11.6.18

Pulang


Beberapa hari belakangan ini aku senang sekali berjalan kaki dan pergi ke suatu tempat sendirian. Seperti mendapatkan suatu kenyamanan bertemu dengan orang asing yang benar-benar tidak kenal, duduk di tempat itu dan memperhatikan. Betapa nyamannya tidak perlu terus-terus maintain obrolan karena semata-mata sedang malas ngobrol, threshold sosialisasi udah ketinggian, ingin diam saja membaca,  menulis jurnal, beradu di pikiran sendiri dan menikmati segalanya sendiri pelan-pelan. Meski terkadang orang lain ingin terus-terusan berbicara atau ngobrol, namun aku yang sedang egois tidak ingin mendengarkan. Sering kali terjadi. 

Ketika sedang biru lebam, memang baik untuk diam. Menyesap kopi kesukaan, membaca buku baru, menciumi wangi halamannya, menulis sendirian dan bersembunyi. Bukannya menciptakan tembok, hanya saja terkadang bersembunyi itu baik, tak perlu repot menjaga perasaan orang lain. 

Beberapa hari kemarin, hatiku berkelana terlalu jauh dan tidak waspada. Lalu aku kehilangan. Lalu aku  merasa ditinggalkan. Lalu serta merta ‘pulang’ yang aku miliki jadi lesap. Lalu aku sedih karena tidak memiliki pulang. Aku bersedih karena ternyata ‘pulang’ yang aku maksud terlalu fana untuk dititipkan pada orang lain. Terlalu naif memang.

Entah sebuah pertanda yang mengiringi, tiba-tiba aku menemukan sebuah tulisan yang begini bunyinya: “Ketika tidak tepat dan bukan waktunya, memang serasa tidak sejiwa.” Iya juga sih. Lalu berlanjut dengan ya barangkali memang pulang tidak dimiliki semua orang. Barangkali memang ada orang yang ditakdirkan berkelana seperti di puisinya Chairil Anwar: “Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.” 

Bisa jadi orang-orang yang pernah hadir sementara itulah yang mempunyai misi dan diutus semesta agar kamu dapat pulang ke dirimu sendiri. Bisa jadi pulang artinya adalah dirimu sendiri. Dia tidak di luar namun di dalam. Dia tidak ngontrak di luar tubuh. Namun bisa jadi pulang artinya diri. 


29.5.18

Sebuah 'Apa Kabar'


Sudah lama juga tidak mengunjungi blog dan menulis lagi di sini. Sepertinya platform blog seolah hanya memiliki tempat yang kecil di pojokan kamar setelah banyak orang beramai-ramai bermain twitter, facebook, tumblr, Instagram dan lain-lain. Bahkan saya sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu melihat Instagram dan twitter daripada blog walking seperti dahulu. Saya rasa memang sudah zamannya begitu dan memang pemakaian social media sebegitu luas dan cepatnya, jadi  akhirnya blog tertinggal. Tetap ada sih yang membaca, namun bisa jadi itu adalah teman dekat, keluarga atau penggemar setia blog sejak dahulu kala. Ya, zaman berubah.

Beberapa waktu kemarin saya  memang  sibuk dan berakhir mengeluh karena jadwal yang super padat persis seorang ibu-ibu yang punya lima anak. Tiba-tiba jadi tidak memiliki waktu untuk sekedar duduk-duduk manis dan menulis di sini. Eh, kangen juga ya. Berbicara tentang kerinduan akan hal-hal lawas lainnya, saya sedang berupaya untuk bisa kembali ke akar dan lebih memperhatikan. Mungkin saya kebiasaan sering zone out lalu menerawang jauh ke depan atau ke belakang hingga banyak hal kini yang luput perhatian dan terlewat.  Lucunya  lagi seperti seolah Ada yang Mengatur, saya menemukan sebuah frasa yakni holding space di blog tiny buddha. Saya sendiri cukup terpesona karena ternyata holding space pertama kali harus dipraktikan pada diri sendiri bukan orang lain. Mungkin kalau diterjemahkan bebas ngasal jadi menyadari secara utuh akan diri dan bersama tinggal di dalamnya. Menurut saya ini sulit karena terkadang untuk berada secara intim dengan diri sendiri, artinya menyediakan seluruh perhatian, kepercayaan teguh sepenuhnya dan dilakukan tanpa menghakimi diri sendiri. Dengan begitu, maka kamu akan mampu memeriksa, bertumbuh, berkembang, membuang hal-hal yang tidak perlu dan mengenal diri sendiri lebih lagi. 

