14.7.18

Es Kopi Susu




Sebuah Cafe di BSD

Ucapan paling manis yang disampaikan seorang kawan akhir-akhir ini adalah: Semoga ada kebaruan di dalam rutinitasmu! Setelah melewati setengah tahun yang sebagian besar dilewati dengan panik-panik yang tidak berfaedah dan scroll sosyel media naik turun atas bawah demi sebuah details yang gak penting-penting-amat-buat-idup-lo, akhirnya berhasil juga melewati satu tahun berkomitmen pada suatu hal. Tinggal menunggu hasil dan ini yang paling mendebarkan. Ada baiknya juga ya ternyata mengalami kekecewaan perihal tidak memiliki pulang. Setelah sekian lama hati kepenuhan diisi dan dimiliki orang lain, lalu akhirnya dia menjadi tidak milik siapa-siapa, sempat sedikit jet leg. Namun, ternyata banyak hal yang baik-baik di sekitar kita yang mampu menyembuhkan. Seperti tidak sengaja menemukan sebuah cafe yang buka di pagi hari dan tenang. Semuanya asing dan tidak dikenal. Lalu mendengarkan lagu yang tidak pernah kamu dengarkan sebelumnya. Sepertinya aku seseorang yang selalu membutuhkan spasi dan 'mengisi kembali'. Tadinya aku memesan Cappucino seperti biasa sambil duduk manis membaca, namun sepertinya ada hari-hari di mana mood kamu es kopi susu.




Aku sedang sibuk mengaduk-aduk es kopi susu, menurutku memesan es kopi susu selalu paling aman karena ya pasti rasanya bisa stabil dan kamu tidak perlu memberikan ekspektasi kalau rasanya harus begini begitu karena rasanya ya begitu. Secukupnya tidak berlebihan. Merasakan yang nyata realitas tidak berandai-andai. Seperti membuka semua indera untuk banyak kemungkinan yang bisa saja datang atau tidak datang. Tapi ya, terkadang cara kerja indera kita tidak bisa dikatakan sebagai kenyataan yang absolut, karena sekali lagi itu hanya permukaan saja, wujud saja. Realitas bisa jadi lebih dari itu dan perlu menyelam lebih dalam untuk akhirnya mengetahui. Itu pun mengetahui yang ‘itu-itu’ saja karena sesungguhnya apa yang kita ketahui belum tentu juga kebenarannya. Kemudian untuk mencari kebenaran sendiri tetap saja melewati kajian subjektif kita juga. Mengulang sedikit tentang bacaan mengenai Xenophanes, dia pernah berkata bahwa “And the clear truth no man has seen nor will there be anyone in a position of knowing concerning the gods and the things I say about everything: for even of he hit the mark, saying things that are spot on the truth, yet still he does not himself know; but belief extends across all.” (Xenophanes, fragment 34). Bahwa apabila seseorang mengatakan bahwa ia mengetahui segalanya sebenarnya ia tidak tahu melainkan hanya percaya bahwa ia telah tahu segalanya. Kebenaran yang kamu kira tahu belum tentu suatu kebenaran yang sebenarnya karena bisa saja itu hanya karena kamu mempercayainya buka pengetahuan sebagaimana adanya. Kebenaran yang realitas tidak bisa sekedar melihat dari perspektif kita saja karena menurut Xenophanes kita hanya mengetahui pemahaman di permukaan saja dan kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang absolut.



