13.6.13

Etalase Hati

Pernah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan kan? Pasti pernah dong! Suka window shopping? Sebatas lihat-lihat saja, tanpa membeli dan mengagumi sesuatu dari kejauhan dan terdapat jarak antara barang dan mata. Karena terhalang oleh 'si kaca' yang melindungi barang yang kita inginkan itu. 

Barang tersebut sebatas sebuah tontonan yang belum tentu bisa didekati dan kalau mau didekati pun harus menimbulkan effort lebih yakni, masuk ke toko, bertanya pada mbak-mbak penjaga toko, melihat-lihat, mencoba dan biasanya pasti kita 'agak gengsi' kalau tidak membeli. Sudah terlanjur, katanya.

Sekat dan jarak

Sesuatu yang bersekat dan berjarak itu sifatnya fragile dan terlindungi dari apa pun. Dia sengaja ditaruh di sana untuk dilihat, dinikmati dan sewaktu-waktu  dikunjungi tapi itu jarang sekali. Kalau kita melihat di toko-toko barang pecah belah, kita akan melihat sesuatu yang mudah pecah belah itu akan diletakkan sendirian, dikunci dan kalau perlu ditempel tulisan besar-besar: Awas, jangan disentuh! Pecah berarti membeli! Dilihat boleh ,dipegang jangan! Hati-hati mudah pecah! Dan peringatan-peringatan sadis dilengkapi tanda seru yang tidak cukup sekali.

Mengapa harus dijaga? Pastinya karena seseorang melihat kalau barang itu sangat berharga dan mahal, sehingga amit-amit sekali kalo seandainya barang tersebut pecah, remuk menjadi serpihan. Dia pasti tidak punya nyali yang cukup untuk melihat barang tersebut berserakan dan akhirnya harus turun kasta ke tong sampah. Daur ulang atau ketok magic sepertinya tetap meninggalkan bekas dan tidak dianjurkan. 

Seperti misalnya, barang pecah belah ibu saya. Semenjak kami kedatangan adik kecil yang sekarang sedang hobi pegang sana sini, alhasil semua barang-barang beling yang imut lucu di rumah terpaksa disingkirkan. Kosong ludas dari rak-rak di rumah. Tidak ada secuil pun vas milik ibu yang 'nongkrong santai' di rak atau meja. Kami terlalu takut akan terjadi peperangan sana sini oleh si adik kecil yang maksudnya hanya penasaran ingin memegang tapi alhasil jadi 'melempar'. 

Ada baiknya memang kita ini memisahkan dan menyembunyikan sesuatu yang sifatnya mudah pecah. Entah disingkirkan dengan jarak, pergi jauh-jauh atau justru tetap ditempat tapi diberi sekat, dimasukkan ke sebuah kotak yang aman dan tentram. Tapi apakah selamanya barang tersebut akan disimpan baik-baik dan disingkirkan terus menerus? Apa faedahnya?

Kita yang terlalu takut

Manusia itu diciptakan dengan hati. Sebuah tempat di mana perasaan dan emosi muncul. Dan terkadang si hati ini sangat fragile tidak ketulungan dan dibutuhkan beberapa pelindung, salah satunya sekat dan jarak. Kita melindungi hati kita ini dengan segala kekuatan otak yang kita punya. Padahal pada akhirnya, siapa tahu sebenarnya hati itu kegunaannya untuk disakiti? Agar kita lebih eling dengan kehidupan. 

Bahwa mungkin saja kalau sebenarnya hati itu terlalu manja dan pemalu, sehingga suka sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan merasa suatu perasaan. Manusia-manusia sekarang akhirrnya berubah jadi makhluk yang keras dan kuat. Mereka tidak lagi menggunakan hati meraka, mereka menumpulkan hati mereka, mengkebiri hati mereka, hingga akhirnya jadi mandul tidak berbuah.

