23.7.12

Pribadi Kondang

Seorang teman menulis di twitter: " Suatu hari nanti aku pasti akan menjadi seperti si X (temannya juga) dengan berbagai achievements yang dia gapai!" Aku yang sedang asik leha-leha di kursiku sampai terjungkal cekikian sendiri di kursi, untungnya aku bisa duduk kembali .  Aku mengerti sekali kegalauan dan ambisinya. Namun jauh sekali di hatiku berkata, kenapa juga kali musti menyamakan diri dengan orang lain untuk menjamin kesuksesan  masa depan? Jenis kulit aja beda-beda, ada yang mulus, ada yang bopeng-bopeng, ada yang jerawatan, bagaimana dengan nasib?

Memang susah jadi diri sendiri 

Dunia ini terlalu kejam untuk kita berdiri tegak jadi diri sendiri. Untuk kita jadi apa yang adalah pribadi kita. Sepertinya lingkungan sekitar kita terlalu banyak berharap ini itu pada kita, berharap agar kadar sukses kita seperti cara padang mereka. Berharap agar penampilan kita bisa sekece yang mereka lihat di media, padahal mereka juga kena photoshop sono sini.

Lingkungan kita tidak mau menerima diri kita apa adanya karena mereka juga diperlakukan hal yang sama seperti itu. Jadi bisa kita lihat dong betapa susahnya seorang pribadi untuk jadi dirinya sendiri seutuhnya. Memang terkadang kita harus menulikan telinga kita, pura-pura budeg.

Memang seberapa jeleknya  kita untuk bisa menjadi diri sendiri? Apakah se-out of date itu yah untuk jadi diri sendiri, dengan gaya, mode, pemikiran sendiri? Kenapa juga sih harus malu untuk menunjukan jati diri kita yang sejati. Apakah kita tidak capek untuk berpura-pura menjadi diri orang lain? Kenapa sih kita musti ikut pemikiran orang lain dan menjadi ideal untuk orang lain? Kenapa kita tidak bisa dengan bangganya mempersembahkan apa yang kita punya, apa yang Tuhan kasih tanpa mesti rubah sana sini?

Pentingkah jadi kondang? 

Ya...ya aku juga tahu kalo yang satu ini pasti banyak yang mau. Ya nggak, ya nggak? Manjadi seseorang yang dikenal atau pribadi kondang, yang terkenal di kanan kiri, punya teman segudang, punya teman facebook ratusan atau ribuan, yang tersohor akan keahlian atau kemampuannya, yang status facebooknya dilike ratusan ribu orang (lebay haha) atau mungkin yang mendapatkan penghargaan ini itu. Siapa yang tidak ingin, coba?  Pasti ada deh orang diluar sana atau mungkin kamu sendiri yang sedang membaca tulisanku ingin atau sudah seperti itu. Hey, tidak usah tersindir lagi, tidak dosa kok dan tidak salah juga :) Itu adalah sebuah achievement hebat, yang terkadang memang harus kita dapatkan sebagai sebuah penghargaan untuk diri kita sendiri dan merasakan bahwa hidup ini benar-benar hidup. Seperti yang kubaca di majalah-majalah kalau ambisi dan rasa percaya diri itu suatu sex appeal, sesuatu yang seksi. Misalnya kita melihat orang yang benar-benar punya passion untuk suatu hal pasti kita akan melihat energi positif dari diri dia dan matanya pasti berkilat-kilat penuh semangat. Ketika ambisi dan passion itu berasal dari diri sendiri tanpa ada embel apa-apa itu yang jadi murni dan sejati. 

Lain halnya kalau ingin jadi kondang dan dia berusaha untuk menjadi orang lain agar orang lain 'suka' dan merasa dia asik. Nah.. Ini dia masalahnya! Kita menukar diri kita sendiri untuk menjadi seseorang yang bukan kita. Sekarang pertanyaan besarnya adalah mau sampai kapan kita mengikuti orang lain terus dan berusaha untuk bisa sama menjadi mereka-mereka yang kondang? Buat apa, mamen? 'Ah, elu Met pasti iri kan sama mereka yang kegiatannya bejibun sono-sini, kenal sana-sini, penghargaan sana-sini?' celetuk seorang teman baik. Mendengarnya kupingku gatel banget kayak dikilik-kilik. Ya mungkin saja ada sebagian dari hatiku yang iri dengan orang-orang kondang tersebut dan ingin menjadi seperti mereka. Namun untuk menukar jati diri saya dan berubah jadi sama 'plek' seperti mereka? Doh!

Di dunia yang lebih mengutamakan dan menghargai 'kegunaan', kegunaan diri kita bagi masyarakat, apakah kita dipandang lebih dibandingkan dengan orang lain, keinginan untuk berhasil dan berbuat lebih agar kita layak untuk mendapatkan pujian. Sehingga akhirnya kita lupa sebenarnya apa sih tujuan itu semua, siapakah diri kita sebenarnya dan apa sih sebenarnya rencana Tuhan atas diri kita?

