14.8.14

Sebuah tulisan di awal umur 20 tahun(an)

Ada suatu desakan dari kepala saya untuk menuliskan sebuah uneg-uneg di kepala saya. Dan saya yakin desakan tersebut adalah sebuah energi baik untuk menulis. Yeah! Selamat datang kembali, untuk saya setelah beberapa waktu ini bertapa dengan pemikiran sendiri. Sudah waktunya, sudah tiba waktunya kegelisahan saya ini dibagikan. 

Akhir-akhir ini saya gelisah. Saya berpikir (lagi) tentang hidup, tetang passion, tentang arti diri sendiri, tentang jati diri. Apakah saya ini terlalu melankolis? Saya rasa tidak. Kebetulan banyak hal yang membuat saya tergelitik akhir-akhir ini. 

Passion

Ada sebuah tanda tanya besar di depan mata saya dan saya yakin ini pertanyaan besar di usia awal umur 20 tahun(an). Dalam pencarian jalan masing-masing individu, pernah tidak sedikit pun dari kalian berpikir, selama ini sudahkah saya berjalan di jalan yang benar? Sudahkah saya mengetahui apa yang saya mau? Sudahkah saya memakai seluruh talenta yang sudah Tuhan berikan pada saya? Sudahkan saya menjadi berkat untuk sekitar saya? JEDAR!

Lalu saya melihat sekitar saya, pada akhirnya berhenti dan akhirnya menerima apa yang hidup berikan pada kita. Sebenarnya saya belum sampai pada pemahaman menerima. Bagaimana mungkin kita disuruh mengejar passion kita, namun di lain pihak kita harus menerima apa yang kita punya sekarang? Ketika kita mengejar passion artinya sesuatu itu harus kita raih, kita berjuang gigih untuk mencapainya, sedangkan menerima maksudnya ya...menerima keadaan ini. Saya tidak melihat sinkronisasi pada dua hal tersebut. 

Di tengah pembicaraan ngalor ngidul dengan seorang teman lalu tersesat bersama di pemikiran awal dua puluh(an) ini, kami berdua pada akhirnya mengambil sebuah pemikiran bahwa untuk saat ini mengejar passion dan menjadi egois karenanya kita belum bisa. Lalu terlontar sebuah statement: "Met, lo mau idup, Met? Menurut gue screw your passion! Passion gak bisa kasih makan elo!" Lalu saya mengangguk-ngangguk dan tertawa terbahak-bahak. Namun tetap ada sebuah celah barang secuil di hati yang menyangkal hal tersebut, di hati kita berdua tetap pada akhirnya berbisik begini, mengutip quote Oprah Winfrey " You should do what you must do, until that you can do what you wanna do." 

Mungkin beginilah jalannya bahwa saya dan kamu (yang juga di awal umur 20(an)) harus berdarah-darah dulu baru dengan sesuatu yang mungkin jauuuh dari passion kita, namun pada akhirnya kita akan memenuhi panggilan hidup kita masing-masing untuk mewujudkan passion kita itu. Entah pada akhirnya kita akan sampai ke sana atau tidak, kita tidak pernah tahu kan? Istilahnya kita melakukan de tour dulu, berjalan memutar untuk pada akhirnya sampai ke jalan sebenarnya. Mungkin begitu.

Selain itu menurut Soe Hok Gie (saya juga nge-fans sekali dengan Soe Hok Gie, seorang penulis dan aktivis cerdas kritis), dia berkata begini: " Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah."  Memang ada harga yang harus dibayar untuk kita bisa menuju sesuatu yang berharga dan sesuatu yang berharga itu tidak ada short cutnya, tidak ada jalan mudahnya. 

Cinta

Saya akhir-akhir ini bukan simpatisan cinta. Kembali lagi bahwa semua kesimpulan seseorang berasal dari pengalaman. Dan saya adalah orang yang mudah membuat kesimpulan. Hati saya sudah bosan dan pengap sekali dengan ini. Saya mau jadi apatis. 