Saya menyadari sendiri bahwa saya ini juga sering ketakutan sendiri untuk menjadi seseorang yang terlalu perasa dan melulu menggunakan hati. Terkadang saya sering mendisfungsikan hati saya agar saya jadi orang tidak usah pedul-peduli amat dengan orang lain. Kalau saya sering kali menutup hati saya rapat-rapat dari pengaruh luar dan situasi. Kalau saya tidak menerima segala situasi yang membuat saya jadi 'lemah dan rentan'. 

Apa salahnya menjadi 'lemah'? 

Dunia selalu menjagokan dia yang kuat dan tangguh bak gatot kaca, tulang besi otot baja. Tapi apakah yang kuat ini melulu baik dan hebat? Belum tentu. Karena saudara-saudara, dengan sepenuh hati ingin saya katakan bahwa, menjadi lemah adalah kekuatan. Menjadi lemah membiarkan kita menerima apa yang harusnya diterima oleh hati dan tidak memberontak. Seperti air yang mengalir dan menerima apapun jenis wadahnya, apapun jenis medianya, beradaptasi. 

Begitu juga dengan hati. Hati yang hidup tanpa tameng, tanpa perlindungan menjadi lemah namun dia jadi bertumbuh, dia jadi berpengalaman dan kaya. Hati jadi tersadar bahwa kegunaan dia sesungguhnya bukan buat disimpan, ditaruh dan dilindungi, tapi menjadi kekuatan dalam menjalani hidup. 

Akhir-akhir ini saya merasa kalau ada baiknya jika menghadapi ketakutan-ketakutan itu baiknaya dihadapi saja tanpa perlu embel-embel 'perlindungan'. Bahwa mungkin baikknya hati ini yang kini jadi kekuatan saya untuk tetap terbuka, waspada dan belajar. Melihat sesuatu bukan hanya sekedar melihat tapi juga memahami  sepenuhnya, kalau perpisahan, perubahan hidup yang besar , ketakutan untuk tumbuh dan kelekatan itu adalah isu-isu yang harus dihadapi hati berulang-ulang kali. Terus menerus dengan dosis yang berbeda.

Suara hati

Jangan tuli dan jangan pura-pura dungu dengan suara hati karena hati itu adalah Rumah Tuhan, di mana kita bisa bluetooth-an dengan Tuhan dan berkoneksi singkat dengan Tuhan. Kalau jiwa kita itu adalah jiwa yang juga berasal dari Tuhan. Hingga fatal akhirnya kalau kita jadi 'bolot abis' dengan suara hati ini. Dengarkan dan kenali lagi. 

Jangan kau taruh hatimu di etalase mana pun karena bukan itu fungsi dari hati. Hatimu itu kuat lebih kuat dari apa pun yang kamu punya. Hati itu hanya ingin bertumbuh dan terus berbuah. Biarkan dirimu bisa jatuh hati berulang-ulang kali pada hidup. Itulah yang membuat hidup manusia lebih beresensi. 


***


“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”

C.S. Lewis



3.6.13

Bersedih itu tidak setiap hari


pic: tumblr


Ada beberapa hal yang kita tidak mengerti mengapa harus terjadi. Mengapa tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan? Mengapa nampaknya sulit sekali, meski sudah mencoba namun rasanya tidak sampai-sampai? Atau mungkin salah tujuan?

Ada saatnya kita mencoba dengan sekuat tenanga tapi hasilnya tidak sebesar apa yang diusahakan. Salah siapa? Tidak ada. Mungkin timing yang kurang pas. Otak yang berpikir mungkin saja sebenarnya menunggu waktu yang pas itu omong kosong. Karena tidak ada yang namanya 'waktu yang tepat' itu. Itu cuman kata-kata penghiburan saja. 

Benar begitu? Mungkin tidak.

Seperti yang sering ditulis di alkitab: Segala sesuatu ada masanya. 

Tidak selamanya saya bersedih terus menerus dan tidak selamanya juga saya senang-senang terus. Semua harus balance. Biar normal.