Beda kulit, beda treatment 

Beberapa hari lalu aku pergi ke sebuah rumah kecantikan yang cukup terkenal di BSD. Menurut ibuku rumah kecantikan ini sangat ahli dalam menangani masalah kulit. Akibat hormon masa muda yang masih bergejolak, stress mahasiswi imigran, penyakit galau anak muda Indonesia dan asupan makanan yang ngawur, ya sudah akhirnya aku jerawatan. Prihatin melihat perkembang biakan jerawatku, akhirnya ibuku pun membawaku ke rumah kecantikan yang manjur dan murah meriah.

Menurut teman ibuku yang juga menderita jerawatan di muka, menurutnya perawatan di sana ampuh, tidak ribet dan murah meriah. Alhasil jerawatnya pun hilang tak berbekas, akhirnya kami berdua memutuskan untuk ke sana. Ternyata peristiwa ini  ingin mengajarkan padaku bahwa setiap orang itu beda-beda, tidak sama. Perawatanku muahaaaall harganya, udah bukan mahal lagi tapi muahaaaall dan aku harus ikut ini itu, tidak seperti teman ibuku yang cukup sekali oles, jerawat pun hilang copot semua. Pelajaran yang bisa diambil adalah: kamu dan orang lain itu beda. Syukuri itu. 

Sabar 

Ada baiknya kalau kita itu sabar pada diri kita sendiri. Bahwa kita punya waktunya sendiri dengan cara yang berbeda-beda. Kita tidak mungkin sama plek dengan idola-idola kita dengan orang-orang kondang yang berseliweran depan mata kita. Sabar dalam arti kita tetap mensyukuri apa yang kita punya dan miliki, mungkin orang kondang itu kenal sana-sini, penghargaan gono-gini tapi mungkin dia tidak punya bakat bermain musik misalnya. 

Tidak usah minder dan malu untuk tetap berdiri tegak menjadi dirimu sendiri dan berteguh pada pemikiran kamu. Itu justru hal yang unik dan jarang di zaman kini. Ketika orang lain belum merasakan 'kehadiran' kamu, jangan berkecil hati. Seperti kata ibuku: 'Kamu belum berkibar karena benderamu sedang dijahit, direnda dan dipersiapkan.' Seperti kata orang Taiwan: 沒發現又不代表沒有, tidak menemukan bukan berarti tidak ada. Mereka mungkin belum menyadari sinar kamu, cahaya yang kamu punya. 

Dari pada kita sibuk meniru ini dan itu yang ternyata mereka juga manusia biasa yang bisa saja salah, lebih baik kita mempersiapkan diri kita sendiri, dengan jalan kita, dengan talenta yang sudah ada, sesuai dengan rencanaNya. 

Be yourself 

'Mbak saya mau potong rambut yang model Dian Sastro ini ya, mbak.' Kataku pada mbak-mbak salon. Sejam kemudian setelah selesai diblow, dikeramas, dipotong, dll. 
'Mbak kok jadinya gak mirip gini mbak?' 
' Iya kan rambut situ ikal keriting gitu. Kecuali kalo situ mau direbonding kayak Sancai di F4 itu.'
'Ogah deh mbak makasih, ntar rambut saya kayak kucai lagi.'

Nah... liat kan? Kamu tidak akan bisa sama dengan orang lain mana pun, rambut boleh sama hitam tapi jenis rambut kan bermacam-macam. Sudah ditata cantik model rambut Dian Sastro, tapi tetap saja rambutku kurang 'nendang'. 

11.2.12

Selamat Ulang Tahun, Ibu

Dari Taiwan dengan penuh cinta,
Untuk perempuan hebat berumur 48 tahun
Ibu

Terima kasih sudah mengajarkan aku akan arti 'motherhood'
Terima kasih sudah melahirkan aku, Aga, Abhi
Terima kasih karena sudah menjadi ibu terbaik untuk ketiga anak nakalnya :p
Terima kasih untuk semua kerja keras untuk keluarga
Terima kasih beribu terima kasih
Semoga panjang umur
Semoga semakin dewasa dalam iman dan pemikiran
Semoga semakin bijaksana
Semoga cita-cita kebun zaitun sukses!!
Semoga cita-cita menulis buku dan diterbitkan bisa terwujud.
Semoga aku, Aga, Abhi bisa menjadi anak kebanggaan #eaaaaah ;p

SELAMAT ULANG TAHUN IBUUUU!!! AKU CINTA IBU BANGEEEEEEEEETTTT!!!


17.1.12

Pesta Demokrasi di Taiwan



Selamat datang liburan winter :)) Semester 5 sudah lewat dengan berbagai kesan dan pelajaran baru. Jatuh bangun sudah biasa dan tak perlu dikatakan lagi. Sudah menjadi bagian dalam hidup. Di liburan winter ini adalah waktu untuk 'memberuangkan diri sendiri' hibernasi hingga siang dan melakukan kegiatan menyenangkan yang tidak bisa dilakukan saat hari-hari produktif sekolah.