Menyukai bayangan dan cahaya 


Tiba-tiba cafe ini wangi daun mint yang segar dan es kopi susuku sudah mulai sedikit berembun di gelasnya. Aku jadi ingat akan perkataan seorang kawan yang setiap kali memesan minuman pasti dia akan memesan ice lemon tea. Entah karena sebuah komitmen atau ketakutannya akan mencoba hal-hal baru, aku juga tidak bertanya lebih jauh sih. Sepertinya kebiasaanku untuk bertanya hal-hal kecil-kecil kepo gitu perlu sedikit dikurangi karena memperhatikan detail ternyata seperti orang alergi yang kumat dengan menyebalkan dan tidak bisa dibendung. Kembali lagi pada komitmen, aku selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki komitmen untuk pilihan-pilihannya. Menjalaninya tanpa ampun dan dilakukan terus menerus tanpa bolong-bolong. Bisa jadi seseorang dilihat dari seberapa tahan bantingnya dia pada rutinitas dan komitmen yang membosankan bahkan menyebalkan. Seperti mengerjakan hal-hal kecil remeh temeh dengan tanggung jawab karena kelak akan dipercayakan hal-hal besar. Sepertinya tulisanku sudah ke mana-mana. Es kopi susu sudah habis.






19.6.18

Uraian Singkat tentang Membuang



Sedikit terkesima juga dengan hal-hal sekitar yang berubah dan dalam diri yang pelan-pelan berganti. Memang benar kata orang apabila untuk bermekaran memang perlu melewati masa-masa menggugurkan kelopak. Hari-hari liburan Lebaran yang dilewati dengan membereskan rumah dan membuang banyak barang-barang yang tidak perlu. Kemudian membulatkan tekad dan niat untuk hari-hari depan. Lucu juga ya, untuk mengambil keputusan aku seperti menempelkan stiker yang miring di jendela lalu aku berjalan menjauh hanya untuk menimbang-nimbang benar gak ya?  Huh.

Banyak rencana dan goal yang perlu diatur maju mundur dan dipikir-pikir. Kemudian jadi kesenangan karena memiliki ‘bengkel’ sendiri dengan banyak agenda tapi aku ingin memastikan diriku sendiri tidak akan kehilangan diri sendiri dengan melewati duduk-duduk sendiri minum kopi susu tanpa percakapan, meski kadang aku kangen juga memiliki ‘percakapan’. Tapi sudahlah, ada beberapa yang harus ditunda karena ya barangkali aku belum menemukan. Biarkan pertemuan-pertemuan dengan siapa entah menjadi sebuah takdir (?) yang tidak direncanakan.

Kembali lagi ke urusan membereskan rumah dan kamar yang menelurkan sampah-sampah kenangan. Kubuang semua. Gila. Perasaannya senang sekali dan menang sekali. Sadis deh setelah kupikir-pikir, jangan-jangan aku ini semacam kekasih yang psycho kali ya karena diganduli hal-hal ga penting yang manja dan melankolik. Plis maafkan aku.

Kemudian kemarin pada saat membereskan ini itu, aku menemukan kalau aku benar-benar penyimpan yang ulung, masa aku masih saja menyimpan notes-notes di Taiwan dari teman-teman tentang hal-hal remeh temeh dan manis. Mungkin hal-hal detail ini yang aku selalu suka dan sebagai salah satu bagian krusial dari diriku. Sepertinya itu tidak akan bisa terpisah. Meski aku selalu berusaha untuk memberikan jeda pada suatu objek yang ingin aku perhatikan dan tulis, namun selalu aku hanyut bersamanya. Rasa-rasanya aku bukan Sartre yang bisa memberikan jeda pada apapun yang akan dia tulis.

Lepas dari itu, aku rasa penting juga untuk lepas dari keakuan dan segala pandangan yang subjektif. Ya bahasa kerennya melepaskan diri dari delusionalnya kali ya. Hehe.

11.6.18

Pulang


Beberapa hari belakangan ini aku senang sekali berjalan kaki dan pergi ke suatu tempat sendirian. Seperti mendapatkan suatu kenyamanan bertemu dengan orang asing yang benar-benar tidak kenal, duduk di tempat itu dan memperhatikan. Betapa nyamannya tidak perlu terus-terus maintain obrolan karena semata-mata sedang malas ngobrol, threshold sosialisasi udah ketinggian, ingin diam saja membaca,  menulis jurnal, beradu di pikiran sendiri dan menikmati segalanya sendiri pelan-pelan. Meski terkadang orang lain ingin terus-terusan berbicara atau ngobrol, namun aku yang sedang egois tidak ingin mendengarkan. Sering kali terjadi. 

