11.5.16

Konspirasi Tai Kucing #5: Apakah Cinta Bisa Habis?


Tulisan yang ditulis bukan karena sudah nonton AADC2 karena saya belum ingin nonton,  sepertinya masih ramai sekali jadi memilih nanti saja. Mungkin sudah masuk geng oma-oma yang tidak suka keramaian.  Jadi saya mau menikmatinya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Beberapa waktu lalu saya melihat ada satu pasangan unyu sweet memasang video. Lalu saya merasa sepertinya saya beneran sudah oma-oma karena merasa video itu harusnya tidak untuk dipublikasi. Atau saya jadi curiga saya kelamaan sendiri jadi rewel. Tapi sebenarnya menurut saya tetap video itu sebenarnya adalah koleksi pribadi karena dengan melihatnya saya jadi mules. Lalu saya berpikir mungkinkah karena mereka sedang kasmaran hingga mabuk kepayang hingga akhirnya demikian? Hingga akhirnya lupa ada beberapa yang sebenarnya adalah sesuatu yang intimate untuk dinikmati berdua saja karena pasti lebih enak. Ataukah kita sudah masuk zaman semua orang harus tahu hingga urusan daleman sekalipun? Ataukah sepenting itukah harga aktualisasi seseorang dan kebutuhan seseorang untuk diakui? Ya, itu juga benar. Saya dan kamu pasti membutuhkaan rasa diakui oleh orang lain kan?

Namun keresahan saya bukan itu, melihat pasangan itu sedemikian sweet dan manisnya saya jadi gelisah sendiri bagaimana jikalau cinta itu sudah habis? Berakhir sudahkah video dan foto itu jadi artefak di internet? Ataukah saya yang sedang terlalu sinis dengan cinta? Mungkin iya. Sesungguhnya saya sedang berpikir realistis kalau saya merasa cinta akan habis. Selesai. Demikian. Bye. Karena saya merasa kerap kali cinta saya habis karena bosan, karena tidak tahu harus bagaimana memeliharanya dengan baik dan saya pun khawatir dia pun pasti bosan setengah mati dengan saya. Hingga akhirnya kita menyerah dan selesai. Cinta sudah selesai mari kita bebenah dan berakhir dengan hati yang kosong tak berisi. Jikalau misalnya definisi kebahagiaan berakhir dengan jatuh cinta dan menemukan pasangan yang pas, rasanya kita menyempitkan definisi bahagia itu sendiri. Jikalau misalnya dengan menemukan laki-laki yang pas sebagai tujuan akhir, saya rasa pasti saya akan nelangsa. Saya yakin sebenarnya hidup kita ini tidak hanya untuk menikah dan berkeluarga saja kan? Lebih dari itu. Itu hanya diantaranya.

Kembali lagi ke pertanyaan saya, apakah itu hanya menjadi ketakutan saya saja jikalau cinta itu akan habis dan pudar pada akhirnya dan berakhir dengan komitmen saja. Menjalani sesuatu karena saya sudah komit untuk menjalani ini. Saya rasa jikalau dijalani tidak dengan cinta dan hanya komit saja, yang ada saya pasti koit. Coba deh bayangkan, ketika kecantikan, ketampanan,kemudaan, kegairahan, keseksian, kecerdasan, kepintaran, keperkasaan itu sudah lenyap begitu saja dan lalu apabila seandainya dua pasangan ini saling jatuh cinta karena alasan di atas, akan habiskah cinta? Apakah cinta masih akan ada di sana? Namun bagaimana mekanismenya bisa tetap ada? Pernah saya membaca tentang tingkatan cinta yakni eros, philia dan yang tertinggi agape. Cinta eros adalah cinta yang menginginkan, philia adalah cinta pada teman, saudara, sahabat dan cinta agape adalah cinta tak bersyarat. Cinta pada kekasih dimulai dari cinta eros yang saling menginginkan dan cinta itu seharusnya makin bertumbuh menjadi cinta agape, tak bersyarat.

Gila, saya tahu saya teoritis sekali dan sudah mulai nyebelin. Namun jika benar tidak ada mekanismenya dengan dalih  cinta itu ‘mengalami’, berarti sekarang salah sayalah yang belum genap mencintai. Saya masih mencintai dengan karena. Karena dia pintar, karena dia seniman, karena dia kumisan, karena dia menawan, karena dia seksi, karena, karena, karena. Saya kini merasa tiba-tiba kata-kata saya menguap di udara apabila mendefinisikan cinta itu sendiri. Seperti tukang jualan obat di pasar yang teriak-teriak obat ini paling manjur bla bla bla. Apakah selama ini tolak ukur saya mencintai seseorang bukan karena dia namun karena embel-embel dia di belakangnya. Bahwa yang saya cintai adalah pelengkapnya bukan jiwanya hingga saya seringkali bosan lalu habis cinta saya.

Rasanya saya tolol sekali ya dan mencintai dengan tulus-tulus saja adalah kesulitan kedua setelah tantangan menjilat sikut sendiri. Bukan berarti tidak bisa, itu bisa dengan catatan diperlukan hati yang tiada duanya untuk menerima. Menerima dan berpasrah mengikuti. Semoga kelak jikalau memutuskan untuk menikah dengan seseorang bukan karena embel-embel tetek bengek namun karena jiwanya dan semoga menjalani pernikahan bukan karena komitmen saja namun ada cinta kasih di dalamnya.

Duh setelah saya pikir-pikir betapa  saya ini cupu karena tidak berenang ke tempat dalam namun hanya main di pinggiran takut tenggelam. Sebegitu egoisnya saya di cinta-cinta lama namun ternyata menyadarkan kesalahan. Lalu tersadar dan merasa tolol sendiri. Baiknya sih sadar, daripada tidak. Karena akan ada cinta baru entah kapan. Ya kan?

1.5.16

Melongok Pulang dari Jendela Pesawat


Memasang sabuk pengaman dengan pandangan kabur karena air mata, lalu sesekali memalingkan muka untuk mengusapnya agar tidak terlihat oleh penumpang yang lain sebenarnya sungguh menyebalkan. Kesedihan yang tumpah ruah begitu saja lalu hatimu berantakan sedemikian rupa. Sedu sedan yang kau tahan ketika pesawat akhirnya lepas landas. Meninggalkan apa pun, apa pun yang ada di tempat itu. Teman-teman, kampus, guru-guru, asrama, gedung kuliah, perpustakaan tempat kamu menyendiri dan membaca, kamar asrama, kantin dengan makanan ajaibnya, rumah makan kesayangan, pasar malam, kapel kecil yang sejuk, taman depan kampus, kedai kopi yang hangat dan tentu saja kamu.

Dada sesak dan lalu meminta segelas air putih pada pramugari yang memandangi penuh iba karena mata saya sembab dan hidung merah. Ia pun menawarkan handuk hangat basah dan saya pun mengangguk. Bapak-bapak yang duduk di samping pun melemparkan pandangan kasihan berkali-kali dari sudut matanya. Saya sudah tidak peduli dan mulai mengusap muka saya yang lengket oleh air mata. Rasa kesal dan sedih masih menggelayut di sudut kening, saya memutuskan meminum segelas air putih itu hingga tandas namun tetap tidak ada rasa lega di sana. Seketika pesawat rasanya sungguh sempit dan singup, lalu saya hanya ingin menangis lagi. 

