Dari Taiwan dengan penuh cinta,
Untuk perempuan hebat berumur 48 tahun
Ibu
Terima kasih sudah mengajarkan aku akan arti 'motherhood'
Terima kasih sudah melahirkan aku, Aga, Abhi
Terima kasih karena sudah menjadi ibu terbaik untuk ketiga anak nakalnya :p
Terima kasih untuk semua kerja keras untuk keluarga
Terima kasih beribu terima kasih
Semoga panjang umur
Semoga semakin dewasa dalam iman dan pemikiran
Semoga semakin bijaksana
Semoga cita-cita kebun zaitun sukses!!
Semoga cita-cita menulis buku dan diterbitkan bisa terwujud.
Semoga aku, Aga, Abhi bisa menjadi anak kebanggaan #eaaaaah ;p
SELAMAT ULANG TAHUN IBUUUU!!! AKU CINTA IBU BANGEEEEEEEEETTTT!!!
11.2.12
17.1.12
Pesta Demokrasi di Taiwan
![]() |
Selamat datang liburan winter :)) Semester 5 sudah lewat dengan berbagai kesan dan pelajaran baru. Jatuh bangun sudah biasa dan tak perlu dikatakan lagi. Sudah menjadi bagian dalam hidup. Di liburan winter ini adalah waktu untuk 'memberuangkan diri sendiri' hibernasi hingga siang dan melakukan kegiatan menyenangkan yang tidak bisa dilakukan saat hari-hari produktif sekolah.
Pagi ini aku bangun siang lalu mulai melanjutkan kegiatan 'aktif' dengan laptop. Lagu untuk pagi mendung ini adalah Frank Sinatra- I've got you under my skin. Di kota tempat tinggalku di Taiwan, Kaohsiung, musim winter tidak terlalu dingin hanya sekitar 22 derajat-13 derajat itupun kalau malam. Masih bisa pakai tank top dan celana pendek dengan lutut kedinginan.
Mungkin kalian juga tahu selentingan berita pemilihan presiden di Taiwan. Jadi di Taiwan itu mengadakan pemilihan presiden setiap 4 tahun sekali. Kali ini kandidatnya adalah presiden lama, Ma Ying Jiu, (馬英九) berasal dari Partai Kuomintang atau Chinese Nasionalist Party (biru) , Tsai Ying Wen ( 蔡英文) berasal dari Democratic Progressive Party (hijau) dan terakhir adalah James Soong Chu Yu berasal dari partai biru juga. Dari ketiga kandidat ini keluarlah Ma Ying Jiu (presiden lama) dan Tsai Ying Wen yang menjadi jagoan.
Ma Ying Jiu yang berasal dari partai biru, beliau menggunakan kebijakan bersahabat 'jalinan kasih' dengan China dan menggunkan jalur rundingan untuk bidang ekonomi, perdagangan dan bisnis dengan China. Sedangkan Tsai Ying Wen, apabila beliau naik jadi presiden makan beliau adalah presiden perempuan pertama di Taiwan. Bisa dibilang beliau mempunyai pandangan yang berbeda dengan Ma Ying Jiu. Tsai Ying Wen membuka prespektif baru mengenai hubungan Taiwan dan China. Beliau melihat bahwa Taiwan harus mandiri dari berbagai segi dengan China sehingga Taiwan bisa lepas dari China dan mendapatkan kedaulatan negaranya sendiri tidak hanya menjadi parasit dari China.
Bisa dibayangkan kalau ini merupakan pemilihan presiden yang benar-benar menentukan sebuah nasib bangsa. Dilihat dar visi misi mereka saja sudah berbeda bahkan bertolak belakang. Benar-benar masa depan Taiwan dipertaruhkan dengan pemilihan presiden ini.
Rakyat jelata
Teman Taiwan saya adalah pendukung Tsai Ying Wen karena menurutnya Ma Ying Jiu terlalu memanjakan China dengan birokrasi bersahabat yang berbelit-belit dan sering kali menyudutkan Taiwan. Bahkan menurutnya Taiwan sudah bagaikan dijajah China karena begitu banyak warga China yang datang ke Taiwan untuk bekerja dan sekolah.
Dia merasa tidak puas dengan kebijakan Presiden Ma di tahun-tahun belakangan ini karena menjalin hubungan kerja sama baik ekonomi, politik dan pendidikan dengan China. Banyak sekali pelajar dari China yang datang ke Taiwan untuk belajar, menurut Presiden Ma ini dilakukan mengingat pelajar China terkenal dengan sikap rajin dan pintar dalam pelajaran, jadi Presiden Ma berharap agar pelajar Taiwan bisa bersaing ketat dengan Pelajar China sehingga dalam bidang pendidikan pun mendapatkan stimulasi yang menguntungkan untuk Taiwan.
Terdapat perbedaan yang signfikan di masyarakat Taiwan saat mereka memilih presiden untuk negara mereka. Mereka begitu bersemangat untuk memilih presiden. Itulah satu kesan yang bisa kubaca. Sampai-sampai menjadi sebuah pembicaraan hot di kelas siapa menjagokan siapa. Kebetulan di kotaku, Kaohsiung, mereka memilih Tsai Ying Wen, kebetulan pendukung Tsai Ying Wen berada di bagian selatan dan pendukung Ma Ying Jiu berada di daerah utara. Sempat terdengar kabar burung bahwa saat-saat pemilihan ini akan menjadi hari-hari yang agak menakutkan di Taiwan.
Pandangan Anak Imigran
Sebagai anak imigran di Taiwan, aku cukup terkejut dengan fakta pemilihan presiden di Taiwan ini. Aku merasa terdapat perbedaan yang cukup jelas terpampang pemilihan presiden di Taiwan dan di Indonesia. Di Indonesia jujur aku tidaklah terlalu antusias untuk memilih presiden. Memilih yaaa...memang karena sudah dapat kartu coblos, kalau tidak dapat ya sudah ya tidak ada ruginya juga. Sedangkan di sini 200.000 orang Taiwan yang berada di luar negeri bela-belain pulang ke Taiwan, ke kampung halaman mereka untuk memilih presiden mereka. Dan aku mendengar kabar ini di berita hanya bisa 'nganga sampe bego'. Ada lagi berita di teve, ada seorang kakek berumur 80 tahun, berjalan menuju ke tempat pemilihan presiden dan karena badannya sudah tua renta, beliau tidak sengaja terjatuh dan terluka. Aduuuhh... please deh! Melihat berita seperti ini terkadang membuat aku tertampar pipi kiri dan kanan. Si kakek tua ini yang bisa dibilang sudah 'bau tanah' beliau masih peduli dengan kelangsungan negarnya, dengan masa depan negaranya! Gilaaaa bener hah!