Sebenarnya saya sedikit terkaget-kaget dengan diri sendiri karena ternyata saya berubah. Terkadang kita bisa dengan mudah sadar sekitar kita berubah, namun saat diri sendiri berubah ternyata tidak disadari. Ya, barangkali melihat segala sesuatu terlalu dekat dengan jarak pandang sangat dekat membuat mata saya jadi juling. Lalu kemarin ini juga ada sebuh keperluan untuk mendefinisi ulang arti: cinta. Tiba-tiba saya tidak tahu apa arti mencintai dan dicintai. Tiba-tiba saya jadi memiliki pemahaman nol besar akan arti cinta itu sendiri. Hal yang membuat saya cukup bersedih adalah arti nama saya adalah ‘cinta kasih tanpa pamrih’ namun saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Seperti keberatan nama mungkin?  Lalu sempat saya rungsing mencari distraksi dan kedamaian ke sana ke mari, berdoa, membaca, bertanya. Lalu dari semuanya kata kucinya adalah: mengalami sini kini.

Mendadak ada suatu hal yang membangunkan saya dari perasaan sedih, kecewa dan bengong-bengong bego. Minggu lalu saya sedang setengah bengong berjalan di Stasiun Manggarai. Saat sedang berjalan saya tersandung sedikit di gundukan tangga. Saya kaget dengan jantung yang berdegup kencang dua kali seperti biasanya. Mendadak stasiun terasa hidup dan ramai, lalu orang sekitar sibuk berlalu lalang, mendadak saya tidak tertarik untuk mengalihkan perhatian saya, mendadak saya tidak membutuhkan distraksi. Tiba-tiba saya hanya ingin betul-betul sadar dan tidak menolak hal-hal yang membuat sedih, kecewa dan sakit. Mendadak saya tidak perlu mengalihkan perhatian atau menjadi sembuh. Saya hanya ingin berada di sini, sekarang. 

22.3.18

Please



Coba ya bagaimana caranya mengalihkan pikiran yang kembali terus menerus lalu sebenarnya ada beberapa hal yang diluar kontrol, namun kau 'dipaksa' untuk membuat semua menjadi normal. Tidakkah kita memiliki pilihan hidup sendiri. Tidakkah kita tidak perlu terus menerus memaksa orang lain untuk melakukan hal-hal sesuai yang kau inginkan. Kau melakukan sesuatu lalu sudah seharusnya orang lain berbuat baik sama besar dan lebih untukmu. Aku muak sekali. Tidak bisakah kita pura-pura budeg dan masa bodoh saja karena mulut orang lain sudah berbau busuk. Tidak bisakah orang lain memberikan jeda dan tidak perlu mengikut campuri urusan manusia lainnya. Tidak bisakah orang-orang mengurusi dirinya sendiri dan membeli alat elektronik yang super besar, canggih, dan hebat agar perhatian mereka tersita. Mungkin membuat sebuah permainan yang seru hingga segala waktu mereka tersedot agar tidak perlu lagi obrolan iseng-iseng kurang kerjaan. Pembicaraan basa basi yang hanya mengeluarkan cibiran, sindiran dan ocehan burung yang tiada hentinya. Tidak bisakah manusia mute sejenak dan duduk diam. Please.  Thank you.


