23.10.12

Rasa-rasa yang Dirasa

Semakin gencar saya menulis menandakan saya berada pada taraf stress yang makin intens. Saya baru menyadari pola tersebut. Ketika saya mulai merasa semerawut, menulis bisa meredakan segalanya sampai tuntas, layaknya iklan obat pencahar agar buang air besar lebih lancar. Mungkin ini yang orang bilang: selalu ada hikmah dibalik bencana. Yaaaa.... barangkali hikmah dari ini semua adalah blog saya penuh lagi dengan curhatan saya. Yaaaayyy! 

Di tengah aktivitas padat hingga terkadang menarik nafas pun terlupa, saya makin merasa sense saya untuk memperhatikan sesuatu yang sensitif dan detail semakin menumpul. Serasa saya mulai melihat bahwa hidup kita itu yaaa... begini-begini saja, tiga dimensi, tanpa menahu bahwa ada banyak dimensi lain di luar akal sehat kita. Terkadang sesuatu yang terus menerus itu bisa membuat kita terbiasa padahal itu jelas tidak biasa, saudara-saudara!

Jadi ceritanya begini, hari ini hari yang biasa, pagi yang biasa, sarapan yang biasa, dengan perasaan tumpang tindih yang tidak biasa. Membuat saya yang biasanya bangun segar dengan kilauan sinar mata penuh cinta *aseeek*, kini saya letoy tak berjiwa. Sepertinya rutinitas sudah menghianati saya mentah-mentah, memakan jiwa muda saya hidup-hidup tanpa ampun dan kini saya hanya ditinggalkan tulang dan kentut. Bagaikan  dementor yang menghirup kebahagiaan saya, hingga saya bisa merasa lack of love. 

Efeknya, saya menjalani hari ini sebagai suatu hari biasa bukan sebuah anugerah kalau saya masih diberikan nafas gratis oleh Tuhan. Dan saya kian merasa bahwa saya bangun pagi hari karena sudah layak dan sepantasnya. Saya lupa kalau saya ini manusia biasa yang jiwa dan raganya milik Tuhan hingga saya bisa 'lewat' kapan saja semau Dia.

Lalu yang menarik adalah di hari yang luar biasa 'biasa' ini ada pelajaran sejarah yang super boring malesin. Tapi entah dengan apa dan bagaimana, hari ini topik pembicaraannya sangat menarik yakni: Sebutkan tiga tempat yang kalau kamu ke sana, kamu akan merasa senang bak di surga. Lama saya berpikir dan mengingat-ingat tempat yang mampu memberikan rasa. Akhirnya saya menjawab: rumah, gereja dan perpustakaan. Dalam otak saya mulai mencari-cari apa yang paling menarik dari tempat ini, ternyata jawabannya yang muncul dari pemikiran saya adalah ada sebuah 'rasa'. Tempat-tempat ini selalu muncul di fase kehidupan saya dan mengambil andil yang cukup besar dalam pertumbuhan pribadi seorang Metta. 

Rumah 

Di mana tinggal orang-orang tercinta; keluarga saya. Di mana saya dibesarkan dengan penuh cinta. Di mana saya selalu bisa pulang kembali dan pintu rumah selalu terbuka lebar menerima saya. Rasanya ada perasaan aman, ketika kita tahu bahwa ada suatu tempat yang selalu menerima kita untuk kita pulang dari pergi jauh.

Gereja

Di mana tanpa Dia tentu tidak akan ada saya yang sekarang. Bahwa saya ini hanya kecil di tengah keluasan Dia, bahwa saya ini terbatas tapi Dia tetap ada di manapun saya berada. Dia yang selalu bisa dicari dan ditemui di kedalaman hati dan selalu setia setiap saat seperti di iklan Rexona. 

Perpustakaan

Di mana saya duduk ansos dari dunia luar dan asyik tenggelam dengan buku-buku. Berkomunikasi searah antara hati dan otak, yang kerap kali bertengkar. Di mana saya mampu berjam-jam duduk membaca sambil berpikir ini dan itu, menerawang jauh ke depan.

Lalu si Bapak Guru menjelaskan, suatu tepat yang memberikan 'rasa' pada kita akan selalu kita ingat dan tersimpan sadar atau tidak. Seberapa pun lamanya itu. Karena bagi manusia bahasa perasaan itu bahasa yang paling mudah disampaikan dan dicerna. Hingga terkadang saat kita pergi ke suatu tempat baru dan ternyata kita menemukan kembaran rasa dengan tempat familiar yang kita sukai, sudah pasti kita akan jatuh cinta dengan tempat itu. Apalagi apabila tempat itu memiliki bau yang sama. Lima indera kita mempunyai andil yang besar untuk perasaan kita. Itulah gunanya dan pentingnya indera.