Betapa mereka begitu antusias dengan pemilihan presiden ini. Mereka seolah benar-benar mempunyai harapan yang nyata pada masa depan negaranya. Mereka berharap presiden baru mereka bisa membawa Taiwan ke 4 tahun ke depan yang lebih baik lagi, mereka berpartisipasi secara nyata dengan tujuan mulia. Generasi tua dan muda bersama-sama terlibat aktif dalam pemilihan.
Aku terkadang jadi sedikit merasa malu dengan diriku sendiri yang sering merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Aku malu pada orang Taiwan, suatu bangsa yang meski kecil namun mereka berjuang dan peduli dengan kemajuan bangsanya. Aku malu karena aku muda dan belum bisa berbuat apa-apa untuk negaraku. Bahkan terkadang sempat aku merasa rendah diri karena aku adalah orang Indonesia, karena negaraku Indonesia, negara yang kaya raya namun dikelola oleh orang-orang yang salah. Terkadang aku malu, menjelaskan pada mereka bahwa di Indonesia korupsi bukanlah hal yang aneh di badan pemerintahan, bahwa rakyat Indonesia sudah tidak percaya pada pemerintahnya sendiri. Bahwa kita kehilangan harapan dan kepedulian pada Indonesia.
Cinta dan benci
Seperti kata sebuah pepatah: cinta dan cinta itu beda tipis. Mungkin itu yang bisa aku gambarkan rasaku untuk Indonesia. Aku cinta Indonesia. Sangat. Tapi di lain sisi aku juga benci. Benci dengan 'orang-orangnya' yang kadang menurutku sudah kehilangan pegangan moral dan berpikiran sempit. Meributkan hal-hal yang tidak penting, itu-itu saja. Haduh...ini malah sibuk meributkan pemugaran gedung yang sama sekali tidak rusak, bocor atau hampir rubuh. Pleaseee...deh bapak-bapak, ibu-ibu itu coba yah dilihat masih banyak orang yang tinggal di bawah kolong jembatan, rumah reyot di pinggir kereta. Itu coba dananya disalurkan ke pendidikan atau ke mana deh yang bisa menyejahterakan bangsa kita ini.
Aku iri dengan orang Taiwan yang bisa sebegitu optimis dengan kelanjutan bangsa dan mendukung pemerintahannya. Semua kandidat benar-benar meyakinkan dan dipercaya oleh rakyatnya. Apa lagi sih yang lebih berharga untuk seorang pemimpin selain dipercayai 100% oleh rakyatnya? Betapa kharisma dan karakter mereka 'menyedot' rakyat untuk terus mendukung mereka tanpa ragu. Aku juga ingin rasanya mempunyai pemimpin bangsa yang benar-benar bisa membawa kita, Indonesia ke stage yang lebih baik lagi.
Aku merasa Indonesia, si bangsa besar, harus belajar banyak dari Taiwan yang bahkan wilayah kekuasaannya pun tidak sebesar Pulau Jawa, mereka yang masih harus berjuang melepaskan diri dari China dan mendapatkan pengakuan atas eksistensinya di depan mata dunia. Keantusiasan kita pada negara kita dan tanggung jawab para 'orang-orang besar di atas' agar bisa membawa Indonesia ke masa yang stabil dan lebih baik lagi.
Celetuk teman Indonesiaku yang sepertinya sudah terlanjur pesimis dengan Indonesia: '' Mending gue tinggal di luar ajalah. Cari penghidupan yang lebih baik. Kalo gue balik ke Indo dengan niat membangun bangsa...haduh..mereka yang 'di atas' aja geje padahal ada wewenang, gimana gue yang rakyat jelata, mau membangun Indonesia seorang diri. Matik aja gue!''
Malam ini aku sedang berpikir, jangan-jangan memang aku saja yah yang 'anget-anget taik ayam' sok nasionalisme, cinta Indonesia, tanpa melakukan tindakan yang sekiranya lebih dinilai aktif. Malu aku pada diriku sendiri. Hey,..aku orang muda Indonesia yang siap sedia berdiri buat Indonesia. Tapi yang pasti malam ini aku kepanasan, ditengah udara dingin 19 derajat celcius di Taiwan.
Kalau kamu?
6.1.12
Perempuan dan Pendidikan
Membangun sebuah negara makmur dan berbudi baik haruslah dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah manifesto yang berkualitas tinggi dan sifatnya kekal. Tidak bisa dicuri dan hilang. Dengan adanya manusia yang berpendidikan maka mampulah sebuah bangsa menjadi bangsa yang beradab.
Sejak dini diharapkan manusia sudah dididik dengan nilai-nilai luhur. Pendidikan dini didapatkan anak dari keluarga, terutama ibu. Mengapa ibu? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mengambil peranan penting dalam pengasuhan anak sehingga seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Betapa menjadi seorang ibu harus mengemban sebuah misi yang mulia yakni masa depan dirinya dan anaknya dipertaruhkan. Hingga akhirnya kehidupan seorang ibu menjadi sesuatu yang mikro sekaligus makro. Mikro karena keseharian ‘hanya’ berkutat dengan anaknya dengan pekerjaan dan urusan yang itu-itu lagi dan makro karena ada sebuah tujuan mulia dibalik dari urusan kecil yang itu-itu saja yakni mendidik anaknya untuk menjadi manusia yang berbudi baik dan berakhlak.
Ketika sebuah dunia besar berada di pundak ibu, pentingnya sebuah peranan perempuan dalam mempersiapkan generasi baru bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas.