15.1.18

Sebuah Isi Otak yang Penuh dengan Sampah dan Tai Kerbau, Lalu Meracau


Ciamis, Desember 2017


Aku harus cermat menghitung kalender kapan aku datang bulan bukan karena takut hamil atau menghitung masa subur. Namun aku menginginkan bisa mendapatkan sebuah antisipasi yang nyata karena hari-hari menjelang datang bulan adalah hari-hari emo sedunia. Namun aku akhir-akhir ini merasa bersedih yang tidak aku ketahui mengapa dan asal usulnya dari mana. Aku hanya merasa bersedih tanpa alasan dan salah satunya karena ada perasaan janggal seperti merasa tidak berada di tempat yang seharusnya di mana aku berada. Rasanya seperti tersesat di sebuah perjalanan. Seperti ingin bersembunyi sekaligus ingin ditemukan. Tidakkah aku sedemikian egois untuk ingin ditemukan padahal sesungguhya aku sedang bersembunyi?

Rasanya kamu tidak akan mengerti apa yang kumaksud karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana menjabarkannya dengan jelas. Seperti terpotong-potong antara badan, pikiran dan hati yang entah berada di mana lalu aku rasanya mengambang di ruang hampa udara. Ternyata bersedih itu tidak untuk digembor-gemborkan atau dikatakan karena manusia terlalu awkward dan jengah untuk mengetahui manusia lainnya sedang bersedih dengan perasaannya dan tidak tahu mengapa demikian. Hanya terjadi demikian saja tanpa kecuali, tanpa permisalan, tanpa andai.

Kurasa adalah sebuah momen di mana aku ingin beranjak keluar dari lingkaran namun beberapa hal masih ditarik-tarik dan tidak bisa lepas-lepas. Atau seperti makan permen karet mint yang sudah hilang manisnya, sudah seharusnya kamu lepeh tapi kok sayang eh tapi aku ingin minum teh. Itulah perasaannya. Random kan? Sudahlah pasti kamu tidak mengerti, aku pun tidak berharap ada yang mengerti. Bagaimana mungkin aku yang memiliki perasaan pun tidak mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa mengerti? (Aku tahu kalimat ini tidak efektif tapi aku butuh filter yang luar biasa ampuh, isi otakku ampas semua.)

Seharian ini aku berpikir rasanya dari pada jadi kaya aku mau jadi bahagia saja. Aku tahu sih kalau seseorang pasti akan berkata kalau kebahagiaannya adalah menjadi kaya. Ih kok dia curang ya. Emang bisa ya kebahagiaan dicampur sama hal yang material? Material bisa menjadi penyebab bahagia, tapi bukan bahagia itu sendiri. Bukan getaran itu sendiri, karena perasaan bahagia sepertinya ada campuran kimiawi tertentu di otak.  Apakah perasaan bahagia itu bisa diukur dengan satuan apa gitu? Seperti misalnya setelah ditimbang-timbang bahagianya seberat satu kilogram jadi bisa dijual kembali sebesar sekian-sekian rupiah. Rasanya tidak.

Pasti pernah kita mendengar sebuah perkataan bahwa kebahagiaan sendiri dari bersyukur atas apa yang dimiliki sehingga tidak diperbudak keinginan. Bahwa semua yang kita miliki berasal dari keinginan kita yang terdahulu, yang sudah didoakan siang malam. Namun, seringnya pada suatu masa kita jadi menyesal akan keinginan itu karena ternyata keinginan itu tidak sedemikian okenya. Hingga rasanya aku harus berhati-hati dengan keinginan sendiri. Kamu bisa tiba-tiba berubah pikiran dan menginginkan yang lain. Aku terkadang jadi takut untuk menginginkan sesuatu karena pada akhirnya aku hanya akan menginginkan hal yang lain dan tidak bisa ditahan-tahan terus saja begitu muter-muter hingga akhirnya ladang koko cruch kejatuhan meteor coklat.

