8.11.15

Suaka


metta's awkward drawing 

Bangun pagi dan menyadari kalau kamu merasa 'penuh' adalah sebuah berkat. Kamu melakukan aktivitas berjam-jam namun kamu tidak capek sama sekali, sebaliknya kamu merasa senang. Benar sekali seperti yang tertulis di Alkitab hati yang gembira adalah obat, semangat yang patah membusukan tulang. Begitu kira-kira bunyinya. 

Mengerjakan apa yang jiwamu sukai adalah kekayaan selain kebahagian tidur lelap, makan kenyang dan boker lancar. Setelah kebutuhan primitif itu terpenuhi lalu dilanjutkan pula dengan kepuasan hati karena bisa memenuhi apa yang kamu sukai, hal yang membuat hatimu bergetar dan bergairah akan sesuatu. Itu rasa yang sangat mahal harganya.

Saya akhir-akhir ini semakin tersadar bahwa menjalani hobi ternyata memang membantu kamu menjadi balance. Lalu dengan ini saya ingin menyampaikan pesan padamu: LUANGKAN! Luangkan waktu untukmu melakukan apa yang kamu sukai dan lakukan dengan serius. Percayalah energi postitif yang dihasilkan sangatlah besar. Dan percayalah hatimu mengetahui ketika energi asal menyatu dengan alam semesta dan menghasilkan frekuensi yang harmoni dan selaras.

Saya ingin berkata padamu untuk melakukan apa yang membuatmu rela berkeringat panas-panasan, jauh-jauh berjalan atau duduk berjam-jam sibuk dengan dirimu sendiri. Saat itulah kamu sedang menyambungkan aliran energi semesta dengan dirimu sendiri, jangan sampai putus dan lakukan sesering mungkin. 

Saya menyebutnya sebagai suaka. Suaka saya adalah melakukan pekerjaan kreatif dan seni. Itu adalah semacam rahim yang nyaman dan hangat untuk saya, seolah saya kembali ke asal dan menguap menjadi partikel di udara. Itulah saat di mana saya merasa sadar, penuh dan utuh. 

Saya rasa, setiap manusia harus menemukan suakanya sendiri. Agar tetap waras dan agar sedikit lepas untuk pada akhirnya menyatu lagi. Bahwa melebur dalam aliran daramu sendiri dan masuk ke otakmu sendiri tanpa intrupsi adalah kebebasan. Bahwa kamu itu bebas dan merdeka. Tidak ada yang bisa mengambil itu semua darimu. Ingat itu.

Dan hidup itu harus bisa menggerakan. Membuat dampak baik untuk orang lain, tidak harus melulu besar, kecil namun menyala-nyala itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, kan?



Luangkan! Ayoooo produktif saudara-saudara! Selagi bisa, selagi sempat. 




4.11.15

Harus seimbang!






Menyambung tulisan saya yang terakhir tentang pencarian frekuensi, jawabannya adalah: saya belum menemukan frekuensi yang cocok. Bukan berarti saya tidak mencari, saya mencari,tapi tidak menemukan apa yang saya cari, namun menemukan sesuatu yang lain. Pernah tidak mengalami hal yang serupa?

Justru sering kali saya merasa ketika saya mencari sesuatu, eh saya malah mendapatkan hal lain. Bulan kemarin saya pusing tujuh keliling karena saya berasa tersesat di tengah hutan belantara, di tengah pekerjaan, di tengah keseharian. Padahal sebenarnya saya bukan tersesat hanya saja saya tiba-tiba terbuka matanya. Itu euforia saya terbuka matanya. Saya terbuka matanya bahwa ternyata selama ini saya terlalu serius dengan jalan di depan saya, hingga saya lupa tengok kanan kiri, dan begitu saya merasa bosan dengan jalan di depan saya dan menengok kanan kiri, lalu saya jadi jengah.

Saya menemukan sesuatu yang penting untuk saya pribadi, yakni sebenarnya saya bisa melakukan keduanya. Baik serius melangkah dengan keseharian saya ataupun lihat-lihat pemandangan dengan hobi dan kesukaan saya. Jadi intinya adalah jangan serius- serius lah, Metta, lemesin dikit aja gitu. Cari balance nya. Men... jawabannya adalah mencari keseimbangan. 

