23.7.16

Daisy


Saya merasa beruntung sekali karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengetahui passion dan mimpinya. Mungkin memang belum gamblang bagaimana untuk bisa meraihnya, namun merekalah orang-orang gelisah yang memenuhi aplikasi komunikasi saya setiap hari. Merekalah orang-orang terkasih yang ingin mewujudkan impian mereka dan mengikuti kata hati. Saya sangat bersyukur sekali. Dengan begitu maka saya memiliki reminder hidup yang akan mengingatkan saya untuk terus berada di track saya. Tidak mencong sana sini. 

Orang-orang terdekat dan juga saya sendiri nampaknya seperti orang bingung yang mencari-cari celah untuk bisa mewujudkan mimpi masing-masing. Dan lalu gemetar sendiri dengan mimpinya. Terkadang sesekali rembeslah air matanya karena ada rasa ketidakberdayaan untuk sampai ke sana. Segar betul di ingatan, Thesa sahabat saya pernah mengutip opini pacarnya begini: Kamu berada di jalan yang benar: meraih mimpimu, ketika begitu banyak halangan dan masalah menghadang, namun tetap kamu lakukan dengan sukacita. Iya.

Akan banyak hambatan dan halangan namun kamu akan berkata pada diri sendiri: Tenang, yang ini pasti berhasil, yang ini pasti bisa. Dan kamu akan memberikan diri sendiri satu kesempatan lagi dan tidak putus-putus berdoa. Saya tidak pernah mempunyai keinginan untuk seserius itu dalam menulis. Sedari dulu saya merasa menulis adalah hobi asyik yang saya tekuni lama. Namun pandangan berubah dan pengalaman bertambah, saya menjadikan hobi ini menjadi alter ego saya. Saya sibuk bekerja di siang hari dan saya sibuk menulis dan membaca di malam hari. Itu yang membuat saya hidup. 

Kembali lagi, menjalaninya bukan tanpa hambatan dan tantangan. Dari jam tubuh saya yang membutuhkan tidur tujuh-delapan jam hingga terkadang jam sembilan malam saya sudah seperti mumi. Memandangi layar laptop atau menekuni buku namun sumpah setengah mati saya ngantuk. Akhirnya lebih memilih waktu lain entah di jalan menuju kantor atau di pagi hari. Demikian juga dengan membaca, apabila tidak diselipkan, tidak akan ada waktu. Jadi membawa buku bacaan ke mana-mana dan duduk membaca seperti kutu buku adalah nama tengah saya. Itu tidak bisa ditawar lagi. 

Tiba-tiba akibat saya super kepo dan kejemawaan diri, sempat kemarin saya sedikit google diri saya sendiri dan menemukan ada karya saya di blog yang dicontek orang entah satu paragraf entah seluruh tulisan. Ini bukan yang pertama kalinya memang karena saya pernah merasakan tulisan liputan saya naik cetak namun yang ditulis bukan atas nama saya. Di tulisan itu saya seolah menjadi narasumber. Semua kata 'saya' diganti menjadi nama saya, seolah beliau yang menuliskan. Lalu beliau memberikan honor naik cetak pada saya. Dan beliau adalah wartawan suatu majalah besar, guru menulis saya. Sempat saya tidak mau menulis lama, tidak ingin menjadi penulis, tidak ingin menerbitkan karya sama sekali dan benar-benar berhenti menulis. Namun, suatu hari yang biasa tahun 2009 saya dikenalkan dunia blog dan saya kembali menulis. Inilah blog gadis payung kuning saya, yang dibuat dengan drama dan tangis haha. Mungkin kini saya ingin berterima kasih kepada beliau karena berkat beliau saya bisa memurnikan ketertarikan saya akan menulis. Kalau ini bukan sekedar menulis namun menelanjangi diri sendiri, membagikan perasaan, pengalaman, pemikiran pada pembaca tulisan.

Menemukan tulisan yang dicontek orang lain membuat saya berpikir, benar tidak ya menulis di blog ini sebagai medium menulis saya? Karena saya sebal sekali dicontek sana sini. Seolah mereka tidak mempunyai pabrik ide dalam otaknya. Seminggu ini saya berpikir banyak hal, hingga lelah sendiri dan tergerak untuk bertanya penulis lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Namun saya kelewat malu dan tidak enak hati. Saya tidak punya kenalan baik penulis untuk dimintai pendapat dan diskusi. Sedih.

Hal yang saya pelajari beberapa hari ini adalah pentingnya menyelami segala hal hingga tuntas. Tidak bisa kita menemukan sesuatu tanpa terjun lebih dalam mencari ke akarnya yang terujung. Mencari permulaan untuk bisa mengenali hasil. Bergerak masuk ke dalam dan mengenali semua sisi. Menurut saya ketika kita merasa penasaran akan satu hal upaya mengenal tidak hanya melulu mencari hal tersebut. Kita juga perlu melihat dari seberang pandang dan arah sebaliknya. Jadi tidak hanya satu sisi saja yang menjadi perhatian namun sisi sebaliknya pun bisa kita lihat dengan objektif.

Seminggu ini saya sedang merenung kalau manusia adalah pencipta. Dia pasti akan menciptakan hal-hal baru dan karya baru. Saya kembali meluncur ke akar untuk apa saya menulis? Saya ingin berbagi pada orang lain. Lalu saya tersadar bukankah ini yang sudah saya lakukan, berbagi? Meski misalnya tulisan dicontek. Bukankah itu sebuh resiko ketika karya diberikan ke publik maka dia akan menjadi milik publik. Mungkin ini salah satu wajah dari berbagi. Semoga saja tulisan saya tetap berjiwa yang sama sebagaimana saya hembuskan di setiap katanya, semoga saja tulisan itu berguna bagi orang lain. Semoga saja tulisan saya tumbuh subur meski di ladang yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto bunga di instagram milik teman SMA saya yang lembut, Vina namanya. Gambarnya adalah bunga daisy. Menurutnya bunga daisy adalah bunga yang tumbuh di tengah-tengah rumput dan sebagai penanda musim semi akan tiba. Saya suka bunga daisy dan arti dibaliknya. Mungkin dia tergolong bunga liar yang tumbuh dengan cerianya ditengah-tengah rumput hijau. Berkarya dalam dirinya semaksimal mungkin dengan segala keapaan dia yang bermakna. 