Lalu kemudian beberapa hari ini saya menemukan sebuah artikel menarik tentang ini, dalam artikel tersebut ditulis bahwa ada saatnya orang datang dan pergi dalam hidup kamu dan mereka sebenarnya membawa pesan. Namun dalam proses tersebut kamu jadi tidak mengerti cinta itu apa, lalu kamu tidak percaya cinta. Mungkin proses itu membingungkan. Dan lebih membingungkan jikalau kamu ada di dalamnya.

Saya rasa saya sedang capek saja dengan yang satu ini. Bahwa bukan perkara mudah menitipkan hati pada orang lain. Bukan perkara mudah memulai dari awal berkenalan dan merasa nyaman lagi dengan seseorang. Bukan perkara mudah menemukan seseorang yang satu frekuensi dengan kamu. Auk ah. Bodo amat. 

Bahagia

Dan kamu semakin sadar bahwa semakin dewasa, definisi bahagia semakin pelik.


Tapi di atas semua itu, saya suka bahwa saya semakin dewasa, saya suka menjadi dewasa. Karena dewasa itu sexy. Dan saya tidak sabar melihat keindahan lainnya dan mengamati diam-diam. Lalu menulis. 



Pic: Google
Ini Banda Neira. Saya mau ke sana. Suatu hari.







*P.S. Kali ini saya tidak mau membuat kesimpulan dan menjawab pertanyaan dari isi kepala saya. Selain karena jawabannya masih ambigu dan amburadul namun juga saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan jawaban, namun melahirkan pertanyaan baru juga adalah jawaban. 






3.8.14

Sesudah Hujan

Hujan datang sebentar. Sebentar saja. Basah. Lalu wangi hujan semerbak di mana-mana. Wanginya sama tidak peduli kamu di Sydney, Kaohsiung atau Serpong. Apakah hujan itu memiliki sejenis parfum yang adiktif ya? Ada sebuah zat adiksi yang membuat saya suka wangi hujan. Wangi hujan itu sendu dan segar. Ada sebuah kegelisahan yang pasrah di sana. Pasrah pada akhirnya air akan tumpah ke bawah, entah ke tanah, meresap ke dalam akar pohon atau mungkin ke sungai dan berpulang lagi ke laut. 

Saya suka hujan. Dia memiliki waktunya sendiri. Dia memiliki filosofinya sendiri. Bahwa di dalam hujan kita jadi lebih merenung dan melamun jauh. Seolah isi kepalamu dan otakmu juga kena rembes hujan. Ada sebuah kekuatan mistis yang saya percayai antara pikiran kita dan hujan. Entah kamu akan tertidur atau berpikir tentang pertanyaan esensial yang mendasar. Bahwa saran saya jikalau kamu ingin mengenal seseorang, kamu harus duduk berdua dengannya, menunggu hujan reda, dan berbicara menatap matanya. Segala yang ada dalam hujan itu menyembuhkan. Percayalah. 

Karena semua hujan pasti akan berpulang ke laut. Dan laut adalah rumah. Rumah saya. 


After The Rain
Words and music by Adhitia Sofyan
About the song :
The simple thought of missing someone that’s far far away.
If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way
In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me
If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain


6.7.14

Hidup ini lucu


Akhir-akhir ini sedang berpikir bahwa sebenarnya hidup ini lucu sekali. Sebentar hujan sebentar panas, sebentar khawatir sebentar tidak peduli, sebentar senang sebentar sedih, sebentar tertawa sebentar marah, sebentar bersyukur sebentar mengeluh.

Mungkin sebenarnya hidup ini terdiri dari berbagai macam segmen seperti dalam parodi-parodi di TV. Ada durasinya, ada waktunya dan ada alur ceritanya. Dan sebenarnya alur ceritanya sudah ada yang mengatur. Alurnya entah akan mengejutkan atau lempeng-lempeng saja. Tapi saya yakin pasti di luar ekspektasi manusia. Mungkin karena itulah manusia jadi takut memiliki ekspektasi. Takut kecewa, katanya.

