17.1.13

Day #18: Pelabuhan


pic: tumblr



Kamu nampak jauh terselubung dalam jalan pikiranmu sendiri. 
Kamu tersesat dalam otakmu dan berlari memutar dalam labirinnya.
 Aku tidak mengenali kamu lagi.

Kamu berusaha menjelaskan dan menguraikan alasanmu, seraya tanganmu memainkan jemarimu 
pertanda kamu kebingungan dan kehabisan kata-kata yang paling kamu butuhkan. 
Hingga akhirnya kamu pun terpaku dalam satu titik dalam satuan waktu yang panjang.

Andai kini peluk dapat menyatukan hati kita tentu sudah kulakukan sejak tadi. 
Andai peluk sesuai dengan kenyataannya, meninggalkan setiap centimeter fisik menjadi satu rengkuhan, menghangatkan dan meninggalkan jeda, 
tentu kita tidak perlu sejauh ini.

‘Aku harus pergi. Mencari.’ Ucapmu tidak memandang mataku.
‘Mencari apa?’
‘Mencari sesuatu yang hilang dan kini serasa kosong.’

Kamu gelisah di tempat dudukmu hingga lipatan bajumu agak kusut. 
Aku pun mulai kedinginan serasa ditinggal panas tubuh. 
Berdua kita terdiam dan hanya terdengar tarikan nafas kita yang semakin cepat 
seolah saling berebut oksigen dalam ruangan.

Ketegangan yang melelahkan, gelombang yang tidak serasi membuat kita ingin saling berjauhan.
Jarak yang menganga kita tinggalkan begitu saja. 
Kita serasa berbeda waktu, entah kamu yang terlalu cepat 
atau hanya aku yang berputar dalam porosku sendiri.

Lalu kamu pun bersuara:
‘Lepaskan aku,..’

Entah dari mana asalnya emosiku berontak, ketenanganku pecah dan aku pun merangsak masuk ke zonamu. Aku berusaha sekuat tenaga mengambil apa yang aku punya, apa yang aku miliki dari dirimu. 
Namun kamu terdiam tak bergeming. 
Aku mulai memukulmu dan berteriak meronta.
Air mataku mulai meleleh dan panas membasahi pipiku. 

Proses pelepasan jiwa yang berdiam terlalu lama. 
Sandingan hati yang berlepasan bagai ombak luluh lantak menembus dinding dan penjara, 
bergerak kembali padamu.

Kamu kokoh dan tegak di tempatmu, memandangku dengan iba. 
Aku menangis hingga gemetar dan kamu pun terisak pedih. 
Kamu dan aku terluka. 
Tembok kita runtuh sudah, belahan jiwa kembali ke masing-masing.

Kamu dan aku terlepas, 
 meninggalkan perasaan pada pelabuhan yang berbeda. 





Metta
Kaohsiung, Februari 2011 



16.1.13

Day #17: Waktu



Detik meleleh disetiap detaknya
Kita berkejaran dengan waktu
Entah aku yang berlari
Entah engkau yang berdiam
Tanpa tahu kapan kita bisa sejajar
Duduk dan berbagi oksigen yang sama
Menatap mata
Dan sekedar bicara
Tentang makan siang
Lalu
Senyuman manis sampai jumpa


Metta
Kaohsiung, 16 Januari 2013
15:45, lantai 1 

15.1.13

Evaluasi 2012 di Tepi Jendela

Hari libur pertama winter ini saya habisakan dengan berleha-leha, hibernasi, makan dan melakukan hobi-hobi saya yang tertinggal. Ibu saya sedari kemarin sudah cerewet bertanya: liburan winter ini mau ke mana? Mau travel ke mana? Dan jawaban saya adalah jeng jeng jeng : saya sedang tidak ingin ke mana-mana. Mungkin karena saya capek dan sudah hutang tidur sedari awal semester ini, sedari september 2012 sampai akhir final exams kemarin. Saya mau tidur santai, bernafas dan ansos dengan dunia sekitar. Saya mau membaca buku sebanyak-banyaknya, menulis sebanyak-banyaknya, nonton film sebanyak-banyaknya dan belajar ukulele. Sehingga munculah moto liburan winter kali ini yakni: Make it simple! 


Rasanya selama semester kemarin ini saya udah kayak budak ilmu yang kerja rodi terus-terusan. Semester kemarin udah kayak masuk ke medan perang yang sadis kejam dan saya sebagai prajurit mengemban tugas maha berat : skripsi dan sidang. Oh man! Untungnya sampai sekarang ini saya masih bisa hidup yah, masih bisa survive meski di akhir peperangan ini saya jadi agak kucel-kucel dan pilek. Di luar perjuangan itu saya berjuta-juta terima kasih kepada Tuhan karena tanpa Dia pasti saya tidak bisa menjadi saya yang sekarang. Bahwa kini saya semakin sadar betul bahwa manusia itu butuh sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat dari dirinya sendiri.