Tidak ada seorang pun yang menjadi ahli dalam menghadapi perpisahan. Ketika selamat tinggal mampu mencabut akar sebegitu dalam namun sayangngnya tidak bisa memilih. Atau mungkin memilih namun tetap saja menyakitkan rasanya. Mengharapkan dia hadir sesaat di cafe kecil airport  untuk berpisah secara baik-baik dan lalu berpelukan erat, rasanya menjadi suatu harapan yang sangat muluk. Duduk sendirian di cafe itu dan menghirup kopi panas yang terlalu encer namun untunglah rasanya pahit. Untunglah sehingga setidaknya kegetiran ditemani kopi pahit itu. Mungkin sejak itulah saya memiliki apresiasi berlebih pada kopi pahit. 

Namun kamu tak kunjung datang hingga akhirnya nama saya dipanggil untuk boarding. Kau tetap tidak datang. 

***

Sudah saya katakan berkali-kali hal yang saya suka darimu, salah satunya adalah kumis. Jatuh cinta pada seseorang karena kumisnya tidak salah kan? Seperti misalnya seseorang suka makan donat coklat kacang karena alasan ya.. suka saja. Lalu apakah menyukai sesuatu dengan alasan 'suka saja' sebenarnya bukan jawaban yang cukup memuaskan untuk dikatakan pada orang lain terlebih kekasih? Padahal sebenarnya banyak hal yang kita sukai tanpa kita ketahui mengapa, seperti sudah demikian dari sananya. 

Memandangimu dengan rambutmu yang panjang digelung, lalu kaos oblong warna biru tua yang kau pakai ke mana-mana serta asap rokok yang mengepul sesekali dari mulutmu hingga membuat rambut saya jadi ikut bau asap rokok. 

"Aduh, asapnya kena ke rambut saya nih, bau,"ujar saya sambil mengibas-ngibaskaan asap rokok dengar muka masam. 

"Iya, nanggung satu lagi, asam nih mulut saya. Udah nanti keramas lagi. Eh mau minum apa?"tanyamu sambil melambaikan tangan ke pelayan. Dan kamu pasti memesan kopi plus gula dan saya memesan kopi hitam tanpa gula. Tidak ingat semenjak kapan kita sering menghabiskan waktu berdua sekedar untuk duduk dan lalu ngobrol atau hanya diam saja sibuk dengan pikiran masing-masin

"Memang harus ya minum kopi pakai gula? Itu tuh merusak rasa kopi, jadinya kayak kolak tau, tinggal dicemplungin kolang-kaling aja," kata saya sambil menggeleng-geleng tertawa. Saya heran setengah mati dengan orang yang minum kopi pakai gula, untuk apa mencari pahit kopi tapi inginnya pakai gula. Rasa kopi kabur, rasa gula tidak tercampur jadi satu. Tidak habis pikir. 

"Eh... udah deh gak usah mulai lagi, haha. Inilah cara saya menikmati kopi dengan gula. Saya males kalau pahit sekali, getir banget rasanya. Lagian ya harusnya kita tuh impas dan gak usah saling ledek, coba kalau kamu minum bir maunya Radler, itu mah sirop," tungkasnya sambil menepuk-nepuk kepala saya. 

"Tapi Radler tuh enak, rasanya cukup  untuk saya. Tidak usah bir yang sungguh-sungguh bir. Kalau saya sudah bisa dicukupkan dengan Radler. Oke, kalau gitu kita impas ya?" sahut saya sambil meninju bahunya perlahan.

"Nah, ya benar itu. Toh setiap orang punya selera masing-masing dengan keperluan masing-masing, jadi nikmatin saja apa yang menurut kita nikmat ini, tidak usah ngajak-ngajak orang lain."

"Oh maksud kamu semacam keblinger dengan cara masing-masing, gitu kan ya?"canda saya lagi. "Eh tapi menurutmu kenapa bisa ada orang yang ingin membuat orang lain ikut percaya dengan keyakinan yang dia miliki? Seperti mereka fanatik lalu merasa apa yang mereka yakini paling benar dan orang lain harus ikut?"tanya saya sambil memandang matanya. 

"Akan selalu ada orang seperti itu, mungkin di hati kecilnya membutuhkan pengakuan lebih akan keyakinannya itu dan melihat keyakinan itu menjadi benar apabila dilihat dari kuantitas yang mempercayai entah apa pun itu, tidak hanya agama loh ya," katamu sambil membalas tatapan saya. Berbagi tatapan sepersekian detik dan mempelajari gurat wajahnya dan lipatan kulit di ujung matanya saat tersenyum lebar. 

"Hei, tahu tidak kemarin saat pelajaran Human Development, kita ada diskusi singkat kelompok mengenai asal usul kita dan bagaimana kita menghargai hidup. Lalu saya menemukan yang menarik. Seperti yang kita tahu, Taiwan adalah negara maju yang beberapa orang tidak memeluk agama, seperti agama bukan sebuah kebutuhan mereka. Mereka percaya ada Yang Besar namun hanya percaya dalam waktu tertentu seperti  saat mau test masuk univ atau minta ini itu," cerita saya sambil menyeruput kopi perlahan.

"Ya, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali dan tidak merasa Yang Besar itu ada,"ujarmu menimpali.

"Lalu, saat ada pertanyaan mengenai asal usul kita dari mana, tentu kamu tahu saya akan menjawab bahwa manusia berasal dari ciptaan Tuhan. Lalu ada beberapa anak Taiwan yang merasa bukan demikian, bahwa kita berasal dari orang tua kita, dari  merekalah kita berasal, kalau tidak ada orang tua ya kita tidak ada. Lalu saya berpikir, ya benar juga sih. Itu tidak salah. Akhirnya diskusi tersebut berakhir dengan dua jawaban; berasal dari orang tua dan manusia sebagai ciptaan Tuhan. Laoshi bilang dari mana pun kita berasal entah apa pendapat kita, sudah selayaknya kita menghargai hidup," kata saya sambil mengangguk-angguk. "Padahal ya saya kira diskusi ini akan sangat sengit dan tarik urat leher dengan ayat-ayat kitab suci bertebaran di mana-mana, namun mereka santai saja dan tidak ada ketakutan akan perbedaan itu" lanjut saya takjub.

"Ya menarik ya, ketika kita masuk ke negara yang tidak menjadikan agama sebagai sebuah kewajiban dan memberikan kebebasan untuk memilih percaya dan tidak karena itu privasi. Mungkin mereka memasukan agama sebagai kebutuhan sekunder sih dan tidak menjadikan itu sebagai sebagai identitas. Bahkan pernah saya berdiskusi singkat dengan teman lalu ia berkata yang terpenting adalah perbuatan baik pada sesama, makhluk hidup lain dan alam dengan tidak merusak keseimbangan itu. Namun tidak enaknya dari negara ini adalah libur sedikit karena tidak ada hari besar agama, ya kan? Lalu kita tidak bisa ikut merayakan hari besar agama lain dengan libur," candanya sambil tertawa.

Saat itu matahari jam empat sore sehingga agak terik dan silau. Kedai kopi itu berasa di sisi Ai He, terjemahannya Love River. Banyak orang yang jogging, bermain sepeda, bersepatu roda, skate board dan lalu kami pun memilih untuk berjalan-jalan di seputar sungai itu. 

"Kemarin saya ada tawaran freelance menjadi translator dari mantan rektor kita yang sudah sakit itu. Dia ada pembantu baru dari Indonesia yang baru datang dan diantar ke rumahnya namanya Rini. Jadi Rini seumuran saya dan sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Mungkin hanya sedikit-sedikit dan kita tahu kan bahasa Mandarin bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari semalam kecuali kalau kamu kerasukan setan cina tiba-tiba. Hingga akhirnya saya dipanggil untuk membantu translate,"cerita saya sambil berjalan santai.

