24.1.13

Di dalam Tulisan Ada Cerita Kecil : Keluarga


Satu sore ini aku sibuk membaca lalu menulis lalu membaca lagi lalu menulis lagi. Terus-terusan. Aku baru selesai baca bukunya Mitch Albom berjudul For One More Day. Aku selalu suka dengan tulisannya Mitch Albom, menggelitik, anggun, menggoda dan mistis. Aku gak bisa habis pikir, gimana yah cara orang nulis buku itu? Salut. Menurutku menulis itu layaknya 'mendoktrinasi' pemikiran dan gagasan kita ke orang lain dengan memberikan kebebasan berpikir sebebas-bebasnya. Membiarkan orang lain bisa mampir sebentar duduk di tengah otak kita dan ikutan berpikir. 

Di awal buku ini, Mitch Albom, memulai narasinya begini: 
This is a story about a family and, as there is a ghost involved, you might call it a ghost story. But every family is a ghost story. The dead sit at our tables long after they have gone. 
Dan aku sudah terpesona, kasmaran, jatuh cinta klepek-klepek di awal paragraf.  Gila gak sih? 

Buku ini bercerita tentang seorang pria yang berusaha untuk bunuh diri karena kecewa pada diri sendiri, merasa gagal sebagai seorang ayah, suami dan anak. Lalu bagian yang menarik adalah di masa kritis ini, roh ibunya yang sudah meninggal datang dan mereka melakukan deep conversation dan menguak cerita-cerita lama dan rahasia di keluarga mereka.  

Terkadang ada beberapa hal dalam hidup kita yang rasanya salah, lalu kita menyesal secara berkepanjangan karena adanya rasa bersalah yang terus-terusan datang. Pahitnya,  kita tidak cukup sakti untuk bisa mengulang waktu dan mencegah beberapa peristiwa terjadi dan terkadang peristiwa tersebut terjadi di luar kemampuan kita, tiba-tiba sudah lewat dan terlambat. Di buku ini digambarkan penyesalan Charley karena dia tidak bisa hadir saat ibunya meninggal dan dia merasa gagal sebagai seorang anak.

Terus sebagai pembaca kebanyakkan pikiran, aku jadi ikutan berpikir, aku sebagai seorang anak, sudah cukup membanggakan dan membahagiakan belum yah? Rasanya belum.

Ketika aku masih kecil sering kali aku berandai, "Jikalau aku sudah besar nanti, jikalau aku sudah dewasa nanti....." dan sebagai anak kecil normal aku ingin cepat-cepat dewasa. Tanpa sadar bahwa jikalau aku bertambah dewasa berarti orang tuaku pun bertambah tua. Ibuku pernah berkata  "Sampai selama-lamanya, sepanjang segala abad, amin. Kamu akan tetap menjadi gadis kecil kami berdua. Jadi ketika kamu pulang... ya kamu adalah anak." Hubungan orang tua dan anak itu tidak pernah bisa dipisahkan. Pacar, teman, suami, istri bisa menjadi mantan, tapi mantan anak dan mantan orang tua, belum pernah denger sih aku.

Semakin beranjak kita dewasa pasti ada beberapa hal yang berubah, lalu munculah sang momok menakutkan yang dinamakan: generation gap. Ketika anak dan orang tua sudah mulai gak nyambung saat berkomunikasi. Entah yang muda tidak sabaran dengan yang tua karena tidak kunjung mengerti, atau yang tua marah-marah berkelanjutan karena merasa menjadi alien tidak mengerti zaman lalu tersadar kalau zaman sudah maju dan merasa tertinggal, singkat kata yang tua panik sendiri namun kepayahan untuk catch up. Ini adalah polemik yang sangat biasa terjadi, sangaaaaaaaat biasa dan setiap generasi pasti pernah mengalaminya. 

Lalu, yang menarik adalah, tetap saja yang tua dan yang muda ini sedarah dari bibit yang sama, dari akar yang sama. Mereka tetap satu keluarga, susah senang tetap satu keluarga. Ya... mau gak mau ya toh, karena kita tidak bisa minta tukar keluarga ke Tuhan. Seperti yang di buku ini katakan: 
You have only one family, Charley. For good or bad. You have one family. You can't trade them in. You can't lie to them. You can't run two at one, substituting back and forth. Sticking with your family is what makes it a family. 

