26.6.16

Konspirasi Tai Kucing #11: Unlearning


Hai, sahabat! Apa kabar ya? Apakah masih ada sukacita di antara kalian semua? Ya, semoga apa pun yang sedang dihadapi dapat segera menemukan pencerahan, apabila belum menemukan saya sarankan banyak-banyaklah mandi air dingin agar otak segar kembali. Jangan malas mandi. Ini saya serius.

Lama juga ya saya tidak menulis di sini. Ya begitulah terkadang pasang surut itu ada. Namun yang terpenting adalah jangan lupa kembali. Jangan lupa pulang. Ke mana pun itu. Beberapa lama ini saya sedang refreshing dengan diri saya sendiri karena merasa keseharian benar-benar membosankan hingga akhirnya yang menarik diri sejenak dan berpikir.

Pernah tidak merasa kalau di luar diri kita banyak sekali yang bertubrukan dengan system dalam diri kita? Lalu akhirnya membutuhkan sedikit waktu untuk mengosongkan diri dan mereview ulang semua. Mengkaji ulang lagi dan menyelaraskan dengan system dalam diri masing-masing. Saya mengakui kalau saya memang agak menyebalkan karena untuk beberapa hal saya sangat saklek dan perfeksionis. Hingga jika beberapa hal tidak selaras dengan system saya, harus diperbaiki dan ditelusuri dulu hingga akhirnya bisa masuk ke logika dan pemahaman saya. Iya, saya sedemikian ribet dan rewelnya. Saya akan butuh waktu untuk berpikir dan riset sana sini. 

Hal yang menggelisahkan akhir-akhir ini adalah saat saya merasa betapa membosankannya rutinitas. Ketika tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dan menarik untuk dipelajari dan membuat penasaran. Dan saya cukup sering merasa bosan, jenuh dan selalu butuh hal-hal segar. Semacam keserakahan dan tidak pernah cepat puas. Yak, dengan sedemikian sadarnya saya mengaku. Setiap orang mempunyai parameternya masing-masing akan kepuasannya akan suatu hal. Barangkali inilah penyakit orang macam saya, lupa bersyukur. 

Menariknya dari kebosanan ini saya semakin mengenal diri saya, kalau saya ini 'mengalir'. Perasaan saya mengalir. Hidup itu mengalir. Tidak tetap. Mengingat betapa frustasinya saya ketika menyadari ada banyak hal di luar diri ini yang sudah ada sejak lama namun tidak saya ketahui. Namun untuk memulai keluar dari dalam diri sedemikian sulitnya, biasanya mungkin takut atau merasa sudah nyaman. Padahal menjadi nyaman, tidaklah nyaman sama sekali. Lalu tiba-tiba perasaan kembali menuntut untuk liburan, padahal mungkin sebenarnya yang dibutuhkan adalah liburan dari perasaan ingin liburan. 

Mungkin ya, saya ini harus belajar hal yang baru dan kembali mengosongkan gelas saya sendiri untuk siap-siap dipenuhi lagi. Banyak hal yang tidak kita ketahui dan itu menggelisahkan sekali. Saya jadi tersadar bahwa saya akan terus menerus belajar dan menjadi murid karena sungguh sedikit yang diketahui dan sebenarnya seperti yang Socrates pernah bilang: Hal yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa. Menyadari hal itu sebagai titik awal agar tidak menjadi lembam.

Proses yang sedari kemarin cocok untuk saya adalah unlearning, yakni proses menghapus, mereview, mengkaji ulang dan mempertanyakan lagi. Ini sungguh-sungguh proses yang penting dalam belajar. Kenapa? Karena tidak semua hal bisa selaras dan diperlukan kita lagi. Jikalau sudah kadaluarsa baiknya dihapus dan diganti yang baru. Seiring dengan bertumbuhnya kita, akan banyak hal yang harus ditinggalkan atau mungkin didalami lagi. Sehingga yang namanya pribahasa menjilat ludah sendiri, mungkin sudah tidak relevan. Saya rasa akan banyak pemahaman saya yang berganti dan berkembang. Ingat, kita ini mengalir dalam proses belajar. 

Dalam belajar baiknya kita banyak bertanya dan bisa menerima pandangan orang lain karena tidak ada salahnya mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan lain. Jangan takut untuk berdiskusi dan menjadi sedikit bego karena tersesat di pertanyaan. Itu akan menjadi salah apabila kita tidak cukup banyak mempertanyakan? Coba sesekali tanyakan pada diri sendiri: Am I enough questioning something? Dan pentingnya belajar bertanya dengan pertanyaan yang tepat. Itu sih. Sebab pemahaman yang sejati harus timbul dalam diri sendiri, ia tidak bisa ditanamkan oleh orang lain dan hanya wawasan yang timbul dalam diri sendirilah yang menghasilkan wawasan yang tepat. Itu kata Socrates. 

