8.4.16

Biru dan Ungu


pic: pribadi, Seminyak, 2 Mei 2015.


Terbangun di pagi yang masih muda membuat saya terkejut. Saya terbangun dan serta merta mata saya benderang. Pagi ini masih terlalu pagi dan saya masih setengah terbangun belum sepenuhnya. Ada selapis selaput tipis antara kesadaran dan tidaknya. Saya berhenti di situ. Saya tidak tahu apa namanya momen tadi itu. Ngelindur? Rasanya tidak. 

Saya merasa momen itu berwarna biru dan ungu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan jelas seperti perlu mendekatkan diri namun takut-takut. Hanya bisa saya deskripsikan dengan warna dan itu terjadi ketika melihat dan berkenalan dengan orang baru pertama kali, saya akan mendeskripsikan dia dengan warna. Rasa ini janggal namun tidak membahayakan. Ada rasa damai dan sepi di sana. Sepi yang betul-betul hening bening hingga jantung saya berdebar hangat namun kaki saya sedikit kedinginan. Atmosfir yang agung, hening dan murni  Ketika momen itu saya merasa cukup. Pada momen itu pula saya merasa kepenuhan.  

Sepi ini melahirkan rasa lain seperti koneksi dengan diri sendiri dan pikiran, terbuka seluas-luasnya. Mungkin benar apabila ada beberapa orang berdoa dan memulai kerjanya pada jam segini karena jam inilah seolah aliran energi Tuhan dan alam semesta sungguh terasa. Mungkin benar apabila mencari sesuatu carilah keheningan. Keheningan dan ketiadaan mampu melahirkan sesuatu. Selesai itu saya menemukan sebuah kata: menerima. Menerima dan membuka hati apa pun itu.

Kemarin saya berdoa dengan sangat. Sungguh-sungguh berdoa agar saya tidak menjadi 'pengecut' yang mudah lari. Saya berdoa untuk tidak jadi penakut untuk mengambil komitmen karena menurut saya itu menakutkan. Komitmen dengan diri sendiri bahwa saya bertanggung jawab sepenuhnya untuk semua hidup, tubuh dan jiwa saya. Saya terlalu overthinking atau terlalu 'dalam'? Saya rasa tidak. Saya hanya lelah, lelah sekali apabila harus terus-terusan menjadi kekanakan dan tidak bertumbuh. Saya lelah, lelah sekali menghadapi diri saya yang takut ini itu dan melarikan diri dari hidup, dari semua kesulitannya, dari semua lukanya, dan dari semua gesekannya. Saya menemukan diri saya terhenti, stuck di sana, stagnan, membosankan dan  menjemukan. Saya ingin melangkah ke tempat yang lebih dalam. Saya ingin menjadi berani untuk masuk ke kedalaman meski misalnya itu tidak mudah dan pasti saya sesekali akan mengeluh. Saya yakin tidak hanya saya yang pernah merasa ini karena pada suatu fase akan ada momen ini ketika segalanya harus diruntuhkan dulu untuk membangun sesuatu. Ketika harus menjadi pecah dan penyok dulu untuk membentuk wujud lain. 