Bukankah kita juga adalah bunga-bunga liar dengan keinginan untuk bertumbuh? Yang mungkin mati diinjak atau dipetik, namun keesokan harinya akan keluar tunas muda sebagai harapan hidup? Bunga liar yang tidak takut tumbuh meski sekelilingnya adalah rerumputan,  meski banyak tangan jahil yang gemas, ingin petik lalu akhirnya dibuang. Namun dia tetap tumbuh secantik-cantiknya, memberikan semua yang dia punya, memaknai hidupnya dengan seluruh daya menjadi: bunga liar.

Saya dan kamu pasti memiliki mimpi dan passion masing-masing. Memiliki hal-hal yang disukai dan ingin digeluti. Lakukanlah. Apapun yang membuatmu sedih dan putus asa akan kamu lupa di beberapa tahun mendatang. Percayalah. Kamu hanya ingat pernah melewatinya dan mengingat rasanya, namun hatimu sudah bertumbuh lebih kuat lagi. Keputusasaan yang dirasakan di setiap jalannya atau mungkin orang-orang sekitar yang tidak mendukung pasti akan selalu ada. Itu tidak bisa dicegah. Semua kembali lagi pada diri sendiri yang menentukan. Kamu tidak akan pernah terlepas dari usaha dan perjuangan apapun itu.

Mimpi dan berkarya berjalan berdampingan. Membuat sesuatu artinya kamu telah melewati proses yang banyak untuk sampai pada penemuan. Salah satunya adalah pengalaman pribadi dan pemahamanmu akan suatu hal. Pengalaman yang mendewasakan. Semua bisa dicuri, namun segala kedalaman dan pemahaman tidak. Karya yang dibuat adalah kekasih hati, mungkin bukan yang terbagus dan terhebat. Tapi kamu sudah mengirim pesan kasih untuk hati lainnya yang membutuhkan. Karena kita semua terhubung.


pic: Vina. IG: jsvnw



16.7.16

Yang Terdekat dan Diakrabi

Dalam draft ketikan yang tak kunjung selesai ditulis, lalu cangkir kopi kedua yang telah diseduh dan dingin diam-diam tanpa izin. Berubah masam dengan sisa ampas di sekeliling cangkirnya. Selapis lipstik merah muda kemerahan mengecupi bibir cangkir yang disesapi perlahan. Terlihat tumpukkan buku di kiri kanan tergeletak setelah beberapa kali dibaca dan diusap-usap dengan belaian yang berbeda. Sesekali menciumi baunya, membenamkan hidung ke dalam dan menghirupnya dalam satu hisap nafas. Setiap orang memiliki fetish-nya masing-masing dan bagi perempuan ini fetish-nya adalah mencium buku, terutama buku yang baru dibeli.

Tujuh ratus tiga puluh hari telah dilewati sedari keterpisahan dengan lelaki sudah lampau. Sudah lampau. Sudah berdebu di ingatan. Lalu sangat mengerti bahwa perempuan suatu hari akan mencintai seorang laki-laki harum laut yang sebebas-bebasnya demi apa pun dan tidak akan bisa dimiliki. Cocoklah untuk si perempuan yang terus berlari dan tertarik akan bahaya-bahaya yang merangsang otak korteksnya. Sebegitu membutuhkan aliran adrenalin yang berdesir di sum-sum tulang belakang lalu kegelian sampai batang otak. Si perempuan bukan definisi cantik milik society dan bukan kebutuhannya untuk menjadi pemanis atau pelengkap kecantikan yang bergelayut manja di lengan prianya. Rasanya dia tidak seperti itu, jikalau menggambarkannya si perempuan adalah humor sarkasme gelap di labirin otak. Dia tidak akan menyuguhkan romantisme legit kemanisan karena dia khawatir lelakinya akan sakit gula karenanya.

Si perempuan dan lelakinya yang harum laut itu sedang duduk bersamping-sampingan di kereta menuju kota yang memiliki banyak pantai dan mereka akan menziarahinya satu-persatu. Ngobrol santai tidak penting dan lalu memandangi wajahnya lekat-lekat dengan kumis tipis yang alurnya sudah dihafal mati si perempuan lewat ujung jari dan bibirnya, kemudian sesekali bergidik kegelian setiap kali bertukar kecupan yang harus dicukupkan.

Pantai yang ditunggu-tunggu hadir di depan hidung dan langit sore sudah turun mengisi ruang-ruang dekap mereka berdua. Duduk- duduk dengan pantat lembab karena duduk di pasir pantai dan membenamkan kaki mereka di pasir yang basah dan dingin namun rasa nyaman tetap hadir lugu.

“Saya di kehidupan selanjutnya rasanya akan menjadi semut hitam pekerja, yang bekerja sedemikian rajinnya untuk koloni dan Ratu. Terkadang saya merasa sedikit ada perasaan bersalah jikalau tidak sibuk, tidak hectic, tidak produktif atau hanya santai-santai saja. Rasanya tubuh saya ketagihan untuk kerja. Bagaimana ya?”tanya si perempuan sambil menggulung rambutnya menjadi konde kasual.

“Memangnya kamu menghindari diri dari apa? Ada yang kamu takutkan?”tanya laki-laki itu.

“Ketakutan? Oh tentu banyak! Rasanya dia mengintai dan selalu ada di samping saya seperti bayangan lekat-lekat lalu akan merasuki dan menyatu dengan tubuh saya, kamu tahu kan rasanya?”ujar si perempuan sambil menatap mata laki-laki itu. Tidak. Rasanya laki-laki ini tidak pernah takut apapun.

“ Oh tentu, saya tahu, rasa seperti takut menyerah pada ketakutan itu sendiri. Seperti tersedot masuk ke ruang tertutup sempit tanpa jendela dan pintu lalu waktu rasanya tidak bisa diukur. Ya kan?  Jadi kamu sebenarnya menghindari apa?”

“Bukan menghindari hanya saja rasanya, diri sendiri adalah seorang sahabat sekaligus musuh yang erat di kulit saya. Saya tidak suka membiarkan diri saya sekosong itu tanpa melakukan apa-apa rasanya saya sudah terbentuk demikian. Seperti work ethic saya mengharuskan fokus, detail, dan kerja keras. Saya terdengar seperti perfectionist bitch ya?”

“Iya sih haha. Tapi jikalau kamu nyaman demikian kenapa tidak?”tanya laki-laki itu diplomatis.

“Atau jangan-jangan saya bukan seseorang yang mencari aman. Saya kadang sebal dengan diri saya sendiri yang selalu mencari tantangan, rasa penasaran dan rasa takut itu sendiri. Saya mencari rasa takut dan ingin dekat-dekat dengannya. Kamu percaya ?”