Pagi ini aku bangun siang lalu mulai melanjutkan kegiatan 'aktif' dengan laptop. Lagu untuk pagi mendung ini adalah Frank Sinatra- I've got you under my skin. Di kota tempat tinggalku di Taiwan, Kaohsiung, musim winter tidak terlalu dingin hanya sekitar 22 derajat-13 derajat itupun kalau malam. Masih bisa pakai tank top dan celana pendek dengan lutut kedinginan.

Mungkin kalian juga tahu selentingan berita pemilihan presiden di Taiwan. Jadi di Taiwan itu mengadakan pemilihan presiden setiap 4 tahun sekali. Kali ini kandidatnya adalah presiden lama, Ma Ying Jiu, (馬英九) berasal dari Partai Kuomintang atau Chinese Nasionalist Party (biru) , Tsai Ying Wen ( 蔡英文) berasal dari Democratic Progressive Party (hijau) dan terakhir adalah James Soong Chu Yu berasal dari partai biru juga. Dari ketiga kandidat ini keluarlah Ma Ying Jiu (presiden lama) dan Tsai Ying Wen yang menjadi jagoan. 

Ma Ying Jiu yang berasal dari partai biru, beliau menggunakan kebijakan bersahabat 'jalinan kasih' dengan China dan menggunkan jalur rundingan untuk bidang ekonomi, perdagangan dan bisnis dengan China. Sedangkan Tsai Ying Wen, apabila beliau naik jadi presiden makan beliau adalah presiden perempuan pertama di Taiwan. Bisa dibilang beliau mempunyai pandangan yang berbeda dengan Ma Ying Jiu. Tsai Ying Wen membuka prespektif baru mengenai hubungan Taiwan dan China. Beliau melihat bahwa Taiwan harus mandiri dari berbagai segi dengan China sehingga Taiwan bisa lepas dari China dan mendapatkan kedaulatan negaranya sendiri tidak hanya menjadi parasit dari China.

Bisa dibayangkan kalau ini merupakan pemilihan presiden yang benar-benar menentukan sebuah nasib bangsa. Dilihat dar visi misi mereka saja sudah berbeda bahkan bertolak belakang. Benar-benar masa depan Taiwan dipertaruhkan dengan pemilihan presiden ini. 

Rakyat jelata

Teman Taiwan saya adalah pendukung Tsai Ying Wen karena menurutnya Ma Ying Jiu terlalu memanjakan China dengan birokrasi bersahabat yang berbelit-belit dan sering kali menyudutkan Taiwan. Bahkan menurutnya Taiwan sudah bagaikan dijajah China karena begitu banyak warga China yang datang ke Taiwan untuk bekerja dan sekolah.

Dia merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Ma di tahun-tahun belakangan ini karena menjalin hubungan kerja sama baik ekonomi, politik dan pendidikan dengan China. Banyak sekali pelajar dari China yang datang ke Taiwan untuk belajar, menurut Presiden Ma ini dilakukan mengingat pelajar China terkenal dengan sikap rajin dan pintar dalam pelajaran, jadi Presiden Ma berharap agar pelajar Taiwan bisa bersaing ketat dengan Pelajar China sehingga dalam bidang pendidikan pun mendapatkan stimulasi yang menguntungkan untuk Taiwan.

Terdapat perbedaan yang signfikan di masyarakat Taiwan saat mereka memilih presiden untuk negara mereka. Mereka begitu bersemangat untuk memilih presiden. Itulah satu kesan yang bisa kubaca. Sampai-sampai menjadi sebuah pembicaraan hot di kelas siapa menjagokan siapa. Kebetulan di kotaku, Kaohsiung, mereka memilih Tsai Ying Wen, kebetulan pendukung Tsai Ying Wen berada di bagian selatan dan pendukung Ma Ying Jiu berada di daerah utara. Sempat terdengar kabar burung bahwa saat-saat pemilihan ini akan menjadi hari-hari yang agak menakutkan di Taiwan. 

Pandangan Anak Imigran 

Sebagai anak imigran di Taiwan, aku cukup terkejut dengan fakta pemilihan presiden di Taiwan ini. Aku merasa terdapat perbedaan yang cukup jelas terpampang pemilihan presiden di Taiwan dan di Indonesia. Di Indonesia jujur aku tidaklah terlalu antusias untuk memilih presiden. Memilih yaaa...memang karena sudah dapat kartu coblos, kalau tidak dapat ya sudah ya tidak ada ruginya juga. Sedangkan di sini 200.000 orang Taiwan yang berada di luar negeri bela-belain pulang ke Taiwan, ke kampung halaman mereka untuk memilih presiden mereka. Dan aku mendengar kabar ini di berita hanya bisa 'nganga sampe bego'. Ada lagi berita di teve, ada seorang kakek berumur 80 tahun, berjalan menuju ke tempat pemilihan presiden dan karena badannya sudah tua renta, beliau tidak sengaja terjatuh dan terluka. Aduuuhh... please deh! Melihat berita seperti ini terkadang membuat aku tertampar pipi kiri dan kanan. Si kakek tua ini yang bisa dibilang sudah 'bau tanah' beliau masih peduli dengan kelangsungan negarnya, dengan masa depan negaranya! Gilaaaa bener hah! 