Diskriminasi pendidikan
Sejak dini diharapkan manusia sudah dididik dengan nilai-nilai luhur. Pendidikan dini didapatkan anak dari keluarga, terutama ibu. Mengapa ibu? Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ibu mengambil peranan penting dalam pengasuhan anak sehingga seorang anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik. Betapa menjadi seorang ibu harus mengemban sebuah misi yang mulia yakni masa depan dirinya dan anaknya dipertaruhkan. Hingga akhirnya kehidupan seorang ibu menjadi sesuatu yang mikro sekaligus makro. Mikro karena keseharian ‘hanya’ berkutat dengan anaknya dengan pekerjaan dan urusan yang itu-itu lagi dan makro karena ada sebuah tujuan mulia dibalik dari urusan kecil yang itu-itu saja yakni mendidik anaknya untuk menjadi manusia yang berbudi baik dan berakhlak.
Ketika sebuah dunia besar berada di pundak ibu, pentingnya sebuah peranan perempuan dalam mempersiapkan generasi baru bangsa Indonesia, sudah seharusnyalah perempuan mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas.
Diskriminasi pendidikan
Dahulu, melalui budaya patriarkal, perempuan menjadi sebuah objek hiburan dan sebuah ‘barang’ kepemilikan. Seperti misalnya dalam cerita Mahabaratha ketika Yudistira kalah besar-besaran bermain dadu dengan Duryodhana. Segala kerajaan, harta dan abdi sudah hilang termakan taruhan. Hingga akhirnya istrinya, Drupadi pun ikut dijadikan taruhan, padahal Drupadi adalah perempuan terhormat dan istri teladan yang lahir dari Dewa Api. Yudistira kalah bermain dadu dengan Para Kurawa dan menyerahkan Drupadi sebagai barang taruhan. Dari cerita singkat ini terasa betapa kerasnya pengaruh laki-laki atas hak-hak perempuan. Seolah perempuan tidak mempunyai hak atas hidup dan tubuhnya.
Namun seiring dengan berkembangnya zaman di kota-kota besar, perempuan mampu mempunyai kesempatan lebar untuk berkembang dan bereksplorasi. Dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang mulai berkarya mengaktualisasi dirinya. Ketika perempuan dapat mencecap pendidikan dengan mudah karena adanya fasilitas, kembali muncul masalah kursial lainnya dalam pendidikan yakni skala prioritas yang diterapkan untuk kaum marginal. Hingga akhirnya menurut nilai budaya patriarkal, prioritas pendidikan ini akan diberikan lagi untuk anak laki-laki di keluarga tersebut.
Betapa ternyata bagi perempuan pendidikan masih merupakan barang mewah dan langka, sesuatu yang ‘mahal’ untuk bisa dinikmati. Masih kuatnya anggapan bahwa perempuan harus beraktivitas sekitar dapur, bermain dengan panci, penggorengan dan sapu; menjadi sebuah alasan utama perempuan tidak diprioritaskan untuk mencecap pendidikan. Kecenderungan ini masih bisa kita lihat dalam masyarakat, ketika anak perempuan mereka sudah akil baliq akan cepat-cepat dijodohkan lalu menikah meskipun usia mereka masih belasan tahun. Padahal menurut ilmu kesehatan, pada umur belasan rahim perempuan belum cukup kuat untuk mengandung hingga akhirnya banyak sekali peningkatan angka keguguran dan kematian saat melahirkan. Di lain kondisi terdapat pula kasus perempuan yang ‘terpaksa’ dijadikan tulang punggung keluarga karena himpitan ekonomi dan biasanya pada kasus ini berkaitan erat dengan trafficking.
Fenomena pilu ternyata masih ada di zaman kini dan menjadi sesuatu yang ironis ketika banyak perempuan lain yang bisa mendapatkan fasilitas yang memadai plus pendidikan yang layak untuk masa depan. Namun, di lain sisi masih banyak perempuan yang tidak dapat mencecap pendidikan yang layak.
Namun seiring dengan berkembangnya zaman di kota-kota besar, perempuan mampu mempunyai kesempatan lebar untuk berkembang dan bereksplorasi. Dapat dilihat dari banyaknya perempuan yang mulai berkarya mengaktualisasi dirinya. Ketika perempuan dapat mencecap pendidikan dengan mudah karena adanya fasilitas, kembali muncul masalah kursial lainnya dalam pendidikan yakni skala prioritas yang diterapkan untuk kaum marginal. Hingga akhirnya menurut nilai budaya patriarkal, prioritas pendidikan ini akan diberikan lagi untuk anak laki-laki di keluarga tersebut.
Betapa ternyata bagi perempuan pendidikan masih merupakan barang mewah dan langka, sesuatu yang ‘mahal’ untuk bisa dinikmati. Masih kuatnya anggapan bahwa perempuan harus beraktivitas sekitar dapur, bermain dengan panci, penggorengan dan sapu; menjadi sebuah alasan utama perempuan tidak diprioritaskan untuk mencecap pendidikan. Kecenderungan ini masih bisa kita lihat dalam masyarakat, ketika anak perempuan mereka sudah akil baliq akan cepat-cepat dijodohkan lalu menikah meskipun usia mereka masih belasan tahun. Padahal menurut ilmu kesehatan, pada umur belasan rahim perempuan belum cukup kuat untuk mengandung hingga akhirnya banyak sekali peningkatan angka keguguran dan kematian saat melahirkan. Di lain kondisi terdapat pula kasus perempuan yang ‘terpaksa’ dijadikan tulang punggung keluarga karena himpitan ekonomi dan biasanya pada kasus ini berkaitan erat dengan trafficking.
Fenomena pilu ternyata masih ada di zaman kini dan menjadi sesuatu yang ironis ketika banyak perempuan lain yang bisa mendapatkan fasilitas yang memadai plus pendidikan yang layak untuk masa depan. Namun, di lain sisi masih banyak perempuan yang tidak dapat mencecap pendidikan yang layak.
Kartini masa kini
Sosok yang paling dikenal berkat festival kostum di setiap tahunnya baik di kalangan orang dewasa maupun anak-anak adalah Ibu Kartini. Kartini merupakan pejuang emansipasi wanita yang suaranya sangat kencang digaungkan hingga sekarang. Ide-ide beliau yang cemerlang untuk membebaskan belenggu kebodohan perempuan di masa itu dengan tujuan jangka panjang yaitu pembebasan perempuan dari ketidakadilan menjadi sesuatu titik tolak untuk perubahan kaum perempuan. Kartini mampu membuka sebuah pintu pemikiran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan.