Tanpa Sadar 

Kemarin malam aku iseng-iseng berhadiah membuka lagi file-file lama di laptop. Eh... ada satu tulisan kayak upil nyelip-nyelip nyempil di dalam folder. Aku buka, aku baca ulang dan aku syok setengah mati karena aku pernah nulis model beginian. Tadinya, aku malu dan ingin menjadikan tulisan ini konsumsi pribadi saja, tapi aku jadi takut tulisan kecil penting ini hilang, mubazir, ditelan zaman, dimakan rayap dan cacing tanah, jadi aku taruh di blog aja. (hahaha toh blogku kecil ini, gak ada yang baca kecuali ibuku, sang ibunda kepo abad milenium ini :)) Trus, kalau ada pembaca lain yang baca ini, kita diem-diem aja yah, jadi rahasia kita, tos dulu dong mamen.)  Begini ceritanya. Ehem. 

                                                                                       Cerita Kecil 


Pernah suatu kali aku sedang sibuk dalam pekerjaanku, membaca. Aku berubah menjadi pribadi yang berbeda saat aku sedang sibuk membaca. Aku akan menjadi pribadi yang anti social dan tidak akan peduli dengan oran lain di sekitarku.

Sering kali aku malah marah-marah karena sebal diganggu dan ditanya ini itu. Atau mungkin aku akan hanya menjawab dengan anggukan atau senyuman kecil.

Kurasa kebiasaanku ini harus diubah sekaligus dengan bertambahnya aku dewasa tak ada ubahnya aku dengan anak-anak muda lainnya yang sombong dengan sekitar. Baru saja mencecap kehidupan muda, mencecap kebebasan yang seharusnya bisa aku pertanggung jawabkan dengan baik, aku malah mengambilnya dengan cara yang berbeda.

Kenapa juga yah terkadang orang-orang muda suka sok jumawa dengan keadaannya tanpa adanya pengetahuan lebih tentang ini itu.

Hingga suatu kali di sebuah siang yang panas, ketika ayahku sedang menyantap telur mata sapi kesukaannya. Aku sedang tenggelam dalam kesibukanku dengan tokoh-tokoh cerita dalam novelku. Tiba-tiba ayahku sibuk bertanya ini itu tentang soal computer.

Aku yang merasa sebal diganggu akhirnya cukup diam dan mengangguk. Hingga akhirnya timbulah pertanyaan yang menurutku cukup aneh dan konyol. Ayahku bertanya: "Kalo password di computer itu bagaimana carinya?"

Aku pun tak kuasa menahan senyum dan menjawab sekedarnya.

Lalu seperti harga diri yang terluka ditertawai oleh anak-anaknya, ayahku berkata:
"Kamu tahu tidak perbedaan anak bertanya pada orang tua dan orang tua bertanya pada anaknya?"
"Lihat sana Abhimanyu (adikku 2 tahun) tanya ini itu, orang tua menjawab dengan baik, lain halnya dengan orang tua bertanya pada anaknya, dijawab dengan tertawaan dan ejekkan bodoh."

Mendengarnya aku merasa agak tersentak. Apakah benar sikapku seperti itu? Baiklah aku memang mengakui kalau aku berbuat seperti itu karena aku merasa: "Duelah...masa gitu aja gak tahu?"

Apakah itu tandanya aku pun sombong dengan tindakkanku? Apakah itu tandanya aku juga sama dengan anak-anak muda lainnya yang juga kerap kali sok tahu ini itu padahal pengalaman pun kalah jauh dibandingkan orang-orang tua?

Mana tahu.

Sepertinya iya. Aku masih seorang muda yang terlalu sombong merasa dewasa padahal belum tau apa-apa. 

Malu gak sih lo? 

                                                                                          ***

Aku jadi degdegkan sendiri. Tapi bener deh, tulisan ini jadi refleksi kecil seorang Metta, anak durhaka yang sebentar lagi dikutuk jadi batu, nemenin Malin Kundang. 

Pesan moralnya yah, kepada pembaca setia yang makin kece aja, kalau orang tua kita itu tidak selamanya hidup terus-terusan. Mereka akan menjadi tua dan dipanggil Tuhan. Dan itulah kehidupan, tidak ada yang abadi di bawah kolong langit ini, semua akan kembali lagi ke Tuhan. Itu sudah menjadi suratan takdir, bahwa kita manusia pada akhirnya, setakut apapun kita pada kematian, kita akan tiba gilirannya untuk mati. Titik.