Sesuatu yang menyedihkan itu tidak melulu harus dihindari dan alangkah baiknya kalau kita mengaku pada diri sendiri jika kita memang sedang dalam tahap kesedihan itu sendiri. Berikan waktu pada hati kita untuk membersihkan dirinya sendiri karena selama ini sudah sesak dan membeludak. Kalau terkadang hati juga tidak selamanya harus berpura-pura berani dalam menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan apa yang kita mau.

Bahwa ada baiknya kalau kita mengakui bahwa: 'Saya sedih, saya kecewa, saya patah hati, saya muak, saya capek, saya kapok.' Bahwa perasaan-perasaan itu ada baiknya kalau mengalir saja demikian tanpa harus 'sok tegar' dengan pedihnya hati. Bahwa sebenarnya hati itu masih ada rasa. Dan berterima kasihlah bahwa kamu masih punya perasaan. Kalau kamu bukan makhluk berdarah dingin; kalau kamu juga ada perasaan.

Mungkin ada baiknya kalau saya bersedih saja dahulu. Melegakan hati yang cengeng dan basah. 

Saya memilih untuk tidak melewati proses-proses pemulihan hati ini. Saya mau pelan-pelan saja membalut luka dan meneteskan betadine. Lalu merawatnya. Bahwa yang saya butuhkan hanya waktu saja. 


26.5.13

Perikop

        

  A rose dreams of enjoying the company of bees, but none appears. The sun asks:
" Aren't you tired of waiting?"
"Yes," answered the rose, "but if I close my petals, I will wither and die."

           And yet, even when Love does not appear, we remain open to its presence. Sometimes, when 
loneliness seems about to crush everything, the only way to resist is to keep on loving. 

Manuscript Found in Accra- Paulo Coelho

29.4.13

Tidak Ada Eskapisme dalam Hal Menerima


pic: tumblr


"Tau kan apa itu eskapisme?" 
" Kehendak atau kecenderungan menghindar dari kenyataan dengan mencari hiburan dan ketentraman di dalam khayal atau situasi rekaan." 
" Kamu udah kayak kamus berjalan saya."
" Emang kenapa kamu tanya-tanya arti?"
" Saya sedang dalam fase itu."
"Oh."
"Oh doang?"
" Oh ...ya?"
"Iya."

***

Ada hari-hari di mana sepi dan sendiri itu lebih baik dari pada bergerombol dan membicarakan hal-hal yang menyebalkan di kuping. Lalu dalam hati berkutat dengan seribu jarum yang nyelekit dan kau tetap tersenyum riang. Namun binar matamu tidak pernah bisa bohong karena ia relevan dengan hatimu. Karena kata orang mata adalah cerminan hati. Kau pun mulai malas bersuara hingga menoleh pun enggan.

Ketika sesuatu yang kau rasakan bukanlah sebuah penjelasan karena kau tahu bahwa perasaanmu tidak seberapa penting dibandingkan dengan perasaan orang lain. Bahwa kau ketakutan sendiri jikalau menyakiti perasaan orang lain dan berkewajiban penuh untuk tetap menjaga perasaan orang lain meski akhirnya ada saatnya kau tidak tahan lagi hingga harus menangis diam-diam sampai ketiduran. Lalu pagi hari kau terbangun dengan mata sembab. Kau berterima kasih dengan sepenuh hati pada kekuatan make up: eyeliner dan eye shadows karena menyamarkan keganjilan. Hingga kau bisa tersenyum lagi meski tanpa binar mata. Binar mata tidak bisa dibeli. Sayang sekali. 

Kau lelah harus terus menerus takut berhadapan dengan ketakutan sendiri yang sebenarnya mungkin hanya sebuah pikiran. Kau kecewa dengan tulus, sakit hati yang datang sendiri dan kau tidak memberontak menerimanya  karena kau tahu mungkin saja itu salahmu bukan salah orang lain. Lalu kau menyalahkan dirimu sendiri karena kau tak sanggup. Karena kau tidak cukup kuat, menjadi pengecut dan aroma kerja kerasmu kurang berkarat, lalu darah yang timbul dari lukamu kurang anyir dan berbau. 

