5.6.20

Sekadar Mempertanyakan

 

Tidak ada yang baru di bawah langit ini”, begitu katamu. Namun, boleh dong aku bertanya kenapa bisa ada new normal?

Tidak ingin menambah kerumitan situasi dengan kening berkerut, tapi nyatanya memikirkan ini sudah membuatku sedikit rungsing. Berawal dari sebuah kutipan yang mengatakan bahwa ada hari-hari yang diisi dengan upaya bertahan hidup saja. Kemungkinan untuk ‘urip iku urup’— hidup itu nyala, menjadi 100x lebih rumit. Tentu, adalah sebuah keberuntungan jikalau masih bisa merasakan hidup yang benar-benar hidup.

Hal yang dialami pada saat wfh ini sudah pasti kurang lebih berisi: perjuangan kerja dan upaya memiliki sekat antara dunia kerja dan kehidupan. Ternyata segala yang dilakukan dengan upaya itu melelahkan karena ada usaha dan harapan di sana. Lalu harapan pasti berkembang menjadi ekspektasi. Apabila sudah melakukan abcdef maka hasilnya diharapkan akan sesuai dengan input yang telah diberikan. Nyatanya, rencana-rencana seperti itu tidak sesuai kenyataan. Hasil yang diinginkan tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan. Padahal fungsi dari rencana adalah menghindari hal-hal yang tak terduga untuk bisa mendapatkan hasil yang dekat dengan ‘sempurna’. Namun, di keadaan pandemi yang kita alami seperti sekarang mengajak kita untuk menerima bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan semata.

Tidak perlu contoh jauh-jauh, misalnya dengan mencari titik temu antara keseimbangan kerja dan hobi di keadaan seperti ini sudah sulit sekali. Waktu kerja jadi bablas karena segalanya serba harus cepat, toh di rumah juga, kan. Lalu berakhir dengan kelelahan bekerja dan ingin istirahat saja. Tanpa kita sadari; sebenarnya istirahat tidak hanya badan, tapi juga pikiran. Tidak punya waktu untuk melakukan hobi karena sudah lelah bekerja yang berakhir dengan tidur saja. Akhirnya jadi tidak merasa ‘penuh’, tabung emosi habis karena kekurangan asupan energi baik, katanya.

Salah siapa? Tentu Corona. Nggak deng. Tentu lebih baik kita meyalahkan diri sendiri saja, jadi bisa diperbaiki hehe~

Langkah awal yang paling mudah dilakukan adalah mengenali cara pandang diri dan disandingkan dengan realitas:

1. Arti produktif untukmu seperti apa?

2. Memaknai arti “kesempurnaan” itu sendiri dan seberapa genting untuk dicapai

3.Jangan-jangan standard kebahagiaanmu ketinggian

Dari pertanyaan di atas, aku menganalisisnya menjadi ruwet (yailahhhh💢👀), tapi ini yang mau aku coba tawarkan di sini:

1. Menyoal arti produktif; bisa jadi arti produktif bukan hanya seberapa banyak karya yang dikeluarkan dan upaya untuk mengedukasi diri. Bisa jadi produktif artinya bertahan hidup. Tidak perlu sulit berpikir bahwa hidup ini perlu berguna dll dst dsb, jangan-jangan manusia bukan soal guna dan fungsi — yang terdengar sangat utilitarian amat jikalau begitu. Kasarnya, emang hidup harus berguna? Kalau mau hidup aja, emang tidak boleh?

2.Harus punya balance baru. Mari melihat kembali ide: keseimbangan dalam hidup. Benar 50:50 kah, ataukah malah justru yang seimbang itu bukan sama besar tapi sesuai kebutuhan. Yang pas, bisa jadi bukan yang sama besar. Tapi sepadan. Sesuai.

3.Bahagia itu “ya udah bahagia aja” tanpa banyak embel-embel yang menyertainya. Makanya banyak stiker di gerobak penjual kaki lima bertuliskan: “Jangan lupa bahagia 😇” Lengkap dengan emoticon smile seolah ingin mengatakan: “Sekedar mengingatkan hehe~” Jika bahagia bisa dilupakan, sesungguhnya bahagia itu berada di kuasa kita, dong ya?

Kurang lebih ini adalah tulisan curhatan yang berusaha gak pake perasaan banget dengan pendekatan analisa semi overthinking semi anxiety. Lalu tiba-tiba jadi terpikir, jikalau new normal itu artinya perubahan tatanan hidup secara besar-besaran , aku curiga, kalau sebenarnya new normal ini sudah pernah terjadi berkali-kali. Sudah pernah kita alami sebelumnya, tapi dalam bentuk yang lain.