Bukan berarti mencari frekuensi yang sama itu tidak baik, namun sudah seharusnya nggak sih kalau saya belajar membaur dengan frekuensi yang lain. Tidak usah selalu harus sama frekuensi kan? Ada kalanya berbeda frekuensi menjadi sebuah keunikan tersendiri. Berkreatifitas sendiri jadi lone ranger. Jadi solo traveler yang bisa dinikmati sendirian. Mungkin sesuatu yang indah tidak harus melulu dinikmati beramai-ramai kan? 

Lalu akhir-akhir ini saya menemukan website kumpulan opini satir, artikel cerdas astagaaaanagaaaaa bahagianya saya bisa menemukan dunia lain ini. Gila saya selalu terkagum-kagum dengan orang kritis dan pintar. Heran mereka makan apa sih ya? 

Astaga, melihat mereka yang kritis dan pintar di sana sini saya jadi berasa dungu sekali. Dan merasa kuraaaaang sekali dengan apa yang saya tahu. Duh, harus banget ini catch up dan mulai belajar dan baca ini itu. 

Hingga misalnya suatu saat ada orang iseng yang tanya tentang arti teori kelas milik Karl Marx saya bisa jawab gitu. 


3.11.15

Keyakinan

Jika bukan karena disuruh-suruh oleh Ibu saya untuk ikut Legio Maria, saya tidak akan tiba-tiba di suatu Sabtu sore yang hujan akan hadir di rapat Legio Maria. Kuping saya sudah terlalu panas setiap minggunya disuruh ikut ini disuruh ikut itu. Padahal hari Sabtu adalah hari di mana kebebasan bisa digapai. Akhirnya saya memutuskan untuk hadir saja dulu dan memperhatikan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi anggota. 

Tidak ada suatu pengalaman khusus saat memilih komunitas ini, hanya sebuah pemikiran di sebuah ruang rapat ukuran kamar kecil dengan AC yang dingin, hujan yang menguyur, kebersamaan yang dirasakan dan doa-doa yang didaraskan. Saya menyanggupi untuk mengatakan: Ya, saya bersedia. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia; seperti penderitaan, perasaan, kebutuhan manusia untuk berdoa, kesedihan dan kebahagiaan. Kadang banyak hal yang diluar dari otak manusia, seperti hal-hal itu bukan bagian dari manusia. Lalu bagaimana cara menjelaskannya? Bagaimana pendekatannya? Bagaimana agar bisa lebih mengerti hingga bisa diterima?

Hubungan seseorang dengan Tuhan-nya pasti berbeda-beda dengan berbagai pendekatan. Adalah suatu keintiman sendiri yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Seperti berjalan berdua ke sebuah danau yang tenang dan berenang bersama, menyelam lebih dalam. Seperti bergandengan tangan dan mengetatkan peluk. Seperti berpetualang berdua ke negeri asing namun saling percaya. Memiliki rasa percaya bahwa segelap apapun lorong yang dijalani pasti akan menemukan ujung lorong yang terang. Keyakinan-keyakinan yang tidak bisa dijelaskan, namun benderang layaknya mercu suar. 

Bukankah bingung ketika kita harus menjelaskan iman? Karena semakin dijelaskan dengan rumit dan ruwet, semakin tersesat. Semakin berusaha mengurai, semakin kusut benangnya. Ternyata mencintai itu tidak selamanya dengan alasan, sekaligus memerlukan alasan. 






11.10.15

Minggu santai dan Passion Pit

                                     Monggo didengarkan Passion Pit-nya! 

Setelah saya lihat-lihat, urat menulis saya begitu dimanjakan pada hari Sabtu dan Minggu. Menyenangkan untuk bisa duduk-duduk sambil ketawa-ketawa lelucon aneh slapstick. Selera humor saya memang agak kelas rendahan. Sudahlah tidak perlu kita membahas hari Senin-Jumat karena pada dasarnya hari-hari tersebut jiwa seniman saya ketekan sampai tinggal ampas. Namun kembali lagi bukankah kita melakukan segala hal karena suatu keinginan? Tsah, makin dewasa aja saya ini *idung kembang kempis*

