28.9.11

Hidup Setegas Kentut (part 1)

nb: Ketika aku sedang membuka-buka karya lama jaman SMA, tiba-tiba muncullah sebuah kertas dengan judul Tugas Antropologi. Aku lupa ini tugas apa tepatnya namun kurasa tulisan ini cukup bagus untuk diketik ulang dan ditaruh di blog dari pada terbuang sia-sia. Akan dibagi menjadi beberapa bagian karena cukup banyak. Selamat membaca!


Hidup Setegas Kentut

Metta,3 tahun. Foto untuk kartu lebaran.
Fotografer: Bob Haryadi aka Babeh :) 


Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Nya
Dari akar-akar manusia sendiri
Mengapa kita musti tercerabut, terbuang?
Berbeda antara satu dan yang lain?
Sedangkan kita berasal dari akar yang sama?
Sebenarnya kita manusia,
Makhluk sosial
Atau
Makhluk So Sial?


***

‘Maaf bagaimana menuliskannya Mbak?’
‘M-e-t-t-a. Huruf T-nya double.’

Ya....itulah namaku Metta, yang artinya cinta kasih. Banyak sekali orang salah dalam menulis namaku. Mereka menuliskan namaku dengan huruf T yang hanya satu. Aku sebal sekali. Enak saja mengganti nama orang seenak jidat sendiri.

Metta—dengan huruf T double terasa lembut memukau. Pengucapannya puin terasa lebih indah dengan sentuhan huruf T yang tegas dan diakhiri dengan huruf A yang mengaga sempurna. Nah....kalau mengucapkan Meta pengucapannya jadi terasa cepat dan akan ada tambahan huruf lainnya seperti L dan K. Sehingga menjadi seperti MetaL dan MetaK. Sungguh gatal kupingku dibuatnya.

...Ketika aku masih balita dulu...
            Aku lahir di Bandung, 30 Desember 1990. Aku tidak ingat bagaimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku lupa. Tapi menurut orang lain saat aku masih kecil, aku ini galak. Aku pernah menjepit jari sepupuku di pintu.
            Masa kecilku saat itu sangatlah mengasyikan. Selain karena tinggal di kota Bandung yang saat itu masih dingin dan sejuk namun ada alasan lain. Yakni kedekatan dengan saudara-saudaraku. Aku tumbuh ditengah-tengah saudara-saudara sepupuku. Mereka sering kali datang ke rumah kami. Bisa dibilang aku saat itu adalah anak terkecil diantara sepupuku yang lainnya. Sehingga tentu saja aku mendapatkan perhatian lebih.
            Saat aku masih bayi ibuku bukanlah ibu rumah tangga biasa. Dia adalah seorang guru di Santa Angela, Bandung. Apabila ibuku sedang pergi mengajar di Santa Angela, aku pun akan diasuh oleh pengasuhku, Mbak Sus namanya. Orang jawa tulen dengan rambut yang sangat panjang hingga pinggang tapi dalam kesehariannya selalu ia gelung dengan ikat rambut. Mbak Sus ini sangat sabar dan setia, ia pun sayang dengan anak kecil. Terkadang sebulan sekali nenek dari pihak ibu datang Ciamis untuk sekedar menjengukku. Saat aku kecil aku sangat dekat dengan nenek.
            Hobiku saat balita adalah naik taksi anak-anak yang mulai beredar di sore hari dengan lagu-lagu ala bocah. Jalur taksi anak-anak ini hanya seputar kompleks perumahan saja. Dengan membayar Rp 100,- anak-anak bisa terhibur dan bisa berkeliling komplek perumahan. Apabila anda sekalian melihat anak perempuan lecek  dan rambut awut-awutan sehabis tidur siang. Aku lupa bagaimana rasanya naik taksi anak-anak.
            Satu sifat yang tidak pernah hilang sedari aku kecil adalah ceriwis. Aku bukanlah tipe anak pemalu. Biasanya anak-anak seusiaku saat gigi susu belum lepas pasti mereka akan malu apabila ditanya pertanyaan sederhana seperti siapa namamu, sudah makan belum dan pertanyaan ringan lainnya namun beda denganku. Aku tidak hanya memberi jawaban iya/tidak namun juga menyajikan cerita-cerita yang lain. Aku saat itu selalu ingat apabila ada orang bertanya harus dijawab . Pernah suatu kali aku tidak menjawab dan malu-malu kucing sehingga aku pun mendapatkan ganjaran setimpal atas perbuatanku yakni dicubit. Jadi, pembelajaran awal yang selalu ditanamkan kedua orang tuaku adalah menjawab pertanyaan orang lain.
            Saat aku masih kecil hingga sekarang banyak orang yang bingung dengan caraku saat memanggil kedua orang tuaku. Aku memanggil ibuku dengan sebutan ibu. Sedangkan memanggil ayahku agak berbeda dari aturan dan norma yang berlaku. Aku langsung memanggil namanya Bob. Aku juga tidak tahu apa asal usulnya.
            Aku pun mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh. Yakni, mempunyai bantal aneh yang aku percaya sebagai bantal keramat, bahkan aku pun menamakan bantal itu dengan sebutan geli-geli. Itu adalah bantal yang paling nyaman sedunia. Bantal keramatku ini sekilas nampak biasa namun apabila diperhatikan dengan lebih teliti akan nampak pulau-pulau putih yang menghiasi geli-geliku, yaaaa itu tak lain dan tak bukan adalah ilerku. ;p Maklum aku kalau tidur ngiler. Mengapa aku memanggil bantal keramatku dengan sebutan geli-geli? Karena eh karena bantalku ini sebenarnya adalah bantal untuk sofa sehingga ada renda-renda disekelilingnya. Warna dasarnya coklat dengan gambar bunga-bunga. Oleh karena adanya renda-renda halus disekelilingnya dan saat kuusap renda-rendanya tanganku jadi geli keenakkan jadi aku pun menyebutnya dengan geli-geli. Kreatif bukan? Haha. Dan untuk sekedar informasi aku masih sering tidur dengan geli-geli. Sampai sering kali temanku suka bercanda mau buang geli-geliku atau mungkin mempertanyakan apakah aku saat sudah bersuami masih tidur dengan geli-geli ?
            Penampilanku saat itu, kata orang amat imut, manis dan menggemaskan. Dengan muka bulat, jidat jenong, potongan rambut bob dan rambut ikal keriting kecoklatan yang sering kali diikat tinggi seperti air mancur.
            Rumahku pada awalnya ada di Arcamanik, Bandung namun kami sekeluarga pindah ke Pasar Minggu, Jakarta agar memudahkan ayahku bolak-balik. Pasalnya, karena jarang bertemu dengan ayahku aku suka lupa dan saat bertemu aku seperti tidak mngenalinya. Maklum, anak balita. (bersambung)