Bukankah, tidak ada yang baru di bawah langit ini?


10.2.20

amor fati #9


Apakah kehilangan mampu menjadi pertanda bahwa memang kesementaraan itu nyata dalam kehidupan kita? Bahwa segala-galanya ini sementara dan kau pun juga begitu. Bahkan langit sore yang cantik dan warna gula-gula kapas pun akan hilang dalam beberapa detik saja. Jangan-jangan kita ini hanya terpesona oleh hal-hal yang indah karena ia sesungguhnya sementara dan tidak bisa dimiliki. Kepemilikan bukankah begitu asing terdengar sementara nafas diri pun bukan milik kita. Bahkan ruh yang berdiam di dalam sukma memiliki pribadinya sendiri. Lalu kedalaman akan dicari di tengah-tengah kemarau panjang yang panas dan pelik, atau di tengah hutan-hutan hujan yang tanahnya basah. Wangi tanah basah yang aku cintai dan wewangian pohon pinus yang gemerisik ditiup angin. Apakah kau masih tersesat dan mengembara? Apakah kamu sudah menemukan jalanmu yang tepat? Ataukah kamu tersesat di jalanmu sendiri tapi tidak memiliki rencana untuk kembali? Karena sesungguhnya ketika tersesat aku justru memiliki banyak pertemuan.

5.2.20

amor fati #8


Kayaknya aku sudah dibasuh habis dari tahun 2019 yang membuatku terbuka dan menerima beberapa hal dalam hidupku yang perlu dilihat ulang. Ternyata kuncinya adalah menerima, bahwa bisa jadi beberapa hal tidak sesuai dengan keinginan kita tapi selayaknya pohon ia tetap tumbuh rindang dan sumeleh. 

Apakah mungkin semua yang terjadi di hari lalu membawaku pada segala pilihan-pilihan dan ketenangan yang dulu dirasa tidak akan kudapatkan? Perjalanan ziarah ini memang membentukku menjadi orang baru dengan perasaan baru. Hari-hari depan mungkin tidak akan ringan-ringan saja karena 2020 pasti akan membuatku berlari lebih kencang dari siapapun. Aku akan diremukkan dan dibentuk lagi. Memikirkan bahwa sebenarnya kita ini hanya se-iota kecil di alam semesta membuatku jadi sadar kalau alam raya ini sungguh besar dan dungulah dia yang ingin menguasai seolah memiliki segalanya. Kita hanya se-iota saja. 

28.12.19

Libur Natal dengan Degdegan Kecil







Mengunjungi Jawa Barat artinya pulang ke kampung halaman. Mengunjungi Bandung artinya pulang pada kota kelahiran dan bernafas menikmati udara adem-adem yang menyenangkan. Bandung sekarang macet sekali dan menguji kesabaran untuk setiap pergi ke sana-sininya. Lalu kata tanteku, "Ya sudah, dinikmati saja macetnya." Iya juga sih, menikmati kemacetan Bandung dengan membuka jendela mobil dan membiarkan angin dingin masuk lalu berkata dalam hati: 'Apakah suatu hari nanti bisa menetap di Bandung?' Aku tahu sih, jawabannya sudah pasti tidak karena semua keseharianku di BSD-Jakarta. Namun, tentu kita selalu bisa meromantisir kota dengan berpikir, kalau aku beneran jadi warga lokal seperti apa ya rasanya? 

Libur Natal ini sebenarnya tidak selow-selow amat karena aku harus membereskan essay kuliahku yang banyak itu, lalu memikirkan abstrak thesis, lalu sedikit khawatir apakah bisa mengerjakannya dengan baik atau tidak. Lalu aku jadi berpikir mungkinkah aku akan selalu sedikit-sedikit khawatir tentang hari depan?