“Ya, bisa saya lihat dari matamu. Kamu bukan pemain di garis aman mungkin kau ingin menjadi tuan atas rasa takutmu dan menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Tidak tanpa rasa takut, namun melakukannya dengan rasa takut dan memerdekakannya. Dengan cara itu kamu merasa hidup” kata laki-laki itu lagi.

“Eh kamu suka serial BBC Sherlock Holmes gak, yang episode istrinya John Watson bohong habis-habisan ke dia? Lalu menariknya ya ada satu dialog Sherlock ke John begini : John, you are addicted to a certain lifestyle. You’re abnormally attracted to dangerous situations and people…so is it truly such a surprise that the woman you’ve fallen in love with conforms to that pattern. Gila, saat mendengarnya rasanya saya mau jedotin kepala sambil teriak: Yo mamen itu gue banget!”ujar si perempuan sambil tertawa.

“Ya, mungkin ada benarnya kamu demikian” kata laki-laki itu lagi sambil ikut tertawa.

***

Gurat wajah dan tubuh laki-laki yang dikenal perempuan itu setiap inchinya; gelung rambutnya yang terurai sesekali; nafasnya yang harum cengkeh dan tembakau, punggungnya yang melekuk ke dalam dan pinggangnya tempat si perempuan menyelipkan tangannya sesekali.  Mereka berdua selalu berlekatan tak terpisahkan dan saling mengisi. Bertukar pagut dan berpegangan tangan. Berbagi cerita dan senyum. Laki-laki ini selalu hadir di mana pun perempuan itu berada tanpa kecuali. Kehadirannya adalah puncak tersepi di selat mata si perempuan. Kenyamanan yang dibagikan sebagai bentuk pertahanan diri, semata-mata hanya untuk menjadi waras. Memelihara apapun itu yang menghidupi hangat tubuhnya dan kerling matanya.

Di satu senja itu, di ceruk sebuah pantai terujung, si laki-laki meretas kancing kemeja perempuan satu persatu, mengeja jemari di kedua payudaranya, menggenggam jantungnya dan mendikte ritme di setiap degupnya. Bersisi-sisian dan menyatu. Dan laki-laki itu bernama : Fear.



9.7.16

Dark Musk



pic: Aga, analog nikon fm 10, 35mm


Apabila untuk menjadi bahagia maka diperlukan memiliki ini dan itu yang sifatnya atrifisial mungkin bisa ya dan tidak. Ya karena ternyata bahagia bisa dibeli dengan uang dan dengan penuhnya tabungan lalu bisa membeli liburan. Meski pada akhirnya tidak sepenuhnya liburan karena badan ada di tempat liburan semahal apapun namun pikiran tidak pernah libur barang detik pun. Atau memang manusia sedemikian sulitnya untuk bisa hidup sini dan kini. Menghargai waktu yang sedang dihadapi saat ini tanpa terpanggil ke masa lalu atau masa depan. Lalu bisa menjadi tidak  artifisal karena bahagia sesederhana itu dengan catatan: bersyukur. Kini pertanyaannya apakah kita semua siap untuk bersyukur dan menyadari bahwa kita sebenarnya memiliki banyak?

Mengingat Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Lalu serta merta saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggangguk-angguk setuju. Padahal memang hidup sedemikan sederhananya dengan menjalani apa yang harus dihadapi dan tidak lari. Seberapa menakutkan, seberapa membosankan, seberapa menyakitkan, seberapa menderita  dan seberapa menyedihkannya apapun itu. Tidak ada jalan pintas yang bisa menyasati kehidupan, dia sudah hidup lebih lama dari kita. Hadapilah, menghidupi hidup dengan terus hidup.

Sempat berpikir bahwa dalam setiap musim di kehidupan manusia sebenarnya kita tetaplah orang yang sama. Di tubuh yang tua renta sekalipun kita tetap jiwa yang sama dengan pergulatan dan pemikiran yang bisa jadi tidak berubah. Cara pandang bisa berubah namun pendekatan seseorang akan satu hal tetaplah dengan cara masing-masing sesuai karakter. Saya menyadari ini saat melihat kembali bahwa saya tetaplah seorang gadis remaja yang sama saat saya di usia 14 tahun, yang memotong habis rambutnya hingga pendek sekali karena tidak puas dengan raportnya dan menjadi semalu itu karena bukan barisan pintar dengan nilai Matematika yang terbakar merah. Ketika pintar dan cerdas artinya adalah memiliki otak eksak yang sempurna. Itu jelas bukan saya. Saya juga tetap adalah gadis kuliah itu yang sangat sering bangun pagi dan jogging sendirian di taman karena saya suka mendengarkan tarikan nafas sendiri yang terengah-engah, keringat yang membanjiri t-shirt, pikiran liar yang harus dituntaskan, memperhatikan oma-opa latihan Tai Qi, bermain dengan anjing di taman dan lalu menikmati sarapan sendiri. Saya juga tetap menjadi gadis kutu buku itu yang duduk lama-lama di sudut perpustakaan kampus lantai tujuh , menekuni lembar demi lembar dan mencatat journal. Saya tetap adalah gadis yang sama. Tidak ada yang berbeda dari jiwa kita, kita hanya mengalir. Kita hanya berubah sedikit lebih tua, sedikit bijak dan berpengalaman. Itu saja.

Mungkin seperti perpaduan antara teori Democritus yang menyatakan alam ini tidak berubah karena tersusun dari bahan dasar yang sama, namun di lain pihak juga ada benarnya teori Heraclitus yang menyatakan semua ini ‘mengalir’ sesuai dengan siklusnya. Kita tetap adalah diri kita, inti jiwa kita tetap namun mengalir. Teori yang tumpang tindih namun menjelaskan pola, bahwa hidup kita terdiri dari pola yang sudah diatur sedemikian rupa hingga tidak ada yang akan bertabrakan dan hancur. Hanya bersinggungan dan saling mengisi.


pic: Aga, analog Nikon 10 fm, 35mm

Sedemikian rumitnya menjabarkan pola dan musim dalam hidup kita, semi dan gugurnya yang ada masanya, ada waktunya. Betapa semesta ini sudah dijaga dan diatur agar setiap garis sesuai pada letak koordinatnya. Hingga bisa saja saat koordinat kita sudah tepat dengan seseorang maka di situlah terjadi pertemuan. Itu yang saya yakini. Dari berjuta-juta orang di dunia ini untuk bertemu dengan seseorang pastilah bukan sebuah kebetulan namun sudah digariskan. Bedanya apakah hanya selewat saja ataukah akan menetap dan kekal. Dan kita manusia harus mampu menerima ini selapang-lapangnya karena jangan-jangan hati kita pun bisa diatur kadar perasaannya, layaknya diatur oleh hal lain di luar diri yang sifatnya elementer seperti rintik hujan, pelangi, jingga senja, derai ombak dan semilir angin. Dan semoga saja perasaan kita bukan hal yang puitis semata namun nyata.