Intinya sih satu, sayangilah dan gunakan waktu sebaik-baiknya bersama orang-orang yang kita cinta, sayang dan berarti untuk kita. Jangan sampai kita malah menyesal di kemudian hari namun itu semua sudah terlambat dan kesempatan sudah hilang. Seperti yang ditulis Mitch Albom:
Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be here forever? If so, then you know you can go your whole life collecting days, and none will outweigh the one you wish you had back. 

Ordinary People  

Kalau kata John Legend, "We're just ordinary people, we don't know which way to go. Cuz we're ordinary people maybe we should take it slow. This time we'll take it slow."  Kita memang manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kita tetap bisa jadi diri kita yang terbaik. 

Nikmati hari-harimu sekarang dengan keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi. Lalu yang terakhir, yang paling nendang dari buku Mitch Albom, For One More Day ini adalah: 
It was so ordinary in so many ways, but you can find something truly important in an ordinary minute.

Jadi, untuk memeluk ayah dan ibumu lebih lama dari biasanya, terdengar cukup beralasan kan? :) 

        

23.1.13

Day #21: Episode Gerimis di Kotamu


biar kutebak,
mungkin kini kotamu
sedang gerimis kecil
ada sedikit langit mendung di alismu
dan angin dingin menghembusi lututmu yang bercelana pendek
lalu sedikit rindu ganjil di hatimu
dan bau semerbak gerimis bercampur tanah
lalu sore menjadi cantik dan baunya manis.


Metta
Kaohsiung, (mulai lupa hari, tanggal) 2013


22.1.13

Wacana Tubuh Nona




Saya masih ingat ketika masih kelas 6 SD, sebagai anak yang sudah berumur 12 tahun dan merasa 'sudah besar' atau 'sok besar' daya juga menunggu-nunggu kapan saya mendapatkan haid pertama. Saat itu hampir sebagian teman-teman sudah mendapatkan haid pertama mereka di kelas 4 atau 5 SD. Saya masih ingat jelas bahwa pada umur tersebut issue haid adalah issue terpenting, pembicaraan toilet ala cewek-cewek. Siapa yang masih pakai  mini set, siapa yang sudah memakai mini-bra, siapa yang sudah tumbuh, siapa yang belum, dan rasanya saat itu saya masih 'rata-rata' aja. Kalau tidak salah ingat, saya baru dapat haid pertama  akhir kelas 1 SMP. Masa-masa puber jor-joran, pergantian dari gadis kecil menjadi gadis semi dewasa. Bukan masa-masa yang mudah memang periode transisi itu. Antara anak kecil tapi bukan, sudah dewasa tapi ya... juga belum. Krisis identitas.

Rasanya lucu sekali mengingat betapa rasanya 10 tahun itu terasa cepat, padahal rasanya baru beberapa waktu lalu saya memakai baju merah putih dengan tas punggung barbie kuning. Seperti  waktu kemarin summer, Juni-September 2012 saya pulang ke Indonesia dan bertemu dengan teman-teman cewek SMA lagi dan lalu ngobrol ngarol-ngidul ke mana-mana tentang kabar sekarang atau mengingat-ingat masa-masa SMA yang labil gak ketulungan. Seneng banget sih bisa ketemu lagi dan bercanda tawa ala anak SMA padahal mah udah lewat masa 17 tahunnya.

Di usia awal kepala dua ini, pembicaraan kami sudah tidak sebatas obrolan anak SMA tentang jajanan nasi nugget ayam di kantin yang sudah habis lalu bete atau masalah gebetan-gebetan masing-masing yang rempong simpang siur. Udah beda , pembicaraannya! Kini topik hangat keluar dari oven adalah sex. 

Sebenarnya saya agak bingung juga kenapa yah sex itu menjadi topik tabu untuk dibicarakan di masyarakat Indonesia? Bukannya kita itu lahir karena sex? Di zaman sekuler ini segala informasi serba cepat dan mudah, wong anak SD aja bisa tahu info ini itu dengan sekali klik, lalu berselancarlah di Internet, dengan berbagai info dan film dari yang nyerempet-nyerempet doang sampai yang hardcore. 

