6.12.15

Dalam kopi hitammu terdapat semesta


'Saya mau banting setir jadi seniman,' ujar saya kepadamu dengan menatap bola matamu yang kehitaman.
'Kenapa?' tanyamu dengan alis mata terangkat.
'Just because.'  kata saya dengan mengedikan bahu memandang ke arah lain.
'Seniman yang seperti apa?' kamu bertanya lagi.
'Yang bekerja dengan hati dan bisa menggerakkan. Bukankah menjadi penggerak itu sebenarnya lebih berbahaya. Saya mau jadi berbahaya, kamu tahu saya tidak suka di garis aman kan?'
'Hmm... ya saya tahu kamu sekeras kepala itu. Tidakkah kamu sadar kalau pikiranmu rumit sekali?' tanyamu sambil tertawa.
'Saya tahu. Tapi saya tidak bisa membayangkan saja jikalau misalnya umur saya ternyata pendek lalu saya belum selesai dengan diri saya sendiri. Saya khawatir jika saatnya tiba lalu saya belum ngapa-ngapain.' Kata saya sambil tertawa perlahan.
'Ada waktunya, kamu tenang saja.' Ujarmu bijak dan menyeruput kopi hitammu. Saya pun memandangnya dan meminum kopi saya perlahan. Entah mengapa saya menyukai keheningan di pembicaraan, terkadang itu diperlukan untuk menjadi nyaman dalam keheningan dengan seseorang yang membuatmu nyaman. 

Kau pun berkata lagi untuk yang kesekian kalinya 'Terkadang saya kesulitan mencari jalan ke pemikiranmu. Sepertinya kita berbeda dalam segala. Saya bukan otak kanan sepertimu, karena semua hidup saya terinci, terjabar dengan detail, semua terpampang fakta dan angka. Saya terbiasa dengan hal itu. Lalu saya bertemu denganmu, yang liar bebas, dengan segala pemikiranmu yang tidak bisa saya tebak. Seolah saya ini monokrom, hanya bisa membaca hitam putih sedangkan kamu bisa melihat segala warna dan terkadang saya tersendat-sendat mengartikan semua bahasamu. Namun, ternyata hal yang tidak bisa ditebak itu yang saya suka. Dan setiap diri kita memiliki misteri dan sekarang sedang kita kupas bersama.' katamu perlahan.
'Ya, terkadang saya bingung bagaimana cara saya membagikan cara pandang saya, karena semua meledak seperti kembang api di kepala saya. Lalu akan muncul ledakan-ledakan lainnya. Tapi saya setuju, kita berbeda dalam segala. Namun terima kasih karena kamu bisa mengerti dunia saya, jikalau saya punya kuncinya sudah pasti saya akan berbagi denganmu.' kataku sambil terkekeh. 
'Tapi menurut saya jikalau kamu mau menjadi seniman atau badut ancol sekali pun, seharusnya kamu tidak perlu ragu-ragu. Kamu selalu akan memiliki kawananmu sendiri dan frekuensimu sendiri, dan banyak yang demikian. Lebih baik kamu mulai dari sekarang kan? Pasti jalanmu panjang, namun hey... Yesus saja berkarya diumurnya yang ke 30. Dan kamu sekarang 24 tahun. Ya... masih ada waktu enam tahun.' katamu seraya mengelus rambutku. Saya tercenung sendiri.

'Iya... ya bahkan Karl May saja harus masuk penjara dulu untuk menghasilkan buku Winnetou karyanya yang legendaris. Lalu Mahatma Gandhi harus ke Inggris dan Afrika Selatan dulu baru akhirnya mengerti bahwa perjuangan kasihnya di India. Ada pula Paulo Coelho yang harus dikira gila dan masuk rumah sakit jiwa terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menulis karyanya yang fantastis. Lainnya, ada pula Aung San Suu Kyi yang harus rela menjadi tahanan rumah di negaranya sendiri, dipenjara di bawah tirani dan tetap menyala-nyala dengan idealismenya. Hingga akhirnya sekarang dia bisa bebas. Betapa semua ada masanya.'
'Ya... saya setuju. Semua ada masanya. Saya ada masanya, kamu pun ada masanya dan kita juga pasti ada masanya. Tidak perlu takut untuk mempunyai nyala api sendiri. Meski kecil namun dia menerangkan mungkin itu yang menyelamatkan. Saya tahu kamu tidak pernah bermain-main dengan hidupmu sendiri.' katamu lagi sambil memandang jauh.