Tadinya saya mau menuliskan sejembreng ( bahasa indonesia macam apa ini haha) list resolusi. Semakin saya pikir, saya kaji kayaknya tahun 2013 ini saya mandeg di tengah penulisan resolusi. Pada akhirnya saya tidak jadi membuat resolusi karena pada akhirnya itu hanya menjadi slogan di tembok-tembok saja. Ya memang tidak ada salahnya juga sih punya suatu resolusi yang bisa digenggam terus menerus sampai akhir tahun 2013. Namun sepertinya saya cukup malas untuk terus menerus hidup dengan resolusi, akhinya saya menutuskan untuk menjalani tahun 2013 ini dengan polos-polos saja dan menyerahkan semua usaha dan perjuangan saya pada Tuhan. Bukan menyerah tapi berpasrah dengan segenap usaha yang maksimal. Berpasrah bahwa rencana Tuhan pasti lebih baik dan tepat waktunya. Saya pun belajar bahwa saya hidup di dunia ini karen Tuhan punya suatu misi dan itu tugas saya untuk mencari dan melakukan misi itu.

22 tahun
Berganti umur menjadi 22 tahun itu rasanya biasa saja. Hanya saja saya semakin merasa bahwa 6 bulan ke depan saya sudah lulus kuliah dan harus mulai mencari kerjaan. Ternyata kini tibalah saatnya saya harus mencari pekerjaan. Ternyata tibalah giliran saya memilih dan 'nyemplung' ke dunia kerja. Sejujurnya itu menakutkan dan membuat ngeri masuk ke dunia orang dewasa di mana saya harus menjual skill dan otak selama hampir setengah umur saya dihabiskan untuk belajar. Celaka 12 ini rasanya! Tapi cepat atau lambat semua orang pun akan berjalan ke arah sana dan melanjutkan hidupnya. Usia 22 tahun ini berarti saya tetap menjadi Metta dalam versi yang lebih dewasa. Namun tetap saya menjadi  Metta yang pecicilan dan suara ketawa yang seharusnya saya rem sedikit agar agak lady-like. 


Kebahagiaan
Saya belajar banyak tentang rasa bahagia di 2012 ini, Kebahagiaan itu datangnya dari diri sendiri bukan dari orang lain. Bahagia karena apa yang kita punya, bukan pada apa yang tidak kita punya. Tidak seharusnya kita menitipkan rasa bahagia kita pada orang lain. Tidak ada yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita kecuali diri kita sendiri. Kadang kita menganggap bahwa kita perlu seseorang di samping kita agar kita menjadi bahagia, padahal dengan menjadi pribadi yang bebas, utuh tidak kekurangan, bersyukur dengan apa yang kita punya, puas dengan relasi diri kita dan Tuhan, dan berada di tengah orang-orang yang tetap setia di sekitar kita, itulah bahagia. Kebahagiaan itu relatif, dari sudut pandang mana kita mau melihat.

Jangan berharap lebih
When you least expect it, something great will come along, something better then you ever expect it.
Menurutku untuk menjaga hati dari rasa kecewa, kita jangan berharap terlalu banyak karena apa yang kita harapkan malah menjadi standard tinggi di benak kita padhal realita yang ada belum tentu sesuai prediksi kita. Hidup kita itu tidak selamanya bisa sesuai dengan plan kita, dia berjalan sesuai dengan porosnya dan bukan kita yang mengendalikan namun tetap kita punya andil yang besar atas hidup kita. Jangan berharap lebih, tetaplah berdiri di realitas dan tidak perlu over-thinking. Kalau kata orang sunda: sekasampeurna. Kalo ada ya...hayuuk, kalo nggak ada yaa...gak papa.

Dia hanya sejauh doa
Terkadang saya suka menyepelekan kekuatan doa, bahwa sebenarnya doa itu penting dalam hidup kita, itu bagaikan sebuah energi positif yang sebenarnya kita bangun di dalam hati kita lalu menyambung relasi dengan Tuhan. Saya setuju sekali dengan kotbah pastur filipin di katedral, beliau berkata: "Apa yang saya rasakan dan saya alami dalam kehidupan sehari-hari itu sebagai tolak ukur relasi saya dengan Tuhan, sudahkah saya berdoa dan berbicara dengan-Nya?" Jikalau saya terus menerus merasa gelisah, kesal dan emosional, mungkin itu tandanya relasi saya dengan Tuhan sedang kendor. Gilak! Saya standing applause buat si romo filipin ini! Seperti sebuah quote yang kini saya tempel di diary: Prayer is the cure for a lost soul, confused mind and a broken heart. 