Lalu dengan sangat random kemarin saya membeli buku soal matematika SMP kelas VII karena saya bosan dan saya menyadari keterbelakangan saya akan matematika. Saya tidak suka matematika sebegitunya, namun kemarin pasti saya agak sengklek otaknya hingga dengan impulsive saya membeli buku bank soal itu. Dan kemarin teringat ada foto instagram kakak kelas saya yang keren, Syafitudina. Beliau foto sebuah quote mahakeren, begini bunyinya:

Unlearning is not forgetting. It is neither deletion, cancellation nor burning off. It is writing bolder and writing anew. It is commenting ans questioning. It is giving new footnotes to old and other narratives. It is wiping off the dust, clearing the grass and cracking off the plaster that lays above the erased. Unlearning is flipping the coin and awakening the ghost. Unlearning is looking in the mirror and seeing the world. 


Atau saya sudah sedemikian perlunya dengan bulat hati dan berani ikut program master. Ya ampun tapi universitas ini isinya orang pinter semua, heran saya orang-orang pinter ini kira-kira mereka belajarnya gimana sih? *garuk-garuk kepala*


4.6.16

Konspirasi Tai Kucing #10: Idealisme kita adalah sisa dari yang tersisa


Hai. Apa kabar? Semoga damai sejahtera selalu ada di hati dan kebaikan selalu ada padamu. Tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dari tahun 2016 ini. Gimana resolusi atau cita-cita sudah terwujud? Jikalau sudah selamat ya dan jikalau belum mari kita tos bareng dulu. Saya juga. Heu.
 
Pasti ada stage dalam hidup kita yang sebegini dan sebegitu perlunya untuk memperjuangkan sesuatu yang menurut kita berharga. Tantangannya banyak namun yang paling berat adalah diri sendiri. Meyakinkan bahwa kamu mampu, kamu sekuat itu dan kamu deserve to get what you want. Itu semacam PR saya yang seringnya failed berkali-kali. Sepertinya ya, saya ini rada-rada penakut dan omong doang deh, tapi apa sih yang kita harapkan kalau seandainya kita takut melulu dalam segala hal dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri? Lalu ada lagi, saya banyak komplain inilah itulah hingga akhirnya saya merasa sudahlah mungkin memang seharusnya saya mencukupkan diri dengan ini saja. Jangan diikuti ya tidak baik untuk kesehatan! 

Setiap dari kita pasti menginginkan suatu hal dan sebenarnya kita tahu seharusnya berjalan ke arah sana dan memperjuangkannya sekuat tenaga. Namun, memang perjalanan pasti berliku dan berputar ke sana ke mari rempong muter-muter belum lagi kalau gagal. Kegagalan dan penolakkan itu biasa. Kita harus membiasakan diri dengan hal itu karena akan banyak  penolakkan dan kegagalan akan terjadi selama kita masih hidup. Kemarin ini saya baru ditolak oleh suatu hal yang saya inginkan. Padahal saya sudah yakin 100% saya pasti bisa dan inilah suatu kesempatan untuk memulai hal yang baru dan pasti lebih mudah. Namun ternyata rencana saya dan rencana Tuhan tidak sejalan. Untuk keinginan ini bisa jadi menurut Tuhan akan membuat saya manja karena bermain-main di comfort zone. Saya kecewa sih sesungguhnya. 

Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita mau. Itu satu. Yang kedua ingatlah, jikalau kamu ditolak bukan berarti kamu tidak mampu dan tidak berkualitas namun tempat kamu bukan di sana. Dan penolakkan ini biasanya akan mengantar kamu ke jalan yang seharusnya ditempuh. Coba digali lagi sebenarnya keinginan kamu apa? Keinginan yang murni dari dalam bukan karena pertimbangan keinginan tersebut sesuai dengan comfort zone kamu. Sayang, comfort zone adalah tempat yang buruk untuk bertumbuh dan berkembang. Percaya deh!

Saya merenungi kegagalan dan penolakkan ini bagaikan godam besar tapi inilah...inilah sebuah alarm untuk saya kalau jalan saya bukan ke sana. Selesai. Lalu saya tersadar kalau ada satu hal yang terselip dan sudah lama tidak saya otak-atik karena merasa saya tidak akan mampu melakukannya karena ini sungguh-sungguh diluar batas nalar dan kemampuan saya. Pernah dengar kan sebuah quotes : If it's still in your mind, it is worth taking the risk . Jika kamu ingin sesuatu sebegitunya hingga setiap hari terus kepikiran setiap saat, seharusnya kamu berjuang untuk mendapatkannya.

Jangan takut berjuang. Jangan takut untuk kerja keras sekuat tenaga. Jangan takut menjadi ambisius. Lakukanlah bagianmu dan serahkan sisanya pada Tuhan. Dan jikalau masih gagal, lakukan terus menerus hingga Tuhan akhirnya berubah pikiran. Kadang kamu harus bergulat dengan Tuhan untuk mendapatkan apa yang kamu mau, yang kamu punya adalah upaya dan doa. Satu lagi, kita tidak bisa terus menerus lembek pada diri sendiri dan mengikuti semua keinginan hati cengeng kita. Menjadi kuat adalah pilihan terakhir yang harus diambil untuk pertanggung jawaban kita pada diri sendiri karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa menolong kita. Terdengar arogan? Ya memang, tapi di sisi lain kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Mengasihani diri sendiri sebagai korban dari hidup adalah kegagalan awal kita. Ini saya serius. Dan hal yang paling menakutkan menurut saya adalah merasa bersalah pada diri sendiri. Menyesali mengapa tidak mengupayakan sesuatu hingga akhir rasanya tidak enak.