Bagian terlucunya adalah terkadang tokoh-tokoh dalam hidup itu datang pergi. Mereka bertemu silih berganti namun belum tentu akan berperan dalam satu segmen parodi yang sama lagi. Mungkin alur yang membuat mereka bertemu dan terlibat dalam sebuah cerita. Lalu entah bagaimana mereka harus tidak bertemu lagi karena memang durasi sudah habis atau sudah selesai saja masa untuk bersamanya.

Lalu manusia? Hanya bisa mengikuti alur jalan ceritanya saja. Namun percayalah bahwa segala sesuatunya sudah ada yang mengatur. Kalau dengan siapa pun kamu akan bertemu kelak pasti akan mengantarkan kamu pada seseorang yang akan 'stay' bukan hanya datang lalu pergi lagi. Di situlah kamu diajarkan untuk kuat.

Entah bagaimana kamu berharap untuk bisa kembali ke segmen sebelumnya, tidak akan bisa. Dia mungkin tidak menghilang atau pergi, namun semata-mata waktu kamu dengannya sudah selesai. Tidak peduli sudah berapa lama bersama. Suka atau tidak suka.





'Dan semoga semua kehilangan itu fana dan terganti.
Entah kapan.
Dalam bentuk yang lain.'





22.6.14

Mungkin saja kamu itu bebas

Mungkin saja kamu itu bebas
Jiwamu bukan milik siapa-siapa
Hanya milikmu dan Penciptamu

Mungkin saja kamu itu bebas
Darahmu deras merah mengalir
Nadimu hijau dibalik balutan kulitmu

Mungkin saja kamu itu bebas
Kau tak peduli akan tulangmu yang patah
Meremukan rusukmu
Namun kau tidak takut rasa sakit

Mungkin saja kamu itu bebas
Mencintai tanah-tanah asing di luar sana
Dengan senyuman orang asing

Mungkin saja kamu itu bebas
Jikalau paru-parumu memerlukan udara musim lain
Yang ada di lintang seberang

Mungkin saja kamu itu bebas
Jikalau hatimu berdahaga
Atas petualang-petualang dan perjalanan lain
Di ranah-ranah asing dengan bahasa yang tidak kita mengerti

Saya rindu menjadi bebas lagi.
Kamu?


17.4.14

Akhir pekan dan PR yang belum selesai


Kadang saya bergidik sendiri melihat waktu yang berjalan seolah pencuri ulung. Bisa menyusup dan mengelabuhi kamu. Hingga tanpa kamu sadari waktu berjalan lambat sekaligus cepat. Setiap kali sampai pada hari Jumat sore dan duduk sendiri memandang jendela bis sepulang kerja, saya hanya mampu merenungkan: Apakah kiranya yang sudah saya lakukan seminggu ini? Terkadang saya takut sendiri, takut apabila sebenarnya saya tidak memberikan yang terbaik dari apa yang saya punya.







16.3.14

Caleg nemu di cafe dan saya yang sok tahu



Saya sedang sok tahu. Tidak mengerti apa-apa tapi sok ikut-ikutan, padahal ilmu sih gak ada. Hanya meraba-raba dalam gelap. Lalu dengan sedikit membaca comot sana sini. Ada yang menarik sekali, sungguh menarik. Ini adalah fenomena terdekat yang bisa kita temui di jalan dan di dekat rumah kita. Apa itu? Kampanye partai. 

Sebenarnya kejadian ini sudah lama namun baru saat-saat ini tergelitik untuk membahas dan menuliskannya. Kebetulan suasana hati sudah netral dan tidak menye-menye soal cinta lagi. Puji Tuhan. Sehingga setidaknya blog ini tulisannya agak berisi dikit, tidak melulu tentang cinta. Ngono loh. 