2.4.11

Kecil-kecilan






Senangnya punya ajang kreasi kecil-kecilan pelarian dari kehidupan yang serba cepat. Terjadwal. Terkondisi. Berlari sebentar untuk sekedar menyendiri, menghela nafas, mengumpat, atau bahkan menangis. Karena terkadang orang sekitar kita terlalu ‘ingin tahu’ dengan urusan sekitarnya. Aku kadang bosan harus diintip dan diintai. Tanpa ada privasi. Kadang aku jadi tak tahu mana yang harus aku anut.
Menyendiri dan menyepi itu perlu. Dan menurutku kadang kita perlu lebih menyendiri dan menyepi. Sedikit egois dengan diri kita. Tidakkah kita punya hak untuk sekedar menikmati pikiran kita dan pribadi kita sendiri saja???
Inilah sebuah ruang untukku berbagi pada sebuah dunia lain. Sebagian cerita dan pemikirannku.
Tak peduli terdapat hirau ataupun apa. Karena aku tidak memerlukan hirau. Aku hanya suka sedikit menulis dan menumpahkan pikiranku yang kadang tidak sama dengan orang lain. Rasanya kita manusia belum cukup demokratif untuk bisa menerima pemikiran manusia lainnya. Termasuk aku termasuk kamu.
Jadi, cukuplah menulis membuatku bisa merasakan sedikit esensi dari kebebasan berbicara.


Nb. Aku sedang sibuk belajar nih buat test jermanku 7-8 Mei aaaaaaa tidak!! Tidak ada waktu untuk ini itu! Ck!

1.3.11

Pesan di sebuah pot


Sekedar sebuah pesan manis untukku.
Pesan pengingat untukku.
Terkadang kita tidak pernah tahu akan apa yang terjadi esok hari
Atau lusa

Mengapa tidak dikerjakan hari ini?
Mungkin saja berguna untuk hari mendatang :)
Tidak ada kata dahulu atau esok.
Dahulu sudah berlalu
Esok adalah cerminan perbuatan kita hari ini.
Hiduplah untuk hari ini, sekarang.
Karena tidak ada waktu yang lebih tepat dari pada SEKARANG.
Ayo jangan tunda, Metta!