Di sebuah teguk kopi di hari Sabtu ini, saya sedang menjaga api dalam diri saya. Jangan sampai padam. Jadilah radikal, jadilah liar, jadilah nyala itu. Suatu hari nanti kamu akan tua lalu mati. Dan adalah kesalahan terbesar jikalau kamu mengetahui suatu hari kamu akan mati tapi tidak bisa benar-benar hidup. Aroma kerja keras, tangis dan keringat sudah kita hafal, kenapa harus ditiadakan? Idealisme kita ini adalah sisa dari yang tersisa. Kadang terasa perih dan sewaktu-waktu menyakitkan. Tapi kadang alasan manusia mencintai karena ada rasa sakit itu sendiri kan? Pesan saya hanya satu: Kejar dan jangan menyerah kalah, masih ada sisa darah di nadi yang belum mengering.    



Clean Bandit- Stronger

And I think I don't really get it
I think it's all just a peculiar game
And soon I'll wake up and I'll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger!

1.6.16

Konspirasi Tai Kucing #9: Marriage 101


Hari Senin kemarin saat perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan lagunya Chrisye berjudul Cintaku dan dengan impulsive saya berjanji, lagu ini adalah lagu wajib yang harus diputar saat  saya menikah. Tsah. Lalu saya jadi menoyor kepala saya sendiri menduga otak ini agak bergeser atau sedikit kejedot kemarin. Atau mungkin ini karena hari Senin pagi yang sedemikian boring dan tidak menggairahkannya dan lalu munculah lagu kasmaran seperti ini. Atau barangkali saya sedang ovulasi. Pasti gitu deh.

Jadi begini, saya ingin menikah suatu hari nanti namun tidak seburu-buru itu sih. Saya menghormati pernikahan karena menikah itu artinya berjanji pada Tuhan, pasangan, keluarga dan jemaat yang menyaksikan saat kata janji itu terucap. Menurut saya mengucap janji di altar itu sebegitu sakral dan romantisnya. Melihatnya, berbahagia sekali kedua mempelai dan lalu mereka terharu. Pernikahan yang amat sempurna, bahagia dengan teman-teman dan keluarga. Berhubung akhir-akhir ini saya menghadiri banyak pernikahan teman-teman saya, saya jadi memperhatikan bahwa arti ucapan itu bukan sekedar kata-kata belaka namun maknanya lebih dari itu. Lalu saya berpikir lagi, janji itu diucapkan saat sedang happy, keduanya gagah dan cantik, sehat dan subur, dalam keadaan bahagia, siapa yang akan  mengira apabila kenyataannya pernikahan akan tidak semudah itu dan janji itu mungkin saja bisa longsor oleh waktu? Saat segala rintangan, masalah datang, dan pasangan kita menjadi sesulit itu untuk dicintai, apa kita akan tetap mengingat janji itu beserta maknanya? Jawabannya: Mau gak mau harus iya! 

Kadang saya berpikir apakah pernikahan semacam sebuah goal dalam hidup manusia? Karena rasanya banyak orang yang mengukur kebahagiaan dari apakah sudah berpasangan, menikah dan punya anak atau belum. Rasanya itu adalah sebuah ketentuan yang ada di masyarakat. Saya kemarin sempat mengingat semua situasi kondangan dan lalu rentetan pertanyaan pada saya: Mana nih calonnya?  Kapan nyusul? Ayo jangan lama-lama lho! Ini calonnya mana nih kok gak diajak? Yang lalu saya jawab seenak udel sambil ketawa-ketawa cekikikan.

Apa mungkin karena saya sedang tidak ngedate dengan siapa-siapa, lalu saya jadi berpikir sejujurnya menikah bukan suatu keharusan. Seseorang seharusnya boleh memilih mau menikah atau tidak. Dan jikalah seseorang memilih tidak menikah dengan pasangannya saya pun merasa itu sah-sah saja. Menikah adalah panggilan hidup menurut saya dan buat saya menikah haruslah seserius itu, jika tidak yakin ya jangan. Bukan karena diburu-buru tante-tante cerewet, orang tua, teman atau usia. Ayolah, masa kamu menikah hanya karena alasan sudah diburu-buru bukan karena itu adalah kehendak bebasmu secara sadar dan waras. Dan apabila menikah hanya untuk melegalkan sex, saya kok tidak setuju ya. Sepertinya menikah lebih dari sekedar prokreasi dan kenikmatan saja. 