Ternyata selama ini saya tersedot oleh lingkaran rutinitas yang menumpulkan rasa-rasa. Saya pikir ada bagusnya bagi kita untuk bisa lebih perasa dalam rasa-rasa. Karena sekalinya kita membuka hati pada berbagai rasa dalam hidup, dijamin tiap hari akan berbeda dan jauh dari kata 'biasa'. Lalu sampai titik tertentu, kita bisa mundur kembali dari kesibukan kita dan bersyukur karena hati kita tidak disfungsi dengan keindahan di sekitar kita. Boleh nih dicoba!  :))

20.10.12

Gadis dalam Cermin

Ini saya saja yang terlalu perasa atau memang ini adalah perasaan yang harus dirasa-rasa? Semakin saya bergelut mesra dengan skripsi saya, saya makin merasa bahwa masalah perempuan itu pelik dan jelimet. Sudah diputar-putar dan dikaji ulang, lalu hasilnya? RUMIT. Mungkin benar kata seseorang bahwa pikiran dan hati perempuan itu hanya Tuhan yang tahu. 

Di skripsi saya ini, saya menulis tentang dampak media terutama televisi pada remaja perempuan Indonesia . Saya baru sadar kalau sebenarnya perspektif perempuan pada program televisi di Indonesia itu minim sekali. Televisi itu adalah media yang paling dekat di hidup kita, siapa sih yang tidak mempunyai televisi di rumah? Pasti hampir semua orang mempunyai paling tidak satu televisi di rumahnya. Jadi sudah seharusnya dong kalau program televisi itu lebih memperhatikan isi dari programnya dan tidak semata-mata hanya menayangkan acara musik-musik disertai audience yang diharapkan untuk berpartisipasi menari 'kucek-kucek-jemur-jemur'? 

Televisi kini tidak menampilkan apa yang remaja perempuan butuhkan namun hanya kebutuhan kapitalis yang mengeruk keuntungan dari prodak-prodaknya. Mencuci otak remaja putri agar terobsesi oleh gaya hidup tertentu atau pada pencitraan yang diciptakan oleh iklan: kurus, berambut lurus, berkulit putih, tanpa bulu, harum, dst. Padahal televisi adalah sarana yang mudah untuk mengedukasi masyarakat. Televisi seharusnya memberikan pendidikan lewat program-programnya untuk semakin mengenal tubuhnya, alat reproduksinya, seks dan mengenal hak-haknya. 

Cantik menurut siapa? 

Semalam saya berolahraga di tempat fitness universitas saya. Sambil saya berlari di treadmil, saya berkaca di kaca super jumbo di depan saya. Saya melihat bayangan saya di cermin dan mulai mengoreksi ini itu dari badan saya. Saya mulai mengkritiki badan saya tanpa memberikan kesempatan diri saya untuk membela diri. Saya kurang tinggi, rambut saya frizzy padahal saya maunya lurus jatuh, saya kurang kurus, lengan saya besar, pantat dan pinggul yang besar, saya tidak puas dengan ukuran payudara saya, saya jerawatan, saya tidak seksi, saya jelek, dan seterusnya, dan sebagainya, dan lain-lain, terus, terus, terus dan terus. Saya berlari sampai terengah-engah dengan energi negatif yang berloncatan. 

Apakah benar peryataan bahwa perempuan yang cantik dan seksi itu apabila memiliki tubuh yang bagus? Apakah hanya dengan paras cantik, kulit yang putih dan mulus, rambut panjang dan lurus, kaki jenjang dan tinggi, payudara bulat padat berisi dan bokong ala Beyonce sudah pasti dikatakan cantik? 

Merupakan  tantangan untuk kita dan saya untuk tetap bisa nyaman di tubuh kita sendiri. Apakah kita sudah termakan dengan 'cantik' yang dicitrakan dan dinyatakan di televisi? Apakah itu menjadi sebuah tolak ukur kita untuk seperti yang ada di televisi? Sampai akhirnya hampir sebagian besar perempuan pasti pernah menjalankan program diet menguruskan badan. Bahkan anak perempuan berumur lima tahun pun sudah tahu apa itu konsep diet. 

Di tengah nafas yang terengah-engah saya jadi mengingat seorang teman kuliah di sini. Namanya Carol. Saya mengenal dia karena kami sama-sama ambil jurusan yang sama, bahasa Jerman namun kami beda kelas. Saya kenal dia di asrama karena roommate dia orang Indonesia juga. Dia lucu, polos, baik, tomboy, saya suka ngobrol ini itu dan dia gemar sekali memperbaiki nada bahasa mandarin saya yang kacau balau. Kini dia postpone kuliah karena dia tidak kuat untuk kuliah dan aktivitas berat lainnya, karena terlalu kurus. Ternyata dia terkena anorexia karena merasa tidak ideal dan diejek teman. Saat liburan summer kenaikan tahun ke 3 lalu, dia sukses besar menurunkan berat badannya sampai 25 kilo dan tidak tanggung-tanggung semua lemak di tubuhnya sirna tak bersisa. Kulit pucat kekuningan, rambut tipis, mata cekung, baju kelonggaran dan pencernaan yang tidak sanggup mencerna makanan.

Saya sedih karena kehilangan teman di tengah perjalanan di mana ini adalah tahun terakhir saya. Saya sedih karena saya tidak bisa berbuat apa-apa dan semua sudah terlambat untuk mencegah dia diet jor-joran dan tidak ada kesempatan berkata padanya: kamu cantik dan special!

