18.6.15

Membaca di Setiap Jeda dan Kebetulan

Halo lagi! Setiap kali menulis di sini aku seperti habis melakukan hiatus panjang dan datang-datang perlu menyapa. Yailah, padahal yang tidak aku miliki adalah komitmen untuk sekedar duduk dan mengumpulkan kata-kata tumpah (hehe). Keseharian tidak ada yang baru karena masih saja berlarian dari tegangan satu ke tegangan lainnya. Kebaruan rasanya tidak menjadi obsesiku lagi karena esensi deg-deg-serr yang dikejar kini sudah nambah dosisnya yakni memilih antara endurance atau curiosity ? Itu sih. Kini motif yang mengikutinya pun berbeda-beda. Menarik ya, ketika memperhatikan diri akan muncul reaksi: ketabahan atau penasaran dalam menjalani event nyata dalam hidup (ciyegitu). Meski kita memang selalu dituntut untuk selalu chill yang akhirnya berujung dengan pechillchillan (baca: ngebut ngerjain tugas kuliah dan kerja). 

Di tengah kegiatan bersosialisasi dan menarik diri dari pergaulan, kemarin aku sempat melakukan leisure reading lagi yang membuatku ketagihan lagi untuk membaca buku fiksi. Kemarin aku membaca sebuah buku lama keluaran tahun 1997. Buku ini buku terjemahan Gramedia yang berjudul The Celestine Prophecy (Manuskrip Celestine) karya James Redfield. Aku membaca buku ini setelah 'disuruh' membaca oleh Ibu, menurutnya buku ini cocok banget buatku. Aku sih sebenarnya cukup skpetis dengan penampakan buku yang mirip dengan buku lama Daniele Stelle yang sudah terbayang gimana alur ceritanya dan dramaknya. Namun, ternyata memang kita hanya perlu memberikan kesempatan pada apapun yang ditawarkan hidup pada kita, jikalau kita terpanggil untuk melakukannya, ya coba aja sih.

Buku bersampul lecek dengan kertas sudah kekuningan ini sebenarnya adalah milik seorang bapak  teman orang tuaku yang rasanya setahun yang lalu memberikan buku ini pada babeh. Babeh sudah sempat memberi tahu bahwa ini buku bagus, lalu ibu kemarin pun membacanya dan heboh luar biasa. Jadi, aku tidak punya pilihan lain selain ikut membacanya. Aku tidak merasa akan nyantol sedemikian rupa, namun kembali lagi bahwa setiap buku membawa pesan untuk seseorang, jadi apabila buku tertentu tidak "ser-seran" buat kamu ya artinya buku itu memang bukan untukmu. Simple. Tidak apa-apa.



 

26.5.15



Dalam seribu sabda semesta di pelukan Tuhan
Bolehkah aku meminta satu 
Satu saja permintaan

Kucoba semua cara
Namun tidak kutemukan juga
Milikku satu 
Aku hanya ingin satu, tidak dua atau tiga

Yang seperti hujan
Jatuh setitik lalu deras

Yang seperti lautan
Selalu kembali menghampiri pantai

Yang seperti angin
Menyusup perlahan namun hadir

Yang seperti langit senja
Merona merah tanpa abu

Dan pasti dia adalah pulang dan tujuan
Ribuan peluk di hari-hari mendatang



26.4.15

Perempuan Bukan Hanya Lubang




Lima hari yang lalu kita merayakan Hari Kartini. Terlihat banyak postingan di twitter, instagram, facebook dan media sosial lainnya yang sibuk update status tentang Selamat Hari Kartini! Bergembira dengan euforia Hari Kartini ini saya lakukan dengan merenung saja di kubikal saya di kantor. Sembari bekerja dan berpikir tentang esensi Hari Kartini ini. Ya...inilah salah satu kelebihan perempuan, multitasking. 