Memperhatikan diri saya yang ternyata seegois itu karena merasa kesendirian sungguh menyenangkan. Seolah begitu terisi dengan kekosongan, dengan udara hampa yang ringan, lalu akan ada bagian dari hati yang penuh sendiri. Ada yang pernah berkata bahwa kesendirian dan kesunyian adalah bentuk apresiasi dari mencinta itu sendiri. Kau tidak akan mengerti arti kehadiran apabila tidak mengalami kesunyian dan kesendirian. Kau tidak akan mengerti arti menemukan apabila tidak mengalami kehilangan panjang. Menikmati setiap detik yang tumpah dan tidak menolak, hanya menerima. Menarik diri dan mencukupkan diri dengan pertemuan pribadi yang tidak semua orang berani melakukannya. Perjumpaan dengan diri sendiri dan berjalan ke kedalaman. Akan tiba waktunya ketika permukaan, cangkang manusia menjadi sekedar kulit pelapis daging dan tulang lalu akhirnya kedalaman jiwa-jiwa yang begitu dalam dan gelap itulah yang akan kamu cari. Semua orang ingin ditemukan di sana bukan?

Lalu kemudian mengeja makna cinta yang tidak dimengerti namun ditampilkan wajah cinta yang sedemikian manis gula-gula kapas yang bisa kita jumpai di etalase toko. Mungkin memang cinta memiliki banyak manifestasi dan kedalamannya adalah sebuah lembaran yang putih baru. Seperti cinta seorang anak yang tidak bisa pulang di hari Lebaran dan menuliskan pesan pada Ibunya yang single parent: Mama sehat-sehat ya, aku sayang Mama, maaf tidak bisa sering pulang. Lalu hati siapa yang tidak serta merta menjadi haru dan menjadi sadar bahwa energi cinta bisa sedahsyat itu untuk menggulirkan kehidupan?  Kamu hanya perlu merasa dan membuka indra lebar-lebar. Jangan terkecoh olehnya.

Apabila ide cinta itu sendiri sedemikian variatif, apakah ada ide cinta yang kekal dan abadi? Yang sama bentuk, terjabar, terperinci, sesuai ukuran, terdefinisi dan tidak berubah-ubah? Mungkin konsep ini sesungguhnya sudah ditemukan dasarnya oleh Plato. Bahwa sesuatu yang nyata itu terdefinisi menjadi dua yakni dunia indra yang bisa kita rasakan melalui kelima indra kita. Hingga serta merta menjadi berubah bentuk dan tidak ada yang permanen. Karena sekali lagi itu adalah kinerja indra manusia yang bekerja terbatas. Dan ada pula yang dinamakan dengan dunia ide, sebuah pengetahuan sejati dengan menggunakan akal kita bukan dari indra dan sifatnya kekal. Mungkin cinta pun demikian, kita memahaminya dari dua dunia, dunia indra dan dunia ide. Hingga apa yang kita lihat selama ini adalah bentuk cinta di dunia indra yang berubah-ubah padahal di dunia ide dia tetaplah kekal, sebagai Cinta itu sendiri. Dan bisa sangat dipahami apabila penggambaranya di tiap entitas pun berbeda-beda, kita memiliki indra yang berbeda dan itu subjektif. Kita sulit menjadi objektif apabila tidak menggunakan akal sehat dan hanya bergantung pada indra saja. Bukankah, Yesus  pernah berkata: Berbahagialah dia yang tidak melihat namun, percaya! Saya rasa Yesus sedemikian sadar dan paham akan keterbatasan indra kita.

Manusia tidak akan habis mereka-reka dan menerjemahkan karena hanya itu yang bisa mencukupkan otak kecilnya. Betapa membingungkan menjelaskan arti kekekalan namun sesungguhnya dia tetap mengalir? Mungkin bukan hidup namanya jika sedemikian gamblangnya tertera tanpa kejutan di sana sini yang menyertainya. Mungkin bukan hidup namanya jikalau semestamu dan semestaku sedemikian luasnya hingga beberapa kali kita mengira hampir sampai pada limit kita, namun ternyata kita menemukan: Betapa luasnya dunia ini untuk dijelajahi!

Hingga saya jadi menyadari betapa kita pun bertumbuh dan bergerak meski hanya satu senti, satu inchi atau satu langkah. Pengalaman bertambah dan pandangan berkembang. Kita bertambah umur meski hanya angka yang hitungannya sendiri pun dibuat oleh akal manusia. Kita akan tetap terkagum-kagum dengan senja yang selalu berbeda di setiap harinya meski seandainya mendung akan datang menutupi beberapa hari-hari kita. Saat harapan dan pencerahan Tuhan seolah ilusi optik mata kita, lalu akan ada waktu di mana mencintai Tuhan akan sesulit itu. Semoga di saat itu pun kita bisa menyadari bahwa berserah dan tetap percaya adalah satu-satunya kekuatan. Kita tidak akan pernah tersembunyi dari pada-Nya karena setiap helai rambut Dia hitung.

Sempat suatu ketika saya sebegitu menyukai parfum stroberi yang manis dan segar itu. Saya kira selama-lamanya saya akan menyukainya, namun  ternyata kini saya menemukan aroma baru yang saya suka, dark musk. Saya sempat kaget dan merasa bersalah karena menyalahi sistem sendiri yang akan konsisten dengan ini itu. Ternyata konsistensi itu memiliki kelenturan sendiri agar tetap bisa beradaptasi dengan keadaan. Kita akan tetap belajar seumur hidup dan menemukan hal-hal yang sebenarnya sudah ada sedari dulu, namun kita baru diberikan kesempatan untuk mengenal dan mengetahui hal yang kita anggap baru itu. Semoga kita bisa selalu terpesona dan menemukan keindahan dalam apa pun itu. Seperti saya menemukan aroma dark musk ini. Dia feminin namun maskulin, dia manis sekaligus misterius. Saya rasa mungkin aroma ini cocok dengan wangi feromon yang saya punya.

Saya ulangi sekali lagi: Kau akan selalu menemukan. Masih banyak hal yang akan dialami untuk sampai pada kesimpulan arti hidup. Dan tidakkah kamu tergoda oleh rasa penasaranmu untuk mencarinya terus menerus, meskipun akhirnya dia sering kali meruap menghilang? Meninggalkan labirin otakmu yang menganga kebingungan. Selamat berpetualang dalam longgar ruang semesta dan kata-katamu.  Kau akan baik-baik saja, percayalah.