Jadi, cantik menurut siapakah yang harus kita anut? Apakah arti cantik itu sendiri? Haruskah cantik itu menurut sudut pandang televisi yang tidak berprespektif perempuan? Ataukah ukuran perempuan cantik hanya bisa dinilai dari sudut pandang pria? Bingung? Sama. 

Sudah seharusnya kita, perempuan  sebagai konsumen terbesar dari televisi menjadi lebih bijakasana dan dewasa dalam menyikapi fenomena yang tidak bisa dihindari ini. Gadis remaja tumbuh dengan apa yang dipelajarinya, apa yang dilihat dan itu menjadi konsep dalam otaknya. Dibutuhkan orang-orang terdekat untuk bisa membina dan menjelaskan bahwa cantik itu universal dan tidak semata-mata harus putih, kurus, dan berambut panjang.  Menjadi perempuan merdeka yang merasa cantik dan layak tanpa harus ada penilaian timpang dari televisi atau pria. 


Cermin... cermin... di dinding

Masih ingat dengan cerita putri salju yang mempunyai ibu tiri jahat yang terobsesi menjadi yang tercantik di kerajaannya? Pasti masih ingat! Setelah saya pikir-pikir cerita tersebut ada relevansinya dengan kehidupan perempuan sekarang. Ketika seorang perempuan melihat cermin, apakah kamu tidak ingin tahu apa yang dia lihat di cermin tersebut? Apakah dia melihat sosok yang dia inginkan atau dia sedang sibuk mengkritiki tubuhnya? Atau dia sedang sibuk bertanya pada si cermin: Apakah saya cantik? 

Kembali lagi dengan saya yang basah bersimbah keringat dengan muka kucel dan rambut awut-awutan bak singa masai. Lalu terdengarlah lagu Phill Collins berjudul True Colors dari mp4 saya yang saya pasang random. Lyric nya yang 'nendang' sebagai berikut: 


You with the sad eyes 
don't be discouraged 
oh I realize
it's hard to take courage 
in a world full of people 
you can lose sight of it all 
and the darkness inside you 
can make you fell so small 


But I see your true colors
shining through
I see your true colors 
and that's why I love you 
so don't be afraid to let them show 
your true colors 
true colors are beautiful 
like a rainbow 

Show me a smile then 
don't be unhappy, can't remember
when I last saw you laughing
if this world makes you crazy
and you've taken all you can bear
you call me up
because you know I'll be there


***


Lalu saya melihat diri saya sendiri di cermin dan tersenyum.


10.10.12

Di hari kesehatan mental sedunia dan saya yang jauh dari waras

Hallo... puji Tuhan saya masih hidup hingga sekarang ini. Susah sekali yah cari waku untuk sekedar duduk lalu berpikir mau menulis apa lagi yah. Rasanya banyak cerita namun kok tidak sempat untuk dituliskan. Oh iya, by the way mohon maaf apabila makin hari saya makin gagap menulis menggunakan EYD yang baik dan benar. Saya agak 'kagok' dengan perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Agak prihatin sebenarnya saya dengan kemampuan bahasa indonesia saya yang makin turun dan berbicara pun jadi 'belibet'. Semoga ibu saya gak baca postingan blog saya ini, karena beliau guru bahasa indonesia yang baik dan benar. Amin. Semoga juga beliau gak iseng dan taruh tulisan ini di komunika, lebih baik jadikan postingan yang satu ini sebagai konsumsi pribadi di blog aja.

Saat ini saya sedang disibukkan dengan yang namanya skripsi!!!! ARGHHH..... tau gak sih buat skripsi itu rasanya kayak bergulat batin dengan diri sendiri, mengalahkan setan-setan jalang dalam tubuh. Dan saya semakin yakin bahwa sebenarnya saya ini adalah ratu setan jalang. Gileeee.... baru duduk dan buka laptop rasanya setan-setan mulai membayangi dan berbisik-bisik nakal : "Metta.... tidak usahlah kau buat skripsi mu sekarang.... nanti saja... toh deadline masih lama." Man!!! Mau selesai kapan ini skripsinya, ya nona Metta! 

Satu lagi ya..... yang namanya buat skripsi itu, kita harus make sure apakah topik yang mau kamu buat itu menarik 10000000% buat kamu apa enggak. Karena walaupun memang kamu cinta mati sama topik skripsi kamu ada kalanya semangat '45 dan kecintaan pada topik kamu akan luntur bak blao di baju putih. Pokoknya rasanya dari skripsi ini saya belajar bagaimana untuk bisa jatuh cinta berkali-kali pada topik skripsi saya ini. Hadoh....sampe' capek nulisnya.

 Dan.... saya baru sadar saja kalau cinta itu butuh mekanisme, dalam artian kita gak bisa cinta pada sesuatu atau seseorang tanpa kita put effort lebih untuk bisa memelihara rasa cinta kita. Cinta tersebut hadir ketika kita berjuang lebih untuk discover: Faktor apa sih yang bisa membuat saya jatuh cinta lagi dan lagi, setiap hari? Gilaaaaaaaaaaaaa... itu susaaaaaaaaaaaaaahhhh banget! 