Issue tentang perempuan selalu ada di mana-mana, Saya pun hanya bisa mengikuti issuenya setengah-setengah lewat twitter saja. Diawali dengan kasus perjuangan Ibu-Ibu di Rembang yang memperjuangkan tanahnya, sumber hidupnya dari sebuah pabrik semen. Berlanjut dengan kasus pembunuhan seorang perempuan yang adalah seorang 'penjaja cinta online' yang dibunuh pelanggannya karena merasa sakit hati. Berlanjut dengan kasus Mary Jane yang akan dihukum mati karena kasus menjadi kurir narkoba dan usut punya usut beliau sebenarnya adalah korban trafficking, dan kasus-kasus perempuan lainnya. Kita melihat, kita mendengar kasus-kasus tersebut. Entah memang hanya gembor-gemboran media yang hanya menitik beratkan satu kasus saja sehingga mengaburkan fakta atau sebenarnya berita ini hanya untuk menutupi kasus besar lainnya. Tidak ada yang tahu permainan ini kan?

Perempuan masa kini

Kini zaman sudah berubah, perempuan pun sudah mempunyai ruang gerak yang lebih banyak di ruang publik. Namun apakah iya perempuan sudah mempunyai haknya yang sepenuhnya atas dirinya sendiri? 

Beberapa waktu lalu saya sempat nguping pembicaraan. Saya memang usil dan doyan nguping dengan muka sok cuek tidak peduli saya, padahal saya mendengarkan sepenuh hati. Oke saya ngaku dosa di sini. Kemarin saya nguping pembicaraan beberapa pria usia kisaran 30-45 tahun di cafe. Mereka sedang bercengkrama dan bersenda gurau. Menurut analisis saya mereka adalah teman bisnis karena mereka berbicara tentang usaha mereka lalu pada akhirnya nyerempet ke urusan perempuan. Singkat cerita mereka berbicara tentang business trip mereka yang berakhir dengan entertain yakni yang tak lain tak bukan adalah perempuan. Pembicaraan mereka seolah sedang berbicara tentang 'barang baru' yang masih kinclong, bagus, tersegel dengan baik. Lalu mulailah mereka berbicara teman kantor perempuan mana yang bisa 'dipakai'. 

Ibu saya selalu berpesan kalau nguping itu tidak sopan dan hari itu saya nyesel harus nguping pembicraan mereka. Bukan hanya karena saya merasa tidak sopan tapi akhirnya saya tersadar bahwa ternyata hal ini ada di dunia nyata. Naif sekali ya saya. Lepas dari pembicaraan om-om tadi, saya jadi pusing sendiri. Mungkin perempuan yang dibicarakan om-om tadi memang memanfaatkan seksualitas mereka untuk mencari uang atau mencari jalan agar perjalanan karir mereka bisa 'lempeng'. Namun di sini saya jadi tertohok karena tetap saja di mata society, perempuan itu dihakimi dari seksualitasnya. Seolah adalah barang komoditi yang bisa diperjual belikan. Seolah menjadi objek. Padahal seharusnya tubuh perempuan adalah miliknya sendiri bukan milik society. Mengapa soal menyoal tubuh perempuan dan keperawanan harus diatur juga oleh society sih? Tidak paham. 

Lubang

Terkadang tidak adil apabila society melihat perempuan dari sisi itu saja. Saya ingat pernah membaca sebuah buku, saya lupa judulnya apa. Buku itu seperti sebuah pemberontakan perempuan akan pandangan masyarakat tentang virginity. Di sana ia menjelaskan bahwa ia merasa seolah Tuhan itu seperti memberikan segel pada perempuan yang sekali dibuka habis. Seolah pada saat pembuatan perempuan, seperti di pabrik-pabrik yang peralatannya bisa mencomot satu-satu lalu kaki-kaki perempuan dilebarkan lalu diberikanlah segel yang adalah hymen di selangkangan mereka. Sehingga alhasil kalau segel itu dirobek, barang harus dibeli. Saat membaca itu rasanya saya sempat tertawa miris. Penggambaran yang sadis sih namun tidak ada yang bisa lebih baik lagi menggambarkannya. 

Oh ya saya juga sempat sebal sekali dengan sebuah berita tentang test keperawanan yang ada di beberapa sekolah apabila ingin masuk belajar di sana. Haduh, saya cuman bisa tepok jidat sambil geleng-geleng saja, mungkin maksudnya test moral seorang individu lha tapi kok ya di selangkangan ya? Memang moral yang crucial hanya dari sex before married? Kalo punya penyimpangan suka kekerasan, tidak bisa menghargai orang lain itu bukan moral juga? Kenapa harus selangkangan yang ditest, lha memang otak di selangkangan? 