Akan sangat disayangkan apabila di masa yang modern dan serba ada ini, masih saja ada banyak perempuan yang buta aksara dan minim pengetahuan. Padahal jelas-jelas pendidikan adalah milik semua. Catatan yang paling penting adalah pendidikan tidak hanya pendidikan formal di bangku sekolah saja, melainkan juga pendidikan informal yang tak kalah pentingnya. Alasannya karena dalam pendidikan informal ini diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang relevansinya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Konsep Kartini untuk mencerdaskan perempuan Indonesia merupakan langkah awal untuk mendidik generasi mendatang yang cerdas dan berbudi baik. Pendidikan merupakan hal dasar yang harus dimiliki oleh perempuan sebagai bekal menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anaknya, calon penerus bangsa. Oleh karena itu perempuan harus dibekali pendidikan sedini mungkin untuk melaksanakn perannya dalam keluarga dan masyarakat.
Tahun perempuan
Banyak orang berpendapat bahwa tahun-tahun belakang ini akan menjadi tahun perempuan. Perempuan mulai bangkit,meneriakan hak-haknya dan mulai berkarya. Hingga sudah seharusnya pemerintah membuat agenda utama sebuah pemberdayaan perempuan dengan berbagai penyuluhan dan pelatihan yang sifatnya menambah pengetahuan dan keterampilan.
Hal yang tidak boleh diabaikan adalah perempuan berhak atas tubuhnya dan kesehatannya. Perempuan berhak tahu segala sesuatu berkenaan dengan kesehatan tubuhnya. Pengetahuan dasar tentang kesehatan perempuan adalah mengenai organ reproduksinya. Hak perempuan untuk memeriksakan kesehatannya sendiri tanpa harus ada persetujuan wali atau suami.
Dengan perempuan yang berpendidikan, negri ini akan mempunyai perempuan yang cerdas dan sehat, hingga pasti akan melahirkan anak-anak yang cerdas dan sehat pula. Perempuan berpendidikan akan sadar betul pentingnya imunisasi, vitamin, dan makanan bergizi untuk anak dan keluarganya. Dengan begitu generasi mendatang kita bisa menjadi generasi unggulan untuk Indonesia yang lebih baik lagi.
Ada sebuah kutipan yang cukup menyentuh dari Queen Renia: “Ketika kamu mendidik perempuan, kamu mendidik keluarga, ketika kamu mendidik gadis kecil, kamu mendidik masa depan.” Sebagaimana kutipan tersebut akan pentingnya pendidikan untuk perempuan demi melahirkan calon-calon penerus bangsa Indonesia yang berbudi dan cerdas.
Peran masyarakat
Tidak hanya pemerintah yang mempunyai peran untuk memperhatikan nasib perempuan, masyarakat pun sama memiliki kewajiban untuk memperhatikan ini. Kita tak bisa hanya mengandalkan pemerintah, apa lagi ketika kita tahu seperti apa pemerintah Indonesia sekarang. Kalau kita hanya mengandalkan pemerintah, kita kuatir nasib perempuan dan masa depan bangsa ini akan semakin terpuruk. Oleh karena itu, perlu gerak cepat dari seluruh lapisan dan kalangan masyarakat untuk menyiasati keadaan ini.
Seperti kita ketahui Indonesia mempunyai begitu banyak organisasi dan golongan, mulai dari yang bersifat umum sampai yang sifatnya khusus. Karena Indonesia merupakan negara yang agamais, peran para alim-ulama merupakan hal yang diperlukan dalam masalah ini. Sangat diharapkan organisasi keagamaan memberikan pelayanan yang memadai untuk mengedepankan pendidikan kaum perempuan.
Kita tahu sekarang ini sudah ada beberapa organisasi yang memperhatikan nasib kaum perempuan. Namun, itu belumlah cukup untuk mengubah nasib kaum ibu di negri ini. Masih diperlukan sekian banyak tangan terlibat dan hati yang peduli untuk para perempuan ini.
Kita yakin kalau semua ikut peduli dan terlibat, maka kaum permepuan akan berubah. Tentunya bangsa ini pun akan terus maju dan bisa berkibar di alam semesta ini dengan penuh kebangaan dan harga diri karena nasib masa depan generasinya ada pada tangan yang tepat. Kita percaya bahwa kemenangan dan kejayaan akan menjadi milik kita bersama bila kaum hawa menjadi prioritas yang utama.
JAYALAH PEREMPUAN, JAYALAH IBU PERTIWIKU!!!
ps. Sebenarnya tulisan ini untuk lomba essai, namun belum 'nonjok' di hati para juri. Daripada basi lebih baik kutaruh di blog aja yah :) Silahkan bagi yang mau memberi kritik, saran dan masukan sangat diterima dengan tangan terbuka.
21.12.11
Bersemangat Ketika Menunggu
Hallo saudara-saudara sudah seabad rasanya aku tidak bersenda gurau lagi yah :) Maaf yah akhir-akhir ini sedang sibuk dengan rutinitas. Kabarku masih baik-baik saja, tapi yaa gitu...banyak tugas, banyak ulangan, banyak presentasi. Dan tau apa yang lebih hardcore? Di kampusku tidak ada libur natal dan tahun baru. YES TOS! *sarkasme* Tapi meskipun begitu, yaaaaa... kuterima dengan lapang dada selapang-lapangnya :D
Aduh rasanya aku udah nggak bisa menahan gejolak NATAL! Rasanya natal itu dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat, nggak ngerti deh. Rasanya minggu ini berjalan lebih lambat dari biasanya, aku sudah terlalu menggebu-gebu untuk mendapatkan sebuah natal di tahun ini. Aku sudah bersemangat dengan lagu-lagu natal dari gembira hingga yang mendayu-dayu bagai orang melayu. Cepatlah natal datang, please please please...
Siapa selain aku yang sudah tidak sabar pada sesuatu hal yang akan terjadi di kehidupannya? Menunggu bukanlah perkerjaan yang mudah mamen! Kita menyediakan hampir setengah dari otak kita untuk menanti-nanti dan menjadi alarm pribadi, mengingatkan dan menghitung waktu jadi. Sungguh lelah menunggu. Hati kita tak enak dan terlau bersemangat. Hati yang terlalu bersemangat kadang bisa mematikan.
