia. Bahkan ada beberapa orang yang ketika ditanya apa cita-cita kamu maka dia akan menjawab: menjadi bahagia. Jadi untuk masa ini, belum bahagia dan bahagia itu adalah sesuatu yang dicita-citakan dan belum didapatkan? Silahkan jawab sendiri dalam hati.

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda-beda, saya pun begitu. Ada banyak definisi bahagia dalam otak saya. Saya akan menjadi bahagia apabila mimpi-mimpi saya bisa tercapai semua, saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya, saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya cintai, saya bisa keliling dunia, dan lain-lain, dan seterusnya tak habis-habis. Mengapa untuk menjadi bahagia saya membuat begitu banyak syarat, seolah otak saya mendikte hati saya begini, "Kamu boleh bahagia apabila kamu bisa mendapatkan A, B, C, D..., baru boleh bahagia." Mengapa untuk menjadi bahagia seolah banyak syarat yang harus kita capai? Tidak bisakah kita bahagia dengan sederhana bukankah menjadi bahagia itu sendiri adalah hal yang sederhana? Mengapa hal yang sederhana selalu tidak sesederhana itu? Pusing yah saya tanya terus? Saya juga.

Apabila kita lihat kembali, benarkah kebahagiaan itu diukur oleh sesuatu yang sifatnya measurable seperti hal-hal keduniawian? Atau adakah arti lain dari bahagia itu sendiri? Pernahkah kita berpikir kembali, jikalau saya sudah mendapatkan segala syarat-syarat bahagia saya, benarkah itu akan jadi jaminan kalau saya akan serta merta bahagia?

Menjadi bahagia itu adalah sebuah kekayaan batiniah yang tidak ada harganya dan tidak bisa diukur oleh apa pun. Pada akhirnya yang menjadi syarat utama dalam menjadi bahagia adalah hidup yang mengacu pada 'kekinian', masa kini. Hidup yang present. Memandang hidup bukan dari hari kemarin yang sudah berlalu atau dari hari esok yang belum tiba, melainkan hari ini. Sekarang. Detik ini juga. Bahagia itu sekarang. Dibutuhkan sebuah kemampuan untuk bisa berkontak dengan masa sekarang dan tinggal dalam situ juga.

Bahagia itu bukan sesuatu yang dipikir-pikir tapi sesuatu yang dirasa. Menjadi bahagia itu sederhana, ada di setiap kesempatan, setiap harinya, karena bahagia itu di mana-mana. 

15.8.13

Hari 3: Tuhan tahu tapi menunggu


pic: thenuliya blog


Saya suka sekali dengan kutipan di atas, 'Tuhan tahu tapi menunggu'. Kutipan itu milik Leo Tolstoy seorang penulis besar dari Rusia. Kutipan itu rasanya selalu menyentuh hati di masa-masa yang kelabu yang tidak tahu kepastian.

Saya selalu benci apabila harus menunggu. Menunggu itu membosankan dan menyebalkan karena kita seolah diombang ambing pada sebuah keputusan yang tidak bisa kita kontrol. Kita harus sabar menunggu berharap agar pihak yang memberi keputusan bisa segera menjawab: ya atau tidak. Bukankah itu menyebalkan? 

Tapi tidakkah kamu merasa kalau dalam hidup manusia kita terus-terusan menunggu? Sedari dalam perut ibu, kita harus menunggu 9 bulan untuk bisa keluar  ke dunia. Perhatikan deh, dalam setiap fase hidup kita, menunggu menjadi sesuatu yang familiar, adalah sesuatu yang sebenarnya kita lakukan sehari-hari, dari mulai menunggu bis, menunggu teman sampai akhirnya menunggu untuk dipanggil lagi oleh-Nya.

Menurut saya menunggu adalah sebuah situasi sebelah pihak di mana kita berharap agar pihak lainnya segera memberi respon. Namun terkadang, pihak lain ini tidak tahu kalau dia ditunggu. Terkadang si pihak lain ini tidak sadar atau memang blegug siah yang dengan ego sok pentingnya tidak segera memberikan keputusan atau reaksi. Kenapa yah? Siapa yang tahu? 

Ketika kita menunggu, belum tentu pihak tersebut benar-benar akan merespon sesuai dengan apa yang kita harapkan, bisa saja dia sebenarnya menolak atau lupa. Lalu kita yang menunggu? Akan terus menunggu tanpa tahu jawaban. Menurut kalian ketika kita menunggu haruskah kita mengetahui kepastian apakah pihak lain yang kita tunggu ini sebenarnya akan memberi reaksi atau menjawab semua penungguan kita? Sepertinya kecil sekali kemungkinannya akan adanya kepastian itu. Maka itu terkadang saat menunggu kita membuat deadline sendiri, sampai tenggang waktu kapankah kita bersedia menunggu. 

Menunggu itu adalah sebuah proses akhir, ketika segalanya sudah kita kerahkan sudah kita usahakan semaksimal mungkin. Menunggu itu menanti akan sesuatu yang diharapkan agar bisa terwujud. Bisa saja kita menunggu hanya 1 jam atau bahkan bisa sampai bertahun-tahun. 

Sebenarnya apa yang membuat seseorang betah menunggu? Yak. Itu adalah harapan. Ketika harapan itu ada, ada suatu dorongan energi dari hati kita untuk mencoba, meski harapan itu hanya 1% jumlahnya namun ketika harapan itu ada, seolah kinerja untuk mewujudkannya pasti akan berlipat-lipat jumlahnya.

Ada kalanya ketika menunggu kita malah menemukan hal lain yang lebih baik dari yang kita tunggu. Bahwa menunggu adalah proses pemurnian kita untuk melihat ulang lagi dan memeriksa keseluruhannya. Proses menunggu ini terkadang malah sebuah pembelajaran untuk lebih mengenal diri dan melihat situasi lebih dalam lagi, lebih dekat lagi, bukan hanya permukaan dan ecek-ecek saja.

Ketika kita menunggu yakinlah bahwa ada sesuatu yang sifatnya besar akan datang, yang pasti kita sedang disiapkan untuk momen tersebut. Bahwa dalam hidup manusia itu harus sabar dan nrimo kalau kita ini bukan siapa-siapa yang bisa mengatur segalanya. Bahwa semata-mata ada Yang Lebih Besar dari kita yang juga menunggu momen yang pas karena segala sesuatu ada masanya.

***

Rancangan-Ku adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yer 29:11)

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...