Zaman sekarang, sebagai anak muda kita harus berjuang lebih keras karena persaingan semakin ketat dan tenaga kerja asing dibayar double atau berkali lipat salarynya dari kita. Kalau misalnya generasi tua msih sibuk test persoalan selangkangan oh pasti Indonesia akan tertinggal jauh.

***

Perempuan bukan objek dan bukan barang komoditi yang diperjual belikan. Saya rasa perempuan harus punya hak sepenuhnya atas tubuhnya sendiri. Urusan tubuh biarkan perempuan yang memutuskan. Perempuan juga bukan hanya perkara lubang. Kita perempuan dan laki-laki, semua lahir ke dunia ini dari seorang perempuan lewat lubang itu. Dan lubang itu namanya: vagina. 




19.4.15

Pembicaraan Kecil

Lucu rasanya ketika sering kali saya merasa tidak yakin dengan ini dan itu. Saya terkadang merasa kalau semakin saya dewasa, saya semakin tidak yakin dengan apa yang saya ambil, apa yang saya rasakan dan apa yang saya pikir. Saya selalu merasa kalau apa yang saya rasakan, pikir dan lakukan selalu salah. Kenapa ya? Rasanya semakin takut apa pikiran orang lain, takut di judge ini itu dan lain-lain dan sebagainya. Memang begini ya dunia orang dewasa? Apa sebenarnya orang dewasa itu memang penuh dengan ketidakyakinan dan kebimbangan ini itu? Saya terlalu takut dengan apa pikiran orang lain pada saya. Padahal mungkin orang lain sendiri sebenarnya takut sendiri dan hanya peduli dengan diri mereka sendiri. Bukankah begitu?

Tadinya sih saya tidak mau berbagi tentang hal ini di blog secara malu kan ya... masa ketakutan diri sendiri diumbar-umbar. Namun hati ini kembali bicara "Hello...pede amat ada yg baca blog lu." Oh iya... kan blog nya jarang pengunjung ya haha. Hingga kembali lagi fungsi blog ini sedari awal yakni saya menulis blog bukan untuk orang lain tapi untuk kebutuhan diri sendiri. Sehingga memang kalau untuk kesenangan sendiri dan kebetulan tidak ada yang baca harusnya saya santaaaaaaaaaiii aja dong kayak di pantai, ya nggak?

Meyakini sesuatu yang kita yakini sendiri itu tidak mudah. Dan hal yang paling sulit sebenarnya bukan meyakinkan orang lain akan sesuatu namun meyakinkan diri sendiri kalau apa yang sedang kita lalui sekarang ini memang baik untuk ke depannya. Oh shit.... men! Itu susah sekali. Meyakinkan diri sendiri kalau inilah jalan yang sebenar-benarnya. Jeng-jeng-jeng-jeng. Itu yang sulit untuk saya. Seharusnya sih lebih berserah pada Tuhan ya.... tapi kan...kan ...kan.. kadang saya bandel. 

Saya selalu percaya kalau segala sesuatu ini bukanlah kebetulan namun merupakan sebuah rencana dari Tuhan. Bagaimana kita bertemu dengan orang lain, kenal dengan orang lain, perpisahan dengan orang lain semua bukan kebetulan semata. Jadi saya juga percaya kalau apa yang sedang dialami ini sebenarnya membawa kebaikan dan pembelajaran agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dan satu hal lagi yakni, tetap menjaga attitude dan tindakan kita ketika rasanya kita ingin jambak rambut dia atau mungkin nonjok mukanya, memang sesuatu yang harus dilatih. Kita tidak harus menjadi evil untuk menginginkan sesuatu ada pada tempatnya. Dan kita harus menjaga attitude kita karena itu adalah keputusan kita. Seberapa sulitnya itu. Saya juga bingung kenapa ya demen amat orang-orang ini saling bohong, saling tunjuk, saling ngomel, saling marah-marah, Buat apa sih? Ngga paham saya kadang. 

Dan yang menjadi bagian paling lucu adalah sekarang saya bukan penonton lagi tapi juga pemain yang bisa memilih peran dan lakon saya sendiri. Saya mau menjadi apa? Sial. Saya gak bisa ya duduk di pojokan liatin mereka saling bacok aja? Seperti nonton Game of Thrones gitu haha.. Ah..ya udahlah ya. Saya kerjain saja bagian saya, sisanya saya berikan pada Tuhan. Karena Dia Bapa yang setia.