Betapa mereka begitu antusias dengan pemilihan presiden ini. Mereka seolah benar-benar mempunyai harapan yang nyata pada masa depan negaranya. Mereka berharap presiden baru mereka bisa membawa Taiwan ke 4 tahun ke depan yang lebih baik lagi, mereka berpartisipasi secara nyata dengan tujuan mulia. Generasi tua dan muda bersama-sama terlibat aktif dalam pemilihan. 

Aku terkadang jadi sedikit merasa malu dengan diriku sendiri yang sering merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Aku malu pada orang Taiwan, suatu bangsa yang meski kecil namun mereka berjuang dan peduli dengan kemajuan bangsanya. Aku malu karena aku muda dan belum bisa berbuat apa-apa untuk negaraku. Bahkan terkadang  sempat aku merasa rendah diri karena aku adalah orang Indonesia, karena negaraku Indonesia, negara yang kaya raya namun dikelola oleh orang-orang yang salah. Terkadang aku malu, menjelaskan pada mereka bahwa di Indonesia korupsi bukanlah hal yang aneh di badan pemerintahan, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya pada pemerintahnya sendiri. Bahwa kita kehilangan harapan dan kepedulian pada Indonesia. 

Cinta dan benci 

Seperti kata sebuah pepatah: cinta dan cinta itu beda tipis. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan rasaku untuk Indonesia. Aku cinta Indonesia. Sangat. Tapi di lain sisi aku juga benci. Benci dengan 'orang-orangnya' yang kadang menurutku sudah kehilangan pegangan moral dan berpikiran sempit. Meributkan hal-hal yang tidak penting, itu-itu saja. Haduh...ini malah sibuk meributkan pemugaran gedung yang sama sekali tidak rusak, bocor atau hampir rubuh. Pleaseee...deh bapak-bapak, ibu-ibu itu coba yah dilihat masih banyak orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, rumah reyot di pinggir kereta. Itu coba dananya disalurkan ke pendidikan atau ke mana deh yang bisa menyejahterakan bangsa kita ini. 

Aku iri dengan orang Taiwan yang bisa sebegitu optimis dengan kelanjutan bangsa dan mendukung pemerintahannya. Semua kandidat benar-benar meyakinkan dan dipercaya oleh rakyatnya. Apa lagi sih yang lebih berharga untuk seorang pemimpin selain dipercayai 100% oleh rakyatnya? Betapa kharisma dan karakter mereka 'menyedot' rakyat untuk terus mendukung mereka tanpa ragu. Aku juga ingin rasanya mempunyai pemimpin bangsa yang benar-benar bisa membawa kita, Indonesia ke stage yang lebih baik lagi. 

Aku merasa Indonesia, si bangsa besar, harus belajar banyak dari Taiwan yang bahkan wilayah kekuasaannya pun tidak sebesar Pulau Jawa, mereka yang masih harus berjuang melepaskan diri dari China dan mendapatkan pengakuan atas eksistensinya di depan mata dunia. Keantusiasan kita pada negara kita dan tanggung jawab para 'orang-orang besar di atas' agar bisa membawa Indonesia  ke masa yang stabil dan lebih baik lagi. 

Celetuk teman Indonesiaku yang sepertinya sudah terlanjur pesimis  dengan Indonesia: '' Mending  gue tinggal di luar ajalah. Cari penghidupan yang lebih baik. Kalo gue balik ke Indo dengan niat membangun bangsa...haduh..mereka yang 'di atas' aja geje padahal ada wewenang, gimana gue yang rakyat jelata, mau membangun Indonesia seorang diri. Matik aja gue!'' 


Malam ini aku sedang berpikir, jangan-jangan memang aku saja yah yang 'anget-anget taik ayam' sok nasionalisme, cinta Indonesia, tanpa melakukan tindakan yang sekiranya lebih dinilai aktif. Malu aku pada diriku sendiri. Hey,..aku orang muda Indonesia yang siap sedia berdiri buat Indonesia.  Tapi yang pasti malam ini aku kepanasan, ditengah udara dingin 19 derajat celcius di Taiwan.

Kalau kamu? 

6.1.12

Perempuan dan Pendidikan

            Membangun sebuah negara makmur dan berbudi baik haruslah dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah manifesto yang berkualitas tinggi dan sifatnya kekal. Tidak bisa dicuri dan hilang. Dengan adanya manusia yang berpendidikan maka mampulah sebuah bangsa menjadi bangsa yang beradab. 
             Sejak dini diharapkan manusia sudah dididik dengan nilai-nilai luhur. Pendidikan dini didapatkan anak dari keluarga, terutama ibu. Mengapa ibu? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mengambil peranan penting dalam pengasuhan anak sehingga seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.  Betapa menjadi seorang ibu harus mengemban sebuah misi yang mulia yakni masa depan dirinya dan anaknya dipertaruhkan. Hingga akhirnya kehidupan seorang ibu menjadi sesuatu yang mikro sekaligus makro. Mikro karena keseharian ‘hanya’ berkutat dengan anaknya dengan pekerjaan dan urusan yang itu-itu lagi dan makro karena ada sebuah tujuan mulia dibalik dari urusan kecil yang itu-itu saja yakni mendidik anaknya untuk menjadi manusia yang berbudi baik dan berakhlak.
            Ketika sebuah dunia besar berada di pundak ibu, pentingnya sebuah peranan perempuan dalam mempersiapkan generasi baru bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas. 