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol singkat dengan seorang perempuan berusia 30 tahun, dia sudah seperti kakak sendiri. Lalu bertukar cerita tentang banyak hal hingga akhirnya sampailah pada sebuah topik, pasangan. Dia berkata bahwa  hanya ada perbedaan tipis antara loving dan using. Terkadang itu nyaru menjadi satu tanpa kita sadari. Ternyata dalam cinta, bisa saja kita digunakan oleh orang lain. Seolah pernikahan hanyalah sebuah cara untuk lepas dari semua masalah dan belenggu seseorang misalnya belenggu ekonomi. Apabila salah satu pihak merasa 'digunakan' dan tidak lagi saling bahu membahu atas nama cinta, mungkin itu sudah menjadi egois dan timpang, baiknya putus saja. Atau misalnya si pria sedemikian mengatur urusan kehidupan perempuannya tanpa memberikan sedikit ruang, tipe-tipe pria yang harus diakui bahwa dia paling benar. Atau mungkin perempuan yang sedemikian bossy ngatur ini itu pasangannya, sedemikian cerewetnya dan kalau saya bayangkan malah saya jadi merinding sendiri. 

Sebenarnya saya merasa ada sedikit rasa khawatir jikalau pernikahan bisa sedemikian mengikatnya. Lalu sedemikian singupnya namun karena sudah terlanjur menikah jadi tidak ada pilihan lain selain  menjalani komitmen. Atau mungkin saya sedemikian egoisnya untuk menyerahkan kebebasan saya pada seseorang? Seharusnya pernikahan itu bukan suatu sangkar kan? Seharusnya dua orang bisa bertumbuh berdua dan berjuang bersama, meski dunia luar kadang tidak berpihak pada kita. Hingga saya terkadang bingung sendiri bagaimana caranya kedua orang tua saya sedemikian hebatnya bisa tetap bersama dan akur meski kadang suka ngomel-ngomel padahal mereka berasal dari keluarga yang berbeda, Ibu saya Sunda dan Ayah saya Jawa. Tapi mereka bisa tetap bersama meski dengan bahasa campur aduk. 

Mungkin benar, carilah orang yang tepat. Even somehow the right person, won't make it easier. Apalagi kalau tidak tepat udah ambyar semua. Lalu orang yang tepat seperti apa? Hmmm... saya juga tidak tahu sih. Tapi mungkin saya membayangkannya begini, seseorang yang bisa diajak argumentasi, debat heboh mempertahankan pendapatnya namun tetap bisa compromise. Seseorang yang kekurangannya bisa kamu tolerir dan bisa kamu lengkapi dengan kelebihan kamu. Seseorang yang menurutmu sexy sehingga sex life pun menyenangkan. Seseorang yang bisa mengingatkan dan menegur apabila kamu salah. Seseorang yang humoris karena menertawakan hidup adalah salah satu cara mudah menjadi bahagia. Seseorang yang membuat nyaman dan ketika bersamanya bisa menjadi diri sendiri. Dan adalah seseorang yang saat kamu pandangi dari jauh lalu dalam hati kamu berkata: Anjrit, this amazing guy kok mau ya sama gue? 


28.5.16

Konspirasi Tai Kucing #8: Pilek di akhir pekan dan selipan pikiran


Saya pikir saya akan menyimpan sedikit rasa kecewa karena belum bisa kunjung menetap di Bandung, kota kelahiran saya yang romantis itu. Mimpi untuk bisa tinggal di sana, bekerja, punya rumah, menikah, kawin, beranak dan duduk-duduk di terasnya yang adem saat sudah lansia rasanya harus dikunci dalam-dalam karena ketidakberjodohan saya dengan kota Bandung. Mungkin Aga, adik saya lebih berjodoh dengan Bandung. Saya pikir saya akan kecewa, ternyata tidak. Mungkin pada akhirnya BSD sudah menjadi saksi mata sedari kecil saya bertumbuh dan sudahlah, biarkan kota Bandung menjadi tempat yang romantis dan sendu-sendu hujan enak berpelukan di sepanjang ingatan saya dan sebagai kota di mana ari-ari saya ditanam. Saya harus mencari pengembaraan makna sendiri di sini. Sayang, kita tidak akan pernah tahu untuk apa kita di sini kan? Namun ternyata dengan menjalani hari ke hari pun rasanya saya sudah senang sendiri dan lalu menjumpai akhir pekan lagi meski pada akhirnya saya menjadi manusia penunggu hari Sabtu-Minggu. Kita semua ini sedang menunggu, meski menunggu hal yang berbeda-beda. Lalu kita semua harus bersabar dan bersabar. 