12.4.15

Keintiman


Beberapa hari ini saya sedang merasa geram dan uring-uringan membutuhkan penjelasan secara rinci mengenai beberapa pertanyaan yang crucial bagi saya. Akhir-akhir ini saya sedang diganggu dengan banyak pemikiran tentang hubungan manusia dan Tuhan. Saya tahu saya terlalu serius dan mengawang-awang akan pemikiran ini. Mungkin orang lain menganggap saya berlebihan karena memang sebenrnya yang seperti ini jarang dipertanyakan.

Suatu sore saya pernah sedang ngobrol-ngobrol santai namun berubah menjadi tidak santai karena orang yang bersangkutan mulai menceramahi saya akan kehidupan agama yang baik sebagai seorang Katolik dan kiat-kiat menjadi seorang Katolik yang lurus dan lempeng. Saya rasa mungkin dia merasa saya ini belok-belok. Mendengar ocehannya dari A-Z, meninggalkan reaksi saya yang sekedarnya, hanya manggut-mannggut saja sambil berpikir "Aduh standard apa lagi sih yang harus saya lalui hanya untuk bisa menjadi orang "saleh" ini? Kok rasanya saya ini bandel dan pendosa sejati karena berdoa bolong-bolong, tidak devosi, tidak puasa, jarang ikut acara gereja. Karakteristik seperti apa lagi yang harus saya punya agar tidak lagi menjadi seorang Katolik yang KW?" Menurutnya saya ini terlalu banyak mempertanyakan banyak hal tentang agama dan Tuhan. Menurut beliau juga saya ini terlalu bandel untuk sekedar "tidak melihat namun persaya" seperti yang dikatakan Yesus saat Thomas mencucukan jarinya ke luka-luka Yesus. Mungkin saya ini versi Thomas yang lebih cerewet dan banyak bertanya. Otak saya tidak pernah puas begitu saja. 

Sakit hati

Selain saya ini terlalu banyak mikir, saya ini juga sensitif hingga menjadi pas duo kelemahan saya ini. Namun kalau saya tidak banyak berpikir kritis dan sensitif, bagaimana mungkin saya bisa jadi penulis? Karya apa yang mau dihasilkan kalau saya bebal dan mau terima jadi begitu saja? Baiklah, itu adalah kelemahan yang berbuah manis pada akhirnya.

Kembali lagi, saya masih teringat jelas ketika saya masih kuliah di Taiwan yang notabene adalah atheis. Betapa saya merasa pencarian saya akan Tuhan dimulai dari sana. Saya harus mencari cara sendiri untuk bisa mencari Tuhan yang ternyata memang bisa kita temui di mana-mana. Di sana saya mengenal banyak teman yang agnostic dan atheis, namun saya merasa enjoy-enjoy saja mengenal dan berteman baik dengan mereka. Saya jadi mengenal konsep Tuhan yang berbeda dengan apa yang saya kenal selama ini. Hal yang membuat saya takjub adalah mereka tidak memojokan dan menjejalkan konsep mereka akan Tuhan. Saling menghargai saja cukup, hidup baik dengan sesama saja cukup, itulah mereka. Saat itu saya merasa kita memang beda tapi sesuatu yang beda ini tidak perlu dicari-cari yang sama, hanya perlu diterima kalau berbeda lalu ya sudah. Selesai. Hingga saya tidak pernah debat hingga panas hati, ribet gono gini. Hingga kadang saya bingung kenapa sih kadang kita di sini harus meributkan persoalan Tuhan? Saya kurang paham. 

Lalu saya kembali ke Indonesia yang adalah negara beragama. Ada perasaan senang karena pada akhirnya Tuhan semakin mudah dicari karena gereja banyak di mana-mana dan komunitas rohani pun tersedia banyak. 

Hingga akhirnya saya menemukan perbedaannya, Ada beberapa orang yang ternyata masih tidak mengerti dan menerima bahwa penghayatan akan Tuhan untuk masing-masing individu berbeda-beda. Ada banyak standarisasi yang diterapkan untuk bisa dicap sebagai orang beragama dan benar. Hingga jika seandainya jikalau saya jarang ke gereja dan beribadah, satu kecamatan bisa tahu. Aduh saya gerah sekali. Kenapa sih hubungan manusia dan Tuhan tidak diurusi masing-masing saja?