Bali, 2015
Untuk A yang berulang tahun kemarin.

2.7.16

Nenek Napti


pic: Ilham Sidartha
Liburan ini Nenek sempat menginap tiga hari di rumah karena saya dan Aga tidak pulang kampung ke Ciamis lebaran ini. Ada beberapa rutinitas yang tidak bisa diganggu gugat atau mungkin kami berdua yang seegois itu memilih tidak menyempatkan waktu. Di sepanjang ingatan saya Ciamis adalah kampung halaman yang memiliki segala hal yang didambakan untuk menjadi kampung halaman. Sesungguhnya Ciamis adalah kampung halaman Ibu saya, si gadis Sunda asli dari gunung. Letaknya di pegunungan, jauh dari bising kota, jalan darat yang berkelok dan curam, sawah dan hutan di sisi kanan kiri, serta wangi masam aci yang akan khas tercium apabila mendekati pasar Panawangan. Lalu pasti kami sekeluarga akan mampir makan bakso di pasar Panawangan karena sudah mampus setengah mati dikocok-kocok di jalan. Dan pasti Nenek menunggu di teras rumahnya sambil minum teh. 

Nenek adalah seorang petani. Memiliki rumah luas dengan pekarangan sekebon sendiri seperti orang desa pada umumnya. Dia memiliki sawah, kebun, ladang, kolam ikan, kambing dan beberapa ekor anjing. Lalu wangi rumah Nenek sangat khas dengan udara sejuk dan dingin khas pegunungan. Apabila berjalan ke jalan raya sisi kanan kiri sekitar rumahnya adalah pepohonan tinggi yang menurut saya adalah hutan karena cukup lebat dan gelap. Menariknya ketika pagi hari, saat berbicara nafas kita akan ngepul asap seperti di film-film Korea itu. Was wes wos gitu.

Sosok Nenek bagi saya adalah sosok perempuan yang kuat dan pekerja keras. Dia adalah pelindung keluarga, motivator yang handal dan mencintai Yesus sepenuh hati. Sepertinya Nenek baru memeluk agama Katolik saat orang Indonesia harus memilih agama masing-masing karena Kepercayaan Sunda tidak diperbolehkan dipeluk lagi pada masa itu. Nenek memilih Katolik dan beberapa kakak dan adiknya memilih Muslim. Menariknya Nenek sangat suka menggunakan jilbab saat berpergian atau acara-acara besar, takut masuk angin katanya. Saya rasa Ibu sudah belajar pluralisme dari Nenek sedari usia dini. 

Hidup di desa sebagai petani dengan segala kesederhanaannya membuat pencarian uang untuk sekolah anak-anaknya jauh lebih sulit. Saat itu sawah dan ladang belum dimiliki sebanyak sekarang hingga akhirnya tenaga menjadi alat tukar yang utama. Biasanya akan menawarkan tenaga saat mencangkul sawah, membantu panen raya dan menyemai bibit. Apabila sedang tidak ada tawaran kerja, maka Nenek akan mencari daun sereh dan menjualnya berkeliling setiap hari. Dia perempuan kuat hingga saya dan Ibu adalah fans setia Nenek.

Kini Nenek sudah berumur 78 tahun, tubuhnya kian kurus, jalannya sedikit diseret dan perlahan, lututnya sering sakit tua dan rematik sering kambuh. Kini Nenek sudah pelupa dan sering melamun. Sering bercerita berulang-ulang dan bertanya berulang-ulang karena lupa. Kadang menangis karena ingat masa lalu dan mengira itu nyata. Sudah seperti anak kecil yang keinginannya harus dipenuhi. Saya sedikit terkejut karena pada bulan Desember saya pulang, Nenek belum seperti itu. Sudah berkali-kali diajak tinggal di rumah anak-anaknya namun tidak mau. Dan sangat bisa dimengerti. Rumahnya sudah menjadi bagian dari nafasnya. Pekarangan rumahnya yang luas sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pekerjaan sehari-harinya, sawahnya, ladangnya, kambingnya dan anjingnya sudah menjadi bagian dari Nenek dan tidak bisa dipisahkan. Hidupnya sudah terabadikan di sana dan tidak bisa dicabut begitu saja hanya karena Nenek sudah tua dan anak-anaknya ingin merawat dia.

Betapa saya merenungi bahwa ternyata kita masih tergagap-gagap dengan fase 'menjadi tua'. Padahal itu adalah hal yang alamiah dan kita akan melewatinya suatu hari nanti apabila diberikan kesempatan umur panjang. Saya melihat bahwa ada ketakutan untuk menjadi lemah dan tidak berdaya karena selama ini dunia sudah sebegitu berisiknya meneriakkan untuk menjadi yang superior dan paling kuat mengalahkan manusia yang lainnya. Nietzsche memperkenalkannya menjadi Ãœbermensch , super human. Hingga akhirnya kita tidak terbiasa dengan kelemahan itu sendiri dan ditutup-tutupi sekuat tenaga.

Saya sedikit kebingungan melihat fase penuaan Nenek. Seolah merasa dia sudah perlahan menghilang dan tidak berada di sini. Sosok kuat itu kini pudar berganti dengan cara berjalan yang terseret. Saya tidak tahu bagaimana menyikapinya dan sedikit ketakutan menyelinap bahwa saya dan kamu suatu hari nanti pun akan mengalami hal yang sama. Betapa saya sedikit terusik mencari-cari jembatan pemahaman saya dan Nenek. Meraba-raba untuk bisa meraih sampai ke sana dan saya merasa seolah menjadi karbitan dan melompat banyak anak tangga. Saya tahu jelas beliau sudah berada di level sekian dengan kebijaksanaan yang dia miliki yang sudah teruji oleh zaman sedangkan saya masih mengintip takut-takut dari kejauhan. Mengamati dari jauh fase yang baru ini bagi saya.

Kita tinggal di timeline kita masing-masing, bisa saja timeline saya dan kamu bersinggungan suatu hari nanti namun bisa saja itu menjauh. Mungkin ini yang dialami saya dan Nenek. Namun bukan berarti saya tidak bisa menjangkau timeline Nenek, tetap bisa dengan saya ‘nyebrang’ ke sana sesekali dan belajar mengalami. Melihat dunia dari sudut pandangnya dan pemahamannya. Mengenal arti Tuhan dan iman dari lensanya dan kembali mengalami dan merasakan ziarah hidup dia. Hingga mengingatkan saya bahwa untuk sebuah kehidupan manusia berjuang mati-matian dan betapa hidup itu berharga meski sulit. Meski pada akhirnya kita hidup untuk mati di suatu waktu yang telah ditentukan namun ternyata manusia tetap sedemikian takut akan kematian padahal itu adalah sesuatu yang pasti. Kita menghindar dan sedikit ngeri karenanya. Menunda penuaan dan menunda kematian. Sedikit lagi. Selalu sedikit lagi. Padahal segala sesuatu di bawah langit ini ada waktunya.

