28.2.15

Syukur syukurin


Setelah sekian lama tidak ngeblog akhirnya ada waktu juga untuk duduk diam sejenak dan menguras otak, apa ya kiranya yang bisa saya tulis lagi? Terkadang kegiatan menulis itu tidak datang begitu saja namun  harus ada kajian lebih lanjut dan mood. Nah... terkadang mood inilah yang swing banget. Saya tahu sih, kalau penulis yang sebenar-benarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Namun saya kan amateur writer jadi cincai lah ya. Okesip.

Puas?

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir sendiri mengenai fenomena rasa syukur. Uooh... hell yea so deep. Iya. Saya sedang berpikir dengan keras, keras sekali menggunakan otak saya yang hanya seuprit ini. Kok susah ya untuk bersyukur atas segala apa yang kita miliki dan alami? Oh men, bunuh gue aja sob.  Seperti misalnya masih diberikan nafas setiap harinya, masih diberikan pekerjaan, berterima kasih atas orang-orang yang kita sayangi, makanan yang kita makan, rekan kerja, sahabat kita, atau rezeki kita. Rasanya susah sekali menghitung kebaikan-kebaikan yang ada dan yang terlihat hanya kekurangan-kekurangannya saja, kurang puas, kehidupan yang gini-gini aja, kisah cinta yang amit-amit dan sebagainya. Sehingga kesempatan untuk berdiam diri, tersenyum dan bersyukur itu jarang. Ih... capek tau bernegatif ria dengan pikiran-pikiran itu karena hanya menimbulkan masalah baru dan ujung-ujungnya sakit. 

Kebetulan saya ini tipe manusia yang nyebelin, saya ini manusia yang tidak pernah puas. Selalu harus ada goal yang harus saya kejar dan saya dapatkan, kalau saya gagal saya bisa penasaran setengah mati dan harus sampai ke sana. Terkadang capek juga ya seperti itu, apalagi kalau saya sudah mulai tidak sabaran dengan apa yang sedang saya jalani. Ih... rasanya ingin saya tinggalin. Bye. Namun ternyata hidup ini bukan perihal tinggal meninggalkan lalu melarikan diri namun seberapa kuatnya kamu bertahan sampai kamu dapat goal yang kamu mau. Ya gak sih? Sehingga dalam proses itu kamu harus memiliki rasa syukur. Karena rasa syukur ini adalah rasa positif untuk bisa bertahan. Percayalah. 

Bukan lihat ke bawah

Suatu hari saya ada training singkat melihat-lihat produksi di suatu pabrik, memperhatikan kondisi mesin seperti apa, pembuatan produksi seperti apa. Dan  ternyata pabrik itu seberisik, sepanas dan segerah itu. Seharusnya saya melihat-lihat bentuk dan cara produksi sebaik-baiknya namun ada satu hal yang mencuri perhatian saya. Saya merasa tergelitik dengan sebuah quote yang ditempel di dekat mesin produksi. Kira-kira bunyinya begini: Kalau tidak kerja, mau makan apa? Dan banyak sekali quote-quote serupa yang ditulis besar-besar beserta doa keselamatan kerja. Banyak loh orang di luar sana yang memang literally jika  tidak kerja bisa gak makan. Menurut saya makan itu kan salah satu kebutuhan pokok manusia dan ketika itu tidak terpenuhi manusia bisa mati. Lalu saya berpikir lagi, banyak manusia yang bekerja sebegitunya untuk menyambung hidupnya, kerja hingga larut malam dan bekerja penuh resiko keselamatan. Lalu tiba-tiba teman saya ada yang bisik-bisik ke saya "Gila, kita harusnya bersyukur sekali ya bisa kerja di gedung AC, dingin, duduk, selamat tidak perlu panas-panas di sini meski hati dan kuping panas banget diomelin melulu... haha". Deg. Lalu saya merasa kok ada yang aneh ya dengan pernyataan ini.

Harus ya kita bersyukur atas kehidupan kita yang lebih 'beruntung' dari mereka? Maksudnya mengapa dengan melihat ke bawah terlebih dahulu baru kita bisa sadar dengan apa yang sudah kita punya? Lalu kita baru bisa menikmati apa yang ada yang kita punya? Kenapa sih harus lihat ke bawah dulu dan seolah bersyukur kalo nasib kita tidak seperti mereka? Saya kok tidak setuju ya? 

Lalu kemarin saya iseng kepo melihat instagram orang lain. Orang ini posting foto dia dengan petani di daerah Tasikmalaya lalu captionnya seperti ini: "Kita harus bersyukur sekali karena gak bisa terbayang kalau kita harus kerja seperti mereka." Men....oh men. Lo ga salah, cuman dapet ginian doang jauh-jauh sebulan KKN ke Tasikmalaya lalu pulang mikirnya gini doang? Di situ saya merasa sedih. 

Bukan perbandingan

Saya tahu sih kalau saya bukan orang alim lurus ke depan, saya juga sering belok-belok, tapi menurut saya bersyukur itu maknanya jauuuuh lebih dari itu, lebih dalam lagi. Kita kerap kali bersyukur karena kita merasa lebih mujur dari mereka.Sampai kita lupa caranya bersyukur dan menerima apa yang saya punya yang sudah Tuhan berikan pada saya. 