14.2.11

Kekasihku Kurayu


Kuseduh dalam daun-daun teh yang kering dan harum aromanya
Melati alum yang tersiram air kehidupan menjadi aroma kasihku
merona cinta sejati yang kau dekapkan pada Metta dan Aga.
Aku terkesan bila kala subuh di halau sang fajar kau berontak
bergegas beranjak dari dekapku , kau lemparkan sarung bali dan lompat
turun dari ranjang kayu ukiran kuno , ke dapur , kau siapkan sarapan pagi kami.
Sungguh, ini yang tak pernah kupikirkan waktu itu, ketika kita bertemu
dikota kecil Muntilan,
kau duduk disebelahku dalam bis jurusan Semarang.
Langsung seketika itu juga inilah jawaban doa permohonanku.
Betul , 20 tahun sudah kita diberkahi 2 anak dalam penziarahan didunia ini.
Kau tetap dengan aromamu yang khas, dan aku tahu itulah memang aromamu,
Bila aku buta nanti aku akan tetap tahu kau yang lewat dibelakangku, pasti.
Sungguh Allah yang menjodohkan kita dalam satu tatanan surya hingga saat
hari akhir nafasku.
Tapi sedihnya, masih banyak cita-cita kami yang belum terwujud,
namun tetap masih dalam pendarasan doa sepanjang kesempatan ada.
Doaku doamu sama untuk kami yang sepasang harus selalu didaraskan
tak kunjung usai bila Sang Allah belum menurunkan Kehendaknya,
tak usah menghitung waktu bila hati mulai gundah menunggu, menuntut,
biar waktu yang mengikuti rotasi bulan dan matahari.
Awan bergayut kesana kemari menari kian kemari meledek kita yang gundah
berharap terus kapan terkabulnya pinta kita yang segunung !
Entah kapan, waktu yang akan memberi tahu,
tunggu saja Sang Karunia Ilahi pasti akan tiba pada waktunya,
tanpa harus terlambat sedetikpun kata pemazmur ulung.
Sebab sudah dihitung oleh Sang Khalik, Sekehendakmulah !
Enung…Enung , bukan awan yang bebas melayang riang,
dia yang kusunting di kala bulan purnama sidi, 20 tahun yang lalu,
dan Allah memberi Berkat dan Rahmat berujud Metta dan Aga.


12 02 2010
Puisi Kasih dari Y.Bob Haryiadi Martopranoto untuk :
Christina Enung Martina yang telah 44 tahun.
Tuhan Memberkati.

9.12.10

Duc in Altum




Kamu mau menganan atau mengiri? Satu jalan namun beda belokan. Tidak selamanya si kanan itu baik dan tidak selamanya kiri itu buruk. Kamu mau pilih yang mana? Dalam hidup kita ini pasti kita pernah merasakan termometer semangat yang drop. Kita bingung dan ingin menangis namun terkadang menangis tidak menyelesaikan masalah apabila apa yang mau ditangiskan pun tak tahu. Mungkin kita hanya sedang capek. Capek dengan rutinitas yang mengejar. Sesak.

Ditengah menumpuknya pekerjaan , permasalahan , jiwa kita tersungkur. Di saat inilah manusia membutukan presensi sebuah keluarga. Ketika aku sedang miskin semangat, ketidakberadaan keluarga secara fisik kadang membuat semangat gagah beraniku turun. Dan aku sebagai seorang anak akan merindukan orangtuaku dari waktu ke waktu. Namun aku tahu pasti bahwa seberapa jauh aku melangkah, aku masih punya tempat untuk kembali. Keluarga. Masih ada rumah hijauku dengan Ayah Ibuku serta kedua adikku di rumah.

Kucoba untuk terbangun dan terjaga. Mungkin fase kehidupanku saat ini amat cocok dengan sebuah kalimat berikut ini: Duc in Altum.

Duc in Altum berasal dari bahasa latin yang artinya: Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Injil Lukas 5: 2-6. Yesus menyuruh Simon untuk berlayar sedikit jauh dari pantai.

Lalu Yesus pun berkata kepada Simon: " Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."


Yesus sendiri berpesan bahwa kita harus melangkah jauh ke tempat yang lebih dalam. Maksudnya , agar kita bisa lebih menyelami lebih dalam, lebih luas, dan lebih jauh lagi. Kita diajak untuk menjadi orang yang tidak statis di zona nyaman kita. Untuk bisa mengambil tantangan baru mendapatkan hal-hal baru demi menjadi sebuah pribadi yang matang. Ketika kita berusaha untuk melangkah lebih jauh lagi dan meninggalkan zona nyaman kita, pasti pada awalnya kita akan ketakutan dan kehilangan arah. Kita merasa salah disebuah tempat yang sebenarnya paling tempat bagi kita. Bukankan biasanya sesuatu yang benar biasanya terasa salah?