Diskriminasi pendidikan

              Dahulu, melalui budaya patriarkal, perempuan menjadi sebuah objek hiburan dan sebuah ‘barang’ kepemilikan.  Seperti misalnya dalam cerita Mahabaratha ketika Yudistira kalah besar-besaran bermain dadu dengan Duryodhana. Segala kerajaan, harta dan abdi sudah hilang termakan taruhan. Hingga akhirnya istrinya,  Drupadi pun ikut dijadikan taruhan, padahal Drupadi adalah perempuan terhormat dan istri teladan yang lahir dari Dewa Api. Yudistira kalah bermain dadu dengan Para Kurawa dan menyerahkan Drupadi sebagai barang taruhan. Dari cerita singkat ini terasa betapa kerasnya pengaruh laki-laki atas hak-hak perempuan. Seolah perempuan tidak mempunyai hak atas hidup dan tubuhnya. 
Namun seiring dengan berkembangnya zaman di kota-kota besar, perempuan mampu mempunyai kesempatan lebar untuk berkembang dan bereksplorasi. Dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang mulai berkarya mengaktualisasi dirinya. Ketika perempuan dapat mencecap pendidikan dengan mudah karena adanya fasilitas, kembali muncul masalah kursial lainnya dalam pendidikan yakni skala prioritas yang diterapkan untuk kaum marginal. Hingga akhirnya menurut nilai budaya patriarkal, prioritas pendidikan  ini akan diberikan lagi untuk anak laki-laki di keluarga tersebut.  
             Betapa ternyata bagi perempuan pendidikan masih merupakan barang mewah dan langka, sesuatu yang ‘mahal’ untuk bisa dinikmati. Masih kuatnya anggapan bahwa perempuan harus beraktivitas sekitar dapur, bermain dengan panci, penggorengan dan sapu; menjadi sebuah alasan utama perempuan tidak diprioritaskan untuk mencecap pendidikan. Kecenderungan ini masih bisa kita lihat dalam masyarakat, ketika anak perempuan mereka sudah akil baliq akan cepat-cepat dijodohkan lalu menikah meskipun usia mereka masih belasan tahun. Padahal menurut ilmu kesehatan, pada umur belasan rahim perempuan belum cukup kuat untuk mengandung hingga akhirnya banyak sekali peningkatan angka keguguran dan kematian saat melahirkan. Di lain kondisi terdapat pula kasus perempuan yang ‘terpaksa’ dijadikan tulang punggung keluarga karena himpitan ekonomi dan biasanya pada kasus ini berkaitan erat dengan trafficking.
              Fenomena pilu ternyata masih ada di zaman kini dan menjadi sesuatu yang ironis ketika banyak perempuan lain yang bisa mendapatkan fasilitas yang memadai plus pendidikan yang layak untuk masa depan.  Namun, di lain sisi masih banyak perempuan yang tidak dapat mencecap pendidikan yang layak.


Kartini masa kini

             Sosok yang paling dikenal berkat festival kostum di setiap tahunnya baik di kalangan orang dewasa maupun  anak-anak adalah Ibu Kartini.  Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita yang suaranya sangat kencang digaungkan hingga sekarang. Ide-ide beliau yang cemerlang untuk  membebaskan belenggu kebodohan perempuan di masa itu dengan tujuan jangka panjang yaitu pembebasan perempuan dari ketidakadilan menjadi sesuatu titik tolak untuk perubahan kaum perempuan. Kartini mampu membuka sebuah pintu pemikiran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
            Akan sangat disayangkan apabila di masa yang modern dan serba ada ini, masih saja ada banyak perempuan yang buta aksara dan minim pengetahuan. Padahal jelas-jelas pendidikan adalah milik semua. Catatan  yang paling penting adalah pendidikan tidak hanya pendidikan formal di bangku sekolah saja, melainkan juga  pendidikan informal yang tak kalah pentingnya. Alasannya karena dalam pendidikan informal ini diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang relevansinya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. 
               Konsep Kartini untuk mencerdaskan perempuan Indonesia merupakan langkah awal untuk mendidik generasi mendatang yang cerdas dan berbudi baik. Pendidikan merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh perempuan sebagai bekal menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, calon penerus bangsa. Oleh karena itu perempuan harus dibekali pendidikan sedini mungkin untuk melaksanakn perannya dalam keluarga dan masyarakat. 