Ketika para lelaki di usia saya sudah kenyang berbicara tentang sex dan kini sedang sibuk mengeksplor pengalaman pribadi, saya baru berani berdiskusi panjang mengenai sex dengan gamblang dan mata terbuka lebar-lebar. Kalau mau kita runut perkembangan perempuan dan laki-laki itu sudah terjadi semenjak kita kelas 6 SD, tubuh kita sudah berubah dan kita memasuki masa pubertas. Anehnya meski kita sudah bertumbuh dan konon katanya perempuan lebih cepat matang dan dewasa dari pada laki-laki seumurannya, tetap saja ketika perempuan berbicara gamblang tentang seksualitas dicap tidak sopan. Terus, mau sampai kapan perempuan malu akan sex ini dan menutup mata akan pengetahuan seputar pengetahuan praktis penggunaan kondom, adanya pil KB, spiral dan menghitung kalender ovulasi. Mengapa kita para perempuan remaja tidak diberikan informasi yang secara gamblang sejelas-jelasnya, hanya karena takut kalau kita tahu tentang hal tersebut maka kita akan melakukan free sex dan pengetahuan tersebut hanya akan diberitahukan pada orang dewasa yang siap kawin. Begitu? 

Saya merasa, sudah saatnya perempuan punya hak bebas untuk tahu ini itu seputar sex, karena itu juga bagian dari kehidupan, tidak hanya tentang kepuasan laki-laki saja karena itu juga menyangkut dengan tubuh perempuan juga yang turut ambil andil lebih di perubahan tubuhnya. Sudah saatnya perempuan 'melek' dan tidak usah malu atau sungkan, karena perempuan juga punya hak yang sama atas tubuhnya dan hawa nafsunya. Perempuan mempunyai hak untuk mengenali tubuhnya lebih dalam lagi.

Saya bukan berkata " Marilah kini kita melakukan free sex sebebas-bebasnya." Bukan. Yang ingin saya sampaikan adalah 'melek', cari tahu, mencari informasi, bertanya, diskusi agar kita tidak buta-buta banget. Kenalilah tubuhmu, kenalilah payudaramu, kenalilah vaginamu. Vagina bukan kata kotor dan sesuatu yang memalukan; 'kemaluan' yang memalukan. Itu adalah vagina. Kamu keluar dari vagina, kehidupan baru keluar dari sana, kenapa juga dinamakan 'kemaluan' bukankah itu sebuah 'keberanian' ketika perempuan mengoyakkan tubuhnya sendiri untuk buah cintanya?

Saya baru tersadar bahwa di umurku yang ke 22 ini, ada puluhan ribu perempuan muda seumuran saya atau lebih muda yang sudah menjadi seorang ibu. Mereka sudah melahirkan individu lain, bayi kecil mungil. Saya menjadi tersadar, ketika nenekku seumuranku, beliau sudah punya anak tiga ekor. Saya jadi menyadari bahwa tubuh perempuan itu tidak hanya indah tapi juga ada sebuah keajaiban dan tangan Tuhan yang berkarya dan bekerja. 

Siapa juga yang bilang kalau jadi ibu itu mudah? Oh tidak! Itu adalah panggilan dan pilihan Tuhan. Bayangkan saja ada individu lain yang berkembang dalam rahim lalu keluar 9 bulan kemudian! Gila. Saya aja tiap bulan 'dapet' rasanya senat-senut sakit perutnya dan bahkan kadang sampai mau gali liang kubur sendiri *lebay* lha bagaimana dengan melahirkan?

Saya sebagai perempuan merasa bahwa perempuan punya hak seutuhnya atas tubuhnya. Dia berhak mengetahui kesehatan seluk-beluk tubuhnya tanpa harus ada izin ini itu dari wali, orang tua, suami, atau masyarakat, namun atas namanya sendiri dengan kepentingannya sendiri. 



21.1.13

Day #20: Untuk Puisi


saya menulis puisi untuk puisi
yang selama ini menemani saya
dalam kata longgar
tak teraba dan terkias.
dibaca dengan hati
dengan arti yang kembar.
yang lancip dengan ketumpulannya
yang bias namun jelas
yang polos namun berpola.
mendefinisikan otak saya
yang bagai pesta petasan
di bulan ramadhan dan chinese new year.


metta
Kaohsiung, 21 Januari 2013
17:56, lama-lama otak saya butuh reparasi




"Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit. (Kommer, 199)- Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer. 