Saya sampai pada sebuah kesimpulan sendiri, ya memang benar kita sudah pasti akan mati. Suatu hari nanti tanpa kecuali dan mungkin memang sifat dasar manusia adalah untuk bertahan dan berjuang hidup. Seputus asa apapun orang itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ia tetap berusaha dan bertahan untuk hidup dengan cara yang berbeda, mengakiri penderitaan dalam arti harafiah. Mungkin kita sering kali lupa, bahwa untuk kita hidup sampai hembusan nafas ini ada keajaiban dan kinerja ribuan sel dalam tubuh yang berkerja keras agar kita tetap hidup dan kita tidak tahu bagaimana cara kerja ajaib itu. 

Sampai suatu ketika di suatu malam saat sedang berdoa malam dengan Abhimanyu. Dia berdoa seperti biasanya agar tidak mimpi buruk atau dinakali temannya saat bermain. Lalu di akhir doanya dia berkata, “Oh iya, lupa berdoa untuk Nenek.Ya Tuhan, juga berdoa untuk Nenek karena dia sudah tua semoga bisa tidur nyenyak dan sehat selalu. Amin.”

Mungkin dengan mengirimkan doa untuk Nenek menjadi jembatan yang kokoh. Dan tanpa kita sadari sampai hari ini pun kita tetap bertahan dan berjuang karena doa-doa dari orang lain.


26.6.16

Konspirasi Tai Kucing #11: Unlearning


Hai, sahabat! Apa kabar ya? Apakah masih ada sukacita di antara kalian semua? Ya, semoga apa pun yang sedang dihadapi dapat segera menemukan pencerahan, apabila belum menemukan saya sarankan banyak-banyaklah mandi air dingin agar otak segar kembali. Jangan malas mandi. Ini saya serius.

Lama juga ya saya tidak menulis di sini. Ya begitulah terkadang pasang surut itu ada. Namun yang terpenting adalah jangan lupa kembali. Jangan lupa pulang. Ke mana pun itu. Beberapa lama ini saya sedang refreshing dengan diri saya sendiri karena merasa keseharian benar-benar membosankan hingga akhirnya yang menarik diri sejenak dan berpikir.

Pernah tidak merasa kalau di luar diri kita banyak sekali yang bertubrukan dengan system dalam diri kita? Lalu akhirnya membutuhkan sedikit waktu untuk mengosongkan diri dan mereview ulang semua. Mengkaji ulang lagi dan menyelaraskan dengan system dalam diri masing-masing. Saya mengakui kalau saya memang agak menyebalkan karena untuk beberapa hal saya sangat saklek dan perfeksionis. Hingga jika beberapa hal tidak selaras dengan system saya, harus diperbaiki dan ditelusuri dulu hingga akhirnya bisa masuk ke logika dan pemahaman saya. Iya, saya sedemikian ribet dan rewelnya. Saya akan butuh waktu untuk berpikir dan riset sana sini. 

Hal yang menggelisahkan akhir-akhir ini adalah saat saya merasa betapa membosankannya rutinitas. Ketika tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dan menarik untuk dipelajari dan membuat penasaran. Dan saya cukup sering merasa bosan, jenuh dan selalu butuh hal-hal segar. Semacam keserakahan dan tidak pernah cepat puas. Yak, dengan sedemikian sadarnya saya mengaku. Setiap orang mempunyai parameternya masing-masing akan kepuasannya akan suatu hal. Barangkali inilah penyakit orang macam saya, lupa bersyukur. 

Menariknya dari kebosanan ini saya semakin mengenal diri saya, kalau saya ini 'mengalir'. Perasaan saya mengalir. Hidup itu mengalir. Tidak tetap. Mengingat betapa frustasinya saya ketika menyadari ada banyak hal di luar diri ini yang sudah ada sejak lama namun tidak saya ketahui. Namun untuk memulai keluar dari dalam diri sedemikian sulitnya, biasanya mungkin takut atau merasa sudah nyaman. Padahal menjadi nyaman, tidaklah nyaman sama sekali. Lalu tiba-tiba perasaan kembali menuntut untuk liburan, padahal mungkin sebenarnya yang dibutuhkan adalah liburan dari perasaan ingin liburan. 

Mungkin ya, saya ini harus belajar hal yang baru dan kembali mengosongkan gelas saya sendiri untuk siap-siap dipenuhi lagi. Banyak hal yang tidak kita ketahui dan itu menggelisahkan sekali. Saya jadi tersadar bahwa saya akan terus menerus belajar dan menjadi murid karena sungguh sedikit yang diketahui dan sebenarnya seperti yang Socrates pernah bilang: Hal yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa. Menyadari hal itu sebagai titik awal agar tidak menjadi lembam.

Proses yang sedari kemarin cocok untuk saya adalah unlearning, yakni proses menghapus, mereview, mengkaji ulang dan mempertanyakan lagi. Ini sungguh-sungguh proses yang penting dalam belajar. Kenapa? Karena tidak semua hal bisa selaras dan diperlukan kita lagi. Jikalau sudah kadaluarsa baiknya dihapus dan diganti yang baru. Seiring dengan bertumbuhnya kita, akan banyak hal yang harus ditinggalkan atau mungkin didalami lagi. Sehingga yang namanya pribahasa menjilat ludah sendiri, mungkin sudah tidak relevan. Saya rasa akan banyak pemahaman saya yang berganti dan berkembang. Ingat, kita ini mengalir dalam proses belajar. 

Dalam belajar baiknya kita banyak bertanya dan bisa menerima pandangan orang lain karena tidak ada salahnya mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan lain. Jangan takut untuk berdiskusi dan menjadi sedikit bego karena tersesat di pertanyaan. Itu akan menjadi salah apabila kita tidak cukup banyak mempertanyakan? Coba sesekali tanyakan pada diri sendiri: Am I enough questioning something? Dan pentingnya belajar bertanya dengan pertanyaan yang tepat. Itu sih. Sebab pemahaman yang sejati harus timbul dalam diri sendiri, ia tidak bisa ditanamkan oleh orang lain dan hanya wawasan yang timbul dalam diri sendirilah yang menghasilkan wawasan yang tepat. Itu kata Socrates. 