"Lalu kamu pasti terbawa perasaan sendiri seolah Rini ini adalah sebagian dari dirimu sendiri yang merantau entah di mana dengan bahasa asing yang tidak kamu suka-suka amat. Lalu kamu teringat perjuanganmu belajar Mandarin siang malam hingga stress dan menangis di malam hari setiap hari itu?" tanyamu setengah menggoda.

"Ih kok tau? Gila,  saya tahu sekali rasanya ketika semua suara tidak saya mengerti, saya mendengar namun tidak paham. Lalu tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang lain, helpless sekali rasanya. Hingga berjuang itu sampai mati-matian dan benci pada diri saya sediri karena banyak waktu saya habis untuk belajar, stress, menangis, tuntutan nilai tinggi, persaingan, sikap perfeksionis saya, dan akhirnya pelarian-pelarian di perpustakaan kampus tujuh lantai yang bagai surga itu. Kadang saya menyesal kenapa saya bukan anak gaul clubbing namun malah sibuk berkencan malam minggu dengan Haruki Murakami, Tagore, Rumi, Ernest Hemingway, Paulo Coelho dan lain-lainnya itu," cerita saya sambil tertawa perlahan.

"Mungkin karena setiap orang punya cara untuk lepas dari belenggu apa pun itu dan kebetulan caramu untuk survive adalah dengan sepi meski sebenarnya ada pesta kembang api yang ramai di otakmu. Lalu anak clubbing, mereka tidak suka sepi hingga mencari keramaian sehingga menyepikan otak sesaat agar bebas dan high. Sebenarnya sama-sama mencari kedamaian dengan arti sepi dan ramai masing-masing sih,"tuturnya sambil memandang saya. 

"Ya mungkin demikian, lalu kembali lagi ke Rini lagi ya, saya terkadang bingung dengan posisi saya sebagai seorang translator. Karena baiknya translator menjadi penghubung dua belah pihak. Dan kamu tahu saya ini adalah translator yang buruk karena saya tidak sampai hati menerjemahkan semua tuntutan dan peraturan rumah pada Rini. Bagaimana dia ada kamar tidur namun harus tidur si sofa menjaga pasien, bagaimana dia terkadang tidak boleh sholat lima waktu, dan bagaimana passport dan uang yang ditahan. Dan lagi, apabila belum sampai suatu masa yang ditentukan Sabtu Minggu harus tetap kerja, ya mungkin sebulan sekali dan hanya sekali-kali boleh libur. Coba kamu bayangkan bagaimana kamu menjelaskan hal itu pada Rini? Akhirnya saya menjelaskan dengan memberi solusi sendiri. Tapi hati saya saat itu hancur sekali ya walaupun banyak juga sih TKI yang bandel sekali dan jadi sumber onar, saya tahu. Namun ketika saya membantu menerjemahkan hati saya amburadul. Lalu saya pulang menangis," ujar saya sambil sibuk memandang ke arah lain.

"Tidak mudah ya, ingin menolong lebih namun kesempatan untuk menolong hanya secukupnya dan hati kecilmu berontak karena kamu sama-sama orang Indonesia kan?" tebakmu sudah mengetahui arah bicara saya yang akhirnya ke sana juga.

"Tepat, seperti pertanyaan apa ya yang bisa dilakukan untuk menolong, saya sih inginnya bilang: Ayo Rini kita pulang saja yuk, tidak usah di sini. Namun, itu juga tidak menyelesaikan, saya hanya bisa berdoa semoga Rini baik-baik saja dan bisa cepat ngerti bahasa Mandarin," kata saya menerawang.

"Ya semoga ya. Kita jauh dari Indonesia dan merasa seperti mencintai Indonesia dari kejauhan. Mendengar kabar dari media massa yang terkadang mungkin bisa saja bias. Lalu kekecewaan kita pada Indonesia mengapa belum membaik, kerinduan dengan Indonesia sebagai tempat tanah air kita. Lalu ada kalanya mendengar lagu Indonesia Pusaka saja, kita bisa secengeng itu,"sahutmu ikut menerawang. Kamu pun berjalan menuju pagar pembatas sungai dan bersandar di sana. "Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata,"dan kau pun bernyanyi.

"Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata. Itu sih sebenarnya. Kita bisa mencintai Indonesia dari jauh dan  mencintai dengan jarak rasanya saya jadi memahami kalau saya cinta Indonesia, bagaimana pun itu. Sekian. Lalu saya jadi teringat puisinya Remy Sylado berjudul Nasionalisme begini bunyinya: Bahwa hatiku boleh saja keluar dari tanah airku tapi jangan pernah tanah airku keluar dari hatiku." lanjut saya lagi ikut bersandar di pagar.

"Kania, makan mie bebek yang dekat Katedral yuk."

"Kamu traktir ya."


***


"Oh iya, setengah semester lagi saya harus pulang ke Indonesia. Saya mau tinggal di Indonesia saja, saya tidak bisa membayangkan tinggal di Taiwan, bekerja, berkarya, kawin, berkeluarga, melahirkan, saya ingin pulang ke Indonesia," kata saya lagi sambil memegang lengannya.

"Kenapa harus pulang? Taiwan akan berkembang pesat seperti Jepang dalam beberapa tahun lagi. Dan pergerakkan politik di Taiwan lambat laun kian berani melawan China, coba saja lihat calon presiden Tsai Ying Wen, pasti dia bisa maju jadi presiden Taiwan. Kamu bisa mencari apa pun di Taiwan, kecuali cobek ulekkan sambel haha," candamu sambil tersenyum. 

"Saya tahu, semua kemudahan ada di Taiwan, saya tahu. Namun rasanya hati saya sudah cukup menetap empat tahun di Taiwan. Meski saya tahu ada berbagai macam cara menunjukkan rasa cinta pada tanah air selain tinggal di sana. Saya tahu dan sejujurnya saya takut sekali untuk kembali ke Indonesia for good. Saya khawatir setengah mati karena pasti tidak akan senyaman sekarang dan saya harus kembali beradaptasi setelah lama tidak pulang. Namun hati saya berkata saya harus pulang ke Indonesia,"lanjut saya menjelaskan. 

"Lalu kita?" tanyamu memandang lekat-lekat.

"Kita? Ayo kita pulang ke Indonesia."

"Saya di sini, saya tidak pulang."


***


Pesawat ini terbang tenang tanpa ada turbulensi, tempat duduk kelas ekonomi yang tidak empuk-empuk amat dan lagu Norah Jones yang mengalun perlahan. Catatan jurnal harian yang terbuka di halaman kosong belum ditulis. Pertanyaan besar akan ketakutan dan kesedihan. Mengapa mau pulang saja harus sedemikian beratnya? Berbicara tentang masa depan yang sedemikian abunya dan hati yang patah lalu entah bagaimana cara memperbaikinya. Ternyata cinta saja tidak cukup dalam sebuah hubungan, kesamaan visi, tujuan dan cita-cita adalah sekelumit di antara hambatan lainnya. Bukan melulu tentang cinta saja namun pencarian-pencarian mimpi dan aktualisasi diri. Pertanggung jawaban atas diri sendiri dan belajar untuk tidak lari. Bahwa menerima apa yang ditawarkan hidup bisa sepekat ini rasanya. Tidak ada kemudahan di sana. 

Melihat sesuatu sebagaimana adanya dan menjadi bijak dalam melihat, bahwa tidak semua harus dirasa dan dilihat dengan dekat, bijaksana dalam melihat suatu hal dan ada kalanya melihat sesuatu dari gambaran yang besar sangat membantu ketimbang melihat dari potong-potongan.