Saya menemukan sebuah kesenangan aneh, apa coba saudara-saudara? Saya suka memperhatikan sekitar dan orang-orang berlama-lama. Karena saya sesungguhnya mencari inspirasi dan karakter yang cocok untuk tulisan saya. Astaga mengobservasi suatu hal itu sungguh menyenangkan ya, seperti menemukan lahan mainan baru. Saya suka sekali mendengarkan pendapat dan sudut pandang orang, karena terkadang saya jadi terkaget-kaget sendiri dan lalu langsung saya tulis di notes saya. Sudah macam detektif gadungan. Saya harus melihat orang lekat-lekat, bagaimana cara bicaranya, intonasinya, cara jalan, sorot padangnya, dan yang paling menarik adalah bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Sungguh ini adalah suatu misteri. Bagaimana seseorang bereaksi akan stimulus di sekitarnya. Saya perhatikan. Sejauh ini hal yang menurut saya menarik adalah suatu kesimpulan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, pasti terpengaruh dari background dia. Entah cerita apa yang dia punya. Dan sesungguhnya kita manusia terbuat dari hal-hal yang sama, keluarga, teman, cinta, patah hati, benci, harapan, putus asa, kekecewaan, sedih, masalah, kesenangan, passion, luka, sakit , tubuh dan lainnya. Semua dari kita tidak pernah terhenti pada satu titik saja, semua berputar. Dan saya percaya manusia adalah hal-hal yang tidak pernah selesai. Mengutip sedikit dari Goenawan Mohammad. 

Lalu saya menyimpulkan sedikit kalau sudah seharusnya saya tidak perlu kebanyakan mikir mengenai manusia yang begitu menyebalkan dalam memperlakukan orang lain karena mungkin saja ada yang belum selesai dari jiwanya. Dan saya berdoa semoga apa pun yang dia cari bisa segera ditemukan hingga setiap tindakan dan perkataan adalah untuk kebaikan. 

Oh ya satu lagi. Hari ini saat saya sedang asyik mendengarkan lagu-lagu ciamik lalu saya kepencet sebuah band Passion Pit. Seharusnya sih ini  agak lama ya, namun karena kadar anak indie saya sudah digerus kehidupan kantor jadi saya ketinggalan deh. Ini sih mantap punya, mendengarkannya rasanya seperti makan es krim lalu kembali berteriak-teriak wacana lama: Astaganaga rasanya saya harus cari komunitas penulis atau ikut diskusi tentang seni-sastra-puisi-teater-film festival-dan teman-temannya. Kalau tidak saya bisa gila. Mungkin sesekali harus mengunjungi Salihara untuk bisa kenalan dengan orang-orang hebat nan kreatif.  Saya pahami benar, mencari teman satu frekuensi yang sama itu tidaklah mudah ya, apalagi jikalau kamu nyemplung ke planet kotak-kotak-persegi yang semuanya dikotak-kotak, lalu kamu adalah alien penganut free-thinking. Mungkin ini ziarah batin buat saya, begitu kata Ibu. 


Nb. Ada yang tahu komunitas yang saya maksud? Mohon petunjuknya ya.



Salam bahagia,


gadispayungkuning
yang sedang mencari frekuensi yang sama *pasang antena*



4.10.15

Naik level seekor kutu busuk

Pagi hari yang dikejutkan dengan sakit perut karena ingin buang air besar itu sebenarnya bukan sebuah cara untuk membangunkan seseorang dengan cara yang ideal. Ya kan? Namun siapa sih yang punya kehidupan yang ideal kecuali Chelsea dan Glenn. Melihat pernikahan mereka yang bak fairy tale saya pandangi dengan alis naik satu. Okelah. Ya setiap orang punya hak mereka masing-masing menggunakan uangnya dan bagaimana mendesign weddingnya, bukan? Mungkin kalau saya bukan tipe yang seperti itu. Mungkin saya tipe kolot yang hanya ingin pesta kebun dengan keluarga dan teman dekat saja. Ya itulah konsep ideal orang berbeda-beda sehingga menjalani hidup juga berbeda-beda. 

Kali ini saya sedang agak nyinyir dan suka ngomong sembarangan. Kayak kurang pelampiasan untuk sesuatu yang saya suka. Idealnya saya harusnya mengejar apa yang saya suka dong. Tapi saya kok kebalikannya ya? Sinting. Bisa diambil contoh ringan saja begini saya mau menjadi penulis namun untuk menjadi penulis saya tidak menulis-menulis atau setidaknya kerja di suatu media. Logikanya begitu dong. Namun saya tahu menjadi penulis bukan profesi yang bikin hidup mapan kecuali kamu adalah Paulo Coelho yang punya buku best seller sepanjang tahun di seluruh dunia lalu bukunya diterjemahkan ke banyak bahasa. Oke itu baru bisa duduk santai di pegunungan sambil makan ciki. Tapi kan saya nggak gitu, bray. 