'Ah saya lupa... kemarin saya lihat-lihat tattoo, kemudian rasanya pasti sakit-sakit nagih gitu. Kalau saya sudah tidak kerja kantoran saya pasti mau buat satu di pinggang.'
'Aduh... terserah kamu deh. Tapi tattoo sakit loh, tapi kenapa kamu tattoo di tempat yang tersembunyi. Buat apa? Sekalian saja di jidat gitu biar semua orang lihat kamu bertato.' ujarmu dengan mimik lucu. 
'Hahaha... ya juga sih. Tapi kalo di jidat nanti saya kayak Avatar the air bender dong haha...' 

***

Kita ini bukan aliran serupa. Kita meluncur dan melekuk sesuai ceruk-ceruk dinding sungai. Sesuai deras dan kembali lagi ke samudera lalu menguap membentuk lautan awan. Lalu turun menjadi hujan dan melakukan siklus monoton itu lagi berulang-ulang. Pembicaraan yang tumpah ruah melebur di cangkir kopi hitam kita. Kafein yang tidak pernah membuat kita terjaga semalaman, namun mengantuk pada detik berikutnya. Hingga saya tahu kita memiliki kesamaan yakni kita sama-sama pemberontak yang menyukai bahaya. Kamu selalu menjawab segala hal yang membuat kita berdesir dan jantung kita memompa aliran darah yang lebih cepat. Mungkin saya adalah bahaya dan kamu adalah sabuk pengaman saya. Mungkin demikian. Atau memang semesta saya ada padamu yang luas. Luas sekali. Hingga saya tidak pernah bosan-bosan menyelam ke dalam. Ya, pasti demikian.




BSD, 6 Desember 2015
menulis fiksi di tepi jendela kamar


2.12.15

Dengan tanda-tanda yang menyertainya

Akan ada malam-malam ketika saya menyetel radio kamar kelewat keras karena tidak ingin merasa sendirian dengan isi kepala yang tidak bisa sunyi. Lalu saya pun menikmati situasi ramai yang fana. Dan sungguh menyukai bunyi-bunyi tuts keyboard laptop saya yang berbunyi tik-tik-tik itu. Rambut basah dan harum shampoo, wewangian buah yang manis lalu saya tak henti-henti berkata pada diri sendiri "Ah senangnya, rambut saya wangi." 

Hal yang saya sukai di malam hari adalah berdiam diri dan membaca. Namun kali ini sedang tidak mood untuk membaca, padahal saya baru beli buku baru kemarin dan masih ada setumpuk buku di sudut meja menunggu untuk dibaca. Oh ini namanya perbuatan sia-sia. Semoga bisa dibaca selesai sebelum ganti tahun. 

Hari ini pasti saya sedang demam karena saya tiba-tiba tergerak untuk membaca Alkitab. Astaganaga, iya saya bukan Katolik militan yang lurus karena saya ini belok-belok dan gemar bertanya. Bukankah keimanan seseorang juga berasal dari pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan dia dalam pencarian? Mungkin saya adalah tipe yang harus bertanya terlebih dahulu untuk sampai pada sebuah iman. Dan menurut saya kita harus kritis dan tidak menjadi fanatis dan merasa benar sendiri. Toh agama adalah sarana untuk merasakan cinta Tuhan lalu membagikannya pada sesama kan? Iya kan?

Bacaan hari ini menarik karena ada satu perikop yang menarik begini bunyinya "... Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."  Saya menyukai perikop Markus 16:20 ini.

Tuhan turut bekerja. Saya kadang abai akan hal ini hingga saya merasa bahwa saya bekerja sendiri dengan kekuatan dan pemahaman saya sendiri tanpa menyadari bahwa Tuhan juga ikut andil dalam hidup saya. Seharusnya sih, saya bekerja melakukan dengan baik dan sungguh-sungguh bagian saya dan menyerahkan bagian Nya untuk Dia urus. Namun ya... namanya juga manusia, seringnya sih lupa lalu takut dan khawatir. 

Menurut saya perikop ini manis, karena seolah Tuhan sedang berbicara selayaknya ayah pada anak perempuannya yang bandel, keras kepala dan banyak tanya ini. Ayah yang pasti bisa diandalkan dan melindungi anak perempuannya. Ayah saya saja demikian bagaimana dengan Dia, Bapa yang ada di sorga? Lalu penyertaan Nya akan kita jumpai dalam setiap pertanda. Mungkin apa yang dihadapi pasti berliku dan berat, tapi Dia adalah setia. Bahwa saya percaya kalau segelap apa pun lorong di depan saya. Dia akan selalu menggandeng tangan saya dengan tanda-tanda yang menyertainya.