Semenjak kemarin saya rasanya nge-fly terus-terusan karena minum obat pilek dan radang tenggorokan namun malah membuat saya jadi manusia beler seharian. Hidung mampet, meriang dan panas tubuh yang semelenget. Akhirnya sepulang kantor saya ketiduran hingga pagi menjadi suatu harga yang tidak bisa saya tawar-tawar karena tubuh saya sedemikian remuk redamnya, barangkali. Ada masanya memang sebuah siklus pilek berulang agar mengingatkan saya jangan kebanyakan minum es atau kecapekkan sana sini. Etos kerja yang harus dimiliki setiap harinya agar setidaknya dianggap orang genah sedikit saja lalu menyembunyikan serangkaian alter ego. Saya rasa tidak apa-apa demikian karena realitasnya terkadang kita harus sedikit berpikir menjadi mereka si penanam modal dan lalu berjuang sendiri untuk hidup yang menghidupi. Maafkanlah saya, yang kian realistis setiap harinya dan mungkin bisa menyakiti hati kalian karena saya jadi menyadari untuk membangun rumah di dunia harus menggunakan batu, fondasi yang kuat. Dan untuk menuju ke sana saya harus jadi serombongan kelas pekerja nguli terlebih dahulu. Bekerja adalah ibadah, kamu ingat kan? Sampai di sini saya jadi semakin mengenal diri saya, kalau ternyata endurance saya terhadap rasa sakit, ketidaknyamanan dan kecewa bisa setinggi itu. Lalu saya jadi merasa itu adalah kekuatan saya. Kelemahan-kelemahan picisan yang kelewat sensitif hingga banyak perasaan atau saya yang memperhatikan kelewat detail hingga sampai detik ini menyadari itu tidak bisa di-uninstall atau merestorasinya kembali. Manusia terdiri dari serangkaian pengalaman, kemampuan dari otak reptilnya untuk terus bisa survive dan lalu menariknya ya, output pada setiap manusia bisa berbeda-beda. Mungkin ini yang membuat Tuhan asyik melihat dari atas. 

Tidak tahu, saya rasanya tidak bisa berpikir melampaui apabila bicara  Tuhan karena pada akhirnya saya hanya mampu menulis Tuhan, itu pun sifatnya fluktuatif, tidak mantap. Mungkin Tuhan itu seistimewa itu ya hingga saya tidak habis-habis menuliskannya dan menyangsikannya. Saya kadang merasa konyol sendiri karena saya sedemikian penasarannya dengan Sang Pencipta dan ini mungkin karena manusia juga adalah maha pencipta sehingga ada kebutuhan dalam diri saya untuk menyelami Dia yang terlalu dalam lalu akhirnya saya berakhir dengan mentok dan berpikir sendiri siapalah saya. Akhir-akhir ini saya sedang sok-sok serius mencari-cari jawaban yang tidak saya membuat saya menyimpulkan ini dan itu, begini ada beberapa orang yang meniadakan Tuhan dan ada yang percaya Tuhan itu ada. Dengan berbagai teori di antara keduanya dan berbagai pertanyaan dan fakta yang dijabarkan, namun tetap Tuhan tidak terdefinisi. Tidak ada yang bisa menjelaskan kalau Tuhan itu tidak ada dan tidak ada juga yang bisa menjelaskan dengan fakta keberadaan Tuhan. Seberapa istimewanya Dia hingga keberadaan-Nya pun tidak diketahui namun tidak membuat Dia menjadi ada dan tidak membuat Dia menjadi tidak ada. Ini konspirasi macam apa pula?

Saya akhirnya tidak tahu lagi mau cari ke mana dan menyudahi sejenak kalau keberadaan Dia tidak karena ada yang percaya dan tidak. Keberadannya tidak melalui batas-batasan jikalau seseorang tidak percaya, lalu Tuhan menjadi tidak ada dan sebaliknya jikalau seseorang percaya maka Dia jadi nyata. Dia sesungguhnya mungkin sedemikian rumitnya. Lalu kenapa saya percaya Tuhan ya? Mungkin karena saya merasa pada dasarnya manusia mendambakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri tempat dia bergantung, mungkin sebagian orang menyebutnya Semesta. Tapi kalau saya, mengimaninya Tuhan. Saya jadi gemas sendiri. Kebenaran-kebenaran yang kita anut juga tidak valid 100% benar karena kebenaran itu ideal dan sesuatu yang ideal belum tentu nyata. Kebenaran kita ini  sesungguhnya hanya didefinisikan dari ciri-ciri abstrak bukan quintessentially truth. Hingga tidak bisa dikatakan valid.

Seperti misalnya kita mengajarkan seorang anak menggambar lingkaran, kita akan memberikan banyak cara misal pakai jangka, meniru benda bulat, menggambar lewat kertas yang sudah ada titik-titiknya dan lalu memberikan ciri-ciri lingkaran seperti apa, hitungannya bagaimana dan sebagainya. Lalu anak ini buatlah lingkaran, sama-sama lingkaran bulat, sesuai dengan ciri-ciri lingkaran dan hitungan juga sama namun perbedaannya adalah itu belum  quintessentially truth karena hanya sesuai ciri-ciri abstrak lingkaran. Demikian juga dengan kebenaran dan keyakinan.

Sebenar-benarnya hingga saya sampai pada pemikiran, ada baiknya kita tidak terlalu sehitam-putih itu karena kita jadi abai dengan segala hal. Dan lalu meneriak-neriakkan kebenaran yang diyakininya sebagai ungkapan meyakinkan diri sendiri versi berisik. Mungkin kupingnya sudah terlampau budeg sehingga harus meneriakkan ke sana ke mari agar kuping dia juga ikut mendengar. Dan memang baiknya kebenaran dan keyakinan dimulai dari penghayatan spiritual masing-masing individu bukan koar-koar yang tak perlu.

Kira-kira sampai di sini dulu meski banyak kealpaan logika di sana sini. Dan kayaknya pilek ini sungguh butuh istirahat di sebuah akhir pekan. Selamat berakhir pekan, jaga kesehatan ya!