Dua hari sebelum Natal aku berkeliling Bandung dan duduk mengerjakan tugasku dengan adikku yang juga sibuk kerja. Sebenarnya tugas kuliahku  ini simple hanya memberikan tanggapan kritis akan pemikiran Sigmund Freud. (Meski pasti tanggapan kritisku jadi mentah-mentah apaaaaan banget aku gak puas tapi otakku udah senut-senut). Menurut Freud, agama adalah neurosis dan ilusi. Aku suka dengan pemikiran Freud tentang agama ini karena menurutku menarik sekali terlepas bahwa ia adalah seorang atheis dan tidak mempercayai Tuhan. Baginya orang yang percaya Tuhan dan memeluk agama lalu menjalankan ritual seperti orang neurotik/sakit jiwa (haha). Menurutku lucu juga ya, karena agama rasanya kini sangat rentan dihajar banyak issue dan seseorang bisa sebegitu fanatiknya akan satu kepercayaan apapun itu. Mengacu pada agama yang dikatakan sebagai ilusi-karena hanya memberikan perasaan aman yang sumir-sumir bahwa akan ada Tuhan yang lebih besar akan selalu melindungi kita dari bencana dan Takdir, menurut Freud itu seperti trauma kanak-kanak yang meminta perlindungan pada ayahnya karena merasa tidak berdaya. Menurutku, Freud barangkali gemas dengan orang-orang sekitarnya yang memuja agama dan kepercayaan sebagai suatu kebenaran tunggal mengingat keluarganya adalah Yahudi dan harus sembunyi-sembunyi menjalankan ritual agama dari ancaman agama Kristen pada masa itu. Pasti lelah, harus terus menjalankan agamanya, tapi ada agama lain yang memberikan 'tekanan' pada orang lain demi peradaban Eropa yang begono begini. Rasanya pemikiran suatu tokoh tidak bisa lepas dari pengalaman historis seseorang pada masanya dia hidup karena pasti dia akan mengidentifikasi kejadian pada zamannya. Lalu, untuk urusan agama dan kepercayaan menurutku kembali lagi pada pemahaman seseorang. Apakah dia memilih untuk memandang dari kacamata intelektual ataukah reflektif? Kalau intelektual pasti rasio dan logika bermain di dalalamnya, sedangkan pengertian reflektif artinya menghadirkan Yang Transenden dalam setiap pengalaman yang terjadi. Ada iman di sana. Jadi, bisa dipilih gitu menurutku. Sehingga besok-besok kalau mau diskusi agama, bisa banget nih membedakan mau ambil dari sudut pandang yang manakah.



Bandung dan segala keramah tamahannya, suasana yang adem tapi aku sedang degdegan kecil dan perasaan rawan menyelindap. Mungkin khawatir hari depan, tugas kuliah yang deadline semua jatuh di akhir tahun dan awal tahun 2020. Aku dan adikku memilih anteng duduk-duduk di sebuah cafe kecil dekat ITB namanya Yumaju. Aku memesan Cappuccino double shot yang ternyata sudah double shot dari sananya sehingga aku tidak perlu tambah espresso atau apapun lagi. Lalu, adikku memesan Hot Americano, tapi aku lupa beans nya namanya apa ya. Kami duduk dan membuka laptop masing-masing bekerja. Aku memikirkan baik-baik akan essayku yang njelimet ini hingga kesal-kesal sedikit. Lalu jadi berpikir bahwa aku terlalu menarik diriku dan tinggal di masa depan sehingga lupa duduk menikmati masa ini, atau aku menarik mundur diriku di masa lalu berusaha memperbaiki ini itu. Padahal harusnya memang saat inilah yang pantas dinikmati, ya kan? Sepertinya aku gak bakal lulus-lulus jadi mindful kalo begini caranya. 

Pernah beberapa waktu aku ngobrol dengan teman kuliahku bahwa rasanya Desemberku tidak memberikan hawa libur dan damai sejahtera Natal. Aku hanya merasa rawan dan terburu-buru. Lalu, kata temanku dia berkata memang sebenarnya Natal bisa jadi adalah masa di mana rasa rawan dan rapuh itu terjadi, karena Bunda Maria hamil tua dan melakukan perjalanan panjang ke Betlehem. Pasti was-was dan khawatir akan melahirkan di manakah, bagaimanakah, seperti apakah rencana Tuhan bekerja. Mungkin ini hanya interpretasi ngaco di hari Sabtu beberapa hari setelah Natal saja, jadi kurasa tidak usah diambil pusing, ok? Mungkin yang seharusnya diambil jadi jalan ninja adalah: mindfulness itu tadi. 





Kemudian sorenya aku ke Kineruku, sebuah sanctuary buatku. Kurasa surgaku sudah pasti adalah perpustakaan luas yang dipenuhi buku, lalu aku bisa berlama-lama membaca banyak buku di dalamnya. Kineruku adalah tempatku untuk tarik nafas dan hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh yang panjang. Di sana aku memesan teh poci dengan gula batunya dan mendapatkan tempat duduk favorite menghadap taman. Senang sekali. Di sana aku melihat-lihat bukunya yang banyak sekali dengan mata berbinar (kuyakin), kemudian aku membaca bukunya Alain de Botton judulnya On Love. Buku ini manis kesel-kesel, memanjakan intelektual, dan charming sekali, tentang essay realitas cinta dan nggak picisan. Dalam buku ini yang menarik adalah pembahasan akan Heidegger tentang waktu, lalu Platonic Love, serta Marxism. Kemudian ada salah satu quote yang menarik buatku "The longing for a destiny is nowhere stronger than in our romantic life" Duh tapi belum selesai baca karena keburu pulang huhu. Apabila ke Bandung, datanglah ke Kineruku ya. 