Lalu dengan sangat random kemarin saya membeli buku soal matematika SMP kelas VII karena saya bosan dan saya menyadari keterbelakangan saya akan matematika. Saya tidak suka matematika sebegitunya, namun kemarin pasti saya agak sengklek otaknya hingga dengan impulsive saya membeli buku bank soal itu. Dan kemarin teringat ada foto instagram kakak kelas saya yang keren, Syafitudina. Beliau foto sebuah quote mahakeren, begini bunyinya:

Unlearning is not forgetting. It is neither deletion, cancellation nor burning off. It is writing bolder and writing anew. It is commenting ans questioning. It is giving new footnotes to old and other narratives. It is wiping off the dust, clearing the grass and cracking off the plaster that lays above the erased. Unlearning is flipping the coin and awakening the ghost. Unlearning is looking in the mirror and seeing the world. 


Atau saya sudah sedemikian perlunya dengan bulat hati dan berani ikut program master. Ya ampun tapi universitas ini isinya orang pinter semua, heran saya orang-orang pinter ini kira-kira mereka belajarnya gimana sih? *garuk-garuk kepala*


4.6.16

Konspirasi Tai Kucing #10: Idealisme kita adalah sisa dari yang tersisa


Hai. Apa kabar? Semoga damai sejahtera selalu ada di hati dan kebaikan selalu ada padamu. Tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dari tahun 2016 ini. Gimana resolusi atau cita-cita sudah terwujud? Jikalau sudah selamat ya dan jikalau belum mari kita tos bareng dulu. Saya juga. Heu.
 
Pasti ada stage dalam hidup kita yang sebegini dan sebegitu perlunya untuk memperjuangkan sesuatu yang menurut kita berharga. Tantangannya banyak namun yang paling berat adalah diri sendiri. Meyakinkan bahwa kamu mampu, kamu sekuat itu dan kamu deserve to get what you want. Itu semacam PR saya yang seringnya failed berkali-kali. Sepertinya ya, saya ini rada-rada penakut dan omong doang deh, tapi apa sih yang kita harapkan kalau seandainya kita takut melulu dalam segala hal dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri? Lalu ada lagi, saya banyak komplain inilah itulah hingga akhirnya saya merasa sudahlah mungkin memang seharusnya saya mencukupkan diri dengan ini saja. Jangan diikuti ya tidak baik untuk kesehatan! 

Setiap dari kita pasti menginginkan suatu hal dan sebenarnya kita tahu seharusnya berjalan ke arah sana dan memperjuangkannya sekuat tenaga. Namun, memang perjalanan pasti berliku dan berputar ke sana ke mari rempong muter-muter belum lagi kalau gagal. Kegagalan dan penolakkan itu biasa. Kita harus membiasakan diri dengan hal itu karena akan banyak  penolakkan dan kegagalan akan terjadi selama kita masih hidup. Kemarin ini saya baru ditolak oleh suatu hal yang saya inginkan. Padahal saya sudah yakin 100% saya pasti bisa dan inilah suatu kesempatan untuk memulai hal yang baru dan pasti lebih mudah. Namun ternyata rencana saya dan rencana Tuhan tidak sejalan. Untuk keinginan ini bisa jadi menurut Tuhan akan membuat saya manja karena bermain-main di comfort zone. Saya kecewa sih sesungguhnya. 

Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita mau. Itu satu. Yang kedua ingatlah, jikalau kamu ditolak bukan berarti kamu tidak mampu dan tidak berkualitas namun tempat kamu bukan di sana. Dan penolakkan ini biasanya akan mengantar kamu ke jalan yang seharusnya ditempuh. Coba digali lagi sebenarnya keinginan kamu apa? Keinginan yang murni dari dalam bukan karena pertimbangan keinginan tersebut sesuai dengan comfort zone kamu. Sayang, comfort zone adalah tempat yang buruk untuk bertumbuh dan berkembang. Percaya deh!

Saya merenungi kegagalan dan penolakkan ini bagaikan godam besar tapi inilah...inilah sebuah alarm untuk saya kalau jalan saya bukan ke sana. Selesai. Lalu saya tersadar kalau ada satu hal yang terselip dan sudah lama tidak saya otak-atik karena merasa saya tidak akan mampu melakukannya karena ini sungguh-sungguh diluar batas nalar dan kemampuan saya. Pernah dengar kan sebuah quotes : If it's still in your mind, it is worth taking the risk . Jika kamu ingin sesuatu sebegitunya hingga setiap hari terus kepikiran setiap saat, seharusnya kamu berjuang untuk mendapatkannya.

Jangan takut berjuang. Jangan takut untuk kerja keras sekuat tenaga. Jangan takut menjadi ambisius. Lakukanlah bagianmu dan serahkan sisanya pada Tuhan. Dan jikalau masih gagal, lakukan terus menerus hingga Tuhan akhirnya berubah pikiran. Kadang kamu harus bergulat dengan Tuhan untuk mendapatkan apa yang kamu mau, yang kamu punya adalah upaya dan doa. Satu lagi, kita tidak bisa terus menerus lembek pada diri sendiri dan mengikuti semua keinginan hati cengeng kita. Menjadi kuat adalah pilihan terakhir yang harus diambil untuk pertanggung jawaban kita pada diri sendiri karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa menolong kita. Terdengar arogan? Ya memang, tapi di sisi lain kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Mengasihani diri sendiri sebagai korban dari hidup adalah kegagalan awal kita. Ini saya serius. Dan hal yang paling menakutkan menurut saya adalah merasa bersalah pada diri sendiri. Menyesali mengapa tidak mengupayakan sesuatu hingga akhir rasanya tidak enak.

Di sebuah teguk kopi di hari Sabtu ini, saya sedang menjaga api dalam diri saya. Jangan sampai padam. Jadilah radikal, jadilah liar, jadilah nyala itu. Suatu hari nanti kamu akan tua lalu mati. Dan adalah kesalahan terbesar jikalau kamu mengetahui suatu hari kamu akan mati tapi tidak bisa benar-benar hidup. Aroma kerja keras, tangis dan keringat sudah kita hafal, kenapa harus ditiadakan? Idealisme kita ini adalah sisa dari yang tersisa. Kadang terasa perih dan sewaktu-waktu menyakitkan. Tapi kadang alasan manusia mencintai karena ada rasa sakit itu sendiri kan? Pesan saya hanya satu: Kejar dan jangan menyerah kalah, masih ada sisa darah di nadi yang belum mengering.    



Clean Bandit- Stronger

And I think I don't really get it
I think it's all just a peculiar game
And soon I'll wake up and I'll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger!