Dan kini baiknya memandangi senja di ketinggian sekian kaki dari jendela pesawat. Cantik, sungguh cantik. Ingin rasanya saya kantongi dan bawa pulang. Namun tidak, keindahan hanya dapat dinikmati bukan untuk dimiliki. Dinikmati penuh-penuh lalu simpan dalam hati.



Menuju Jakarta





Serpong, 2016

Terbangun jam 2 pagi dan menulis fiksi mini. Lalu bingung mau diapain. 
Diapain ya enaknya?






23.4.16

Hal-Hal Sederhana yang Luput dari Indera Kita



"Udah tahun baru aja ya? Lemesin aja lemesin."

Kata mas-mas berambut tidak santai dengan tato di sekujur lengannya, namanya Djito mungkin panjangan dari Warjito atau Djitodiningrat tapi kayaknya yang terakhir kebagusan. Kami berkenalan di Stasiun Gambir menunggu kereta terakhir ke Cirebon. Kata Djito cita-citanya mau jadi anak punk yang kritis dengan issue hak asasi manusia. Ah sedap! Itu dia suka ikut aksi Kamisan yang mulai dilarang itu, aksi permintaan pertanggung jawaban atas issue HAM.

"Di tahun yang baru ini saya mau ngelemesin semua yang tidak santai. Lagian ye, coba deh baca bukunya Paulo Coelho yang judulnya Aleph. Katanya ya kalo hidup ini udah kayak naek kereta api, orang-orang yg ada di hidup kita ada di gerbong yang sama kalau mereka belum berpindah cerita ya kita ga bisa ganti gerbong, harus bergulat gitu. Ya intinya saya mau menghadapi apa yang harus dihadapi gitu lah, kalo kamu Maemunah ngapain?"

"Di tahun yang baru ini sih saya mau realistis aja deh. Abis kalo misalnya saya bilang mau jadi 'manusia baru' belom bisa. Kan kalo jadi manusia baru berarti meninggalkan yang lama yang artinya mampu meninggalkan kekecewaan yang lama tapi kayaknya saya masih stuck nih. Maju kena, mundur kena. Ya udah...saya stagnan aja. Kan gak salah dong kalo  memilih stagnan. Itu juga melatih endurance ya gak sih?"tanya saya lagi.

"Kebiasaan deh kalo ditanya eh nanya balik, si kampret emang haha," kata Djito sambil meneguk botol air mineralnya. "Udah ah yuk, udah waktunya harus naek kereta!" ajak saya sambil mengambil tas.

“Kamu ke Cirebon mau ngapain Mae? Cari jati diri ya, buat anak-anak gadis macam kamu yang mau aja diperbudak kapitalis?” tanya Dhjito sambil duduk di kursi kereta. Tidak terlalu banyak penumpang pada hari itu maklum belum waktu liburan.

“Enak aja! Anak gadis macam apa nih maksudnya? Saya mau nengok nenek beliau lagi sakit. Kamu sendiri kenapa ke Cirebon? Patah hati ya ditolak cewek?”kekeh saya sambil memukul lengannya perlahan. Menurut saya pasti Dhjito ini anak punk cengeng mungkin ke arah emo. Eh tapi itu beda aliran ya. Pokoknya begitulah.

“Widih...saya mau mencari inspirasi sambil nyobain empal gentong mamang-mamang di Cirebon. Pasti enak. Lagian patah hati mah udah satu paket datangnya sama jatuh cinta. Gak usah kaget gitu, cuman masalah waktu itu," kata Dhjito kemudian.

“Tapi makin ke sini saya semakin skeptis sama urusan hati. Kayaknya chemicalnya gak nyampe ke otak saya yang seuprit ini. Sebingung kenapa manusia sekarang tidak bisa lepas dari layar smart phone mereka. Mungkin cinta sama smart phone sama-sama adiktif kali ya,”ujar saya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.

“Ah ya, ketergantungan smart phone udah mulai macam berhala kali ya buat zaman sekarang. Saya juga berasa gitu dan merasa khawatir berlebihan kalau gak bawa hp, itu udah termasuk sakit jiwa. Pernah suatu kali saya perhatiin kalo beberapa orang bertemu tidak untuk ngobrol namun nunduk sibuk sendiri dengan hp mereka. Mungkin kita sampai di masa fakir sosialisasi dan ketakutan untuk ngobrol santai dengan siapapun. Curigaan aja bawaannya,”ujar Djito dengan raut sebal.

“Hahaha apalagi kalo mau ngobrol ama kamu ya Djit udah tatoan, rambut heboh lagi yaa kan? Ya gitulah ketika pembicaraan dicukupkan dengan sekedar menatap layar tanpa melihat mata, udah tidak perlu lagi membaca raut muka, ekspresi, nada suara dan bahasa tubuh. Akhirnya pembicaraan jadi minimalis, betapa mahalnya harga sebuah percakapan kalau bukan perlu-perlu banget,”timpal saya sambil memandang jendela kereta sesaat.

"Dhjit, kamu pernah gak sih ngerasa gak diterima sekitar kamu?  Berasa kayak alien turun ke bumi lalu kamu mati-matian buat adaptasi tapi tetep gak pas?"tanya Maemunah. Pemandangan di luar jendela semakin gelap dengan semburat cahaya matahari tenggelam.

"Seringlah Mae haha.. ya kamu tau kan dari penampilan saya aja udah ga normal. Tapi inilah saya dengan gaya urakan, yang kata orang amburadul, sok revolusioner atau sok golongan kiri yang anti kemapanan. Tapi saya ga peduli kata orang," kata Dhjito dengan muka mantap, saya tahu dia pasti melewati berbagai hal untuk sampai menjadi dirinya yang sekarang. Kita juga demikian kan? Ditempa oleh waktu.

"Idealisme apa yang membawa kamu pada tahap ini? Maksud saya kamu tau kan perut  gak bakal kenyang dari idealisme?"tanya saya bertubi-tubi. Mencari jawaban di kerutan dahinya. Saya berharap menemukan jawaban yang memuaskan.

"Kamu tau kan yang namanya panggilan hidup. Saya cuman menjawab semua panggilan yang saya percayai karena itulah saya ada. Saya percaya panggilan itu mengalir di jantung , darah , nadi , mengalir di tulang dan saya hirup sebagai nafas. Itu yang menggerakan untuk hidup," ujar Djito sambil memandang saya.

"Kamu pernah putus asa dengan panggilan kamu?"saya bertanya kembali.

"Sering menyerah, sangat sering. Tapi hal yang saya percaya adalah ketika panggilan itu berulang-ulang datang, harus dijawab dan semesta pasti ikut mendukung untuk sampai ke sana. Mestakung, semesta mendukung. Emang panggilan kamu apa Ma'e?"

“Saya mau jadi penari. Menari menurut saya membebaskan. Kamu pernah nggak ngerasain ketika melakukan hal yang kamu suka, lalu berasa trans, seolah eksistensi melebur dengan entah energi apa dan saat itulah kamu ngerasa high. Lalu muncul sebuah aliran kencang dari tulang punggung terus masuk ke otak dan tiba-tiba penglihatan  hanya bidang putih yang bercahaya. Pernah? Nah esensi itu yang saya kejar,”kata saya menggebu-gebu.