Kau tidur sendirian dengan mimpi yang berloncat-loncatan mengejekmu seakan kau tidak akan ada jalan ke sana. Menjalar ke sulur api cita-citamu yang serta-merta padam dihembus angin tanpa memberi kesempatan pada semangat. Rasakan! Baui! Bahwa kau bersedih di momen ini dengan segala rasa pahit di tenggorokanmu lalu kau menyalak dengan sarkasme dan mulai menertawakannya. 

Hingga kau sampai pada sebuah pemikiran sendiri bahwa terkadang menerima kesedihan dan kecewa itu lebih mudah dari pada melawannya. Bahwa kau berlapang dada, seluas-luasnya pada rasa sedih yang tidak bisa kau halangi sendiri. Kau kecewa karena berharap orang lain bisa melakukan sesuatu hal untukmu dan bisa mengerti perasaanmu lalu layak untuk dicintai. Kau ngeri sekali saat tiba harinya, hatimu amburadul di tengah orang banyak dan gelak tawa. 

Kau kecewa sendiri karena orang yang kamu percaya sepenuh hati tidak selamanya bisa kau andalkan karena kembali lagi kalau kita ini hanyalah manusia yang tidak bisa mengontrol semua situasi. Kau makin menyadari bahwa kebahagiaanmu itu memang kamu yang punya dan atur. Bukan siapapun. 

Ada baiknya kalau kau menerima saja semuanya bulat-bulat, sejelas-jelasnya, sepahit-pahitnya lalu telan. Menghadapi dengan tegar bukannya lari dan menghindar. Ada saatnya kau harus berusaha untuk kuat bukan demi siapapun tapi semata-mata demi harga diri dan demi dirimu sendiri. 

Lalu saatnya nanti kau melompat terbang dengan kakimu sendiri. 





23.4.13

Sudah Congkak, Gengsian Pula

pic: google


Saya punya teman laki-laki, anak Taiwan yang menurut perkiraan saya, untuk 10 tahun ke depan pasti dia jadi executive muda yang sukses dan kaya raya. Bagaimana tidak? Dia ikut bejibun acara sekolah dengan pengalaman internship yang segudang hingga sampai internship ke Jerman! Intinya dia sudah mencuri seribu langkah maju di depan saya, dan meninggalkan  saya yang cuman bisa melihat dia dengan tatapan kagum sekaligus iri. Sambil berkata: Gila itu orang! 

Orang yang seperti DIA ini nih yang ....

Di kelas tadi, dia bercerita tentang salah satu internship dia di kapal pesiar Jerman yang sedang mampir ke Kaohsiung (kota saya). Dia bercerita tentang bagaimana dia menjadi penerjemah, jadi juru bicara Jerman-Mandarin. Kesulitan-kesulitan yang dia hadapi dan pengalaman-pengalaman menarik yang bisa dipelajari dari internship itu. Menurut saya menarik sekali mendengar pengalaman orang lain dan mengetahui sudut pandang seseorang tentang suatu hal karena pasti berbeda. 

Ada satu cerita yang menarik yang agak menggelitik saya. Di kapal cruise ini dia bertemu dengan pasangan oma opa orang Jerman. Lalu teman saya ini menjadi penerjemah pasangan oma opa bule Jerman ini, namun dia menemukan kendala, yakni kenyataan bahwa pasangan oma opa bule Jerman ini tidak mengerti apa yang  sedang teman saya bicarakan. Pasangan oma opa bule Jerman ini mengkritik teman saya bahwa bahasa Jermannya kurang jelas dan tidak ada 'melodi' nya sehingga sulit untuk dimengerti. Kemudian pasangan oma opa bule Jerman ini pun malah sibuk mengajari teman saya cara berbicara yang benar dengan 'melodi' yang tepat dan cantik. 