Selama perjalanan pulang dari misa malam Natal, kurasa memang Natal adalah masa-masa berkumpul dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Kalaupun tidak, kurasa Natal tetap adalah hari pelan-pelan sedunia dan perayaan sudah menjalani setahun dan masih survive. Menepuk-nepuk bahu sendiri, melihat keluar, dan mensyukuri hidup dan peristiwa satu tahun yang sudah dijalani. Tidak melulu melihat segala hal selintas dan permukaan saja, tapi berani masuk ke dalam. 

Kemudian kemarin aku jadi mendengarkan lagu Have Yourself a Merry Little Christmas dengan seksama yang ternyata artinya bukan hanya lagu-lagu coffee shop atau lagu di mall saja. Ada pesan hangat dan manis sekali yang ingin disampaikan;  damai dalam diri dari kesulitan hidup (Let your heart be light dan Our troubles will be miles away) dan kehangatan dengan orang-orang sekitar kita yang harus disyukuri. Karena ternyata mereka tidak selamanya berada bersama kita (Through the years we all be together, if the Fates allow). Lalu, bisa jadi menurutku Natal ini lebih mensyukuri semua orang yang berdekatan dan masih tinggal berada dalam hidup kita. Dan juga tentu saja bersyukur dan mendoakan untuk mereka yang pernah ada dalam hidup kita.  Selamat Natal ya <3









10.12.19

amor fati #7

Meski seminggu kemarin padat dan dipenuhi dengan perpindahan, aku menemukan hal-hal tidak terduga. Ternyata kita memang perlu pergi sejenak saja keluar dari rutinitas. Melepaskan diri dari diktat buku kuliah yang menanti dibaca. Tumpukan buku yang menunggu untuk bisa dibaca dan dirivew. Ternyata tubuh dan pikiran kita butuh tempat dan kota baru yang jarang dijelajahi. 
Cirebon buatku adalah kampung halaman, bagaimana tidak? Setiap tahun aku harus melewati Cirebon menginap semalam untuk akhirnya melanjutkan perjalanan ke Ciamis. Bagiku Cirebon adalah kota persinggahan untuk duduk-duduk sebentar makan empal gentong. Memang tidak begitu mengerti mengenai kota tersebut karena panas sekali sampai 34 derajat lalu kerjaanku adalah mencari minuman manis dingin dan keinginan untuk kopi yang meningkat dari biasanya. 

Di luar dari kenyataan bahwa Cirebon itu panas, aku suka melihat kota dan aktivitasnya. Kadang saat bepergian aku terlalu fokus dengan diriku sendiri, dengan perasaanku, dengan pikiran yang tertinggal, pekerjaan, kuliah, tanpa akhirnya aku bisa mengamati lebih bahwa kota ini memiliki kecepatan yang berbeda dengan Jakarta. Kota ini sedikit melambat, dengan jalan raya yang mengecil, logat bicara Jawa-Sunda, ice cream durian yang wanginya ke mana-mana (tapi aku gak suka durian). Hal yang menarik dari Cirebon adalah bisa jadi kota ini masih malu-malu menunjukan dirinya karena kesan pertama itu panas. Aku penasaran mungkinkah di kota ini ada kedai kopi yang nyaman untuk duduk-duduk, es kopi yang lokal banget gak dengan merek kinclong Jakarta. Lalu, adakah skena-skena musik indie yang asik ala Cirebon banget yang anak muda banget. Adakah toko-toko buku alternatif di sini dan komunitas-komunitas baca yang mungil dan intim. Penasaran kan? Kalau kota bisa jadi tidak hanya sebuah kota saja dengan panas 34 derajat tanpa ada siapa dan apa yang bisa dikulik dan kenal lebih dalam. 

Hal personal yang menurutku menarik dari Cirebon adalah hadiah jeda buat kepalaku yang sedang ruwet 24/7 non stop, lalu perhatian yang mulai lelah, kebutuhan akan butuh suasana baru untuk memberikan jarak pada banyak hal yang terus-terus beradu dan mantul aja ke sana ke mari. Untunglah jarak selalu bisa menjadi obat yang baik. Memberikan jada, hingga rasanya bisa nafas lagi. Ternyata hal yang aku rasakan dan realitas tidaklah sinkron. Kadarku perasaanku berlebihan sehingga aku sering nyemplung ke dalam. Padahal tidak rumit, semata-mata menjadikan yang ada menjadi apa adanya, ada itu sendiri.