Misalnya saja ketika kita sedang mendayung sebuah perahu, tentu kita harus membawa perahu kita ke tempat yang agak dalam agar dayung kita tidak tebentur daratan/pinggiran. Mendayung perahu ke tempat dalam pun bukanlah hal yang mudah karena begitu banyak gelombang. Kita harus mengendalikan keseimbangan perahu dan juga harus terus mendayung agar perahu kita terus jalan. Arah mengendalikan perahu pun berbeda. Ketika kita ingin belok ke kiri kita harus mendayung di kanan, kalau kita ingin belok ke kanan kita harus mendayung di kiri. Seharusnya ini pun bisa kita praktekkan pada kehidupan kita. Kita harus lebih fleksibel pada sebuah keadaan. Masih banyak peluang dan kesempatan untuk menuju cita-cita dan tujuan kita. Tentu pernah mendengar sebuah pribahasa zaman SD: Banyak jalan menuju Roma. Apabila tidak bisa yang ini yaaa.... jangan dipaksa coba dengan cara lain. Ketika situasi seakan tak ada solusi mungkin kita harus mundur sebentar lalu ambil jalan yang lain.

Kita pun harus ingat, ketika kita mencoba untuk mendapatkan hal yang lebih; ada begitu banyak harga yang harus kita bayar. Ada banyak gelombang dan ombak. Namun kalau kita tidak mencoba gelombang dan ombak itu kapan kita sampai ke tujuan? Siapa bilang hidup ini bisa semena-mena? Ayolah please. Jangan bercanda. Mari kita mengejar mimpi-mimpi kita yang tertunda. Sungguh keterlaluan apabila mimpi kita dikalahkan dunia. Aku selalu percaya bahwa selama kamu bisa memikirkannya pasti bisa mewujudkannya.

Mari saudara-saudara kita mengencangkan sabuk pengaman kita masing-masing untuk mendayung ke tempat yang lebih dalam menikmati gelombang dan semilir angin serta keindahannya. Hidup ini indah kawan :)) Angkat pantatmu, ayo berjuang !!!


Salam,

gadis payung kuning

25.11.10

Filosofi Ikan

sumber gambar: goblue.or.id



Disuatu Rabu yang penat. Sebuah hari di mana merupakan pertengahan dunia nyata sebuah satu minggu. Seminggu yang bisa saja berubah arti bukan 7 hari ; namun terasa lebih. Biasalah....manusia terlalu sering melebih-lebihkan. Begitu banyak majas hiperbolis yang dilontarkan. Mungkin akibat terlalu merindu akhir pekan?

Saat itu hari Rabu. Aku berlari dari sebuah rutinitas. Setelah makan malam aku melarikan diri ke sebuah lapangan luas dan berjalan sendirian. Jadi anti sosial sementara. Mendengarkan lagu-lagu sambil menikmati malam sendirian. Apabila ingin menggambarkannya dengan jelas, bayangkan sebuah lapangan olahraga di sebuah universitas yang pada malam hari banyak orang yang beraktivitas. Asyik dengan dunia masing-masing. Sendiri, berdua-dua, bertiga-tiga, atau mungkin segerombolan. Saat itu adalah jam anak kuliah malam untuk masuk dan menuntut ilmu. Penuh, ribet.

Aku berjalan menyusuri lapangan setapak demi setapak dengan lagu: More to Life- Stacie Orrico. Dengan sedikit liriknya dibawah ini:

There's gotta be more to life...
Than chasing down every temporary high to satisfy me
Cause the more that I'm...
Tripping out thinking there must be more to life
Well it's life, but I'm sure... there's gotta be more
Than wanting more


Menurutku kadang aku sebagai manusia tidak bisa belajar lebih bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan. Lalu mulailah kita dengan majas perbandingan. Lalu ingin lebih, lebih, dan lebih. Banding, banding, naik banding. Kapan puasnya? Kapan cukupnya? Kapan besyukurnya?