Apakah kalian melihat apa yang menarik? Teman saya ini orangnya terbuka sekali dengan kritik dan tidak gampang sakit hati seperti saya. Dia malah melihat itu sebagai suatu pendapat yang paling jujur tentang skill dia dalam bahasa Jerman dan cepat tanggap dengan menyadari: "Oh, skill bahasa Jerman saya sampai sini toh, oh kekurangan saya di sini toh. Oke saya terima kritik anda, terima kasih. Bisa tolong ajarkan bagaimana cara bicara yang benar?" Astaganaga! Saya salut dengan orang yang seperti ini. Karena saya sendiri belum sampai ke pemahaman belajar yang seperti ini, saya ini terlalu congkak dan gengsian orangnya. 

Orang seperti SAYA ini yang .... 

Saya rasa mental seperti saya ini yang membutuhkan perbaikan mental. Dalam artian saya ini sudah congkak, gengsian pula , sudah begitu punya nyali kecil lagi. Saya takut untuk mencoba hal-hal baru yang pasti diluar kontrol saya. Saya tidak tahu medan, lalu saya ciut di belakang dan berakhir jadi jago kandang doang! Harusnya saya ini sering-sering ditantang dengan sesuatu yang menantang biar tidak sombong.

Pemahaman pembelajaran saya ini sebatas saya menyadari saya ini pintar di kelas dan membantu teman saya yang memerlukan. Bukannya pergi ke luar dan memasukkan diri saya ke 'kandang macan bule Jerman lalu bergelut di sana'. Saya masih saja duduk-duduk manis di kelas, berbosan-bosan menunggu jam kelas selesai sambil senyum-senyum. Sudah. 

Lain halnya dengan teman saya, bahwa dia berani untuk membawa semua kemampuan yang dia punya dengan segala kerendahan hatinya untuk belajar sesuatu yang baru. Saya ini takut dikritik dan tidak suka dikritik. Kalau kata orang kritik itu adalah komentar yang membangun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang menyakitkan dan menunding bahwa saya ini tidak sampai level standard. "Idih... Si Metta lemah sekali yee,  gitu aja sakit hati, dasar mental tempe!" Iya memang. 

Saya rasa mental-mental tempe seperti saya ini sebenarnya banyak dan kalau terlalu lama seperti ini dengan berat hati saya tegaskan: Anda tidak akan bisa ke mana-mana, saudara-saudara. Serius.

Jangan lebay

Kalau kata Bapak saya, saya ini sudah congkak, gengsian pula! Saya gengsi untuk menjadi pihak yang salah dan bodoh. Padahal untuk mencapai sesuatu yang baik dan bagus pastilah dimulai dari pemula, yang pastinya masih naif, digoblok-goblokin, bodoh, diketawain, dikritik dan seterusnya dan seterusnya. Saya ini terlalu congkak untuk belajar dari orang lain yang lebih mengerti karena menganggap saya ini sudah cukup dan bisa sendiri. Padahal skill saya ini masih level ya gitu deh.

Ada baiknya sih, agar kita ini tidak terlalu lebay dalam menghadapi kritik dan kegagalan yang pasti akan kita banyak jumpai  di kehidupan ke depannya. Bahwa kita ini ya sama-sama belajar karena hidup ini adalah panggung sandiwara, bedanya hidup kita ini tidak ada gladi resiknya semua langsung perform. Dan sayangnya, tidak ada stuntman  atau pemeran pengganti yang bisa jadi back up kita jikalau ada adegan-adegan yang berbahaya dan meregut nyawa.  Semua itu ya kita yang hadapi sebagai lakon utamanya. 

Jadi, sudahkah kita cukup berani untuk menjadi rendah hati dalam belajar dan mengambil resiko? 

22.4.13

'Life must go on', katanya


pic: google

Sebenarnya tidak ada yang harus saya takutkan. Bahwa pada akhirnya kita itu memang harus maju dan melangkah ke tempat yang lebih dalam lagi. Ada beberapa hal yang sepertinya saya hadapi berkali-kali dan selalu berat rasanya. Bahwa terkadang untuk keluar dari comfort zone itu susah sekali. Kurang dari tiga bulan lagi saya sudah resmi lulus kuliah. Dan saya rasanya ketar ketir dengan berbagai hal yang akan saya hadapi setelah ini.