Intim

Menurut saya hubungan seseorang dengan Tuhan itu sesuatu yang tidak bisa diukur dengan apapun. Seberapa sering kamu beribadah, berdoa, puasa  tidak menjadikan kamu jadi lebih dekat dari pada yang frekuensinya jarang. Itu adalah penghayatan iman, seberapa dalam kamu mengenal Dia dan melakukannya di kehidupan sehari-hari. Iman tanpa perbuatan adalah mati, Ingat?

 Dan sebenarnya acara kenal mengenal ini adalah sesuatu yang pribadi karena yang mengetahui kedalaman rasa akan suatu hubungan hanyalah kedua belah pihak itu sendiri. Hubungan ini adalah hubungan yang unik dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk me-maintain hubungannya.

Hubungan ini adalah hubungan yang intim tidak untuk digembar-gemborkan dengan khayalak ramai. Kita bukan exhibitionist kan? Hingga sudah seharusnya dilakukan diam-diam agar saya dan Dia saja yang tahu. Hubungan manusia dan Penciptanya ini sangatlah unik dan biarlah serahkan pada mereka berdua lalu fokuslah dengan hubunganmu sendiri dan tidak perlu repot-repot judge orang lain. 

Terkadang saya suka bertanya sendiri, kenapa sih secara tidak sadar kita suka menjadi tuhan untuk manusia lainnya? Kenapa ya?

***

Lalu Ibu saya yang seringkali menjadi tempat curhat dan dengar omelan saya nyeletuk,  "Jadi, orang tuh ya Met, gak usah ribet dengar kata orang. Capek. Biar saja mereka, toh kamu yang tahu persis dan kamu yang jalani. Anjing menggonggong khafilah berlalu."

"Ya...iya sih Bu." 


7.4.15

Awal April dan Pilek yang Belum Sembuh


Tanggal Maret di kalender sudah berguguran di sudut kamar. Puasa Prapaskah sudah berganti dengan kebangkitan Tuhan Yesus. Sudah selesai. Bulan Maret yang sendu dan sepi. Bulan ketiga di satu tahun ini. Terasa cepat sekaligus terasa lama. Namun dalam satu helaan nafas Maret berlalu. Lama-lama saya jadi ngeri sendiri dengan cepatnya waktu. Waktu ini cair sekali bisa mengikuti wadah. Sewaktu-waktu bisa memuai, mencair, membeku, menyublim dan mungkin menguap. Bagaimana ini? Sampai kadang saya takut mati. Saya tahu sih pada akhirnya kita semua akan mati. Mendengar berita si ini mati, si itu mati lalu dia juga mati membuat saya bergidik sendiri. Bisa saja hari ini saya menengok mendoakan jasad yang terbujur kaku di liang kubur, lalu bisa saja keesokan harinya jasad saya yang ada di sana. Saya sempat terpikir apa ya rasanya detik-detik ketika kita mau mati? Ketika nyawa kita melayang-layang sebentar di udara mengawang-awang lalu memandangi tubuh kita yang sudah ditinggalkan. Pasti bingung. Tidak tahu saya.

Tiba-tiba saya menulis tentang kematian karena semata-mata sedang melewati fase di mana ada kenalan yang meninggal tiba-tiba karna suatu hal yang remeh temeh. Saya tidak tahu mau menulis apa sesungguhnya. Mungkin otak saya sedang kosong sekaligus penuh dengan sejuta pertanyaan dan pemikiran. Atau mungkin saya sedang panik karena besok Senin. Haha. Mungkin begitu.

***

Mensyukuri bahwa Maret sudah selesai dan berganti dengan April sebenarnya membawa kelegaan pada saya. Karena satu-satu selesai lalu saya harus siap kembali melangkah untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Aneh rasanya. Namun mungkin begitulah hidup semua berubah. Kalau tidak berubah tandanya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Oleh-oleh dari bulan Maret adalah pilek yang tidak kunjung sembuh,  saya masih sibuk buang ingus sana sini. Lalu mampet dengan suara bindeng. Hingga ibu saya pun bercanda kalau mungkin belahan jiwa saya entah di mana juga sedang pilek juga. Ah elah. 