1.12.15

Satu Desember dalam pelukan


Sudah memasuki bulan Desember yang menandakan sebentar lagi 2015 akan tutup tahun, lalu menandakan bahwa wangi-wangi Natal akan muncul disudut rumah. Dan yang terakhir umur saya akan berubah jadi seperempat abad di akhir tahun ini. Jengjengjeng! Nyaris menjadi 25 tahun sebenarnya tidak membuat saya merasa dewasa atau merasa tua. Entah mengapa saya merasa bersyukur pada akhirnya saya menginjak umur 25 tahun. Umur-umur legenda ketika perempuan sudah bukan lagi anak-anak namun juga belum matang sepenuhnya. 

Sepuluh tahun silam saya membayangkan ketika saya berumur 25 tahun maka saya akan menikah dan sudah "mapan" dengan apapun di dunia ini. Entah pasangan, cinta, rumah dan pekerjaan. Namun saudara-saudara ternyata rasanya saya baru seperempat jalan dari hidup saya ini (barangkali?). Rasanya ini belum apa-apa masih geli-geli gitu. Namun saya cukup bersyukur dengan apapun yang sudah terjadi dan sudah bisa saya lewati dengan baik. Hingga saya jadi mengingat betapa untuk sampai ke hari ini saya harus melewati berbagai macam peristiwa, berbagai orang dan berbagai cinta.

Banyak pengalaman yang membentukmu sampai hari ini dan mungkin itu yang membuatmu menjadi manusia. Mari rayakan! Bahwa memang menjadi dewasa butuh proses dan saya mau kok menjadi dewasa. Bukan dewasa yang karbitan tentunya. Lalu belajar untuk melangkah lebih jauh dan menyelam lebih dalam. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kehendak bebas. Kita bebas untuk menjadi apapun sesuai dengan talenta yang telah diberikan Tuhan dengan semua panggilan-panggilan kita. Dan di umur yang ke-25 ini saya berjanji untuk mau menemukan dan mengikuti panggilan itu. Tidak akan mudah pasti namun, menjawab dengan berkata "Ya, Tuhan saya sanggup", saya percaya Tuhan pasti akan melindungi dan memberkati.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah direncakan. Hingga dengan siapa pun kamu jatuh cinta kelak sekalipun. Bukan sekedar seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis lalu mereka bercinta, namun ada aliran-aliran magis yang harus diikuti dengan hati. Dan sudah seharusnya cinta diciptakan bukan umtuk memisahkan dan mencerai berai, cinta ada untuk menyatukan perbedaan, karena semata-mata ingin bersama dan mengetatkan peluk.





8.11.15

Ya Gak Sih?

Sebenarnya lucu juga ya kalau dipikir-pikir kenapa juga saya ini uring-uringan begini begitu padahal seharusnya tidak perlu sedemikian ribetnya. Saya ini tipe yang sangat mudah terpengaruh. Dengar berita ini sedikit lalu reaktif. Mungkin kalau saya ini kompor minyak, sayalah tipe kompor yang sumbu kompornya pendek. Jadi harus cepat-cepat diganti agar tidak meledak. Aih dahsyat.

Selain tipe bosanan saya juga tidak mengerti keinginan saya sendiri. Sudah begitu perfeksionis. Coba kurang apa lagi saya menelanjangi diri di blog ini. Sebenarnya saya juga bingung kenapa ya pemikiran saya itu ribet rumit panjang dan tak selesai-selesai, Heran saya juga. Tapi kalau pemikiran saya tidak ribet, sudah pasti saya tidak akan menulis blog untuk mengurai pikiran saya kan? Ha!

Saya pernah membaca kalau sebenarnya manusia itu jago sekali merumitkan segala hal. Hal yang kecil menjadi besar dan yang besar dibesar-besarkan. Lalu yang menarik juga adalah manusia suka terbawa perasaan. Apa mungkin saya saja ya yang terlalu perasa. Jikalau saya tidak begini maka apa kata dunia? Atau kalau saya tidak mempunyai pikiran seperti mereka, jadi saya tidak bisa melebur dengan mereka dan menjadi teman mereka dan seterusnya.