Saya ulang sekali lagi. Mungkin kata kuncinya adalah menerima, membuka hati apapun itu. Menghadapi seberani-beraninya. Berpasrah dalam arus-Nya dan menyadari bahwa tidak ada eskapisme dalam hal menerima. Tidak ada. Membiarkan diri dituntun oleh-Nya sebagai bentuk menyerahan diri karena dia Allah yang setia. Dan bagi saya yang tersulit adalah membiarkan diri dicintai bukan hanya mencintai. Itu sama sulitnya. Menerima kasih dari luar dan tidak serta merta membentengi diri. Mencintai itu memberikan dan menurut saya lebih mudah dari pada menerima diri untuk dicintai. Karena ternyata kita kadang menjudge diri sendiri bahwa kita bukan apa-apa untuk dicintai. Sehingga rasa dicintai itu saya rasa perlu. Dicintai keluarga, teman, kekasih dan yang terpenting merasakan cinta Tuhan. Keberanian untuk keluar dan memperlihatkan sisi 'penyok dan pecah'. Menunjukan bahwa kamu juga memiliki sisi vulnerable. Bahwa kamu dan orang lain pun sama-sama memiliki patahan-patahan di berbagai tempat yang sudah atau sedang kamu perbaiki dan plester sedemikian rupa. Menemukan bahwa hati manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk sembuh. Bahwa mungkin hati manusia diciptakan untuk terluka, sembuh dan dia menjadi kuat dari sebelumnya. Toh dalam luka dan kematian, Dia bangkit. Saya dan kamu, kita sama-sama pernah terluka, bukankah demikian? Namun kita menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Tidak, tidak usah takut menjadi dewasa. Jadilah tenang! Saya ingatkan sekali lagi: Tidak ada sehelai rambut pun yang terlewatkan dari rencana Tuhan.

Lalu kemarin saya terpesona sendiri dengan tulisannya Paulo Coelho di salah satu bukunya, Aleph. Ada satu halaman penuh yang saya gemari dan saya baca berulang-ulang. Begini:

"Aku mencintaimu," kataku padanya. "Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhirnya mengalir menuju danau yang sama. Semuanya bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati bumi.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak, dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada yang haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan-cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air untuk kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
"Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.
"Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki pada perempuan, bukan cinta ayah pada anak, bukan cinta Tuhan pada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, dan kau tidak akan pernah menjadi milikmu, meski begitu, jujur kukatakan: aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."
 Astaganaga kan? Terbengong-bengong sendiri sampai pada pemahaman itu. Apa gerangan yang harus dia lewati untuk bisa lahir sebuah tulisan itu, ya memang harus mau dibentuk, dipecahkan, dikoyak dan terluka.  Karena itu: Bertumbuhlah!



Ps.
ini adalah sebuah catatan kecil sebelum ikut retret tiga hari, semoga disegarkan kembali! Selamat menikmati hidup ya, sahabat. Doakan semoga saya bisa bertumbuh. Tuhan memberkati. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! 


2.4.16

Konspirasi Tai Kucing 2#: Idealisme Itu Mematikan?


Hiburan menarik itu bukan hanya dari mall-mall dan membeli suatu barang. Itu sih menurut saya. Ya namun tidak bisa disalahkan apabila pada akhirnya kita terjebak hiburan di gedung-gedung bertingkat karena hanya itu yang tersedia. Sehingga mencari hiburan kecil di sebuah kedai kopi dan berbagi cerita adalah sedikit remah-remah yang bisa dinikmati selagi bisa. Kita semakin melupakan momen untuk menikmati kedalaman pembicaraan. Kalau terkadang pembicaraan dua teman secara langsung dengan tatap mata, berbagi ruang, tertawa bersama dan memperlihatkan gesture serta mimik adalah cara yang paling murah dan efektif untuk mencapai suatu kedekatan. Percaya tidak, kalau menemukan lawan bicara yang sepadan adalah sebuah anugerah. Sepadan dalam arti kesamaan frekuensi atau setidaknya tidak ada judgment. Itu sih. Kenapa sih semakin dewasa kita semakin judgmental? Seperti was-was dan harus waspada setiap saat karena bisa saja tiba-tiba kita 'disenggol' orang lain. Hingga pada akhirnya apabila belum menemukan lawan bicara yang sepadan, lebih baik berpuas diri dengan buku dan riset sendiri. Meski akhirnya jadi melahirkan teori aneh, ya udahlah ya. Harus mencukupkan diri seadanya lalu saat bertemu dengan sahabat-sahabat kembalilah berbagi dan bertukar info. Ada waktunya menyendiri mungkin, agar fermentasinya kuat kayak tape. 

Ada beberapa pertanyaan menarik seminggu ini. Pasti gara-gara kebanyakan makan micin deh jadinya rada-rada bego nanya mulu eh tapi jawabannya susah belum ketemu. Harus buat mind mapping rasanya agar sedikit tahu sebenarnya ke mana alurnya. 