Beberapa waktu lalu sekitar awal bulan September 2013 lalu, saya sedang bertemu dengan Karyn, teman saya. Saat itu kami sedang asyik ngegosip tentang berbagai banyak hal. Tidak banyak hal, deng. Sebenarnya urusan kami adalah tentang laki-laki.  Sore-sore minum kopi dan berbicara tentang cinta dan laki-laki. Obrolan perempuan biasa. Ketika kita berdua sedang mengobrol tiba-tiba datanglah seorang Ibu dengan wajah make up tebal dan terlihat oplas. Gayanya seperti nyonya-nyonya tajir terkini dengan baju ketat. Ibu ini sibuk sekali menelpon temannya yang sepertinya telat datang. Lalu tiba-tiba datanglah temanya, seorang Ibu juga dengan pakaian rapih kantoran, dandanan apik, dan cantik. Mereka asyik mengobrol. Saya tidak memperhatikan apa isi obrolannya, wong saya dan Karyn sedang asik gosip sampai cekikikan bak anak labil. Hadeh. 

Waktu berlalu, nampaknya mereka pun sudah hampir selesai. Lalu mereka berdua pun berfoto. Lalu Ibu dengan dandan menor dan berpakaian ketat itu memanggil saya.

"Say, say, boleh minta tolong foto?" 
"Hmmm... iya boleh."

Jepret... jepret...jepret. Selesai. Ganti angle. Jepret...jepret...jepret.

"Makasih yah, say. Eh... kalian sekolah di mana?" Aaaaciye, saya dikira masih sekolah.
"Udah kerja, Tante."
"Oh yaaaa... temennya juga udah kerja ya?" 
" Iya Tante."
....
.... (basa basi)

"Eh, say, ini saya mau memperkenalkan Tante ini (lupa namanya siapa) dia itu mau ikutan jadi caleg, nih. Kamu pilih dia ya. Saya juga sekarang udah jadi anggota legislatif nih. Saya kerjanya di daerah Banten." Ujar Tante menor.

Jedar! Jedar! Ohhh... menarik. Menarik sekali. Andaikan saya bisa lari, saya lari dari pembicaraan ini.

"Oh... gitu yah Tante. Hebat." Ujar saya sambil menerima kartu nama dan sticker. 
" Tolong ditempel yah stickernya di mobil dan ini kartu nama saya." Kata Tante Caleg baju rapih.

Seharusnya, pembicaraan itu stop sampai sini. Gak ada apa-apa lagi, dong. Namun terdorong oleh rasa penasaran yang membuncah-buncah. Saya pun bertanya,

"Tante, emang program kerja Tante apa, untuk membuat Banten ini jadi lebih baik? Apa yang membuat Tante jadi beda dari caleg lain? Jadi kita bisa pilih Tante gitu."

Eh,Si Tante Caleg gelagapan ditanya begitu. Panik dia. Saya juga bingung kenapa panik. Itu pertanyaan mudah kan? Kalau memang sudah ada jawabannya. Hmmm... berarti si Tante ini.... Ah sudahlah.

Lalu Tante Menor mengambil alih dengan jawaban sebagai berikut
" Ah... ini kan baru pemilihan awal. Untuk program kerja mah nanti dibicarakan lagi kalau sudah jadi legislatif, gitu. Itu nanti barengan dengan yang lain."

Lalu saya jadi bingung dengan Si Tante Menor. Ini saya yang bego apa emang cara kerjanya begini sih ya? Perasaan saat saya jadi calon OSIS saya harus pidato ke depan apa visi misi dan apa yang mau saya ubah dari sistem. Ya ga sih? Ah sudahlah itu kan lingkup bocah SMA ini kan caleg. Calon legislatif. Ya...beda lah, gak usah pake program kerja, kayak bocah aja. Ngapain kali? Ya ngga? Yak lanjut. 