Berbicara tentang belahan jiwa, rasanya saya jadi kangen juga dengan perasaan 'lucu-lucu' cinta itu. Lama ya... saya sudah tidak bicara lagi tentang cinta. Rasanya hampir dua tahun ya? Lucu sekali tiba-tiba saya ingin jatuh cinta lagi. Bahwa ternyata hati yang sudah saya taruh entah di mana itu seolah minta diambil lagi. 

Kemarin saya melihat-lihat facebook lagi dan melihat foto lama, lalu sebentar menengok facebook dia. Saya sempat berpikir sejenak apa ya yang membuat saya dulu jatuh cinta setengah mati dengan orang ini? Heran. Saya juga tidak tahu kenapa. Ya memang ganteng, tinggi dan kumis brewokan sih, namun setelah saya cukup lama melihat. Dia tidak semenawan dan seganteng itu. Ganteng... tapi ya udah. Gitu aja. Gila, pasti spell nya dan chemistry nya sudah habis kadaluarsa. Atau mungkin saya jatuh cinta karena dia 'baik'? Tapi ah semua orang juga baik kok. Ah sudahlah tidak masuk akal, toh sudah lewat. Tapi tetap sih menurut saya dari dia saya belajar banyak tentang menghargai diri sendiri, tentang laki-laki dan tentang cinta. Fuih... untunglah sudah selesai episodenya tidak pakai acara ditambah-tambah lagi. Mau nangis berapa ember lagi? Ih... kamsiah. 

Pemulihan patah hati itu tidak secepat itu, butuh waktu. Dan naik turun dua tahun belakang ini memang lumayan terasa capeknya juga. Sesudah patah hati biasanya kita jadi lebih reflektif dan mungkin sedikit insecure. Pada saat inilah memang saya jadi lebih fokus dengan apa yang saya mau, membuat rencana dari awal, menyiapkan masa depan lagi. Awalnya sulit, tapi sekarang jadi terbiasa lagi. Sudah selesai masa itu saya boleh berbangga dengan diri sendiri ternyata saya bisa jadi independent ini. Ternyata saya bisa. 

Untuk mencari cinta lain tentu tidak akan semudah itu karena pada akhirnya saya jadi lebih berhati-hati dan memilih untuk kosong tidak terlebih dahulu. Namun entah mengapa tiba-tiba saya rasa saya sudah siap untuk orang baru. Dengan siapa entah. 



28.2.15

Syukur syukurin


Setelah sekian lama tidak ngeblog akhirnya ada waktu juga untuk duduk diam sejenak dan menguras otak, apa ya kiranya yang bisa saya tulis lagi? Terkadang kegiatan menulis itu tidak datang begitu saja namun  harus ada kajian lebih lanjut dan mood. Nah... terkadang mood inilah yang swing banget. Saya tahu sih, kalau penulis yang sebenar-benarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Namun saya kan amateur writer jadi cincai lah ya. Okesip.

Puas?

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir sendiri mengenai fenomena rasa syukur. Uooh... hell yea so deep. Iya. Saya sedang berpikir dengan keras, keras sekali menggunakan otak saya yang hanya seuprit ini. Kok susah ya untuk bersyukur atas segala apa yang kita miliki dan alami? Oh men, bunuh gue aja sob.  Seperti misalnya masih diberikan nafas setiap harinya, masih diberikan pekerjaan, berterima kasih atas orang-orang yang kita sayangi, makanan yang kita makan, rekan kerja, sahabat kita, atau rezeki kita. Rasanya susah sekali menghitung kebaikan-kebaikan yang ada dan yang terlihat hanya kekurangan-kekurangannya saja, kurang puas, kehidupan yang gini-gini aja, kisah cinta yang amit-amit dan sebagainya. Sehingga kesempatan untuk berdiam diri, tersenyum dan bersyukur itu jarang. Ih... capek tau bernegatif ria dengan pikiran-pikiran itu karena hanya menimbulkan masalah baru dan ujung-ujungnya sakit. 