Tahun perempuan

             Banyak orang berpendapat bahwa tahun-tahun belakang ini akan menjadi tahun perempuan. Perempuan mulai bangkit,meneriakan hak-haknya dan mulai berkarya. Hingga sudah seharusnya pemerintah membuat agenda utama sebuah pemberdayaan perempuan dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan yang sifatnya menambah pengetahuan dan keterampilan.
             Hal yang tidak boleh diabaikan adalah perempuan berhak atas tubuhnya dan kesehatannya. Perempuan berhak tahu segala sesuatu berkenaan dengan kesehatan tubuhnya. Pengetahuan dasar tentang kesehatan perempuan adalah mengenai organ reproduksinya. Hak perempuan untuk memeriksakan kesehatannya sendiri tanpa harus ada persetujuan wali atau suami. 
          Dengan perempuan yang berpendidikan, negri ini akan mempunyai perempuan yang cerdas dan sehat, hingga pasti akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan sehat pula. Perempuan berpendidikan akan sadar betul pentingnya imunisasi, vitamin,  dan makanan bergizi untuk anak dan keluarganya.  Dengan begitu generasi mendatang kita bisa menjadi generasi unggulan untuk Indonesia yang lebih baik lagi. 
    Ada sebuah kutipan yang cukup menyentuh dari Queen Renia: “Ketika kamu mendidik perempuan, kamu mendidik keluarga, ketika kamu mendidik gadis kecil, kamu mendidik masa depan.” Sebagaimana kutipan tersebut akan pentingnya pendidikan untuk perempuan demi melahirkan calon-calon penerus bangsa Indonesia yang berbudi dan cerdas. 
    
Peran masyarakat

            Tidak hanya pemerintah yang mempunyai peran untuk memperhatikan nasib perempuan, masyarakat pun sama memiliki kewajiban untuk memperhatikan ini. Kita tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, apa lagi ketika kita tahu seperti apa pemerintah Indonesia sekarang. Kalau kita hanya mengandalkan pemerintah, kita kuatir nasib perempuan dan masa depan bangsa ini akan semakin terpuruk. Oleh karena itu, perlu gerak cepat dari seluruh lapisan dan kalangan masyarakat untuk menyiasati keadaan ini. 
            Seperti kita ketahui Indonesia mempunyai begitu banyak organisasi dan golongan, mulai dari yang bersifat umum sampai yang sifatnya khusus. Karena Indonesia merupakan negara yang agamais, peran para alim-ulama merupakan hal yang diperlukan dalam masalah ini. Sangat diharapkan organisasi keagamaan memberikan pelayanan yang memadai untuk mengedepankan pendidikan kaum perempuan. 
            Kita tahu sekarang ini sudah ada beberapa organisasi yang memperhatikan nasib kaum perempuan. Namun,  itu belumlah cukup untuk mengubah nasib kaum ibu di negri ini. Masih diperlukan sekian banyak tangan terlibat dan hati yang peduli untuk para perempuan ini. 
             Kita yakin kalau semua ikut peduli dan terlibat, maka kaum permepuan akan berubah. Tentunya bangsa ini pun akan terus maju dan bisa berkibar di alam semesta ini dengan penuh kebangaan dan harga diri karena nasib masa depan generasinya ada pada tangan yang tepat. Kita percaya bahwa kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik kita bersama bila kaum hawa menjadi prioritas yang utama. 
  
JAYALAH PEREMPUAN, JAYALAH  IBU PERTIWIKU!!!


ps. Sebenarnya tulisan ini untuk lomba essai, namun belum 'nonjok' di hati para juri. Daripada basi lebih baik kutaruh di blog aja yah :) Silahkan bagi yang mau memberi kritik, saran dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka. 
    






21.12.11

Bersemangat Ketika Menunggu

Hallo saudara-saudara sudah seabad rasanya aku tidak bersenda gurau lagi yah :) Maaf yah akhir-akhir ini sedang sibuk dengan rutinitas. Kabarku masih baik-baik saja, tapi yaa gitu...banyak tugas, banyak ulangan, banyak presentasi. Dan tau apa yang lebih hardcore? Di kampusku tidak ada libur natal dan tahun baru. YES TOS! *sarkasme* Tapi meskipun begitu, yaaaaa... kuterima dengan lapang dada selapang-lapangnya :D

Aduh rasanya aku udah nggak bisa menahan gejolak NATAL! Rasanya natal itu dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat, nggak ngerti deh. Rasanya minggu ini berjalan lebih lambat dari biasanya, aku sudah terlalu menggebu-gebu untuk mendapatkan sebuah natal di tahun ini. Aku sudah bersemangat dengan lagu-lagu natal dari gembira hingga yang mendayu-dayu bagai orang melayu. Cepatlah natal datang, please please please...

Siapa selain aku yang sudah tidak sabar pada sesuatu hal yang akan terjadi di kehidupannya? Menunggu bukanlah perkerjaan yang mudah mamen! Kita menyediakan hampir setengah dari otak kita untuk menanti-nanti dan menjadi alarm pribadi, mengingatkan dan menghitung waktu jadi. Sungguh lelah menunggu. Hati kita tak enak dan terlau bersemangat. Hati yang terlalu bersemangat kadang bisa mematikan.