Cinta
Untuk yang satu ini saya juga belajar buanyaaaaaaakkkk sekali. Seperti di lagu Ost. Arisan: "Cinta bisa datang kapan saja, biasanya dia hadir tiba-tiba lalu semua berubah, hati ini menjadi resah." Intinya cinta itu datang dalam situasi yang tak terduga. Mau kamu punya segudang tipe-tipe pilihan pasangan yang kamu mau tapi selalu ada exception buat cinta. Dan list tipe-tipe pasangan itu sekedar hanya kertas belaka layaknya daftar belanjaan bulanan karena hati yang dipilih bukan memilih.

Menurut saya cinta itu bikin semua hati jadi rapuh, galau, cengeng, gelisah terus jadi lembut. Mau badan model Ade Ray juga sama aja, kalau jatuh cinta, hati doi juga pasti berubah selembut hati Hello Kitty. Yakin saya! Karena hati yang berubah menjadi fragile dan cengeng itu menjadi sebuah tantangan berat buat kita. Beranikah kita mengambil segala resiko untuk memberikannya pada orang lain yang kita cinta. Ya...memang susah karena artinya kita harus  meruntuhkan tembok dan segala pengaman hati kita itu lalu mempercayakan pada orang lain yang mungkin belum tentu juga punya perasaan yang kembar dengan kita.

Seperti penyanyi dangdut Meggi Z. di lagunya yang berjudul Jatuh Bangun: "Percuma saja berlayar kalau kau takut gelombang, percuma saja bercinta kalau kau takut sengsara." Jadi pendek katanya dalam urusan cinta percintaan ini kita dituntut untuk mengambil resiko sebesar mungkin, apakah kita berani-seberani-beraninya orang berani atau tidak? Apakah cinta ini layak untuk diperjuangkan atau tidak? Coba kita lihat diri kita 20 tahun lagi apakah kita akan menyesal dengan apa yang kita putuskan sekarang? Coba pikir baik-baik.

Ketika misalnya kita sudah berusaha dan mengambil resiko dan ternyata gagal maning, gagal maning. Jangan panik dulu karena setiap usaha yang sudah kita lakukan ini suatu hari pasti akan berbalik ke kita. If something bound to happen, it will happen. Right time, right person and for the best reason!










Semangat yah untuk 2013!!




14.1.13

Day #16: Kumis


Menyukai seseorang karena
kumis,
itu kan gak normal
ya kan?


Kaohsiung, 15 Januari 2013
23:55, kamar dingin


13.1.13

Day #15 : Hati-hati

Pic: favim.com


Hati merekah
pada sebuah celah,
Indah.
Kini adalah
kurasa kena tulah
karena kini hati lelah,
terbelah.
Pesanku hanya sebuah:
Hati-hati
gunakan
hatimu.
Jangan
titipkan
hatimu
di mana-mana
karena
hatimu hanya satu
Bertanggung jawablah:
Atas hatimu.


Metta
Kaohsiung, 13 Januari 2013
22:14, kamar lantai 1 


8.1.13

Day #14: Berkarat


Ketika asam berubah menjadi karat
Ketika warna senja tipis-tipis menghitam pekat
Merengkuh hati yang sekarat
Menjajahi rasa pengap dalam sekat

Sesederhana saya yang butuh waktu
Karena bukan kembaran hati satu

Dan hati saya cukup lelah
Wahai, cinta yang sedang tak ramah



Kaohsiung, 8 Januari 2013
22:44, kamar pelarian finals





2.1.13

Puisi dari Ibu

Pas saya ulang tahun ibu kasih puisi ini. Puisi ibu selalu nendang, seperti biasanya :)) 




DARAH PEREMPUAN


Bertuturlah padaku tentang darah
darah yang warnanya merah membara
yang menghitam kala mengental
dan ia menggelepar dalam makna
darah dari para perempuan
 
Ceritakanlah hanya padaku
bukan kepada para raja
atau para nabi
bukan pula para dewa
bahkan Tuhan sekali pun
 
Uraikanlah padaku tentang darah perawan
yang menetes perlahan dari sela vagina
pada sanggama pertama
 
Deskripsikan padaku tentang darah ibu
yang merembes hangat dari rahim
yang dindingnya kujebol
untuk menghirup dunia
 
Beberkanlah padaku berita
tentang darah perempuan yang mengalir
karena aniaya dan perkosaan
yang menetes ke bumi dalam jeritan diam
 
Genapilah kisahmu padaku tentang darah
yang memancar dari lambung seorang pria
anak seorang dara
yang tertembus tombak
di sebuah bukit gersang Golgota.
 


Serpong, 12-12-2012
 
Christina Enung Martina



new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...