“Haha Mae-mae menarik ya, cara kamu menggambarkan rasa. Tapi bisa saya ketahui korelasinya ketika gue lagi dengerin musik yang saya suka. Rasanya seperti tubuh saya ‘kepenuhan’ oleh musik itu sendiri. Saya merasa ‘penuh’ dan utuh. Dan itu nagih banget,” cerita Dhjito sambil tertawa dan mengangguk-angguk.

“Kamu tau Jalaluddin Rumi gak? Seorang penyair sufi yang lahir di Afganistan. Saya inget banget dia pernah berkata begini : Ketika kamu melakukan sesuatu dari jiwa, kamu akan merasakan aliran sungai dari dalam  dirimu, kebahagiaan. Mungkin itu jawabannya. Saya merasa dengan menari, jiwa saya ikut memuliakan Tuhan,”ujar saya sambil mengangguk-angguk. Lalu kami berdua sibuk dengan pemikiran sendiri. Kita juga sering kali sedemikian asyik berdialog dengan diri sendiri. Bukan gila, hanya saja tidak semua hal bisa dibicarakan hanya bisa dirasakan. Dan dengan jeda sesaat itu sudah menjawab. Terkadang hening pun adalah percakapan penuh makna namun tidak dirayakan meriah.

“Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk sampai ke sana, untuk menjadi penari?” tanya Dhjito memecah keheningan.

“Hmm latihan nari. Gimana dengan kamu Dhjit? Sudah selesai dengan diri sendiri?”

“Selesai dengan diri sendiri? Rasanya itu gak mungkin deh Mae. Saya gak akan selesai dengan diri sendiri. Saya masih mencoba segala hal yang saya punya untuk menjadi diri  sendiri dan saya menemukan semakin dicari, saya semakin kehilangan,” kata Djito sambil memandang mata saya. Lalu dia pun berkata lagi “Mimpi saya adalah menjadi aktivis dan sampai sekarang saya sedang menuju ke sana, ah udah ah kita dari tadi serius terus ya ngobrolnya,” gelak Djito menggelegar.

“Haha ya habis kepancing sih gimana dong? Eh Djit kamu percaya gak dengan sebuah kebetulan. Kayak misalnya kenapa kita bisa bertemu dengan seseorang  entah dia menetap lama atau tidak?” tanya saya penasaran.

“Kebetulan ya? Saya gak percaya sama kebetulan. Semuanya sudah ada yang atur, dengan siapa pun saya bertemu, berkenalan pasti ada sebuah konspirasi tingkat tinggi dari semesta untuk bisa saling bertemu. Dan menyebalkan sekali kita manusia tidak punya pengetahuan untuk itu. Kenapa sih nanya-nanya?”tanya Djito kemudian sambi berganti posisi duduk.

“Ya... kadang saya kesal saja dengan sebuah kata kebetulan. Karena rasanya manusia tidak mempunyai kontrol atas apapun yang ada di sekelilingnya kecuali kontrol atas diri sendiri, bagaimana bersikap. Bukankah itu tidak adil sekali?”

“Haha aduh Mae, lagi pula ya untuk apa sih ingin mengontrol ini dan itu. Dulu saya juga selalu marah dengan berbagai hal yang tidak sesuai dengan tempatnya. Hingga suatu waktu saya capek karena terus marah dan mau berdamai saja dengan apapun itu. Lalu menikmati apapun yang saya punya penuh-penuh. Aih anjeeeeng serius amat!” kelak Djito sambil menoyor kepalanya sendiri.

“Djit...udah masuk kota Cirebon Djit, kamu mau temani saya makan empal gentong gak?”

“Siap!  Jadi ini namanya kita berdua ‘kebetulan’ bertemu atau ada konspirasi alam semesta untuk bertemu?”

“Kalo yang ini mungkin rezeki mamang-mamang tukang empal gentong, karena saya laper ngomong terus sama kamu. Yuk ah!”

“Baik Nona, Tuan temani.”

Ini bukan cerita cinta.



Sebuah fiksi mini cerita bersambung saya di Instagram lalu saya putuskan untuk ditaruh juga di blog agar tidak tercecer. Ini sudah sedikit diedit. 


18.4.16

Konspirasi Tai Kucing #4: Sifat Dominan



Mungkin tulisan ini akan saya baca sambil ketawa-ketawa sepuluh tahun dari sekarang. Itu pasti. Jadi ya sudahlah agar ada bahan yang bisa diketawain sepuluh tahun mendatang, lebih baik saya tulis ya kan? Menghibur diri sendiri di masa depan itu baik adanya, bukankah kita harus bisa menertawakan diri sendiri agar tidak stress dan memiliki humor yang bagus. Ya hitung-hitung agar tidak mudah jantungan deh.

Sampai mana ya tadi? Oh ya, akhir-akhir ini saya sedang menunggu-nunggu twit war dengan topik perempuan. Karena apa? Karena sebentar lagi hari Kartini saudara-saudara. Saya sudah tidak sabar membaca artikel-artikel tentang perempuan. Oh please please feed my ego and my curiosity well, dearest you who might concern. Saya lagi kosong tidak ada amunisi apa-apa nih, sedih deh. Kayaknya lagi buntu, ada saatnya saya duduk manis di kursi penonton. Mengamati. 

Menjadi perempuan. Saya rasa definisi menjadi perempuan kian berkembang di masa ini dan salah satu yang tidak berbeda mungkin adalah alat reproduksi. Penjelasan akan perempuan yang harus begini dan harus begitu pun rasanya sudah mulai terkikis perlahan. Baik laki-laki dan perempuan semakin terbuka dengan pemahaman kesetaraan gender, namun tetap juga ada yang tak bergeming. Mungkin sedikit kejedot pas masih kecil kali ya. 

Ada satu hal yang menarik untuk dibicarakan: Apakah semenyeramkan itu perempuan yang bisa mendominasi laki-laki? Saya muncul pertanyaan tersebut pada saat diskusi kelompok. Ada sebuah pertanyaan begini: tipe pasangan seperti apakah yang kamu inginkan? Pertanyaannya mudah dong dan pasti dijawab dengan nilai-nilai ideal pasanan yang diingini seperti apa, dan kebetulan perempuan menjawab mereka ingin laki-laki yang lebih superior dari mereka dan laki-laki ingin perempuan yang inferior tidak dominan. Saya lupa saya menjawab apa ya, karena saya terlalu asyik mendengarkan opini orang lain. Lalu  muncul sebuah pertanyaan, hubungan yang seperti apa yang kamu inginkan dengan pasanganmu? Rata-rata menjawab: laki-laki sebagai pemimpin yang bisa mengayomi. Lalu saya menjawab kalau saya ingin hubungan yang sejalan, saling berdampingan, hubungan yang equal dan kalau ada masalah baiknya diambil cara win-win solution bukan melulu persoalan siapa mengalah siapa. Eh tiba-tiba saya ditanya apakah saya perempuan dominan atau tidak?

Menurut saya, saya adalah perempuan dominan karena saya tidak suka diatur, itu satu. Lalu yang kedua saya tidak suka saja gitu kalau misalnya harus jadi inferior di bawah siapa pun. Maka saya lebih memilih hubungan yang equal jadi berdua memang sepadan untuk hidup bersama. Ya gak sih? Pernah suatu ketika, menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang sebegitu tinggi egonya hingga akhirnya harus sok-sok lemah atau sok-sok bego karena dia tidak suka perempuan yang lebih pintar atau lebih tahu dari dia dan begonya saya, saya iya-iya aja, lalu jadilah Metta yang bego. Hingga akhirnya saya tidak tahan karena memberi makan ego orang lain terus menerus rasanya menyakiti diri sendiri sebenarnya. 