Kemarin aku sempat membaca buku essai isi renungan Haruki Murakami saat dia berlari, di situ dia berkata bahka dia tidak bisa melakukan dua hal secara bersamaan karena yang satu pasti akan menjadi lemah dan tidak maksimal; dia tidak suka itu. Lagi pula dia semenjak dahulu tidak bisa mengerjakan sesuatu yang tidak dia sukai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melakukan satu hal yang dia sukai benar-benar dan membuat itu menjadi prioritas. Aku jadi berpikir apakah menjadi amfibi yang hidup di dua alam itu sebuah anugerah ataukah terdesak? Anugerah karena dia bisa melakukan keduanya atau dia semata-mata melakukannya untuk survive? Apakah hidup berdasarkan pilihannya lebih baik dari pada hidup yang hanya dilakukan untuk tetap survive? Jadi apa arti hidup itu sendiri kalau tidak ada pilihan dan hanya memilih hidup semata-mata untuk kehidupan. Lalu ada satu paham Stoic yang berkata bahwa apabila tidak punya alasan lain yang bisa dibanggakan dan diperjuangkan untuk hidup, lebih baik mati saja. Gitu masa katanya. Tapi aku juga takut mati. Heu.

Seharian ini aku berencana gila-gilaan untuk kabur dan melarikan diri ke Tibet dan berdiam di sana. Aku merasa bosan bosan bosan. Seperti berenang di danau yang terlalu tenang, dalam dan dingin. Rasanya aku terhisap di dalamnya. Tapi kembali lagi, ini hanyalah sebuah isi otak yang sedemikian sampahnya dan berkerak terlalu lama. Hingga aku pun tidak mengerti, aku hanya meracau. Kalau begitu saya permisi sebentar.  Saya mau cari tahu: Mengapa ada orang yang memiliki hidup begitu fungsional sedangkan yang lain tidak? Seperti segalanya harus memiliki tujuan padahal nyatanya segalanya dimulai dari kekosongan? Mau di mulai dari mana pembicaraan kita sekarang?




14.1.18

Amor fati #6




Hari Minggu yang cerah dan aku hanya tidur-tiduran saja sedari kemarin sore. Rasanya badanku remuk sekali seperti renginang. Kemarin aku sempat menonton sedikit Black Mirror yang episode 1, gila ya apa yang bisa teknologi dan internet lakukan pada sebuah peradaban. Ceritanya satir, thriller dan sebuah hiperbola akan ketergantungan kita pada teknologi, pada media kurasa.  Terlepas dari film itu, lalu aku jadi sedikit tersadar betapa aku sendiri salah satunya menghabiskan banyak waktu bermain-main di alat pada genggaman ini. Bukan berarti itu buruk karena sebenarnya itu sangat memudahkan siapapun dalam berbagai hal terutama komunikasi dan kerjaan. Namun segalanya jadi diperluas seperti betapa tersitanya beberapa waktu hanya untuk melihat-lihat sosial media lalu mengetahui: Oh si ini makan bakmi, dia sedang sedih karena putus, si ini sedang super sibuk kerja, dan lain-lain. Segala informasi dari yang pribadi, penting, sampai akhirnya yang sampah gak penting-penting amat diguyur di hadapan kita. Benar, kita memiliki pilihan untuk filter mana yang mau dan tidak karena pada dasarnya kita bukan sponge, tapi kenyataannya yang paling mudah hanyalah menerima semuanya tanpa filter tanpa sekat, kan? Aku rasa, kebutuhanku yang sekarang adalah komunikasi dan kerja, kurasa aku harus membatasi media sosial karena aku tidak mau kehidupanku dan perhatianku hanya berada di situ-situ saja. Terlalu  mudah. Terlalu mudah. Toh pada dasarnya untuk berkomunikasi secara real bisa lewat media chat yang lainnya atau bertemu tatap mata.