1.6.16

Konspirasi Tai Kucing #9: Marriage 101


Hari Senin kemarin saat perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan lagunya Chrisye berjudul Cintaku dan dengan impulsive saya berjanji, lagu ini adalah lagu wajib yang harus diputar saat  saya menikah. Tsah. Lalu saya jadi menoyor kepala saya sendiri menduga otak ini agak bergeser atau sedikit kejedot kemarin. Atau mungkin ini karena hari Senin pagi yang sedemikian boring dan tidak menggairahkannya dan lalu munculah lagu kasmaran seperti ini. Atau barangkali saya sedang ovulasi. Pasti gitu deh.

Jadi begini, saya ingin menikah suatu hari nanti namun tidak seburu-buru itu sih. Saya menghormati pernikahan karena menikah itu artinya berjanji pada Tuhan, pasangan, keluarga dan jemaat yang menyaksikan saat kata janji itu terucap. Menurut saya mengucap janji di altar itu sebegitu sakral dan romantisnya. Melihatnya, berbahagia sekali kedua mempelai dan lalu mereka terharu. Pernikahan yang amat sempurna, bahagia dengan teman-teman dan keluarga. Berhubung akhir-akhir ini saya menghadiri banyak pernikahan teman-teman saya, saya jadi memperhatikan bahwa arti ucapan itu bukan sekedar kata-kata belaka namun maknanya lebih dari itu. Lalu saya berpikir lagi, janji itu diucapkan saat sedang happy, keduanya gagah dan cantik, sehat dan subur, dalam keadaan bahagia, siapa yang akan  mengira apabila kenyataannya pernikahan akan tidak semudah itu dan janji itu mungkin saja bisa longsor oleh waktu? Saat segala rintangan, masalah datang, dan pasangan kita menjadi sesulit itu untuk dicintai, apa kita akan tetap mengingat janji itu beserta maknanya? Jawabannya: Mau gak mau harus iya! 

Kadang saya berpikir apakah pernikahan semacam sebuah goal dalam hidup manusia? Karena rasanya banyak orang yang mengukur kebahagiaan dari apakah sudah berpasangan, menikah dan punya anak atau belum. Rasanya itu adalah sebuah ketentuan yang ada di masyarakat. Saya kemarin sempat mengingat semua situasi kondangan dan lalu rentetan pertanyaan pada saya: Mana nih calonnya?  Kapan nyusul? Ayo jangan lama-lama lho! Ini calonnya mana nih kok gak diajak? Yang lalu saya jawab seenak udel sambil ketawa-ketawa cekikikan.

Apa mungkin karena saya sedang tidak ngedate dengan siapa-siapa, lalu saya jadi berpikir sejujurnya menikah bukan suatu keharusan. Seseorang seharusnya boleh memilih mau menikah atau tidak. Dan jikalah seseorang memilih tidak menikah dengan pasangannya saya pun merasa itu sah-sah saja. Menikah adalah panggilan hidup menurut saya dan buat saya menikah haruslah seserius itu, jika tidak yakin ya jangan. Bukan karena diburu-buru tante-tante cerewet, orang tua, teman atau usia. Ayolah, masa kamu menikah hanya karena alasan sudah diburu-buru bukan karena itu adalah kehendak bebasmu secara sadar dan waras. Dan apabila menikah hanya untuk melegalkan sex, saya kok tidak setuju ya. Sepertinya menikah lebih dari sekedar prokreasi dan kenikmatan saja. 

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol singkat dengan seorang perempuan berusia 30 tahun, dia sudah seperti kakak sendiri. Lalu bertukar cerita tentang banyak hal hingga akhirnya sampailah pada sebuah topik, pasangan. Dia berkata bahwa  hanya ada perbedaan tipis antara loving dan using. Terkadang itu nyaru menjadi satu tanpa kita sadari. Ternyata dalam cinta, bisa saja kita digunakan oleh orang lain. Seolah pernikahan hanyalah sebuah cara untuk lepas dari semua masalah dan belenggu seseorang misalnya belenggu ekonomi. Apabila salah satu pihak merasa 'digunakan' dan tidak lagi saling bahu membahu atas nama cinta, mungkin itu sudah menjadi egois dan timpang, baiknya putus saja. Atau misalnya si pria sedemikian mengatur urusan kehidupan perempuannya tanpa memberikan sedikit ruang, tipe-tipe pria yang harus diakui bahwa dia paling benar. Atau mungkin perempuan yang sedemikian bossy ngatur ini itu pasangannya, sedemikian cerewetnya dan kalau saya bayangkan malah saya jadi merinding sendiri. 

Sebenarnya saya merasa ada sedikit rasa khawatir jikalau pernikahan bisa sedemikian mengikatnya. Lalu sedemikian singupnya namun karena sudah terlanjur menikah jadi tidak ada pilihan lain selain  menjalani komitmen. Atau mungkin saya sedemikian egoisnya untuk menyerahkan kebebasan saya pada seseorang? Seharusnya pernikahan itu bukan suatu sangkar kan? Seharusnya dua orang bisa bertumbuh berdua dan berjuang bersama, meski dunia luar kadang tidak berpihak pada kita. Hingga saya terkadang bingung sendiri bagaimana caranya kedua orang tua saya sedemikian hebatnya bisa tetap bersama dan akur meski kadang suka ngomel-ngomel padahal mereka berasal dari keluarga yang berbeda, Ibu saya Sunda dan Ayah saya Jawa. Tapi mereka bisa tetap bersama meski dengan bahasa campur aduk. 

Mungkin benar, carilah orang yang tepat. Even somehow the right person, won't make it easier. Apalagi kalau tidak tepat udah ambyar semua. Lalu orang yang tepat seperti apa? Hmmm... saya juga tidak tahu sih. Tapi mungkin saya membayangkannya begini, seseorang yang bisa diajak argumentasi, debat heboh mempertahankan pendapatnya namun tetap bisa compromise. Seseorang yang kekurangannya bisa kamu tolerir dan bisa kamu lengkapi dengan kelebihan kamu. Seseorang yang menurutmu sexy sehingga sex life pun menyenangkan. Seseorang yang bisa mengingatkan dan menegur apabila kamu salah. Seseorang yang humoris karena menertawakan hidup adalah salah satu cara mudah menjadi bahagia. Seseorang yang membuat nyaman dan ketika bersamanya bisa menjadi diri sendiri. Dan adalah seseorang yang saat kamu pandangi dari jauh lalu dalam hati kamu berkata: Anjrit, this amazing guy kok mau ya sama gue? 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...