Entah mengapa kita dipaksa menjadi ketakutan dengan kata: perempuan dominan. Terbayang perempuan yang galak, judes, ngeselin, dan lain-lain. Seolah menjadi dominan bukan nature nya perempuan. Seolah perempuan diciptakan untuk ya submissive yang passive. Tapi apa iya? Saya rasa banyak juga laki-laki yang sebenarnya tidak dominan namun dipaksa untuk menjadi dominan, karena dominan ini sebagai ciri gambar laki-laki sejati. Menurut saya setiap orang berbeda dengan bawaan sifat dan background yang berbeda, sehingga sebenarnya pemilihan sifat dari jenis kelamin rasanya tidak relevan. Saya juga merasa terkadang berat juga ya jadi laki-laki karena harus mengikuti standard maskulin di masyarakat. Ya sebenarnya urusan sexism ini tidak akan habis-habis sih karena praktiknya masih banyak dan saya pun kerap masih sexist. Saya pribadi merasa menjadi perempuan dominan mempunyai kekuatan sendiri untuk bertanggung jawab atas hidupnya dan sebenarnya meringankan tugas laki-laki yang dituntut ini itu. Atau mungkin sebenarnya laki-laki suka dituntut ini-itu dan menunjukan kekuatannya ya? Saya cari tahu dulu ya haha.

Tapi ya mungkin loh ya, pada akhirnya sifat-sifat mendasar perempuan dan laki-laki ini akan disempurnakan ketika mereka saling mencintai karena pasti ada banyak hal yang harus ditolerir untuk bisa bersama, ya bahwasanya menjalani hubungan itu susah-susah gampang dan butuh kerja sama yang baik. Lalu ada juga yang berkata bahwa kita terlalu banyak memilih tipe kualitas seseorang  untuk menjadi pasangan tanpa peduli yang terpenting adalah kualitas hubungan itu sendiri. Bagaimana? Bukankah perjalanan pertemuan dan percintaan pemuda dan gadis itu sebegitu rumitnya? 

Yha~


13.4.16

Konspirasi Tai Kucing #3: Tubuh dan Ketelanjangan Asali


Setelah membaca tulisan Ibu saya tentang Ketelanjangan Asali dan berdiskusi singkat dengan beliau, saya kembali memerlukan medium untuk merangkum agar tidak mudah lupa, maklum di dalam otak saya yang  IQ jongkok ini memerlukan sedikit ruang agar tidak kesempitan lalu bisa diisi lebih banyak lagi nanti. Susah ya punya otak seuprit dengan kecerdasan yang tidak pintar-pintar amat sehingga selalu harus berjalan mencari meraba-raba dan membaca ke sana-ke mari. Satu-satunya yang saya punyai adalah rasa penasaran itu saja. Sudahlah biarkan saya asyik sendiri mencari-cari, berpikir ala kadarnya kemudian bertanya. Mungkin itulah cara saya belajar. 

Saya sedang tertarik dengan sebuah topik mengenai tubuh. Tubuh dengan jiwa dan kedagingannya yang terkadang diartikan terpisah dengan mengatakan bahwa jiwa itu baik dan daging itu jahat. Padahal telah diciptakan keduanya, bukankah seharusnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi? Sebenarnya terbesit pertanyaan ini ketika saya sedang duduk di gereja. Ada salib dari kayu dipajang besar sekali di dinding altar. Salib dengan tubuh Yesus beserta kain penutup aurat. Saat itu pastor sedang kotbah namun ternyata pikiran saya ke mana-mana dan memikirkan kenapa peristiwa penyaliban ini melibatkan tubuh yang berdarah-darah dan tercabik-cabik ya? Tidakkah cukup dengan memperlihatkan ke-Ilahian Allah dari jiwa saja? Mengapa justru tubuh? Bukankah katanya, hidup bukan hanya dari daging saja melainkan juga roh? Kenapa tidak langsung saja pada inti jiwa/roh saja ya? Saya pusing sendiri sesungguhnya dan saya masih berpikir lama tanpa memperdulikan pastor. 

Lepas dari peristiwa itu dengan pertanyaan yang masih menggelayut tertinggal saja demikian dan terlupakan karena saya mentok. Kembali menjalani hari-hari yang biasa saja, lalu asyik bercanda makan siang dengan teman kantor tentang seks dan seputar selangkangan. Honey, ketika laki-laki seumuran saya sudah puas membicarakannya ketika remaja, kami perempuan baru mulai membicarakannya dan mengeksplor. Mungkin memang ada sebuah aturan terselubung bahwa pembicaraan tersebut tidak elok untuk perempuan, walau sebenarnya perempuan pun sama-sama makhluk seksual. Heran kan? Seperti pembicaraan bagaimana prempuan mengeksplor tubuhnya sendiri, pengalamannya mengenal tubuhnya dan kenikmatannya atau pemikirannya tentang tubuhnya. Tidak mudah dibicarakan atau diungkapkan. Seolah hal tersebut bukan milik perempuan dan harus dijaga rapat-rapat dan meyakinkan masyarakat kalau perempuan itu submissive dan aseksual. Kenapa ya? 

Kemudian saya berdiskusi dengan Ibu tentang hal tersebut dan keluarlah sebuah frasa Ketelanjangan Asali, ternyata ini menyambung dari Teologi Tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Dasar pembahasannya dari penciptaan manusia di Genesis / Kejadian 2:25 ..."Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu." Kata kuncinya telanjang dan tidak merasa malu, karena mereka melihat sebagai subjek yang harus dihargai. Ketelanjangan adalah sebuah situasi ketika sesuatu itu suci dan murni, tidak ada yang ditutupi di sana. Itulah perayaan manusia yang pertama, dalam ketelanjangan nilai tubuh dirayakan dengan agung dan ilahiyah. Lalu Paus Yohanes Paulus II merefleksikan bahwa karakter manusia adalah berelasi, kesadaran manusia untuk memberikan dirinya pada manusia lainnya sebagai ungkapan cinta. Ini disebut juga sebagai makna nupsial tubuh, karakter relasional tubuh yang mengarah pada pemberian diri yang berdasarkan pada cinta sejati*. Situasi ketelanjangan asali ini manusia mengungkapkan tubuh sebagai pemberian (diartikan sebagai perkawinan) ungkapan cinta, melihat manusia bukan sebagai objek melainkan subjek. Lalu makna nupsial ini menjadi hilang makna karena manusia dikendalikan nafsu dan memandang manusia lainnya sebagai objek semata.

Pembahasan ketelanjangan asali ini amat menarik karena tubuh merupakan kehadiran yang nyata dan konkret dari penciptaan Tuhan. Kita mengenal seseorang dimulai dari tubuhnya, langkah awal mengenal pribadi dan jiwa. Namun sayangnya manusia mulai tidak menghargai tubuh karena hanya dikaitkan dengan nafsu dan fungsi seksualnya saja. Mereduksi tujuan dan nilai tubuh itu sendiri sehingga membalikkan makna tubuh yang dekat dengan dosa dan objek pemuasaan hasrat saja, karenanya maka harus dikendalikan, dikekang atau dimusnahkan. Kita melupakan bahwa tubuh adalah karya agung Allah, tubuh dan seksualitas adalah baik adanya dan perlunya kita bersyukur karenanya. Seksualitas itu sendiri bukan hanya mencakup kegiatan seksual saja, itu hanya bagian kecil. Seksualitas adalah keinginan kita untuk mengasihi dan dikasihi, dapat berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Hingga menjadi salah apabila diartikan seksualitas adalah kegiatan berhubungan seks saja. Itu lebih dari itu.