Kemarin ini saya sedang gatal sekali ingin nonton short movie yang sekejap mata tapi membuat otak berasap ke mana-mana. Nah, esensi ini yang dikejar. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan sebuah cerpen Examination Day karya Henry Slesar di tahun 1958. Sebenarnya pertama kali baca  cerpen ini di buku belajar baca bahasa Jerman. Saya baca sampai jereng rasanya. Ceritanya adalah tentang seorang anak pintar cerdas bernama Dickie Jordan. Mereka tinggal di era masa depan distopia, yakni sebuah masyarakat yang tinggal di bawah pemerintah yang totaliter/ otoriter. Ada sebuah peraturan pemerintah bahwa anak berusia 12 tahun wajib mengikuti test IQ. Tepat pada ulang tahunnya yang ke 12, dia ikut test IQ ini. Dia sangat penasaran dan bersemangat ikut test ini, sedangkan orang tuanya terlihat sangat cemas. Hingga pada hari test tiba, Dickey harus meminum cairan agar bisa berbicara jujur saat menjawab test IQ ini dan hasilnya Dickey 'gagal' dalam test tersebut dan dieksekusi mati. Apa alasannya? Kecerdasan Dickey melebihi limit ketentuan pemerintah sehingga harus dimusnahkan. 

Lalu hari ini sepulang kantor, saya memilih untuk merayakan hari Jumat dengan selimutan membaca buku sampai kelaparan. Hingga akhirnya meyudahi membaca dan beralih liat-liat film dokumenter di youtube. Tadinya saya mau memanjakan diri lihat documenter yang serem-serem agar menyudahi rasa penasaran, eh tapi ternyata otak reptil saya bekerja lebih keras sehingga saya tidak jadi dan penasaran dengan film dokumenternya Aaron Swartz. Siapakah mas Aaron ini? *sok kenal* Dia adalah internet aktivis yang membayar mahal untuk kecerdasan dan idealisme. Dialah penggiat kebebasan informasi yang melawan UU Anti Pembajakan (SOPA). Hingga akhirnya sekarang kita masih bisa mengakses informasi di internet untuk buat thesis . Dia adalah co-designer-of-tools  RSS dan Markdown , yang ikut membuat peradaban internet hingga secanggih sekarang. Dia juga adalah seseorang yang buat kode system copyright agar orang awam bisa melindungi hak cipta mereka ketika orang lain ingin menggunakan karyanya. 

Dalam pertumbuhannya dia semakin tertarik pada politik dan melihat bahwa terdapat praktik ketidakadilan dan ketimpangan yang berbau neoliberal capitalism. Karena diberkahi talenta dalam bidang teknologi sehingga dia dikenal sebagai the most technologically- gifted political activist in history. Singkat cerita, dia terbentur dengan tuduhan dari federal setelah mengunduh banyak makalah akademis yang seharusnya berbayar menjadi bisa didistribusikan secara gratis untuk siapapun yang membutuhkan informasi tersebut. Lalu dia dihukum cukup berat denda maksimal $ 1 Juta dan 35 tahun penjara. Setelah jaksa federal menolak tawaran pengacaranya yang kedua, Aaron Swarz ditemukan tewas menggantung diri di New York (untuk lebih jelasnya bisa dicari di wikipedia atau youtube).

Saya melihat betapa untuk memegang prinsip dan keyakinan itu sulit. Seperti Dickey, dia hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri sejujur-jujurnya namun pada akhirnya ada pihak lain yang ketakutan dengan keberadaannya. Lalu Swartz juga merasakan pengasingan karena untuk fit-in dan berdiri atas prinsip dan keyakinannya ternyata banyak juga yang merasa khawatir posisinya runtuh. Di documentary film Swartz itu disebutkan begini: He feels comfortable with the world, but world feel uncomfortable with his presence. Gila. Bisa bayangkan tidak rasanya bagaimana? Dia pasti merasa sendiri dan tidak cocok di mana-mana. Depresi hingga akhirnya bunuh diri. 