Nulis skripsi itu tidak seperti nulis makalah lain yang bisa asal jadi, tapi ada berbagai selipan rasa di dalamnya. Misalnya ada perasaan terbebani, karena skripsi adalah kerjaan anak tahun keempat yang sebentar lagi akan meretas ke dunia nyata. Jadi tekanan dalam menulis itu besar, dalam hati berpikiran: 'Masih kuat gak yah gue.... nulis ini skripsi yang tak berujung pangkal ini. Bisa lulus gak yah gue... tahun ini.' Dan saya mulai tidak bisa menikmati liburan-liburan santai leha-leha pasti bayang-bayang skripsi dan rasa bersalah mulai ada. Lalu ada juga perasaan seperti sedang 'hamil' yang gelisah dan was-was seperti apakah rupa 'bayi' saya nantinya ,akankah mirip saya, suami saya atau malah mirip tetangga? Gawat sekali kalau mirip tetangga. 

Selain itu saya juga merasa bahwa skripsi itu sudah bagaikan pacar yang posesif tidak memberikan ruang lebih untuk pasangannya. Pasangan yang over protective dan nguntit ke sana ke mari. Saya merasa dia berada di sekitar saya 24 jam. Seperti lagunya Maya Ahmad dengan ubahan lirik: 

Aku mau makan, ku ingat kamu
Aku mau tidur, ku ingat kamu
Aku mau pergi, ku ingat kamu
Oh skripsi, mengapa semua serba kamu


Aku sedang bingung, ku ingat kamu
Aku sedang sedih, ku ingat kamu
Aku sedang bosan, ku ingat kamu
Oh skripsi, inikah bila ku jatuh cinta


Astaganaga bundooooooo.... ampunilah anakmu yang manis ini.

Di hari kesehatan mental sedunia ini, saya merasa jaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuhhhh dari kata waras. Saya merasa saya gila dan sakit mental, tapi saya bangga kalau saya sakit jiwa dalam artian saya menikmati dan paham betul kalau saya sakit jiwa, stress dengan ini itu dan skripsi dan tetek bengeknya. Tapi saya masih berusaha kuat meski terpincang-pincang. Untuk orang lain yang merasa sakit jiwa dan jauh dari kata waras.... toss dulu dong! Bear it with me! :))



'Misalnya kau masih punya senyum kirimkanlah lewat hujan lewat embun'
-Eka Budianta-




21.8.12

Lip Service


Menurut thefreedictionary.com, lip service itu termasuk noun (kata benda) dengan arti: verbal expression of agreement or allegiance, unsupported by real conviction or action, atau kalau ditranslate bebas ke Bahasa Indonesia menjadi: keramahan di mulut saja alias NATO; No Action Talk Only. 

Awalnya, saya diperkenalkan dengan istilah lip service ini oleh bapak saya ketika memberikan wejangan bahwa menurutnya saya ini masih terlalu naif dan dungu dengan keadaan dunia luar yang katanya kejam. Bisa dibilang saya itu orang yang mudah percaya dengan bibir orang lain tanpa menyaring, apakah orang ini bisa dipercaya atau tidak. Padahal jika saya cukup pintar harusnya omongan orang itu dikaji terlebih dahulu baru diterima. Nyatanya saya ini kok ya... bebal otak ber-IQ jongkok sehingga apa yang saya lihat dan dengar, ya saya terima apa adanya tanpa pertahanan.

Baca Hati

Beberapa waktu lalu saya membuat janji dengan teman lama untuk bertemu dan melepas kangen, setelah satu tahun tidak bersua. Waktu sudah ditentukan dan cocok, tempat sudah dipesan. Harusnya beres dong, tidak ada halangan, tinggal bertemu, duduk santai dan ngegosip. Simple dan mudah. Namun sayang, saya ini tidak terlalu memperhatikan apakah teman lama saya ini mempunyai hati yang tulus dan niat yang sama dengan saya untuk saling temu kangen. Kenyataannya didalam hatinya, keinginan kami untuk bertemu itu timpang sebelah.

Di hari H kita bertemu, tiba-tiba saja dia pergi ada janji lain dan mengundur jam pertemuan jadi agak malam, lalu ternyata dia pun memberikan alasan lain bahwa pagi harinya dia sudah ada janji dengan orang lain. Intinya pertemuan kami gagal dan saya jadi sadar mungkin sebenarnya dari jauh hari kita sudah tidak 'klik' lagi. 

Kenapa juga yah saya sebagai teman lama kurang peka dengan perubahan dan gerak gerik teman lama ini? Toh satu tahun kami nyaris bisa dihitung jari saat-saat kami chatting dan ngobrol. Pada akhirnya saya baru tersadar bahwa terkadang ada beberapa hal yang orang lain tidak bisa ungkapkan dengan verbal. Ternyata tak peduli seberapa pun kita mengenal orang tersebut, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan rasakan.

Seperti sebuah pepatah: Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu. Ternyata banyak orang, termasuk saya, melakukan sikap ini, perbuatan dan kata hati yang beda jauh. Bisa jadi wajah tersenyum namun hati menaruh yang tidak-tidak.