Seiringnya dengan berkembangnya pengetahuan dan kemudahan teknologi, berimbas pula pada relasi manusia dan pemahaman manusia mengenai tubuh. Karena tubuh berubah sebagai komoditi untuk dipasarkan. Tubuh diidentikan dengan seks, kenikmatan tubuh saja tanpa cinta. Hingga pandangan ini merubah pola pikir perempuan dan laki-laki  mengenai tubuh mereka dan saling tidak menghargai satu sama lain karena degradasi makna tubuh. Seandainya makna tubuh dipulihkan kembali ke titik nol maka ketimpangan pun akan berkurang dan hilang, hingga perempuan dan laki-laki bisa sejajar dan tidak didefinisikan dari tubuh sebagai fungsi seksualnya namun sebagai manusia. Penghargaan akan manusia seutuhnya.

Hingga lalu saya terbesit jawaban mengapa karya keilahian Allah atas penebusan Yesus Kristus disimbolkan dari tubuh? Untuk memulihkan makna tubuh itu sendiri. Bahwa karya Allah yang Ilahi dilihat konkret dan nyata dari tubuh. Penciptaan tubuh yang fana ini sebagai ungkapan penerimaan kasih Allah untuk dibagikan pada sesama. Hingga akhirnya jiwa pun bisa menemukan keutuhannya lagi dengan Sang Cinta itu sendiri.

Mungkin demikian untuk saat ini. Iya.



* Refrensi: Teologi Tubuh 

8.4.16

Biru dan Ungu


pic: pribadi, Seminyak, 2 Mei 2015.


Terbangun di pagi yang masih muda membuat saya terkejut. Saya terbangun dan serta merta mata saya benderang. Pagi ini masih terlalu pagi dan saya masih setengah terbangun belum sepenuhnya. Ada selapis selaput tipis antara kesadaran dan tidaknya. Saya berhenti di situ. Saya tidak tahu apa namanya momen tadi itu. Ngelindur? Rasanya tidak. 

Saya merasa momen itu berwarna biru dan ungu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan jelas seperti perlu mendekatkan diri namun takut-takut. Hanya bisa saya deskripsikan dengan warna dan itu terjadi ketika melihat dan berkenalan dengan orang baru pertama kali, saya akan mendeskripsikan dia dengan warna. Rasa ini janggal namun tidak membahayakan. Ada rasa damai dan sepi di sana. Sepi yang betul-betul hening bening hingga jantung saya berdebar hangat namun kaki saya sedikit kedinginan. Atmosfir yang agung, hening dan murni  Ketika momen itu saya merasa cukup. Pada momen itu pula saya merasa kepenuhan.  

Sepi ini melahirkan rasa lain seperti koneksi dengan diri sendiri dan pikiran, terbuka seluas-luasnya. Mungkin benar apabila ada beberapa orang berdoa dan memulai kerjanya pada jam segini karena jam inilah seolah aliran energi Tuhan dan alam semesta sungguh terasa. Mungkin benar apabila mencari sesuatu carilah keheningan. Keheningan dan ketiadaan mampu melahirkan sesuatu. Selesai itu saya menemukan sebuah kata: menerima. Menerima dan membuka hati apa pun itu.

Kemarin saya berdoa dengan sangat. Sungguh-sungguh berdoa agar saya tidak menjadi 'pengecut' yang mudah lari. Saya berdoa untuk tidak jadi penakut untuk mengambil komitmen karena menurut saya itu menakutkan. Komitmen dengan diri sendiri bahwa saya bertanggung jawab sepenuhnya untuk semua hidup, tubuh dan jiwa saya. Saya terlalu overthinking atau terlalu 'dalam'? Saya rasa tidak. Saya hanya lelah, lelah sekali apabila harus terus-terusan menjadi kekanakan dan tidak bertumbuh. Saya lelah, lelah sekali menghadapi diri saya yang takut ini itu dan melarikan diri dari hidup, dari semua kesulitannya, dari semua lukanya, dan dari semua gesekannya. Saya menemukan diri saya terhenti, stuck di sana, stagnan, membosankan dan  menjemukan. Saya ingin melangkah ke tempat yang lebih dalam. Saya ingin menjadi berani untuk masuk ke kedalaman meski misalnya itu tidak mudah dan pasti saya sesekali akan mengeluh. Saya yakin tidak hanya saya yang pernah merasa ini karena pada suatu fase akan ada momen ini ketika segalanya harus diruntuhkan dulu untuk membangun sesuatu. Ketika harus menjadi pecah dan penyok dulu untuk membentuk wujud lain. 

Saya ulang sekali lagi. Mungkin kata kuncinya adalah menerima, membuka hati apapun itu. Menghadapi seberani-beraninya. Berpasrah dalam arus-Nya dan menyadari bahwa tidak ada eskapisme dalam hal menerima. Tidak ada. Membiarkan diri dituntun oleh-Nya sebagai bentuk menyerahan diri karena dia Allah yang setia. Dan bagi saya yang tersulit adalah membiarkan diri dicintai bukan hanya mencintai. Itu sama sulitnya. Menerima kasih dari luar dan tidak serta merta membentengi diri. Mencintai itu memberikan dan menurut saya lebih mudah dari pada menerima diri untuk dicintai. Karena ternyata kita kadang menjudge diri sendiri bahwa kita bukan apa-apa untuk dicintai. Sehingga rasa dicintai itu saya rasa perlu. Dicintai keluarga, teman, kekasih dan yang terpenting merasakan cinta Tuhan. Keberanian untuk keluar dan memperlihatkan sisi 'penyok dan pecah'. Menunjukan bahwa kamu juga memiliki sisi vulnerable. Bahwa kamu dan orang lain pun sama-sama memiliki patahan-patahan di berbagai tempat yang sudah atau sedang kamu perbaiki dan plester sedemikian rupa. Menemukan bahwa hati manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk sembuh. Bahwa mungkin hati manusia diciptakan untuk terluka, sembuh dan dia menjadi kuat dari sebelumnya. Toh dalam luka dan kematian, Dia bangkit. Saya dan kamu, kita sama-sama pernah terluka, bukankah demikian? Namun kita menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Tidak, tidak usah takut menjadi dewasa. Jadilah tenang! Saya ingatkan sekali lagi: Tidak ada sehelai rambut pun yang terlewatkan dari rencana Tuhan.

Lalu kemarin saya terpesona sendiri dengan tulisannya Paulo Coelho di salah satu bukunya, Aleph. Ada satu halaman penuh yang saya gemari dan saya baca berulang-ulang. Begini:

"Aku mencintaimu," kataku padanya. "Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhirnya mengalir menuju danau yang sama. Semuanya bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati bumi.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak, dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada yang haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan-cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air untuk kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
"Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.
"Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki pada perempuan, bukan cinta ayah pada anak, bukan cinta Tuhan pada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, dan kau tidak akan pernah menjadi milikmu, meski begitu, jujur kukatakan: aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."
 Astaganaga kan? Terbengong-bengong sendiri sampai pada pemahaman itu. Apa gerangan yang harus dia lewati untuk bisa lahir sebuah tulisan itu, ya memang harus mau dibentuk, dipecahkan, dikoyak dan terluka.  Karena itu: Bertumbuhlah!



Ps.
ini adalah sebuah catatan kecil sebelum ikut retret tiga hari, semoga disegarkan kembali! Selamat menikmati hidup ya, sahabat. Doakan semoga saya bisa bertumbuh. Tuhan memberkati. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! 


2.4.16

Konspirasi Tai Kucing 2#: Idealisme Itu Mematikan?