Menunggu ketika sesuatu datang, ketika kita benar-benar membutuhkannya adalah sesuatu yang menyiksa. Aku jadi teringat akan cerita Bunda Maria dan Santo Yoseph saat perjalanan mereka ke Betlehem. Maria sedang hamil tua dan transportasi yang ada hanyalah keledai, jalanan pun pasti agak terjal dan berbatu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya penantian Bunda Maria. Belum lagi mencari tempat penginapan untuk melahirkan. Bagaimana coba? Sudah hamil besar, perut bergejolak mau melahirkan dan masih juga merasakan penolaka-penolakan dari pemilik penginapan. Lu sih gila! Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Bagaimana Bunda Maria dan Santo Yoseph sangat sabar dan tabah dalam menjalani fase-fase berat dalam kehidupan mereka.
Ketika kita dalam keadaan 'tergantung' dalam keadaan yang tidak ini dan tidak juga itu. Ke mana lagi kita harus melangkah? Kita dalam keadaan menunggu dan terjepit pada sebuah situasi yang tidak pasti. Doa-doa yang mungkin saja belum terjawab, masalah yang belum ditemukan ujung pangkal solusinya atau mungkin masa depan yang terlihat abu-abu di mata kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Seperti sebuah quote lama yang mungkin pernah kita dengar, " Don't rush things, just hang in there." Menurutku quote itu sangat cocok untuk kita :) Jangan terburu-buru, diam, bertahanlah di sana. Menunggu dengan sabar dan tabah.
Bersemangatlah ketika menunggu. Menunggu dengan penuh semangat. Aneh yah kedengarannya? Terkadang dengan menunggu kita bisa belajar untuk membuat sesuatu yang kita tunggu itu menjadi 'berharga'. Waktu menunggu bisa kita gunakan untuk menambah diri dan memupuk diri. Mempersiapkan diri hingga kita layak untuk mendapatkan apa yang kita tunggu.
Semoga kita semua bisa bersemangat ketika menunggu :)) Natal dalam hitungan jari, mari kita menyiapkan hati dan pikiran kita.
![]() |
| Ibenk and me Merry X'mas and happy new year <3 |
27.11.11
Si Bajaj: Ngeles dan Ngebul
![]() |
| Pic: google |
Bajaj, identik dengan dua kata yakni ngeles dan ngebul. Ngeles karena keahlian sopir bajaj salip kanan kiri dan ngebul karena terlalu banyak gas hitam yang mengepul dari knalpot. Orang Jakarta mana coba yang belum pernah naik bajaj? Kasian deh lo! Aku aja yang tinggal di BSD pernah naik bajaj hehe. Menurutku naik bajaj itu enak karena bergetar dan membahagiakan. Kalau bicara dalam bajaj harus super kuencengggg to the max supaya bisa mengalahkan suara dahsyat si bajaj ini. Namun lain halnya kalau kita bukan sebagai penumpang bajaj pasti kita sibuk menutup hidung dan mulut karena asap hitam yang tidak toleransi pada paru-paru sekitar. Sebel kan?!
Dalam sebuah penbicaraan lama dengan seseorang, kami mengambil sebuah perumpamaan asal-asalan bahwa ada beberapa tipe manusia yang bisa kita sebut dengan si Bajaj. Dari karakteristik yang aku sebutkan di atas bisalah yah kira-kara mengerti apa yang aku maksudkan.
Entah kita bertemu spesies Si Bajaj ini di sekolah, rumah, kantor, kuliah, atau mungkin sebenarnya kita sendiri adalah Si Bajaj itu. Si Bajaj ini tidak bisa disalahkan kalo memang sudah dari sananya bebal dan toak. Sudah dari sananya tidak punya filter asap knalpot sehingga yang keluar malah sesuatu yang membahayakan kehidupan sekitarnya dan membuat polusi. Ohhh...Si Bajaj juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya toh dari sananya sudah begitu 'keluarannya'. Semua orang harus tahu diri dan memahami bahwa Si Bajaj ini memang hobi salip sana salip sini, berkelit dan ngeles sana sini. Jadi pilihan kita ada dua yakni entah menghindar jangan dekat-dekat Si Bajaj ataukah kita menjadi penumpang Si Bajaj jadi setidaknya bisa ikut gembira bergetar dengan alunan melodi tretetetetet.
Si Bajaj ini bukan makhluk langka atau unlimited edition seperti Mercedes Benz. Ah lain kualitasnya! Tidak usah dibicarakan lah Si Benz ini.
Bagaimana coba caranya agar kita bisa menjauh dari Si Bajaj ini? Mungkin pada akhirnya kita yang waras ngalah dan senyum-senyum saja dari jauh. Terkadang memang kita tidak perlu berkata-kata dengan tipe yang semacam ini. Kalau kata Aga, anggap saja dia semacam bisul di pantat. Sakit sih tapi besok juga mateng dan meledak. Satu lagi. Setidaknya kita harus menarik usus kita lebih panjang lagi dan melebarkan pantat kita untuk tipe-tipe Si Bajaj ini. SABAR!
5.10.11
Hidup Setegas Kentut (part 3)
…Wah, anak Ibu sudah besar yah?...
Itulah yang paling sering dikatakan oleh ibuku. Apalagi saat aku sudah menginjak masa-masa SMP. Masa SMP merupakan masa yang cukup berat bagiku oleh karena aku anak guru SMP sehingga aku harus lebih mawas diri. Bukan berarti aku tidak bisa menikmati masa SMP tapi tetap aku harus behave, jaga diri. Jangan sampai aku melakukan tindakan aneh-aneh karena pasti akan mengguncang dunia. Sungguh terlalu. Menurutku bukanlah sesuatu yang mudah ketika bersekolah di tempat orang tua kita bekerja. Ketika sebuah nama harus dijaga baik dan banyak orang yang pastinya mempunyai perhatian lebih karena ‘anak guru’.
Hal yang paling berat adalah ketika orang lain tidak bisa melihat diri kita sebagai manusia biasa. Seorang anak perempuan remaja biasa yang sedang bertumbuh. Manusia yang bisa salah dan punya kelemahan. Sehingga terkadang perlu dipikirkan 1000 kali dalam melakukan sesuatu.