Lalu seharian kemarin ini aku berpikir, seberapa banyak lekatan label yang terus menerus diusahakan untuk menempel dan melekat hingga pada akhirnya seseorang harus melakukan banyak acara, serangkaian kegiatan yang bisa jadi dia tidak demikian. Namun dia perlu menjadi demikian karena itu wajah yang dia pakai. Upaya agar orang lain impres akan kehidupannya atau akan apa yang dia punya. Dih label-label sosial itu mahal ya, lalu aku jadi berpikir akankah segalanya akan menempel selama-lamanya, lekang waktu. Kurasa yang aku inginkan bukan label dan segala pandangan orang lain akan hal-hal artifisial. Kuhanya ingin bahagia itu saja.


16.9.17

Konspirasi Tai Kucing #14: Sehelai Rambut yang Juga Dihitung





Konon dalam menulis harus dilakukan terus menerus agar otot-otot menulis semakin terlatih dan juga agar pembaca budiman tidak pergi melupakan penulis. Tapi ah, sudahlah membuat segala sesuatu sesuai dengan tempatnya amatlah membosankan. Dan mungkin pekerjaan yang menyenangkan adalah segala hal yang spontan-spontan saja. Meski katanya jikalau sungguh-sungguh ingin menjadi profesional harus mengerjakannya terus menerus. Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa menulis bukan lagi perkara profesional atau tidak tapi ya semacam kelenjar yang selalu ada. Menuliskannya dan dishare atau tidak hanyalah perkara pilihan si penulis. 

Daripada akhirnya saya menuliskan panjang lebar pembenaran mengapa sudah lama tidak menulis di sini (hehe!), untuk kesempatan ini saya baru mempunyai sedikit waktu lagi untuk berbagi ini itu. Gila berbagi waktu pun adalah hal-hal yang tidak mudah karena tiba-tiba saya jadi pelit berbagi waktu cuma-cuma dengan segala hal yang menurut saya tidak penting-penting amat. Sudahlah, akui saja semakin saya menginjak umur 20an ke atas, saya semakin selektif merelakan waktu istirahat saya. Hingga sebuah kegiatan makhluk sosial seperti bertemu teman, bermain, memperluas pergaulan saya pangkas dengan keji untuk sekedar leha-leha berguling-guling di tempat tidur setelah Senin-Sabtu bekerja rauwis-uwis. Begitulah.

Kemarin ini saya tiba-tiba terkena panas tinggi, demam, pusing yang tidak sembuh-sembuh sudah tiga hari, lalu akhirnya memutuskan tes darah, hasilnya kena demam berdarah. Gila, seumur hidup baru sekali ini rawat inap, diinfus dan makan makanan rumah sakit yang rasanya gak karuan itu. Lalu rasanya lemas, pusing setengah mati dan keluar bintik-bintik merah di permukaan kulit persis seperti yang ada di buku pelajaran PPKN SD dulu. Saya juga agak bingung kenapa harus kena demam berdarah, sejenis penyakit negara tropikal yang gak elit. Trombosit saya jatuh sampai 34,000 dari 200,000-400,000 trombosit orang normal. Bisa jadi ternyata saya ini juga adalah manusia yang sudah sampai pada batas-batas kekuatan tubuh. Bahwa saya ini manusia bukan mesin. Bukan melulu harus menghasilkan, cuan sana cuan sini.

Kemarin ini saya jadi berpikir, mungkin sudah waktunya istirahat dulu dan tidur yang benar-benar tidur. Lalu saya jadi berpikir sendirian di kamar rawat inap itu, betapa hidup itu berharga. Saya jadi ingat bahwa saya sering berbisik sendirian saat rasanya hidup sungguh menyebalkan dan menguji kesabaran setiap harinya, saya sering kali berpikir: Apakah mati saja akan lebih enak? 