Ada satu perikop bagus dari diktat kuliahku yang aku suka, begini bunyinya: Individually, by the single human being alone for himself, to gain some insight into own misery and need, into his own limitation." —Nietzsche. 

Ya begitulah kira-kira. 

22.11.19

amor fati #6

Desember pelan-pelan mengampiri di dapan mata. Tidak merasa khawatir ataupun terlalu senang. Apakah semakin dewasa jadi lebih sering memiliki perasaan yang biasa saja (yang penting tidak capek dan tidak stres) kurasa sudah lebih cukup. Apakah ini yang dinamakan dengan mengatur perasaan sendiri, kalau kekecewaan adalah hal yang lumrah dan penolakan adalah bagian dari hidup yang juga tidak bisa ditolak. 

Apakah mungkin seperti Nietzsche bilang kalau pengalaman dalam hidup seperti penderitaan tidak bisa diiyakan atau ditidakkan, tidak bisa disetujui dan tidak bisa dinegasi. Lalu bagaimana menyikapinya? Dengan menjalani saja dan menerima sesuai dengan porsi realitasnya. Bisa jadi dengan terus menerus reality check itu juga bagus karena bisa jadi ada banyak hal-hal usang yang ada dalam hidup kita namun masih saja menggelayut. 

Pertengahan November ini tidak bisa tidak sibuk, namun setidaknya ia tidak seperti Oktober yang chaos. November ini rasanya seperti bepergian sibuk ke sana kemari, namun dijalani dengan ikhlas dan satu-satu melepaskan 2019. Lagipula sebenarnya keberwaktuan ini bisa dimaknai banyak. Pendek dan panjangnya bisa diatur sesuai dengan keinginan, pun apabila dirasakan panjang sekali toh ternyata banyak harapan dan kejutan di sana-sini. Memang baik rasanya kalau bisa benar-benar sadar pun ketika sedang sibuk atau sedang bersedih, sehingga kesadaran itu bisa membangunkan diri dari siklus sibuk dan sedih yang di situ-situ saja. Jangan-jangan, kelegaan itu ada pada mereka yang menemukan sendiri cerahnya langit setelah badai. Sedahsyat apapun. 

13.10.19

Hari Minggu dan Percakapan







Aku selalu protektif dengan hari Mingguku. Aku ingin bisa menikmatinya pelan-pelan saja, tidak terburu-buru, tidak perlu mandi kepagian, masih mengenakan pakaian rumah yang belel, minum teh hangat di balkon dan membaca. Aku selalu ingin bisa menikmatinya dengan lambat-lambat di tengah orang terdekat dan kusayangi. Mendengarkan cerita keseharian mereka selama seminggu, makan siang bersama, dan bertukar cerita tentang rencana dan mimpi mereka.

Terkadang kita selalu lupa akan hal-hal remeh temeh yang kita punya karena dianggap sudah terlalu biasa, sehari-hari dan mudah didapatkan. Tanpa kita tahu bahwa hal-hal yang kecil-kecil itulah yang menyusun kehidupan kita. Ternyata memiliki percakapan itu adalah hal yang mahal untuk dimiliki seseorang. Setiap orang bisa memiliki percakapan, namun tidak esensinya. Pengalaman yang berbeda, menciptakan keharuan bahwa langkah yang baik adalah dengan jujur dan mengkomunikasikan dengan baik. Apapun itu. Itikad menginginkan semuanya gamblang, jernih dan dibutuhkan kerendahan hati untuk menurunkan ego.

Dari percakapan yang tepat kamu akan menemukan perasaan lega luar biasa. Ada proses sembuh yang dilalui dan kesadaran pun muncul: bahwa perjalanan masih panjang. Kesigapan tetap diperlukan; dengan sudut pandang berbeda. Semua mengalir tak pernah sama. Lalu aku jadi tersadar bahwa aku pun akan terus berbeda dari aku yang kemarin. Aku berubah dan bertumbuh. Keabadian menjadi konsep dan bukan milik kita. Jalan yang ditempuh panjang, berliku, dan tentu tak mudah. Namun, lihatlah jalan ini dan pepohonan di sisi-sisinya tetap hidup, tumbuh, rindang, dan hijau. Kira-kira siapakah yang setia melindungi dan memelihara?








new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...