Ketika sedang biru lebam, memang baik untuk diam. Menyesap kopi kesukaan, membaca buku baru, menciumi wangi halamannya, menulis sendirian dan bersembunyi. Bukannya menciptakan tembok, hanya saja terkadang bersembunyi itu baik, tak perlu repot menjaga perasaan orang lain. 

Beberapa hari kemarin, hatiku berkelana terlalu jauh dan tidak waspada. Lalu aku kehilangan. Lalu aku  merasa ditinggalkan. Lalu serta merta ‘pulang’ yang aku miliki jadi lesap. Lalu aku sedih karena tidak memiliki pulang. Aku bersedih karena ternyata ‘pulang’ yang aku maksud terlalu fana untuk dititipkan pada orang lain. Terlalu naif memang.

Entah sebuah pertanda yang mengiringi, tiba-tiba aku menemukan sebuah tulisan yang begini bunyinya: “Ketika tidak tepat dan bukan waktunya, memang serasa tidak sejiwa.” Iya juga sih. Lalu berlanjut dengan ya barangkali memang pulang tidak dimiliki semua orang. Barangkali memang ada orang yang ditakdirkan berkelana seperti di puisinya Chairil Anwar: “Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.” 

Bisa jadi orang-orang yang pernah hadir sementara itulah yang mempunyai misi dan diutus semesta agar kamu dapat pulang ke dirimu sendiri. Bisa jadi pulang artinya adalah dirimu sendiri. Dia tidak di luar namun di dalam. Dia tidak ngontrak di luar tubuh. Namun bisa jadi pulang artinya diri. 


29.5.18

Sebuah 'Apa Kabar'


Sudah lama juga tidak mengunjungi blog dan menulis lagi di sini. Sepertinya platform blog seolah hanya memiliki tempat yang kecil di pojokan kamar setelah banyak orang beramai-ramai bermain twitter, facebook, tumblr, Instagram dan lain-lain. Bahkan saya sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu melihat Instagram dan twitter daripada blog walking seperti dahulu. Saya rasa memang sudah zamannya begitu dan memang pemakaian social media sebegitu luas dan cepatnya, jadi  akhirnya blog tertinggal. Tetap ada sih yang membaca, namun bisa jadi itu adalah teman dekat, keluarga atau penggemar setia blog sejak dahulu kala. Ya, zaman berubah.

Beberapa waktu kemarin saya  memang  sibuk dan berakhir mengeluh karena jadwal yang super padat persis seorang ibu-ibu yang punya lima anak. Tiba-tiba jadi tidak memiliki waktu untuk sekedar duduk-duduk manis dan menulis di sini. Eh, kangen juga ya. Berbicara tentang kerinduan akan hal-hal lawas lainnya, saya sedang berupaya untuk bisa kembali ke akar dan lebih memperhatikan. Mungkin saya kebiasaan sering zone out lalu menerawang jauh ke depan atau ke belakang hingga banyak hal kini yang luput perhatian dan terlewat.  Lucunya  lagi seperti seolah Ada yang Mengatur, saya menemukan sebuah frasa yakni holding space di blog tiny buddha. Saya sendiri cukup terpesona karena ternyata holding space pertama kali harus dipraktikan pada diri sendiri bukan orang lain. Mungkin kalau diterjemahkan bebas ngasal jadi menyadari secara utuh akan diri dan bersama tinggal di dalamnya. Menurut saya ini sulit karena terkadang untuk berada secara intim dengan diri sendiri, artinya menyediakan seluruh perhatian, kepercayaan teguh sepenuhnya dan dilakukan tanpa menghakimi diri sendiri. Dengan begitu, maka kamu akan mampu memeriksa, bertumbuh, berkembang, membuang hal-hal yang tidak perlu dan mengenal diri sendiri lebih lagi. 