Seharusnya saya tidak demikian kan? Karena pada akhirnya saya akan capek sendiri karena tidak mengikuti hati saya sendiri dan berjalan ke arah yang lain. Karena semata-mata saya care dengan pikiran orang lain. 

Coba jikalau saya lebih cuek dengan apa kata orang, apa pikiran orang, mungkin saya bisa lebih damai. Ya tidak sih? 

Coba kalau saya ini sedikit lebih ambisius dan tidak mendengarkan apa kata orang lain apakah saya saat ini akan sampai di suatu hal yang saya inginkan? Ya ampun mulai lagi deh. Begitu lucunya manusia sampai terkadang saya geleng-geleng pada diri saya sendiri. Keinginan saya dan pemikiran saya ini kontradiktif ada kalanya saya merasa tidak demikian lalu pada menit berikutnya saya berubah pikiran tentang hal tersebut. Astaga rasanya saya ingin jedotin kepala saya saja ke tembok. Sungguh saya tidak mengerti apa yang saya mau dan inginkan. Normal gak ya

Ternyata menyederhanakan pikiran itu sama sekali tidak sederhana. 

Suaka


metta's awkward drawing 

Bangun pagi dan menyadari kalau kamu merasa 'penuh' adalah sebuah berkat. Kamu melakukan aktivitas berjam-jam namun kamu tidak capek sama sekali, sebaliknya kamu merasa senang. Benar sekali seperti yang tertulis di Alkitab hati yang gembira adalah obat, semangat yang patah membusukan tulang. Begitu kira-kira bunyinya. 

Mengerjakan apa yang jiwamu sukai adalah kekayaan selain kebahagian tidur lelap, makan kenyang dan boker lancar. Setelah kebutuhan primitif itu terpenuhi lalu dilanjutkan pula dengan kepuasan hati karena bisa memenuhi apa yang kamu sukai, hal yang membuat hatimu bergetar dan bergairah akan sesuatu. Itu rasa yang sangat mahal harganya.

Saya akhir-akhir ini semakin tersadar bahwa menjalani hobi ternyata memang membantu kamu menjadi balance. Lalu dengan ini saya ingin menyampaikan pesan padamu: LUANGKAN! Luangkan waktu untukmu melakukan apa yang kamu sukai dan lakukan dengan serius. Percayalah energi postitif yang dihasilkan sangatlah besar. Dan percayalah hatimu mengetahui ketika energi asal menyatu dengan alam semesta dan menghasilkan frekuensi yang harmoni dan selaras.

Saya ingin berkata padamu untuk melakukan apa yang membuatmu rela berkeringat panas-panasan, jauh-jauh berjalan atau duduk berjam-jam sibuk dengan dirimu sendiri. Saat itulah kamu sedang menyambungkan aliran energi semesta dengan dirimu sendiri, jangan sampai putus dan lakukan sesering mungkin. 

Saya menyebutnya sebagai suaka. Suaka saya adalah melakukan pekerjaan kreatif dan seni. Itu adalah semacam rahim yang nyaman dan hangat untuk saya, seolah saya kembali ke asal dan menguap menjadi partikel di udara. Itulah saat di mana saya merasa sadar, penuh dan utuh. 

Saya rasa, setiap manusia harus menemukan suakanya sendiri. Agar tetap waras dan agar sedikit lepas untuk pada akhirnya menyatu lagi. Bahwa melebur dalam aliran daramu sendiri dan masuk ke otakmu sendiri tanpa intrupsi adalah kebebasan. Bahwa kamu itu bebas dan merdeka. Tidak ada yang bisa mengambil itu semua darimu. Ingat itu.

Dan hidup itu harus bisa menggerakan. Membuat dampak baik untuk orang lain, tidak harus melulu besar, kecil namun menyala-nyala itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, kan?



Luangkan! Ayoooo produktif saudara-saudara! Selagi bisa, selagi sempat. 




4.11.15

Harus seimbang!






Menyambung tulisan saya yang terakhir tentang pencarian frekuensi, jawabannya adalah: saya belum menemukan frekuensi yang cocok. Bukan berarti saya tidak mencari, saya mencari,tapi tidak menemukan apa yang saya cari, namun menemukan sesuatu yang lain. Pernah tidak mengalami hal yang serupa?