Kemudian saya berkata, "Oh gitu, ya Tante. Saya baru tahu. Terus, Tante emang kenapa mau jadi caleg, melihat kita masyarakat yang udah pesimis dengan politik karena melihat Atut dan dinastinya?"

Lalu Tante Caleg pun agak sedikit berapi-api menjawab begini. 

"Banyak sekali orang yang bertanya mengapa saya ingin menjadi caleg, padahal pekerjaan saya sudah enak, saya jadi direktur di perusahaan Jerman. Saya punya keluarga, suami dan anak. Tapi saya mau memperjuangkan suara perempuan agar kita bisa lebih tinggi dari laki-laki. Kita harus bisa lebih tinggi dari laki-laki agar kita tidak terinjak-injak, agar kita cerdas. Adek-adek kan juga perempuan Insya Allah saya bisa melanjutkan aspirasi kalian."

Uwidihhhh... Si Tante Caleg feminist ternyata. Tapi rasanya ada yang agak menggelitik saya tentang posisi perempuan dan laki-laki. Lalu saya pun menyanggah.

"Tapi, ya Tante, kalau menurut saya, seharusnya laki-laki dan perempuan itu sejajar. Bukan siapa lebih tinggi dari siapa. Harus sejajar, karena perempuan dan laki-laki itu partner."

Lalu Si Tante Menor mengambil alih melihat Tante Caleg agak siyok disanggah.

"Iya, selain itu kita juga mau menambah wadah untuk anak-anak muda kritis seperti kalian ini. Agar aspirasi kalian sampai ke atas. Kalian tuh beruntung sekali kalau bertemu dan kita-kita sekarang ini. Dijamin kalau kenal kita, urusan lancar. Kalau mau buat apa, buat apa Insya Allah dipermudah. Beruntung loh kalian."

HAAAH?! Loh kok? Gak salah denger ini? Halo? Sekarang gantian saya yang kaget dengan jawaban dia.
Malas berbicara lebih panjang akhirnya saya iya-in saja, lalu pamit pergi. Melihat tong sampah si Karyn bisik-bisik ke saya,

"Met, ini sticker dan kartu nama enaknya dibuang nih Met."

***

Saya tidak tahu bagaimana, kok rasanya geli-geli sih ya? Rasanya pengen ketawa kenceng-kenceng di depan tante dua ini. Kenapa oh kenapa? Saya rasa otak saya yang agak miring. Saya rasa saya yang terlalu menghakimi. Saya rasa saya yang sok tahu. Mungkin begitu.

Tapi...halo?! Ini ada yang salah gak sih? Ada yang gak bener gak sih? Atau memang saya saja yang terlalu antipati dengan politik, dengan wajah-wajah yang ditempel berserakkan di pohon-pohon jalan raya. Dengan tulisan COBLOS SAYA! PILIH SAYA! Ditambah dengan gelar panjang di depan dan di belakang namanya. 

Bagaimana yah, caranya agar saya sedikit saja punya rasa percaya dengan mereka yang mencalonkan diri di tempel di pohon-pohon itu? Bagaimana yah agar saya sedikit saja punya perasaan untuk bisa tahu apa yang mau saya pilih? Bagaimana yah agar saya bisa mencintai politik dengan ke-tai-kucing-annya itu? Bagaimana yah caranya agar saya bisa sedikit lebih netral dan gak antipati lalu menghakimi? Bagaimana ya?

Semoga apa yang saya temui ini hanya seglintir saja calon-calon pemimpin negeri ini, semoga saja harapan itu ada di mana-mana, semoga saja mereka yang mencalonkan diri sungguh dapat memisahkan kepentingan pribadi dan bersama, semoga saja Tuhan selalu melindungi negeri ini. Semoga seseorang yang terpilih untuk jadi pemimpin negeri ini sungguh-sungguh bisa membawa perubahan dan tidak membuat kita berbondong-bondong meninggalkan negeri ini.