Sebenarnya saya sedikit terkaget-kaget dengan diri sendiri karena ternyata saya berubah. Terkadang kita bisa dengan mudah sadar sekitar kita berubah, namun saat diri sendiri berubah ternyata tidak disadari. Ya, barangkali melihat segala sesuatu terlalu dekat dengan jarak pandang sangat dekat membuat mata saya jadi juling. Lalu kemarin ini juga ada sebuh keperluan untuk mendefinisi ulang arti: cinta. Tiba-tiba saya tidak tahu apa arti mencintai dan dicintai. Tiba-tiba saya jadi memiliki pemahaman nol besar akan arti cinta itu sendiri. Hal yang membuat saya cukup bersedih adalah arti nama saya adalah ‘cinta kasih tanpa pamrih’ namun saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Seperti keberatan nama mungkin?  Lalu sempat saya rungsing mencari distraksi dan kedamaian ke sana ke mari, berdoa, membaca, bertanya. Lalu dari semuanya kata kucinya adalah: mengalami sini kini.

Mendadak ada suatu hal yang membangunkan saya dari perasaan sedih, kecewa dan bengong-bengong bego. Minggu lalu saya sedang setengah bengong berjalan di Stasiun Manggarai. Saat sedang berjalan saya tersandung sedikit di gundukan tangga. Saya kaget dengan jantung yang berdegup kencang dua kali seperti biasanya. Mendadak stasiun terasa hidup dan ramai, lalu orang sekitar sibuk berlalu lalang, mendadak saya tidak tertarik untuk mengalihkan perhatian saya, mendadak saya tidak membutuhkan distraksi. Tiba-tiba saya hanya ingin betul-betul sadar dan tidak menolak hal-hal yang membuat sedih, kecewa dan sakit. Mendadak saya tidak perlu mengalihkan perhatian atau menjadi sembuh. Saya hanya ingin berada di sini, sekarang. 

22.3.18

Please



Coba ya bagaimana caranya mengalihkan pikiran yang kembali terus menerus lalu sebenarnya ada beberapa hal yang diluar kontrol, namun kau 'dipaksa' untuk membuat semua menjadi normal. Tidakkah kita memiliki pilihan hidup sendiri. Tidakkah kita tidak perlu terus menerus memaksa orang lain untuk melakukan hal-hal sesuai yang kau inginkan. Kau melakukan sesuatu lalu sudah seharusnya orang lain berbuat baik sama besar dan lebih untukmu. Aku muak sekali. Tidak bisakah kita pura-pura budeg dan masa bodoh saja karena mulut orang lain sudah berbau busuk. Tidak bisakah orang lain memberikan jeda dan tidak perlu mengikut campuri urusan manusia lainnya. Tidak bisakah orang-orang mengurusi dirinya sendiri dan membeli alat elektronik yang super besar, canggih, dan hebat agar perhatian mereka tersita. Mungkin membuat sebuah permainan yang seru hingga segala waktu mereka tersedot agar tidak perlu lagi obrolan iseng-iseng kurang kerjaan. Pembicaraan basa basi yang hanya mengeluarkan cibiran, sindiran dan ocehan burung yang tiada hentinya. Tidak bisakah manusia mute sejenak dan duduk diam. Please.  Thank you.


15.1.18

Sebuah Isi Otak yang Penuh dengan Sampah dan Tai Kerbau, Lalu Meracau


Ciamis, Desember 2017


Aku harus cermat menghitung kalender kapan aku datang bulan bukan karena takut hamil atau menghitung masa subur. Namun aku menginginkan bisa mendapatkan sebuah antisipasi yang nyata karena hari-hari menjelang datang bulan adalah hari-hari emo sedunia. Namun aku akhir-akhir ini merasa bersedih yang tidak aku ketahui mengapa dan asal usulnya dari mana. Aku hanya merasa bersedih tanpa alasan dan salah satunya karena ada perasaan janggal seperti merasa tidak berada di tempat yang seharusnya di mana aku berada. Rasanya seperti tersesat di sebuah perjalanan. Seperti ingin bersembunyi sekaligus ingin ditemukan. Tidakkah aku sedemikian egois untuk ingin ditemukan padahal sesungguhya aku sedang bersembunyi?