25.5.16

Konspirasi Tai Kucing #7: Karena saya perempuan dan tubuh sering diperbincangkan


Pagi ini saya tergesa-gesa berangkat ke kantor hingga tidak menyadari ternyata kuku jempol kaki saya berdarah-darah. Sepertinya saya tidak sengaja menendang kursi meja makan, saya terkaget-kaget dan ngeri sendiri melihat darahnya. Awalnya tidak sakit, namun setelah melihat darah mengalir segar saya baru berasa pedih. Sambil mengobati jempol kaki saya dan membersihkan darahnya, saya jadi berpikir apa jangan-jangan sebenarnya ada banyak pedih yang sebenarnya kita rasa namun tidak kita rasa-rasa karena itu tersembunyi, kasat mata? Lalu setelah menyadari ada luka di sana, sensor rasa panik dan sakit baru menyeruak keluar hingga berjengit sesaat dan buru-buru mengobati. Pentingnya kesadaran dan membuka indera lebar-lebar pada setiap peristiwa, agar bisa diperbaiki dan diobati.

Mengingat kemarin malam saya marah-marah dan panas sendiri karena membaca tweet seorang Bapak yang sedang kultwit penyebab pemerkosaan adalah berpakaian sexy serta berbagai rentetan argumen sexist yang dia punya. Ih sebal sekali rasanya hingga yang tadinya Twitter saya gembok untuk privasi, pada akhirnya saya buka lagi karena saya mau komen ke Bapak-bapak itu, tapi rasanya sih tidak dibaca. Ya sudahlah, belum saatnya saya dan Bapak itu berkenalan. Eh tapi saya akhirnya unfollow Bapak itu demi tidur-tidur nyenyak saya di hari depan. 

Kemarin saya jadi berpikir sebegitu istimewakah tubuh perempuan hingga akhirnya kepemilikan tubuh pun akhirnya harus diambil alih? Hak atas memiliki tubuh yang didogma serentetan hukum dan norma. Seolah tubuh perempuan ini salah dan menyebabkan hilangnya akal sehat laki-laki. Saya sebenarnya gemas sekali dengan pemikiran 'perempuan harus menjaga' apapun yang ada di dirinya. Aduh, bahkan bagaimana isi otak laki-laki pun harus kita jaga? Oke saya paham jikalau laki-laki itu visual dan memiliki alat kelamin yang mudah terangsang, lalu apakah kiranya itu juga harus dijaga oleh perempuan? Saya sendiri percaya bahwa laki-laki memiliki pertahanan sendiri untuk bisa tetap mengutamakan akal budinya dari pada penisnya. Tidakkah ingat bahwa manusia diciptakan dengan akal budi dan perasaan. Lalu ini menjadi timpang ketika laki-laki merasa memiliki kuasa atas perempuan, bahwa itu sah-sah saja. Dan yang paling mengagetkan adalah ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran seperti Bapak di Twitter itu. Duh semakinlah saya tepok jidat berkali-kali.

Mengapa saya sebegitu responsif dengan issue perempuan ini? Karena saya perempuan dan itu adalah tubuh saya. Itu adalah bibir saya, itu adalah rambut saya, itu adalah leher saya, itu adalah tangan saya, itu adalah payudara saya, itu adalah perut saya, itu adalah pinggang saya, itu adalah pinggul saya, itu adalah paha saya, itu adalah kaki saya dan itu adalah vagina saya. Mengapa saya tidak punya hak atas itu semua yang ada di diri saya? Saya tidak paham. Saat saya remaja, saya diberi tahu bahwa tubuh saya ini harus dijaga karena bisa saja 'mengundang', saat itu saya tidak tahu artinya. Sampai akhirnya saya berjalan sendirian dan sekelompok anak laki-laki tidak dikenal berseloroh nakal tentang tubuh saya. Hingga ada satu masa saya sebal setengah mati menjadi perempuan, terlebih karena payudara saya yang bertumbuh, dengan pantat saya yang semakin berbentuk, dengan rambut saya yang ikal dan tubuh saya yang semakin feminin. Saya dulu merasa ini salah tubuh saya yang menggoda mereka, pasti demikian. Sejak itu saya menjadi paham akan keberadaan tubuh perempuan di society. Sedari kecil anak perempuan diajarkan untuk menjaga, duduk rapat-rapat, baju tidak menggoda, perilaku santun dan satu lagi jangan jadi manusia seksual. Perempuan tidak diajarkan untuk menjadi penasaran atas tubuhnya hingga sedari kecil ketika tiba-tiba tanpa sadar bermain dengan alat kelamin sendiri, diberi tahu eits.... jangan! Ya kita tahu kenapa banyak perempuan tidak tahu tubuhnya sendiri dan akhirnya sulit orgasme ya kan? Setiap inchi tubuh kita ini seksual dan bisa juga tidak, itu tergantung dari perspektif kita. 