Menunggu ketika sesuatu datang, ketika kita benar-benar membutuhkannya adalah sesuatu yang menyiksa. Aku jadi teringat akan cerita Bunda Maria dan Santo Yoseph saat perjalanan mereka ke Betlehem. Maria sedang hamil tua dan transportasi yang ada hanyalah keledai, jalanan pun pasti agak terjal dan berbatu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya penantian Bunda Maria. Belum lagi mencari tempat penginapan untuk melahirkan. Bagaimana coba? Sudah hamil besar, perut bergejolak mau melahirkan dan masih juga merasakan penolaka-penolakan dari pemilik penginapan. Lu sih gila! Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Bagaimana Bunda Maria dan Santo Yoseph sangat sabar dan tabah dalam menjalani fase-fase berat dalam kehidupan mereka.

Ketika kita dalam keadaan 'tergantung' dalam keadaan yang tidak ini dan tidak juga itu. Ke mana lagi kita harus melangkah? Kita dalam keadaan menunggu dan terjepit pada sebuah situasi yang tidak pasti. Doa-doa yang mungkin saja belum terjawab, masalah yang belum ditemukan ujung pangkal solusinya atau mungkin masa depan yang terlihat abu-abu di mata kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Seperti sebuah quote lama yang mungkin pernah kita dengar, " Don't rush things, just hang in there." Menurutku quote itu sangat cocok untuk kita :) Jangan terburu-buru, diam, bertahanlah di sana. Menunggu dengan sabar dan tabah. 

Bersemangatlah ketika menunggu. Menunggu dengan penuh semangat. Aneh yah kedengarannya? Terkadang dengan menunggu kita bisa belajar untuk membuat sesuatu yang kita tunggu itu menjadi 'berharga'. Waktu menunggu bisa kita gunakan untuk menambah diri dan memupuk diri. Mempersiapkan diri hingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita tunggu. 

Semoga kita semua bisa bersemangat ketika menunggu :)) Natal dalam hitungan jari, mari kita menyiapkan hati dan pikiran kita. 

Ibenk and me
Merry X'mas and happy new year <3




27.11.11

Si Bajaj: Ngeles dan Ngebul

Pic: google

Bajaj, identik dengan dua kata yakni ngeles dan ngebul. Ngeles karena keahlian sopir bajaj salip kanan kiri dan ngebul karena terlalu banyak gas hitam yang mengepul dari knalpot. Orang Jakarta mana coba yang belum pernah naik bajaj? Kasian deh lo! Aku aja yang tinggal di BSD pernah naik bajaj hehe. Menurutku naik bajaj itu enak karena bergetar dan membahagiakan. Kalau bicara dalam bajaj harus super kuencengggg to the max supaya bisa mengalahkan suara dahsyat si bajaj ini. Namun lain halnya kalau kita bukan sebagai penumpang bajaj pasti kita sibuk menutup hidung dan mulut karena asap hitam yang tidak toleransi pada paru-paru sekitar. Sebel kan?!

Dalam sebuah penbicaraan lama dengan seseorang, kami mengambil sebuah perumpamaan asal-asalan bahwa ada beberapa tipe manusia yang bisa kita sebut dengan si Bajaj. Dari karakteristik yang aku sebutkan di atas bisalah yah kira-kara mengerti apa yang aku maksudkan. 

Entah kita bertemu spesies Si Bajaj ini di sekolah, rumah, kantor, kuliah, atau mungkin sebenarnya kita sendiri adalah Si Bajaj itu. Si Bajaj ini tidak bisa disalahkan kalo memang sudah dari sananya bebal dan toak. Sudah dari sananya tidak punya filter asap knalpot sehingga yang keluar malah sesuatu yang membahayakan kehidupan sekitarnya dan membuat polusi. Ohhh...Si Bajaj juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya toh dari sananya sudah begitu 'keluarannya'. Semua orang harus tahu diri dan memahami bahwa Si Bajaj ini memang hobi salip sana salip sini, berkelit dan ngeles sana sini. Jadi pilihan kita ada dua yakni entah menghindar jangan dekat-dekat Si Bajaj ataukah kita menjadi penumpang Si Bajaj jadi setidaknya bisa ikut gembira bergetar dengan alunan melodi tretetetetet.

Si Bajaj ini bukan makhluk langka atau unlimited edition seperti Mercedes Benz. Ah lain kualitasnya! Tidak usah dibicarakan lah Si Benz ini. 

Bagaimana coba caranya agar kita bisa menjauh dari Si Bajaj ini? Mungkin pada akhirnya kita yang waras ngalah dan senyum-senyum saja dari jauh. Terkadang memang kita tidak perlu berkata-kata dengan tipe yang semacam ini. Kalau kata Aga, anggap saja dia semacam bisul di pantat. Sakit sih tapi besok juga mateng dan meledak. Satu lagi. Setidaknya kita harus menarik usus kita lebih panjang lagi dan melebarkan pantat kita untuk tipe-tipe Si Bajaj ini. SABAR! 