Rasanya kamu tidak akan mengerti apa yang kumaksud karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjabarkannya dengan jelas. Seperti terpotong-potong antara badan, pikiran dan hati yang entah berada di mana lalu aku rasanya mengambang di ruang hampa udara. Ternyata bersedih itu tidak untuk digembor-gemborkan atau dikatakan karena manusia terlalu awkward dan jengah untuk mengetahui manusia lainnya sedang bersedih dengan perasaannya dan tidak tahu mengapa demikian. Hanya terjadi demikian saja tanpa kecuali, tanpa permisalan, tanpa andai.

Kurasa adalah sebuah momen di mana aku ingin beranjak keluar dari lingkaran namun beberapa hal masih ditarik-tarik dan tidak bisa lepas-lepas. Atau seperti makan permen karet mint yang sudah hilang manisnya, sudah seharusnya kamu lepeh tapi kok sayang eh tapi aku ingin minum teh. Itulah perasaannya. Random kan? Sudahlah pasti kamu tidak mengerti, aku pun tidak berharap ada yang mengerti. Bagaimana mungkin aku yang memiliki perasaan pun tidak mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa mengerti? (Aku tahu kalimat ini tidak efektif tapi aku butuh filter yang luar biasa ampuh, isi otakku ampas semua.)

Seharian ini aku berpikir rasanya dari pada jadi kaya aku mau jadi bahagia saja. Aku tahu sih kalau seseorang pasti akan berkata kalau kebahagiaannya adalah menjadi kaya. Ih kok dia curang ya. Emang bisa ya kebahagiaan dicampur sama hal yang material? Material bisa menjadi penyebab bahagia, tapi bukan bahagia itu sendiri. Bukan getaran itu sendiri, karena perasaan bahagia sepertinya ada campuran kimiawi tertentu di otak.  Apakah perasaan bahagia itu bisa diukur dengan satuan apa gitu? Seperti misalnya setelah ditimbang-timbang bahagianya seberat satu kilogram jadi bisa dijual kembali sebesar sekian-sekian rupiah. Rasanya tidak.

Pasti pernah kita mendengar sebuah perkataan bahwa kebahagiaan sendiri dari bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tidak diperbudak keinginan. Bahwa semua yang kita miliki berasal dari keinginan kita yang terdahulu, yang sudah didoakan siang malam. Namun, seringnya pada suatu masa kita jadi menyesal akan keinginan itu karena ternyata keinginan itu tidak sedemikian okenya. Hingga rasanya aku harus berhati-hati dengan keinginan sendiri. Kamu bisa tiba-tiba berubah pikiran dan menginginkan yang lain. Aku terkadang jadi takut untuk menginginkan sesuatu karena pada akhirnya aku hanya akan menginginkan hal yang lain dan tidak bisa ditahan-tahan terus saja begitu muter-muter hingga akhirnya ladang koko cruch kejatuhan meteor coklat.

Kemarin aku sempat membaca buku essai isi renungan Haruki Murakami saat dia berlari, di situ dia berkata bahka dia tidak bisa melakukan dua hal secara bersamaan karena yang satu pasti akan menjadi lemah dan tidak maksimal; dia tidak suka itu. Lagi pula dia semenjak dahulu tidak bisa mengerjakan sesuatu yang tidak dia sukai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan satu hal yang dia sukai benar-benar dan membuat itu menjadi prioritas. Aku jadi berpikir apakah menjadi amfibi yang hidup di dua alam itu sebuah anugerah ataukah terdesak? Anugerah karena dia bisa melakukan keduanya atau dia semata-mata melakukannya untuk survive? Apakah hidup berdasarkan pilihannya lebih baik dari pada hidup yang hanya dilakukan untuk tetap survive? Jadi apa arti hidup itu sendiri kalau tidak ada pilihan dan hanya memilih hidup semata-mata untuk kehidupan. Lalu ada satu paham Stoic yang berkata bahwa apabila tidak punya alasan lain yang bisa dibanggakan dan diperjuangkan untuk hidup, lebih baik mati saja. Gitu masa katanya. Tapi aku juga takut mati. Heu.