Hiburan menarik itu bukan hanya dari mall-mall dan membeli suatu barang. Itu sih menurut saya. Ya namun tidak bisa disalahkan apabila pada akhirnya kita terjebak hiburan di gedung-gedung bertingkat karena hanya itu yang tersedia. Sehingga mencari hiburan kecil di sebuah kedai kopi dan berbagi cerita adalah sedikit remah-remah yang bisa dinikmati selagi bisa. Kita semakin melupakan momen untuk menikmati kedalaman pembicaraan. Kalau terkadang pembicaraan dua teman secara langsung dengan tatap mata, berbagi ruang, tertawa bersama dan memperlihatkan gesture serta mimik adalah cara yang paling murah dan efektif untuk mencapai suatu kedekatan. Percaya tidak, kalau menemukan lawan bicara yang sepadan adalah sebuah anugerah. Sepadan dalam arti kesamaan frekuensi atau setidaknya tidak ada judgment. Itu sih. Kenapa sih semakin dewasa kita semakin judgmental? Seperti was-was dan harus waspada setiap saat karena bisa saja tiba-tiba kita 'disenggol' orang lain. Hingga pada akhirnya apabila belum menemukan lawan bicara yang sepadan, lebih baik berpuas diri dengan buku dan riset sendiri. Meski akhirnya jadi melahirkan teori aneh, ya udahlah ya. Harus mencukupkan diri seadanya lalu saat bertemu dengan sahabat-sahabat kembalilah berbagi dan bertukar info. Ada waktunya menyendiri mungkin, agar fermentasinya kuat kayak tape. 

Ada beberapa pertanyaan menarik seminggu ini. Pasti gara-gara kebanyakan makan micin deh jadinya rada-rada bego nanya mulu eh tapi jawabannya susah belum ketemu. Harus buat mind mapping rasanya agar sedikit tahu sebenarnya ke mana alurnya. 

Kemarin ini saya sedang gatal sekali ingin nonton short movie yang sekejap mata tapi membuat otak berasap ke mana-mana. Nah, esensi ini yang dikejar. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan sebuah cerpen Examination Day karya Henry Slesar di tahun 1958. Sebenarnya pertama kali baca  cerpen ini di buku belajar baca bahasa Jerman. Saya baca sampai jereng rasanya. Ceritanya adalah tentang seorang anak pintar cerdas bernama Dickie Jordan. Mereka tinggal di era masa depan distopia, yakni sebuah masyarakat yang tinggal di bawah pemerintah yang totaliter/ otoriter. Ada sebuah peraturan pemerintah bahwa anak berusia 12 tahun wajib mengikuti test IQ. Tepat pada ulang tahunnya yang ke 12, dia ikut test IQ ini. Dia sangat penasaran dan bersemangat ikut test ini, sedangkan orang tuanya terlihat sangat cemas. Hingga pada hari test tiba, Dickey harus meminum cairan agar bisa berbicara jujur saat menjawab test IQ ini dan hasilnya Dickey 'gagal' dalam test tersebut dan dieksekusi mati. Apa alasannya? Kecerdasan Dickey melebihi limit ketentuan pemerintah sehingga harus dimusnahkan. 

Lalu hari ini sepulang kantor, saya memilih untuk merayakan hari Jumat dengan selimutan membaca buku sampai kelaparan. Hingga akhirnya meyudahi membaca dan beralih liat-liat film dokumenter di youtube. Tadinya saya mau memanjakan diri lihat documenter yang serem-serem agar menyudahi rasa penasaran, eh tapi ternyata otak reptil saya bekerja lebih keras sehingga saya tidak jadi dan penasaran dengan film dokumenternya Aaron Swartz. Siapakah mas Aaron ini? *sok kenal* Dia adalah internet aktivis yang membayar mahal untuk kecerdasan dan idealisme. Dialah penggiat kebebasan informasi yang melawan UU Anti Pembajakan (SOPA). Hingga akhirnya sekarang kita masih bisa mengakses informasi di internet untuk buat thesis . Dia adalah co-designer-of-tools  RSS dan Markdown , yang ikut membuat peradaban internet hingga secanggih sekarang. Dia juga adalah seseorang yang buat kode system copyright agar orang awam bisa melindungi hak cipta mereka ketika orang lain ingin menggunakan karyanya. 

Dalam pertumbuhannya dia semakin tertarik pada politik dan melihat bahwa terdapat praktik ketidakadilan dan ketimpangan yang berbau neoliberal capitalism. Karena diberkahi talenta dalam bidang teknologi sehingga dia dikenal sebagai the most technologically- gifted political activist in history. Singkat cerita, dia terbentur dengan tuduhan dari federal setelah mengunduh banyak makalah akademis yang seharusnya berbayar menjadi bisa didistribusikan secara gratis untuk siapapun yang membutuhkan informasi tersebut. Lalu dia dihukum cukup berat denda maksimal $ 1 Juta dan 35 tahun penjara. Setelah jaksa federal menolak tawaran pengacaranya yang kedua, Aaron Swarz ditemukan tewas menggantung diri di New York (untuk lebih jelasnya bisa dicari di wikipedia atau youtube).

Saya melihat betapa untuk memegang prinsip dan keyakinan itu sulit. Seperti Dickey, dia hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri sejujur-jujurnya namun pada akhirnya ada pihak lain yang ketakutan dengan keberadaannya. Lalu Swartz juga merasakan pengasingan karena untuk fit-in dan berdiri atas prinsip dan keyakinannya ternyata banyak juga yang merasa khawatir posisinya runtuh. Di documentary film Swartz itu disebutkan begini: He feels comfortable with the world, but world feel uncomfortable with his presence. Gila. Bisa bayangkan tidak rasanya bagaimana? Dia pasti merasa sendiri dan tidak cocok di mana-mana. Depresi hingga akhirnya bunuh diri. 

Di dua cerita ini mengacu pada pemerintah yang tidak memberikan kebebasan untuk berpikir dan 'membunuh' mereka. Ketakutan akan isi otak dan idealisme seseorang karena dianggap mampu menggerakan manusia lainnya hingga menjadi 'berbahaya'. Tidak usah dengan pemerintah dulu deh, karena scope nya jadi kebesaran. Coba dengan keinginan dan keyakinan kita, pasti mudah dikebiri ditengah jalan kan? Mungkin sebenarnya masyarakat tidak bisa menerima sesuatu yang diluar dari normanya, yang sebenarnya normanya sendiri belum tentu benar dan sering kali bias. Atau mungkin terjadi juga di antara kita yang tidak bisa mengapresiasi perbedaan itu sendiri. Namun ada sih yang menurut saya lebih fatal yakni pemahaman kalau mereka tidak tahu sesuatu maka sesuatu itu tidak ada. Seolah tidak memberikan kemungkinan kalau ada banyak hal yang tersedia namun mereka tidak tahu. Kan kasian sebenarnya.

Idealisme itu mungkin mahal harganya dan dibayar dengan nyawa. Banyak yang berkata bahwa idealisme dapat mematikan seseorang. Mungkin ya dan tidak. 'Ya' karena banyak nyawa yang bergelimpangan karena idealisme ini dan dianggap beberapa orang mengikuti idealisme adalah sebuah kesia-siaan. Namun menjadi 'tidak' apabila dia menjalani idealisme ini sebagai panggilan hidupnya dan misi yang diemban di dunia. Bahwa pada akhirnya saya dan kamu akan mati lalu kenapa tidak melakukan apa yang membuat kamu benar-benar hidup? Atau mau raga hidup tapi jiwa mati?




new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...