Di dua cerita ini mengacu pada pemerintah yang tidak memberikan kebebasan untuk berpikir dan 'membunuh' mereka. Ketakutan akan isi otak dan idealisme seseorang karena dianggap mampu menggerakan manusia lainnya hingga menjadi 'berbahaya'. Tidak usah dengan pemerintah dulu deh, karena scope nya jadi kebesaran. Coba dengan keinginan dan keyakinan kita, pasti mudah dikebiri ditengah jalan kan? Mungkin sebenarnya masyarakat tidak bisa menerima sesuatu yang diluar dari normanya, yang sebenarnya normanya sendiri belum tentu benar dan sering kali bias. Atau mungkin terjadi juga di antara kita yang tidak bisa mengapresiasi perbedaan itu sendiri. Namun ada sih yang menurut saya lebih fatal yakni pemahaman kalau mereka tidak tahu sesuatu maka sesuatu itu tidak ada. Seolah tidak memberikan kemungkinan kalau ada banyak hal yang tersedia namun mereka tidak tahu. Kan kasian sebenarnya.

Idealisme itu mungkin mahal harganya dan dibayar dengan nyawa. Banyak yang berkata bahwa idealisme dapat mematikan seseorang. Mungkin ya dan tidak. 'Ya' karena banyak nyawa yang bergelimpangan karena idealisme ini dan dianggap beberapa orang mengikuti idealisme adalah sebuah kesia-siaan. Namun menjadi 'tidak' apabila dia menjalani idealisme ini sebagai panggilan hidupnya dan misi yang diemban di dunia. Bahwa pada akhirnya saya dan kamu akan mati lalu kenapa tidak melakukan apa yang membuat kamu benar-benar hidup? Atau mau raga hidup tapi jiwa mati?




25.3.16

Apa yang sering tidak kita bicarakan?


Hal yang menarik pada hari ini adalah hari Jumat yang libur. Betapa tidak? Rehat sejenak dari berbagai aktivitas yang monoton dan bisa berlibur panjang, entah jalan-jalan ataukah istirahat di rumah. Untuk beberapa orang tentu hari ini bukan sekedar liburan biasa karena hari ini adalah hari perayaan Jumat Agung, Hari Kematian Yesus Kristus. 

Hari Jumat Agung selalu ditandai dengan hari mendung disertai hujan terutama pada pukul 3.00 sore. Setidaknya itu yang selalu saya perhatikan selama ini. Ibu saya selalu berkata pada jam kerahiman tersebut akan mendung dan mungkin hujan karena alam ikut berduka atas kematian Raja Semesta. Untuk saya yang mengimani hal tersebut saya mempercayainya. Bukankah terdapat sebuah garis tipis antara logika nalar kritis dengan hal-hal yang menyangkut dengan spiritualisme Ketuhanan? Saya sendiri terkadang masih terseret-seret antara kedua hal ini. Namun hal yang saya yakini adalah kedua hal itu eksis di kehidupan kita, jadi seharusnya bisa saling memberikan jawaban. Meski sekarang ini dalam beberapa hal masih terantuk-antuk, tidak menemukan jawabannya. Tapi hei, sesuatu yang kontradiktif juga adalah jawaban kan?

Mengimani sesuatu terkadang pelik, apalagi iman yang diterima bulat-bulat secara harafiah. Sering kali ibu dan babeh berkata "Segala hal jangan diterima langsung, litterlijk (baca: litterlegh, arti literally) Lihat dasarnya, lihat teologi dan filsafatnya." Namun tentu kita tetap dengan kemalasan otak dan ketumpulan berpikir hingga mengartikan segalanya satu persatu kata, ya kan? Itulah godaan paling besar di abad ini, menjadi dangkal karena itu paling mudah dilakukan. Saya sering begitu. 