Lalu saya mulai mengerti sebuah pola bahwa manusia terkadang takut sendiri untuk mencapai sesuatu yang membuat dia bahagia, bahwa upaya untuk mencapai bahagia itu begitu berliku dan terkadang terhenti di tengah jalan karena takut. Semacam masochist juga yang suka menyakiti diri sendiri karena mendapatkan pleasure dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin itu yang didapatkan orang saat membuat tato. Rasa sakit yang enak. Menurut kamu itu sakit jiwa gak? Menurut saya enggak. Siapa sih yang gak sakit jiwa di dunia ini btw?

Balik lagi ke pembicaraan awal kalau saya sebagai seseorang yang sering kali salah kaprah dengan tidak jelas mengejar apa yang saya suka namun malah berlarian ke arah sebaliknya, itu kenapa bisa terjadi ya? Kalau kata guru writing saya di uni dulu itu ada sesuatu hal yang dibuat untuk jalan memutar untuk bisa balik lagi. Mungkin kita sedang di situ.

Saya suka sebal dengan diri saya apabila mendapati diri saya tidak produktif. Ada beberapa hari saya sudah kayak ayam tiren. Saya ogah deh jadi ayam tiren lagi, itu pasti karena saya kurang hobby dan melakukannya. Sedih sih itu, apalagi saya punya adik yang sangat tahu hobby dia apa dan melakukannya dengan segenap hatinya, seserius-seriusnya. Eh saya malah mengglepar-glepar jadi kutu busuk di tempat tidur. Kalau diingat-ingat bego yaa...tapi setiap orang memang harus punya fase itu untuk pada akhirnya memutuskan apa yang harus diputuskan. 

Dilihat-lihat memang hidup gak seideal Chelsea dan Glenn tapi saya sih sebenernya mau yang biasa-biasa saja, naik pangkat tidak lagi jadi kutu busuk setidaknya sudah membuat saya happy keujung tulang. Lalu menyibukan diri dengan melakukan hal yang saya suka. Ayo men... lakukan yang kamu suka, buat dirimu terinspirasi dan bisa menginspirasi orang lain untuk bergerak. Itu sih kekuatan energinya keren banget. Menggerakan orang lain. 

Tiba-tiba kemarin saya teringatkan kembali pada sebuah quote lama yang sudah pernah saya tuliskan di blog rasanya, bagi saya menulis itu adalah kelenjar. Artinya tanpa kelenjar kita tidak bisa hidup dan untuk saya tanpa menulis saya tidak bisa hidup. Kalau kelenjar kamu apa? 

PS. Ini tulisannya kadar sarkasmenya agak jenuh ya.  Hallo bagi pembaca baru kalau begitu. 

27.9.15

Mau sepi dan tenang, kok mahal?

Kemarin saya tengah berjalan-jalan di sebuah mall terdekat di rumah saya. Saya bukan tipe anak mall yang suka sekali muter-muter belanja sampai kaki pegal. Namun kemarin kebetulan ada festival kopi sehingga saya dan adik saya tertarik untuk minum kopi sebentar dan saya mau lihat-lihat (barista cute)  pembuatan kopi. Ternyata dalam mall itu juga ada promosi apartemen. Heran padahal apartemen yang ini belum laku dijual eh kok ya sudah bangun lagi ya? Bukan main heran saya sama pengusaha kapitalis. 

Kalau sudah seperti ini pasti deh saya mulai kepo dan minta brosur. Lalu sambil lewat mendengarkan presentasi mencuri dengar. Sambil dalam hati berkata,  'Ini orang kaya pada mau beli banget nih?' Bisa jadi saya yang iri dengan orang-orang kaya itu karena bisa punya uang buaaaaanyak buat beli yang 'aneh-aneh' tapi di otak saya rada gak nyampe kenapa mereka mau beli apartemen yang mahalnya amit-amit dan harganya bisa buat kasih makan orang satu pulau. Heran. Mental kere mungkin kayak gini ya haha. 

Bagian yang lebih membuat saya heran adalah tema yang diambil yakni ketenangan. Widih... segar banget sih temanya kena di hati. Seperti salah satu quotenya Jane Austen di Mansfield Park "Let us have the luxury of silence." Jadi mengambil tema sepi dan tenang dari stress serta hiruk pikuk kota dan kerja. Inilah yang dibutuhkan orang-orang urban yang kekinian, mereka sudah capek kerja dan stress, menghadapi macet dan hal-hal negetif lainnya, pasti mereka membutuhkan pelarian agar tetap menjadi waras. Dari ide apartemen ini ok banget sih kelihatannya.