5.10.11

Hidup Setegas Kentut (part 3)


…Wah, anak Ibu sudah besar yah?...
            Itulah yang paling sering dikatakan oleh ibuku. Apalagi saat aku sudah menginjak masa-masa SMP. Masa SMP merupakan masa yang cukup  berat bagiku oleh karena aku anak guru SMP sehingga aku harus lebih mawas diri. Bukan berarti aku tidak bisa menikmati masa SMP tapi tetap aku  harus behave, jaga diri. Jangan sampai aku melakukan tindakan aneh-aneh karena pasti akan mengguncang dunia. Sungguh terlalu. Menurutku bukanlah sesuatu yang mudah ketika bersekolah di tempat orang tua kita bekerja. Ketika sebuah nama harus dijaga baik dan banyak orang yang pastinya mempunyai perhatian lebih karena ‘anak guru’.
            Hal yang paling berat adalah ketika orang lain tidak bisa melihat diri kita sebagai manusia biasa. Seorang anak perempuan remaja biasa yang sedang bertumbuh. Manusia yang bisa salah dan punya kelemahan. Sehingga terkadang perlu dipikirkan 1000 kali dalam melakukan sesuatu.
            Kebetulan kelemahanku terletak pada ilmu pasti. Aku rasa otakku bak ingin meleleh dan belecetan ke mana-mana saat pelajaran matematika. Walaupun saat SMP nilaiku tidak jelek-jelek namun aku harus berusaha lebih keras di pelajaran logis-matematis ini. Untungnya dalam hal berbahasa aku cukup bisa menguasai, sehingga bebanku sebagai guru anak Bahasa Indonesia tidaklah terlalu berat. Nah, kalau aku tidak bisa dalam pelajaran Bahasa Indonesia: Apa kata dunia?
            SMP adalah mmasa-masa di mana aku mulai bergolak dan mencari-cari jati diri yang pas. Aku terkadang suka mempertanyakan akan arti keberadaanku. Aku diciptakan Tuhan untuk apa? Mengapa aku dilahirkan di dunia? Banyak hal yang membuatku semakin dewasa dari hari ke hari. Dari segi iman aku aktif ikut organisasi Putri Sakristi dan sempat jadi ketuanya. Dengan bergitu semakin bertambah besarlah aku dari segi mental dan spiritual.

…Katanya masa SMA masa indah?...
            Pepatah yang mengatakan masa SMA indah ada benarnya namun ada juga yang salah. Itu menurutku saat aku masih kelas 1 SMA. Tugas banyak. Nilai MAFIAku terbakar dalam lautan asmara. Aku dari awal sudah bertekad untuk masuk Bahasa namun aku harus menyelesaikan satu tahun penuh darah.
            Dengan wali kelasku yang mood-moodan membuat aku makin sebal dengan sekolah. Di mana aku sebagai seorang murid merasa direndahkan karena bakatku tidak berada di matematika dan fisika. Apa hanya karena aku tidak bisa di pelajaran tersebut maka mereka akan mengecapku sebagai orang tidak sukses? Apa karena aku tidak bisa berpikir logis-matematis dengan sesuatu yang rinci dan runut, maka aku sudah pasti termasuk golongan bawah? Itulah yang selalu aku pertanyakan selama SMA.  Hingga akhirnya aku sungguh mempunyai niatan akan menunjukkan pada orang lain bahwa: Gue bisa sukses dengan masuk bahasa daripada elo-elo semua!
            Kadang aku tidak bisa mengerti dengan beberapa pemikiran yang mengatakan bahwa jurusan ini salah, bakat ini tidak akan menghasilkan kesuksesan dan anak ini termasuk anak terbelakang karena dia tidak bisa matematika. Kenapa yah? Bukankah manusia itu sudah diciptakan dengan porsinya masing-masing, dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing hingga akhirnya kita bisa melaksanakan tugas yang sudah diberikan Tuhan pada kita di dunia ini. Kita, manusia masing-masing memiliki tugas dari Tuhan yang tentu saja pasti kita pun mendapatkan bekal yang berbeda juga. Mengapa sih harus menyama ratakan kelebihan orang lain dengan patokan harga bahwa ini pintar dan itu bodoh? Padahal pada akhirnya hidup kita bukan berapa nilaiku dulu saat SMA, rengking berapa, kuliah di mana. Namun pada akhirnya pertanyaannya adalah: Pesan apa yang mau kamu sampaikan pada dunia? Misi apa yang mau kamu bagikan pada orang lain? Aku rasa kok itu yang lebih penting.

***

Hingga akhirnya terinspirasilah sebuah puisi:

Hidup ini sesungguhnya apa?
Pengadilan yang tidak adil?
Ketok palu dan putuskan
Tok….Tok…Tok…Eh! Salah ketok!
Gimana dong?
Peduli setan!
(ya ampun…)
ATAUKAH
Hidup ini layaknya kentut
Alami
Manusiawi
Disadari
Dipahami
Tegas
Keluarkan
BREEET!!
Bunyi dan bau.
Lalu meninggalkan kesan bagi semua orang.

Berhubung jari-jariku sudah pegel mengetik. Kita sudahi cerita singkat ini. Dan tunggulah aku 10 tahun lagi dari sekarang apa yang akan aku lakukan. Wassalam.


Metta Asriniarti Martopranoto
2007    

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...