Justru sering kali saya merasa ketika saya mencari sesuatu, eh saya malah mendapatkan hal lain. Bulan kemarin saya pusing tujuh keliling karena saya berasa tersesat di tengah hutan belantara, di tengah pekerjaan, di tengah keseharian. Padahal sebenarnya saya bukan tersesat hanya saja saya tiba-tiba terbuka matanya. Itu euforia saya terbuka matanya. Saya terbuka matanya bahwa ternyata selama ini saya terlalu serius dengan jalan di depan saya, hingga saya lupa tengok kanan kiri, dan begitu saya merasa bosan dengan jalan di depan saya dan menengok kanan kiri, lalu saya jadi jengah.

Saya menemukan sesuatu yang penting untuk saya pribadi, yakni sebenarnya saya bisa melakukan keduanya. Baik serius melangkah dengan keseharian saya ataupun lihat-lihat pemandangan dengan hobi dan kesukaan saya. Jadi intinya adalah jangan serius- serius lah, Metta, lemesin dikit aja gitu. Cari balance nya. Men... jawabannya adalah mencari keseimbangan. 

Bukan berarti mencari frekuensi yang sama itu tidak baik, namun sudah seharusnya nggak sih kalau saya belajar membaur dengan frekuensi yang lain. Tidak usah selalu harus sama frekuensi kan? Ada kalanya berbeda frekuensi menjadi sebuah keunikan tersendiri. Berkreatifitas sendiri jadi lone ranger. Jadi solo traveler yang bisa dinikmati sendirian. Mungkin sesuatu yang indah tidak harus melulu dinikmati beramai-ramai kan? 

Lalu akhir-akhir ini saya menemukan website kumpulan opini satir, artikel cerdas astagaaaanagaaaaa bahagianya saya bisa menemukan dunia lain ini. Gila saya selalu terkagum-kagum dengan orang kritis dan pintar. Heran mereka makan apa sih ya? 

Astaga, melihat mereka yang kritis dan pintar di sana sini saya jadi berasa dungu sekali. Dan merasa kuraaaaang sekali dengan apa yang saya tahu. Duh, harus banget ini catch up dan mulai belajar dan baca ini itu. 

Hingga misalnya suatu saat ada orang iseng yang tanya tentang arti teori kelas milik Karl Marx saya bisa jawab gitu. 


3.11.15

Keyakinan

Jika bukan karena disuruh-suruh oleh Ibu saya untuk ikut Legio Maria, saya tidak akan tiba-tiba di suatu Sabtu sore yang hujan akan hadir di rapat Legio Maria. Kuping saya sudah terlalu panas setiap minggunya disuruh ikut ini disuruh ikut itu. Padahal hari Sabtu adalah hari di mana kebebasan bisa digapai. Akhirnya saya memutuskan untuk hadir saja dulu dan memperhatikan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menjadi anggota. 

Tidak ada suatu pengalaman khusus saat memilih komunitas ini, hanya sebuah pemikiran di sebuah ruang rapat ukuran kamar kecil dengan AC yang dingin, hujan yang menguyur, kebersamaan yang dirasakan dan doa-doa yang didaraskan. Saya menyanggupi untuk mengatakan: Ya, saya bersedia. Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia; seperti penderitaan, perasaan, kebutuhan manusia untuk berdoa, kesedihan dan kebahagiaan. Kadang banyak hal yang diluar dari otak manusia, seperti hal-hal itu bukan bagian dari manusia. Lalu bagaimana cara menjelaskannya? Bagaimana pendekatannya? Bagaimana agar bisa lebih mengerti hingga bisa diterima?

Hubungan seseorang dengan Tuhan-nya pasti berbeda-beda dengan berbagai pendekatan. Adalah suatu keintiman sendiri yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Seperti berjalan berdua ke sebuah danau yang tenang dan berenang bersama, menyelam lebih dalam. Seperti bergandengan tangan dan mengetatkan peluk. Seperti berpetualang berdua ke negeri asing namun saling percaya. Memiliki rasa percaya bahwa segelap apapun lorong yang dijalani pasti akan menemukan ujung lorong yang terang. Keyakinan-keyakinan yang tidak bisa dijelaskan, namun benderang layaknya mercu suar. 

Bukankah bingung ketika kita harus menjelaskan iman? Karena semakin dijelaskan dengan rumit dan ruwet, semakin tersesat. Semakin berusaha mengurai, semakin kusut benangnya. Ternyata mencintai itu tidak selamanya dengan alasan, sekaligus memerlukan alasan. 






new post

Di Bulan Maret

 Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...