Saya ngeri sendiri sebenarnya untuk back for good ke Indonesia. Bukan karena saya gak cinta gak sayang lagi sama Indonsia, tapi saya terlalu takut untuk mulai dari awal dan adaptasi lagi. Sesuatu yang baru dan saya gak punya ide sama sekali akan seperti apa kelanjutannya. 

Kadang saya malu sendiri kenapa saya pengecut sekali untuk sekali-kali tidak perlu khawatir dan mencoba lalu jalani saja apa yang kamu punya sekarang. Terkadang memang kenyataannya tidak semudah itu. Kalau saya takut sendiri dengan mimpi-mimpi dan harapan saya ke depannya. Bahwa sebenarnya saya juga ingin ikut andil dalam masyarakat, bisa menginspirasi orang lain dan punya hidup yang berarti. Lalu di lain pihak  rasanya mimpi yang saya untuk jadi jurnalis jauh sekali.

Mungkin sesuatu yang saya harapkan  ini tidak akan pernah mudah, perjalanan masih panjang mungkin butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Namun saya juga tidak sampai hati untuk menyerah pada diri saya sendiri. Tidak sekarang. Itu saja. 


9.4.13

Nona Kecil dan Bianglala



photo: claudi


Mari saya kenalkan pada seorang nona. Nona ini bernama Nona Kecil. Dia pemberani dan bukan 'cewek cemen', dia tangguh dan kritis pada keadaan sekitarnya. Terkadang dia ceroboh dan cerewet. Oh iya satu lagi dia agak kelebihan energi, terlalu hiperaktif dan tidak bisa duduk terlalu lama dan berdiri diam tidak berbuat apa-apa.

Akhir-akhir ini Nona Kecil sedang merasa bosan dengan kehidupan yang begini-begini saja. Akhirnya Nona Kecil pun melangkah masuk ke sebuah ruang tertutup di hatinya yakni: Gudang Rasa Takut. Nona Kecil berjalan pelan-pelan masuk dan mulai memperlajari rasa takutnya terhadap sesuatu. Banyak sekali pilihannya : dari takut pelajaran Matematika, takut badut, takut petasan, takut petir, dan takut ketinggian. Akhirnya Nona Kecil memilih salah satu ketakutan itu untuk diuji ulang kembali. Kita tidak pernah tahu kan apakah kita masih takut pada sesuatu hal yang sama seperti kita saat umur 5 tahun? Kita jelas berubah, namun apakah ketakutan itu masih sama? Ya.

Nona Kecil menguji ketakutannya, mencari limit, mencari batas, mencari suatu alasan apakah ketakutan ini cukup masuk nalar kah? Memang rasa takut itu adalah sebuah rasa yang membuat pergerakan jantung kita lebih kencang keras dari biasanya. Membuat kita akhirnya menyerah pada rasa takut karena tidak nyaman itu tadi. Bahwa sebenarnya manusia itu mudah merasa nyaman pada sesuatu, bahwa terkadang manusia itu sulit untuk melepaskan sesuatu yang nyaman. Melekat. Ada baiknya jika kita tidak terlalu 'lekat' pada sesuatu. Karena percayalah dunia ini fana dan kita hanyalah ilusi-ilusi yang tercipta dengan waktu kadaluarsa.

Nona Kecil mencoba semua permainan ketinggian. Takut tapi penasaran, penasaran tapi takut. Permainan itu menguji adrenalin, menguji ketahanan untuk tetap diam dan pasrah namun tetap bebas mengekspresikan dengan teriakan sumpah serapah. Suatu yang bebas, suatu yang meledak-ledak, sesuatu yang dinamis, sesuatu yang ekstrem dan sesuatu yang menantang. Nona Kecil suka. 