Lalu kemarin mendengarkan kembali lagunya Anggun yang In Your Mind begini lyricnya: I don't want to believe and I don't want to live by the excuses of your weakness. 'Cause a women should do what she wants to do, there is no reason for your shallow aggravation. Seharusnya perempuan bisa melakukan apapun sesuai keingiannya tentu dengan tanggung jawab dan sudahlah berilah ruang untuk perempuan memilih dan memiliki. 

Susah-susah gampang menjadi perempuan, terkadang saya pun harus banyak belajar menjadi perempuan yang sebegitu banyak label dan tuntutan ini itu. Bahkan tuntutan tersebut lebih kejam dilayangkan dari perempuan ke perempuan lainnya. Gila itu kejam sekali, seolah menjadi tuhan atas perempuan lainnya. Terlebih jikalau kamu gadis. Lalu berusaha untuk mengerti nilai-nilai masyarakat ini yang sepertinya tidak adil sedari lahir. Gadis-gadis yang berusaha hidup di dunia yang lebih condong ke laki-laki ini dan semuanya berpihak pada mereka. Gadis-gadis yang sebenarnya merasa pedih sendiri dengan siulan nakal, dengan pandangan yang menelanjangi, dengan celotehan melecehkan, dengan tangan yang usil. Ketika kegadisan seharusnya dirayakan dengan penuh sebagai lambang kesuburan hidup namun akhirnya mereka salah kaprah dengan tubuhnya sendiri. Mencari makna lain dari tubuhnya agar diterima oleh laki-laki, agar dicintai, dikasihi bukannya dilecehkan. Meski dengan cara yang berbeda-beda. Hingga seorang gadis sedemikian butuhnya diakui keberadaannya oleh laki-laki dan akan menjadi keprihatinan apabila mental itu terbawa sampai dia menjadi dewasa. 

Satu titik awal mengapa saya berubah pikiran tentang keberadaan saya sebagai perempuan adalah saat Oma saya meninggal di masa awal remaja saya. Melihat saat beliau tersengal memanggil 'Mama' dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, lalu saya menangis keras sekali hingga sesegukkan. Betapa tubuh sebegitu rentannya, sebegitu fananya ketika ruh tidak ada. Itu hanya kendaraan yang digunakan roh untuk berkarya di dunia ini. Pada prosesi memandikan saya pun mengintip, tubuh telanjang kaku perempuan. Air terus mengalir-mengalir membersihan tubuh. Mungkin kita manusia sebegitu terobsesinya dengan tubuh tanpa menyadari bahwa ada jiwa di dalamnya. Jiwa itu sama-sama yang memiliki ketakutan, cita-cita, trauma, sakit hati, kekhawatiran, kesenangan, kesedihan, cinta yang juga sama dengan kita. Lalu masihkah kita manusia tidak bisa saling menghargai karena pada dasarnya kita ini hanya manusia dengan berburuan makna hidup masing-masing yang tidak kita tahu artinya?

***

Dan ya, inilah saya
Saya gadis, saya perempuan 
Dan ini adalah keapaan, keberadaan dan tubuh saya
Dan saya pun menghormati dan menghargai kamu, Laki-laki
Dengan keapaan, keberadaan dan tubuhmu. 


22.5.16

Tidak Ada Judul karena Ketidakbernamaanku yang Kau Ingat


Ada selongsong rindu di dadaku yang tidak kunjung rampung menggantung
Kukira itu akan habis dalam semalam dan selesai

Ada selongsong rindu di jantungku yang mengkhawatirkan degupku
Seharusnya tidak semudah ini jatuh

Ada selongsong rindu di mataku yang menginginkan pertemuan kedua
Mencuri-curi kebetulan yang tidak ada

Ada selongsong rindu di kepalaku yang mengintai penasaran
Meregang di antara singkat percakapan

Ada selongsong rindu yang terbawa pulang olehku
Ini sepertinya milik kamu

Namun kau tak ingat namaku
Tak ingat namaku



Serpong,2016

21.5.16

Sebuah Aphrodisiac


Terbangun di satu sisi tempat tidur. Serta merta membutuhkan kehangatan hingga mencari selimut yang terjatuh di mana entah, kedua pucuk payudara yang mengeras kedinginan, kaca mata yang masih bersandar di hidung dan buku yang tergeletak di samping badan. Semalam tertidur dengan lampu menyala dan kembali bermimpi meniduri laut, menciumi tengkuknya dengan bibir berpasir, membelai lekuk punggung ombaknya dan mengecup sepi di matanya. Tiada lagi yang dibutuhkan, ketika sejumlah puisi wangi runtuh dingin di sudut kamar dan aksara sia-sia tentang cinta yang tidak lagi dipertanyakan. Mengawini laut tanpa ketakutan dan mencintai menjadi sebebas-bebasnya. Bukankah itu yang kita butuhkan?

Hiruk pikuk di sebuah kota yang bising, menyusuri jalan dengan lampu yang kekuningan dan bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga. Pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung usai dan kecemasan di setiap kening orang yang dijumpai. Mungkin kita manusia hanya bisa sedikit-sedikit cemas lalu menelusup di malam hari mencari tuhan, entah dengan wujud t kecil atau T besar. Kesendirian yang tidak sebegitu menakutkan karena masih mengalun lagu Tiny Dancer-nya Elton John dari kejauhan "Hold me closer tiny dancer, counts the headlights on the highway, lay me down in the sheets of linen, you had a busy day today." 