Sudah menyadari dan rasanya pernah menulis di tulisan sebelumnya bahwa saya bukanlah pemeluk Katolik yang militan. Sering bolong berdoa, malas gereja, bolos Legio Maria, lupa kalau harus Sakramen Tobat dan saya gemar mempertanyakan ini itu sampai ruwet. Sering kali enggan menyatakan identitas bahwa saya Katolik karena males ditanya ini-itu, malas berkonvrontasi dengan orang lain, malas untuk membicarakan agama karena takut baper. Saya rasa tidak sedikit yang pernah merasakan seperti ini. Hingga akhirnya kita memilih diam dengan dalil, sudahlah ntar ribet panjang ra uwis-uwis. Akhirnya kita hindari. Sesungguhnya sampai saat ini saya pun belum menemukan baiknya bagaimana sih haha. Saya masih mencari dan riset kanan kiri. Mungkin siapa tahu ada yang mau memberikan advise monggo loh, saya menanti. 

Di hari Jumat Agung yang bagi saya spesial ini, saya menemukan sekelumit jawaban untuk sebuah ketakutan: kematian. Saya takut mati karena saya belum pernah. Oke alasan menggelikan, tapi sungguh saya takut karena saya tidak tahu seperti apa itu kematian. Kalau kalian pernah nonton film Before Sunset, tokohnya si Celine juga takut akan kematian. I think I'm afraid of death 24 hours a day … I'm so scared of those few seconds of consciousness before you're gonna die.  Kematian adalah sebuah topik yang tidak mampu kita bicarakan blak-blakan ketika sedang berkumpul istirahat makan siang atau minum kopi. Bukan topik yang bisa kita ulas dengan santai tanpa ada rasa emosional di sana. Setidaknya itu yang saya rasakan. Terutama kematian orang yang kita sayangi. Sungguh sebagai manusia kita masih tergagap-gagap dengan kematian ini. Ya benar kita memang tidak mempunyai kendali atas urusan ini. Saya pernah baca salah satu tweet seseorang namun saya lupa siapa, dia menulis  salah satu lagu di film Begin Again berjudul Lost Stars. Ada satu lyric bunyinya begini Who are we? Just a speck of dust within the galaxy. Kalau di translete kira-kira jadi begini: Da aku mah apa atuh? Cuman butiran debu. Haha nah ini cocok tepat sekali menggambarkan situasi ini. Kita cuman butiran debu di alas kaki Tuhan, coy!

Pernah suatu hari saya dan adik kecil saya yang masih berumur lima tahun, Abhimanyu sedang berjalan ke kuburan Oma untuk nyekar. Saat itu kami jalan berdua dan melewati sebuah kuburan anak kecil. Lalu Abhimanyu diam sejenak dan bertanya, "Ini kuburan kecil ya? Kok anak kecil mati, kenapa?" Saya pun menjawab karena dia sakit keras. Lalu Abhimanyu pun bertanya lagi "Aku juga sedang sakit batuk, aku nanti mati ya?" Saya bingung mau menjelaskan bagaimana, akhirnya saya pun menjawab " Iya... kita semua nanti akan mati. Tapi kamu kan kemarin sudah ke dokter sudah mau sembuh kan." Akhirnya pembicaraan itu selesai begitu saja. Saya tahu jawaban saya masih menimbulkan pertanyaan, di otak Abhimanyu masih berputar, anak kecil kok mati? Bukankah seharusnya orang dewasa? Jadi aku juga bisa ya? Sungguh saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian pada anak kecil karena saya sendiri pun ketakutan untuk sampai ke sana apalagi membayangkannya. 

Hingga akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan dari Dia yang disalibkan dan kakinya saya cium tadi. Bahwa Yesus sendiri pun melewati kematian dengan penderitaan yang dia rasakan. Dengan ketakutan yang Dia alami dan berkata "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Yesus pun takut namun dia menghadapi penderitaannya dan kematiannya sebagai sesuatu yang harus dihadapi. Lalu akhirnya pada hari ketiga bangkit. 

Penderitaan dan kematian tidak akan bisa dihindari manusia. Itu adalah bagian dari hidup manusia. Dengan kematian Yesus di kayu salib, mengubah makna penderitaan dan kematian sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti, semua akan kembali pada Bapa dan ada kebangkitan serta keselamatan dari sana.