Lalu Nona Kecil memutuskan dengan kebulatan tekadnya bahwa dia akan mencoba sesuatu yang tinggi tapi tenang. Semua orang santai, semua orang senang, semua orang ceria, semua orang berkata itu romantis. Nona Kecil penasaran. Seperti biasa, selalu terbujuk dengan rasa penasaran dan tertantang. 

Nona Kecil mencoba bianglala. 

Suasana malam, kemerlip lampu warna-warni, wangi semprotan parfum, teman-teman dekat, pemandangan indah di luar. Pas. 

Namun entah kenapa Nona Kecil ini khawatir, takut, was-was. Seolah kapan saja dia bisa jatuh ke bawah dan mati kapan saja. Seolah pemandangan dari kaca transparan itu bias dan Nona Kecil mulai membayangkan kaca tersebut pecah dan berhamburan lalu Nona Kecil jatuh seiring gravitasi. Nona Kecil takut, pucat pasi, kaku, ngeri, khawatir dan terdiam. 

Bianglala itu berjalan naik dengan perlahan-lahan, pemandangan semakin indah, lampu kerlap-kerlip berada di belakang jendela, semilir angin menggoda rambut Nona Kecil. Indah, cantik. Nona Kecil terkesima, terkejut sendiri dan ngeri.

Ada apa dengan Nona Kecil? Bukankah semua orang itu suka naik bianglala dan melihat pemandangan kemerlip lampu indah? Namun mengapa Nona Kecil mempunyai gejala-gejala yang berbeda. Di permainan ketinggian lain dia sungguh berani dan lepas, tapi kini ceritanya beda.

Mungkin Nona Kecil memang takut ketinggian, tapi Nona Kecil tahu betul bahwa sesuatu yang tinggi itu mengasyikan, menyenangkan dan menantang. Namun Nona Kecil suka ketika ketinggian itu saking tingginya sampai benar-benar lepas. Dengan energi dan bebas mengekspresikan apa saja. Bahwa tinggi itu menjadi sebuah morfin yang membuat senang dengan pacuan adrenalin karena Nona Kecil suka sesuatu yang menantang dan adu nyali, karena Nona Kecil tidak suka dibilang 'cemen'. 

Hubungan Bianglala dengan Nona Kecil ini rasanya, hubungan yang aneh. Bianglala ini tinggi, anggun, rupawan, bersinar, cantik, indah dengan kemerlipnya. Nona Kecil suka memandangnya dari kejauhan, terpesona sendiri dengan keindahannya dengan cahaya bias di langit malam. Bianglala ini saking anggunnya, dia berjalan pelan-pelan, terkadang tidak terasa bahwa dia berjalan, bahwa dia bergerak. Nona Kecil tidak terbiasa dengan sesuatu yang halus dan lembut menelusup hingga dia tidak tahu apa-apa. Nona Kecil  terbiasa dengan sesuatu yang mudah dilihat, mudah ditebak gerak-geriknya, hingga bisa diekspresikan. Bukan sesuatu yang membuat lumpuh dan hanyut. Nona Kecil adalah manusia dinamis yang penuh energi hingga tersiksa setengah mati dengan sesuatu yang tenang, perlahan, pelan......pelan.... sedikit....sedikit....naik.... pelan...pe----lan...p....e....l....a....n. Membuat gelisah.

Nona Kecil takut dan takjub dengan bianglala ini sendiri, dia ngeri dengan kecantikannya. Mengapa sesuatu yang rupawan itu terkadang mengerikan? Cukup dilihat dari jauh. Namun penawaran bianglala ini memang menguntungkan. Cantik, tinggi, pelan, pasti, tenang, romantis, ngeri, tidak usah banyak bicara, tidak terbaca, cerdas, mendebarkan, dan pas. 

Akhirnya Nona Kecil menemukan limit ketakutannya dan sesuatu yang melumpuhkannya: sesuatu yang pelan, tegas, tenang, ngeri, anggun, mendebarkan, tidak terbaca, dan cerdas. Bianglala. 


new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...