Aku tidak ingin menjadi seseorang yang tidak bisa mensyukuri apa yang telah aku terima, yang telah Tuhan berikan padaku. Aku tidak mau selalu merasa kehausan padahal perutku jelas sudah kembung. Aku tidak ingin selalu merasa kurang ketika sebenarnya ada yang kekurangan di luar sana. Aku tidak mau jadi pribadi yang seperti itu. Aku mau hidup damai, aman, tentram dengan pemikiranku sendiri dan bersyukur untuk apa yang telah Tuhan berikan padaku. Aku diberikan keluarga yang kusayangi, mereka mungkin tidak sempurna, mungkin kadang aku pun sebal dengan ayah ibuku yang kadang cerewet dan jadi tidak sabar karenanya. Namun apakah untuk jadi bahagia semua harus sempurna? Tidak toh. Aku pun bersyukur punya teman-teman di sekitarku yang 24 jam untukku. Sahabat-sahabat baikku yang selalu ada untukku setiap saat. Mengapa terkadang kita lupa untuk bersyukur?

Kita terlalu memikirkan keadaan, situasi, lalu menyalahkannya. Lalu takabur lupa bersyukur karena terpengaruh keadaan. Mengapa kita harus kalah pada keadaan? Dan terpengaruh di dalamnya. Misalnya ketika orang lain berteriak-teriak marah karena keadaan yang tidak adil mengapa kita harus ikut-ikutan? Kita bisa belajar dari seekor ikan. Coba lihat! Apakah ikan di lautan akan menjadi asin meski air laut itu asin? Apakah dagingnya menjadi asin kecuali apabila kita menambahkan garam saat memasaknya? Lihatlah ikan di kolam air tawar yang penuh dengan lumut, lumpur, dan makanan mereka adalah tai manusia. Apakah tiba-tiba ikan-ikan itu dagingnya terpengaruh beraroma dan terasa rasa lumut, lumpur, atau bahkan tai?

Begitu pun dalam kehidupan kita, seberapa sulit pun keadaan atau lingkungan di kehidupan kita janganlah mudah terpengaruh. Jadilah manusia bebas. Manusia yang bertanggung jawab total pada dirinya sendiri apakah akan terpengaruh oleh keadaan atau malah tetap dengan keteguhan pribadi. Manusia yang bisa memilih.

Menjadi manusia bebas itu sulit. Karena bebas bukan berarti 'liar' dan tidak mengidahkan apapun namun bebas bertanggung jawab pada hidup masing-masing. Dengan bertanggung jawab pada hidup kita pun belajar bersyukur dengan apa yang kita punyai. Dengan bersyukur kita berani untuk menyelami sebuah nilai baru tentang menerima diri sendiri.

Beranikah kita menjadi ikan yang tidak akan menjadi asin meski tinggal di lautan?

***



Nb.

Hallo mid test udah selesai dan satu-satu nilai pun keluar aaaaaaaaaaaa mamak. Oke aku bukan mau curhat ttg nilaiku yg mengsong. Yaaaah setidaknya aku sudah berusaha dan tidak melupakan bersenang-senang lalu berdoa :)) Sastra mandarin pun sudah selesai mari kita pasrahkan seluruhnya pada Tuhan. Amin.

Kemarin aku bermimpi aneh. Aku mimpi di sekolahku aku ketemu Ferninda. Lalu tiba-tiba sekolah banjir air bah, airnya asin. Ternyata eh ternyata itu air laut. Air itu dateng gede banget lalu berubah jadi lautan besar banget. Terus aku liat ikan GEDEEEEEEEEEEEE banget warna item kayak ikan mujair *haaa ketahuan sebenernya pengen makan ikan mujair goreng buatan ibu*. Ikan itu gede gak kira-kira, gila gede banget. *Ya udah sih,Met!* Terus entah kenapa tiba-tiba aku baru sadar kalo sebetulnya ikannya yang segede babon itu aku. Dibelakangku ada ikan-ikan kecil ngikutin aku perasaanku saat diikuti ikan kecil-kecil itu aku risih, kesel, dan keki tapi aku cuek tetep berenang. Lalu tiba-tiba laut itu berubah jadi surut lagi dan aku terlempar ke luar, tersedot ke luar, air laut pun makin berkurang, ikan-ikan kecil yang ikutin aku klepek-klepek *jatuh cinta kali klepek2* mati kehabisan nafas karena tidak ada air. Lalu aku pun berubah jadi manusia lagi.

Idih mimpi apaaa coba aneh banget! Idihhh gembel. Tapi sodara-sodara setelah pikir punya pikir, aku baru sadar kalo aku punya tulisan yang belom sempet aku publish isinya tentang ikan juga. Mungkin ini kali yah maksud mimpiku suruh nulis tentang ikan. Hahaha :))

Oh iya maap yah karena hampir 1 bulan off nulis dari blog karena begitu banyak kerjaan kuliah dan harus nari di sana-sini. Ayo kita bersemangat untuk mimpi dan cita-cita kita. GBU!


salam,

gadispayungkuning
Metta





new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...