Kira-kira demikian. Lalu saya jadi bertanya lagi, jikalau memang kita dilahirkan dan pada akhirnya kita mati dan kembali pada Nya,  sebenarnya hidup sendiri untuk apa ya?

Nah kan, mulai.


21.3.16

Obat pemati rasa



Kau butuh obat pemati rasa
Agar tahan berpura-pura
Redam tangis di ujung mata
Dalam peran dimainkan sementara

Bungkam mimpi hingga pusara
Seolah manusia tidak memiliki suara
Karena bekerja di ladang bayaran sehasta

Jangan karena dalih realita
Seolah hidup punya sembilan nyawa
Besok mati siapa sangka?



Serpong, 2016
Karena hari ini Hari Puisi Sedunia

13.3.16

Konspirasi Tai Kucing #1: Muda Medioker


Hai. Sebelum membaca tulisan saya ini saya mau mengingatkan bahwa tidak semua yang kamu baca bisa ditelan bulat-bulat dan seutuhnya, harus melalui nalar kritis dengan pertimbangan sana sini. Dan tulisan dengan tag Konspirasi Tai Kucing ini adalah sebuah tulisan sebagai diary belajar saya. Kenapa konspirasi tai kucing? Karena saya rasa dunia ini dipenuhi dengan pembodohan masal. Apa yang diyakini dan cara pandang kita ternyata masih di garis abu-abu dan masih harus dicari jawabannya dengan banyak-banyak belajar dan membaca. Saya rasa harus saya tuliskan agar saya punya  record sendiri. Lalu suatu hari nanti ketika saya sudah tua dan gemetar bisa saya buka lagi dan menertawai diri sendiri betapa bodoh dan naifnya saya di masa lalu haha. 

***

Sepanjang ingatan saya menjadi berbeda dan menonjol selalu digalakkan untuk dimiliki oleh anak-anak muda, kunci sukses katanya. Hingga dalam mengemukakan pendapat pun kita harus berbeda dan tidak sama dengan yang lain. Selalu diupayakan agar mencari alternatif lain dari berbagai studi kasus dan mencari solusi yang paling berbeda dari yang lain. Intinya berbeda itu baik. Ya menurut saya berbeda itu baik dan 'beda'. Intinya perbedaan yang tidak harus dibeda-bedakan. Dengan kita aware bahwa kita berbeda dan tidak usah mencari-cari persamaannya, saya rasa itu langkah awal dari toleransi. Menerima bahwa itu beda. Selesai.

Contoh sederhananya adalah saya suka band indie yang tanpa label musik lalu dibuat dengan dana seadanya namun liriknya cerdas dan ganas. Atau paling tidak bukan tipe musik yang ada di tivi-tivi dan didengarkan di supermarket gitu lah. Selera musik yang cukup nyusahin sih sebenarnya karena dengan begitu saya harus mencari-cari yang sesuai. Hingga sampai suatu masa di mana saya percaya teori melihat pribadi dan tingkat intelegensi seseorang dari jenis musik yang dia suka. Pasti anda sekalian sudah tahu mau dibawa ke mana tulisan ini. Long story short, saya melihat kalau penyuka lagu indie itu cool abis ( pada masa labil itu siapa juga yang tidak berasa keren sih? *tepok jidat*). 

Menurut saya pada masa jahiliyah itu, memiliki selera musik yang beda memiliki kasta tersendiri seolah satu kasta lebih tinggi dari yang menyukai musik di tivi-tivi itu. Seolah dengan mendengarkan itu saya menjadi terlihat pintar atau cerdas dengan kesombongan-yang-apa-deh. Padahal seiring waktu, semua teori kasta selera musik itu runtuh menjadi serpihan karena sebenarnya itu sama sekali tidak valid untuk menjadi ukuran. Demikian pula dengan buku apa yang kamu baca, ideologi apa yang kamu anut dan lalu agama apa yang kamu peluk. Tidak ada yang namanya undakan tangga mana yang lebih tinggi dan mana yang rendah. Itu hanya ilusi belaka, pembeda-beda karena situasi dan latar belakang seseorang saja yang dikotak-kotakkan. Padahal sebenarnya sama. 