19.1.13

Day #19: Mati Telanjang



Kapankah waktu itu?
Kupastikan ku tak meratap, tak menangis, tak menyanyi
Tak perlu meraut kata-kata indah
Mencoba membuat memoar
Menempel di kalbu

Biar tubuh-tubuh bisu yang bicara
Bicara tentang nafas, aliran darah, denyut nadi, geliat tubuh…
Menggosipkan mentari yang jatuh hati pada segulung malam
Menari-nari di atas biasan warna pelangi
Membicarakan segenggam harapan

Semua mengendap
Aku dijemput
Jam menggenang, waktu pun kehilangan alur
Ini waktuku.
Aku berlepasan.
Tercerabut.

Aku lahir tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Aku pun ingin mati tiada berbaju, tiada bawa apa-apa
Telanjang.
Cukup menggotong perburuan makna hidupku
Cukup memboyong ziarah batinku
Cukup berbekal cintaku

Aku ingin mati telanjang.
Tanpa baju penutup aurat
Tanpa nafsu
Tanpa dosa
Tanpa keduniawian
Meninggalkan sengkarut tubuh usang nan laknat ini

Layakkah aku Tuhan?


BSD, 2007 

17.1.13

Day #18: Pelabuhan


pic: tumblr



Kamu nampak jauh terselubung dalam jalan pikiranmu sendiri. 
Kamu tersesat dalam otakmu dan berlari memutar dalam labirinnya.
 Aku tidak mengenali kamu lagi.

Kamu berusaha menjelaskan dan menguraikan alasanmu, seraya tanganmu memainkan jemarimu 
pertanda kamu kebingungan dan kehabisan kata-kata yang paling kamu butuhkan. 
Hingga akhirnya kamu pun terpaku dalam satu titik dalam satuan waktu yang panjang.

Andai kini peluk dapat menyatukan hati kita tentu sudah kulakukan sejak tadi. 
Andai peluk sesuai dengan kenyataannya, meninggalkan setiap centimeter fisik menjadi satu rengkuhan, menghangatkan dan meninggalkan jeda, 
tentu kita tidak perlu sejauh ini.

‘Aku harus pergi. Mencari.’ Ucapmu tidak memandang mataku.
‘Mencari apa?’
‘Mencari sesuatu yang hilang dan kini serasa kosong.’

Kamu gelisah di tempat dudukmu hingga lipatan bajumu agak kusut. 
Aku pun mulai kedinginan serasa ditinggal panas tubuh. 
Berdua kita terdiam dan hanya terdengar tarikan nafas kita yang semakin cepat 
seolah saling berebut oksigen dalam ruangan.

Ketegangan yang melelahkan, gelombang yang tidak serasi membuat kita ingin saling berjauhan.
Jarak yang menganga kita tinggalkan begitu saja. 
Kita serasa berbeda waktu, entah kamu yang terlalu cepat 
atau hanya aku yang berputar dalam porosku sendiri.

Lalu kamu pun bersuara:
‘Lepaskan aku,..’

Entah dari mana asalnya emosiku berontak, ketenanganku pecah dan aku pun merangsak masuk ke zonamu. Aku berusaha sekuat tenaga mengambil apa yang aku punya, apa yang aku miliki dari dirimu. 
Namun kamu terdiam tak bergeming. 
Aku mulai memukulmu dan berteriak meronta.
Air mataku mulai meleleh dan panas membasahi pipiku. 

Proses pelepasan jiwa yang berdiam terlalu lama. 
Sandingan hati yang berlepasan bagai ombak luluh lantak menembus dinding dan penjara, 
bergerak kembali padamu.

Kamu kokoh dan tegak di tempatmu, memandangku dengan iba. 
Aku menangis hingga gemetar dan kamu pun terisak pedih. 
Kamu dan aku terluka. 
Tembok kita runtuh sudah, belahan jiwa kembali ke masing-masing.

Kamu dan aku terlepas, 
 meninggalkan perasaan pada pelabuhan yang berbeda. 





Metta
Kaohsiung, Februari 2011 



16.1.13

Day #17: Waktu



Detik meleleh disetiap detaknya
Kita berkejaran dengan waktu
Entah aku yang berlari
Entah engkau yang berdiam
Tanpa tahu kapan kita bisa sejajar
Duduk dan berbagi oksigen yang sama
Menatap mata
Dan sekedar bicara
Tentang makan siang
Lalu
Senyuman manis sampai jumpa


Metta
Kaohsiung, 16 Januari 2013
15:45, lantai 1 

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...