Mari menolak

Manusia mana sih yang sanggup menerima penolakan dengan lapang dada dan langsung ikhlas? Pasti saja kita harus dihadapkan dengan perasaan sedih, tidak siap dan mungkin kalau lebay gaungnya bisa berhari-hari. Maka itu, ada beberapa orang yang tidak tega untuk menolak orang lain dan akhirnya lip service alias manis dimulut  pun dilancarkan. 

Kenapa juga yah kita harus tidak enakkan menolak sesuatu yang tidak kita suka atau tidak sanggup untuk kita lakukan? Untuk apa membebani hati yang sudah enggan? Hingga akhirnya kita terpaksa tidak jujur pada diri sendiri, mending  kalau kita melakukannya, lha kalau malah hanya lip service, bermanis-manis di mulut namun ngomong ora tekan ati, tidak tulus. Apa berkatnya, apa untungnya?

Apa susahnya menolak sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak sanggup untuk dikerjakan? Toh kita punya mulut untuk berbicara tentang hati dan pikiran kita, mengapa tidak digunakan sesuai fungsinya? Apabila takut dicap orang lain sebagai orang yang tidak sopan dan frontal, toh pada akhirnya orang lain akan melabeli diri kita ini dengan penilaian mereka sendiri. Hari gini masih dengerin kata orang, apa gak capek tuh? 

Padahal mungkin orang yang menjadi target penolakan kita itu tidak keberatan apabila kita beri tahu dari awal akan pemikiran dan alasan kita sendiri. Sehingga dua belah pihak sama-sama enak, komunikasi lancar tanpa ada modus ini itu. 

Apabila kita terus menerus melakukan praktik lip service ini, tidak ada bedanya dong kita dengan koruptor penebar janji manis palsu. Mungkin kalau  sinetron Hidayah masih ada, niscaya pasti kalau mati mayatnya nanti digerogoti belatung, bibirnya dower lalu arwahnya dimasukan ke neraka yang penuh kretak gigi. Amit-amit yee bo! 

Maka itu pada malam harinya saya jadi mikir, jangan-jangan sebenarnya saya ini juga sering melakukan praktik lip service itu, berkoar sana sini sampai mulut berbusa, meracau tak jelas persis wong edan. Masalah klasik yah? 

13.8.12

Antri dong!


“Antrilah di loket untuk beli tiket siapkan dompet, awas ada copet, antrilah semua … biar disiplin. Meski pala pusing, betis varises…antri dong ah!” (Project P- Antri Dong)

Masih segar diingatan saya akan sebuah lagu nyeleneh dari Project P ini.  Maklum untuk anak angkatan 90’an seperti saya ini pastilah familiar dengan lagu-lagu yang kocak dan aneh ini. Apa sebenarnya korelasi lagu ini dengan tulisan saya kali ini? Mengenai budaya antri kita yang sepertinya harus dikaji ulang dan mulai digalakkan lagi.

Sebenarnya budaya antri itu sebuah budaya tua dan sudah diajarkan sedari kecil. Coba silahkan dibuka lagi buku PPKN zaman SD pasti ada. Budaya antri itu bagaikan budaya yang ‘tau sama tau’ dalam artian elu tau dan gue tau, budaya dasar yang merupakan anak pinak dari bentuk disiplin. 

Peristiwa 1

Kejadian yang menurut saya lucu adalah ketika saya pergi retret pribadi. Kebetulan karena sudah tiga tahun lamanya saya tidak ikut kegiatan yang sifatnya rohani, akhirnya saya didaftarkan secara paksa oleh ibu saya untuk ikut retret pribadi dengan peserta sekitar 400 orang. Sejujurnya saya sih malas ikut retret ini karena saya sendirian dan tidak kenal siapa-siapa. Saat keberangkatan pun saya sudah bisa bayangkan bahwa untuk empat hari tiga malam kedepan saya pasti akan garing luntang luntung sendirian. Namun berkat kemampuan adaptasi yang cepat karena dikarbit oleh keadaan terpaksa, akhirnya saya pun berkenalan dengan berbagai macam orang di sana, senang sih dapat kenalan baru yang umurnya jauh lebih tua dari pada saya.

Secara keseluruhan acara retret ini sangat menarik dan menambah pengetahuan mengenai relasi saya dengan Tuhan dan mengenai adanya karunia bahasa roh. Saya juga menjadi tersadar bahwa ternyata umat Katolik itu banyak sekali, ada perasaan senang bisa bertemu dengan saudara seiman dan berkumpul bersama-sama untuk bisa mengenal dan memuji Tuhan.