Beberapa hari ini saya sedang tertarik dengan essay yang membicarakan generasi Y, generasi yang lahir di awal 1980 sampai awal 2000. Di essay tersebut kerap kali disebut kata medioker yang maksudnya adalah sesuatu yang standard, cukup, dan pas-pasan. Pada intinya anak muda jangan maulah menjadi medioker. Oke. Di satu sisi saya setuju kalau menjadi muda di zaman ini memang tidak bisa menjadi pas-pasan dengan begitu-begitu saja. Namun definisi pas-pasan setiap orang kan berbeda-beda ya... jadi sekarang saya jadi agak bingung parameternya non medioker apa?

Lalu saya berpikir lagi, apakah benar dengan menjadi medioker kita tidak akan bisa survive di dunia ini? Apakah maksud medioker ini adalah bermain aman di zona nyaman dengan ikut arus saja dan tidak menjadi ikan salmon? Bagaimana kalau seandainya saya tidak ingin menjadi ikan salmon yang berenang melawan arus, bagaimana kalau saya malah ingin loncat ke aquarium dan jadi ikan sapu-sapu yang membersihkan aquarium saja dan lalu saya menjadi bahagia karenanya?

Menurut saya kata medioker ini terlalu luas jangkauannya seperti misal analogi saya ketika saya merasa selera musik indie itu keren dan yang lain tidak. Lalu seiring berjalannya waktu saya berubah pikiran. Saya rasa demikian pula dengan definisi medioker seseorang. Kerap banyak yang mencap orang lain dengan gaya hidup yang kekinian, baju yang mengikuti fashion, mereka yang ikut arus zaman dicap sebagai si medioker ini oleh mereka yang merasa 'berbeda'. Saya melihat kenapa jadi seolah ada sebuah kasta lagi di sini. Apakah kita dalam hidup tidak akan lepas dari kasta, label-label dan kotak-kotak ya? Ya mungkin demikian. 

Sampai hari ini saya membaca buku biografi Tan Malaka,buku keluaran Tempo dengan judul kecil Bapak Republik yang Dilupakan. Di situ saya merasa seperti oh dayummm... selama ini waktu SD saya belajar IPS Terpadu macam apa? Kenapa saya menelan bulat-bulat itu buku teks dan menganggap bahwa peran kemerdekaan adalah semata-mata adalah Pak Soekarno dan Pak Hatta saja ya? Memang ini adalah salah saya sebagai pelajar dan pembaca yang sedikit terlambat menyadari bahwa ada Tan Malaka yang keren ini juga adalah pemikir dan pejuang revolusi. Memang penyesalan itu datangnya selalu terlambat dan saya sebal sekali, sebodoh itunya saya. Bahwa pandangan seseorang berubah, prespektif orang berubah, dan sesuatu yang terlalu dipercayai dan diyakini sungguh-sungguh itu seharusnya disaring dengan akal sehat dan banyak riset. Itu yang saya pelajari, semoga jangan berakhir seperti saya, meyakini hal yang tidak dikaji nalar. Jangan, pokoknya jangan. 

Mungkin menjadi medioker ada baiknya juga dan saya rasa menjadi medioker juga adalah pilihan dan itu bebas dilakukan selama tidak menyenggol kepentingan orang lain. Kalau kata Dewi Lestari, "Akan tetapi hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah." Ya, hidup ini cair, Kawan. Semua berubah sesuai wadahnya dan kalau suatu hari kamu mau pindah wadah, ya monggo silahkan. 



10.3.16

Obrolan Kamar Mandi


Hari ini saya cuti setengah hari karena diare dan menstruasi di hari pertama. Rasanya? Gimana yaa mendeskripsikannya, saya sampai bingung yang mana sakit perut karena kram dan sakit perut mules karena mau bab. Itu semua nyaru, bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu mahligai cinta. Pokoknya rasanya setengah hari di kantor bolak-balik toilet seperti setrikaan rusak dan menghabis-habiskan air dan tissue. 