Seharian ini aku berencana gila-gilaan untuk kabur dan melarikan diri ke Tibet dan berdiam di sana. Aku merasa bosan bosan bosan. Seperti berenang di danau yang terlalu tenang, dalam dan dingin. Rasanya aku terhisap di dalamnya. Tapi kembali lagi, ini hanyalah sebuah isi otak yang sedemikian sampahnya dan berkerak terlalu lama. Hingga aku pun tidak mengerti, aku hanya meracau. Kalau begitu saya permisi sebentar.  Saya mau cari tahu: Mengapa ada orang yang memiliki hidup begitu fungsional sedangkan yang lain tidak? Seperti segalanya harus memiliki tujuan padahal nyatanya segalanya dimulai dari kekosongan? Mau di mulai dari mana pembicaraan kita sekarang?




14.1.18

Amor fati #6




Hari Minggu yang cerah dan aku hanya tidur-tiduran saja sedari kemarin sore. Rasanya badanku remuk sekali seperti renginang. Kemarin aku sempat menonton sedikit Black Mirror yang episode 1, gila ya apa yang bisa teknologi dan internet lakukan pada sebuah peradaban. Ceritanya satir, thriller dan sebuah hiperbola akan ketergantungan kita pada teknologi, pada media kurasa.  Terlepas dari film itu, lalu aku jadi sedikit tersadar betapa aku sendiri salah satunya menghabiskan banyak waktu bermain-main di alat pada genggaman ini. Bukan berarti itu buruk karena sebenarnya itu sangat memudahkan siapapun dalam berbagai hal terutama komunikasi dan kerjaan. Namun segalanya jadi diperluas seperti betapa tersitanya beberapa waktu hanya untuk melihat-lihat sosial media lalu mengetahui: Oh si ini makan bakmi, dia sedang sedih karena putus, si ini sedang super sibuk kerja, dan lain-lain. Segala informasi dari yang pribadi, penting, sampai akhirnya yang sampah gak penting-penting amat diguyur di hadapan kita. Benar, kita memiliki pilihan untuk filter mana yang mau dan tidak karena pada dasarnya kita bukan sponge, tapi kenyataannya yang paling mudah hanyalah menerima semuanya tanpa filter tanpa sekat, kan? Aku rasa, kebutuhanku yang sekarang adalah komunikasi dan kerja, kurasa aku harus membatasi media sosial karena aku tidak mau kehidupanku dan perhatianku hanya berada di situ-situ saja. Terlalu  mudah. Terlalu mudah. Toh pada dasarnya untuk berkomunikasi secara real bisa lewat media chat yang lainnya atau bertemu tatap mata.


Lalu seharian kemarin ini aku berpikir, seberapa banyak lekatan label yang terus menerus diusahakan untuk menempel dan melekat hingga pada akhirnya seseorang harus melakukan banyak acara, serangkaian kegiatan yang bisa jadi dia tidak demikian. Namun dia perlu menjadi demikian karena itu wajah yang dia pakai. Upaya agar orang lain impres akan kehidupannya atau akan apa yang dia punya. Dih label-label sosial itu mahal ya, lalu aku jadi berpikir akankah segalanya akan menempel selama-lamanya, lekang waktu. Kurasa yang aku inginkan bukan label dan segala pandangan orang lain akan hal-hal artifisial. Kuhanya ingin bahagia itu saja.


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...