Perempuan yang menulis pukul setengah empat pagi tidak akan mampu lagi menyangkal ritualnya yang diam-diam dicintai dan dinikmati. Pagi yang awal tanpa riuh: ayam berkokok, bayi yang menangis minta susu, bunyi air yang gemericik, wangi masakan di dapur, cengkrama singkat dan ketergesaan yang lompat meminta perhatian. Semuanya dijalani pelan-pelan-lalu-detik---mengalir---lambat----lambat---sekali.

Menyibukkan diri dengan tuts-tuts keyboard yang berbunyi tik-tik-tik-tik dan suara diri sendiri yang menggaung di kepala. Meyakini akan tiba saatnya seseorang yang sungguh mengerti ritual singkatnya tanpa banyak bicara dan si perempuan akan memandanginya sesekali ketika ia sedang tertidur lalu akhirnya mengecup keningnya, meski si laki-laki tidak terbangun dan menyadarinya. Ketika menelusup jemari di tubuh laki-laki itu adalah kenyamanan itu sendiri dan memeluknya menjadi energi ratusan watt untuk menjalani hari. Dan laki-laki itu kini belum datang, belum datang. 

Apakah akan ada seseorang yang sedemikian lelahnya mencari dan lalu berhenti mencari hingga akhirnya duduk di sisi perempuan karena sudah merasa cukup? Karena si perempuan sudah lelah mencari dan tidak membutuhkan pertemuan mubazir yang hanya mengunci ketertarikan dari pandangan mata dan tubuh saja, ia sudah selesai membicarakan tubuh. Ketika ciuman-ciuman sudah selesai di malam yang lampau dan tidak lagi menjadi hangat lalu. Pengalaman seketika menjadi guru killer yang mencoret seluruh kertas ulangan matematikanya dengan tinta merah dan melingkari semua jawabannya yang salah. Perhitunganmu salah, Perempuan! Logikamu amburadul, Perempuan! Dan si perempuan tahu dia bukan seseorang yang dianugerahi otak secemerlang itu hingga terus menerus penasaran dan bertanya menjadi keahliannya.

Apakah masih ada seseorang yang sudah usai dengan kesombongan alpha male-nya yang harus memenangkan segala hal dari si perempuan termasuk sedikit nalar dan otaknya? Lalu akhirnya mencintai bukan alasan sebuah karena namun diri itu sendiri. Lalu ketika ciuman-ciuman gairah selesai, kecupan di tengkuk sudah luruh, pelukan tidak lagi diketatkan dan persenggamaan sudah membosankan. Apalagi yang tersisa? Percakapan-percakapan yang lahir dari cerebrum, otak besar kita. 

Mungkinkah ada seseorang yang sederhana saja, biasa saja, dengan segala penziarahan hidupnya, duduk di sini sejajar. Di samping. Tidak duduk di depan dan tidak di belakang. Berbagi sedih dan tawa di ujung hari, membicarakan hal-hal yang sederhana namun tidak sesederhana itu, bergandengan tangan lalu sesekali berpandangan tersenyum, mengetatkan peluk dari jarak dan mengakhiri segala tanya yang tidak perlu. Dan memulai. Karena rasanya si perempuan tidak seromantis itu untuk segala banyak tetek bengek sia-sia candle light dinner yang canggung, hadiah-hadiah berkilau dan bouquet mawar. 

Hadirilah dengan realitas dan mimpi yang getir karena cuka asam sudah biasa di mulutnya, pemandangan kota yang biasa saja, tukang soto ceker di pinggiran jalan, temaram lampu kota, kedai kopi kecil, pasar, atau perpustakaan yang penuh buku lalu pemikiran-pemikiran yang menjadi keingintauan untuk dijelajahi dan dipertanyakan. 

Adakah seseorang yang sedemikian bisa diajak bercakap-cakap tanpa ada prasangka dan meyakinkan diri bahwa dia paling benar dan pintar? Dan adakah seseorang yang mampu menawarkan si perempuan aphrodisiac yang memberikan getaran pertama pada sanggurdinya akan pembicaraan panjang tentang: Tuhan, manusia, mimpi. manifestasi cinta, berita-berita yang berkoar-koar di tivi lalu menertawakannya, artikel panjang tentang nalar ketuhanan dan keyakinan yang banal, kapitalisme yang tentu akan berbicara tentang Karl Marx dengan: 'Derita termasuk kenikmatan manusia', berbicara tentang humanisme, berbicara tentang idealisme, berbicara tentang filsafat yang tidak kunjung dimengerti namun dinikmati dengan sisa-sisa otak si perempuan. Dan jikalau sudah selesai marilah kita berbicara tentang hidup. 

Hingga akhirnya mengerti, bahwa si perempuan membutuhkan laki-laki yang bisa bersenggama dengan pikirannya. Sebuah aphrodisiac


Serpong, 2016

gadispayungkuning



new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...