Kebetulan kelemahanku terletak pada ilmu pasti. Aku rasa otakku bak ingin meleleh dan belecetan ke mana-mana saat pelajaran matematika. Walaupun saat SMP nilaiku tidak jelek-jelek namun aku harus berusaha lebih keras di pelajaran logis-matematis ini. Untungnya dalam hal berbahasa aku cukup bisa menguasai, sehingga bebanku sebagai guru anak Bahasa Indonesia tidaklah terlalu berat. Nah, kalau aku tidak bisa dalam pelajaran Bahasa Indonesia: Apa kata dunia?
SMP adalah mmasa-masa di mana aku mulai bergolak dan mencari-cari jati diri yang pas. Aku terkadang suka mempertanyakan akan arti keberadaanku. Aku diciptakan Tuhan untuk apa? Mengapa aku dilahirkan di dunia? Banyak hal yang membuatku semakin dewasa dari hari ke hari. Dari segi iman aku aktif ikut organisasi Putri Sakristi dan sempat jadi ketuanya. Dengan bergitu semakin bertambah besarlah aku dari segi mental dan spiritual.
…Katanya masa SMA masa indah?...
Pepatah yang mengatakan masa SMA indah ada benarnya namun ada juga yang salah. Itu menurutku saat aku masih kelas 1 SMA. Tugas banyak. Nilai MAFIAku terbakar dalam lautan asmara. Aku dari awal sudah bertekad untuk masuk Bahasa namun aku harus menyelesaikan satu tahun penuh darah.
Dengan wali kelasku yang mood-moodan membuat aku makin sebal dengan sekolah. Di mana aku sebagai seorang murid merasa direndahkan karena bakatku tidak berada di matematika dan fisika. Apa hanya karena aku tidak bisa di pelajaran tersebut maka mereka akan mengecapku sebagai orang tidak sukses? Apa karena aku tidak bisa berpikir logis-matematis dengan sesuatu yang rinci dan runut, maka aku sudah pasti termasuk golongan bawah? Itulah yang selalu aku pertanyakan selama SMA. Hingga akhirnya aku sungguh mempunyai niatan akan menunjukkan pada orang lain bahwa: Gue bisa sukses dengan masuk bahasa daripada elo-elo semua!
Kadang aku tidak bisa mengerti dengan beberapa pemikiran yang mengatakan bahwa jurusan ini salah, bakat ini tidak akan menghasilkan kesuksesan dan anak ini termasuk anak terbelakang karena dia tidak bisa matematika. Kenapa yah? Bukankah manusia itu sudah diciptakan dengan porsinya masing-masing, dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing hingga akhirnya kita bisa melaksanakan tugas yang sudah diberikan Tuhan pada kita di dunia ini. Kita, manusia masing-masing memiliki tugas dari Tuhan yang tentu saja pasti kita pun mendapatkan bekal yang berbeda juga. Mengapa sih harus menyama ratakan kelebihan orang lain dengan patokan harga bahwa ini pintar dan itu bodoh? Padahal pada akhirnya hidup kita bukan berapa nilaiku dulu saat SMA, rengking berapa, kuliah di mana. Namun pada akhirnya pertanyaannya adalah: Pesan apa yang mau kamu sampaikan pada dunia? Misi apa yang mau kamu bagikan pada orang lain? Aku rasa kok itu yang lebih penting.
***
Hingga akhirnya terinspirasilah sebuah puisi:
Hidup ini sesungguhnya apa?
Pengadilan yang tidak adil?
Ketok palu dan putuskan
Tok….Tok…Tok…Eh! Salah ketok!
Gimana dong?
Peduli setan!
(ya ampun…)
ATAUKAH
Hidup ini layaknya kentut
Alami
Manusiawi
Disadari
Dipahami
Tegas
Keluarkan
BREEET!!
Bunyi dan bau.
Lalu meninggalkan kesan bagi semua orang.
Berhubung jari-jariku sudah pegel mengetik. Kita sudahi cerita singkat ini. Dan tunggulah aku 10 tahun lagi dari sekarang apa yang akan aku lakukan. Wassalam.
Metta Asriniarti Martopranoto
2007
2.10.11
Hidup Setegas Kentut (part 2)
......Periode Pasar Minggu (masih balita).....
Pada periode kehidupan di Pasar minggu aku mulai bisa mengenal dan berteman dengan orang lain. Pasar Minggu memang bukanlah tempat yang sama sejuknya seperti di Bandung. Pasar Minggu itu panas dan ramai sekali. Di sana kami tinggal dekat seorang ibu haji asli betawi dan aku ingat sekali bahwa Bu Haji ini sering sekali masak jengkol. Baunya semerbak ke mana-mana.
Saat aku tinggal di Pasar Minggu, aku mendapat seorang adik laki-laki. Tepatnya saat itu aku berusia 3,5 tahun. Sebagai seorang kakak yang baik dan bertanggung jawab aku sering jadi repot sendiri. Adikku itu lahir 10 Juni 1994, Jumat Keliwon, 1 Suro (tahun Jawa) dan bertepatan dengan hari raya Waisak. Sehingga ia pun diberi nama Aloysius Gonzaga Ilham Sidartha. Sebagai seorang kakak baru aku termasuk kakak yang manis namun ada kalanya aku sering ngambek minta perhatian.
Sejak aku punya adik, ibuku pun mengambil pembantu baru karena Mbak Sus merawat omaku dari pihak ayah. Pembantuku yang baru ini masih kecil bernama Mbak Sarmini, berusia 15 tahun. Satu hal yang paling aku ingat dari Mbak Sarmini adalah dia punya kutu. Kutunya buanyaaaaaaaaaaak sekali... sampai berjatuhan. Haha..bohong deng! Pokoknya kutunya sangat banyak!!
Aku dijaga oleh Mbak Sarmini saat kedua orang tuaku bekerja. Banyak hal yang kami lakukan bersama dari bermain boneka, masak-masakkan, sampai akhirnya terjadilah penyebaran agama. Ternyata penyebaran agama isalam tidak hanya dilakukan oleh pedagang Arab dan Gujarat saja melainkan oleh pembantu rumah tangga. Aku sering melihat Mbak Sarmini sholat. Ia adalah penganut islam yang taat. Aku sangat tertarik dengan tata cara agama islam yang menurutku mempunyai estetika ritual yang tinggi. Dengan berdiri, berlutut, bersimpuh, tengok kiri kanan, jari menunjuk hingga sampai nungging-nungging pun aku rela lakoni. Karena aku tidak tahu doa-doanya yang terdengar seperti was wes wos bagiku , akhirnya aku pun merapalkan doa Bapa Kami. Sudah pasti bisa dibayangkan betapa kagetnya orang tuaku melihat anaknya yang berdoa dengan khusyuknya.