Kebetulan saya ini tipe manusia yang nyebelin, saya ini manusia yang tidak pernah puas. Selalu harus ada goal yang harus saya kejar dan saya dapatkan, kalau saya gagal saya bisa penasaran setengah mati dan harus sampai ke sana. Terkadang capek juga ya seperti itu, apalagi kalau saya sudah mulai tidak sabaran dengan apa yang sedang saya jalani. Ih... rasanya ingin saya tinggalin. Bye. Namun ternyata hidup ini bukan perihal tinggal meninggalkan lalu melarikan diri namun seberapa kuatnya kamu bertahan sampai kamu dapat goal yang kamu mau. Ya gak sih? Sehingga dalam proses itu kamu harus memiliki rasa syukur. Karena rasa syukur ini adalah rasa positif untuk bisa bertahan. Percayalah. 

Bukan lihat ke bawah

Suatu hari saya ada training singkat melihat-lihat produksi di suatu pabrik, memperhatikan kondisi mesin seperti apa, pembuatan produksi seperti apa. Dan  ternyata pabrik itu seberisik, sepanas dan segerah itu. Seharusnya saya melihat-lihat bentuk dan cara produksi sebaik-baiknya namun ada satu hal yang mencuri perhatian saya. Saya merasa tergelitik dengan sebuah quote yang ditempel di dekat mesin produksi. Kira-kira bunyinya begini: Kalau tidak kerja, mau makan apa? Dan banyak sekali quote-quote serupa yang ditulis besar-besar beserta doa keselamatan kerja. Banyak loh orang di luar sana yang memang literally jika  tidak kerja bisa gak makan. Menurut saya makan itu kan salah satu kebutuhan pokok manusia dan ketika itu tidak terpenuhi manusia bisa mati. Lalu saya berpikir lagi, banyak manusia yang bekerja sebegitunya untuk menyambung hidupnya, kerja hingga larut malam dan bekerja penuh resiko keselamatan. Lalu tiba-tiba teman saya ada yang bisik-bisik ke saya "Gila, kita harusnya bersyukur sekali ya bisa kerja di gedung AC, dingin, duduk, selamat tidak perlu panas-panas di sini meski hati dan kuping panas banget diomelin melulu... haha". Deg. Lalu saya merasa kok ada yang aneh ya dengan pernyataan ini.

Harus ya kita bersyukur atas kehidupan kita yang lebih 'beruntung' dari mereka? Maksudnya mengapa dengan melihat ke bawah terlebih dahulu baru kita bisa sadar dengan apa yang sudah kita punya? Lalu kita baru bisa menikmati apa yang ada yang kita punya? Kenapa sih harus lihat ke bawah dulu dan seolah bersyukur kalo nasib kita tidak seperti mereka? Saya kok tidak setuju ya? 

Lalu kemarin saya iseng kepo melihat instagram orang lain. Orang ini posting foto dia dengan petani di daerah Tasikmalaya lalu captionnya seperti ini: "Kita harus bersyukur sekali karena gak bisa terbayang kalau kita harus kerja seperti mereka." Men....oh men. Lo ga salah, cuman dapet ginian doang jauh-jauh sebulan KKN ke Tasikmalaya lalu pulang mikirnya gini doang? Di situ saya merasa sedih. 

Bukan perbandingan

Saya tahu sih kalau saya bukan orang alim lurus ke depan, saya juga sering belok-belok, tapi menurut saya bersyukur itu maknanya jauuuuh lebih dari itu, lebih dalam lagi. Kita kerap kali bersyukur karena kita merasa lebih mujur dari mereka.Sampai kita lupa caranya bersyukur dan menerima apa yang saya punya yang sudah Tuhan berikan pada saya. 

Apakah benar kalau kita baru bisa bersyukur apabila melihat situasi orang lain lebih buruk dari kita dan kita berkata: "Aduh bersyukur sekali ya kita ga harus seperti mereka..." Saya rasa bukan bersyukur  model begini yang sesungguhnya. 

Hingga beberapa minggu yang lalu ada kotbah pastor yang menurt saya mengena di hati. Begini bunyinya, "Sudahkah saudara bersyukur dan menerima segala kesulitan dan tantangan yang Tuhan berikan pada anda dan bukan hanya bersyukur pada hari baik saja?"

Lalu dalam hati saya menjawab  "Eh.... please ya Romo kalau yang itu levelnya masih ketinggian. Belom nyampe saya. Tapi masih otw ke sana sih."  Malunya saya ini. Oh manusia. 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...