Saya sebagai perempuan, sudah menstruasi semenjak duduk di kelas 2 SMP. Bulan demi bulan terlewati dengan 'peperangan berdarah-darah' dan entah siapa pemenangnya. Yang pasti dilema menstruasi itu ada, kalau 'dapet' kita repot, kalau tidak 'dapet' wah itu lebih repot lagi. Sedari kecil pasti kita diajarkan untuk menutup erat-erat obrolan kamar mandi. Biarkan apa yang ada di kamar mandi tinggal di kamar mandi karena itu kotor dan najis. 

Segar sekali dalam ingatan saya ketika saya SMA dahulu. Saya dan kamu pasti tahu, puberty is a bitch. Apabila ada plang nya seharusnya ditulis begini: "Maaf, sedang dalam proses perbaikan." Saat-saat pubertas ini semua orang dalam masa anomali, sini salah situ salah. Pernah suatu ketika saya menstruasi hari pertama di sekolah, seragam saya hijau kotak-kotak tembus dan terpampanglah seceplok darah merah. Saat itu saya malu sekali karena bocor. Seolah tembus karena menstruasi ini tidak boleh terjadi karena memalukan. Kita sebagai perempuan selalu diajarkan untuk menjaga agar hal-hal tersebut tidak keluar, tidak bocor, bahwa perempuan itu ya harus wangi, bersih, dan terjaga. Padahal dalam prosesnya perjuangan untuk sampai standard perempuan ideal itu bukan perkara mudah. Bahkan ketika perempuan menstruasi pun diatur padahal saat itu sedang morat-marit. 

Obrolan kamar mandi pamali untuk diceritakan karena mungkin society ingin lihat yang bagus-bagus saja dan yang menyegarkan mata saja tanpa mau melihat dibalik cantik dan wangi tersebut ada apa saja yang disembunyikan. Mungkin society lebih suka dibodoh-bodohi. Mungkin demikian. Saya kurang paham sampai sana. Menurut saya logika yang dimiliki society ini sungguh fana hanya melihat apa yang mau dilihat dan mendengar apa yang mau didengar. Mungkin society tidak ingin melihat 'kebocoran' sistem patriarki yang akhirnya tembus ke permukaan. Maka itu ditutup-tutupi dimulai dari darah perempuan dari rahim mereka. Di mana di sanalah kehidupan tumbuh. Mungkin sistem patriarki sudah mengendus bahwa sesungguhnya perempuan itu penggerak kehidupan.

Sampai saat ini saya pun masih harus belajar banyak dengan mengalami menjadi perempuan. Saya masih harus belajar mencintai rasa sakit kram saat menstruasi. Memeluk ritual alam yang dimiliki perempuan dan merayakan menjadi perempuan. 

Saya rasa tidak ada alasan bagi perempuan menjadi tidak bangga menjadi perempuan.

13.12.15

Hari Esok dan Jiwa-jiwa

Hari Minggu yang mendung dan dingin ini mungkin dipersembahkan untuk satu jiwa yang dipanggil Tuhan hari ini. Beliau adalah ayah dari teman saya Mbak Anggi. Saat pergi ke rumah duka di RS Darmais, blok K, banyak pelayat sudah datang menghadiri misa yang dipimpin oleh Bapak Uskup KAJ.

Mungkin benar langit tengah berkonspirasi pada hari ini. Mungkin di surga butuh seorang guru agama yang baik, butuh seorang bapak yang saleh dan nerimo. Mungkin demikian. Semoga beliau bisa tenang dan bahagia di sisi Bapa. 

***                      

Lalu saya jadi berpikir lagi, misalnya suatu hari nanti saya mati, ada tidak ya yang datang ke pemakaman saya?

Lalu detik-detik maut menjemput, akankah menakutkan?

Kita tidak pernah tahu hari esok kan ya?

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...