Aku juga punya pengalaman menyakitkan saat aku masig balita dulu. Saat anak-anak seumuranku bermain Barbie aku malah berlari-larian mengejar ayam jago Bu Haji tetanggaku. Pelajaran yang bisa aku ambil adalah ‘Jangan mengejar ayam jago tetanggamu!’
Begini ceritanya, suatu hari saat itu kira-kira pukul 11.30. Aku sedang berjalan-jalan di depan rumahku mencari temanku si Bawi. Si Bawi itu anak laki-laki cadel yang lebih tua 4 tahun dari aku dan dia baru saja disunat. Tapi karena dia tidak suka pakai sarung karena pedih akhirnya dia memutuskan untuk telanjang setengah badan. Bisa bayangkan dong bagaimana kabar burung si Bawi ini?
Sayangnya saat aku cari si Bawi dia lagi pergi ke Tangerang jadi akirnya aku pun bermain sendirian. Lalu tiba-tiba ada ayam jago Bu Haji lewat dihadapanku. Aku berkata dalam hati ‘Eh ayam nih!’ Lalu aku pun berjalan kearah ayam itu dengan mengendap-ngendap dan dengan ganas aku pun mengejar ayam jago malang itu. Ayam jago itu berlari-lari ketakutan dan melompat-lompat. Aku senang bukan main sampai terkekeh ngos-ngosan. Entah bagaimana caranya si ayam jago itu pun berbalik arah ke depanku. Mata ayam jago ini bengis dan sepertinya akan terjadi pertumpahan darah antara aku dan ayam jago ini. Hingga ayam jago ini pun berganti mengejarku. Kini posisinya terbalik. Aku berlarian dengan berteriak-teriak.
Ayam jago ini sungguh gigih mengejarku. Aku mulai kelelahan lalu tersandung batu. Aku jatuh. Cuup! Aku pun dicium ayam jago Bu Haji di pipi atau mungkin lebih tepatnya dipatok ayam jago di pipi. Aku menangis pulang ke rumah dan ayam jago itu pun terlihat amat puas berbalik ke kandangnya. Itulah pembalasan dendam ayam jago.
.... Bumi Seprong Damai...
Usiaku empat tahun saat itu. Aku harus pindah ke BSD karena Pasar minggu mulai ramai dan tidak kondusif untuk pertumbuhan anak-anak. BSD, Bumi Serpong Damai adalah nama yang terdengar aneh bagiku saat itu. Bahkan pengucapannya pun sulit— Seprong.
Kehidupanku di BSD sebenarnya sangat menyenangkan aku tinggal di blok P dekat gereja Santa Monika.
Kehidupanku di BSD amat menyenangkan. Aku dan adikku bisa bertumbuh dengan wajar dan damai. Lingkungannya pun asri. Aku menghabiskan masa-masa batitaku di BSD. Sebelum masuk TK aku masuk playgroup di Santa Angela. Di sana aku bersekolah selama setahun. Aku masih ingat akan hari pertamaku di sana. Aku menangis menjerit-jerit sampai capek dan akhirnya aku pun belajar menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarku. Sampai akhirnya aku pun lulus dari play group dan melanjutkan ke TK Santa Ursula BSD.
...Berfoto dengan Power Rangers Item....
| Aku yang berbaju pink :) |
Seiring dengan berjalannya waktu aku mulai mengenal dengan yang namanya televisi. Aku mulai suka dengan acara televisi anak-anak. Mulai dari film kartun Doraemon sampai film yang bertemakan pahlawan Power Rangers. Anak-anak seusiaku di sekolah TK Santa Ursula BSD mulai sering membicarakan hebohnya film tersebut. Aku sangat suka sekali dengan film Power Rangers.
Sampai suatu kali aku diajak tanteku serta sepupu-sepupuku untuk ikut acara Temu Sapa dengan Power Rangers. Acara ini sejenis jumpa fans dengan Power Rangers. Kalau anak-anak TK sekarang mungkin jumpa fans dengan Justin Bieber aku jumpa fans dengan Power Rangers. Aku suka sekali bisa foto bareng dengan Power Rangers pengalaman yang sungguh menyenangkan menurutku. Namun sayangnya hanya ada Power Rangers warna hitam saja yaaa....mungkin kostum Power Rangers yang lain belum dijahit kali.
... Penghapus Teman Nampak Lebih Bersih daripada Penghapus Sendiri....
SD adalah masa-masa yang mulai jelas dan sadar akan identitas diri. Aku pun begitu. Saat itu aku baru saja masuk sekolah SD kelas 1. Aku diajar oleh Ibu Emil. Seperti anak-anak kebanyakkan aku pun pastinya punya kecenderungan setengah normal lainnya. Aku sangat tertarik dengan barang milik temanku, terutama penghapus. Mungkin sama seperti pepatah ‘Rumput tetangga Nampak lebih hijau daripada rumput sendiri.’ Itu pun sangat pas dengan yang terjadi padaku. Ada sebuah cerita nakal yang pernah aku lakukan.
‘Lynda, pinjem penghapus dong!’ ujarku
‘Oh…iya ambil saja. Aku baru beli kemarin di BSD Plaza!’ sahut Lynda. Lalu aku pun mengambil penghapus Lynda itu. Sesampainya di rumah ibuku pun mengecek buku tugasku. Aku sedang mengerjakan PR.
‘Metta,penghapus baru ya?’ ujar ibuku.
‘Iya,Bu kata temanku itu beli di BSD Plaza.’sahutku sambil mengerjakan PR.
‘Kata temanmu?’ tany a ibuku.
‘METTA! Kamu mencuri yah?’ bentak ibuku.
‘Nggak kok,Bu aku dikasih sama dia!’
‘Besok kembalikan!’ ujar ibuku . Keesokan harinya aku dan adikku pun pergi ke BSD Plaza beli penghapus.