Mungkin karena begitu banyaknya manusia yang ikut dalam retret ini sehingga  terkadang kami terpaksa harus berebut untuk mendapatkan fasilitas yang kami mau. Tidaklah usah jauh-jauh mari kita lihat saat waktu makan dan snack. Banyak orang berdesak-desakkan lupa dengan kepentingan dan hak orang lain yang juga mempunyai perut yang sama-sama lapar. Saya sebenarnya agak heran saja gitu sepertinya kita bisa dibilang beruntung untuk bisa makan tiga kali atau lebih di rumah dengan kenyang dan enak, kenapa juga di tempat retret ini semua orang nampak bar-bar sikut sana sini, serobot sana sini. Itu yang tidak saya mengerti. Logikanya, kalau kita sudah bayar untuk menjadi peserta di retret ini pastinya pengurus tempat retret ini juga sudah bisa memperkirakan seberapa besar jumlah konsumsi yang harus dia siapkan untuk peserta retret. Kenapa juga harus bersikap seperti tidak pernah bertemu nasi selama ratusan hari? Toh dibawah ada kantin dan tukang jualan lainnya. Tapi yaa…harus bayar lagi lah hehe.

Kalau saya kaji lagi, sebenarnya tujuan kita datang ke retret ini untuk bertapa, menjauh dari segala yang enak-enak yang biasa kita dapatkan di rumah secara mudah. Kapan lagi coba kita berdoa dingin-dingin dengan perut yang agak kelaparan ingin makan nasi goring tektek yang lewat depan rumah? Tuhan Yesus saja puasa 40 hari lamanya sampai digoda setan tidak terpengaruh kenapa kita tidak bisa menunggu beberapa saat dengan sabar untuk antri tanpa perlu nyerobot sih? Mungkin  inilah contoh kecil bahwa  keinginan daging itu lebih besar dari pada roh.  Ternyata kita harus lebih banyak belajar untuk bisa sabar dan tidak melulu harus saya dan saya.

Peristiwa 2

Masih pada acara yang sama,retret pribadi, tibalah di hari ketiga yakni pengakuan dosa . Mengaku atas dosa-dosa kita terkadang memang mendebarkan. Pintu ruang pengampunan dosa itu dekat mungkin barang hanya 15 langkah dari tempat duduk saya. Namun rasanya dibutuhkan waktu berjam-jam lamanya untuk menuju ke sana. Menunggu giliran untuk mengaku dosa selalu membuat saya agak gelisah. Rasanya jutaan setan sedang berkata-kata ditelinga saya untuk menyerah di antrian panjang ini dan pergi ke ruang makan untuk makan siang. Masih ada 18 orang lagi sebelum akhirnya jatuh ke giliran saya. Rasanya saya sudah tidak sabar dan ingin membeberkan dosa-dosa saya selama enam bulan lalu. Kenapa juga yah menunggu dan duduk diam manis sambil senyum-senyum bukanlah keahlian saya, kenapa juga yah saya ini terlalu hyperactive dan tidak tahan pada sesuatu yang statis, ditambah  sifat dari lahir yang sangat mudah bosan.

Sampai akhirnya saya pun sibuk sendiri memperhatikan orang sekitar saya yang ternyata sama saja dengan saya ‘berpantat panas saat menunggu’ antrian. Bapak ibu disamping saya sedang membicarakan seberapa lama lagi antrian ini akan usai, nampaknya kesamaan nasib dan seperjuangan dapat membuat beberapa orang asing jadi berkenalan dan asyik berbicara satu sama lain. Kali ini sesuai dengan kemampuan kuping saya yang extra sensitive pada gossip, saya mencuri dengar pembicaraan bapak ibu tersebut. Sebenarnya saya agak-agak sedeng juga yah, wong sedang mengantri mengaku dosa bukannya refleksi pribadi tentang dosa-dosa saya, malah sibuk nguping pembicaraan orang lain, lalu ditulis lagi di buku jurnal harian saya, ini siapa yang lebih bejat coba?

Seorang ibu yang sedang duduk tepat dibelakangku berkata:
‘Haduh Ibu Rambut Pendek ini lama sekali yah ngaku dosanya. Dititipin dosa kali yah sama tetangganya! Hihihihi…’ lalu mereka pun tertawa berderai-derai.

 Mengantri itu bukanlah suatu hal yang mudah pun sebenarnya itu sangat simpel. Mengantri suatu giliran ketika semua orang mempunyai kesempatan yang sama, dengan hak yang sama juga nampaknya adalah sesuatu yang wah di zaman sekarang. Tanpa harus mengeluh dan bawel sana sini.  

Jangan hilang harapan

Saya juga pernah membaca sebuah kutipan menarik di sebuah buku: Bersemangatlah ketika menunggu. Bagaimana caranya kita bersemangat saat menunggu? Untuk tetap berdiri menunggu di suatu antrian yang panjang memang sebuah cobaan lahir dan batin. Apalagi kalau kita itu mengantri demi mendapatkan karcis yang jumlahnya terbatas. Kepastian untuk mendapatkan hasil yang kita antri dan tunggu itu belum tentu kita dapatkan. Bagaimana caranya kita untuk bisa bersabar, menarik usus kita untuk lebih panjang lagi.

Sejujurnya saya pun belum sampai ke tahap: Bersemangat ketika menunggu. Saya masih seseorang yang egois dan sering kali jengkel lalu misuh-misuh saat antrian saya diserobot orang. Ya dong…rasanya pengen saya getok kepalanya, saya colok matanya. Wetss…kasar!