Apakah benar kalau kita baru bisa bersyukur apabila melihat situasi orang lain lebih buruk dari kita dan kita berkata: "Aduh bersyukur sekali ya kita ga harus seperti mereka..." Saya rasa bukan bersyukur  model begini yang sesungguhnya. 

Hingga beberapa minggu yang lalu ada kotbah pastor yang menurt saya mengena di hati. Begini bunyinya, "Sudahkah saudara bersyukur dan menerima segala kesulitan dan tantangan yang Tuhan berikan pada anda dan bukan hanya bersyukur pada hari baik saja?"

Lalu dalam hati saya menjawab  "Eh.... please ya Romo kalau yang itu levelnya masih ketinggian. Belom nyampe saya. Tapi masih otw ke sana sih."  Malunya saya ini. Oh manusia. 


1.2.15

Sekarang!

Waktu yang tepat unuk menulis ada saat hujan, saat weekend, saat liburan, saat udara dingin dan tentu saja saat ada bahan untuk ditulis. Itu adalah paradigma yang saya miliki. Sebenarnya pemikiran ini kurang tepat karena menurut penulis dengan jam terbang yang tinggi, seharusnya bukan begitu cara kerjanya. Cara kerjanya adalah menjadikan menulis sebagai kelenjar, sehingga serupa kelenjar apabila tidak ada maka mati, begitu pula dengan menulis. Memiliki cita-cita untuk bisa menjadi penulis yang bisa ikut 'bersuara' dan menjadi tajam dalam tulisan tentu memiliki suatu proses yang panjang. Dalam proses itu juga sering kali habis akal untuk bisa bangkit dan mendapat suatu epiphany akan topik yang ingin dibahas.

Akhir-akhir ini saya sedang melakukan research tentang gaya penulisan setiap penulis yang saya senangi, saya melihat bagaimana cara mereka membuat suatu ide menjadi mudah untuk bisa diterima. Dalam perjalanan saya mencari ini juga saya sempat ilfil dengan salah satu penulis yang saya suka sedari lama. Saya tidak akan memberi tahu siapa, namun saya agak sedikit kaget karena telah beberapa kali dia mengambil ide penulisan penulis lain. Aduh, rasanya saya patah hati sekali. Saya tahu sih, kalau belajar sesuatu pasti kita akan mulai dengan 'meniru' gaya seseorang yang kita adore tersebut lalu setelah itu kita berusaha untuk mencari style penulisan kita sendiri, saya tahu. Namun untuk yang ini saya risih sekali karena pengambilan ide penulisan itu terlalu gamblang untuk dia tulis di sana sini lalu beberapa penggemarnya pun sibuk memuji tanpa megetahui bahwa si sumber otak ide itu bukan milik dia. Atau mungkin kebetulan saya terlalu kutu buku sehingga kebetulan tahu sumber empunya ide.

Lalu kini saya berpikir, dalam proses belajar apakah benar kita harus dalam proses meniru 'plek' dengan sumber ide, gak malu apa ya? Saya jadi pusing karena saya tahu persis proses melahirkan ide itu sangatlah tidak mudah. Itu seperti proses melahirkan yang sesungguhnya, seperti menjadi ibu melahirkan bayi-bayinya. Tentunya sebagai induk akan marah dan berang sekali apabila idenya diambil bukan begitu?

Saya tahu sih, sebenarnya ini hanya persoalan kecil dalam suatu karya karena dalam berkarya bisa saja kita memiliki ide yang sama dan pemikiran yang sama. Namun masa iya packaging nya juga sama? Polesannya serupa? Aduh perih saya melihatnya. Lalu ibu saya pun berkata bahwa itu hal yang biasa terjadi dalam kerja kreatif, harus menerima dan lapang dada sesuai dengan sebuah perikop Pengkotbah 1:9, "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." 

Sudahlah biarlah itu menjadi sebuah pelajaran untuk saya bahwa jikalau saya sedang mentok dan paceklik ide, mungkin itu saatnya bagi saya untuk rehat sejenak membuat teh manis hangat. Ini berarti saatnya saya untuk lebih fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan sekarang dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Menulis banyak-banyak, membaca banyak-banyak. 

Ada sebuah artikel menarik dari brain pickings, sejenis website informatif yang membahas pemikiran-pemikiran mulai dari science, psychology, art, politic, etc, sekali-kali bolehlah ditengok sebentar. Ada satu quote yang menarik dari Debbie Millman.

If you imagine less, less will be what you undoubtedly deserve. Do what you love, and don’t stop until you get what you love. Work as hard as you can, imagine immensities, don’t compromise, and don’t waste time. Start now. Not 20 years from now, not two weeks from now. Now.


Berapa banyak dari kita yang sebenarnya betul-betul mengetahui apa yang dia suka dan mengejarnya sampai dapat? Ada berapa banyak? Apakah kita mengenal salah satu orang yang demikian di sekeliling kita? Apakah kita sudah berani mengejarnya? Apakah kita sudah melakukannya sekarang? Iya,... sekarang.  



new post

ganti blogspot

 YAK  pemirsah, maapin banget nihh udah ga punya blog.com karena......hhh yaudahlah kayaknya gapapa hehe. tadinya aku mau melatih pemikiran ...