...Terima kasih, Bu Siksa ...
Pembelajaran yang ada terus berkembang di dalam hidupku seiring dengan bertambahnya usiaku. Tidak hanya di rumah namun juga di sekolah. Di sekolah tepatnya, anak-anak digembleng lebih keras lagi. Dengan bentuk situasi sekolah yang asing bagi anak justru membuat pembelajaran yang lebih kuat lagi untuk anak dan akan diingat selalu. Di sekolah bukanlah comfort zone yang aman karena anak dituntut untuk mandiri dan mematuhi aturan apapun itu. Ikuti saja.
Saat aku duduk di kelas satu SD ada satu kejadian yang selalu aku ingat. Begini ceritanya, pada hari Minggu aku dan keluargaku ke rumah tanteku. Di sana minum es kelapa muda. Mungkin karena lambungnya tidak kuat atau bagaimana hingga akhirnya keesokan harinya saat di sekolah perutku melilit dan mencret-mencret. Aku pun dibawa ke UKS dan berbaring di sana. Saking tidak tahannya aku pun pergi ke kamar mandi terus dan terus, hingga aku bolak balik UKS dan WC. Hingga suatu kali tiba-tiba di UKS aku melihat ada ibu-ibu. Aku berjalan limbung ke ruang UKS dan hendak berbaring sejenak. Saat aku sedang jalan menuju kasur tiba-tiba terdengarlah lengkingan suara ibu-ibu itu.
‘HEI KAMU SINI!’ teriak suara itu dengan nada memerintah. Perempuan itu memanggilku dengan nada suara mengancam mematikan.
‘ Iya, kamu sini sebentar!’ sahutnya. Ia adalah Ibu Siska, dia seorang guru TU yang saat itu sedang jaga piket.
‘Iya,Bu?’ sahutku pelan sambil menahan rasa sakit perutku.
‘ Apa yang harus kamu katakan sebelum masuk ke ruangan?’tanya Ibu Siska dengan suara berbahaya. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Makin melilit.
‘Hah?Mmmmm…’ Sumpah mati perutku sakit dan tidak bisa berpikir dengan tenang.
‘Iya kamu harus bilang apa ke saya?’ tanya Bu Siska.
‘ Bilang permisi,Bu?’ ujarku takut-takut ala anak SD kelas 1 yang sakit perut.
‘Iya begitu. Apa kamu tadi bilang permisi? Nggak kan? Sudah kamu ulang lagi sana dari depan pintu!’ perintah Bu Siska
‘Ulang,Bu?’ tanyaku tidak percaya namun dengan gontai sambil memegangi perut aku mengetuk pintu mengulangi.
‘ Ya…bagus sudah berbaring sana.’ ujarnya kemudian. Lalu aku pun bergegas ke tempat tidur.
‘ Hey stop kamu! Kamu harus bilang apa?’ tanya Bu Siska dengan nada jengkel.
‘ Makasih Bu….’ ujarku.
‘ Makasih ke siapa?’ ujar Bu Siska nyebelin. Mati deh! Aku lupa namanya. Seingatku namanya agak susah untuk diucapkan oleh anak kelas 1 SD sepertiku apalagi sedang keringat dingin sakit perut dan mencret-mencret.
‘ Terima kasih Bu Sik…..eh Bu Sik…ck! Terima kasih Bu Siksa!’ kataku. Aku merasa ada yang aneh dengan ucapanku itu. Sepertinya ada yang salaj kok namanya si ibu itu jadi tidak indah ya? Memang ternyata aku salah menyebutkan dari Siska menjadi Siksa. Fatalkah?
Itu merupakan pengalaman pahit yang tak pernah kulupakan. Hingga sekarang aku tidak pernah lupa kata permisi dan terima kasih. Namun rasanya ajaran Bu Siska terhadapku si kelas 1 SD itu kuranglah tepat.
…Rumpi Kala SD….
Masa SDku seperti anak-anak kebanyakkan, dengan segala kenakalan dan sok tahu ala anak SD. Sering kali aku dan teman-temanku anak SD ngerumpi hal-hal yang tidak penting. Seperti misalnya saat ada gosip hantu di sekolah, Mr.Gepeng aku ikut-ikutan telpon ke nomor 7777777. Aneh. Permainan lompat tali pun kerap menjadi andalan saat sedang istirahat.
Cita-citaku saat SD buanyaaaaaaaaak sekali. Dari mau jadi guru, sutradara film, sampai jadi kasir aku pun mau. Aku ingat betul kenapa aku mau jadi seorang kasir di swalayan karena aku melihat mbak-mbak kasir memiliki banyak uang jadi aku mau deh jadi kasir. Lalu akhirnya aku berubah cita-cita lagi ingin jadi petualang yang bisa jalan-jalan ke mana-mana dengan berbagai cerita-cerita mendebarkan yang eksotis seperti di film-film Indiana Jones dan buku-buku Winnetou. Maklum Metta kecil sangat suka membaca ini itu karena aku biasanya saat SD harus menunggu ibuku pulang bekerja, jadi aku bermain-main di perpustakaan dan membaca banyak buku di sana.
Itulah masa SD menyenangkan. Ketika tidak mempunyai beban apa-apa dan serasa hidup itu indah walaupun besok ada ulangan. Ibuku termasuk orang tua yang sangat streng aku ingat saat aku ada 2 ulangan pasti aku tidak boleh bermain pada sore harinya karena aku harus belajar. Kadang aku sebal karena anak-anak tetangga ribut dan heboh bermain di depan rumah tapi aku harus duduk di belakang meja belajar. (bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
new post
Di Bulan Maret
Di bulan Maret ini aku tidak terlalu banyak membaca buku, sepertinya aku sedang berada di situasi yang memang perlu duduk reflektif dan mer...
-
Bandung, 2016 Dari kejauhan terdengar panggung lenong dengan musik Betawinya yang khas. Terdengar lagu-lagu ceria berirama cepat d...
-
'Saya mau banting setir jadi seniman,' ujar saya kepadamu dengan menatap bola matamu yang kehitaman. 'Kenapa?' tanyamu ...
-
Mempunyai perjalanan yang menghabiskan waktuku selama empat jam perjalanan membuatku menjadi terbiasa dengan perpindahan, berdesakan deng...