Nah, orang-orang yang mempunyai kegemaran nyerobot sana sini dan sikut sana sini, inilah yang seringkali hilang harapan. Cara berpikir mereka adalah: ‘Kalo seandainya gue gak nyerobot udah pasti gak kebagian! Mana antrian panjang, panas pula, mana orang depan gue bau ketek pula!’ Kalau sendainya semua manusia punya pemikiran seperti ini benar-benar bencana karena ketika seseorang kehilangan harapan maka bisa jadi dia berhenti dan mundur atau dia mencari alternative lain yang biasanya ya gitu deh.  

Sering kali saya yang kepalang pasrah dengan keadaan berpikir kenapa juga sih harus grusak-grusuk sana-sini takut tidak dapat jatah, toh kalo memang sudah rezeki tidak ke mana. Ya kan?


23.7.12

Pribadi Kondang

Seorang teman menulis di twitter: " Suatu hari nanti aku pasti akan menjadi seperti si X (temannya juga) dengan berbagai achievements yang dia gapai!" Aku yang sedang asik leha-leha di kursiku sampai terjungkal cekikian sendiri di kursi, untungnya aku bisa duduk kembali .  Aku mengerti sekali kegalauan dan ambisinya. Namun jauh sekali di hatiku berkata, kenapa juga kali musti menyamakan diri dengan orang lain untuk menjamin kesuksesan  masa depan? Jenis kulit aja beda-beda, ada yang mulus, ada yang bopeng-bopeng, ada yang jerawatan, bagaimana dengan nasib?

Memang susah jadi diri sendiri 

Dunia ini terlalu kejam untuk kita berdiri tegak jadi diri sendiri. Untuk kita jadi apa yang adalah pribadi kita. Sepertinya lingkungan sekitar kita terlalu banyak berharap ini itu pada kita, berharap agar kadar sukses kita seperti cara padang mereka. Berharap agar penampilan kita bisa sekece yang mereka lihat di media, padahal mereka juga kena photoshop sono sini.

Lingkungan kita tidak mau menerima diri kita apa adanya karena mereka juga diperlakukan hal yang sama seperti itu. Jadi bisa kita lihat dong betapa susahnya seorang pribadi untuk jadi dirinya sendiri seutuhnya. Memang terkadang kita harus menulikan telinga kita, pura-pura budeg.

Memang seberapa jeleknya  kita untuk bisa menjadi diri sendiri? Apakah se-out of date itu yah untuk jadi diri sendiri, dengan gaya, mode, pemikiran sendiri? Kenapa juga sih harus malu untuk menunjukan jati diri kita yang sejati. Apakah kita tidak capek untuk berpura-pura menjadi diri orang lain? Kenapa sih kita musti ikut pemikiran orang lain dan menjadi ideal untuk orang lain? Kenapa kita tidak bisa dengan bangganya mempersembahkan apa yang kita punya, apa yang Tuhan kasih tanpa mesti rubah sana sini?

Pentingkah jadi kondang? 

Ya...ya aku juga tahu kalo yang satu ini pasti banyak yang mau. Ya nggak, ya nggak? Manjadi seseorang yang dikenal atau pribadi kondang, yang terkenal di kanan kiri, punya teman segudang, punya teman facebook ratusan atau ribuan, yang tersohor akan keahlian atau kemampuannya, yang status facebooknya dilike ratusan ribu orang (lebay haha) atau mungkin yang mendapatkan penghargaan ini itu. Siapa yang tidak ingin, coba?  Pasti ada deh orang diluar sana atau mungkin kamu sendiri yang sedang membaca tulisanku ingin atau sudah seperti itu. Hey, tidak usah tersindir lagi, tidak dosa kok dan tidak salah juga :) Itu adalah sebuah achievement hebat, yang terkadang memang harus kita dapatkan sebagai sebuah penghargaan untuk diri kita sendiri dan merasakan bahwa hidup ini benar-benar hidup. Seperti yang kubaca di majalah-majalah kalau ambisi dan rasa percaya diri itu suatu sex appeal, sesuatu yang seksi. Misalnya kita melihat orang yang benar-benar punya passion untuk suatu hal pasti kita akan melihat energi positif dari diri dia dan matanya pasti berkilat-kilat penuh semangat. Ketika ambisi dan passion itu berasal dari diri sendiri tanpa ada embel apa-apa itu yang jadi murni dan sejati. 

Lain halnya kalau ingin jadi kondang dan dia berusaha untuk menjadi orang lain agar orang lain 'suka' dan merasa dia asik. Nah.. Ini dia masalahnya! Kita menukar diri kita sendiri untuk menjadi seseorang yang bukan kita. Sekarang pertanyaan besarnya adalah mau sampai kapan kita mengikuti orang lain terus dan berusaha untuk bisa sama menjadi mereka-mereka yang kondang? Buat apa, mamen? 'Ah, elu Met pasti iri kan sama mereka yang kegiatannya bejibun sono-sini, kenal sana-sini, penghargaan sana-sini?' celetuk seorang teman baik. Mendengarnya kupingku gatel banget kayak dikilik-kilik. Ya mungkin saja ada sebagian dari hatiku yang iri dengan orang-orang kondang tersebut dan ingin menjadi seperti mereka. Namun untuk menukar jati diri saya dan berubah jadi sama 'plek' seperti mereka? Doh!