Indonesia, rasanya semakin sulit mencintaimu. Kalau kata Ayu Utami: Indonesia dengan sedih aku cinta padamu. 



8.12.13

Bahwa untuk menjadi sesuatu yang baru kita harus remuk dan melebur


pic: weheartit.com

Hai. Akhir-akhir ini saya sedang berpikir apakah saya ini sudah mempunyai hidup yang bermakna. Apakah ini hanya saya saja ataukah memang di umur saya yang 22 ini, saya sedang mencari. Karena saya merasa saya kehilangan diri saya. Ada beberapa hal yang krusial yang hilang. 

Apakah semakin kamu dewasa, idealisme itu akan semakin terkikis begitu saja dengan realitas? Apakah segala nilai prinsipil yang kamu anut pelan-pelan bukan sebuah prioritas? Saya rindu dengan saya yang tidak gentar dengan masa depan, saya kangen dengan idealisme polos saya yang berkobar-kobar bahwa saya memiliki suatu api yang masih terjaga. Saya rindu dengan saya yang bermimpi suatu yang besar bahwa suatu hari nanti saya bisa meraihnya. 

Ketika kamu dalam perjalanan meraih apa yang kamu inginkan, rasanya kamu itu sendirian, rasanya perjalanan mengikuti mimpi itu terjal berbatu dan kamu tak jarang menangis sampai tertidur lalu kamu bangun pagi dengan keadaan was-was. Apakah suatu hari kamu akan sampai di sana?

Saya takut jikalau suatu hari nanti saya tidak menjadi seperti apa yang saya impikan sekarang. Saya takut kalau ternyata saya ini tidak akan memiliki hidup yang bermakna yang saya inginkan. Saya rasa apa yang saya alami ini MUNGKIN biasa, mungkin memang harus ini yang saya lewati. Sampailah saya di sebuah fase kebingungan. Saya bingung dengan hidup saya. Rasanya saya berjalan di sebuah lorong gelap dan saya tidak tahu apa yang ada di depan saya. Semua indera saya mati rasa. Pertanyaan besarnya adalah: saya diciptakan untuk apa? Untuk menjadi apa? Karena rasanya mimpi saya semua patah di dahan dan menjadi serpihan.

Kembali saya mengingat akan kisah Alkitab. Nabi Musa harus hidup di padang gurun selama 40 tahun lamanya untuk bisa memimpin umat Israel. Daud harus tinggal 17 tahun di padang gurun sebelum menjadi raja dan Yesus pun dibawa ke padang gurun untuk dicobai iblis saat berpuasa. Mungkin saya sedang dalam fase padang gurun. Padang gurun menjadi sebuah tempat di mana seseorang digodok untuk mengerti apa tujuan hidup dia. Padang gurun menjadi sebuah tempat ujian sebelum kemenangan. 

Masa-masa ini adalah masa sulit yang membutakan seluruh indera saya. Di mana kita akan dimurnikan untuk menjadi 'sesuatu' yang lebih berharga. Pembentukkan karakter yang ternyata memang sakit setengah mati. Untuk menjadi sesuatu yang baru kita ternyata harus remuk dan melebur. Untuk menemukan diri, kita harus mengalami proses kehilangan diri sendiri. 

Manusia tidak pernah mengerti rencana Dia. Otak manusia tidak mampu melampaui pemikiran Nya. Mungkin ada baiknya kita manusia percaya bahwa Tuhan itu baik, kapan pun itu. Bahwa dia adalah Ayah kita di surga yang pasti akan melindungi anaknya. Hingga ketika kamu berjalan di lorong yang gelap dan seluruh inderamu mati rasa, kamu punya koneksi singkat dengan Ayahmu yang Di Atas. Hatimu. Percayalah apapun itu tetap percayalah. Karena Dia mengasihi kita lebih dulu. 

new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...