Lalu kemarin di tempat tidur rumah sakit, dengan infus yang bikin tangan ngilu nyut-nyutan hingga telapak tangan saya sedikit membengkak, saya jadi berpikir betapa hidup ini sangatlah berharga. Betapa untuk survive sampai pada hari ini pun ada banyak sel-sel dan organ tubuh saya yang berkerja keras untuk tetap hidup. Betapa mati juga bukan state yang dapat menyelesaikan masalah dan segala persoalan hidup. Saya jadi merenungi bahwa bisa saja kemarin itu saya tiba-tiba lewat dengan trombosit yang hanya 34,000 itu namun ternyata Tuhan tetap menjagai jiwa dan tubuh saya. Bukankah terkadang kita menganggap enteng akan hidup dan nafas itu sendiri? Seperti semua itu cuma-cuma milik manusia. Padahal jiwa jelas bukan milik manusia.

Sempat saat saya sedang lemasnya di rumah sakit dan betapa inginnya saya ke toilet hingga akhirnya saya harus menggeret-geret tiang infus ke kamar kecil, lalu tiba-tiba darah di infus saya malah naik hingga saya panik sendiri dan terburu-buru memencet tombol darurat. Saat itu adalah hari-hari di mana saya berusaha sekuat tenaga hanya untuk bertahan hidup. Dan saya pun jadi merefleksikan bahwa mungkin benar kita dapat melihat ketulusan sebuah hubungan sahabat dan keluarga saat kita sedang terbaring sakit bukan pada saat badan masih sehat dan bersenang-senang. 

Barangkali demam berdarah ini memang adalah sebuah kesempatan untuk saya merefleksikan banyak hal dan melihat lebih dalam lagi akan banyak hal. Mengevaluasi hidup dan memutuskan beberapa hal yang krusial dan baik untuk hidup ke depannya. Kemudian di pagi hari saat saya beranjak ingin duduk mengambil minum, rambut saya terurai panjang. Hendak saya ikat, namun untuk mengikat rambut sendiri pun saya tidak bisa. Tangan kanan saya diinfus dan ketika bergerak sedikit rasanya ngilu sekali lalu darah mulai naik ke selang. Pada momen itu saya sungguh merasa, ketidakmampuan untuk melakukan hal remeh temeh. Mengikat rambut saja saya tidak bisa. Kemudian saya jadi teringat akan sebuah perikop Matius 10:30-31 yang berbunyi, Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, sebab kamu lebih berharga dari banyak burung pipit. Seketika saya menjadi tenang mengetahui ada yang Lebih Berkuasa di luar saya.

Dan tahun yang tidak mudah dan berganti untuk menyita kewarasan seseorang untuk sekedar berdiri tetap di garisnya masing-masing. Tanpa perlu mencong-mencong ke kanan kiri. Tanpa perlu membanding-bandingkan kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang lain. Kalau ternyata banyaknya kita selalu mencatat ketidakbahagiaan. Kalau sebenarnya tidak apa-apa berusaha melangkah meski berat, meski akhirnya kamu harus menyeret langkah kaki satu dan lainnya. Hei, setidaknya kamu berpindah dan tidak statis. Seperti komedi putar yang bergerak naik turun saja, berputar tapi di situ-situ saja. Awas, nanti kamu muntah! Kamu butuh perpindahan yang nyata. Meski hanya selangkah.



1.6.17

Nenek


Cerita yang digulirkan akan menjadi itu-itu lagi namun kau tidak bosan. Kita meyakini semesta memiliki garisannya sendiri untuk setiap jeda dan awalan. Kita masih sama mesra seperti dulu. Menghitung bunga lili di belakang rumah. Memetik biji kopi di pekarangan. Menyangrai daun teh untuk kita hirup di ujung hari. Lalu kabut tipis akan turun perlahan ke lembah rumah kita. Anjing-anjing peliharaan kita akan berlarian dan mencari liang tidurnya sendiri. 

Dari sekian banyak cinta, kita akan memilih satu aroma yang dikenali dengan mata terpejam. Dengan garis wajah yang kita hafal telusuri, dengan kumis tipis bergerigi, dengan anak rambut di tengkuk, dengan garis tawa di sudut mata. Meski akhirnya harus ada masa gugur bunga merah jambu itu, percayalah kasihmu akan selalu setia seperti cinta teluk pada garis pantai. 

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...