Di dunia yang lebih mengutamakan dan menghargai 'kegunaan', kegunaan diri kita bagi masyarakat, apakah kita dipandang lebih dibandingkan dengan orang lain, keinginan untuk berhasil dan berbuat lebih agar kita layak untuk mendapatkan pujian. Sehingga akhirnya kita lupa sebenarnya apa sih tujuan itu semua, siapakah diri kita sebenarnya dan apa sih sebenarnya rencana Tuhan atas diri kita?

Beda kulit, beda treatment 

Beberapa hari lalu aku pergi ke sebuah rumah kecantikan yang cukup terkenal di BSD. Menurut ibuku rumah kecantikan ini sangat ahli dalam menangani masalah kulit. Akibat hormon masa muda yang masih bergejolak, stress mahasiswi imigran, penyakit galau anak muda Indonesia dan asupan makanan yang ngawur, ya sudah akhirnya aku jerawatan. Prihatin melihat perkembang biakan jerawatku, akhirnya ibuku pun membawaku ke rumah kecantikan yang manjur dan murah meriah.

Menurut teman ibuku yang juga menderita jerawatan di muka, menurutnya perawatan di sana ampuh, tidak ribet dan murah meriah. Alhasil jerawatnya pun hilang tak berbekas, akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke sana. Ternyata peristiwa ini  ingin mengajarkan padaku bahwa setiap orang itu beda-beda, tidak sama. Perawatanku muahaaaall harganya, udah bukan mahal lagi tapi muahaaaall dan aku harus ikut ini itu, tidak seperti teman ibuku yang cukup sekali oles, jerawat pun hilang copot semua. Pelajaran yang bisa diambil adalah: kamu dan orang lain itu beda. Syukuri itu. 

Sabar 

Ada baiknya kalau kita itu sabar pada diri kita sendiri. Bahwa kita punya waktunya sendiri dengan cara yang berbeda-beda. Kita tidak mungkin sama plek dengan idola-idola kita dengan orang-orang kondang yang berseliweran depan mata kita. Sabar dalam arti kita tetap mensyukuri apa yang kita punya dan miliki, mungkin orang kondang itu kenal sana-sini, penghargaan gono-gini tapi mungkin dia tidak punya bakat bermain musik misalnya. 

Tidak usah minder dan malu untuk tetap berdiri tegak menjadi dirimu sendiri dan berteguh pada pemikiran kamu. Itu justru hal yang unik dan jarang di zaman kini. Ketika orang lain belum merasakan 'kehadiran' kamu, jangan berkecil hati. Seperti kata ibuku: 'Kamu belum berkibar karena benderamu sedang dijahit, direnda dan dipersiapkan.' Seperti kata orang Taiwan: 沒發現又不代表沒有, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Mereka mungkin belum menyadari sinar kamu, cahaya yang kamu punya. 

Dari pada kita sibuk meniru ini dan itu yang ternyata mereka juga manusia biasa yang bisa saja salah, lebih baik kita mempersiapkan diri kita sendiri, dengan jalan kita, dengan talenta yang sudah ada, sesuai dengan rencanaNya. 

Be yourself 

'Mbak saya mau potong rambut yang model Dian Sastro ini ya, mbak.' Kataku pada mbak-mbak salon. Sejam kemudian setelah selesai diblow, dikeramas, dipotong, dll. 
'Mbak kok jadinya gak mirip gini mbak?' 
' Iya kan rambut situ ikal keriting gitu. Kecuali kalo situ mau direbonding kayak Sancai di F4 itu.'
'Ogah deh mbak makasih, ntar rambut saya kayak kucai lagi.'

Nah... liat kan? Kamu tidak akan bisa sama dengan orang lain mana pun, rambut boleh sama hitam tapi jenis rambut kan bermacam-macam. Sudah ditata cantik model rambut Dian Sastro, tapi tetap saja rambutku kurang 'nendang'. 

11.2.12

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dari Taiwan dengan penuh cinta,
Untuk perempuan hebat berumur 48 tahun
Ibu

Terima kasih sudah mengajarkan aku akan arti 'motherhood'
Terima kasih sudah melahirkan aku, Aga, Abhi
Terima kasih karena sudah menjadi ibu terbaik untuk ketiga anak nakalnya :p
Terima kasih untuk semua kerja keras untuk keluarga
Terima kasih beribu terima kasih
Semoga panjang umur
Semoga semakin dewasa dalam iman dan pemikiran
Semoga semakin bijaksana
Semoga cita-cita kebun zaitun sukses!!
Semoga cita-cita menulis buku dan diterbitkan bisa terwujud.
Semoga aku, Aga, Abhi bisa menjadi anak kebanggaan #eaaaaah ;p

SELAMAT ULANG TAHUN IBUUUU!!! AKU CINTA IBU BANGEEEEEEEEETTTT!!!


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...