Pertanyaannya kini adalah kenapa ya orang-orang masa kini mau sepi dan tenang saja kok harus bayar mahaaaaaaal sekali. Sedangkan untuk yang bisa menikmati sepi dan tenang seharusnya murah dan terjangkau ya dan itu bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Namun kenapa sekarang sepi dan tenang seolah menjadi sesuatu yang bisa dijual dan dibeli. Kalau kamu mau sepi dan tenang kenapa harus beli apartemen kenapa tidak pergi ke gunung, meditasi, atau ke pantai lalu duduk-duduk bengong. Ya.. tapi kan Met, mereka maunya sepi dan tenang di tengah kota biar bisa deket kantor, dekat ke mall, bisa makan enak serta menikmati hidup setelah beberapa hari stress jadi babu corporate, ya kan? Bisa jadi. Gaya hidup kita ini sudah sangat konsumtif dan maunya instan dan mudah. Dalam satu jentik jari kita berharap kita bisa menerima semuaaa kenyamanan di dunia ini. 

Apa salah?

Ya nggak salah sih namun menurut saya jadi mengaburkan arti sepi dan tenang itu sendiri. Seolah sepi dan tenang itu harus nyaman, enak serta indentik menjadi mahal. Kenapa sesuatu yang sifatnya dari alam semesta dan gratis, di zaman kini malah diartikan jauh sekali dari arti sederhana ya? 

Aduh saya jadi bingung. 



10.9.15

Labil gak stabil

Mungkin inilah yang dinamakan dengan quarter life crisis. Apakah pemirsa budiman pernah merasakan kegelisahan terus menerus lalu nanti galau nanti jadi bingung dan lalu ditutup dengan ketiduran, saking capeknya mikirin negara. Situasi saya adalah akhir-akhir ini menjadi seorang remaja tanggung galau ( dibaca: galauwati). Eh tapi seharusnya blog ini kan membawa penyegaran ilmu pengetahuan yang ciamik dan ilmiah terpercaya biar disangka pinter gitu ya, tapi ah sudahlah. Sudah banyak blog pintar berbobot, Tidak usah deh saya ikutan pinter, toh pembaca blog saya sudah pintar-pintar semua, jadi saya menulis versi isi otak pas-pasan saja ya. Oke?

Saya ini antara bingung dan yakin. Saya yakin saya bisa melewati kebingungan ini sekaligus saya juga bingung bagaimana cara saya keluar dari kebingungan ini. Bingung kuadrat. Mungkin karena saya diberkahi menjadi orang yang luar biasa optimis melihat semua, jadi saya punya keyakinan, oh pasti ini bisa diatasi, tapi sebenarnya saya juga gak tahu sih bagaimana caranya. Aih. Cerdas memang.

Sebenarnya permasalahan saya cuman satu. Saya bingung saya sebenarnya mau jadi apa ya? Lalu bagaimana cara saya bisa mandiri sepenuhnya? Bagaimana cara saya bisa menjalani kehidupan saya sekaligus passion saya? Bagaimana cara saya tahu jodoh saya siapa, di mana? Bagaimana caranya saya bisa bermanfaat untuk orang lain lalu menjadi berkat? Lha...kok masalah saya jadi banyak ya? Saya jadi bingung lagi kan nih. 

Sebenarnya ini gak sih saat-saat di mana lo jelimet sendiri sama hidup lo lalu akan ada satu masa, dalam hati lo bilang: Anjrit, gue ngapain sih ya? Kok orang-orang terlihat sangat yakin dengan dirinya sendiri. Padahal kalau selidik punya selidik dalam hati mereka juga menjeritkan hal yang serupa. 

Kalau saya rasa sih, saat-saat ini  masa-masa di mana kita pengen nyobain ini itu, pengen tahu ini itu, penasaran sama ini itu, dan rada ceroboh lalu salah dalam mengambil keputusan. Lalu menyesal dan bangkit lagi karena penasaran lagi dan terus berulang. Ini saatnya di mana di umur lo yang masih 20an ini untuk trial and error. Begituuu sepanjang waktu. Mungkin ini kenikmatan masa muda. Berpetualang dalam ketidakpastian. Dalam umur kita ini, kita ingin sesuatu yang pasti, stabil namun ternyata hidup menyuguhkan hal yang berbeda. Ya sudah telan saja dulu bulat-bulat. 

Ya kuncinya satu, kalau jatuh, nangis sebentar dan jangan takut lari lagi. Setuju? 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...